Dalam sejarahnya, bangsa Turki berhasil mendirikan dua kerajaan yang cukup berpengaruh, yaitu kerajaan Turki Saljuk dan kerjaan Turki Usmani. Turki Saljuk berasal dari perhimpunan kabilah-kabilah dalam rumpun Ghus. Mereka tinggal di Turki stan di daeah kekuasaan raja Bighu. Karena wilayah mereka bertetangga dengan dinasti Samani dan Ghaznawi, akhirnya keturunan Turki ini memeluk Islam. Rumpun ini oleh Saljug bin Tuqaq dipersatukan dengan Salajiqa atau Turki Saljug yang pada akhirnya berhasil mendirikan dinasti Islam Salajikah selama lebih kurang 250 tahun (1055-1300 M). Kehancuran dinasti Turki Saljuk oleh serangan pasukan Mongol, merupakan saat pembentukan dinasti Turki Usmani. Silsilah Turki Usmani berpangkal pada sebuah suku kecil, yakni kabilah Ughu. Semula mereka tinggal di sebelah utara negeri Cina. Karena tekanan-tekanan dari bangsa Mongol, dengan dipimpin oleh Sulaiman Syah me¬reka berpindah tempat ke arah barat, hingga mereka bergabung dengan saudara seketurunan, yakni orang Turki Saljuk, di Asia Kecil.
Di bawah pimpinan Ertogrul (w. 1280 M) mereka mengabdikan diri kepada sultan Saljuq, ‘Alauddin, yang sedang berperan melawan Bizantine. Atas kehebatan Er¬togrul dan dukungan penuh dari anak buahnya, pasukan Saljuk mendapat keme¬nangan melawan Bizantine. Sebagai hadiahnya, Sultan memberikan wilayah di per¬ba¬tasan Bizantine kepada Ertogrul, serta memberinya wewenang untuk mengadakan eks¬pansi.
Sepeninggal Ertogrul, atas persetujuan Sultan ‘Alaudin kedudukan Ertogrul di¬gantikan oleh putranya bernama Usman. Ia memimpin kelompok Turki ini antara tahun 1281-1324 M. Serangan Mongol terhadap Saljuk yang terjadi pada tahun 1300 M men¬ja¬dikan dinasti ini terpecah-pecah menjadi sejumlah kerajaan kecil. Dalam kondisi seperti ini Usman mengklaim kemerdekaan secara penuh atas wilayah yang di dudukinya, se¬kaligus memproklamirkan berdirinya kerajaan Turki Usmani. Kekuatan militer Us¬mani menjadi benteng pertahanan sultan dinasti-dinasti kecil dari ancaman bahaya serangan Mongol. Dengan demikian secara tidak langsung mereka mengakui Usman sebagai pe¬nguasa tertinggi dengan bergelar “Padinsyah Ali Usman” (raja besar keluarga Usman). Sejak saat itu, ia berusaha memperluas wilayah kekuasaan Usmaniyah, hingga akhirnya ia menaklukkan Broessa pada tahun 1317 M.
Daftar raja-raja Turki Usmani 1. Usman I 1281
2. Orhan 1324 3. Murad I 1360
4. Bayazid 1389 Peralihan kekuasaan 1402 5. Muhammad I 1413
6. Murod II 1421 7. Muhammad II 1444
8. Murod II (menjabat yang kedua kalinya) 1446 9. Muhammad II(menjabat yang kedua kalinya) 1451 10. Bayazid II 1481 11. Saim I 1512 12. Sulaiman I 1520 13. Salim II 1566 14. Murad III 1574 15. Muhammad III 1594 16. Ahmad I 1603 17. Musthafa I 1617 18. Usman II 1618
19. Musthafa I(menjabat yang kedua kalinya) 1622 20. Murad IV 1623 21. Ibrahim 1640 22. Muhammad IV 1648 23. Sulaiman II 1678 24. Ahmad II 1691 25. Musthafa II 1695 26. Ahmad III 1703 27. Mahmud I 1730 28. Usman III 1754 29. Musthafa III 1757 30. Abdul hamid I 1774 31. Salim III 1789
Kemajuan yang dicapai Turki Usmani
Sejak masa Ertogrul hingga Orkhan, disebut sebagai masa-masa pem¬ben¬tu¬kan kekuatan militer Turki Usmani. Mereka menjadikan Usmani sebagai negara yang ber-da¬sarkan sistem dan prinsip kemiliteran. Pecahnya perang dengan Bizatine pada masa Or¬khan, mengilhami khalifah untuk mendirikan pusat pendidikan dan pelatihan militer, sehingga terbentuklah sebuah kesatuan militer yang disebut Jennisary atau “Inki¬sa¬riyah”. Pasukan ini dibentuk dari para pemuda tawanan perang. Kebijakan inii ke¬mu¬dian dikembangkan oleh Murad dengan membentuk sejumlah korp atau cabang-cabang Jennisary. Pembangunan besar-besaran dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan dan Murad I tidak hanya dalam bentuk perombakan dalam keanggotaannya. Seluruh pa¬suk¬an militer dididik dan dilatih dalam asrama militer dengan pembekalan semangat per¬ju¬angan Islam. Kekuatan militer Jennisary berhasil mengubah negara Usmani yang baru lahir dan memberika dorongan yang besar sekali bagi penaklukan negeri-negeri non muslim.
Di samping Jennisary, terdapat sejumlah prajurit tentara kaum bangsawan. Para penggarap tanah diwajibkan mengikuti pendidikan dan latihan militer sehingga sewak¬tu-waktu dibutuhkan mereka harus siap menjadi barisan militer. Selain itu, kaum bang¬sawan diharuskan menyediakan kuda dan peralatan perang lainnya. Pada masa ini di¬bentuk pula kesatuan angkatan laut. Seluruh jajaran militer ini menopang keberhasilan gerakan ekspansi Turki Usmani, baik ekspansi ke Asia, Afrika maupun ekspansi ke Eropa.
Semula kerajaan Usmani hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, tetapi de-ngan dukungan militer yang kuat, tidak beberapa lama Usmani menjadi sebuah kera-jaan besar. Ekspansi Usmani tidak hanya bergerak ke arah timur melainkan juga ke arah barat. Orkhan berhasil menaklukan kota-kota Yunani, seperti; Nicea, Nicomedia dan sejumlah daerah di sekitarnya. Sejak naik tahta, Murad I melanjutkan kebijakan ayahnya untuk meneruskan gerakan ekspansi. Adrianopel ditaklukan pada tahun 1365M. Ke¬mu¬dian secara berturut-turut disusul dengan jatuhnya kota Macedonia, Bulgaria dan Serbia ke tangan Murad I. Kemudian sultan Bayazid I memperluas wilayah Usmani ke Eropa dengan menaklukan sebagian wilayah Eropa Timur sampai ke Hongaria. Gerakan ekspansi ini sempat terhenti di penghujung pemerintaha Bayazid I akibat tekanan dari pasukan Timur Lenk pada tahun 1402 M. Namun para penguasa Usmani berikutnya berhasil melanjutkan kembali gerakan eksapnsi ini, terutama pada masa Muhammad II. Gelar al-fatih “sang penakluk” pantas disandang Muhammad II karena keberhasilannya menaklukan kekuatan terakhir imperium Romawi Timur yang berpusat di Konstan¬tinopel.
Setelah dikepung selama lebih kurang 53 hari, akhirnya pada tahun 1453 M pa-sukan Usmani berhasil memasuki benteng-benteng pertahanan Konstantinopel. Per¬ta-hanan istana hancur dan sang kaisar terbunuh bersama sejumlah pasukannya. Muha-mad al-Fatih kemudian melanjutkan penundukan semenanjung Maura, Serbia, Albania sampai ke perbatasan Bundukia.
Keberhasilan ekspansi pada masa awal Turki Usmani sempat menimbulkan ke-cemasan bangsa-bangsa Eropa, sehingga mereka mengerahkan kembali pasukan Salib. Pada tahun 1396 M, kekuatan Eropa yang dipimpin oleh para uskup gereja, berhasil dikalahkan oleh pasukan Usmani. Misalnya dalam peperangan di Nicopolis dan kota Vinencia diduduki oleh pasukan Usmani. Pada tahun 1444 M uskup gereja bersamaan dengan persekutuan
militer yang digerakkan oleh raja Polandia, Hungaria, Naples, Transylvania, Serbia, Vinencia dan Genoa, melancarkan serangan pasukan Salib yang kesekian kalinya. Serangan mereka dapat dipatahkan dalam peperangan di Vania. Ke-kalahan demi kekalahan Eropa ini menyebabkan tidak tersisanya kekuatan Eropa, se-hingga mereka tidak mampu menahan serangan pasukan muslim terhadap konsta¬tin¬o-pel ditahun 1453 M. Dengan keberhasilan penaklukan Konstatinopel ini, seluruh ambisi umat Islam untuk menundukan imperium Romawi tercapailah sudah.
Pada masa pemerintahan Salim I, ekspansi kearah barat dialihkan ke timur, Per-sia, Syiria, dan Mesir berhasil dikuasainya. Putra Salim yang bernama Sulaiman I me-lanjutkan ekspansi ke arah timur dan berhasil menaklukan Irak, Belgrado, kepulauan Rhodes, Tunisia, dan Yaman. Sampai dengan masa Sulaiman I ini wilayah kekuasaan Turki Usmani mencakup : Asia Kecil, Armenia, Irak, Suria, Hijaz, dan Yaman untuk wilayah Asia ; Mesir, Libya, Tunis, dan Aljazair untuk wilayah Afrika ; Bulgaria, Yuna-ni, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania untuk wilayah Eropa.
Keberhasilan ekspansi Turki Usmani dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam struktur pemerintahan, khalifah atau sultan meru¬pakan penguasa tertinggi yang dibantu oleh Perdana Menteri (Shadr al-a’zham) yang membawahi gubernur (pasya). Di bawah gubernur terdapat jabatan semisal bupati yang disebut al-janaziq. Demi penertiban urusan pemerintahan, Sulaiman I mene¬tap¬kan se¬jumlah perundangan dan peraturan atau Qanun. Kerananya ia digelari sebagai Su¬laiman al-Qanuni. Sulaiman I juga menyusun sebuah kitab hukum (qanun) yang diberi nama Multaqa al-Abhur, yang berlaku sebagai pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad sembilan belas.
Sikap penguasa Usmani cenderung tidak memaksakan agama setelah berhasil menaklukan atau menguasai suatu wilayah. Mereka tetap memberikan kebebasan pihak gereja untuk menangani suatu wilayah. Mereka tetap memberikan kebebasan pihak ge¬reja untuk menangani urusan umatnya. Mantan pegawai sipil dan tokoh-tokoh Kristen wilayah taklukan direkrut menjadi pegawai dan militer Turki Usmani. Selain itu penguasa usmani yang melindungi sejumlah gereja kristen menimbulkan simpatik ma¬syarakat setempat.
Pengambilalihan kekuasaan Bizantiun menjadi kekuasaan muslim Turki Us-mani menimbulkan perpindahan agama dan sekaligus menjadikan tersebarnya pemeluk Islam di eropa. Sebelumnya penduduk Turki, mayoritas masyarakat Yunani, Armenia, Georgia, dan Anatolia adalah pemeluk Kristen. Pada abad ke-15 M, mayoritas pen¬du¬duk wilayah-wilayah ini telah menjadi muslim. Sebagian kecil mereka adalah kaum imigran muslim, sedang sebagian besar adalah pemeluk Islam yang baru yang semula beragama Kristen. Peralihan agama ini sangat berkaitan dengan melemahnya otoritas gereja Anatolia, akibat kemunduran imperium Bizantine dan juga akibat penyerahan Anatolia menjadi wilayah kekuasaan Turki , sehingga masyarakat Kristen Anatolia hi¬dup tanpa kepemimpinan. Sementara sejumlah pendeta Kristen berpihak pada ke¬ku¬atan Turki dalam rangka mengatasi perselisihan internal yang telah lama melanda dan memperlemah kelembagaan Kristen.
Pada sisi lain, masyarakat muslim berdiri sendiri sedang mengalami per¬kem-bangan pesat untuk menggantikan kekuasaan geraja dan Bizantium. Bahwa sebelumnya Turki Saljuk dan Turki Emirat, telah membangun infrastruktur sosial yang dilengkapi sejumlah lembaga sosial. Sejumlah istana, mesjid, perguruan tinggi, rumah sakit,dan
sejumlah kemajuan dalam berbagai bidang. Semua ini termasuk faktor-faktor yang turut menimbulkan simpati umat kristen dan mempengaruhi pandangan mereka. Pada masa itu umat Kristen telah salah menduga bahwa kekalahan mereka me-rupakan hukuman dari Tuhan yang akan mengakhiri hidup mereka. Ternyata pasukan muslim Turki tidak hanya memberi mereka hak hidup bahkan menjamin kebebasan beragama. Sedikit demi sedikit mereka memeluk agama Islam, sekalipun pada bentuk sinkretisme. Sejumlah ttokoh Kristen dan pejabat merasa diuntungkan dalam sistem aristokrasi Usmani, sehingga mereka memeluk agama Islam. Sampai dengan abad ke-15 M semua warga anatolia memeluk Islam.
Penaklukan dan pendudukan Usmani atas semenanjung Balkan, juga menim-bul¬kan peningkatan pemeluk muslim di semenanjung ini. Penyebaran agama di Balkan ini tidak semenonjol di Anatolia. Yang terjadi adalah timbulnya asimilasi antara Islam oleh masyarakat setempat. Terdapat beberapa hal yang membedakan perkembangan penye¬baran di dua tempat ini. Pertama, bahwa imigran muslim Turki di Anatolia lebih besar dibanding dengan di Balkan. Kedua, penyelenggaraan pemerintahan Usmani di Balkan dipercayakan sepenuhnya kepada gereja-gereja Kristen, sementara kalangan gereja di Anatolia ditindas sampai dengan peristiwa penaklukan Konstantinopel. Setelah penak¬lukan ini kalangan gerja-gereja Balkan mengklaim otoritas dan kekayaan mereka dan mereka diizinkan membina komunitas Kristen.
Bangsa Turki Islam pertama kali datang di Balkan melalui Thrace, lembah Ma¬ri-tsa, Bulgaria Utara dan Albania Utara pada sekitar abad 14-15 M. Mereka men¬dirikan ratusan perkampungan baru yang sebagian besar dihuni oleh muslim. Sebagaimana di Anatolia, penyebaran Islam di Balkan juga dimotori oleh dakwah para Sufi dari tarekat Bektasi dan Meulevi.
Sekalipun terjadi peralihan agama di Serbia, Albania, dan Bulgaria, namun pera-lihan ini sama sekali tidak menimbulkan perselisihan. Pemeluk Islam yang baru sering kali memasukan tradisi kristen mereka, misalnya tradisi pembaptisan, pengkultusan orang-ornag suci, dan perayaan paskah. Perkembangan Islam di Balkan dipengaruhi oleh paganisme yang merupakan corak Kristen Balkan. Data sensus 1520-30 me¬nun-jukkan sekitar 19 % warga Balkan beragama Islam dan 81 % Kristen, sedang agama Yahudi sebagai minoritas. Jumlah muslim terbesar terdapat di Bosnia, 45 %. Pada umumnya dan masyarakat muslim tinggal di wilayah perkotaan. Misalnya di kota Sofia besarnya mencapai 66,4% , sementara pada perkampunga sekitarnya rata-rata besarnya 6 %. Muslim di Edirne mencapai 82 %. Pusat-pusat Islam tumbuh di Thrace, Macedonia, Thessaly, Bosnia, Herzegovina dan sekitarnya. Antara tahun 1666 dan 1690 terjadi gerakan Islamisasi di Rhodope. Pada abad ke-17 M Islam mulai berkembang di Albania Utara, dan Montenegro. Bangsa-bangsa Yunani di bagian barat daya Macedonia dan di Crete memeluk Islam sekitar pertengahan abad 17 sampai dengan abad 18.
Demikianlah Turki Usmani telah berjasa melanjutkan gerakan ekspansi wilayah muslim khususnya ke daratan Eropa, dan sekali telah berjasa menyebarkan islamisasi di tengah masyarakat Eropa.
Kemajuan Budaya dan Keagamaan
Kebudayaan Turki merupakan perpaduan antara kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak menerima ajaran-ajaran tentang eti¬ka dan
tatakrama dalam kehidupan istana. Organisasi pemerintahan dan prinsip kemi¬literan mereka dapatkan dari kebudayaan Bizantine. Sedang dari kebudayaan Arab, me¬reka mendapatkan ajaran tentang prinsip ekonomi, kemasyarakatan dan ilmu penge¬tahuan. Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih memperhatikan ke-majuan bidang politik dan kemiliteran,sedang perhatian mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan tidak menonjol, kecuali dalam bidang seni arsitektur. Sejumlah bangunan Islam dibangun dengan tata seni yang sangat indah. Mesjid Jami’ Muhammad al-Fatih, mesjid agung Sulaiman, mesjid Abu Ayyub al-Anshari dan sebuah mesjid yang semula adalah gereja, Aya Sophia merupakan peninggalan arsitektur Usmani.
Kehidupan keagamaan merupakan bagian terpenting dalam sistem sosial dan politik Turki Usmani. Pihak penguasa sangat terikat dengan Syariat Islam. Ulama mem¬punyai kedudukan tinggi dalam kehidupan negara dan masyarakat Usmani. Mufti sebagai pejabat tinggi agama, berwenang menyampaikan fatwa resmi mengenai prob¬lematika keagamaan. Tanpa legitimasi mufti, keputusan hukum kerajaan tidak bisa berjalan. Pada masa ini kegiatan tarekat berkembang pesat. Al-Bektasi dan al-Maulawi merupakan dua aliran tarekat yang paling besar. Tarekat Bektasi sangat berpengaruh pada kalangan tentara Jennisary, sementara sarekat Maulawi berpengaruh besar di ka¬langan penguasa sebagai imbangan dari kelompok Jennisary Bektasi. Ilmu penge¬tahuan keislaman seperti fiqh, tafsir, kalam dan lain lain, tidak mengalami perkembangan. Kebanyakan penguasa Usmani cenderung bersikap taqlid dan fanatik terhadap satu mazhab dan menetang mazhab-mazhab lainnya.
Kemunduran kerajaan Turki Usmani
Fase kemunduran Turki Usmani secara perlahan semenjak kematian Sulaiman I al-Qanuni, sehingga Usmani masih mampu bertahan selama lebih kurang tiga abad. Fa¬se kemunduran ini ditandai dengan melemahnya semangat perjuangan prajurit Usmani yang menyebabkan sejumlah kekalahan dalam menghadapi sejumlah pepe-rangan. Ekonomi semakin memburuk dan sistem pemerintahan tidak berjalan semestinya.
Pada masa pemerintahan Salim II, pasukan laut Usmani menderita kekalahan dari serangan pasukan gabungan armada Spanyol, Bandula, armada Sri Paus dan sebagian armada pendeta Malta yang dipimpin oleh Don juan dari Spanyol. Pada tahun 1663 M pasukan Usmani menderita kekalahan dalam penyerbuan Hungaria. Demikian juga pada tahun 1676 Turki Usmani kalah lagi dalam pertempuran di Mohakez, hungaria. Turki Usmani dipaksa menandatangani perjanjian Karlowitz pada tahun 1699 M yangg berisi pernyataan penyerahan seluruh wilayah Hungaria, sebagian besar Slovenia, dan Croasia kepada Hapsburg, dan penyerahan Herminiet, Padolia, Ukraenia, Morea dan sebagian Dalmatia kepada penguasa Venetia. Pada tahun 1770 M pasukan Rusia mengalahkan armada Usmani di sepanjang pantai Asia Kecil, namun keme¬nang¬an Rusia ini dapat direbut kembali oleh sultan Musthafa III. Pada tahun 1774 M penguasa Usmani, Abdul Hamid, terpaksa menandatangani sebuah perjanjian dengan Rusia yang berisi pengakuan kemerdekaan atas Crimea, dan penyerahan benteng-benteng pertahanan di Laut Hitam kepada Rusia serta pemberian izin bagi armada Rusia melintasi selat antara Laut Hitam dan Laut Putih.
Sementara itu wilayah-wilayah kekuasaan Usmani di timur mulai menyadari kemunduran Usmani sebagian wilayah ini mulai melancarkan pemberontakan dalam rangka
untuk melepaskan diri dari kekuasaan Usmani. Di Mesir Jennisary bersekutu dengan Mamalik melancarkan pemberontakan, dan sejak tahun 1772 Mamalik berhasil menguasai Mesir hingga datangnya Napoleon pada tahun 1789. Di Syiria dan Libanon juga terjadi pemberontakan yang digerakkan oleh pimpinan Druz, Fahruddin. Ia bergabung dengan gerakan Kurdi dan Janbulat. Namun usaha Fahruddin ini menemui kegagalan. Di Arabia timbullah gerakan pemurnian oleh Muhammad bin Abdul Wahab, seorang pimpinan dataran tinggi Najd, Arabia tengah. Gerakan ini bergabung dengan kekuatan Ibnu Sa’ud dan berhasil memperluas wilayah kekuasaan di sekitar Jazirah Arabia pada abad kedelapan belas.
Selain persoalan tersebut di atas, masih ada beberapa faktor penyebab kemun-duran dinasti Turki Usmani. Di antaranya adalah sebagai berikut :
Pertama, luasnya wilayah kekuasaan Usmani. Tampaknya penguasa Turki hanya menuruti ambisi penaklukan, sementara penataan sistem dan tata pemerintahan tera-baikan. Ketika Imperium Usmani sedang dalam kemerosotan, wilayah-wilayah per¬ba-tasan yang jauh dari pusat mudah direbut oleh pihak musuh atau berusaha melepaskan diri.
Kedua, pemberontakan Jennisary. Pada masa belakangan Jennisary tidak lagi me-nerapkan prinsip seleksi dan prestasi, namun keberadaannya telah di dominasi oleh keturunan dan golongan tertentu. Tokoh-tokoh Jennisary terlibat perselisihan dengan pihak penguasa sehingga terjadi beberapa kali pemberontakan : pada tahun 1525, 1632, 1727 M dan 1826 M.
Ketiga, penguasa yang tidak cakap. Generasi penguasa Usmani sesudah Sulai-man al-Qanuni cenderung lemah semangat perjuangannya. Mereka terlibat pem¬bu¬nuh-an demi ambisi jabatan. Kehidupan istana yang penuh kemewahan, musik dan sede-retan perempuan penghibur serta minuman keras melalaikan mereka dari tugas tang-gung jawab sebagai khalifah dan melemahkan semangat perjuangan.
Keempat, merosotnya perekonomian negara akibat sejumlah peperangan, dimana sebagian peperangan tersebut pihak Turki mengalami kekalahan. Terlepasnya wilayah-wilayah kekuasaan Usmani juga menimbulkan kemerosotan beberapa negara. Semen¬tara biaya militer dan biaya perang menguras cadangan perekonomian negara. Keme¬rosotan perekonomian menimbulkan dampak langsung terhadap menurunnya perta¬hanan militer Usmani.
Kelima, stagnasi bidang ilmu dan teknologi. Kemajuan militer Turki Usmani yang tidak diimbangi dengan ilmu dan teknologi. Sementara itu pihak Eropa berhasil mengembangkan teknologi persenjataan. Maka ketika terjadi kontak senjata, pihak Usmani berkali-kali menderita kekalahan.
Keenam, tumbuhnya gerakan nasionalisme. Kekuasaan Turki atas sejumlah wila¬yah yang didudukinya bermula dari gerakan penyerbuan dan penaklukan. Sekalipun penguasa Turki telah berbuat sebaik mungkin terhadap masyarakat yang dikuasainya, namun kehadiran penguasa Usmani tetap saja dipandang sebagai pihak asing. Pan¬dangan ini akhirnya menimbulkan kesadaran kebangsaan yang melatarbelakangi sejum¬lah pemberontakan dan peperangan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Turki Usmani. Gerakan kebangsaan ini tidak hanya berkembang di wilayah-wilayah barat, melainkan juga menggejala di wilayah-wilayah timur. Akibatnya satu persatu wilayah kekuasaan Usmani lepas.
Akhir Riwayat Imperium Turki Usmani
Setelah kekalahannya atas Eropa, Usmani mulai menyadari kelemahannya dan menyadari perlunya pembaharuan kemiliteran. Usaha-usaha tersebut seolah tidak berarti dibanding kemajuan teknologi kemiliteran Eropa yang berkembang sangat pesat. Berkali-kali Usmani harus bertekuk lutut menghadapi militer Rusia dan bangsa Eropa lainnya. Ketika terjadi perang dunia pertama (1915), Turki Usmani yang bergabung de-ngan Jerman. Dalam peperangan ini Jerman dan Turki menderita kekalahan. Akibtanya, banyak daerah kekuasaan Turki Usmani yang memisahkan diri. Sampai dengan tahun 1919 pihak sekutu gencar menyerang Turki. Pihak sekutu memaksa Turki menan¬datangani perjanjian Sevres. Antara lain perjanjian ini berisi tentang pengesahan pen¬du¬duk Yunani atas Istambul. Perjanjian yang ditandatangani pihak penguasa Turki ini diprotes oleh sebuah gerakan pemberontakan. Kolonel Mustafa Kamal justru berpihak pada pemberontak ini. Mustafa Kamal berhasil menahan serangan Yunani dan berhasil memaksa Eropa menyerahkan kekuasaan atas wilayah Azmir dan Anatolia. Pada bulan April, 1921, sidang majelis Turki menetapkan Mustafa Kamal sebagai pimpinan.
Dalam situasi ini, Yunani kembali menyerang Turki Usmani pada Agustus hingga pertengahan september 1921. Tetapi, Mustafa Kamal berhasil mematahkan serangan ini dan memaksa Yunani menandatangani perjanjian Lusan yang berisikan pengakuan kekuasaan Turki Usmani atas Asia kecil, Istambul, dan pihak Yunani harus segera kembali ke negeri asal mereka.
Menurut Mustafa Kamal, kemunduran-kemunduran Turki Usmani disebabkan karena tidak beresnya sistem kekhalifahan. Oleh karena itu, sistem ini harus dihapuskan kalau Turki ingin maju sebagaimana negara Eropa lainnya. Karena pertimbangan ini maka Mustafa Kamal dalam kapasitasnya sebagai pimpinan dewan majelis menghapus¬kan jabatan khalifah pada tahun 1924 M. semenjak ini Imperium Turki Usmani, dan sejarah Turki memasuki era modern.
Ada hal penting yang perlu ditegaskan di sini bahwa sejak Mustafa Kemal al-Tarturk menghapuskan sistem khilafah dan mengubah negara menjadi Republik Turki, maka orientasi menjadi sekuler. Semua sistem yang bercorak keagamaan dihapus, misalnya, pengadilan syer’i dihapuskan, diganti dengan pengadilan skuler; pembubaran kementerian uurusan keagamaan dan kesalehan; pembubaran lembaga pendidikan aga¬ma atau medrese, digantikan dengan sistem pendidikan modern ala Barat. Kebijakan ini benar-benar menghapuskan lembaga ulama atau ilmiye, sehingga para ulama tidak diberi peran sama sekali.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Turki Modern adalah negara Repbulik Islam Turki yang sekuler, yang berbeda dengan dasar awal pembentukan negara atau dinasti Turki Usmani.
BAB III PENUTUP
Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu, propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas, dengan berbagai cara diantaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh