• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Berpikir

Dalam dokumen BAB I - BAB I & II (Halaman 31-36)

Staf Ahli Walikota Bandung merupakan jabatan eselon II di Lingkungan Pemerintah Kota Bandung, sejajar dengan Asisten Daerah, Sekretaris DPRD, Kepala Dinas dan Kepala Badan, serta hanya satu tingkat di bawah Sekretaris Daerah Kota Bandung. Jabatan ini diatur dalam Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 10 Tahun 2007 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Daerah Kota Bandung dan Sekretariat DPRD Kota Bandung. Dalam peraturan daerah tersebut, pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa Walikota dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh staf ahli. Ayat (2) menyebutkan staf ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tersebut terdiri atas paling banyak 5 (lima) orang yang diangkat dan diberhentikan oleh walikota dari pegawai negeri sipil, yang terdiri atas :

1) Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum;

2) Staf Ahli Bidang Perekonomian, Keuangan Daerah dan Investasi; 3) Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Infrastruktur;

4) Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia; 5) Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi.

Tugas dan fungsi Staf Ahli Walikota Bandung diuraikan dalam Peraturan Walikota Bandung Nomor 192 Tahun 2011 Tentang Uraian Tugas Pokok, Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Satuan Organisasi Sekretariat Daerah Kota Bandung. Pasal 42 ayat (1) menyebutkan bahwa staf ahli Walikota mempunyai tugas membantu Walikota dengan memberikan telaahan mengenai masalah pemerintahan sesuai dengan lingkup tugasnya, yang terdiri atas :

1) Staf Ahli Lingkup Pemerintahan dan Hukum mempunyai tugas memberikan telaahan mengenai pemerintahan dan hukum;

2) Staf Ahli Lingkup Perekonomian, Keuangan Daerah dan Inverstasi mempunyai tugas memberikan telaahan mengenai perekonomian, keuangan daerah dan inverstasi;

3) Staf Ahli Lingkup Pembangunan dan Infrastruktur mempunyai tugas memberikan telaahan mengenai pembangunan dan infrastruktur;

4) Staf Ahli Lingkup Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia mempunyai tugas memberikan telaahan mengenai kemasyarakatan dan sumberdaya manusia;

5) Staf Ahli Lingkup Teknologi Informasi mempunyai tugas memberikan telaahan mengenai teknologi informasi.

Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 42 ayat (2), Staf Ahli Walikota masing-masing mempunyai fungsi : 1) Pengkajian dan indentifikasi permasalahan penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai

2) Pengumpulan data dan bahan yang berkaitan dengan pokok permasalahan;

3) Penganalisaan pokok permasalahan berdasarkan kebijakan daerah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

4) Penyusunan kesimpulan, pertimbangan dan saran tindak kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah;

5) Penyusunan laporan pelaksanaan tugas setiap akhir tahun kepada Walikota melalui Sekretariat Daerah; dan

6) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan lingkup tugasnya. Dari uraian tugas pokok dan fungsinya, dapat disimpulkan bahwa Staf Ahli Walikota memikul peran sebagai analis kebijakan pemerintah daerah. Hal ini sesuai dengan teori yang diutarakan oleh Dunn dalam Nugroho (2014 : 265), yakni bahwa analis kebijakan adalah suatu aktivitas intelektual dan praktis yang ditujukan untuk menciptakan, secara kritis menilai dan mengkomunikasikan pengetahuan tentang dan di dalam proses kebijakan. Menurut Dunn, ada lima proses dalam analisis kebijakan, yaitu :

1) Menghasilkan informasi mengenai kondisi-kondisi yang menimbulkan masalah kebijakan;

2) Menyediakan informasi mengenai konsekuensi di masa mendatang dari penerapan alternatif kebijakan, termasuk jika tidak melakukan sesuatu;

3) Menyediakan informasi mengenai nilai dan konsekuensi alternatif kebijakan di masa mendatang;

4) Menghasilkan informasi tentang konsekuensi sekarang dan masa lalu dari diterapkannya alternatif kebijakan;

5) Kegunaan alternatif kebijakan dalam memecahkan masalah.

Sutarto (2006 : 183) mengemukakan bahwa dalam sebuah organisasi, seorang staf memiliki peranan sebagai pejabat yang bertugas melakukan penelitian, analisa, rekomendasi

dan nasehat. Berdasarkan hal tersebut dan uraian fungsi Staf Ahli Walikota Bandung, maka Staf Ahli Walikota Bandung memiliki peran sebagai pejabat yang bertugas melakukan penelitian permasalahan penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai lingkup tugasnya, analisa pokok permasalahan berdasarkan kebijakan daerah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta pemberian rekomendasi dan nasehat dalam bentuk penyusunan kesimpulan, pertimbangan dan saran tindak kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah Kota Bandung.

Secara empirik Staf Ahli Walikota Bandung memiliki citra negatif pada pemerintahan. Jabatan ini seringkali dianggap sebagai jabatan struktural yang harus dihindari, karena berkembang anggapan bahwa jabatan staf ahli merupakan tempat untuk menampung pejabat yang sudah tidak lagi terpakai. Selain itu, berkembang pula anggapan bahwa staf ahli merupakan jabatan sementara para pejabat sembari menunggu giliran penempatan jabatan sebagai kepala SKPD pada kegiatan rotasi dan mutasi jabatan berikutnya.

Kuatnya anggapan bahwa staf ahli tidak memiliki peran penting pada Pemerintah Kota Bandung menggambarkan adanya tujuan yang tidak tercapai dalam kebijakan tentang peran Staf Ahli Walikota Bandung. Soenarko (1998:201) mengemukakan bahwa pelaksanaan (implementasi) kebijakan pada dasarnya adalah merupakan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kebijaksaan pemerintah tersebut. Tak berbeda jauh dengan definisi itu, Nugroho (2014 : 657) menjelaskan bahwa : ”Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya”. Berdasarkan teori ini, ketika kenyataan di lapangan berbanding terbalik dengan kebijakan yang ditetapkan, maka perlu dipertanyakan bagaimana kebijakan tersebut diimplementasikan.

Menurut Edward (1980 : 10), agar implementasi kebijakan menjadi efektif, ada empat isu pokok yang harus diperhatikan, yakni :

Implementasi Kebijakan (Edward dalam Nugroho, 2014 : 673) Komunikasi

Sumber daya Disposisi

Struktur Birokrasi

Agar implementasi menjadi efektif, mereka yang bertanggung jawab untuk mengimplementasikannya harus tahu apa yang harus mereka lakukan. Perintah untuk melaksanakan kebijakan harus disampaikan kepada orang yang tepat, serta harus jelas, akurat dan konsisten.

2) Resource atau sumberdaya.

Seberapa jelas dan seberapa konsisten pun sebuah kebijakan, serta seberapa akurat kebijakan tersebut disampaikan, apabila orang yang bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan tersebut kekurangan sumber daya untuk melakukan pekerjaannya secara efektif, makan pelaksanaan kebijakan juga tidak akan efektif. 3) Disposition atau sikap.

Jika ingin mengimplementasikan kebijakan dengan efektif, Implementor tidak hanya harus tahu apa yang harus dilakukan dan mempunyai kemampuan untuk melakukannya, namun mereka juga harus memiliki kemauan atau kesediaan untuk melaksanakannya. 4) Bureaucratic structures atau struktur birokrasi.

Meskipun sumber daya telah cukup tersedia, implementor tahu apa yang harus dilakukannya dan mau melakukannya, implementasi masih bisa gagal karena ada kekurangan dalam struktur birokrasi. Fragmentasi organisasi dapat menghalangi koordinasi yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan secara sukses sebuah kebijakan yang rumit yang membutuhkan keterlibatan dari banyak orang, juga dapat membuang-buang sumber daya yang sulit didapatkan, menghalangi perubahan, menciptakan kebingungan, menyebabkan kebijakan bekerja pada tujuan yang berlawanan dan menghasilkan beberapa pekerjaan penting terabaikan.

Analisa Rekomendasi

Nasihat

36

C. Proposisi

Dari kerangka berpikir yang diuraikan sebelumnya, maka peneliti mengajukan proposisi sebagai berikut :

1) Implementasi kebijakan tentang peran Staf Ahli Walikota Bandung menentukan bagaimana peranan Staf Ahli Walikota Bandung dalam struktur Pemerintah Kota Bandung.

Implementasi kebijakan tentang peran Staf Ahli Walikota Bandung dipengaruhi oleh faktor komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi.

Dalam dokumen BAB I - BAB I & II (Halaman 31-36)

Dokumen terkait