• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Berpikir dalam Penyusunan Hipotesis

Berdasarkan dasar-dasar teori pada poin-poin sebelumnya, bagian ini akan mengarahkan dan memfokuskan pembahasan teori-teori yang relevan beserta aplikasinya dalam penelitian ini yang kemudian akan disusun sebuah kerangka

berpikir logis untuk nantinya menuntun pada perumusan hipotesis mengenai pengaruh notasi warna terhadap kemampuan retensi anak pada proses pembelajaran piano tingkat dasar.

Pemilihan subyek penelitian seperti dicantumkan pada definisi operasional merupakan sintesis beberapa teori yang diawali dengan kajian teori Piaget, yaitu pada periode operasi konkret dimana anak-anak telah dapat memahami operasi-operasi konkret (Budiyanto, 2009), teori periode sensitif Montessori yaitu pada kisaran umur 4 - 5 dan 4 - 6 tahun dimana merupakan periode sensitif untuk anak mulai mempelajari gerakan-gerakan sensorik yang lebih halus dan kompleks seperti menekan tuts-tuts piano, yang kemudian disempurnakan oleh Hinton yang mengembangkan penelitian periode sensitif berdasarkan teori Montessori. Menurut Hinton (2005) pengorganisasian struktur otak menunjukkan bahwa otak sangat optimal untuk menerima pembelajaran bahasa pada rentang usia 10 bulan dimana perubahan perkembangan neuro-biologis secara berangsur-angsur mengakhiri periode sensitif pada saat mendekati keremajaan, sedangkan perubahan struktural yang menampung kemampuan musikal terjadi sekitar 7 bulan sampai dengan 8 tahun dan kemampuan motoris antara usia 3 sampai dengan 10 tahun, yang artinya seorang anak sangat ideal untuk mempelajari musik pada rentang usia 3 – 10 tahun dengan menggabungkan antara kemampuan musikal (kepekaan terhadap stimulus bunyi-bunyian musikal) dan kemampuan motoris (Periode sensitif kemampuan motoris). Demikianlah kajian teori penelitian ini mengenai subyek penelitian yang ditentukan bagi anak-anak berusia 3 – 10 tahun. Detil seleksi subyek dapat dilihat lebih detil pada batasan masalah pada bab 1 makalah ini.

Konsep awal pemilihan judul penelitian meresponi prinsip Vikham (2006) yang mewarnai lahirnya sebuah sistem pewarnaan yang dipatenkan oleh David Kestenbaum dengan merk dagang ColorKeys ©2006 dengan nomor Paten 7148414, yang memperkenalkan warna yang khusus dipilih pada 7 notasi dari oktaf piano C, D, E, F, G, A, B, C (Vikham, 2006, para. 3) dengan pertimbangan bahwa warna dapat menyediakan titik referensi sekunder agar diperoleh kemudahan untuk mengenali tinggi nada pada sebuah notasi musik (Vikham, 2006, para. 11). Menurut Vikham (2006, para. 12), penambahan unsur warna

dipakai sebagai synesthesia yaitu stimulus tunggal yang dapat memicu lebih dari satu sensasi secara simultan. Manurut Nisbet (1998), proses pengolahan informasi yang terjadi pada saat menginterpretasikan notasi musik konvensional hitam putih melibatkan persepsi simbolik dan persepsi kontur visual sebagai representasi ketinggian nada. Sedangkan penambahan unsur warna pada notasi musik hitam putih berarti melibatkan sebuah muatan lagi berupa persepsi warna yang dikaitkan dengan nada yang dimaksud. Vikham tidak menjelaskan secara terperinci konteks pemakaian teori synesthesia pada notasi warna ColorKeys © 2005 Kestenbaum. Teori synesthesia didefinisikan sebagai sebuah kondisi dimana rangsangan dari sebuah modalitas indrawi menyebabkan pengalaman-pengalaman lain pada modalitas kedua yang sebenarnya tidak dirangsang (Ramachandran & Hubbard, E. M., 2003). Secara teori, sebenarnya hubungan antara teori synesthesia dengan mekanisme kerja notasi musik berwarna ColorKeys © 2005 memicu sebuah ambiguitas tersendiri. Karena secara teoritis fenomena synesthesia memiliki konsep sebuah modalitas stimulus yang menyebabkan bereaksinya persepsi modalitas yang berbeda secara bersamaan, sedangkan dalam mekanisme interpretasi notasi musik berwarna, jenis modalitas yang dipakai adalah sama, yaitu modalitas visual yang dideteksi dan diterima oleh indera penglihatan. Demikian halnya asosiasi yang terjadi didalam pemrosesan informasi, apabila persepsi warna menimbulkan proses asosiasi yang berbeda dengan persepsi kontur visual maupun persepsi ikonik, maka nada yang dimaksud pun akan berbeda. ‘Tujuan akhir’ dari fenomena synesthesia adalah dua persepsi yang berbeda, sedangkan tujuan dari interpretasi notasi musik justru haruslah persepsi yang identikal berapapun elemen yang diinterpretasikan. Sehingga secara teoritis, pendapat Vikham mengenai teori synesthesia pada metode pembelajaran notasi musik ColorKeys © 2005 tidak menemui titik temu ilmiah yang sah. Namun, fakta inipun tidak dapat menjadi sebuah kesimpulan ilmiah pula bahwa metode notasi musik berwarna tidak akan bekerja, sebab Vikham pun dalam kajiannya menyebutkan bahwa warna dipakai sebagai titik referensi sekunder untuk membantu memudahkan seseorang membaca notasi musik. Pemakaian unsur warna sebagai titik referensi sekunder jelas berbeda dengan konsep synesthesia, dan justru poin Vikham yang inilah yang akan dianalisa, diteliti dan dibuktikan

dalam penelitian ini. Berikut akan dibahas kajian teoritis yang dapat menjadi kerangka penyusun sebelum dibentuknya sebuah hipotesis sebagai analisa awal penelitian ini.

Sebelum langsung membandingkan proses mekanisme notasi musik berwarna ColorKeys © 2005, dalam makalah dicantumkan pula hasil penelitian dan kajian yang berkaitan erat dengan proses yang terjadi pada seorang anak yang membaca notasi musik dan memainkan piano. Menurut Walker (1992) pada permulaan pembelajaran bagi pelajar musik, interaksi visual-kinestesis dan kinestesis-akustiklah yang diperkenalkan, kemudian setelah pelajar tersebut memperoleh pengalaman dalam musik barulah mereka dapat menghubungkan akustik-visual secara langsung (dalam Nisbet, 1998, p. 7). Jadi Keluaran (output) aktivitas tersebut adalah aktivitas kinestesis yang dipicu oleh perintah dari memori kerja pada saraf kinestesis. Namun, pada penelitian ini variabel yang akan diukur adalah kemampuan penerjemahan notasi musik setelah diberi warna sehingga kemampuan kinestesis dikontrol melalui sampling yang akan dijelaskan dalam metode penelitian pada bab setelah ini.

Pengolahan yang terjadi pada saat menginterpretasi notasi musik dibahas dengan sangat detil pada poin 2.1.3 dalam dasar teori. Proses perseptif yang dilibatkan adalah persepsi visual yang merupakan hasil pemrosesan sensasi visual yang dipicu berupa stimulus visual notasi musik, dimana didalamnya terjadi proses persepsi dan interpretasi diagram garis mengingat garis paranada dan not balok dalam notasi musik sebenarnya adalah sebuah modifikasi dari grafik dengan waktu sebagai sumbu horizontal (sumbu x) dan kontur visual sebagai sumbu vertikal (sumbu y). Namun membaca notasi musik lebih kompleks dari sekedar menginterpretasikan diagram garis karena menurut Nisbet (1998) sistem membaca notasi dalam garis paranada, yaitu dalam hal jarak antar nada, tidaklah konsisten (seperti jarak garis paling bawah dari garis paranada treble-clef dengan garis kedua sebesar 3 semi-nada, sedangkan besar interval nada dari garis kedua ke garis ketiga sebesar 4 semi-nada) sehingga membaca notasi musik menuntut lebih dari sekedar asosiasi perseptif ketinggian nada dengan referensi posisi vertikal. Penelitian Nisbet (1998) memberikan dasar teori yang sangat berguna untuk merumuskan hipotesis penelitian ini yaitu manipulasi materi-materi visual

dalam konteks format konvensional maupun non-konvensional menghasilkan tingkat performa yang berbeda, dan salah satu kesimpulan penelitian Nisbet adalah semakin perseptif dan tidak abstrak serta simbolik sebuah sistem representasi visual, semakin mudah bagi anak-anak untuk melakukan aktivitas pengasosiasian visual-melodius.

Teori lain yang berkaitan dengan rumusan masalah penelitian ini adalah teori pengkodean ganda dan teori muatan kognitif. Menurut Pranata, temuan-temuan penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding

theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independen yaitu

pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memproses informasi yang masuk (Pranata, 2004, p. 174 - 175). Aplikasi dari teori pengkodean ganda ini akan menuntun kepada teori muatan kognitif dimana manusia memiliki kapasitas pemrosesan yang terbatas sehingga perlu adanya alokasi sumber daya kognitif karena pengalokasian sumber daya kognitif pada aktivitas yang tidak berhubungan dengan skema konstruksi dan otomatisasi akan menghambat proses pembelajaran seseorang.

Penambahan unsur warna merupakan penambahan unsur visual dalam jalur pengkodean ganda pada pemrosesan informasi non-verbal, yaitu notasi musik, sehingga seorang anak ketika mengolah informasi tersebut harus mengadakan asosiasi kontur visual dengan skemata dalam memori jangka panjangnya yang menyimpan pengetahuan tentang informasi ketinggian nada yang relevan dengan kontur visual tersebut, sekaligus asosiasi non-verbal lainnya berupa asosiasi warna yang relevan dengan informasi tinggi nada dalam skematanya, sehingga diduga terjadi kelebihan muatan kognitif pada kapasitas memori kerja. Ditambah dengan proses pengenalan informasi warna dan tinggi nada yang relevan dengan warna tertentu belum cukup kuat untuk memicu otomatisasi. Sehingga proses penambahan warna ini jutsru kontra dengan efek modalitas Sweller et al. (1998) yang menyarankan penggunaan presentasi multi-modalitas yang menggunakan kedua prosesor memori kerja baik visual maupun aural mengurangi muatan asing (dalam Artino, 1998).

2.3. Hipotesis

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor tes kemampuan asosiasi notasi musik anak yang menggunakan metode notasi musik berwarna, dibandingkan dengan skor tes kemampuan asosiasi notasi musik anak yang menggunakan metode notasi musik konvensional pada pembelajaran piano tingkat dasar.

Dokumen terkait