• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

Bab ini memuat berbagai teori dan dasar ilmiah dari berbagai sumber yang menjadi kerangka proses persiapan, pelaksanaan, serta analisis data penelitian. Pada bagian ini dicantumkan informasi pokok mengenai teori kognitif umum, teori kognitif anak dan teori persepsi dan interpretasi notasi musik.

2.1. Teori Dasar

Dalam bagian teori dasar ini dijelaskan secara rinci bagian-bagian yang relevan dengan penelitian ini mengenai notasi musik, teori kognitif umum, teori kognitif anak dan teori interpretasi notasi musik.

2.1.1. Notasi Musik

Notasi musik standar adalah sistem penulisan konvensional untuk merepresentasikan secara visual dalam sebuah tatanan yang dimengerti semua musikus di seluruh dunia (Colored Music Notation System and Method of Colorizing Music Notation, 2006). Beberapa notasi musik standar yang relevan untuk penelitian ini adalah: a) not balok, b) tanda istirahat, c) ritme/irama, d) tempo, dan e) garis paranada.

2.1.1.1. Not Balok

Menurut Geherkens (2006) not balok adalah notasi (dari kata nota) yang terdiri dari satu atau dua atau tiga bagian ( ) yang direferensikan sebagai

head, stem dan hook. Istilah hook seringkali disebut sebagai ‘ekor’. Stem dapat ditulis dibagian kanan maupun kiri head ( ) , sedangkan hook selalu berada di sebelah kanan ( ) (Gehrkens, 2006, p.1). Menurut Kustap (2008), sistem penulisan butir-butir nada pada garis paranada dikenal dalam masyarakat kita dengan istilah not balok (dalam Kustap, 2008). Pada dasarnya prinsip membaca not balok adalah sangat sederhana seperti halnya membaca sebuah grafik yang logis. Tingkat ketinggian nada dapat terlihat dengan jelas sebagaimana apa adanya pada paranada. Butir nada yang terletak di bawah menunjukkan nada yang rendah

(2)

dan demikian pula halnya dengan nada yang tinggi tentunya terletak di wilayah atas.

Gambar 2.1. Nama elemen-elemen dalam not balok Sumber: Kustap (2008, p.101)

Bentuk nada mengacu pada dikembangkan dari butir nada yang kosong, solid, diberi bendera.

Tabel 2.1. Bentuk, Nama, dan Kualitas Not Balok

NAMA NADA BENTUK NADA

ANGKA KUALITAS Penuh/ Whole Semi breve

1/2 Minim

1/4 Crotchet

1/8 Quaver

1/16 Semi Quaver

1/32 Demi Semi Quaver

Sumber: Kustap (2008, p.102)

Nilai pada nada-nada biasanya dipahami langsung dengan melihat langsung perbandingan jumlah nadanya. Sebuah nada penuh sebanding dengan dua buah nada setengah, sebanding dengan empat nada seperempat, dan seterusnya.

(3)

Gambar 2.2. Perbandingan nilai nada berdasarkan jumlahnya Sumber: adaptasi Kustap (2008, p.103)

2.1.1.2. Tanda Istirahat

Tanda diam adalah karakter dalam notasi musik yang mengindikasi absensi bunyi ritmik dengan nilai tertentu (Gehrkens, 1914, p. 11). Tanda istirahat menunjukkan bahwa pemain tidak boleh membunyikan apapun selama waktu tertentu. Morfologis tanda istirahat memiliki bentuk yang variatif. Nilai ritmik tanda istirahat memiliki interval skala nilai yang sama dengan nilai ritmik pada notasi balok. Berikut ini adalah tabel yang menujukkan tanda istirahat:

Tabel 2.2. Bentuk, Nama, dan Kualitas Tanda Istirahat

NAMA TANDA ISTIRAHAT TANDA

ISTIRAHAT

ANGKA KUALITAS Penuh/ Whole Semi breve

1/2 Minim

1/4 Crotchet

1/8 Quaver

1/16 Semi Quaver

1/32 Demi Semi Quaver

(4)

2.1.1.3. Ritme/Irama

Ritme atau irama, adalah susunan di antara durasi nada-nada yang pendek dan panjang, nada-nada yang bertekanan dan yang tak bertekanan, menurut pola tertentu yang berulang-ulang (Kustap, 2008, p.101). Tanda ritme/irama terdapat dalam garis paranada pada permulaan lagu tepat setelah kunci (clef) dan tanda kunci. Tanda ritme tersusun dari dua pembagian angka. Angka yang terdapat di atas menunjukan pola tekanan yang berulang-ulang dengan dibatasi oleh garis pembatas vertikal atau biasa disebut garis birama, sedangkan angka yang terletak di bawahnya menunjukkan jenis nada yang dijadikan satuan.

Irama-irama pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi tiga macam yaitu irama menari dengan pola hitungan ”tiga” (triple), irama berbaris dengan pola hitungan ”dua” (duple) dan irama umum atau yang paling lazim dengan pola hitungan ”empat” (quadruple). Dalam perkembangannya ada juga irama yang merupkan kombinasi di antara irama-irama tersebut seperti irama 5/4 adalah kombinasi di antra triple dan duple. Irama-irama dasar seperti duple, triple dan

quadruple disebut irama reguler sedangkan kombinasi di antara irama-irama tersebut dinamakan irama non reguler. Irama-irama dasar disebut juga irama sederhana (simple time). Di samping simple time ada irama lain, yaitu irama ganda (compound time) yang mengacu pada pola tekanan irama sederhana. Ciri irama ganda ialah adanya pengelompolan satuan tiga ketukan yang dilipat gandakan sesuai dengan pola-pola simple time seperti irama 6/8 yang mengacu kepada pola irama duple sehingga memiliki dua tekanan pokok yaitu pada hitungan pertama dan keempat dari enam ketukan irama ini.

Tabel 2.3. Kategori Irama dan Nilainya

Kategori Jenis Nilai

Duple 2/16 2/8 2/4 2/2 Triple 3/16 3/8 3/4 3/2 Simple Quadruple 4/16 4/8 4/4 4/2 Duple 6/16 6/8 6/4 6/2 Triple 9/32 9/16 9/8 9/4 Compound Quadruple 12/32 12/16 12/8 12/4

(5)

Tanda Irama 4/4

Gambar 2.3. Contoh penulisan tanda irama dalam notasi musik standar 2.1.1.4. Tempo

Jika melodi dapat dianalogikan sebagai jiwa bagi musik maka jantungnya ialah ritme dan tempo. Tempo merupakan “polisi lalu lintas” yang mengatur kelancaran lalulintas sedangkan kelancaran lalu lintasnya ialah ritme. Petunjuk tempo pada naskah musikal tertulis di kiri atas halaman permulaan sebuah karya musik. Petunjuk tersebut memberitahukan kepada pemusik seberapa cepat karya tersebut harus dimainkan; apakah Andante (biasa secepat orang berjalan), Allegro

(cepat), Largo (lebar/ lambat), Presto (sangat cepat), dan sebagainya (Ewen 1963, 4). Dalam prakteknya, kecepatan tempo adalah relatif. Pada masa lalu istilah cepat dan lambat hanya untuk membedakan kecepatan diantara satu lagu dengan lagu yang lain sedangkan rincian seberapa cepat seharusnya sebuah lagu dimainkan, belum ada.

Menjelang akhir abad ke-18 ditemukan metronom, yaitu instrumen untuk mengukur berbagai kategori kecepatan tempo musik. Walaupun kini yang dianggap sebagai penemu instrumen tersebut ialah seorang ahli dari Jerman bernama Johann Nepomuk Maelzel (1772–1838) namun sebenarnya idenya telah terlebih dahulu ditemukan oleh Dietrich Nikolaus Winkel (c. 1776–1826) dari Belanda. Metronom terdiri dari sebuah bandulan yang posisinya dapat diubah-ubah dengan menggeser kepala bandulan tersebut pada sebuah tongkat pengayun guna mengatur kecepatan gerak bandulan sesuai dengan skala angka yang dibutuhkan. Bandulan dan tongkatnya digerakkan oleh per dalam suatu rangkaian mesin yang setiap kali gerakan bandulan mencapai masing-masing sisi akan terdengar bunyi ketukan yang menandai pulsa atau ketukan. Pada metronom terdapat fasilitas yang dapat mengatur jenis irama tertentu dengan bunyi ”ting” yang lebih menonjol dan nyaring dari bunyi ketukan yang monoton. Misalnya

(6)

pada irama 3/4 akan terdengar pola bunyi ”ting, tok, tok, tok”, yang berulang-ulang. Sehubungan dengan itu di samping tanda tempo berupa istilah-istilah biasanya pada permulaan naskah musikal juga tertulis tanda metronom yang ditulis, misalnya “M.M. (Maelzel's metronome) = 60”, yang menunjukan bahwa kecepatan lagu yang dituntut ialah setiap satu ketukan nada setengah setara dengan 60 ketukan per menit. Kemasan metronom konvensional cenderung pada bentuk piramid. Walaupun metronom konvensional masih tetap diproduksi, saat ini kita juga bisa memperoleh berbagai macam model metronom elektronik ataupun digital. Dalam sejarah musik klasik, metronom pernah satu kali dipergunakan sebagai alat musik, yaitu pada karya komponis Hungaria, György Ligeti, berjudul Poème symphonique (1962), yang menggunakan 100 metronom Encyclopedia Britanica 2005) Secara umum tempo musik dapat diklasifikasikan menjadi 6 gradasi, mulai dari kategori sangat lambat, lambat, sedang, agak cepat, cepat, dan sangat cepat. Pada masing-masing kategori tersebut paling tidak terdapat antara dua hingga empat sub kategori.

Tabel 2.4. Istilah dan Kategori Tempo KATEGORI SUB KATEGORI JUMLAH NILAI NOT PER MENIT KETERANGAN

Sangat Lambat Largo 40 - 48 Luas

Grave - Serius

Lambat Lento 50 - 54 -

Adagio 56 - 66 Gemulai, ringan (tidak tergesa-gesa), santai (slowly)

Sedang Andante 69 - 72 Berjalan – dalam tempo orang berjalan Andantino 76 - 84 Sedikit/ seperti andante (lebih cepat dari

andante)

Moderato 88 - 100 -

Agak Cepat Allegretto 104 - 120 Agak hidup (tidak secepat allegro) Cepat Allegro 126 - 149 Gembira, ceria, hidup. Sangat Cepat Allegro molto 150 - 151 Sangat hidup

Vivace 152 - 175 Enerjik, bersemangat, hidup.

Presto 176 - 199 Sangat cepat

Prestissimo 200 - ... Secepat mungkin

(7)

Terminologi dalam tabel dapat dimodifikasi dengan menambahkan kata-kata

molto (sangat) meno (kurang) poco (sedikit) dan non troppo (tidak terlalu banyak). Poco allegro dapat berarti agak Allegro. Allegronontroppo berarti tidak terlalu allegro. Di samping tanda tempo yang tetap di atas ada juga istilah yang mengindikasikan perubahan tempo. Yang paling sering digunakan di antaranya ialah accelerando (berangsur-angsur menjadi cepat) dan ritardando (berangsur melambat); tanda atempo (kembali ke tempo asal) biasanya terdapat pada bagian yang telah dilalui tanda perubahan tempo namun bukan di bagian akhir lagu.

2.1.1.5. Garis Paranada

Butir-butir nada diletakkan pada lima buah garis sejajar yang di Indonesia lazim disebut paranada (Inggris: Staff). Pada garis paranada terdapat garis-garis vertikal pembatas irama disebut garis birama (bar). Di antara garis-garis pembatas terbentuk kolom-kolom yang disebut birama. Nama-nama nada diterapkan sejalan dengan keadaan tersebut, sehingga semakin tinggi letak butir nada maka abjad yang digunakan semakin ke kanan. Pada gambar 1.1. dapat kita lihat bahwa posisi nada-nada pada paranada dapat diklasifikasikan pada dua tempat, yang pertama yaitu pada spasi atau di antara garis, dan yang kedua pada garis. Sebagaimana ditunjukkan pada birama pertama dan kedua dalam contoh di atas, secara berurutan nada B pada garis ketiga, terletak di atas nada A pada spasi kedua. Nada-nada yang berada di luar kelima garis sejajar atau paranada tersebut, diakomodasi seperlunya oleh garis-garis bantu yang diletakkan di atas maupun di bawah paranada.

Gambar 2.4. Contoh garis paranada Sumber: Kustap (2008, p.88)

(8)

Paranada dapat mengakomodasi seluruh wilayah nada-nada musikal dari yang terendah hingga yang tertinggi. Untuk keperluan tersebut nama-nama nada pada paranada ditentukan oleh kunci (Inggris: Clef) yang berbeda-beda yang diletakkan pada setiap awal paranada. Penulisan nada-nada pada wilayah suara tinggi (Diskan) menggunakan kunci G (G clef) atau biasa juga disebut treble clef; nada-nada pada wilayah suara rendah (baskan) menggunakan kunci F atau biasa disebut bass clef. Di antara kedua kunci tersebut ada kunci-kunci lain yaitu kunci C yang biasa disebut dengan alto clef, untuk mengakomodasi penulisan nada-nada tengah.

Gambar 2.5. Posisi nada-nada dalam paranada Sumber: Kustap (2008, p.89)

Kunci C / Alto

Nada-nada pada kedua paranada tersebut adalah nada C yang sama

Gambar 2.6. Posisi nada C berdasarkan kunci (clef)

2.1.2. Teori Kognitif Umum

Teori kognitif umum yang dijelaskan dalam sub-bagian teori umum mencakup teori penerimaan informasi, memori, mekanisme memori, teori pemrosesan ganda, teori pengkodean ganda dan teori muatan kognitif.

(9)

2.1.2.1. Penerimaan Informasi

Menurut Moriarty (1996), proses penerimaan dan pengolahan seseorang melalui setidaknya empat tahap yaitu sensasi, persepsi, pengkodean (encoding) dan respon (dalam Poernomo, 2004).

Sensasi adalah proses penerimaan secara inderawi. Manusia sendiri memiliki 5 indera untuk mendeteksi dan menerima rangsangan stimulus yaitu indera pelihat, pendengar, penciuman, perasa dan peraba. Organ tubuh yang berhubungan dengan kelima indera tersebut adalah mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, lidah untuk merasakan dan kulit untuk meraba. Adapun perbedaan penerimaan sensasi antara seseorang dengan orang yang lain disebabkan oleh referensi batas, lingkungan serta kapasitas alat inderawi yang berbeda.

Persepsi menurut Irwanto (1989) adalah proses interpretasi terhadap stimulus yang diterima indera yang menyebabkan kita menjadi subyek dari pengalaman kita sendiri atas pengertian terhadap lingkungan (dalam Pernomo, 2004). Persepsi dipengaruhi oleh setidaknya 5 faktor yaitu modalitas (sifat dasar indrawinya), dimensi ruang dan waktu, asosiasi struktur dan konteks (suatu rangsangan atau stimulus dipersepsikan sebagai bagian dari lingkungan bukan secara terpisah), serta makna bagi diri seseorang. Tidak semua stimulus dipersepsikan dalam otak manusia. Menurut Atkinson (1987) proses pemilihan sensasi yang akan dipersepsikan sesuai dengan prinsip persepsi disebut sebagai perhatian. Prinsip persepsi itu dibagi oleh Atkinson (1987) menjadi empat yaitu otomatis, selektif, kontekstual dan kreatif (dalam Poernomo, 2004). Prinsip otomatis persepsi artinya rangsangan yang diterima diorganisasikan secara otomatis sesuai dengan informasi yang telah diakomodasikan sebelumnya di skemata (lihat poin 2.1.2.1 mengenai istilah Piaget tentang skemata) seseorang. Artinya sebuah rangsangan dipersepsikan berdasarkan pengalaman yang pernah diterima sebelumnya sehingga apabila perbedaan stimulus sangat kecil dengan yang pernah ditampung oleh informasi dalam skemata maka secara otomatis otak akan mempersepsikannya sama dengan yang telah diketahuinya. Prinsip otomatis ini membuat kinerja otak menjadi lebih cepat. Prinsip persepsi selektif artinya adalah otak memilih sensasi mana yang akan diterima, diolah lalu disimpan dalam

(10)

sistem penyimpanan otak (sistem penyimpanan jangka pendek maupun sistem penyimpanan jangka panjang). Prinsip persepsi kontekstual artinya konteks baik berupa pengalaman seseorang ataupun situasi lingkungan akan mempengaruhi proses presepsi. Sehingga persepsi seseorang dapat berbeda-beda terhadap stimulus yang sama oleh karena konteksnya berbeda. Prinsip kreatif presepsi artinya adalah keberadaan konteks yang mempengaruhi proses presepsi membuat persepsi bukan hanya dapat berbeda antara penerima rangsangan, namun juga berbeda dari realita sebenarnya. Moriarty (1996) menuliskan teori Umwelt yang disimpulkan oleh Uexkull yaitu ‘apa yang kita ketahui tentang dunia luar adalah apa yang indera kita katakan tentangnya’ (dalam Poernomo, 2004, p.42).

2.1.2.2. Memori

Josephine (2001) berpendapat bahwa memori adalah kapasitas pengingatan informasi terhadap waktu (dalam Poernomo, 2004). Memori dapat digolongkan menurut kapasitas waktu penyimpanannya yaitu memori indrawi (sensoric memory), memori jangka pendek (short term memory) dan memori jangka panjang (long term memory).

2.1.2.2.1. Memori Inderawi

Dalam sistem kognisi manusia terdapat sebuah memori inderawi yang berhubungan langsung dengan alat indera atau simpul saraf, yang aktif tanpa perlu adanya proses sensasi maupun persepsi, yang disebut dengan memori segera (immediate memory). Memori segera dapat bertahan selama dua detik setelah stimulus terdeteksi, menampungnya dalam sistem pengingatan kemudian membuangnya pula dengan segera. Memori segera ini dibagi menurut indera yang menerima stimulusnya yaitu memori ikonik (iconic memory) yang berkaitan dengan indera penglihatan dan memori gaung (echoic memory) yang bekaitan dengan indera pendengaran.

Memori ikonik aktif terhadap stimulus visual dan memampukan manusia untuk mendeteksi apa yang dilihatnya dalam waktu 1/20 detik dengan cukup detil namun tidak dapat diingat untuk waktu yang lama. Sperling mencoba meneliti dengan metode laporan utuh (whole-report method) mencoba mempresentasikan

(11)

sederetan huruf pada sebuah tachitoscope selama 50 milidetik dan meminta subyek penelitian untuk menyebutkan kembali huruf-huruf yang dimunculkan sebanyak yang dapat diingat. Ternyata subyek penelitian hanya dapat melihat keseluruhan deret dengan jelas, menyebutkan 4 sampai 5 huruf saja lalu melupakan sisanya. Memori ikonik ini berfungsi untuk mempersiapkan gambaran inderawi yang jelas terhadap stimulus dalam waktu yang singkat seolah-olah memori ‘memperpanjang’ jangka waktunya untuk ditangkap oleh otak (Poernomo, 2004).

Memori gaung bekerja dengan cara yang sama dengan memori ikonik namun berkaitan dengan indera pendengaran. Menurut Ashcraft (1989) kinerja memori ikonik dapat diperhatikan pada seseorang yang sedang bercakap-cakap ditengah-tengah keramaian. Orang tersebut dapat mengabaikan semua keramaian disekitarnya dan tetap berkonsentrasi pada lawan bicaranya, namun pada saat namanya dipanggil oleh orang lain ia dapat meresponinya dan mengabaikan lawan bicara untuk sesaat. Semua bunyi sebenarnya ditampung sesaat dalam memori gaung dan mengalami seleksi otomatis (dalam Poernomo, 2004). Crowder dan Morton (1969) juga melakukan sebuah penelitian dengan metode laporan utuh yaitu membacakan kepada subyek penelitian masing-masing 3 angka dari tiga buah pengeras suara yang berbeda dan hasilnya subyek hanya dapat menyebutkan dengan benar beberapa angka pertama (dalam Poernomo, 2004).

Jadi, memori sensoris adalah informasi sensoris yang masih tersisa sesaat setelah stimulus diambil. Tidak semua informasi yang tercatat dalam memori sensoris akan disimpan lebih lanjut ke memori jangka pendek atau jangka panjang, karena manusia akan melakukan proses selective attention, yaitu memilih informasi mana yang akan diproses lebih lanjut (Wirawan, n.d.)

2.1.2.2.2. Memori Jangka Pendek

Memori jangka pendek, atau sering juga disebut sebagai memori sekunder, menyimpan informasi yang diseleksi (sesuai prinsip persepsi) oleh memori inderawi selama 20 – 30 detik kecuali bila terjadi pengulangan. Kapasitas penyimpanannya lebih sedikit dari memori inderawi. Model paling penting dari memori jangka pendek adalah memori kerja yang menyimpan informasi

(12)

sementara untuk pembelajaran hal-hal yang baru. Menurut Kusumoputro (2003) tugasnya mengingat-ingat dalam pikiran sejumlah materi tertentu sementara dalam waktu yang sama melakukan aktivitas kognitif lebih lanjut baik tentang materi yang sama maupun materi lain yang masuk (dalam Poernomo, 2004 p.52).

Menurut Sweller (1998), manusia hanya sadar pada informasi yang sedang diolah di memori kerja dan sama sekali tidak menyadari akan besarnya jumlah informasi yang disimpan dalam memori jangka panjang, bahkan menurut Miller (1956) waktu menangani informasi baru memori kerja hanya dapat menampung sekitar 7 (kurang atau lebih 2) buah jenis informasi dalam suatu waktu. Sementara sewaktu mengolah informasi seperti pengorganisasian, penekanan, pembandingan, memori kerja tidak menyimpan informasi-informasi melainkan hanya mampu untuk menangani 2 atau 3 informasi secara simultan dan menurut Driscoll (2005) informasi baru yang dapat ditahan sementara di memori kerja akan hilang dalam waktu 15 – 30 detik (dalam Artino, 2008).

2.1.2.2.3. Memori Jangka Panjang

Memori jangka panjang menyimpan segala informasi yang telah diterima sebelumnya dan diproses sedemikian sehingga kapasitas penyimpanannya dapat sangat lama sekali atau bahkan bersifat permanen. Memori jangka panjang dapat dibagi menjadi dua berkaitan dengan jenis informasi yang disimpan yaitu memori deklaratif dan memori prosedural.

Memori deklaratif menurut Josephine (2001) merupakan pengumpulan kembali informasi secara sadar seperti fakta atau kejadian yang spesifik yang dapat dikomunikasikan secara verbal (dalam Poernomo, 2004, p. 53). Memori deklaratif dibagi lagi menjadi dua berdasarkan jenis informasinya yaitu memori episodik dan memori semantik. Memori episodik menampung informasi yang berhubungan dengan tampat dan waktu peristiwa pribadi dan tidak sama untuk setiap orang (peristiwa penting, nama orang tedekat dan tanggal-tanggal penting biasanya tersimpan disini). Memori semantik berisi pengetahua umum, kosa kata , tata bahasa, konsep-konsep umum sehingga besar kemungkinan informasi yangdisimpan sama antar satu orang dengan yang lain.

(13)

Memori prosedural menyimpan pengetahuan dalam bentuk kemampuan dan operasi kognitif tentang bagaimana melakukan sesuatu yang berupa pengingatan informasi mengenai tindakan-tindakan yang susah diungkapkan secara verbal seperti cara memainkan alat musik, mengemudi mobil dan sebagainya.

2.1.2.3. Mekanisme Memori

Informasi yang diterima, setelah sebuah stimulus dipersepsikan, akan diteruskan dan disimpan didekat bagian permukaan otak yang memiliki fungsi pengasosiasian didekat permukaan otak yang berhubungan langsung dengan indera (inderawi primer) kemudian diolah dalam memori kerja. Alan Paivio (Ashcraft, 1989) berpendapat bahwa stimulus verbal-visual lebih mudah disimpan dalam memori dibandingkan stimulus verbal yang hanya akan disimpan dalam memori verbal (dalam Poernomo, 2004). Asosiasi kata ‘pensil’ misalnya disimpan sebagai kata dan visualisasi obyek pensil dalam memori dibandingkan kata ‘jiwa’ yang tidak memiliki wujud fisik yang nyata hanya akan disimpan dalam memori verbal.

Gambar 2.1. merupakan adaptasi dari model pemrosesan informasi yang dikembangkan Atkinson dan Shiffrin dimana ketika stimulus diterima, diseleksi, kemudian diproses kedalam memori jangka pendek, yang merupakan tempat pengolahan informasi secara sadar dimana informasi baru diintegrasikan dengan memori informasi lama untuk dimaknai dan selanjutnya disimpan dalam memori jangka panjang (dalam Poernomo, 2004).

Gambar 2.7. Skematika pemrosesan informasi dalam memori Sumber: adaptasi Aschraft (1949) dalam Poernomo (2004, p.55)

(14)

2.1.3. Teori Pemrosesan Informasi

Berikut ini dibahas secara terperinci beberapa teori pemrosesan informasi yang relevan dengan penelitian ini. Teori pemrosesan informasi dimulai dari teori pemrosesan ganda yang akan menjadi dasar bagi kedua teori lainnya yaitu teori pengkodean ganda dan teori muatan kognitif

2.1.3.1. Teori Pemrosesan Ganda (Dual Processing Theory)

Salah satu karakteristik yang penting menurut Sweller (1998) dari memori kerja adalah kapasitasnya yang terdistribusi menjadi 2 prosesor independen yang didasarkan pada teori pengkodean ganda Pavio (1986) dan teori memori kerja Baddeley (1998) yang mengatakan bahwa terdapat dua saluran yang terpisah untuk memproses informasi visual dan aural. Menurut teori pemrosesan ganda terdapat dua jenis sistem yang berbeda yang menyusun proses kognitif manusia. Sistem pertama beroperasi secara cepat, dibawah sadar, dapat beroperasi bersamaan dengan proses lainnya, tidak menuntut sumber-sumber kognitif dan seringkali diasosiasikan dengan emosi dan intuisi. Sebaliknya, sistem yang kedua memproses informasi dengan lambat, dikendalikan kehendak seseorang, berkesinambungan, menuntut sumber-sumber kognitif dan seringkali diasosiasikan dengan logika dan rasio. Stanovich (1999) menggolongkan kedua sistem tersebut dengan istilah sistem 1 dan sistem 2 (dalam Kvaran, 2007).

Sistem 1 memproses dengan cepat, otomatis, bersifat wajib yang artinya prosesnya wajib apabila dipicu oleh stimulus yang relevan dimana sistem pemrosesan pusat tidak dapat menghentikan pengolahan informasi terjadi. Sistem pemrosesan pusat hanya dapat merubah pada bagian pengeluaran respon dengan mengesampingkan output dari sistem 1. Sistem ini beroperasi dengan cepat, dipicu oleh sekelompok stimulus yang minim serta menghasilkan respon tipikal yang tidak memerlukan kontrol secara sadar sehingga sistem ini cederung menghasilkan kesalahan apabila dipicu dalam konteks situasi yang tidak sama dengan lingkungan dimana proses dirancang untuk beroperasi dengan efisien. Karakteristik penting dalam sistem 1 adalah sistem ini bukan merupakan suatu set yang berisi banyak sistem yang spesifik. Menurut Fodor (1983) modul kognisi selalu eksklusif pada sistem lima indera dan bahasa, namun sistem 1 tidak terbatas

(15)

pada sistem-sistem ini. Sistem 1 juga mencakup proses kognitif rumit seperti logika, membuat keputusan dan dengan melibatkan latihan dan pendidikan yang cukup, proses-proses yang mulanya memerlukan sistem 2 dapat digabungkan bahkan menjadi bagian dari pemrosesan sistem 1. Sistem 1 yang tidak fleksibel ini membuatnya terlihat ‘bodoh’ karena selalu merespon secara spontan stimulus tanpa memandang konteks menguntungkan atau tidaknya. Namun menurut Fodor (1983) inilah kelebihan sistem ini yaitu dimana, “Apa yang menguntungkan anda dari kebodohan ini adalah dimana anda tidak perlu berpikir dahulu untuk memutuskan sesuatu, karena berpikir dahulu dan kemudian menentukan dapat sangat makan waktu (Kvaran, 2007, p. 27).” Karena keterbatasan sumber daya kognitif manusia dalam banyak aspek, metode spontan dan cepat sistem ini sangat krusial dalam konteks bertahan hidup. Kesimpulannya adalah sistem 1 memiliki karakter pemrosesan kognitif yang cepat, otomatis, spontan, tanpa sadar, menggunakan sumber daya kognitif yang minim, menunjukkan sedikit perbedaan individual dan sudah terbentuk pada awal kehidupan seseorang (Kvaran, 2007, p. 27).

Sistem 2 bukanlah sebuah sistem terpisah melainkan kumpulan beberapa sistem yang mengolah informasi dengan cara yang spesifik. Sistem ini memiliki karakter pemrosesan informasi satu-persatu yang lambat, memerlukan sumber daya kognitif yang relatif banyak seperti kapasitas memori, waktu ataupun intensitas perhatian. Walaupun demikian kekurangan sistem 2 ini justru yang memproses informasi-informasi yang kemudian menjadi kemampuan-kemampuan penting seseorang seperti logika abstrak, pengontrolan sesuai kehendak. Menurut Stanovich (2004) keuntungan utama dari sistem ini adalah dapat menopang mekanisme logika yang tidak memiliki konteks yang pasti, keputusan yang bersifat argumentatif, abstraksi, perencanaan, pembuatan keputusan dan kontrol kognitif (dalam Kvaran, 2007, p. 29). Sistem ini memampukan seseorang untuk mengamati secara cermat tentang masa depan, berpikir kontras terhadap fakta, dan memiliki pola pikir abstrak mengenai konsep-konsep diluar konteksnya. Tidak seperti sistem 1 yang merespon stimulus dan memproduksi respon tipikal yang apabila terpicu harus diolah dan diselesaikan, kontrol sistem 2 secara sadar mengijinkan fleksibilitas dan kreativitas dalam jenis respon yang akan dihasilkan.

(16)

Komponen sistem 2 yang paling penting dalam kaitannya dengan rasio manusiawi adalah kemampuannya untuk ‘mengesampingkan’ proses sistem 1 (override system). Pollock berpendapat bahwa komponen sistem 2 yang dapat mengindahkan hasil proses sistem 1 ini krusial untuk mengatasi proses sistem 1 yang tipikal sewaktu sistem 1 aktif dalam situasi atau lingkungan yang akan meghasilkan hasil yang negatif (Kvaran, 2007, p. 30). Misalnya seseorang yang menghindari lemparan benda dari orang lain dengan menilai secara cepat posisi jatuh benda tersebut, namun dalam lingkungan dan situasi khusus, sistem penilaian sistem 1 yang sifatnya cepat dan spontan dapat memprediksi jatuh benda tersebut dengan salah, misalnya angin yang sangat kencang, sehingga sistem 2 dapat menciptakan presedensi di atas sistem 1 untuk memerintahkan sistem pusat mengganti output sistem 1 pada bagian pengeluaran respon.

Tabel 2.5. Pembagian Sistem dan Karakteristik Pada Teori Pemrosesan Ganda

Properti Sistem 1 Sistem 2

Karakteristik Pemrosesan Kognitif

Cepat, paralel, otomatis, tanpa sadar, diluar kehendak, tidak

fleksibel

Lambat, harus satu persatu secara berurutan (seri), sadar,

dalam kehendak, fleksibel

Konsumsi sumber daya kognitif

Relatif sedikit Relatif banyak dibandingkan sistem 1

Terbentuknya Awal kehidupan seseorang

Terbentuk secara bertahap dan lebih terlambat dibanding

sistem 1

Konteks Sangat sensitif dengan konteks Dapat memproses informasi diluar konteksnya

Pengeluaran (output) Tipikal (stereotypical)

Dapat mengesampingkan (override) pengeluaran sistem 1 dengan mengganti outputnya

2.1.3.2. Teori Pengkodean Ganda (Dual Coding Theory)

Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan

(17)

informasi yang independen yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memproses informasi yang masuk (p. 174-175). Kognisi menurut teori pengkodean ganda ini melibatkan aktivitas dari dua sub-sistem yang berbeda, seperti terlihat dalam gambar 2.2. yaitu sistem verbal yang khusus menangani bahasa dan sistem non-verbal yang khusus menangani obyek dan kejadian non-non-verbal (Paivio, 2006, p. 3).

Asusmi dasar dari teori pengkodean ganda adalah semua representasi kognisi mempunyai sejumlah kualitas dari pengalaman eksternal asalnya, baik pengalaman linguistik maupun non-linguistik. Perbedaan karakteristik ini yang kemudian membentuk dua sistem mental, atau kode, dimana yang satu dikhususkan untuk mewakili dan mengolah bahasa (kode verbal dan yang lain untuk memproses obyek dan kejadian non-linguistik (kode non-verbal). Sistem yang terakhir ini sering disebut juga sistem atau kode visual karena fungsinya menghasilkan, menganalisa dan mengubah kognisi visual. Setiap kode memiliki karakteristik dan pengorganisasian secara hirarki dimana gabungan keduanya merupakan gabungan antara bahasa dan pengetahuan di dunia. Kedua kode mental dan kelima indera bersifat ortogonal di teori pengkodean ganda, artinya keduanya masing-masing memiliki bagian dari representasi kognisi yang berbeda secara kualitatif yang disebabkan oleh pengalaman inderawi asal sensasinya yang berbeda. Karena sistem-sistem inderawi berhubungan dengan sistem-sistem respon motorik dalam persepsinya, bagian-bagian kognitif ini memiliki kualitas inderawi-motorik. Seseorang memiliki representasi visual dalam pikirannya untuk kode verbal seperti huruf, kata atau kalimat. Namun, orang yang sama juga memiliki representasi visual dari kode visual (verbal) dari bentuk non-linguistik karena orang tersebut pernah melihat secara visual dengan indera visual (mata) obyek atau kejadian tersebut. Representasi aural (auditory) juga dapat memiliki kedua kualitas kode tersebut, misalnya stimulus suara berupa gonggongan anjing. Kode verbal yang ditangani oleh sistem pengkodean pertama mengasosiasikan suara gonggongan anjingnya, sedangkan kode non-verbalnya berupa representasi visual di pikiran anjing yang sedang membuka mulutnya.

(18)

Banyak stimulus yang secara literal tidak dapat digolongkan verbal maupun visual misalnya bau, rasa dan perasaan emosional. Pengalaman-pengalaman tersebut termasuk non-verbal namun tidak dapat digolongkan visual tapi kita memiliki representasi verbal ataupun visual untuk menggambarkannya di pikiran kita, contohnya perasaan marah, kita memiliki deskripsi verbal berupa kata-kata yang disusun huruf ‘m – a – r – a – h’ dan visualisasi berupa wajah orang tertentu yang sedang marah yang sedang ataupun pernah dilihat sebelumnya.

Tabel 2.6. Hubungan Ortogonal Antara Kode Kognitif dan Modalitas Inderawi

Kode Kognitif Modalitas Inderawi

Verbal Non-Verbal

Visual Bahasa visual (tulisan) Obyek Visual

Aural Bahasa aural (perkataan) Suara-suara lingkungan

Raba (haptic) Braile, tulisan tangan Rasa yang ditimbulkan ketika meraba obyek

Rasa (Gustatory) - Ingatan tentang rasa tertentu

Bau (Olfactory) - Ingatan tentang bau

Sumber: diterjemahkan dari Sadoski & Paivio (2004, p. 5)

Interpretasi sistem pengkodean ganda memerlukan pengertian kode dan mode seperti dijelaskan sebelumnya. Sistemnya secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai suatu set sub-sistem modalitas dan kode yang terjalin dalam suatu hubungan. Kedua sub-sistem ini berdiri independen dan terkhususkan pada area otak tertentu. Fakta bahwa seseorang dengan kelainan dislexia tidak dapat membaca kata ‘gitar’ tapi dapat mengenali kata tersebut bila diucapkan secara aural ataupun dituliskan, adalah bukti dari independensi dan representasi modalitas yang spesifik dalam kode verbal itu sendiri. Sedangkan fakta bahwa seseorang dengan kelainan anomia dapat mengenali sebuah gitar namun tidak dapat menamainya membuktikan adanya independensi antara kode non-verbal dan kode verbal.

(19)

2.1.3.2.1. Unit Dasar dalam Sistem Pengkodean Ganda

Pembedaan antara kode kognitif dan modalitas indera bukan berarti bahwa karakteristik teori pengkodean ganda adalah hanya tentang kode verbal dan visual saja. Perbedaan yang benar adalah antara kode verbal dan non-verbal, dan juga antara modalitas non-verbal dan modalitas indera lainnya. Manifestasi umum dari ciri standarisasi unit dari sub-sistem representatif dalam sistem pengkodean ganda dapat dilihat dari fenomena gangguan modalitas spesifik, contohnya secara aural mendengarkan dua percakapan sekaligus sangatlah sukar. Secara visual misalnya sukar untuk mengolah suatu tulisan dan memvisualisasikan kandungan semantiknya dalam waktu yang bersamaan, apalagi untuk pembaca yang tidak berpengalaman. Kesulitan itu akan menyebabkan kecepatan membaca menurun atau jumlah salah mengartikan bacaan meningkat.

Dalam paragraf sebelumnya telah dijelaskan mengenai manifestasi umum yang menunjukkan adanya standarisasi unit dalam sistem pengkodean ganda. Teori-teori kognitif secara umum selalu mengalokasikan unit sebagai blok penyusun dari kognisi. Unit dasar untuk sistem verbal adalah logogen, dan unit dasar untuk sistem non-verbal adalah imagen. Istilah ini hanyalah merupakan sistem penamaan saja untuk mewakili jenis yang berbeda dari informasi dan proses pengkodean ganda mengasumsikan bahwa mereka konkret dan bukan abstrak bukannya mengimplikasikan bahwa mereka merupakan satuan unit yang statis. Karakter tidak statis ini perlu diketahui karena walaupun representasi memori memiliki beberapa karakter permanen, namun mereka lebih baik diasumsikan sebagai sesuatu yang berevolusi dan fleksibel, sama seperti bagaimana pengetahuan tentang perbendaharaan kata yang secara konsisten selalu diperkaya dengan mengalami kata-kata dalam konteks-konteks yang berbeda atau bagiamana visualisasi suatu gambar merupakan susunan dari elemen-elemen yang sudah pernah diketahui sebelumnya dan bukan lagi merupakan sebuah unsur baru sama sekali.

Logogen adalah segala sesuatu yang dipelajari sebagai unit sebuah bahasa dalam penginderaan beberapa modalitas. Unit dalam bahasa sangat bervariasi dalam ukuran walaupun beberapa lebih sering terdengar dari lainnya, seperti

(20)

‘kata’. Manusia telah membuat dan memiliki visualisasi logogen untuk huruf, kata-kata yang tertulis, kalimat; logogen aural untuk fonem, kata dan pengucapan frase; logogen yang bersifat dapat diraba (haptic) untuk pengucapan, penulisan ataupun penandaan unit-unit bahasa tersebut. Menurut Liberman & Mattingly (1985), dalam percakapan, logogen fonemis dapat direpresentasikan sebagai artikulasi fisik dari organ suara ataupun suara yang terdengar (dalam Sadoski & Paivio, 2004, p. 7).

Imagen bersifat spesifik secara modalitas dan juga sangat bervariasi dalam ukuran dan cenderung dipersepsikan sebagai suatu set yang tersusun rapi. Artinya adalah gambaran secara mental seringkali diletakkan didalam gambaran mental yang lebih besar. Semntara imagen tetap bersifat spesifik secara modalitas,

imagen tetap dapat diasosiasikan kedalam struktur mental yang lebih besar yang merefleksikan sifat multi-inderawi dari realitas fisik.

Kedua jenis representasi, baik logogen maupun imagen dapat diaktifkan dengan berbagai cara. Logogen dapat diaktifkan secara langsung melalui input inderawi langsung seperti melihat bahasa yang tertulis, demikian juga halnya dengan imagen yang dapat diaktifkan secara langsung dengan melihat obyek-obyek yang pernah dikenali sebelumnya. Secara tidak langsung, representasi mental keduanya juga dapat diaktifkan seperti waktu seseorang secara spontan membentuk gambar atau kata-kata atau menamai obyek-obyek. Konteks internal maupun eksternal juga dapat mempengaruhi dengan kuat bahasa ataupun gambar. Melihat sebuah kata ‘gitar’ misalnya dapat secara tidak langsung mengaktifkan

logogen yang terasosiasi dengan gitar secara internal seperti senar, lubang hawa, ruas gitar dan sebagainya. Konteks eksternal dapat menjadi batas dari kumpulan

imagen yang relevan saja. Sehingga, input-input dapat mengaktifkan representasi mental (logogen maupun imagen) baik dari atas ke bawah maupun bawah keatas. Intensitas pengaktifan tergantung dari kekuatan input atau seberapa cepat sebuah representasi diaktifkan. Keunikan proses pengkodean ganda adalah pada penekanannya pada sifat modalitas yang spesifik, perbedaan verbal dan non-verbal dari representasi mentalnya.

(21)

Gambar 2.8. Model pengkodean ganda Sumber: Sadoski & Paivio (2004, p. 15)

2.1.3.2.2. Model SOI (Selection, Organization, Integration)

Seperti telah dipaparkan sebelumnya secara visual, informasi pembelajaran dipresentasikan dalam bentuk gambar dan teks yang akan tersimpan dalam memori kerja visual sedangkan informasi aural pembelajaran dipresentasikan dalam bentuk percakapan lisan yang akan tersimpan dalam memori kerja aural. Berikut ini dipaparkan ketiga proses kognitif yang terjadi dalam proses pembelajaran dengan model SOI yaitu pemilihan (selection), pengorganisasian (organization), dan Penggabungan (integration).

Gambar 2.9. Model SOI Mayer (1999) Sumber: Adaptasi Keller & Li (2007, p. 53)

(22)

Tahapan pemilihan (selecting) ini merupakan proses pertama yang mutlak bagi proses-proses selanjutnya. Apabila kata-kata dan gambar dipresentasikan pada seseorang dalam sebuah informasi pembelajaran, maka informasi tersebut akan direpresentasikan secara ringkas dalam memori-memori sensori (Keller & Li, 2007). Oleh karena keterbatasan kapasitas sistem pemerosesan informasi manusia, hanya beberapa representasi saja yang dapat disimpan untuk pemerosesan lebih lanjut dalam memori kerja sehingga proses seleksi terjadi untuk memilih informasi yang relevan untuk disimpan dalam memori kerja.

Pengorganisasian informasi yang terseleksi adalah proses kedua yang melibatkan pengorganisasian representasi aural terpilih ke dalam representasi verbal yang koheren dan pengorganisasian kesan terpilih ke dalam representasi gambar yang koheren, membangun hubungan aksi-reaksi (Keller & Li, 2007). Aktivitas-aktivitas ini berlangsung dalam memori kerja dalam kapasitas proporsional dan hasil proses ini adalah konstruksi representasi gambar (model gambar secara mental) dan verbal (model verbal secara mental) yang koheren.

Pengintegrasian informasi yang terorganisasi adalah proses ketiga dimana hubungan-hubungan dibuat antara unsur-unsur yang berkesesuaian dari representasi gambar dan verbal yang mereka telah dikonstruksi menggunakan pengetahuan awal sebagai spring board. Hasilnya adalah konstruksi model mental sebagai hasil integrasi visual dan verbal (Keller & Li, 2007) antara informasi terseleksi dan terorganisasi dengan pengetahuan awal yang dimiliki.

2.1.3.2.3. Pengorganisasian Unit dan Sistem Tingkatan

Logogen dan pengorganisasian sistem verbal mempunyai ciri khas dibatasi oleh sebuah susunan sekuen dimana semua satuan digabungkan dalam suatu sekuen konvensional dengan tingkatan-tingkatan tertentu. Hirarki dalam sistem verbal ini menyebabkan satuan yang lebih kecil dapat disintesiskan pada satuan yang lebih besar, misalnya huruf dapat disintesiskan menjadi kata, demikian juga sebaliknya. Namun, satuan-satuan tersebut pada tingkatannya masing-masing memiliki tingkat independensi juga dimana misalnya kata yang terucap dapat dikenali tanpa harus menganalisa struktur fonemnya satu persatu. Dasar penyusunan pengorganisasian ini merupakan ciri sekuen temporal dari perkataan

(23)

atau ciri linear dari tulisan yang seorang alami dalam pengalamannya dengan bahasa, contohnya adalah lebih mudah untuk mengeja kata yang panjang dari arah kiri ke kanan daripada kanan ke kiri karena logogen ini dibatasi oleh pengalaman konvensional kiri ke kanan (prinsip ini terbalik bagi bahasa yang dibaca dan ditulis dari arah kanan ke kiri).

Pengorganisasian hirarki dari sistem nonverbal berbeda secara kualitatif.

Imagen direpresentasikan dan diatur secara berkelanjutan, lebih integratif dan tidak dapat dipisahkan dengan mudah menjadi elemen-elemen berbeda seperti fonem, huruf maupun kata. Dasar penyusunan sistem ini mempunyai karakteristik yang lebih holistik dari persepsi non-verbal yang merupakan sekelompok kecil satuan-satuan yang tersedia secara simultan dalam arti yang berbeda. Contohnya adalah melihat sebuah kata ‘gitar’ misalnya kita dapat mensintesis sebuah gambaran dari satuan yang lebih kecil (senar, lubang hawa, ruas gitar misalnya) pada satuan yang lebih besar dan tersusun (seperti orang yang sedang memegang dan bermain gitar di sebuah ruangan musik). Itu sebabnya, baik sistem verbal maupun non-verbal memiliki satuan modalitas spesifik dengan ukuran-ukuran berbeda yang terorganisasi secara hirarkis, namun satuan-satuan tersebut dan hirarkinya berbeda secara kualitatif. Logogen dan hirarki verbal dibatasi dengan ketat oleh sekuen, sementara imagen dan hirarki non-verbal lebih bersifat holistik dan simultan.

2.1.3.3. Teori Muatan Kognitif (Cognitive Load Theory)

Asumsi Dasar dari teori muatan kognitif adalah bahwa manusia memiliki kapasitas pemrosesan yang terbatas sehingga perlu adanya alokasi sumber daya kognitif. Pengalokasian sumber daya kognitif pada aktivitas yang tidak berhubungan dengan skema konstruksi dan otomatisasi akan menghambat proses pembelajaran seseorang. Menurut Sweller (1988;1994) teori muatan kognitif memfokuskan pada bagaimana batasan pada memori kerja manusia membantu menentukan instruksi yang efektif (dalam Toh, 2005, p. 107). Teori ini mendeskripsikan struktur pembelajaran dalam kaitannya dengan sistem pemrosesan informasi yang melibatkan memori jangka panjang yang menyimpan semua pengetahuan dan kemampuan manusia secara kurang lebih permanen, dan

(24)

memori kerja yang menangani tugas-tugas intelektual secara sadar. Informasi hanya dapat disimpan dalam memori jangka panjang apabila telah diolah sebelumnya oleh memori jangka pendek.

2.1.3.3.1. Memori Kerja dalam Teori Muatan Kognitif

Istilah memori jangka pendek saat ini lebih sering disebut memori kerja. Hal ini juga disebabkan perubahan dalam penekanan dari wadah penyimpanan pada fungsinya sebagai mesin pemroses sistem kognitif. Memori kerja dapat disamakan dengan kesadaran dalam hal karakteristik dari kehidupan kesadaran mansuia adalah karakteristik memori kerjanya. Menurut Toh (2005), karakter memori kerja yang paling sering diungkapkan adalah sangat terbatasnya kapasitas kerjanya (Miller, 1956), dan sangat terbatasnya durasinya (Peterson & Peterson, 1959), namun batasan ini hanya berlaku bagi pada informasi baru yang harus diolah dengan cara yang baru. Materi yang telah dipelajari dengan seksama sebelumnya dan disimpan dalam memori jangka panjang tidak akan terpengaruh oleh batasan ini waktu dibawa ke memori kerja (Ericsson & Kintsch, 1995). Baddeley (1992) berpendapat bahwa walaupun memori kerja pada mulanya diidealkan sebagai konsep satuan, sekarang lebih umum diasumsikan sebagai konsep yang memiliki banyak aliran, saluran atau tempat pemrosesan, yang kemudian membagi memori dalam ‘kertas buram’ visuo-spatial (berhubungan dengan ruang secara visual) untuk menangani diagram 2 dimensi, informasi 3 dimensi, putaran fonologis untuk menangani informasi verbal dan eksekutif pusat sebagai prosesor koordinator (dalam Toh, 2005, p. 107). Model Baddeley ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.

(25)

Gambar 2.10. Model memori kerja Baddeley (2000) Sumber: diterjemahkan dari Toh (2005, p. 108)

Konsekuensi utama dari keterbatasan memori jangka panjang adalah sewaktu dihadapkan dengan materi dengan elemen interaktif tinggi yang baru otak tidak dapat memproses dan gagal untuk mengerti materi baru yang sangat rumit. Pendapat Sweller (1998) mengenai implikasi dari model pemrosesan ganda tentang kapasitas memori kerja yang terbatas melahirkan sebuah teori efek modalitas (Mousavi, Low, & Sweller, 1995) yaitu diperluasnya kapasitas tersebut dengan memanfaatkan kedua jalur visual dan aural daripada memprosesnya dalam salah satu saluran saja (dalam Artino, 2008).

2.1.3.3.2. Memori Jangka Panjang, Konstruksi dan Otomatisasi Skema Kapasitas memori jangka panjang relatif tidak terbatas dibandingkan dengan memori kerja . Menurut Van Meerienboer dan Ayres (2005) informasi yang disimpan didalam memori jangka panjang diorganisasi dan disimpan dalam bentuk struktur-struktur pengetahuan yang bersifat spesifik terhadap daerah penyimpanan dan dinamakan skema (atau skemata menurut Piaget), dimana menurut Sweller (1998) skema-skema mengkategorikan elemen-elemen informasi sesuai dengan bagaimana mereka akan digunakan, sehingga memfasilitasi kemudahan akses skema sewaktu dibutuhkan untuk tugas yang relevan (dalam

(26)

Artino, 2008). Artinya kemampuan manusia berasal dari pengetahuan yang tersimpan dalam skemata bukan berasal dari kemampuan untuk menangani logika banyak elemen yang belum pernah diorganisasikan sebelumnya dalam memori jangka panjang.

Hubungan antara memori kerja dan skema-skema yang tersimpan di memori jangka panjang lebih penting daripada keterbatasan pemrosesan di memori kerja karena skema-skema lebih dari sekedar mengorganisasikan dan menyimpan informasi, skema juga dapat memperbesar kapasitas memori kerja. Menurut Sweller (1998) walaupun memori kerja hanya mampu menampung jumlah informasi yang terbatas pada waktu yang bersamaan namun ukuran dan kompleksitas informasi elemen-elemen didalamnya dapat menjadi tidak terbatas karena skema-skema dengan kompleksitas yang tinggi dapat mengandung suatu susunan elemen-elemen internal yang besar dan diperlakukan oleh memori kerja sebagai satu kesatuan (entity), sehingga seseorang yang menangani sesuatu yang telah disimpan materi-materi yang pernah disimpan sebelumnya dalam memori jangka panjangnya, dapat mengatasi keterbatasan kapasitas pemrosesan memori kerja yang hanya berlaku bagi materi-materi baru yang tidak memiliki asosiasi dengan skema-skema dalam memori jangka panjangnya (dalam Artino, 2008). Artinya skema/skemata selain berfungsi sebagai tempat mengorganisasi dan menyimpan informasi dalam memori jangka panjang juga dapat menjadi alat bantu untuk ‘memperluas’ kapasitas memori kerja.

Salah satu komponen dalam konstruksi skema yang penting adalah mungkinnya terjadi otomatisasi yaitu sewaktu informasi yang tersimpan di skema-skema dapat diproses secara otomatis tanpa usaha yang dilakukan secara sadar sehingga dapat membebaskan sumber daya memori kerja. Skema-skema dapat dipanggil keluar secara otomatis setelah latihan yang ekstensif dan skema-skema yang ada memiliki kecenderungan otomatisasi yang bervariasi seperti pendapat Sweleer (1998) yaitu, “dengan otomatisasi, tugas-tugas yang tidak asing dapat dilakukan dengan akurat dan lancar sedangkan tugas-tugas yang baru yang sebagian membutuhkan proses otomatisasi dapat dipelajari dengan efisiensi maksimum oleh karena kapasitas memori kerja yang tersedia” (dalam Artino, 2008, p. 428). Sebaliknya tanpa otomatisasi skema tugas yang tidak asing lagi

(27)

memerlukan proses yang lebih perlahan dan sesuai dengan teori muatan kognitif tugas-tugas baru tidak mungkin dilakukan apabila kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas tersebut tidak ada dalam skema ataupun tidak mengalami otomatisasi, karena tidak cukupnya kapasitas memori untuk belajar.

2.1.3.3.3. Jenis-jenis Muatan Kognitif

Walaupun skema-skema disimpan dalam memori jangka panjang, konstruksi skema terjadi dalam memori kerja sehingga ketika mempelajari materi yang baru seseorang harus memproses informasi-informasi dalam memori kerja terlebih dahulu sebelum dapat disimpan dalam memori jangka panjang. Derajat kemudahan informasi dapat diproses di memori kerja, atau muatan kognitif yang dapat dipakai dalam memori kerja, dibagi menjadi 3 jenis menurut Sweller (1998) dalam Artino (2008) yaitu a) muatan kognitif hakiki (intrinsic cognitive load), b) muatan kognitif berhubungan erat (germane cognitive load), dan c) muatan kognitif asing (extraneous cognitive load).

Muatan kognitif hakiki berhubungan dengan derajat kerumitan materi yang akan dipelajari yaitu jumlah elemen yang harus diproses secara simultan dalam memori kerja untuk mengkonstruksi skema atau biasa disebut elemen interaktif. Elemen interaktif tergantung dari dari kerumitan materi yang akan dipelajari dan pengetahuan yang dimiliki sebelum mempelajari materi tersebut (ketersediaan skema dan otomatisasi). Seperti pendapat Sweller (1998), “Muatan kognitif hakiki melalui elemen interaktif ditentukan oleh interaksi antara karakteristik materi yang akan dipelajari dan kemahiran manusianya” (dalam Artino, 2008, p. 429). Pengetahuan sebelum mempelajari materi diperhitungkan karena besarnya informasi yang dapat ditangani seseorang tanpa melebihi kapasitas memori kerjanya tergantung pada jumlah pengetahuan yang telah ia miliki, misalnya sebuah tugas dapat menjadi sesuatu yang rumit bagi pemula namun sangat mudah bagi serorng yang mahir.

Muatan kognitif berhubungan erat, atau seringkali disebut muatan kognitif efektif, berhubungan dengan permintaan di memori kerja yang dilakukan oleh aktivitas mental yang mempunyai kontribusi langsung pada pembelajaran, yaitu hasil dari proses kognitif yang menguntungkan seperti abstraksi dan elaborasi

(28)

yang didukung oleh presentasi instruktif. Aktivitas-aktivitas yang jelas dengan sendirinya dapat menjadi muatan kognitif efektif seperti mencoba menemukan prinsip wewenang yang mendasari langkah solusi tertentu. Pada waktu muatan kognitif hakiki menyisakan sumber daya memori kerja yang cukup, seseorang dapat menaruh usaha ekstra untuk proses yang secara langsung relevan pada pembelajaran seperti konstruksi skemata. Proses ini sendiri dapat meningkatkan muatan kognitif namun muatan kognitif efektif dapat menguntungkan dalam proses pembelajaran.

Muatan kognitif asing, atau sering juga disebut muatan kognitif tidak efektif, berhubungan dengan aktivitas mental selama pembelajaran yang tidak mengkontribusi langsung pada proses pembelajaran, atau sebagai hasil dari instruksi yang mengakibatkan seseorang untuk memakai kapasitas memori kerjanya dengan proses yang tidak berhubungan langsung dengan konstruksi skema atau otomatisasi. Mirip dengan muatan kognitif efektif, muatan kognitif asing tergantung dari tujuan tugas pembelajaran. Misalnya pada saat skemata pemecahan masalah seharusnya diperlukan, muatan kognitif asing dapat terbebankan apabila materi instruktif mengandung teks atau grafik yang sukar untuk mendukung satu sama lain. Seseorang dapat mencoba untuk membangun koherensi antara sumber-sumber informasi yang tidak saling mendukung itu, namun hasilnya adalah sedikit atau bahkan tidak ada lagi kapasitas kognitif yang tersisa untuk muatan efektif, khususnya apabila terbebani pula muatan hakiki yang cukup berat dari materi pembelajaran itu sendiri.

Gambar 2.11. Muatan kognitif hakiki dan muatan asing

2.1.3.3.4. Efek Teori Muatan Kognitif

Teori muatan kognitif memberikan sebuah gagasan bahwa dampak-dampak materi pembelajaran dan instruksi pada pemrosesan kognitif sangat perlu diperhatikan. Dalam mendesain sebuah materi dan aktivitas pembelajaran,

(29)

intruktor perlu untuk mempertimbangkan muatan mental yang disebabkan oleh materi (muatan hakiki), sumber daya memori kerja yang diperlukan dalam mempelajari sebuah materi atau melakukan aktivitas pembelajaran (muatan kognitif berhubungan erat) dan pemrosesan kognitif yang dibebankan oleh aktivitas-aktivitas yang tidak berhubungan dengan pembelajaran (muatan asing). Toh (2005) menyarankan, berdasarkan perkembangan terakhir dari teori muatan kognitif, 10 prinsip-prinsip aplikasi efek-efek muatan kognitif, yaitu:

a) Efek Contoh Kerja

Memori kerja memiliki kapasitas terbatas yang menjadi tidak efektif bahkan ketika hanya menampung sedikit elemen saja. Bila sumber daya kognitif dapat digunakan untuk mempelajari contoh untuk membangun pengetahuan darinya terlebih dahulu maka usaha akibat menghadapi masalah yang baru dapat dikurangi. Efek contoh kerja sangatlah efisien untuk pembelajaran tugas yang baru karena dapat mengurangi muatan di memori kerja dengan cara memberikan pelajar pengetahuan terlebih dahulu bagaimana langkah menyelesaikan masalahnya.

b) Efek Penyelesaian Masalah

Efek penyelesaian masalah mirip dengan efek penyelesaian masalah hanya saja bukan dengan cara memberikan contoh kerja melainkan dengan memberikan sebagian penyelesaian masalah yang ada, sehingga pelajar hanya perlu untuk menyelesaikan jawaban yang kurang. Menurut Pass & Morrienboer (1994) cara ini efektif untuk mengurangi muatan asing dengan cara mengurangi pengeluaran acak cara untuk menyelesaikan masalah dalam memori kerja (dalam Toh, 2005).

c) Efek Perhatian yang Terpecah

Banyak materi instruktif memiliki informasi dalam bentuk komponen gambar maupun teks dalam satu presentasi. Seringkali teks dan gambar diletakkan di tempat yang berbeda sehingga perhatian seseorang dapat terpecah untuk mengolah masing-masing elemen sendiri-sendiri terlebih dahulu. Efek perhatian yang terpecah ini dapat dikurangi dengan mengintegrasikan elemen teks dan gambar secara fisik menjadi satu kesatuan sehingga perhatian tidak perlu terpecah menjadi dua.

(30)

d) Efek Modalitas

Efek modalitas ini didasarkan dengan teori pengkodean ganda dimana informasi diproses dalam dua kateogri yaitu visual dan aural. Dari teori ini dapat disimpulkan bahwa dua elemen yang mempunyai modalitas yang sama seperti gambar dan teks (sama-sama modalitas visual) dapat menyebabkan muatan asing dalam jalur pemrosesan visual. Efek modalitas ini dilakukan dengan cara mengubah instruksi teks menjadi informasi aural apabila tugas tersebut menuntut teks dan gambar untuk diproses secara simultan.

e) Efek Berlebihan (Redundansi)

Efek berlebihan adalah dengan mengurangi elemen yang tidak perlu yang dapat menyebabkan penggunaan memori kerja yang tidak efisien. Menurut Craig, Gholson, & Driscoll (2002) teks visual dan aural yang berlebihan ditemukan tidak efektif dibandingkan dengan informasi aural saja (dalam Toh, 2005, p. 112).

f) Efek Imajinasi

Bagi pelajar yang sudah berpengalaman, yang telah memiliki konstruksi skema yang relevan dengan materi yang akan diolah informasinya, mengimajinasikan isi dari instruksi dapat membantu meningkatkan efektivitas pemrosesan informasi di memori kerja. Pengimajinasian efektif bagi seseorang yang telah memiliki pengetahuan lanjut mengenai materi yang akan diolah informasinya. Pengimajinasian ini dilakukan dengan mengandalkan skema-skema yang telah ada dalam memori jangka panjang. Mengimajinasikan dapat mengurangi muatan asing dengan cara meningkatkan besarnya otomatisasi dengan skema yang relevan.

g) Efek Interaksi Elemen-elemen Terisolasi

Dalam memproses sebuah materi yang kompleks akan sangat memudahkan apabila elemen-elemen dapat dipisahkan untuk dipelajari terlebih dahulu (diisolasi dulu), baru kemudian dilanjutkan dengan materi secara keseluruhan. Efek ini dapat mengurangi muatan asing dengan cara menciptakan pemrosesan terpisah beberapa elemen terlebih dahulu dalam tingkatan elemen yang lebih tinggi dalam memori jangka panjang (konstruksi skema).

(31)

Efek pembalikan/kebalikan keahlian ini didasari oleh sebuah pengertian bahwa sebuah informasi yang menguntungkan bagi pelajar tingkat awal (novices) menjadi muatan asing bagi pelajar tingkat lanjut yang telah memiliki pengetahuan mengenai informasi yang dipaparkan. Efek ini dilakukan untuk mengurangi muatan asing akibat efek positif bagi pelajar pemula yang berbalik menjadi efek negatif bagi pelajar lanjutan, dengan cara membuat aplikasi instruktif yang sederhana bagi pelajar tingkat lanjut dengan mengeliminasi petunjuk-petunjuk yang telah dipahami mereka.

i) Efek Petunjuk/Tuntunan yang Pudar

Sama dengan masalah yang disajikan dalam efek kebalikan keahlian, efek petunjuk yang pudar mengeliminasi muatan asing bagi pelajar tingkat lanjut dengan cara mengurangi secara bertahap aplikasi instruktif langsung seiring dengan peningkatan tingkat pemahaman seseorang. Perbedaannya dengan efek kebalikan keahlian adalah cara mengurangi muatan asing, akibat efek positif bagi pelajar pemula yang berbalik menjadi efek negatif bagi pelajar lanjutan, secara bertahap

j) Efek Bebas Tujuan

Efek ini dilakukan dengan mengganti masalah konvensional dengan masalah tanpa tujuan yang menyediakan pembelajar dengan tujuan yang tidak spesifik. Karena dengan membuat suatu masalah bebas dari tujuan, seseorang yang akan memecahkan masalah memiliki sedikit pilihan dan hanya dapat memfokuskan pada informasi yang disediakan dan menggunakannya dengan segala daya upaya. Secara otomatis, hal ini memicu jalan mencari solusi kearah depan yang mirip dengan cara penyelesaian masalah pemecah masalah yang telah mahir. Efek ini dapat mengurangi muatan asing yang disebabkan oleh penghubungan masalah yang ada dengan tujuan yang ingin dicapai serta mencoba untuk mengurangi perbedaan diantara keduanya.

(32)

Gambar 2.12. Sepuluh efek muatan kognitif Sumber: diterjemahkan dari Toh (2005, p. 111)

Berikut ini adalah tabel yang diadaptasi dari Artino (2008) berdasarkan pendapat Sweller et al. (1998) yang memberikan informasi tentang beberapa efek teori muatan kognitif, deksripsi instruktif, serta cara untuk mengurangi muatan asing pada memori kerja, dengan penambahan informasi dari Toh (2005):

Tabel 2.7. Beberapa Efek Muatan Kognitif dan Bagaimana Mereka Dapat Mengurangi Muatan Asing

No Efek Teori Muatan Kognitif

Deskripsi Instruktif Muatan Asing

1 Efek Contoh Kerja

Mengganti masalah

konvensional dengan contoh kerja yang harus dipelajari baik-baik

Mengurangi muatan asing yang disebabkan oleh pemecahan masalah dengan metode yang lemah

2 Efek Penyelesaian Masalah

Mengganti masalah

konvensional dengan masalah yang harus diselesaikan dengan menyediakan jawaban sebagian yang harus

diselesaikan

Mengurangi muatan asing karena memberikan sebagian dari jawaban mengurangi ukuran dari ruang masalah

(33)

Tabel 2.3. Beberapa Efek Muatan Kognitif dan Bagaimana Mereka Dapat Mengurangi Muatan Asing (sambungan)

3 Efek Perhatian yang Terpecah

Mengganti berbagai sumber informasi (gambar yang terpisah dan teks misalnya) dengan sumber informasi tunggal yang terintegrasi

Mengurangi muatan asing karena tidak perlu lagi mengintegrasi sumber informasi secara mental

4 Efek Modalitas

Mengganti teks penjelasan tertulis dan sumber informasi visual lain (misalnya

diagram) dengan teks penjelasan lisan dan sebuah sumber informasi visual (gunakan modalitas yang berbeda)

Mengurangi muatan asing karena presentasi multi-modalitas menggunakan kedua prosesor memori kerja baik visual maupun aural

5 Efek Berlebihan (Redundansi)

Mengganti beberapa sumber informasi yang dapat

dimengerti dengan sendirinya dengan sebuah sumber informasi saja

Mengurangi muatan asing akibat pemrosesan yang tidak perlu dari informasi yang berlebihan

6 Efek Imajinasi

Bagi pelajar yang sudah berpengalaman (telah memiliki skema yang relevan), dengan

mengimajinasikan isi dari instruksi

Mengimajinasikan dapat mengurangi muatan asing dengan cara meningkatkan besarnya otomatisasi dengan skema yang relevan

7 Efek Interaksi Elemen-elemen Terisolasi

Memisahkan secara paralel elemen-elemen yang kompleks untuk dipelajari terlebih dahulu (diisolasi) sebagai satu kesatuan, baru dilanjutkan dengan materi secara keseluruhan

Mengurangi muatan asing dengan cara menciptakan pemrosesan terpisah beberapa elemen terlebih dahulu dalam tingkatan elemen yang lebih tinggi

8 Efek Pembalikan Keahlian

Membuat aplikasi instruktif yang sederhana bagi pelajar tingkat lanjut dengan mengurangi petunjuk yang telah dipahami.

Mengurangi muatan asing akibat efek positif bagi pelajar pemula yang berbalik menjadi efek negatif bagi pelajar lanjutan

(34)

Tabel 2.3. Beberapa Efek Muatan Kognitif dan Bagaimana Mereka Dapat Mengurangi Muatan Asing (sambungan)

9 Efek Tuntunan/Petunjuk yang Pudar

Mengurangi secara bertahap aplikasi instruktif langsung seiring dengan peningkatan tingkat pemahaman seseorang.

Mengurangi muatan asing akibat efek positif bagi pelajar pemula yang berbalik menjadi efek negatif bagi pelajar lanjutan secara bertahap

10 Efek Bebas Tujuan

Ganti masalah konvensional dengan masalah tanpa tujuan yang menyediakan

pembelajar dengan tujuan yang tidak spesifik

Mengurangi muatan asing yang disebabkan oleh penghubungan masalah yang ada dengan tujuan yang ingin dicapai serta mencoba untuk

mengurangi perbedaan diantaranya

Sumber: adaptasi dari Artino (2008) dan Toh (2005)

2.1.3.4. Fenomena Synaesthesia

Fenomena synaesthesia (atau synesthesia) dilaporkan ditemukan pertama kali oleh Francis Galton pada tahun 1880 yang mengamati bahwa dalam sebuah populasi terdapat sejumlah orang yang walaupun kelihatannya normal namun memiliki keunikan dalam proses penerimaan informasi inderawi dalam otak mereka (Ramachandran & Hubbard, 2003). Keunikan tersebut adalah karena sejumlah orang tersebut mengalami sensasi-sensasi dalam sejumlah modalitas ketika menerima rangsangan sebuah modalitas. Istilah ‘keunikan’ dipilih, bukannya kelainan karena synesthesia bukanlah sesuatu yang negatif, tergantung respon masing-masing individu. Individu yang memiliki keunikan persepsi modal silang otomatis synesthesia dinamakan “synesthetes” (Cytowic & Ward, 2006, p. 371). Bagi seorang synesthetes, suara dapat menimbulkan informasi warna atau gambar terproses dalam otak kerja, rasa dapat menyebabkan sensasi raba, atau informasi verbal dapat menyebabkan persepsi warna tertentu. Walaupun

Synesthesia dapat merupakan kombinasi dari kelima indera, namun kasus yang paling umum terjadi adalah kombinasi penglihatan dan pendengaran, serta secara dominan ditemukan pada wanita (Cytowic, 1989).

(35)

Semua fenomena yang mungkin pada seorang dengan kelainan synesthesia

terjadi diluar area kontrol secara sadar. Cytowic (1989, par. 3) berpendapat bahwa terdapat bukti-bukti yang kuat bahwa synesthesia bersifat perseptif dan terjadi pada otak bukan hanya pada pikiran seperti yang terjadi pada imaginasi. Percobaan yang dilakukan oleh Ramachandran dan Hubbard (2001) dalam lingkup laboratorium membuktikan bahwa synesthesia adalah sebuah fenomena inderawi murni, artinya subyek yang memiliki keunikan ini tidak hanya membayangkan warna saja ataupun asosiasi memori saja (dalam Ramachandran & Hubbard, 2003). Percobaan tersebut dilakukan dengan meletakkan banyak tulisan angka 2 dengan pola segitiga di sebuah kertas yang memuat angka 5 yang diletakkan secara acak, subyek normal membutuhkan waktu yang lama untuk mengenali pola yang dibentuk oleh susunan angka dua tersebut, namun subyek dengan kelainan synesthesia dapat secara instan mengenalinya sebagai bentuk segitiga karena mereka melihat bentuk global pola letak angka dua sebagai sebuah segitiga warna merah yang diletakkan pada background angka 5 dengan warna hijau (Ramachandran & Hubbard, 2003). Fenomena ini lebih umum dari yang diperkirakan semula hanya terjadi pada satu diantara dua ribu individu dimana 40% dari synesthetes mempunyai lebih dari satu jenis synesthesia (disebut juga

polymodal) dan wanita mendominasi dengan perbandingan tiga banding satu (Cytowic & Ward, 2006, p. 371).

Dalam Cytowic (1989), synethesia didefinisikan dalam 5 kriteria yang memisahkannya dari sekedar imajinasi yaitu: (1) synesthesia terjadi secara tanpa sengaja dan tidak dapat dikontrol, (2) sensasinya terjadi bukan hanya pada alam pikiran tetapi dirasakan senyata terjadi secara eksternal, (3) sensasi yang ditimbulkan terpisah dan pada jenis-jenis tertentu, (4) sensasinya sangat mudah diingat, dan (5) sensasi synesthesia disertai emosi dan keyakinan yang kuat. Menurut Cytowic & Ward (2006, p. 371), ada berbagai jenis synesthesia dengan sistem penamaan sensasi synesthesia yang ditimbulkan di otak sebelum stimulus aslinya, seperti color–lexical synesthesia, color–graphemic synesthesia, dan

color–phonemic synesthesia, dan lain-lain. Dalam color–graphemic synesthesia, balok penyusun bahasa yaitu grapheme (satuan terkecil dari sistem penulisan) dan fonem dapat menyulut pengalaman synesthesia berupa warna dan rasa.

(36)

Synesthesia warna-huruf disebabkan oleh pengaktifan silang antara area grapheme

angka dalam fusiform gyrus dan area warna yang juga berada dalam fusiform

(Ramachandran & Hubbard, 2003). Fenomena synesthesia hanya terjadi searah, jadi walaupun stimulus angka dapat menimbulkan sensasi warna, namun stimulus warna tidak dapat dengan sendirinya menimbulkan persepsi angka pada seorang

synesthete yang sama. Seorang synesthete juga memiliki persepsi modalitas silang yang konsisten selama bertahun-tahun, artinya ketika seorang synesthete

menangkap sensasi warna merah ketika melihat huruf ‘B’, ia akan tetap memiliki persepsi warna yang konsisten walaupun ditanyai bertahun-tahun kemudian, sedangkan seseorang yang normal dapat berubah dalam hitungan minggu ketika disuruh membayangkan sebuah warna ketika melihat sebuah stimulus dengan modalitas yang berbeda. (Cytowic & Ward, 2006). Menurut Ward & Simmer (2003), sesorang dengan keunikan gustatory-phoneme synesthesia dapat mengalami sensasi rasa ketika ia mendengar, membaca, berbicara ataupun memikirkan kata-kata tertentu, misalnya kata ‘keamanan’ memicu rasa roti panggang dengan sedikit mentega, kata ‘phillip’ memicu rasa jeruk yang tidak terlalu matang (dalam Cytowic & Ward, 2006).

Gambar 2.13. Contoh sebuah grapheme seseorang synesthete

Sumber: Cytowic & Ward (2006, p. 372)

Terdapat hubungan terbalik antara synesthesia dan bahasa dimana pada suatu tingkat tertentu, satuan representatif bahasa (graphemes, fonem dan kata-kata) membutuhkan dimensi perseptif dalam benak pikiran dan otak dari

synethete, sedangkan pada tingkat lain keberadaan respon modalitas silang dapat menuntun baik pembentukan dari respon synesthesia (misalnya antara angka dengan ruang, ketinggian nada dan terang gelapnya warna), maupun cara kita

(37)

berbicara dan mengkonsepkan dunia di sekitar kita (Cytowic & Ward, 2006, p. 375)

2.1.3.5. Asosiasi

Secara etimologis, asosiasi berasal dari bahasa Inggris yakni association, yang berarti ikatan, atau hubungan. Menurut Atkinson (1983), asosiasi dalam istilah psikologi adalah hubungan antara peristiwa yang ditangkap oleh cerebral cortex (salah satu bagian dari otak manusia) yang sebelumnya diproses oleh sensorik atau motorik manusia dimana pada bagian ini dipadukan input dari berbagai saluran sensorik dan motorik yang memungkinkan dapat digunakan dalam belajar, mengingat, dan berpikir (dalam Suwito, 2005). Pembicaraan tentang asosiasi seringkali dihubungkan dengan teori asosiasionisme yaitu sebuah paham yang menekankan pada hukum-hukum asosiasi untuk menerangkan berbagai gejala kejiwaan. Tokoh asosiasionisme yang terkenal adalah Herman Ebinghaus (1850-1909) dan E.L. Thorndike (1874-1949) sebagai pelopor asosiasionisme baru.

Ebbinghaus meneliti mengenai proses asosiasi dengan memberikan sederetan suku kata yang tak bermakna kepada sejumlah orang subyek penelitiannya (seperti pep, tet, det, dan sebagainya) karena menurutnya suku-suku kata yang tak bermakna ini lebih sukar diingat daripada kata-kata yang bermakna, sehingga sangat sesuai untuk mengukur daya ingat seseorang. Ebbinghaus menyimpulkan lewat penelitiannya bahwa jumlah suku kata yang dilupakan jauh lebih banyak bagi mereka yang baru saja mempelajari suku-suku kata itu pada saat pengetesan dilakukan, dibandingkan dengan mereka yang sudah agak lama mempelajarinya (dalam Suwito, 2005).

Thorndike, seorang penganut paham behavioristik, menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang sisebut stimulus dengan respon yang diberikan atas stimulus tersebut (Wahyudi, 2007). Bagi Thorndike, ada 3 hal yang dapat menjadikan asosiasi menjadi efektif, yaitu hukum kesiapan (law of readiness), Hukum Latihan (law of exercise), dan Hukum Efek (law of effect). Hukum kesiapan (law of readiness) Thorndike mengatakan bahwa untuk mengajarkan sesuatu dengan baik

(38)

kepada seseorang harus ada kesiapan dari orang tersebut untuk menerima hal yang akan diajarkan (Suwito, 2005). Hukum latihan (law of experience) Thorndike mengemukakan bahwa apabila asosiasi antara stimulus dan respon serting terjadi maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat yang artinya adalah semakin sering suatu pengetahuan yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan dilatih (digunakan) maka asosiasi tersebut akan semakin kuat (Wahyudi, 2007). Sementara itu, dalam hukum efek (law of effect), bahwa yang menjadi dasar belajar ialah asosiasi antara kesan panca indra (sense impression) dengan dorongan untuk bertindak (impulse to action). Artinya, asosiasi akan muncul jika berhubungan dengan kepuasan yaitu ketika seseorang dalam keadaan tertentu merasa puas, maka ia cenderung untuk mengulangi perilaku yang telah memberinya kepuasan tadi. Sebaliknya, apabila seseorang berada dalam kondisi tertentu yang tidak memberi kepuasan, maka dia akan cendrung tidak ingin mengulanginya. Dalam hukum efek, segala tingkah laku yang mengakibatkan keadaan yang menyenangkan akan diingat. Dan tingkah laku yang menyenangkan mudah untuk dipelajari begitu pula sebaliknya (Suwito, 2005). Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon. Itulah sebabnya teori ini disebut SR Bond Theory, atau S-R Psycology of Learning, atau terkadang dinamakan teori Trial and Error Learning.

Pemikiran dan budaya asosiatif ini bagi Zohar & Marshall (2002) berawal dari otak manusia yang dapat menumbuhkan koneksi-koneksi saraf baru. Dari koneksi tersebut muncullah kecerdasan. Dari koneksi-koneksi tersebut, otak dapat berpikir seri, linier, dan logis. Hal ini karena otak memiliki jalur saraf (neural tracts). Di samping itu, otak juga dapat berpikir asosiatif, yakni menciptakan asosiasi antar hal, misalnya antara lapar dengan nasi, antara rumah dengan kenyamanan, antara ibu dengan cinta, dan lain-lain. Struktur di dalam otak yang digunakan untuk berpikir asosiatif adalah neural network (Suwito, 2005).

Menurut Suwito (2005) teknik mnemonik adalah salah satu dari beberapa cara mengingat yang digunakan dengan membuat asosiasi antara berbagai fakta agar fakta-fakta tersebut lebih mudah untuk diingat. Rubin & Thompson (1994) mengatakan bahwa “Mnemonic are technique that make memorization easier by organizing individual items into patterns and linking things together” (dalam

Gambar

Tabel 2.1. Bentuk, Nama, dan Kualitas Not Balok
Gambar 2.2. Perbandingan nilai nada berdasarkan jumlahnya  Sumber: adaptasi Kustap (2008, p.103)
Tabel 2.3. Kategori Irama dan Nilainya
Gambar 2.3. Contoh penulisan tanda irama dalam notasi musik standar
+7

Referensi

Dokumen terkait

External failure cost merupakan biaya yang terjadi setelah pengiriman produk ke konsumen atau pengguna yang mengalami ketidaksesuaian atau kecacatan seperti biaya terhadap

Fungsi utama lainnya dari sistem informasi akuntansi dalam siklus penggajian adalah menyediakan pengendalian yang memadai agar dapat terpenuhinya tujuan-tujuan

Pada proses ini perusahaan memberikan penilaian yang lebih rinci mengenai peluang sukses produk baru, mengidentifikasi penyesuaian-penyesuaian akhir yang dibutuhkan untuk produk,

Posisi kerja yang cocok untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan area kerja sebatas jangkauan tangan, tidak membutuhkan gaya yang besar dalam bekerja dan

Simons (1995) bahwa sistem pengendalian manajemen berupa boundary system sangat berdampak dalam meningkatkan kinerja perusahaan seperti mendorong karyawan dalam

Pendapat tersebut menjelaskan bahwa media digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran karena media memiliki kemampuan untuk memperlihatkan konsep materi

Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali

Para konsumen yang ingin memperoleh doorprize di akhir acara, tentu akan berusaha mendapatkan kupon undian doorprize sebanyak mungkin dengan cara berbelanja sebanyak