BAB II KAJIAN TEORI
H. Penelitian Sebelumnya
I. Kerangka Berpikir dan Pengembangan Hipotesis
1. Pengaruh Kepercayaan Konsumen dengan Minat Beli
Menurut Ling (2010) ia berpendapat bahwa kepercayaan diperlukan ketika melakukan pemesanan secara online dan ketika pembeli mengirimkan data pribadinya kepada penjual. Ketika seseorang akan melakukan transaksi secara online, hal pertama yang menjadi pertimbangan mereka adalah apakah penjual dan situs yang dikunjunginya aman serta dapat dipercaya atau tidak. Karena tidak adanya tatap muka, maka kepercayaan pembeli terhadap penjual maupun situs jual beli online menjadi hal utama. Hanya konsumen yang memiliki kepercayaan yang mau melakukan transaksi secara online, tanpa adanya kepercayaan mustahil transaksi e-commerce akan terjadi.
Kepercayaan terhadap penjual terletak melalui kemampuan penjual memberikan pelayanan kepada pembeli, kemauan penjual untuk memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak dan bagaimana perilaku penjual dalam menjalankan usahanya. Rahmawati (2013) kepercayaan pembeli terhadap situs jual beli online terletak pada popularitas situs tersebut, semakin popular situs tersebut pembeli akan merasa lebih yakin untuk berbelanja disana. Karena situs jual beli online bersifat umum, konsumen terkadang tidak yakin terhadap penjual dan hasil dari transaksinya. Oleh karena itu, situs jual beli online harus bertindak untuk menghilangkan ketidakyakinan konsumen,
tindakan ini berupa pemberian keamanan dan membangun kepercayaan melalui interaksi kepada konsumen. Terbangunnya rasa percaya konsumen dan adanya rasa aman terhadap penjual maupun situs jual beli online dapat meningkatkan minat beli konsumen di situs tersebut.
Ling (2010).
Berdasarkan teori dan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :
H1 : Semakin Tinggi Kepercayaan Konsumen (X1) Maka Semakin Tinggi Minat Beli (Y)
2. Pengaruh Pengalaman Berbelanja dengan Minat Beli
Beberapa peneliti berpendapat bahwa interaksi konsumen secara langsung dengan penjual di toko dapat menggerakkan konsumen untuk lebih memilih berbelanja di toko konvensional daripada secara online.
Diasumsikan bahwa semakin tinggi pengalaman dalam berbelanja secara langsung di toko konvensional, semakin sedikit kemungkinan konsumen untuk beralih berbelanja secara online. Verhargen (2007).
Namun pendapat ini diragukan oleh Bhatnagar dalam dalam Verhargen (2007) pengalaman berbelanja di toko konvensional berdampak positif pada persepsi konsumen secara online sebagai titik acuan. Berbelanja secara langsung di toko konvensional dan secara online, keduanya berperan penting terhadap minat beli seorang konsumen dalam berbelanja secara online.
Menurut Ling (2010) ia berpendapat bahwa konsumen dengan niat berbelanja online yang kuat pada situs belanja online biasanya yang telah memiliki pengalaman pembelian sebelumnya yang membantu mereka mengurangi rasa ketidakpastiannya. Maka konsumen hanya akan membeli produk secara online setelah memiliki pengalaman sebelumnya. Konsumen dapat memperoleh pengalaman dengan melakukan pembelian kecil pada awalnya, setelah itu mereka akan lebih mengembangkan kepercayaan diri dalam melakukan belanja online Ling (2010). Jika pengalaman yang diterima konsumen ternyata memberikan rasa kepuasan, maka akan meningkatkan minat belinya dan akan membuat konsumen melakukannya lagi di masa depan.
Namun, jika pengalaman negatif yang diterima maka pelanggan akan enggan untuk melakukannya lagi di masa depan Ling (2010).
Berdasarkan teori dan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :
H2 : Semakin Tinggi Pengalaman Berbelanja (X2) Maka Semakin Tinggi Minat Beli (Y)
3. Pengaruh Kemudahan Transaksi dengan Minat Beli
Kemudahan transaksi menjadi pertimbangan konsumen sebelum melakukan belanja online. Faktor kemudahan penggunaan ini berkaitan dengan bagaimana operasional berbelanja secara online. Meskipun belanja online memiliki banyak manfaat, namun kerumitan dalam berinteraksi dengan medianya dalam hal ini adalah situs jual beli online,
bisa menjadi sesuatu yang membingungkan untuk pengguna.
Kemudahan transaksi berhubungan dengan mudah atau tidaknya situs digunakan oleh calon pembeli maupun mudah atau tidaknya dalam melakukan pembelian (prosedur pembayaran menggunakan credit card, transfer via bank, ataupun cost on delivery). Biasanya calon pembeli akan mengalami kesulitan pada saat pertama kali melakukan belanja online, serta cenderung mengurungkan niatnya karena ketidaktahuan dalam bertransaksi online. (2017)
Menurut Davis (1989), Kemudahan yang dipersepsikan atau perceived ease of use merupakan tingkat di mana seseorang meyakini bahwa penggunaan teknologi merupakan hal yang mudah dan tidak memerlukan usaha keras dari pemakainya. Konsep ini mencakup kejelasan tujuan penggunaan teknologi dan kemudahan penggunaan sistem sesuai dengan keinginan pemakai. Jika penggunaan situs ternyata lebih rumit dibandingkan manfaat yang diperoleh dari belanja online, maka pembeli berpotensial akan lebih memilih berbelanja secara konvensional. Namun jika situs lebih mudah digunakan dan memberikan manfaat, calon pembeli akan menggunakan situs tersebut untuk berbelanja online. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kerumitan penggunaan dalam situs jual beli online adalah lamanya waktu untuk membuka situs tersebut, buruknya rancangan tampilan situs, dan peletakan menu yang tidak
rapi dapat membuat pembeli kehilangan fokus dalam berbelanja.
Ramayah dan Joshua (2005)
Selain itu terdapat beberapa faktor lain seperti, ribetnya pembelian yang harus dilakukan menggunakan transfer via bank (kecurigaan pembeli terhadap penipuan barang yang dibeli tidak datang), kemudian barang yang dibeli tidak datang tepat waktu (hal ini bisa dipengaruhi oleh cuaca, jasa kurir yang mengantar terhambat dikarenakan banyaknya barang-barang yang berbeda lokasi) (2017)
Hadirnya internet membawa kemudahan di berbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali dengan kegiatan jual beli yang saat ini dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Berbagai situs belanja online menawarkan kemudahan dalam transaksinya dalam sebuah sistem, namun ternyata kemudahan yang ditawarkan tersebut menemui kendala, sebagian pengguna mengeluhkan tentang proses transaksi yang terjadi. Sehingga kemudahan dalam penggunaan diduga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian secara online.
Artinya, semakin tinggi suatu web situs belanja online menawarkan kemudahan dalam penggunaan pada penggunanya (toppers), untuk melakukan pembelian secara online.
Berdasarkan teori dan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :
H3 : Semakin Tinggi Kemudahan Transaksi (X3) Maka Semakin Tinggi Minat Beli (Y)
4. Pengaruh Kepercayaan Konsumen, Pengalaman Berbelanja dan Kemudahan Transaksi terhadap Minat Belanja Online
Kepercayaan, pengalaman berbelanja, dan kemudahan transaksi merupakan faktor penting yang mempengaruhi minat seseorang dalam melakukan keputusan, terutatama dalam belanja online. Kepercayaan berperan penting dalam pembelian melalui media online. Karena tidak adanya tatap muka maka kepercayaan konsumen terhadap penjual atau sebuah situs online menjadi hal utama. Kejujuran pemilik online shop dalam menjaga dan memenuhi kesepakatan yang telah dibuat baik berdasarkan reputasi online shop sebagai penjual yang kredibel maupun tampilan promosi secara professional yang mengindikasikan bahwa toko online tersebut berkompeten dalam menjalankan operasionalnya akan mempengaruhi dengan minat konsumen. Dengan tingkat kepercayaan yang tinggi akan kredibilitas yang ditawarkan online shop kemungkinan konsumen akan tertarik minatnya dalam melakukan pembelian di situs tersebut.
Pengalaman berbelanjabaik secara langsung di toko konvensional maupun secara online, keduanya berperan penting terhadap minat beli seorang konsumen dalam berbelanja secara online. Di toko konvensional merupakan titik acuan bagi konsumen dalam memilih barang yang konsumen butuhkan, maka dari itu dengan hadirnya toko online dapat memudahkan konsumen dalam memilih barang baik dari segi harga, kualitas, dan promosi yang ditawarkan. Sehingga konsumen
juga dimudahkan dalam penghematan baik waktu tenaga dan keselamatan.
Tingkat kemudahan penggunaan aplikasi yang tidak terlalu rumit dalam situs online serta lebih mudah digunakan dan memberikan manfaat, akan menarik calon pembeli menggunakan situs tersebut untuk berbelanja online. Tingginya tingkat kemudahan dalam mempelajari pengoperasian di situs belanja online yang semakin lama menjadi mudah dan menjadi mahir membuat konsumen nyaman dan semakin menambah minatnya dalam berbelanja, bayangkan saja jika situr tersebut mempersulit penggunanya maka akan mengurangi minat nya berkunjung kembali dan berbelanja barang pada situs tersebut. Maka dari itu tingginya tingkat kemudahan yang ditawarkan dapat mempengaruhi minat belanja konsumen pada online shop. Melihat pentingnya pengaruh ketiga komponen ini terhadap keputusan pembelian konsumen maka diduga kepercayaan konsumen, pengalaman berbelanja, dan kemudahan transaksi berpengaruh secara bersama-sama terhadap minat belanja online.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan hipotesis ke-empat sebagai berikut :
H4 : Pengaruh Kepercayaan Konsumen (X1), Pengalaman Berbelanja (X2) dan Kemudahan Transaksi (X3) secara bersama-sama berpengaruh terhadap Minat Belanja Online.