• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERHADAP MINAT BELANJA ONLINE DI KALANGAN MAHASISWA PROGRAM STUDI MANAJEMEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TERHADAP MINAT BELANJA ONLINE DI KALANGAN MAHASISWA PROGRAM STUDI MANAJEMEN "

Copied!
176
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH KEPERCAYAAN KONSUMEN, PENGALAMAN BERBELANJA, DAN KEMUDAHAN TRANSAKSI

TERHADAP MINAT BELANJA ONLINE DI KALANGAN MAHASISWA PROGRAM STUDI MANAJEMEN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

Oleh:

Helena Hildaria 131324004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2017

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Teriring rasa terima kasih dan ketulusan, karya istimewa ini kupersembahkan sebagai ungkapan pengabdian cintayang tulus dan penuh kasih teruntuk:

1. Kedua orang tuaku tercinta, Bapak Paulus Piau dan Ibu Kornelia Tinek yang selalu memberikan doa, kasih sayang, support, dan pengorbanan selama ini.

Selalu memotivasi dan penuh dengan rasa sabar terus membimbing saya sehingga saya memberikan kekuatan tersendiri bagi saya untuk selalu berjuang.

2. Saudaraku tercinta yang selalu dirindukan, saudara kandung satu-satunya adik Angel Priska Nindya terimakasih atas dukungan dan doanya.

3. Saudara sepupu yang studi di Yogyakarta juga, adik Stefhany Nadya Yuan Larasati terima kasih selalu menemani, mendengar keluh kesahku, dan memotivasiku.

4. Kepada teman-teman saya di Program Studi Pendidikan Ekonomi, Stefanus Tupen, Angela Flora Puspita, Yashinta Larasati, Wayan Astawan, Tri Fena Ido, Trivilla Dewi terima kasih atas support, bantuan dan dukungannya selama ini.

5. Kepada teman-teman di luar Prodi, Fakultas dan Universitas Ruth Djakaria, Monica, Nopita Sari Dewi, Yeni Tresnawati, dan Michael, terima kasih atas support, bantuan dan dukungannya selama ini.

6. Almamater tercinta

(5)

v

Motto

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

PENGARUH KEPERCAYAAN KONSUMEN, PENGALAMAN BERBELANJA, DAN KEMUDAHAN TRANSAKSI TERHADAP MINAT

BELANJA ONLINE DI KALANGAN MAHASISWA PROGRAM STUDI MANAJEMEN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

Helena Hildaria Universitas Sanata Dharma

2017

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh kepercayaan konsumen, pengalaman berbelanja, dan kemudahan transaksi terhadap minat belanja online di kalangan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian konfirmatori. Penelitian dilaksanakan di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada bulan Mei 2017. Populasi penelitian adalah mahasiswa Program Studi Manajemen Angkatan 2016 Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma.

Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 100 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi linier berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak ada pengaruh kepercayaan konsumen terhadap minat belanja online; (2) ada pengaruh pengalaman berbelanja terhadap minat belanja online; (3) ada pengaruh kemudahan transaksi terhadap minat belanja online; dan (4) ada pengaruh pengalaman berbelanja dan kemudahan transaksi terhadap minat belanja online di kalangan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Faktor kepercayaan konsumen, pengalaman berbelanja, dan kemudahan transaksi berkontribusi sebesar 48% terhadap minat belanja online, sedangkan sisanya 52%

ditentukan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

Kata kunci: kepercayaan konsumen, pengalaman berbelanja, kemudahan transaksi, minat belanja online

(9)

ix ABSTRACT

THE IMPACT OF CONSUMERS TRUST, PURCHASE EXPERIENCE, AND EASE OF USE ON ONLINE PURCHASE INTENTION AMONG

STUDENTS OF MANAGEMENT STUDY PROGRAM SANATA DHARMA UNIVERSITY IN YOGYAKARTA

Helena Hildaria Sanata Dharma University

2017

The purpose of this study was to examine and analyze the impact of consumers trust, purchase experience, and ease of use on online purchase intention among students of Management Study Program, Sanata Dharma University in Yogyakarta. This study was a confirmatory study conducted in Sanata Dharma University on May 2017. Population of this study was students of Management Study Program Year 2016 Faculty of Economics, Sanata Dharma University. The sample consisted of 100 respondents. The sampling technique was convenience sampling. The data collection method was a questionnaire. The data were analysed by multiple linear regression technique.

The result of the study showed that: (1) there was no effect consumers trust on online purchase intention; (2) there was a positive effect of purchase experience on online purchase intention; (3) there was a positive effect of ease of use on online purchase intention; (4) there was influence of purchase experience and ease of use on online purchase intention among students of Management Study Program, Sanata Dharma University in Yogyakarta. Consumers trust, purchase experience, and ease of use contributed 48% to online purchase intention, while the remaining (52%) is influenced by other variabels which are not examined in this study.

Keywords : consumers trust, purchase experience, ease of use, onlinepurchase intention

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus, yang telah memberikan curahan roh kudusNya dalam membimbing Penulis, terutama dalam kesabaran, tidak putus asa, dan selalu menjalankan karya tugas akhir ini dengan penuh suka cita, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Kepercayaan Konsumen, Pengalaman Berbelanja, dan Kemudahan Transaksi terhadap Minat Belanja Online di Kalangan Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta”. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan, Program Studi Pendidikan Ekonomi bidang keahlian khusus Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulisan skripsi ini dapat dilaksanakan dengan baik atas bantuan, bimbingan, arahan, dan dukungan serta dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu Penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs Johanes Eka Priyatama, M.Sc., Ph.D., Rektor Universitas Sanata Dharma yang memberikan kesempatan pada Penulis untuk memperoleh pendidikan terbaik selama kuliah di Sanata Dharma, Yogyakarta

2. Bapak Rohandi, Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidkan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

3. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si., Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

(11)

xi

4. Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

5. Bapak Y.M.V Mudayen, S.Pd., M.Sc. Dosen Pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan dorongan kepada Penulis untuk menyusun skripsi 6. Seluruh Bapak Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi yang telah

memberikan ilmunya selama proses perkuliahan

7. Dosen dan Karyawan Program Studi Pendidikan Ekonomi yang telah memberikan informasi dan membantu kelancaran dalam mengurus surat ijin penelitian

8. Kepada Bapak Dr. Lukas Purwoto, M.Si Ketua Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan izin melaksanakan penelitian untuk penyusunan skripsi

9. Kedua orang tua saya Bapak Paulus Piau dan Ibu Kornelia Tinek tercinta.

Terima kasih atas segala doa, kasih sayang, motivator, perhatian, semangat, serta pengorbanan yang diberikan secara tulus selama ini.

10. Adik saya tersayang dan satu-satunya Angel Priska Nindya yang selalu memberikan dukungan dan penyemangat untuk menulis skripsi ini

11. Mahasiswa Program Studi Manajemen Angkatan 2016 yang telah membantu Penulis mendapatkan data dalam pelaksanaan penelitian ini

12. Semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan yang telah banyak membantu Penulis baik secara langsung maupun tidak langsung

(12)

xii

Teriring doa semoga bantuan dan amal kebaikan yang diberikan kepada Penulis menjadi berkat sehingga ilmu yang didapat berguna bagi sesama. Penulis menyadari skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun senantiasa Penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini.

Yogyakarta, 23 Okbober 2017

Helena Hildaria

(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR DIAGRAM ... xix

DAFTAR GRAFIK ... xx

DAFTAR LAMPIRAN ... xxi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

E. Definisi Operasional ... 10

BAB II KAJIAN TEORI ... 12

A. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi ... 12

B. Perkembangan E-commerce dalam Masyarakat Masa Kini ... 13

C. Beberapa Perkembangan Penting Dalam Lingkungan E-Commerce ... 16

D. Ruang Lingkup Bisnis Online ... 19

(14)

xiv

E. Minat Belanja Online di Kalangan Masyarakat Penikmat Internet Masa

Kini ... 21

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Belanja Online ... 24

G. Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Terhadap Dunia Usaha ... 32

H. Penelitian Sebelumnya ... 33

I. Kerangka Berpikir dan Pengembangan Hipotesis ... 35

J. Paradigma Penelitian ... 42

K. Hipotesis Penelitian ... 43

BAB III METODE PENELITIAN... 44

A. Desain Penelitian ... 44

B. Jenis Penelitian... 44

C. Variabel Penelitian dan Pengukuran Variabel ... 45

D. Tempat dan Waktu Penelitian ... 48

E. Populasi dan Sampel ... 48

F. Data dan Sumber Data ... 49

G. Teknik Pengumpulan Data ... 51

H. Uji Instrumen ... 54

I. Teknik Analisis Data... 58

J. Uji Prasyarat... 63

K. Uji Diagnostik ... 65

L. Pengujian Hipotesis ... 66

BAB IV HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 71

A. Hasil Penelitian ... 71

1. Analisis Deskriptif ... 72

2. Pengujian Prasyarat Analisis... 88

B. Pembahasan ... 102

BAB V KESIMPULAN SARAN DAN KETERBATASAN ... 107

A. Kesimpulan ... 107

B. Saran ... 108

C. Keterbatasan ... 110

(15)

xv

DAFTAR PUSTAKA ... 112 LAMPIRAN ... 115

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 10

Tabel 2.1. 10 Hal yang Dibeli Konsumen dan 8 Hak Konsumen ... 18

Tabel 2.2. Dimensi Persepsi Kemudahan ... 31

Tabel 3.1. Penentuan Skor Menurut Skala Likert ... 48

Tabel 3.2. Kisi-kisi Kuesioner ... 52

Tabel 3.3. Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kepercayaan Konsumen ... 52

Tabel 3.4. Kisi-kisi Kuesioner Variabel Pengalaman Berbelanja ... 53

Tabel 3.5. Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kemudahan Transaksi ... 53

Tabel 3.6. Kisi-kisi Kuesioner Variabel Minat Belanja Online ... 54

Tabel 3.7. Uji Validitas Variabel Kepercayaan Konsumen ... 55

Tabel 3.8. Uji Validitas Variabel Pengalaman Berbelanja ... 56

Tabel 3.9. Uji Validitas Variabel Kemudahan Transaksi ... 56

Tabel 3.10. Uji Validitas Variabel Minat Belanja Online ... 57

Tabel 3.11. Hasil Uji Reliabilitas ... 58

Tabel 3.12. Kategori Kepercayaan Konsumen ... 60

Tabel 3.13. Kategori Pengalaman Berbelanja ... 61

Tabel 3.14. Kategori Kemudahan Transaksi ... 62

Tabel 3.15. Kategori Minat Belanja Online ... 63

Tabel 4.1. Data Jenis Kelamin Responden ... 72

Tabel 4.2. Data Usia Responden ... 73

Tabel 4.3. Data Daerah Responden ... 74

Tabel 4.4. Data Uang Saku Responden ... 75

Tabel 4.5. Data Pengenalan Responden Terhadap Online Shop ... 77

Tabel 4.6. Data Website yang Dikunjungi Responden ... 78

Tabel 4.7. Data Pembelian di Online Shop Responden ... 79

Tabel 4.8. Data Cara Pembayaran Responden ... 80

Tabel 4.9 Hasil Kategorisasi Kepercyaan Konsumen ... 82

Tabel 4.10. Hasil Kategorisasi Pengalaman Berbelanja ... 84

Tabel 4.11. Hasil Kategorisasi Kemudahan Transaksi ... 86

(17)

xvii

Tabel 4.12. Hasil Kategorisasi Minat Belanja Online... 87

Tabel 4.13. Hasil Uji Normalitas ... 89

Tabel 4.14. Hasil Uji Linieritas ... 90

Tabel 4.15. Hasil Uji Multikolinieritas ... 92

Tabel 4.16. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 94

Tabel 4.17. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda ... 95

Tabel 4.18. Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda ... 97

Tabel 4.19. Hasil Uji Stimultan (Uji F) ... 99

Tabel 4.20. Hasil Uji Determinasi... 100

(18)

xviii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Pengguna Internet di Asia ... 1 Gambar 2.2. Tempat Belanja Online Favorite Tahun 2015... 33

(19)

xix

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1. Data Jenis Kelamin Responden ... 73

Diagram 4.2. Data Usia Responden ... 74

Diagram 4.3. Data Daerah Responden ... 75

Diagram 4.4. Data Uang Saku Responden ... 76

Diagram 4.5. Data Pengenalan Responden Terhadap Online Shop ... 77

Diagram 4.7. Data Pembelian di Online Shop Responden ... 79

Diagram 4.8. Data Cara Pembayaran Responden ... 80

(20)

xx

DAFTAR GRAFIK

Grafik 2.1. Grafik Berbelanja di Toko Menurut Kategori Usia ... 24 Grafik 4.6. Data Website yang Dikunjungi Responden ... 78

(21)

xxi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian ... 115 Lampiran 2. Kuesioner Penelitian ... 116 Lampiran 3. Data Hasil Penelitian ... 125

(22)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini teknologi dan informasi telah berkembang pesat, salah satu temuannya ialah internet. Internet sukses membawa perubahan pada masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Menurut data Katadata.com tahun 2016, Indonesia menempati peringkat ke-empat dalam penggunaan internet di Asia, dengan rasio pengguna internet Indonesia mencapai 30,5 persen. (Katadata.com, 2016)

Gambar 1.1

Pengguna internet di Asia (2016)

Sumber : www.katadata.com.id

Dalam era ekonomi digital, peran internet sangat berpengaruh terutama bagi perusahaan e-commerce. Menurut Laudon & Laudon, 1998

(23)

(dalam Yolanda, 2013) E-Commerce merupakan aplikasi internet yang digunakan untuk melakukan transaksi perdagangan melalui internet. Cara melakukan transaksi di internet adalah dengan memanfaatkan fasilitas di mana terdapat website yang menyediakan layanan “Get and Deliver”.

Melalui fasilitas E-Commerce masyarakat dapat melakukan transaksi perdagangan secara global dan mendunia.

Aktivitas tersebut membentuk gaya hidup online pada masyarakat, seperti kegiatan berbelanja yang dulunya hanya dikenal melalui toko fisik, sekarang dilakukan secara online. Proses jual-beli yang dulunya mengharuskan penjual dan pembeli untuk bertatap muka, sekarang hanya menjadi sebatas klik dengan gadget yang terintegrasi dengan teknologi internet. Melalui internet, masyarakat dapat mengenal berbagai hal, mulai dari jejaring sosial, aplikasi, berita, video, foto hingga berbelanja melalui internet atau yang sering disebut dengan online shopping.

Jika ditelusuri secara nyata, saat ini online shop tidak hanya berupa barang tetapi juga jasa. Seperti yang sedang trend saat ini yaitu Gojek.

Peneliti memilih memberikan contoh Gojek, karena Gojek merupakan layanan online yang banyak digandrungi masyarakat masa kini untuk semua kalangan. Layanan online shop yang diberikan Gojek bisa dikatakan memberikan kepraktisan kepada konsumen. Hadirnya Gojek dianggap memudahkan aktivitas sehari-hari, fitur layanan Gojek tidak hanya sekedar mengantar penumpangnya ke lokasi yang dituju karena tidak mempunyai kendaraan dan akhirnya menggunakan jasa Gojek.

(24)

Tetapi lebih dari itu, layanan yang diberikan Gojek bermacam-macam seperti Go-Send, Go-Ride, Go-Food, Go-Mart, Go-Box, Go-Clean, Go- Glam,dan Go-Massage. Sebagai pengguna internet yang tentunya memiliki gadget, pengguna cukup mengunduh aplikasi Gojek ini di play store android ataupun IOS. Setelah aplikasi terpasang, pengguna cukup memilih layanan apa yang diinginkan, sebagai contoh jika konsumen tidak mau repot membeli makanan keluar rumah dikarenakan faktor cuaca, kendaraan, dan efisiensi waktu. Konsumen cukup memilih layanan Go- Food dalam fitur Go-Food konsumen tinggal memilih makanan apa yang ingin dibeli, dan secara langsung juga konsumen bisa memilih harga yang diinginkan. Setelah yakin membeli, cukup klik dari gadget maka dalam beberapa menit yang telah ditentukan sesuai prosedur maka pesanan akan diantar tepat didepan rumah. Kelebihan kemudahan dari Gojek tidak hanya disitu saja, jasa pengantar (kurir) secara otomatis juga dapat mengetahui lokasi konsumen, tanpa perlu konsumen repot memberikan lokasi kediamannya. Barang yang dibeli pun dapat dibayar setelah konsumen menerima barang, karena pembelian pesanan awal dibayar oleh jasa Gojek terlebih dahulu.

Berdasarkan fenomena diatas yang telah penulis ceritakan bertransaksi online pada saat ini telah naik, tanpa bertatap muka transaksi jual-beli terjadi. Transaksi secara konvensional telah menurun, semula market place sekarang telah berubah menjadi market space. Menurut Ling (2010) kepercayaan diperlukan ketika melakukan pemesanan secara online dan

(25)

ketika pembeli mengirimkan data pribadinya kepada penjual. Ketika seseorang akan melakukan transaksi secara online, hal pertama yang menjadi pertimbangan mereka adalah apakah penjual dan situs yang dikunjunginya aman serta dapat dipercaya atau tidak. Harris, 2010 (dalam Anwar & Adidarma, 2016) mengatakan bagi sebuah toko online yang melakukan transaksi tanpa bertatap muka harus dapat menjaga kepercayaan agar dapat menarik minat konsumen. Adanya faktor kepercayaan yang dibangun oleh pelaku bisnis dapat menarik minat konsumen untuk berbelanja online melalui website yang dibangun. Tidak hanya pada situs-situs online seperti Go-Jek, belakangan ini sudah mulai banyak pengguna alat komunikasi elektronik yang menyediakan jasa internet melakukan jasa penjualan barang-barang online yang menggunakan jaringan sosial contohnya facebook, twitter, instagram, bloger, dan lain-lain.

Menurut Ling (2010) konsumen dengan niat berbelanja online yang kuat pada situs belanja online biasanya yang telah memiliki pengalaman pembelian sebelumnya yang membantu mereka mengurangi rasa ketidakpastiannya. Maka konsumen hanya akan membeli produk secara online setelah memiliki pengalaman sebelumnya.

Selain itu, kemudahan transaksi juga berpengaruh. Menurut Davis (1989) kemudahan transaksi mencakup kejelasan tujuan penggunaan teknologi dan kemudahan penggunaan sistem sesuai dengan keinginan pemakai. Jika penggunaan situs ternyata lebih rumit dibandingkan

(26)

manfaat yang diperoleh dari belanja online, maka pembeli berpotensi lebih memilih berbelanja secara konvensional. Namun jika situs lebih mudah digunakan dan memberikan manfaat, calon pembeli akan menggunakan situs tersebut untuk berbelanja online. Selain itu terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi seperti, ribetnya pembelian yang harus dilakukan menggunakan transfer via bank.

Melihat layanan yang diberikan oleh Gojek, Konsumen tidak perlu takut di tipu karena lebih banyak manfaat yang dirasakan konsumen menggunakan aplikasi ini. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai mahasiswa, setelah melakukan aktivitas online shop melalui aplikasi Gojek, penulis mempercayai layanan Gojek, berdasarkan contoh yang telah diuraikan diatas. Semakin sering konsumen menggunakan jasa online shop yang telah terbukti memberikan kredibilitas kepada konsumen maka semakin tinggi pula minat konsumen dalam melakukan transaksi, hal ini juga dipengaruhi oleh pengalaman yang dirasakan konsumen, konsumen merasa puas dan nyaman. Banyak manfaat yang dirasakan baik dari segi tenaga, waktu, dan mengurangi kemacetan serta polusi udara akibat kepadatan kendaraan di jalan raya.

Minat beli konsumen, merupakan salah satu bagian dari komponen dalam sikap konsumen mengkonsumsi suatu produk. Minat beli adalah tahap kecenderungan konsumen untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan.

(27)

Penelitian ini mengarah pada penelitian-penelitian terdahulu mengenai minat beli konsumen secara online. Menurut Davis (1993), minat beli seorang konsumen terhadap belanja online bergantung pada efek langsung dari fitur yang diberikan oleh belanja online, fitur ini berupa persepsi fungsional yaitu kemudahan penggunaan situs dan persepsi emosional konsumen yaitu kenikmatan berbelanja. Selain fitur langsung dari belanja online, ada pula faktor yang datang dari individu konsumen itu sendiri.

Faktor ini berupa pengalaman sebelumnya dalam berbelanja online Ling (2010), dan kepercayaan konsumen terhadap penjual maupun situs jual beli online.

Minat yang muncul dalam melakukan pembelian menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu kegiatan yang sangat kuat yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi kebutuhanya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya itu. Minat membeli yang dilakukan dengan media online adalah keinginan seseorang untuk membeli suatu produk yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumen melalui media online. Rubianti (2014)

Penelitian mengenai minat beli yang penulis teliti mengadaptasi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nurrahmanto (2015) yang berjudul “Pengaruh Kemudahan Penggunaan, Kenikmatan Berbelanja, Pengalaman Berbelanja dan Kepercayaan Konsumen terhadap Minat Beli Konsumen di Situs Jual Beli Online Bukalapak.com”. sedangkan pada penelitian yang ingin diteliti penulis berjudul “Pengaruh Kepercayaan

(28)

Konsumen, Pengalaman Berbelanja, dan Kemudahan Transaksi terhadap Minat Belanja Online Dikalangan Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta” dari penelitian sebelumnya Penulis mengambil variabel kepercayaan konsumen, pengalaman berbelanja dan kemudahan transaksi serta objek penelitiannya adalah Mahasiswa Program Studi Manajemen 2016 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis ingin menguji dan menganalisis apakah terdapat pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap minat belanja online pada Mahasiswa Program Studi Manajemen. Karena pada penelitian ini Penulis melihat intensitas transaksi belanja online yang dilakukan mahasiswa Program Studi Manajemen lebih tinggi dibandingkan dengan program studi lain yang terjadi lingkungan tempat tinggal (kost) Penulis. Selain itu Penulis memilih minat belanja online sebagai variabel terikat karena, didalam transaksi belanja online minat merupakan langkah awal sebelum keputusan membeli terlaksana.

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah Pengaruh Kepercayaan Konsumen, Pengalaman Berbelanja, dan Kemudahan Transaksi terhadap Minat Belanja Online di Kalangan Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(29)

B. Rumusan Masalah

1. Apakah terdapat pengaruh kepercayaan konsumen terhadap minat belanja online ?

2. Apakah terdapat pengaruh pengalaman berbelanja terhadap minat belanja online ?

3. Apakah terdapat pengaruh kemudahan transaksi terhadap minat belanja online ?

4. Apakah terdapat pengaruh kepercayaan konsumen, pengalaman berbelanja, dan kemudahan transaksi terhadap minat belanja online ? C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengaruh kepercayaan konsumen terhadap minat belanja online

2. Untuk mengetahui pengaruh pengalaman berbelanja terhadap minat belanja online

3. Untuk mengetahui pengaruh kemudahan transaksi terhadap minat belanja online

4. Untuk mengetahui pengaruh kepercayaan konsumen, pengalaman berbelanja, dan kemudahan transaksi terhadap minat belanja online

(30)

D. Manfaat

1. Manfaat praktis

Bagi toko berbasis bisnis online merupakan sebuah peluang bisnis yang menjanjikan apabila dilihat dari peningkatan jumlah pengguna internet dan minat orang yang berbelanja lebih praktis melalui media online. Itu yang menyebabkan online shop ingin mengetahui apakah faktor kepercayaan, pengalaman berbelanja, serta persepsi kemudahan transaksi belanja berpengaruh terhadap minat beli online untuk meningkatkan penjualan online.

Manfaat praktis bagi konsumen online untuk menginformasikan bahwa faktor kepercayaan, pengalaman berbelanja, serta persepsi kemudahan transaksi belanja terhadap produk online untuk dipertimbangkan dalam menimbulkan minat beli online.

2. Manfaat teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat menambah wawasan dan menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya terutama menyangkut variabel kepercayaan konsumen, pengalaman berbelanja, serta persepsi kemudahan transaksi belanja terhadap minat belanja online di Kalangan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Program Studi Manajemen 2016.

(31)

E. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan penjabaran mengenai definisi dan indikator dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. Adapun definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 1.1

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Variabel Penelitian Definisi Indikator

Minat Belanja Online (Y)

Minat belanja online adalah tingkat kecenderungan konsumen untuk berbelanja secara online sesudah mendapatkan informasi dari berbagai sumber online, sehingga berlanjut pada proses negosiasi (tawar- menawar) sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan.

Variabel minat belanja online ditentukan berdasarkan kategori berikut : Sangat berminat, berminat, cukup berminat, tidak berminat, sangat tidak berminat.

1) Minat Transaksional 2) Minat Referensial 3) Minat Preferensial 4) Minat Eksploratif (Ferdinand, 2002)

Kepercayaan Konsumen (X1)

Kepercayaan konsumen adalah tingkat keyakinan konsumen terhadap kredibilitas penjual online.

Variabel kepercayaan konsumen ditentukan berdasarkan kategori berikut : Sangat percaya, percaya, cukup percaya, tidak percaya, sangat tidak percaya.

1) Kredibilitas situs 2) Kemenarikan situs 3) Kepercayaan terhadap situs 4) Keyakinan terhadap situs 5) Reputasi situs

6) Keamanan bertransaksi 7) Kualitas produk 8) Tanggung jawab terhadap

konsumen

(Verhagen dan Willemijn, 2007) 9) Kecakapan vendor 10) Kejujuran vendor (Paul A. Pavlou and Mendel Fyngenson, 2006) Pengalaman

Berbelanja (X2)

Pengalaman berbelanja merupakan persepsi konsumen terhadap belanja online.

1) Pengalaman tentang harga 2) Pengalaman tentang kelengkapan

barang

3) Pengalaman tentang iklan 4) Pengalaman tentang tingkat

kejujuran

(32)

Variabel Penelitian Definisi Indikator

Variabel pengalaman berbelanja ditentukan berdasarkan kategori berikut : Sangat positif, positif, netral, negatif, sangat negatif

5) Pengalaman tentang keamanan pengiriman

6) Pengalaman tentang ketepatan waktu pengiriman

(Ciu et al, 2009)

7) Pengalaman tentang kepuasan 8) Pengalaman tentang perasaan 9) Pengalaman tentang berbagi

informasi (Kim, 2004) Kemudahan Transaksi

(X3)

Kemudahan transaksi merupakan tingkat kemudahan seorang konsumen dalam menggunakan teknologi dan aplikasi belanja online.

Variabel kemudahan transaksi ditentukan berdasarkan kategori berikut : Sangat mudah, mudah, cukup mudah, tidak mudah, sangat tidak mudah.

1) Kemudahan dalam mempelajari 2) Kemudahan memperoleh barang 3) Kemudahan transaksi

4) Fleksibelitas transaksi 5) Kemahiran mengoperasikan 6) Kemudahan dalam mengakses

fitur-fitur (Davis, 1989)

(33)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Perkembangan di bidang informasi dan komunikasi pertama kali adalah ditemukannya telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1876. Setelah itu, berbagai penemuan lain bermunculan, di antaranya penemuan ponograp oleh Thomas Edison pada tahun 1877 dan penemuan radio oleh Guglielmo Marconi pada tahun 1896. Juga perkembangan televisi dan satelit komunikasi menandakan kemajuan yang pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Namun begitu penemuan penting lainnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi adalah dengan ditemukannya komputer.

Komputer merupakan penemuan terbesar pada abad ke-20. Komputer telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia. Komputer secara luas telah digunakan dalam berbagai bidang untuk mengontrol dari alat yang paling sederhana seperti telepon hingga ke mesin yang paling rumit seperti pesawat terbang. Begitu juga dengan penggunaan robot yang dikendalikan dengan komputer meningkat dengan pesat.

Selain itu kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi semakin pesat ketika ditemukannya internet. Internet dapat diartikan sebagai suatu jaringan komunikasi antar komputer. Pada awalnya, yaitu tahun 1969, Departemen Pertahanan dan Keamanan Amerika Serikat

(34)

mengembangkan suatu jaringan komunikasi yang menjadi cikal bakal internet dengan nama ARPnet (Advanced Research Project Agency Network). Jaringan komunikasi ini hanya terhubung antara sistem komputer pemerintah dan militer. Jaringan komunikasi ini dibuat dengan tujuan untuk menjaga keamanan sistem komputer apabila terjadi bencana atau perang.

Melihat manfaatnya yang begitu besar para ilmuwan dari berbagai universitas di Amerika Serikat juga mengembangkan jaringan komputer yang mirip dengan ARPnet, yaitu NSFnet (NSF=Nation Science Foundation). NSFnet ini ternyata lebih baik dan lebih murah sehingga terus dikembangkan agar bisa digunakan oleh masyarakat umum.

Terbentuklah apa yang sekarang kita kenal dengan internet. Pada tahun 1993, teknologi internet mulai diperkenalkan kepada masyarakat umum.

Kini, tiap orang apabila mempunyai komputer, modem, dan software internet dapat mengakses berbagai informasi melalui internet.

B. Perkembangan E-commerce dalam Masyarakat Masa Kini

Dalam dunia internet mungkin kita sudah sering mendengar istilah E- commerce, khususnya bagi pelaku online bisnis. Aktivitas didalam E- commerce antara lain seperti jual beli secara online, marketing online, pembayaran online yang dilakukan secara elektronik seperti internet.

Menurut Anwar & Adidarma (2016) E-commerce merupakan proses pembelian dan penjualan produk, jasa dan informasi yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan jaringan komputer. Salah satu jaringan

(35)

yang digunakan adalah internet. Internet telah mengubah alur perdagangan dalam dunia bisnis menjadi serba digital. Mekanisme bisnis pada masa kini terbangun dalam komunitas berjejaring. Secara pelan namun pasti, penetrasi internet telah mengubah perilaku pembelian konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Anwar & Adidarma (2016).

Menurut Sunarto, (2009) berikut beberapa manfaat e-commerce : 1. Manfaat E-commerce bagi Organisasi atau Perusahaan

a. Kemampuan grafis Internet mampu memperlihatkan produk apa adanya serta dapat membuat brosur berwarna dan menyebarkanya tanpa ongkos atau biaya cetak.

b. Berjualan di dunia maya internet tidak mengenal hari libur dan hari besar, semua transaksi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.

c. Tanpa batas-batas wilayah dan waktu, sehingga memberikan jangkauan pemasaran yang luas dan tak terbatas oleh waktu.

d. Meningkatkan pangsa pasar (market exposure), dimana penggunaan e-commerce memungkinkan untuk meningkatkan pangsa pasar yang semula mempunyai pangsa pasar di dalam negeri saja, dengan adanya e-commerce maka pangsa pasar terjangkau luar negeri.

(36)

2. Manfaat E-commerce bagi Konsumen

a. Memungkinkan transaksi jual beli secara langsung dan mudah (menghemat waktu dan tenaga, anda tidak perlu berkeliling mall atau toko, anda cukup meluangkan waktu sebentar dengan membuka internet dan tentu saja anda akan terhindar dari kemacetan jalan raya)

b. Proses meniadakan calo dan perantara

c. Menggunakan digital cash atau electronic cash (e-cash) (Proses belanja yang mudah, cukup memesan barang, dan pembayaran biasanya dapat melalui internet / mobile banking atau ATM dan tinggal menunggu barang dikirim)

d. Memberikan kesempatan kepada konsumen untuk mendapatkan produk atau service terbaik dari berbagai pilihan yang ada karena konsumen mendapatkan kesempatan untuk memilih berbagai jenis produk atau service secara langsung (banyak pilihan toko online yang menyediakan ragam produk yang di inginkan)

e. Memberikan kesempatan kepada konsumen yang terpisah tempat tinggalnya, dari produsen untuk berinteraksi, berdiskusi, dan bertukar pengalaman (tidak terikat tempat dan waktu)

f. Anda dapat membandingkan produk dan harga dengan toko online lainnya, sehingga lebih banyak pilihan.

(37)

3. Manfaat E-commerce bagi Masyarakat

a. Mengurangi pengangguran karena masyarakat semakin bergairah untuk berbisnis dengan cara kerja yang gampang dan tanpa modal yang besar

b. Meningkatkan daya kreativitas masyarakat

c. Semakin banyak manusia yang bekerja dan beraktifitas di rumah dengan menggunakan internet berarti mengurangi perjalanan untuk bekerja, belanja, dan aktifitas lainnya sehingga mengurangi kemacetan jalan dan mereduksi polusi udara

d. Meningkatkan daya beli dan kesempatan masyarakat untuk mendapatkan produk atau service yang terbaik karena perusahaan yang mengeluarkan produk atau service dapat menjualnya lebih murah karena biaya produksi yang rendah.

C. Beberapa Perkembangan Penting Dalam Lingkungan E-Commerce Menurut Tjiptono (2005:3-5) Sejalan dengan adanya globalisasi, banyak perkembangan dan perubahan yang terjadi. Dunia bisnis yang dulunya banyak diwarnai dengan seller’s market, kini mulai beralih ke buyer’s market. Saat ini paling tidak terdapat tiga perubahan penting yang mengarah pada semakin kuatnya posisi pasar, yaitu:

1. Perkembangan teknologi informasi yang pesat

Kemajuan yang pesat dibidang teknologi informasi menyebabkan pengelolaan produk dan merek yang sudah lama ada kini menjadi tidak mudah. Alasannya adalah bahwa saat ini konsumen telah

(38)

“dibombardir” dengan begitu banyak informasi produk dari produsen.

Di mana-mana, produsen berusaha mencegat konsumen untuk memberikan informasi mengenai produk atau mereknya melalui televesi, radio, jaringan internet melalui sosial media, informasi di pusat-pusat perbelanjaan, majalah-majalah khusus dan media cetak lainnya.

2. Pelanggan yang semakin terdidik

Konsumen masa kini memliki tuntutan yang jauh lebih besar daripada konsumen “tempo dulu”. Mereka menuntut produk berkualitas tinggi yang didukung dengan pelayanan prima dan harga yang kompetitif.

Yang menarik untuk disimak adalah bahwa tuntutan-tuntutan tersebut tidaklah bersifat statis, tetapi semakin lama semakin meningkat.

Namun disisi lain, banyak pengusaha yang tidakmenyadari apa sesungguhnya yang dibeli konsumen serta apa yang menjadi hak-hak konsumen (lihat tabel 2.1), sehingga mereka sudah merasa cukup puas dengan standar baku yang ada, yang dianggap sudah memadai.

3. Adanya pergeseran pandangan mengenai kualitas

Definisi lama mengenai kualitas adalah penyesuaian internal terhadap standar teknis kualitas, yang bersamaan dengan penyesuaian terhadap spesifikasi yang dikaitkan dengan produktivitas manufaktur. Adapun pengertian baru kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan barang, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan (konsumen). Disini,

(39)

kualitas dilihat dari sudut pandang pelanggan, bukan dari sudut pandang perusahaan.

Tabel 2.1

10 Hal yang Dibeli Konsumen dan 8 Hak Konsumen

No Yang dibeli konsumen No Hak Konsumen

1 Konsumen membeli manfaat yang melekat pada produk (baik mafaat fungsional, ekonomis, maupun psikologis) bukan produknya.

1 Hak untuk memperoleh barang dan jasa yang dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan sanitasi

2 Konsumen membeli janji penjual/produsen 2 Hak untuk dilindungi dari pemasaran produk yang berbahaya bagi kesehatan dan kehidupan 3 Konsumen membeli kredibilitas penjual/produsen 3 Hak untuk dilindungi dari merek atau iklan

yang bersifat menipu/mengelabui dan hak untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk memilih dan membeli

4 Konsumen membeli solusi dari masalah mereka 4 Hak untuk memilih barang dan jasa pada tingkat harga dan jaminan mutu yang setara 5 Konsumen membeli nama produsen/penjual, jasa

penjual, dan nama perusahaan

5 Hak untuk menyuarakan kepentingan sebagai konsumen dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan pemerintah

6 Konsumen membeli opini orang lain tentang perusahaan produsen/penjual

6 Hak untuk memperoleh ganti rugi atas barang- barang yang jelek dan pelayanan (jasa) yang buruk

7 Konsumen membeli kejelasan dan kejujuran produk produsen

7 Hak untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi seorang konsumen yang baik

8 Konsumen membeli kepastian bebas dari resiko 8 Hak untuk hidup dan bekerja pada lingkungan yang tidak tercemar dan berbahaya yang memungkinkan suatu kehidupan yang lebih manusiawi

9 Konsumen membeli kenyamanan

10 Konsumen membeli kredibilitas media tempat mengiklankan produk produsen

(40)

D. Ruang Lingkup Bisnis Online

Banyak bidang ekonomi dan bisnis yang berkembang semakin cepat berkat kemajuan teknologi internet. Internet menawarkan banyak peluang, kemudahan dan keterbukaan yang dapat mendorong terciptanya persaingan usaha yang sehat serta praktik bisnis yang jujur dan bertanggung jawab.

Kegiatan bisnis dan perdagangan melalui internet (bisnis online atau e-commerce) telah berhasil merevolusi perubahan cara bisnis di seluruh dunia. Berbeda dengan bisnis dengan cara konvensional yang mengharuskan pertemuan antara penjual dan pembeli, maka bisnis melalui jaringan internet ini lebih bersifat impersonal karena tidak harus dibutuhkan pertemuan antara penjualdan pembeli. Transaksi bisnis online cukup dilakukan melalui internet (online), sedangkan pengiriman produk dapat dilakukan melalui dunia nyata (offline). Jika produk yang ditransaksikan berbentuk (misalnya buku, sepatu, kosmetik, atau baju), maka pengiriman dilakukan melalui dunia nyata (offline) dengan bantuan perusahaan jasa kurir/ekspedisi. Di sisi lain, jika produk yang ditransaksikan berbentuk non-fisik atau data digital (misalnya buku elektronik/e-book, surat kabar elektronik/e-newspaper, program komputer/software), maka pengiriman dapat dilakukan melalui internet atau dunia maya (online). Bahkan saat ini juga sudah dikembangkan

(41)

produk digital berupa program kursus atau sekolah di dunia maya (virtual school) serta program perpustakaan digital (digital library).

Bisnis online tidak hanya berkaitan dengan jual beli produk via internet, tetapi juga dengan kegiatan pelayanan purna jual (after sales services). Perusahaan pengelola bisnis online dapat melakukan kegiatan pelayanan purna jual melalui jalur biasa (konvensional) seperti menggunakan telepon atau faksimili atau melalui jalur internet (online) dengan menggunakan surat elektronik/surel (e-mail), atau melakukan komunikasi dua arah melalui teleconference dan chatting. Dengan adanya program pelayanan purna jual, para konsumen diharapkan memiliki keinginan untuk berbelanja kembali melalui situs bisnis tersebut.

Pelayanan purna jual yang baik juga dapat mendorong para konsumen dengan sukarela menyebarkan berita positif kepada para koleganya agar berbelanja di situs yang bersangkutan.

Pada ruang lingkup bisnis online atau e-commerce dalam penelitian ini adalah Bisnis online B-to-C, yang memiliki karakteristik sebagai berikut :

a) Terbuka untuk umum, atau informasi disebarkan ke masyarakat umum.

b) Service yang diberikan bersifat umum (generic) dengan mekanisme yang dapat digunakan oleh khalayak ramai (berbasis web).

(42)

c) Servis diberikan berdasarkan permohonan (on demand) di mana konsumen melakukan inisiatif dan produsen harus siap memberikan respon sesuai dengan permohonan konsumen.

Pada bisnis online yang menerapkan model hubungan Business to Consumer (B-to-C) pihak penjual berbentuk perusahaan/korporasi sedangkan pihak pembeli adalah individu/perorangan. Yang termasuk model B-to-C ini adalah situs internet yang menyediakan tempat berdagang (Iapak), seperti yang dilakukan oleh dua perusahaan online berskala global yaitu Amazon.com clan Ebay.inc.

E. Minat Belanja Online di Kalangan Masyarakat Penikmat Internet Masa Kini

Minat beli merupakan salah satu bagian dari komponen dalam sikap konsumen mengkonsumsi suatu produk. Meldarianda dan Lisan (2010) menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan minat beli konsumen adalah suatu proses perencanaan pembelian suatu produk yang akan dilakukan oleh konsumen dengan mempertimbangakan beberapa hal, diantaranya adalah banyak unit produk yang dibutuhkan dalam periode waktu tertentu, merek, dan sikap konsumen dalam mengkonsumsi produk tersebut.

Sedangkan menurut Simamora (2002) minat beli adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan dengan sikap individu yang berminat pada suatu objek akan mempunyai kekuatan atau dorongan untuk melakukan serangkaian tingkah laku untuk mendekati atau mendapatkan objek tersebut. Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa minat beli

(43)

adalah suatu sikap dari konsumen untuk bertindak sebelum melakukan pembelian terhadap sebuah produk. Ferdinand (2002) mendefinisikan minat beli melalui indikator-indikator sebagai berikut:

1. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli produk,

2. Minat refensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain,

3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut.

Preferensi ini dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya, dan

4. Minat eksploratif, yaitu menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat produk tersebut.

Minat beli diperoleh melalui proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk persepsi. Minat beli menciptakan suatu motivasi terhadap pikiran konsumen, yang pada akhirnya ketika konsumen harus memenuhi kebutuhannya maka akan mengaktualisasikan apa yang ada di dalam pikirannya. Minat beli berhubungan dengan perasaan dan emosi, bila seseorang senang dan puas dalam membeli suatu produk maka hal itu akan memperkuat minat belinya.

Lucas dan Britt (1951) dalam Nurrahmanto (2015) mengatakan bahwa terdapat aspek-aspek dalam minat beli, antara lain :

(44)

1. Perhatian (attention). Adanya perhatian yang besar terhadap produk yang diinginkan oleh konsumen.

2. Ketertarikan (interest). Setelah adanya perhatian maka akan timbul rasa ketertarikan konsumen atas produk tersebut.

3. Keinginan (desire). Berlanjut dari ketertarikan akan timbul rasa untuk memiliki produk tersebut.

4. Keyakinan (conviction). Setelah itu akan timbul keyakinan pada diri konsumen terhadap produk tersebut yang menimbulkan tindakan akhir, keputusan (action) untuk memperolehnya melalui tindakan membeli.

Semakin pesatnya perkembangan E-commerce dalam mempengaruhi minat belanja dikalangan masyarakat masa kini, Pada tahun 2016, melalui penelitian terbaru dari YouGov (2016) mensurvei bahwa kaum muda memiliki kemungkinan lebih dari enam kali lebih besar berbelanja melalui aplikasi daripada generasi yang lebih tua. Hal tersebut dapat kita lihat pada grafik yang menunjukkan bahwa tingkat berbelanja lewat online website pada kaum dengan rentan usia 16-24 sebesar 51% , dan 25-34 sebesar 53%, dan untuk berbelanja lewat aplikasi gadget pada kaum dengan rentan usia 16-24 sebesar 35% , dan 25-34 sebesar 29%.

(45)

Gambar 2.1

Grafik berbelanja di toko menurut kategori usia

Sumber : YouGov.com, 2016

Dilihat dari hasil temuan peneliti, Kalangan Mahasiswa terutama Mahasiswa USD dinilai sebagai kaum yang sudah sangat melek teknologi, memiliki gadget pribadi, dan sudah memiliki akun-akun media sosial yang memudahkan mereka untuk berbagi informasi kepada sesamanya yang terhubung lewat internet secara luas. Selain itu, di berbagai kesempatan dilingkungan sosial, kalangan mahasiswa terutama Mahasiswa USD sering kali memperbincangkan mengenai online shop. Online shop menjadi topik perbincangan untuk menjalin komunikasi antara Mahasiswa satu dengan yang lainnya. Terlebih lagi, peneliti melihat di lingkungan tempat tinggal peneliti (kos) bahwa intensitas belanja online yang dilakukan Mahasiswa USD program studi manajemen 2016 lebih tinggi dibandingkan dengan prodi lainnya.

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Belanja Online 1. Kepercayaan konsumen

Kepercayaan pada awalnya hanya dikaji dalam bidang psikologi, karena kepercayaan berhubungan dengan sikap seseorang. Namun saat ini kepercayaan telah dikaji dalam berbagai bidang seperti sosiologi,

(46)

pemasaran, dan juga dalam konteks organisasional. Kepercayaan tidak hanya dapat diberikan kepada seseorang, tetapi juga sebuah objek.

Menurut Kramer (dalam Nurrahmanto, 2015) kepercayaan merupakan masalah yang kompleks, karena seorang individu tidak mengetahui pasti motif dan niat individu lain terhadap dirinya.

Di dalam e-commerce, kepercayaan menjadi bagian penting untuk mengubah pengunjung menjadi pembeli. Ketika melakukan belanja online, pembeli bergantung kepada janji yang diberikan oleh penjual.

Misalnya, pembeli tidak akan tahu apakah produk yang dipesan akan sesuai dengan yang diinginkan, pembeli juga harus percaya bahwa informasi pribadi yang diberikan kepada penjual tidak akan disalah- gunakan, dan apakah transaksi yang dilakukannya aman dari penipuan.

Menurut Nurrahmanto, (2015) setidaknya terdapat enam definisi kepercayaan yang relevan dengan e-commerce, diantaranya adalah :

a. Rotter (1967) mendefinisikan kepercayaan sebagai sebuah keyakinan bahwa kata atau janji seseorang dapat dipercaya dan seseorang akan memenuhi kewajibannya dalam sebuah hubungan pertukaran.

b. Morgan dan Hunt (1994) mendefinisikan bahwa kepercayaan akan terjadi apabila seseorang memiliki kepercayaan diri dalam sebuah pertukaran dengan mitra yang memiliki integritas dan dapat dipercaya.

(47)

c. Mayer et al. (1995) mendefinisikan kepercayaan adalah kemauan seseorang untuk peka terhadap tindakan orang lain berdasarkan pada harapan bahwa orang lain akan melakukan tindakan tertentu pada orang yang mempercayainya.

d. Rousseau et al. (1998) mendefinisikan kepercayaan adalah wilayah psikologis yang merupakan perhatian untuk menerima apa adanya berdasarkan harapan terhadap perhatian atau perilaku baik dari orang lain.

e. Gefen (2000) mendefinisikan kepercayaan adalah kemauan untuk membuat dirinya peka pada tindakan yang diambil oleh orang yang dipercayainya berdasarkan rasa kepercayaan dan tanggung jawab.

f. Ba dan Pavlou (2002) mendefinisikan kepercayaan adalah penilaian hubungan seseorang dengan orang lain yang akan melakukan transaksi tertentu menurut harapan orang kepercayaannya dalam suatu lingkungan yang penuh ketidakpastian.

Berdasarkan enam definisi di atas, maka dapat didefinisikan kepercayaan konsumen adalah keyakinan seorang konsumen bahwa orang lain memiliki integritas dan dapat dipercaya, serta orang yang dipercayainya akan memenuhi segala kewajibannya dalam melakukan transaksi sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut Rahmawati (2013) kepercayaan dapat dibentuk melalui tiga dimensi, yaitu :

(48)

a. Kemampuan (ability). Mengacu kepada kompetensi dan karakteristik penjual, dalam hal ini bagaimana penjual memberikan pelayanan dan keamanan dalam melakukan transaksi.

b. Kebaikan hati (benevolence). Merupakan kemauan penjual dalam memberikan kepuasan yang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak.

c. Integritas (integrity). Berkaitan dengan bagaimana perilaku penjual dalam menjalankan usahanya, apakah informasi yang diberikan kepada pembeli benar dan sesuai dengan fakta atau tidak.

2. Pengalaman berbelanja

Istilah pengalaman telah digunakan dalam berbagai cara. Definsi pengalaman dapat dibagi ke dalam dua jenis, pertama pengalaman yang mengacu pada masa lalu (mengacu pada pengetahuan dan akumulasi pengalaman dari waktu ke waktu) dan kedua mengacu pada persepsi yang sedang berlangsung, perasan, dan observasi langsung. (Same, 2012 dan Schmitt, 2010) (dalam Nurrahmanto, 2015) menjelaskan bahwa pengalaman bersifat kata benda dan kata kerja.

Pengalaman digunakan untuk menyampaikan berbagai proses, berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, dan cara dimana suatu objek mempengaruhi pikiran atau emosi seseorang melalui indera atau pikiran. Pengalaman adalah kejadian umum yang terjadi pada keadaan mental setiap individu setiap saat. Same (2012) dalam Nurrahmanto (2015).

(49)

Sedangkan menurut Schmit (2010) melihat pengalaman sebagai peristiwa yang melibatkan individu secara pribadi dan pengalaman sebagai peristiwa yang berkesan. Pengalaman merupakan persepsi yang dihasilkan ketika manusia mengkonsolidasikan informasi sensorik mereka, persepsi ini dibentuk oleh pertemuan konsumen dengan produk, jasa, dan bisnis.

Pengalaman adalah interaksi atau serangkaian interaksi, antara konsumen dan sebuah produk, perusahaan atau yang mewakili yang mengarah pada reaksi. Pengalaman ini benar-benar pribadi dan menyiratkan keterlibatan konsumen pada tingkat yang berbeda (rasional, emosional, sensoris, fisik, dan spiritual). Schmitt (2010)

Pengalaman yang dialami oleh konsumen bisa saja baik atau buruk, abadi atau sekilas, fenomena acak atau persepsi yang direkayasa.

Berdasarkan penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengalaman berbelanja konsumen adalah serangkaian interaksi pribadi konsumen yang berkesan di saat konsumen melakukan interaksi dengan sebuah produk, perusahaan atau yang mewakili yang mengarah kepada reaksi baik ataupun buruk.

Terdapat enam komponen yang terdapat dalam pengalaman konsumen Schmitt (2010) :

a. Sensorik. Penglihatan pendengaran, sentuhan, rasa, dan bau yang membangkitkan kenikmatan estetis, kegembiraan, kepuasan dan rasa keindahan.

(50)

b. Emosional. Suasana hati, perasaan dan pengalaman emosional yang membuat hubungan efektif dengan perusahaan, merek dan produk.

c. Kognitif. Pengalaman terkait dengan pemikiran dan proses kesadaran mental konsumen dalam menggunakan kreativitas mereka atau pemecahan masalah sehingga merevisi tentang asusmsi sebuah produk.

d. Pragmatis. Pengalaman yang dihasilkan dari tindakan praktis dalam melakukan sesuatu.

e. Gaya hidup. Pengalaman yang dihasilkan dari penegasan nilai-nilai dan keyakinan pribadi.

f. Relasional. Pengalaman yang muncul dari konteks hubungan sosial konsumen yang umum terjadi selama mengkonsumsi sebuah produk sebagai bagian dari komunitas untuk menegaskan identitas sosial konsumen.

Menurut Kartajaya (2004) dalam Nurrahmanto (2015) produk dan jasa harus memberikan suatu pengalaman, yaitu pengalaman fisikal, pengalaman emosional, pengalaman intelektual dan pengalaman spiritual.

a. Pengalaman fisikal. Diperoleh dari interaksi fisik manusia dengan lingkungan sekitar yang dapat merangsang seluruh panca indra manusia.

b. Pengalaman emosional. Timbul karena adanya interaksi yang membangkitkan emosi, baik emosi yang meningkatkan prestige

(51)

maupun emosi yang memperlihatkan identitas dan ekspresi manusia.

c. Pengalaman intelektual. Pengalaman karena adanya kemampuan untuk menggali potensi dan aktualisasi diri.

d. Pengalaman spiritual. Pengalaman yang diperoleh melalui sisi religius manusia.

3. Kemudahan Transaksi

Pada saat pertama kali berbelanja secara online biasanya calon pembeli akan merasa kesulitan karena faktor ketidak-tahuan dalam melakukan belanja online. Pembeli yang merasa kesulitan biasanya akan mengurungkan niatnya melakukan untuk berbelanja online.

Menurut Davis (1989) mengemukan bahwa kemudahan merupakan persepsi seseorang yang tidak direpotkan dengan berbagai kegiatan lain dalam melakukan transaksi. Persepsi transaksi online mengacu pada persepsi individu akan mudahnya transaksi belanja online yang dilakukan. Dalam melakukan transaksi, calon konsumen hanya melakukan sedikit usaha, tidak terlalu ribet sehingga memudahkan calon konsumen tersebut melakukan keputusan pembelian produk melalui internet. Persepsi kemudahan transaksi tersebut dapat berupa prosedur pemesanan yang sederhana, prosedur pembayaran yang variatif dan mudah dilakukan, proses pembelian yang informatif dan menyenangkan serta proses pengiriman produk yang cepat dan tepat.

Selain kemudahan dioperasionalisasikan juga berkaitan dapat dikurangi

(52)

usaha seseorang (baik dari segi biaya, waktu dan tenaga) dalam melakukan transaksi. Kemudahan dalam berbelanja online akan menyebabkan calon konsumen tidak mengalami kesulitan dalam berbelanja online (2017)

Dalam model penerimaan teknologi, faktor persepsi terhadap kemudahan untuk menggunakan teknologi dan persepsi terhadap daya guna sebuah teknologi berhubungan dengan sikap seseorang pada penggunaan teknologi tersebut. Sikap pada penggunaan sesuatu adalah sikap suka atau tidak suka terhadap penggunaan suatu produk. Sikap suka atau tidak suka terhadap suatu produk ini dapat digunakan untuk memprediksi perilaku minat seseorang untuk menggunakan suatu produk atau tidak menggunakannya (minat atau tidak).

Dimensi persepsi kemudahan, Davis (1989) membagi dimensi persepsi kemudahan penggunaan menjadi berikut:

Tabel 2.2 Dimensi Persepsi Kemudahan

Dimensi Indikator

Mudah dipelajari  Tidak ada kesulitan dalam mempelajari

 Mudah mendapatkan yang diinginkan Mudah

dioperasikam

 Interaksi jelas dan dapat dimengerti

 Interaksi bersifat fleksibel Mudah menjadi

mahir

 Semakin sering mengakses akan menjadi semakin mahir menggunakan

 Objek mudah digunakan Sumber: Davis, 1989

(53)

G. Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhadap Dunia Usaha

Pada era informasi sekarang ini berjualan tidak perlu lagi tanah dan bangunan khusus atau outlet yang tentunya membutuhkan modal lebih banyak. Saat ini sudah sangat populer berjualan di media internet atau Online shopping. Pengertian Online Shopping sendiri adalah sebuah media yang memungkinkan customer membeli barang atau jasa secara langsung dari seller dengan media internet menggunakan web browser. Dengan adanya online shop kita sebagai pembeli bisa belanja berbagai macam kebutuhan tanpa harus bertatap muka dengan penjual. Semakin majunya teknologi maka online shopping yang memiliki website khusus untuk penjualan bersaing pula dengan situs lain yang bukan situs resmi untuk penjualan khusus, sebut saja sosial media seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan Youtube.

Menurut Tjiptono (2005:3) Persaingan bisnis yang semakin ketat antar perusahaan tidak akan pernah berakhir. Untuk itu, setiap perusahaan mutlak harus memiliki keunggulan kompetitif yang unik. Namun sejalan dengan perkembanagan teknologi saat ini, persaingan yang terjadi telah bergerak ke arah yang disebut hypercompetition, D’aveni dan Gunther (1994), yaitu kondisi persaingan yang tidak ada keunggulan kompetitif perusahaan yang berumur panjang. Semuanya akan hilang, berubah atau berkembang dalam waktu yang relatif cepat. Kenyataan ini mengharuskan

(54)

perusahaan untuk selalu berinisiatif dalam mengembangkan hal-hal baru, bukan sekedar mempertahankan keunggulan yang sudah ada.

Berikut disajikan tabel situs online shop favorite di Indonesia dari sumber sharing vision yang mewadahi para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi secara mudah dan cepat tanpa repot hanya cukup di depan laptop, tab atau smartphone selama perangkat tersebut terhubung dengan internet.

Gambar 2.2

Tempat Belanja Online Favorite (2015)

H. Penelitian Sebelumnya

Penelitian mengenai minat beli konsumen pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu, antara lain :

1. Penelitian oleh Nurrahmanto (2015) dengan judul “Pengaruh Kemudahan Penggunaan, Kenikmatan Berbelanja, Pengalaman Berbelanja dan Kepercayaan Konsumen terhadap Minat Beli Konsumen di Situs Jual Beli Online Bukalapak.com”. Penelitian ini menggunakan

(55)

kemudahan penggunaan, kenikmatan berbelanja, pengalaman berbelanja, dan kepercayaan konsumen sebagai variabel independen;

dan minat beli sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dari masing-masing variabel dilakukan bertujuan untuk mengetahui gambaran deskriptif mengenai responden yang terdapat dalam proses penelitian.

2. Penelitian Alfatris (2014) dengan judul “Pengaruh Harga, Promosi, Kualitas Produk, dan Kepercayaan (Trust) Terhadap Minat Beli K-Pop (Korean Pop) Album dengan Sistem Pre-Order Secara Online (Studi pada Online Shop Kordo Day Shop (CORP) Semarang)”. Penelitian ini menggunakan harga, promosi, kualitas produk, dan kepercayaan sebagai variabel independen; dan minat beli sebagai variabel dependen.

Penelitian ini menggunakan analisis linier berganda dengan hasil kepercayaan berpengaruh signifikan positif terhadap minat beli (H4) 3. Penelitian oleh Wijaya (2012) dengan judul “Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Minat Beli di Online Shop Specialis Guess”. Penelitian ini menggunakan produk, harga, promosi, kemudahan dan kepercayaan sebagai variabel independen; dan minat beli online sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan analisis linier berganda dengan hasil kemudahan tidak berpengaruh terhadap minat beli online (H4) dan kepercayaan berpengaruh terhadap minat beli online (H5)

(56)

I. Kerangka berpikir dan Pengembangan Hipotesis

1. Pengaruh Kepercayaan Konsumen dengan Minat Beli

Menurut Ling (2010) ia berpendapat bahwa kepercayaan diperlukan ketika melakukan pemesanan secara online dan ketika pembeli mengirimkan data pribadinya kepada penjual. Ketika seseorang akan melakukan transaksi secara online, hal pertama yang menjadi pertimbangan mereka adalah apakah penjual dan situs yang dikunjunginya aman serta dapat dipercaya atau tidak. Karena tidak adanya tatap muka, maka kepercayaan pembeli terhadap penjual maupun situs jual beli online menjadi hal utama. Hanya konsumen yang memiliki kepercayaan yang mau melakukan transaksi secara online, tanpa adanya kepercayaan mustahil transaksi e-commerce akan terjadi.

Kepercayaan terhadap penjual terletak melalui kemampuan penjual memberikan pelayanan kepada pembeli, kemauan penjual untuk memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak dan bagaimana perilaku penjual dalam menjalankan usahanya. Rahmawati (2013) kepercayaan pembeli terhadap situs jual beli online terletak pada popularitas situs tersebut, semakin popular situs tersebut pembeli akan merasa lebih yakin untuk berbelanja disana. Karena situs jual beli online bersifat umum, konsumen terkadang tidak yakin terhadap penjual dan hasil dari transaksinya. Oleh karena itu, situs jual beli online harus bertindak untuk menghilangkan ketidakyakinan konsumen,

(57)

tindakan ini berupa pemberian keamanan dan membangun kepercayaan melalui interaksi kepada konsumen. Terbangunnya rasa percaya konsumen dan adanya rasa aman terhadap penjual maupun situs jual beli online dapat meningkatkan minat beli konsumen di situs tersebut.

Ling (2010).

Berdasarkan teori dan uraian diatas, maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :

H1 : Semakin Tinggi Kepercayaan Konsumen (X1) Maka Semakin Tinggi Minat Beli (Y)

2. Pengaruh Pengalaman Berbelanja dengan Minat Beli

Beberapa peneliti berpendapat bahwa interaksi konsumen secara langsung dengan penjual di toko dapat menggerakkan konsumen untuk lebih memilih berbelanja di toko konvensional daripada secara online.

Diasumsikan bahwa semakin tinggi pengalaman dalam berbelanja secara langsung di toko konvensional, semakin sedikit kemungkinan konsumen untuk beralih berbelanja secara online. Verhargen (2007).

Namun pendapat ini diragukan oleh Bhatnagar dalam dalam Verhargen (2007) pengalaman berbelanja di toko konvensional berdampak positif pada persepsi konsumen secara online sebagai titik acuan. Berbelanja secara langsung di toko konvensional dan secara online, keduanya berperan penting terhadap minat beli seorang konsumen dalam berbelanja secara online.

Referensi

Dokumen terkait

Pada putusan ini masih hanya mempertimbangkan perbedaan rezim pendaftaran sebuah Desain Industri dengan Hak Cipta.Isi putusan tersebut hanya membedakan antara

[r]

Di sisi lain, tidak ditemukan kunjungan lebah pada bunga tomat baik pada kelompok kontrol maupun perlakuan, sehingga seluruh data kunjungan serangga penyerbuk hanya berasal

[r]

Data yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian ini adalah data yang diperoleh dari tes awal dan tes akhir pada pengaruh latihan daya tahan di air dengan pengaruh

Sebagai guru kita tentunya bangga dengan hasil prestasi siswa yang memuaskan sesuai dengan tujuan yang direncanakan, dengan menggunakan metode yang tepat dalam

Pertamina (Persero) S&D Reg IV - DPPU Migas Distribusi Kota Balikpapan Kalimantan Timur.. Pertamina (Persero) S&D Reg IV - TBBM

Penelitian yang juga telah dilakukan oleh Yulistiani (2009) di Purwokerto tentang perbandingan perawatan metode kanguru dengan perawatan inkubator terhadap