BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Kerangka Berpikir
Bentuk molekul merupakan salah satu topik kimia SMA Kelas X yang cukup sulit dipelajari. Hal ini karena konsep bentuk molekul yang bersifat abstrak. Salah satu alat bantu yang mampu membantu dalam memvisualisasikan konsep yaitu alat peraga. Salah satu dari hasil perkembangan teknologi yang mampu menghasilkan alat peraga adalah 3D Printer. Alat ini mampu menghasilkan produk dalam bentuk tiga dimensi sesuai desain yang dibuat. Oleh sebab itu, dilakukannya pengembangan alat peraga bentuk molekul anorganik berbasis 3D Printer. Pengembangan produk ini menggunakan model ADDIE yang terdiri atas lima tahap yaitu analisis (Analusis), desain (Design), pengembangan (Development), implementasi (Implementation), dan evaluasi (Evaluation). Metode analisis data yang
dilakukan meliputi koefisien validitas Aiken’s V, SPSS 26, Rasch, dan deskriptif. Setelah semua tahapan terlaksana, diperoleh produk yang memiliki kriteria valid, praktis, dan efektif, serta mampu memperkuat pemahaman konsep peserta didik.
Gambar 2.10 Kerangka Berpikir Penelitian Kemajuan
Teknologi
Pengembangan Model Bentuk Molekul Anorganik Berbasis 3D
Printer menggunakan model
Produk yang Valid Uji Keterbacaan
Produk
17 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk berupa model molekul anorganik berbasis 3D Printer yaitu Research and Development (R&D). Jenis penelitian ini merupakan model penelitian yang digunakan untuk menemukan, mengembangkan, dan memvalidasi suatu produk (Sugiyono, 2009: 297). Dengan mengacu pada metode tersebut, produk yang dihasilkan berupa model molekul anorganik berbasis 3D Printer diharapkan memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif untuk diterapkan dalam uji coba.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini mengadaptasi model pengembangan ADDIE yang terdiri atas lima tahapan yang meliputi Analysis (Analisis), Design (Desain), Development (Pengembangan), Implementation (Implementasi), dan Evaluation (Evaluasi) (Lee & Owens, 2004:3). Tahapan pengembangan produk berupa model bentuk molekul anorganik berbasis 3D Printer adalah sebagai berikut.
1. Tahap Analisis (Analysis)
Pada tahap ini, dilakukan pengumpulan informasi yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengembangan produk. Pengumpulan informasi yang dilakukan meliputi analisis materi, kebutuhan, dan lingkungan.
a. Analisis Materi
Pada tahap ini, dilakukan pengkajian terhadap topik kimia sesuai dengan silabus kimia tahun ajaran 2020/2021 pada topik bentuk molekul yang meliputi KD 3.7 yaitu menganalisis teori jumlah pasangan elektron di sekitar inti atom (Teori Domain Elektron) untuk menentukan bentuk molekul dan KD 4.7 yaitu meramalkan bentuk
molekul berdasarkan teori jumlah pasangan elektron disekitar inti atom.
b. Analisis Kebutuhan
Pada tahap ini, dilakukan identifikasi terhadap kebutuhan pembelajaran kimia khususnya pada topik bentuk molekul.
c. Analisis Lingkungan
Pada tahap ini, dilakukan pengumpulan informasi mengenai ketersediaan alat peraga di SMA maupun di pasaran yang sesuai untuk membantu proses pembelajaran pada topik bentuk molekul.
2. Tahap Desain (Design) a. Desain Atom
Tahap desain dilakukan dengan membuat rancangan atom dalam bentuk tiga dimensi dengan memanfaatkan program AutoCAD.
Aplikasi ini merupakan perangkat lunak CAD (Computer Aided Design) yang dapat membuat desain objek baik secara dua dimensi maupun tiga dimensi (EMS, 2015:1-2). Atom dirancang dalam bentuk bola dengan perbandingan ukuran atom disesuaikan dengan data jari-jari atom. Berikut adalah tahapan pembuatan desain atom menggunakan program AutoCAD.
1) Pembuatan Garis Utama
Garis utama dibuat menggunakan fitur line dengan ukuran sesuai desain yang dibuat. Garis utama ini digunakan sebagai dasar dari letak lubang yang akan digunakan untuk membentuk ikatan dengan atom lain. Bentuk garis ini menyerupai bentuk molekul yang akan dibuat. Setelah itu, dilakukan pengecekan sudut antar garis menggunakan fitur angular untuk memastikan bahwa sudut ikatan yang akan dibuat akan sesuai dengan teori.
Gambar 3.1 Contoh Pembuatan Garis Utama pada Bentuk Molekul Trigonal Planar
2) Pembuatan Tabung berdasarkan Garis Utama
Pembuatan tabung bertujuan sebagai lubang yang nantinya ada pada molekul yang akan dibuat. Tabung dibuat menggunakan fitur cylinder pada menu 3D tools dengan panjang sesuai garis utama dan memiliki diameter sesuai dengan ukuran lubang yang akan dibuat.
Gambar 3.2 Contoh Pembuatan Tabung pada Bentuk Molekul Trigonal Planar secara Dua Dimensi
Desain tabung yang telah dibuat akan berbentuk dua dimensi. Oleh karena itu, pada bagian visualize yang sebelumnya berupa 2D wireframe harus diubah menjadi conceptual untuk menghasilkan gambar dalam bentuk tiga dimensi. Tabung yang dihasilkan secara tiga dimensi dapat dilihat pada Gambar 3.3
Gambar 3.3 Contoh Pembuatan Tabung pada Bentuk Molekul Trigonal Planar secara Tiga Dimensi
3) Pembuatan Atom
Pada tahap ini, objek berupa bola dibuat untuk menggambarkan atom. Atom ini dapat dibuat menggunakan fitur sphere pada menu 3D tools. Ukuran atom yang dibuat disesuaikan dengan perbandingan jari-jari atom. Posisi bola yang dibuat tepat pada pusat garis utama.
Gambar 3.4 Contoh Pembuatan Bola pada Bentuk Molekul Trigonal Planar secara Dua Dimensi
Desain atom yang telah dibuat akan berbentuk dua dimensi. Oleh karena itu, pada bagian visualize yang sebelumnya berupa 2D wireframe harus diubah menjadi conceptual untuk menghasilkan gambar dalam bentuk tiga dimensi. Bentuk atom yang dihasilkan secara tiga dimensi dapat dilihat pada Gambar 3.5
Gambar 3.5 Contoh Pembuatan Atom pada Bentuk Molekul Trigonal Planar secara Tiga Dimensi
4) Pembuatan Lubang pada Atom
Lubang dibuat sebagai tempat terbentuknya ikatan dengan atom lain dan dapat juga digunakan sebagai tanda terdapatnya PEB.
Lubang tersebut dibuat dengan cara menghilangkan tabung dan
garis utama menggunakan fitur subtract, sehingga diperoleh atom yang memiliki lubang sesuai dengan ukuran dan posisi dari objek yang dihapus.
Gambar 3.6 Contoh Lubang Atom pada Bentuk Molekul Trigonal Planar secara Dua Dimensi
Desain atom yang telah diberikan lubang akan berbentuk dua dimensi. Oleh karena itu, pada bagian visualize yang sebelumnya berupa 2D wireframe harus diubah menjadi conceptual untuk menghasilkan gambar dalam bentuk tiga dimensi. Bentuk atom yang telah diberikan lubang secara tiga dimensi dapat dilihat pada Gambar 3.7.
Gambar 3.7 Contoh Lubang Atom pada Bentuk Molekul Trigonal Planar secara Tiga Dimensi
b. Desain Ikatan (Stick)
Desain ikatan (stick) dibuat dalam bentuk tiga dimensi dengan memanfaatkan program AutoCAD. Ikatan ini dibuat melalui dua tahap yaitu pembuatan tabung menggunakan fitur cylinder dan bola menggunakan fitur sphere pada kedua ujung tabung. Panjang ukuran ikatan yang dibuat yaitu 30 mm dengan diameter sebesar 2,8 mm.
Panjang ikatan yang dihasilkan dapat dilihat kembali menggunakan
fitur linear. Diameter dari tabung dan bola yang dihasilkan dapat dilihat menggunakan fitur diameter.
Gambar 3.8 Desain Ikatan (Stick) secara Dua Dimensi
Desain ikatan (stick) yang telah diberikan lubang akan berbentuk dua dimensi. Oleh karena itu, pada bagian visualize yang sebelumnya berupa 2D wireframe harus diubah menjadi conceptual untuk menghasilkan gambar dalam bentuk tiga dimensi. Bentuk atom yang telah diberikan lubang secara tiga dimensi dapat dilihat pada Gambar 3.9.
Gambar 3.9 Desain (Stick) secara Tiga Dimensi c. Desain Kit
Kit ini dibuat menggunakan triplek dengan ketebalan 4 mm yang terdiri atas 4 bagian yang yaitu kotak dasar, kotak penutup, sekat, dan penutup sekat. Kotak dasar dibuat dengan ukuran panjang 195 mm, lebar 95 mm, dan tinggi 40 mm. Kotak penutup dibuat dengan ukuran panjang 205 mm, 105 mm dan tinggi 45 mm. Desain kotak dasar dan kotak penutup yang dibuat menggunakan Microsoft Word.
Gambar 3.10 Desain Kotak Dasar
Gambar 3.11 Desain Kotak Penutup
Kotak dasar ini berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan produk.
Kotak penutup dibuat sedikit lebih besar daripada kotak dasar dengan tujuan supaya dapat menutup dengan baik.
Bagian selanjutnya yaitu pembuatan sekat dalam kotak dasar menggunakan triplek (ketebalan 4 mm) dengan ukuran yang dapat dilihat pada Gambar 3.12.
Gambar 3.12 Rancangan Pembuatan Sekat pada Kotak Dasar Sekat ini dibuat untuk memisahkan setiap bagian produk yang akan dimasukkan supaya lebih rapi dan teratur.
Bagian selanjutnya yaitu pembuatan penutup sekat menggunakan triplek (ketebalan 4 mm). Ukuran penutup sekat dapat dilihat pada Gambar 3.13.
40 mm
195 mm
205 mm
45 mm
32 mm 25 mm25 mm30 mm 27 mm 25 mm 23 mm 20 mm 18 mm 15 mm 10 mm
75 mm 53 mm
10 mm
15 mm
Gambar 3.13 Desain Penutup Sekat
Penutup sekat ini dibuat untuk menahan produk yang ada di setiap sekatnya supaya tidak tumpah dan tetap tertata dengan baik.
d. Desain Sampul Kit
Desain stiker kit dibuat menggunakan aplikasi Corel Draw. Aplikasi ini merupakan aplikasi yang dapat digunakan untuk menggambar objek secara dua dimensi dengan mudah tanpa dibatasi besar ukuran objeknya dan mampu memberikan kualitas gambar yang baik (Sulianta, 2011: 1). Stiker ini dibuat untuk memberikan sampul identitas pada kit serta melabeli penutup sekat supaya mempermudah dalam mengetahui identitas isi dari kit tersebut.
Gambar 3.14 Desain Sampul Kit
Gambar 3.15 Desain Stiker pada Penutup Sekat 146 mm
146 mm
50 mm30 mm 24 mm
88 mm
3. Tahap Pengembangan (Development)
Pengembangan dilakukan dengan merealisasikan desain yang telah dibuat menjadi produk. Hasil akhir pada tahap ini adalah sebuah produk yang akan diujicobakan.
a. Pencetakan Produk
Pada tahap ini, desain yang telah dibuat dicetak menggunakan 3D Printer. Daftar atom yang akan dibuat beserta ukurannya dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Daftar Atom yang Dibuat Beserta Ukurannya (ChemLibre, 2020)
No Atom Jari-jari Atom (pm)
Ukuran Desain Bola
(diameter) Jumlah
1 H 37 6 mm 6
2 Be 112 16 mm 1
3 B 85 11 mm 1
4 N 70 8.5 mm 1
5 O 73 10 mm 3
6 F 72 9 mm 29
7 Si 118 18 mm 1
8 P 110 15 mm 1
9 S 103 14 mm 3
10 Cl 99 13 mm 12
11 Br 114 17 mm 1
12 Xe 131 20 mm 2
Jumlah 61
Proses pencetakan produk menggunakan 3D Printer. Tahapan pencetakan produk menggunakan 3D Printer dapat dilihat pada Gambar 3.16.
Persiapan alat 3D Printer
Gambar 3.16 Proses Pencetakan Atom menggunakan 3D Printer b. Penghalusan Produk
Produk yang telah dibuat kemudian dirapikan dan dihaluskan menggunakan benda tajam seperti tang potong dan menggunakan api keci. Tang pemotong digunakan untuk menghilangkan bagian kasar pada produk yang diperoleh, sementara itu nyala api digunakan untuk
Proses pencetakan
menggunakan 3D Printer ketika dilihat dari kejauhan
Proses pencetakan
menggunakan 3D Printer ketika dilihat lebih dekat
Produk yang telah selesai dicetak
Proses pencetakan
menggunakan 3D Printer ketika dilihat dari kejauhan
menghilangkan serat halus pada produk. Berikut adalah proses penghalusan produk yang dilakukan.
Gambar 3.17 Proses Penghalusan Produk c. Pewarnaan Produk
Produk yang sudah dicetak kemudian diberikan warna sesuai dengan referensi yang diperoleh. Pewarnaan produk dilakukan menggunakan cat semprot.
Tabel 3.2 Daftar Warna Atom (Helmenstine, 2020) No Atom Kode warna
(RGB) Warna
1 H [255,255,255]
2 Be [194,255,0]
3 B [255,181,181]
4 N [48,80,248]
5 O [255,13,13]
6 F [144,224,80]
7 Si [240,200,160]
8 P [255,128,0]
9 S [255,255,48]
10 Cl [31,240,31]
11 Br [166,41,41]
12. Xe [66,158,176]
Tahapan yang dilakukan dalam proses pewarnaan produk dapat dilihat pada Gambar 3.18.
Penghalusan produk
menggunakan tang pemotong
Penghalusan produk menggunakan nyala api
Gambar 3.18 Proses Pewarnaan Produk
d. Pengemasan
Produk yang dihasilkan dikemas menggunakan kotak yang terbuat dari kayu dan diberi lembar petunjuk penggunaan alat. Bagian dalam kotak dibuat sekat untuk memisahkan antara atom pusat, atom pendamping, dan ikatan. Tahapan pengemasan yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 3.19.
Produk yang telah dicetak, kemudian ditusukkan pada gabus menggunakan tusuk sate untuk mempermudah proses penyemprotan cat
Produk diwarnai menggunakan cat semprot pada ruangan terbuka
Produk yang telah dicat, kemudian didiamkan ± 1 jam hingga kering
Pemberian busa pada setiap sekat supaya atom yang ada pada kotak memiliki ketinggian yang sama
Gambar 3.19 Proses Pengemasan Produk e. Validasi
Pada tahap ini, dilakukan pengujian untuk mengetahui kelayakan produk yang dikembangkan dan mendapat saran perbaikan produk
Pengemasan akhir produk (tampak dalam)
Pengemasan akhir produk (tampak luar)
Atom yang telah dibuat dimasukkan ke dalam sekat yang telah ditentukan
Pemberian stiker pada penutup sekat dan penutup kotaknya
awal sebelum diujikan kepada peserta didik. Validator pada penelitian ini terdiri atas dua dosen Prodi Pendidikan Kimia Universitas Sanata Dharma dan dua guru kimia SMA Negeri 1 Kalasan.
4. Tahap Implementasi (Implementation)
Tahap ini dilakukan ketika hasil validasi menyatakan bahwa produk layak untuk diujicobakan. Uji coba dilakukan dua tahap yaitu uji keterbacaan produk dan lapangan.
a. Uji Keterbacaan Produk
Tahap ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keterbacaan produk kepada peserta didik. Uji coba terbatas dilakukan pada peserta didik kelas XI sebanyak tiga peserta didik dengan tingkat kemampuan berbeda.
b. Uji Coba Lapangan
Uji coba produk kepada peserta didik di SMA dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya pemahaman konsep peserta didik. Produk yang dihasilkan diterapkan selama uji coba lapangan. Tahapan uji coba lapangan diawali dengan kegiatan pretest yang dilakukan secara daring dengan memanfaatkan google form. Kegiatan selanjutnya yaitu uji coba produk yang dilakukan secara luring dan dilakukan bergantian setiap kelompok. Pada saat uji coba, peneliti menggunakan dua observer yang membantu dalam mengamati kemampuan pemahaman konsep peserta didik berdasarkan instrumen yang disiapkan. Uji coba ini ditutup dengan pretest yang dilakukan secara daring melalui google form. Uji coba lapangan dilakukan di satu kelas X SMA Negeri 1 Kalasan yang beranggotakan 35 peserta didik.
5. Tahap Evaluasi (Evaluation)
Tahap ini merupakan proses untuk menilai produk yang dihasilkan mampu memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif, serta mengetahui pengaruh penggunaan produk terhadap kemampuan pemahaman konsep
peserta didik. Evaluasi dilakukan berdasarkan hasil validasi, uji keterbacaan produk, dan uji coba lapangan.
C. Variabel Penelitian
Penelitian ini berfokus pada pengembangan produk berupa model bentuk molekul anorganik berbasis 3D Printer. Dalam uji coba produk, variabel yang diukur adalah pemahaman konsep peserta didik.
D. Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua peserta didik SMA Negeri 1 Kalasan pada semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021.
1. Uji Keterbacaan Produk
Pada penelitian ini, sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik ini merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Anshori & Iswati, 2017: 113). Sampel diambil dari peserta didik kelas XI di SMA Negeri 1 Kalasan sebanyak 3 peserta didik yang dipilih berdasarkan rekomendasi dari guru kimia di sekolah tersebut. Kriteria sampel yang digunakan terdiri atas satu peserta didik dengan kemampuan kognitif yang tinggi, satu peserta didik dengan kemampuan kognitif sedang, dan satu peserta didik dengan kemampuan kognitif yang rendah.
2. Uji Coba Lapangan
Pada penelitian ini, sampel dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Teknik ini merupakan teknik pengambilan sampel dari anggota populasi yang dilakukan secara acak tanpa mempertimbangkan strata dalam populasi tersebut (Anshori & Iswati, 2017: 110). Sampel yang terpilih bersifat homogen berdasarkan hasil analisis SPSS pada nilai PAS kimia kelas X semester gasal tahun ajaran 2020/2021, sehingga sampel yang digunakan dapat merepresentasikan seluruh populasi kelas X di SMA Negeri 1 Kalasan (Gunawan, 2020: 68-73). Pada penelitian
ini, sampel diambil dari satu kelas X (35 peserta didik) dari populasi yang homogen.
E. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober dan Desember 2020 di SMA Negeri 1 Kalasan.
F. Metode Pengumpulan Data 1. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan salah satu guru kimia di SMA Negeri 1 Kalasan. Data yang diperoleh dari wawancara meliputi karakteristik peserta didik, ketersediaan alat peraga, dan kebutuhan guru dalam pembelajaran kimia.
2. Pengisian Lembar Validasi
Validator terdiri atas dua dosen Pendidikan Kimia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan dua guru SMA Negeri 1 Kalasan. Validator memberikan saran terhadap produk berupa model bentuk molekul anorganik berbasis 3D Printer dan instrumen yang dikembangkan.
Setelah melakukan validasi, diperoleh tingkat validitasnya.
3. Pengisian Angket
Angket diberikan kepada peserta didik untuk mengetahui nilai kebermanfaatan alat peraga bentuk molekul anorganik berbasis 3D Printer dalam memahami konsep bentuk molekul. Angket yang digunakan ada dua yaitu angket keterbacaan produk dan angket respon peserta didik terhadap produk.
4. Tes
Tes yang diberikan berupa pretest dan posttest yang terdiri atas empat soal uraian untuk mengetahui perkembangan pemahaman konsep peserta didik setelah melaksanakan proses pembelajaran kimia pada topik bentuk molekul. Selain itu, selama pembelajaran juga diberikan soal uraian sebanyak satu soal.
5. Observasi
Observasi dilakukan selama proses pembelajaran kimia pada topik bentuk molekul dengan bantuan dua observer untuk mengamati ketercapaian indikator pemahaman konsep peserta didik melalui lembar observasi pemahaman konsep.
G. Instrumen Penelitian 1. Lembar Wawancara
Lembar wawancara merupakan lembar yang digunakan sebagai acuan dalam pengumpulan data saat wawancara dengan narasumber.
Wawancara ini perlu dilakukan untuk memperoleh informasi yang diperlukan sebagai data untuk mencapai tujuan penelitian (Rosaliza, 2015). Instrumen ini berisikan pertanyaan mengenai kondisi peserta didik selama pembelajaran kimia terutama pada topik bentuk molekul.
Pertanyaan yang digunakan juga mencakup kebutuhan guru dan peserta didik selama melaksanakan pembelajaran kimia serta berkaitan dengan fasilitas yang dapat menunjang pembelajaran pada topik bentuk molekul.
Lembar wawancara secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3.
2. Lembar Validasi
a. Lembar Validasi Produk
Pada penelitian ini dilakukan validasi produk berupa model molekul anorganik berbasis 3D Printer. Validasi ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari produk sebelum diimplementasikan pada kegiatan pembelajaran kimia di SMA. Lembar ini disusun menggunakan skala Likert dengan kriteria penilaian, yaitu (1) tidak baik, (2) kurang baik, (3) baik, atau (4) sangat baik (Duli, 2019: 77-78). Komponen penilaian terdiri atas 16 butir mencakup tampilan produk, kepraktisan produk, ketahanan produk, keamanan produk, kemudahan penggunaan produk, dan kesesuaian produk dengan topik pembelajaran. Komponen penilaian tersebut disesuaikan dengan
indikator alat peraga yang baik (Asmaningrum, 2017). Lembar validasi produk dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 7.
b. Lembar Validasi Instrumen
1) Lembar Validasi Angket Keterbacaan Produk, Lembar Observasi Pemahaman Konsep Peserta Didik, dan Angket Respon Peserta Didik terhadap Produk
Pada penelitian ini dilakukan validasi angket keterbacaan produk, lembar observasi pemahaman konsep, dan angket respom peserta didik terhadap produk. Validasi ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari angket sebelum digunakan saat uji keterbacaan produk. Instrumen ini disusun berdasarkan skala Likert dengan kriteria penilaian, yaitu (1) tidak setuju, (2) kurang setuju, (3) setuju, atau (4) sangat setuju (Duli, 2019: 77-78). Komponen penilaian terdiri atas sembilan butir yang dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu isi dan tujuan, konstruksi, dan bahasa sesuai dengan kriteria angket yang baik (Mukhtazar, 2020: 76-77).
Lembar validasi angket keterbacaan produk dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 9, lembar validasi lembar observasi pemahaman konsep peserta didik pada Lampiran 15, dan lembar validasi angket respon peserta didik terhadap produk pada Lampiran 17.
2) Lembar Validasi Butir Soal Pretest dan Posttest dan Butir Soal Selama Uji Coba
Pada penelitian ini dilakukan validasi butir soal pretest dan posttest. Validasi ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan soal pretest dan posttest sebelum digunakan dalam penelitian.
Instrumen ini disusun berdasarkan skala Likert dengan kriteria penilaian, yaitu (1) tidak setuju, (2) kurang setuju, (3) setuju, atau (4) sangat setuju (Duli, 2019: 77-78). Komponen penilaian terdiri atas 8 butir yang dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu materi,
konstruksi, dan bahasa sesuai dengan kriteria soal yang baik (Hamid, 2019:63). Lembar validasi butir soal pretest dan posttest dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 11 dan lembar validasi butir soal selama uji coba dapat dilihat pada Lampiran 13.
3. Instrumen
a. Angket Keterbacaan Produk
Pada penelitian ini menggunakan instrumen berupa angket keterbacaan produk untuk mengetahui tingkat keterbacaan produk pada sampel yang memiliki tingkat kemampuan kognitif yang berbeda. Instrumen ini terdiri atas 13 butir pernyataan yang disesuaikan dengan kriteria alat peraga yang baik (Asmaningrum, 2017). Angket keterbacaan produk dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 19.
b. Butir Soal Pretest dan Posttest
Pada penelitian ini menggunakan instrumen berupa butir soal pretest dan posttest coba yang terdiri atas empat butir soal yang akan dikerjakan secara individu. Butir soal dibuat berdasarkan topik bentuk molekul yang disesuaikan dengan indikator pemahaman konsep peserta didik (Anderson & Krathwohl, 2010: 106). Butir soal pretest dan posttest dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 22.
c. Butir Soal selama Uji Coba
Pada penelitian ini menggunakan instrumen berupa butir soal selama uji coba yang terdiri atas satu soal yang berisikan 14 senyawa yang berbeda dan dikerjakan secara berkelompok (beranggotakan 7 peserta didik). Soal dibuat berdasarkan topik bentuk molekul yang disesuaikan dengan indikator pemahaman konsep peserta didik dan diarahkan untuk menggunakan produk berupa model bentuk molekul anorganik berbasis 3D Printer dalam proses menjawab soal (Anderson & Krathwohl, 2010: 106). Butir soal selama iji coba dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 25.
d. Lembar Observasi Pemahaman Konsep Peserta Didik
Pada penelitian ini dilakukan observasi untuk mengamati kemampuan pemahaman konsep pada peserta didik selama proses pembelajaran.
Terdapat 7 butir pernyataan yang disusun berdasarkan indikator pemahaman konsep yang akan digunakan sebagai acuan ketercapaian pemahaman konsep peserta didik selama proses pembelajaran.
Lembar ini diisi oleh observer untuk mengamati ketercapaian indikator pemahaman konsep pada masing-masing peserta didik.
Instrumen ini menggunakan skala Guttman dengan kriteria penilaian, yaitu (0) tidak dan (1) ya (Duli, 2019: 79). Lembar observasi pemahaman konsep dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 27.
e. Angket Respon Peserta Didik terhadap Produk
Pada penelitian ini digunakan instrumen berupa angket respon peserta didik terhadap produk digunakan untuk mengukur manfaat produk dalam proses pembelajaran. Instrumen ini terdiri atas 12 butir pernyataan yang disesuaikan dengan kriteria alat peraga yang baik (Asmaningrum, 2017). Skala penilaian yang digunakan didasarkan skala Likert dengan kriteria penilaian, yaitu (1) tidak setuju, (2) kurang setuju, (3) setuju, atau (4) sangat setuju (Duli, 2019: 77-78).
Angket respon peserta didik terhadap produk dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 29.
H. Metode Analisis Data
1. Analisis Transkrip Hasil Wawancara
Proses wawancara dilakukan dalam dua tahap yaitu wawancara secara luring yang dilakukan di SMA Negeri 1 kalasan dan dilanjutkan melalui Whatsapp untuk melengkapi data atau informasi yang belum sempat terjawab selama wawancara luring. Setelah dilaksanakan wawancara, peneliti membuat transkrip wawancara secara lengkap dan runtut mengenai fakta dan informasi yang diperoleh. Setelah transkrip wawancara dibuat, dilakukan identifikasi berdasarkan informasi yang
diperoleh secara deskriptif, sehingga diperoleh data yang dapat digunakan sebagai dasar dan fokus pada penelitian ini.
diperoleh secara deskriptif, sehingga diperoleh data yang dapat digunakan sebagai dasar dan fokus pada penelitian ini.