BAB II LANDASAN TEOR
2.10. Kerangka Berpikir
Belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Tujuan dalam belajar salah satunya adalah agar mendapat hasil belajar yang baik. Pengertian hasil belajar itu sendiri merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah siswa tersebut mengalami proses belajar yang dibuktikan dengan perubahan perilaku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya yang terutama dinilai aspek kognitifnya yang ditunjukkan melalui nilai atau angka. Hal ini diperkuat dengan pendapat Anni (2007:5-6).yang mendefinisikan hasil belajar sebagai perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Tinggi rendahnya hasil belajar seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal (faktor yang berasal dari dalam diri siswa), misalnya kondisi kesehatan siswa, tingkat intelegensi, kemauan, bakat, daya ingat, dan lain-lain. Kemudian faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar diri siswa), misalnya lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah yang terdiri dari guru, metode pembelajaran, sarana-prasarana, kurikulum.
Proses belajar mengajar memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Pembelajaran yang cocok membantu siswa menjadi mandiri, sehingga guru tidak berperan utama dalam pembelajaran. Lebih-lebih dalam pembelajaran akuntansi yang mempelajari sesuatu yang nyata, memerlukan ketelitian dan pemahaman sehingga diperlukan metode pembelajaran yang menyenangkan, memotivasi siswa
dan membuat siswa aktif. Guru dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan kondisi siswa dalam pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Hal ini serupa dengan pendapat Sanjaya (2007:127) yang menyatakan metode pembelajaran sebagai a way in achieving something, cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Antara TGT dan Konvensional kedua-duanya merupakan metode pembelajaran yang menarik. Metode konvensional adalah cara penyampaian pelajaran dari seorang guru kepada siswa di dalam kelas dengan cara berbicara di awal pelajaran menerangkan materi dan contoh soal disertai tanya jawab. dalam pembelajaran ini aktifitas belajar lebih didominasi guru, guru lebih banyak berbicara dan siswa cenderung pasif.
Metode TGT dikembangkan pertama kali oleh David De Vries dan Keith Edward. Metode TGT merupakan metode pembelajaran pertama dari John Hopkins. (Slavin, 2010:13). Metode ini merupakan suatu pendekatan kerja sama antarkelompok dengan mengembangkan kerjasama antarpersonal. Dalam pembelajaran TGT berbantu papan scramble aktivitas belajar dengan permainan yang telah dirancang, memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok belajar yang
beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok. Guru memberikan lembar kerja siswa (LKS) yang berisi soal- soal akuntansi kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompok. Apabila ada dari salah satu anggota kelompok yang kurang paham dengan latihan soal yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru. Akhirnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa akan dibagi dalam meja-meja turnamen, dimana disetiap meja turnamen terdiri dari 4 sampai 5 orang yang merupakan wakil dari kelompok masing-masing. Lalu permainan dimulai dengan mangajukan kartu soal dan siswa maju kedepan dengan mencari kartu akun yang menurut siswa itu benar dan ditempel pada papan scramble serta menuliskan nominal yang sesuai dengan jawaban. Setiap kelompok berlomba-lomba untuk meraih skor yang tertinggi dalam permainan ini. Pemberian penghargaan didasarkan atas perolehan skor yang tertinggi yang didapat oleh kelompok tersebut.
Dengan adanya unsur permainan dan turnamen memungkinkan hasil belajar pada aspek pemahaman konsep dan aktifitas siswa yang dikenai metode pembelajaran TGT lebih baik dari pada siswa yang dikenai pembelajaran ceramah. Penelitian Nur Laela Shofiyati (2009) diperoleh hasil belajar pada aspek pemahaman konsep ekonomi yang dikenai metode pembelajaran kooperatif TGT
lebih efektif dari pada siswa yang dikenai pembelajaran konvensional hal ini disebabkan karena pada pembelajaran menggunakan metode Time Game Tournament lebih ditekankan pada kerjasama dalam kelompok. Sedangkan pada metode konvensional siswa hanya dituntut menyelesaikan masalah baik secara individu atau kelompok. Proses pembelajaran ini lebih didomonasi oleh guru, dalam hal ini siswa hanya bersifat pasif.
Penelitian yang dilakukan Michael M van Wyk (2010) menyatakan bahwa teknik TGT lebih efektif daripada metode ceramah dalam hal prestasi siswa ekonomi dan retensi mahasiswa konten ekonomi. Penelitian Devries, David and other (1976) disimpulkan bahwa dengan metode TGT siswa belajar kosa kata lebih banyak dan keterampilan analogi verbal dibanding kelompok kontrol. Penelitian menunjukkan dengan jelas bahwa hasil baik kognitif dan afektif dapat ditingkatkan dengan mengubah tingkat persaingan kelas kooperative.
Melalui metode pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantu papan scramble diharapkan dapat memberikan cara dan suasana baru yang menarik dalam pembelajaran khususnya pada mata pelajaran akuntansi kompetensi dasar jurnal umum perusahaan dagang. Dengan metode ini, keaktifan, kemandirian, kerjasama, rasa tanggung jawab, dan ketrampilan siswa dapat ditingkatkan sehingga hasil belajar juga meningkat. Suasana belajar cooperative learning Time Game Tournament menghasilakan hasil belajar yang lebih tinggi, hubungan yang lebih positif, dan penyesuaian psikologi yang lebih baik dari pada suasana yang penuh dengan persaingan untuk memperoleh hasil yang terbaik demi kelompoknya. Hasil penelitian Fitri Handayani KD (2010) mengungkapkan
bahwa metode pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik secara kognitif maupun afektif. Selain itu penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan sangat disenangi siswa.
Untuk mempermudah keterangan dari pemikiran di atas, maka digambarkan dengan metode skema dibawah ini.
Gambar 2.2 Skema Kerangka Berpikir
• Presentasi kelas • Diskusi • Game • Tournaments • Penghargaan Metode Konvensional • Ceramah • Diskusi • Penugasan Metode TGT Proses Belajar Mengajar Metode Konvensional Hasil belajar
Efektif atau tidak efektif Berdasarkan : • Indikator input • Indikator process • Indikator output • Indikator outcome Hasil belajar • Presentasi kelas • Diskusi • Game • Tournaments • Penghargaan • Ceramah • Diskusi • Penugasan Metode TGT Proses Belajar Mengajar Metode Konvensional