BAB II LANDASAN TEOR
2.5. Pembelajaran Kooperatif Team Games Tournment
Pembelajaran kooperatif Team Games Tournment (TGT) di kembangkan pertama kali oleh David DeVries and Keith Edwards. Pembelajaran kooperatif metode Team Games Tournment (TGT) adalah salah satu tipe atau metode pembelajaran koopertif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan.
Komponen utama Team Games Tournment (TGT) dalam Slavin (2010:166) yaitu tahap presentasi di kelas (class precentation), tim (teams), game (geams), turnamen (tournament), dan rekognisi tim/perhargaan kelompok ( team recognition).
a) Presentasi kelas (class precentation)
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam presentasi di kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja tim dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor tim.
b) Tim (teams)
Tim biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari hasil akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi tim adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan
optimal pada saat game. Setelah guru menyajikan materi, kelompok bertemu untuk mempelajari lembar kerja atau materi. Sering kali, dalam pembelajaran tersebut melibatkan siswa untuk berdiskusi soal bersama, membandingkan jawaban atau penyelesaian, dan mengoreksi miskonsepsi jika teman sekelompok membuat kesalahan. Kelompok merupakan unsur yang paling penting dalam TGT, artinya ditekankan pada anggota kelompoknya dan kelompok juga melakukan yang terbaik membantu anggotanya.
c) Game (geams)
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
d) Tournamen (tournament)
Turnamen merupakan struktur geams yang dimainkan. Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi hasilnya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya. Kompetensi yang sama memungkinkan siswa disemua tingkat pada hasil belajar yang lalu memberi kontribusi pada skor kelompoknya secara maksimal jika mereka melakukan yang terbaik. Setelah turnamen yang pertama,
siswa pindah meja tergantung pada hasil mereka dalam turnamen akhir-akhir ini. Pemenang pertama pada setiap meja ditempatkan ke meja berikutnya yang setingkat lebih tinggi (misal dari meja 5 ke 4), pemenang kedua tetap pada meja yang sama, dan yang kalah diturunkan dimeja dibawahnya. Dengan cara ini, jika siswa salah ditempatkan pada mulanya, mereka akan naik atau turun sampai mereka mencapai tingkat mereka yang sesuai
e) Rekognisi tim/ penghargaan kelompok ( team recognition)
Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing-masing anggota kelompok dibagi dengan dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata-rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut di mana penentuan poin yang diperoleh oleh masing-masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh oleh seperti ditunjukan dalam tabel berikut:
Tabel 2.2
Perhitungan poin permainan untuk enam pemain
Pemain dengan Poin bila jumlah kartu yang diperoleh
Top High Score 30
Top Score 25
High Middle Scorer 20
Middle Scorer 15
Low Middle Scorer 10
Low Scorer 0
Tabel 2.3
Perhitungan poin permainan untuk tiga pemain
Pemain dengan Poin Bila Jumlah Kartu Yang Diperoleh
Top scorer 60
Middle scorer 40
Low scorer 20
(Sumber : Slavin, 2010:90)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40.
Dalam pengimplementasian yang hal yang harus diperhatikan yaitu: pembelajaran terpusat pada siswa, proses pembelajaran dengan suasana berkompetisi, pembelajaran bersifat aktif (siswa berlomba untuk dapat menyelesaikan persoalan), pembelajaran diterapkan dengan mengelompokkan siswa menjadi tim-tim, dalam kompetisi diterapkan system point, dalam kompetisi disesuaikan dengan kemampuan siswa atau dikenal kesetaraan dalam kinerja akademik, adanya system penghargaan bagi siswa yang memperoleh point banyak.
Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode TGT mempunyai beberapa kelemahan. Kelebihan dan kelemahan TGT dalam Slavin (2010:121) adalah sebagai berikut:
1) Para siswa di dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional.
2) Meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan.
3) TGT meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka.
4) TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi yang lebih sedikit)
5) Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak.
6) TGT meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain.
Dipilihnya metode pembelajaran TGT untuk materi jurnal umum perusahaan dagang karena di dalam pembelajaran TGT melibatkan siswa berperan aktif dalam KBM, baik dalam tahap diskusi, tahap permainan dan tahap tournament. Sedangkan guru hanya sebagai fasilitator saja.