BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
J. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir atau kerangka pemikiran adalah dasar pemikiran dan penelitian yang disintesiskan dari fakta-fakta, observasi dan telaah kepustakaan (Riduan 2004:25). Keefektifan suatu strategi pembelajaran merupakan suatu standar keberhasilan, artinya semakin berhasil pembelajaran tersebut mencapai tujuan yang telah ditentukan, berarti semakin tinggi tingkat
keefektifannya. Tingkat efektifitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perilaku pendidik dan perilaku peserta didik. Perilaku pendidik yang efektif, antara lain: 1) mengajar dengan jelas, 2) menggunakan variasi model pembelajaran, 3) menggunakan variasi sumber belajar, 4) antusiasme, 5) memberdayakan peserta didik, 6) menggunakan konteks (lingkungan) sebagai sarana pembelajaran, 7) menggunakan jenis penugasan, dan 8) pertanyaan yang membangkitkan daya pikir dan keingintahuan. Sedangkan perilaku peserta didik yang efektif adalah 1) motivasi/ semangat belajar, 2) keseriusan, 3) perhatian, 4) pencatatan, 5) pertanyaan, 6) senang melakukan latihan, dan 7) sikap belajar yang positif (Depdiknas 2004:18).
Logika Matematika adalah cabang dari matematika yang banyak mempelajari penalaran sehingga terkadang diterima oleh siswa sebagai dogma-dogma. Tujuan mempelajari matematika adalah 1) melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten, dan inkonsisten, 2) mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba, 3) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan (Depdiknas, 2003). Dengan demikian pembelajaran logika matematika tidak ditekankan pada kemampuan menghafal semacam dogma-dogma, tetapi mendorong siswa
mengkonstruksikan pengetahuannya secara mandiri. Melalui strategi Multi Level learning siswa diharapkan belajar mengalami, bukan menghafal, dan menekankan pemecahan pada kelompoknya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran akan efektif dapat melalui strategi yang efektif pula, maka penulis mengenalkan sebuah strategi pembelajaran baru yaitu strategi Multi Level Learning yang lewat penelitian ini akan diuji apakah merupakan strategi yang efektif lewat keaktifan dan keterampilan prosesnya pada pembelajaran logika matematika.
K. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, maka hipotesis dapat diajukan sebagai berikut :
1. Hasil belajar siswa yang mendapat strategi pembelajaran Multi Level Learning yang kompetitif berbantuan CD interaktif dapat mencapai tuntas belajar pada pembelajaran Logika Matematika kelas X semester 2.
2. Pengaruh keaktifan terhadap hasil belajar siswa yang mendapat strategi pembelajaran Multi Level Learning yang kompetitif berbantuan CD interaktif pada pembelajaran Logika Matematika kelas X semester 2 SMA Negeri 3 Brebes.
3. Pengaruh keterampilan proses terhadap hasil belajar siswa yang mendapat strategi pembelajaran Multi Level Learning yang kompetitif berbantuan CD interaktif pada pembelajaran Logika Matematika kelas X semester 2 SMA Negeri 3 Brebes.
4. Keaktifan dan keterampilan proses secara simultan berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa yang mendapat strategi pembelajaran Multi Level Learning yang kompetitif berbantuan CD interaktif pada pembelajaran Logika Matematika kelas X semester 2 SMA Negeri 3 Brebes.
5. Rata–rata hasil belajar Strategi Multi Level Learning yang kompetitif berbantuan CD interaktif lebih baik dibandingkan strategi konvensional pada pembelajaran materi Logika Matematika.
38
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Jenis Penelitian. 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini bertempat di SMA Negeri 3 Brebes, Jalan MT. Haryono No. 78 Brebes tahun pelajaran 2007 / 2008.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimen, yaitu membandingkan keefektifan strategi pembelajaran Multi Level Learning yang kompetitif berbantuan CD interaktif dengan strategi konvensional terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika khususnya Logika Matematika.
B. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi dan sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh pene1iti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2002:57). Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X SMA Negeri 3 Brebes tahun pelajaran 2007/2008, sedangkan sampel penelitian, yaitu sebagian dari populasi penelitian. Sampel penelitian diambil berdasarkan kelas tertentu, yaitu kelas X yang terdiri dari sembilan kelas yang ada di SMA Negeri 3 Brebes, diambil dua kelas
secara acak. Pengambilan dua kelas secara acak dengan pertimbangan: 1) pemilihan anak dalam suatu kelas tidak didasarkan atas rangking nilai tetapi secara acak oleh pihak sekolah, 2) semua kelas diberi pelajaran dengan kurikulum yang sama, dan 3) guru yang mengajar di kelas X juga sama. Dari dua kelas tersebut diberikan perlakuan yang berbeda, yaitu strategi Multi Level Learning yang kompetitif berbantuan CD interaktif dan strategi konvensional. Sampel masing-masing kelas 39 siswa kelas eksperimen dan 42 siswa kelas konvensional. Sebelum ditetapkan sebagai anggota sampel penelitian kedua kelas itu diuji homoginitasnya.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel secara teknik random sampling adalah suatu cara mengambil sampel yang representatif dari populasi. Pengambilan sampel ini dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang benar-benar dapat mewakili dan dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya. Sejalan dengan permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu Keefektifan Multi Level Learning yang kompetitif berbantuan CD interaktif dan strategi konvensional dalam pembelajaran matematika terhadap hasil belajar siswa. Sehingga, untuk menghindari distorsi hasil penelitian, strategi pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel random. Sedangkan populasinya adalah kelas X yang terbagi atas kelas X-1 sampai dengan X-9. Kelas yang dijadikan sampel ditarik dari sembilan kelas tersebut melalui pengambilan sampel acak sederhana, yaitu X-1. dan X-7,
dengan pertimbangan pemilihan siswa suatu kelas tidak didasarkan atas rangking nilai tetapi secara acak oleh pihak sekolah, semua kelas diberi pelajaran dengan kurikulum yang sama, dan guru yang mengajar di kelas X juga sama, sehingga dianggap kelas-kelas tersebut sudah homogen.
3. Variabel Penelitian
Variabel merupakan gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati (Sugiyono, 2002:2). Dalam penelitian ini ada dua macam variabel, yaitu:
a. Variabel bebas (independent) adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat (dependent). Jadi variabel bebas/independent adalah variabel yang mempengaruhi.
b. Variabel Terikat (dependent)
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, dari variabel bebas.
Variabel – variabel dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk hipotesis 1 (kelas eksperimen)
Variabelnya adalah: hasil belajar kelas eksperimen. 2. Untuk hipotesis 2 dan 3
Variabelnya adalah:
i) X1 dan X2 merupakan hasil pengamatan keaktifan atau keterampilan proses.
3. Untuk hipotesis 4