• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Pembelajaran

1. Konsep Belajar

Para pakar pendidikan mendefinisikan belajar dari kacamata mereka baik secara penelitian langsung maupun hanya sekedar berpendapat berdasarkan pengamatan yang dilakukannya, sehingga banyak pengertian belajar yang diungkapkannya berbeda-beda, namun demikian pendapat mereka pastilah dapat dipertanggung jawabkan. a. Perbedaan Pengertian Belajar

Perbedaan pendapat mereka tersebut disebabkan oleh latar belakang pandangan maupun teori yang dipegang. Terdapat beberapa alasan menurut Ali (2004) , mengapa muncul aneka ragam pengertian belajar tersebut, antara lain adalah :

1). Karena adanya perbedaan dalam mengidentifikasi fakta.

Dasar perumusan suatu teori adalah fakta yang diidentifikasi melalui penelitian terhadap sejumlah objek sebagai sampel. Antara seorang ahli dengan ahli lain penelitian dilakukan terhadap objek yang berbeda, perbedaan ini mengakibatkan diperoleh hasil yang berbeda pula.

Perbedaan ini pada umumnya disebabkan oleh latar belakang peninjauan yang berbeda-beda. Perumusan suatu teori di samping terpengaruh oleh penafsiran terhadap fakta, juga oleh banyaknya fakta yang dapat diidentifikasi. Dengan demikian teori yang dirumuskan pun berbeda pula.

3). Perbedaan terminologi (peristilahan) yang digunakan serta konotasi masing-masing istilah itu. Peristilahan yang digunakan sebagai dasar analisis dan pembahasan ilmiah seringkali berbeda-beda. Setiap istilah mempunyai konotasi tertentu. Oleh karena itu teori sebagai hasil studi ilmiah berbeda-beda sejalan dengan perbedaan istilah yang digunakan dan konotasinya masing-masing.

4). Perbedaan penekanan terhadap aspek tertentu.

Dalam melakukan studi tentang mengajar ataupun belajar setiap ahli memberi penekanan terhadap aspek tertentu. Studi tentang mengajar ada yang menekankan pentingnya proses belajar siswa, ada pula yang menekankan kepada peranan guru. Demikian pula tentang belajar, ada yang menekankan pada aspek asosiasi (hubungan) antara stimulus – respons, ada pula yang menekankan pentingnya hasil kognitif. Hal ini membawa pengaruh terhadap kesimpulan yang diperoleh (Ali, 2004).

Dari alasan – alasan di atas, sesungguhnya perbedaan rumusan pengertian belajar bukan hal yang perlu dipersoalkan, perbedaan ini

justru memperluas cakrawala wawasan, sehingga penerapannya dapat disesuaikan dengan situasi yang dihadapi.

b. Pengertian Belajar

Dari alasan-alasan banyaknya perbedaan pengertian belajar di atas, penulis ambil salah satu pengertian belajar dari ahli pendidikan yaitu Robert M. Gagne (dalam Hidayat, 2004), sebab beliau selalu menggunakan materi matematika sebagai medium untuk menguji penerapan teorinya, menurutnya belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas, setelah belajar siswa memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah: 1) stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan 2) proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar (Dimyati dan Mujiono, 2002:10).

Dari pengertian belajar tersebut, terdapat tiga ciri utama belajar, yaitu proses, perubahan perilaku, dan pengalaman.

1). Proses

Belajar itu sendiri sebagai proses perubahan sikap dan perilaku setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar, yaitu dari belum mampu belajar sesuatu menjadi mampu, dari belum terdidik menjadi terdidik, dari belum kompeten menjadi kompeten. Sumber belajar tersebut dapat berupa buku, Guru, teman, dan lingkungan.

Hasil belajar berupa perubahan perilaku. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar dikelompokkan ke dalam tiga ranah, yaitu kognitif (pengetahuan), psikomotor (keterampilan motorik), dan afektif (nilai-nilai atau sikap).

3). Pengalaman

Belajar adalah mengalami, dalam arti belajar terjadi di dalam interaksi antara guru dan siswa, siswa dan siswa, dan siswa dengan lingkungan.

Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik berupa buku, alat peraga, dan alam sekitar, sedangkan lingkungan sosial yaitu guru, siswa, pustakawan, dan Kepala sekolah.

2. Fase-fase Kegiatan belajar

Menurut Hidayat (2004), setiap kegiatan belajar terdiri atas empat fase yang terjadi secara berurutan, yaitu:

a. Fase apprehensi.

Pada fase ini siswa menyadari adanya stimulus yang terkait dengan kegiatan belajar yang akan ia lakukan, misalnya berupa materi pelajaran terletak pada halaman sebuah buku, sebuah soal yang diberikan oleh guru sebagai pekerjaan rumah, atau bisa juga seperangkat alat peraga yang berguna untuk pemahaman konsep tertentu.

Yaitu siswa melakukan pemerolehan, penyerapan, atau internalisasi terhadap fakta, ketrampilan, konsep, atau prinsip yang menjadi sasaran dari kegiatan belajar tersebut.

c. Fase penyimpanan.

Yaitu siswa menyimpan hasil-hasil kegiatan belajar yang telah ia peroleh dalam ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang. d. Fase pemanggilan

Yaitu siswa berusaha memanggil kembali hasil-hasil dari kegiatan belajar yang telah ia peroleh dan telah disimpan dalam ingatan, baik itu yang menyangkut fakta, keterampilan, konsep, maupun prinsip (Hidayat, 2004:18).

Pemanggilan kembali pengetahuan yang telah diperoleh itu dilakukan pada saat siswa mengerjakan soal-soal latihan, di mana ia harus mengingat kembali berbagai hal tertentu yang telah ia pelajari agar ia dapat mengerjakan soal-soal latihan tersebut, pada saat ia menempuh tes atau ulangan, atau pada saat ia mempelajari bagian- bagian tertentu dari materi tegas satu dengan yang lain. Perlu diketahui dari fase-fase tersebut di atas, bahwa fase yang satu mempengaruhi fase yang lain.

3. Jenis-jenis belajar

Menurut Gagne (dalam Hidayat, 2004:19), kegiatan belajar manusia dapat dibedakan atas 8 jenis, dari jenis belajar yang paling

sederhana, yaitu belajar isyarat (signal learning) sampai jenis belajar yang paling kompleks, yaitu pemecahan masalah (problem solving). Kedelapan jenis belajar tersebut adalah:

a. Belajar isyarat

Belajar isyarat adalah kegiatan yang terjadi secara tidak disadari, sebagai akibat dari adanya suatu stimulus tertentu. Sebagi contoh, jika seorang siswa mendapatkan komentar bernada positif dari guru matematika, secara tidak disadari siswa itu akan cenderung menyukai pelajaran matematika. Sebaliknya, jika seorang siswa mendapat suatu komentar yang bernada negatif dari seorang guru, secara tidak disadari siswa itu akan cenderung tidak menyukai pelajaran yang dipegang oleh guru tersebut.

b. Belajar Stimulus-Respons

Belajar stimulus respons adalah kegiatan belajar yang terjadi secara disadari, yang berupa dilakukannya sesuatu kegiatan fisik sebagai suatu reaksi atas adanya suatu stimulus tertentu. Kegiatan fisik yang dilakukan tersebut adalah kegiatan fisik yang di masa lalu memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi orang yang bersangkutan. Sebagai contoh pada waktu para siswa diberi suatu tugas dari guru yang hasilnya harus dikumpulkan, seseorang siswa mungkin secara sadar berusaha untuk menuliskan hasil pelaksanaan tugas itu dengan rapi sebab, menurut pengalaman

yang ia miliki dimasa lalu, suatu pekerjaan yang ditulis secara rapi cenderung mendapatkan nilai yang lebih tinggi.

c. Rangkaian Gerakan

Rangkaian gerakan merupakan kegiatan yang terdiri atas dua gerakan fisik atau lebih yang dirangkai menjadi satu secara berurutan, dalam upaya untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu. Sebagai contoh, kegiatan melukis garis bagi pada suatu sudut merupakan suatu kegiatan yang terdiri atas beberapa gerakan fisik yang dilakukan secara berurutan, sejak dari pembuatan suatu busur lingkaran yang berpusat di titik tersebut sampai perbuatan garis bagi yang dimaksud.

d. Rangkaian Verbal

Rangkaian verbal merupakan kegiatan merangkai kata-kata atau kalimat-kalimat secara bermakna, termasuk menghubungkan kata- kata atau kalimat-kalimat dengan objek-objek tertentu. Misalnya, Logika Matematika, kegiatan mendeskripsikan sifat-sifat suatu bangunan geometri, (persegi panjang, belah ketupat, dll) kegiatan menyebutkan nama benda-benda tertentu dan sebagainya.

e. Belajar membedakan

Belajar membedakan merupakan kegiatan mengamati perbedaan antara suatu objek dengan suatu objek yang lain, misalnya

membedakan lambang "2" dengan lambang "5", membedakan lambang "u" dengan lambang "n" (pada pembicaraan tentang himpunan), membedakan bilangan bulat dengan bilangan cacah, membedakan konstanta dengan variabel, mencermati perbedaan antara prosedur mencari FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) dengan prosedur mencari KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) dan sebagainya.

f. Belajar konsep

Belajar konsep adalah kegiatan mengenali sifat yang sama yang terdapat pada berbagai objek atau peristiwa, dan kemudian memperlakukan objek-objek atau peristiwa-peristiwa itu sebagai suatu kelas (karena adanya sifat yang sama tersebut). Seorang siswa dikatakan telah memahami suatu konsep apabila ia telah mampu mengenali dan mengabstraksi sifat yang sama tersebut, yang merupakan ciri khas dari konsep yang dipelajari, dan telah mampu membuat generalisasi terhadap konsep itu. Artinya, siswa telah memaharni bahwa keberadaan konsep itu tidak lagi terkait dengan suatu benda konkret tertentu atau peristiwa tertentu, tetapi bersifat umum (general).

g. Belajar aturan

Aturan adalah suatu pemyataan yang memberikan petunjuk kepada individu bagaimana harus bertindak dalam menghadapi situasi- situasi tertentu. Belajar aturan adalah kegiatan memahami

pemyataan-pemyataan dan sekaligus menggunakannya pada situasi-situasi yang sesuai. Beberapa contoh aturan dalam matematika adalah aturan sinus, aturan cosinus.

h. Pemecahan masalah

Pemecahan masalah merupakan kegiatan belajar yang paling kompleks. Suatu soal dikatakan merupakan masalah bagi seseorang apabila orang itu memahami soal tersebut, dalam arti mengetahui apa yang diketahui dan apa yang diminta dalam soal itu, dan belum mendapatkan suatu cara untuk memecahkan soal itu. Untuk dapat memecahkan suatu masalah, seseorang memerlukan pengetahuan- pengetahuan dan kemampuan-kemampuan yang harus diramu dan diolah secara kreatif, dalam rangka memecahkan masalah yang bersangkutan.

Dokumen terkait