• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahapan Resiliensi Faktor-Faktor

Resiliensi

Sifat-sifat Individu Resilien

Program Livelihood di Jesuit Refugee Service,

Cisarua, Bogor Resiliensi Urban

Refugees

33 BAB 3

GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN A. Profil Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia

1. Sejarah Berdirinya

Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia pertama kali menginisiasikan aksi kemanusiaannya pada 14 November 1980 didasari dari peristiwa “manusia perahu” asal Vietnam yang ada di Pulau Galang, Kepulauan Riau, Indonesia.

Peristiwa tersebut menjadi awal mula inisiasi JRS untuk mengurangi penderitaan para warga asing atau pencari suaka yang mobilisasi ke Indonesia.

Selama 30 tahun terakhir, JRS bersama-sama dengan semua pihak yang peduli, berusaha melayani, menemani, dan membela hak para pengungsi baik mereka yang ada di kamp pengungsian, perkotaan, maupun di rumah-rumah detensi imigrasi.

Bersama staf dan sukarelawan dari berbagai latar belakang, JRS Indonesia membuka pelayanan bagi para pengungsi mulai dari Timor Barat (1999), Maluku (2000), Aceh dan Sumatera Utara (2001), Jawa Barat, Jawa Tengah serta pengungsi korban bencana di Daerah Istimewa Jogjakarta. Sejak tahun 2009, JRS Indonesia mengambil peran untuk mendampingi para pengungsi lintas batas dan pencari suaka sesuai mandat awalnya. JRS Indonesia mulai mendampingi para pencari suaka bangsa Rohingya di Aceh dan Sumatera Utara. Pelayanan JRS berkembang menjadi pendampingan bagi pencari suaka di rumah detensi imigrasi Medan (2009), pencari suaka di Cisarua (2010) dan pencari suaka di rumah detensi imigrasi Surabaya (2012)

(JRS Indonesia, 2014).

Jesuit Refugee Service juga turut hadir di berbagai belahan dunia sekiranya selama 40 tahun yang terbagi menjadi beberapa daerah bagian yaitu JRS Asia Pasific , JRS Great Lakes, JRS North America, JRS Europe, JRS Eastern Asia, JRS Latin America dan Caribbean, JRS Middle East dan North Africa, JRS South Asia, JRS Southern Africa, dan JRS West Africa. Pada kesimpulannya,

34 JRS telah merepresentasikan 56 negara di seluruh dunia dan 8 negara di Asia Pasific.

JRS Indonesia masuk ke dalam JRS Asia Pasific bersama 7 negara lainnya : Australia, Kamboja, Filipina, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Tentunya, ke delapan negara ini memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda dalam memberikan pelayanan nya kepada para pengungsi. Namun, secara garis besar, fungsi pelayanan dari organisasi ini adalah melayani, menemani, dan mengadvokasi. (JRS Asia Pacific, 2021).

2. Logo

Gambar 1. Logo JRS Indonesia

3. Visi dan Misi

a) Visi : JRS Indonesia mendambakan suatu dunia tempat orang-orang yang terpaksa mengungsi dapat menikmati perlindungan, kesempatan, dan partisipasi.

b) Misi : JRS Indonesia berupaya untuk menemani, melayani, dan membela kepentingan orang-orang yang terpaksa mengungsi agar mereka dapat memulihkan diri, mengembangkan diri, dan menentukan masa depan mereka sendiri. (JRS Indonesia, 2021).

4. Letak Geografis

JRS Indonesia berpusat di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Gang Cabe DP III, No.9 dan 13, RT 01, RW 39 Puren, Pringwulung, Sleman, Yogyakarta 55283, Indonesia.

35 5. Tugas dan Fungsi

a) Menemani : JRS Indonesia berupaya untuk memberikan pelayanan secara menyeluruh bagi mereka yang terpaksa mengungsi. JRS menghargai martabat kemanusiaan para pengungsi melalui penemanan yang dijalankannya. Menemani berarti hadir sebagai teman dan berjalan setara, sebisa mungkin menyetarakan kondisi dengan mereka.

Ini merupakan tindakan yang praktis dan efektif karena tidak jarang kehadiran sebagai teman menjadi cara terbaik memberikan perlindungan.

b) Melayani : Berdasarkan kebutuhan pengungsi dan kemampuan JRS, staf JRS memberikan beragam pelayanan kepada lebih dari 500 pengungsi internal, pengungsi lintas batas, dan pencari suaka baik di wilayah urban maupun di rumah detensi. Pelayanan ini meliputi kegiatan rekreasional dan pendidikan serta bantuan untuk menopang dan meningkatkan kehidupan mereka. Pelayanan ini diberikan kepada pengungsi dan orang-orang yang berpindah tempat tanpa memandang ras, etnis, maupun agama.

c) Advokasi : Yang paling mendasar dari tiga misi JRS adalah menjawab akar persoalan dari pengungsian manusia. JRS berupaya mendorong perubahan kebijakan yang tidak adil pada tingkat yang paling tepat:

tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Tujuan-tujuan utama advokasi ditetapkan baik pada level program langsung, level nasional, maupun level regional. Apa yang menjadi masalah-masalah utama juga dibawa oleh JRS sampai pada level internasional termasuk di dalamnya adalah masalah pendidikan, keamanan pangan, dan rekonsiliasi.

JRS juga seringkali bekerjasama dengan NGO lain, terutama dalam kampanye anti tentara anak-anak, ranjau darat, dan penahanan. JRS telah melakukan kampanye anti ranjau darat sejak tahun 1990 dan anti bom curah sejak tahun 2008. JRS merupakan anggota dari Kampanye Internasional Pelarangan Ranjau Darat. Pada tahun 1997, kampanye ini mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian dan Tun Channareth bersama dengan

kerja-36 kerja advokasi JRS yang lain untuk melarang penggunaan ranjau darat yang mendapatkan penghargaan. JRS telah menjalankan peran utama dalam kampanye dan menyumbangkan penelitian tentang Indonesia untuk Ranjau Darat dan Pengawasan Bom Curah (JRS Indonesia, 2014).

6. Kerangka Kerja Strategis

a) Detensi, Pencari Suaka dan Pengungsi

1) Melanjutkan penemanan pencari suaka dan pengungsi di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim).

2) Menciptakan dan mendorong adanya alternatif bagi penahanan.

3) Mengembangkan bantuan hukum bagi pencari suaka.

4) Membangun kesadaran tentang pentingnya Penentuan Status sebagai Pengungsi.

5) Memperkuat jaringan dengan para pemangku kepentingan.

6) Mengembangkan koordinasi yang terbuka di antara para pemangku kepentingan.

b) Pengembangan Perdamaian dan Rekonsiliasi

1) Membangun kesadaran tentang pentingnya rekonsiliasi dan penyembuhan trauma.

2) Mendorong program pengembangan perdamaian berdasarkan Pendidikan menghidupi nilai.

c) Pengungsi Internal

1) Menemani dan melayani pengungsi internal korban konflik.

2) Menjamin agar hak-hak pengungsi internal dihormati.

3) Mendukung integrasi sosial, rekonsiliasi ekonomis dan penyembuhan trauma.

4) Menjamin validitas hak atas tanah untuk relokasi.

5) Merancang standard JRS untuk Tanggap Darurat dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dan penyembuhan trauma.

6) Menyediakan tempat penampungan sementara/rumah tidak tetap jika sangat diperlukan.

7) Berbagi informasi untuk memastikan kebutuhan-kebutuhan nyata yang diharapkan terpenuhi.

37 8) Menyelenggarakan pelatihan untuk menguatkan pengungsi internal berdasarkan kapasitas dan keterampilan budaya mereka.

9) Membagikan pembelajaran dari program-program JRS.

(Indonesia, 2014).

B. Profil Jesuit Refugee Service, Cisarua, Bogor 1. Letak Geografis

JRS Bogor terletak di dua tempat dengan dua keberfungsian yang berbeda yaitu.

a) Kantor Pusat JRS Bogor : Komplek Kehutanan Wana Mulya II nmor 322D/39, Jalan Raya Wangun, Sindangsari, Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat 16146.

b) JRS Center Bogor (Tempat Pelayanan Pengungsi) : Hotel Kenanga, Jalan Labuan – Cianjur, Cibeureum, Kec. Cisarua, Kota Bogor, Jawa Barat, 16750.

Gambar 2. Lokasi JRS Center Bogor

2. Struktur Organisasi JRS Bogor

Gambar 3. Struktur Organisasi JRS Bogor

38 3. Program Kerja

JRS Indonesia di Cisarua, Bogor memiliki serangkaian kegiatan aktif yang disebut dengan Program “Be Friend”. Program ini terdiri dari beberapa rangkaian aktivitas kegiatan diantaranya.

a) Bantuan Keuangan : Bantuan berupa uang yang diberikan kepada Urban Refugess yang tinggal secara independen di wilayah perkotaan untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup, seperti makan dan akomodasi. Bantuan ini diberikan setiap 1 kali per bulan.

b) Bantuan Kesehatan : Bantuan ini diperuntukkan bagi pengungsi yang menerima bantuan keuangan dan sedang dalam keadaan sakit.

Rujukan pertama yang akan dilakukan adalah melalui puskesmas, dan jika memerlukan pertolongan ke rumah sakit JRS akan berupaya membantu dalam pengobatannya.

c) Dukungan Psikososial : Kegiatan yang bertujuan untuk menunjang wellbeing dan kesehatan mental bagi pengungsi. Tujuan daripada

39 kegiatan ini adalah agar para pengungsi memiliki integrasi sosial yang baik kepada dirinya, sesama pengungsi lainnya, dan masyarakat luas.

d) Legal Service : Kegiatan yang ditujukan kepada pengungsi jika membutuhkan input atau saran terkait peraturan perundang- undangan di Indonesia. Kegiatan ini juga mencakup proses penyelesaian pengungsi yang terlibat pelanggaran hukum dengan warga dan lain sebagainya. Selain itu, legal service juga turut membantu proses pemindahan pengungsi ke negara tujuan melalui UNHCR Indonesia.

e) Dukungan Livelihood : Kegiatan ini memberikan dukungan kepada pengungsi untuk menjadi berdaya melalui serangkaian kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup. Kegiatan livelihood ini juga menjadi sarana bagi para pengungsi untuk mengasah skill- skill yang berpotensi dan menghasilkan pendapatan atau income generating melalui kegiatan Livelihood Individu dan Kolektif. Kegiatan ini bertujuan untuk menjadikan pengungsi menjadi manusia yang berdaya dan independen ditengah kesulitan yang mereka alami selama tinggal di Indonesia (JRS Indonesia, komunikasi pribadi, 8 Januari 2021).

4. Penerima Manfaat (Urban Refugees di Bogor)

Berikut adalah data penerima manfaat yang mendapatkan bantuan pada setiap projek Be Friend JRS Bogor dari tahun 2020-2021.

40 Gambar 4. Data Penerima Manfaat 2020 (Berdasarkan Negara dan Gender)

Gambar 5.Data Penerima Manfaat 2020 (Berdasarkan Tipe Bantuan yang Diberikan dan Rentang Umur)

41 Gambar 6.Data Penerima Manfaat 2021 (Berdasarkan Negara dan

Gender)

42 Gambar 7. Data Penerima Manfaat 2021 (Berdasarkan Tipe Bantuan yang Diberikan dan Rentang Umur)

43 C. Program Livelihood di Jesuit Refugee Service, Cisarua, Bogor

1. Latar Belakang Penyusunan Program Livelihood

Program Livelihood yang dirancang oleh JRS Indonesia diawali dari kekhawatiran atas kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak memperbolehkan refugees untuk bekerja. JRS memahami kesulitan yang dialami para refugee baik di jangka pendek maupun panjang jika para refugee tidak dapat berdaya dengan sendirinya, maka hal ini akan memicu ketidakmandirian dan tentunya tingkat kesejahteraan hidup mereka. Oleh karenanya, JRS Indonesia berinisiatif untuk merancang Program Livelihood sebagai salah satu program besar yang masuk ke dalam Project Be Friend untuk refugees di JRS Indonesia.

Hal ini diungkapkan pula oleh Roswita, selaku Koordinator Project Be Friend JRS Jakarta sebagai berikut.

“JRS melihat para refugees adalah sekelompok orang yang berpotensi.

Mereka memiliki skill-skill tertentu yang bisa diberdayakan untuk perpanjangan penghidupan selama tinggal di Indonesia. Menimbang semakin tidak menentunya masa tunggu refugees untuk pindah ke negara tujuan. Program ini dirasa bermanfaat untuk memberikan ketahanan hidup bagi refugees di Indonesia” (Roswita, komunikasi pribadi, 6 April 2021).

Sementara itu, JRS Bogor memulai Program Livelihoodnya pada tahun 2019 yang bentuk kegiatannya masih digabungkan dengan program psikososial dan di tahun ini pula JRS Bogor membangun jejaring untuk persiapan Program Livelihood. Di tahun 2020, JRS Bogor memulai Program Livelihoodnya untuk kegiatan handcrafting (merajut dan manik-manik) dan Refutera (website penjualan produk refugeess) . Di tahun 2021, kegiatan livelihood yang dilakukan adalah kelas merajut (crochet), memasak (cooking), dan kegiatan Refutera sampai saat ini (Mariana, komunikasi pribadi, 19 Mei 2021).

2. Objektivitas Program

Harapan utama yang muncul dengan adanya Program Livelihood di JRS Bogor adalah mendukung ketahanan hidup atau resiliensi bagi urban refugees yang tinggal di Bogor untuk dapat bertahan hidup selama tinggal di Indonesia.

44

“Selain mencapai kemandirian dan meningkatkan produktivitas, program ini dirancang untuk membangun hubungan baik antar refugees dan warga lokal”

(Mariana, komunikasi pribadi, 19 Mei 2021).

3. Karakteristik Program

Program Livelihood yang dibentuk oleh JRS Bogor terbagi menjadi dua, yaitu livelihood kolektif dan individu. Livelihood kolektif di program ini berupa pelatihan-pelatihan yang diikuti oleh sekelompok refugees untuk meningkatkan softskill yang sudah mereka punya dan dikembangkan untuk menghasilkan pendapatan serta manfaat lainnya. Dalam kegiatan ini, JRS memfasilitasi tempat pelatihan, coach, alat dan bahan yang digunakan, materi kelas, konsultasi, dan lain-lain ditangani oleh JRS Bogor.

Sementara itu, kegiatan individu pada Program Livelihood di JRS Bogor merupakan hal-hal berupa program atau kegiatan livelihood yang diinisiasikan secara mandiri oleh refugees akan kemampuan yang mereka miliki dalam bidang tertentu dan membutuhkan bantuan JRS untuk merealisasikan ide mereka sebagai sarana livelihood. Fungsi JRS di kegiatan individu ini adalah sebagai pendukung bantuan dan pihak yang memonitor perkembangan dan keberhasilan dari kegiatan livelihood yang secara mandiri mereka inisiasikan.

4. Benefit Program

Selama pelaksanaannya, Program Livelihood banyak memberikan dampak tersendiri bagi refugees untuk bertahan dari dinamika kesulitan dan ketidakpastian yang mereka jalani di Indonesia. Beberapa hal nya adalah :

a) Kemandirian. Program ini memberikan kesempatan bagi refugees untuk merefleksikan kemampuan yang mereka miliki. Sebagian besar dari mereka belajar atas kemauannya sendiri dan berkomitmen untuk mengikuti kelas. Mereka memiliki tujuan penghidupan didalamnya, yaitu untuk menafkahi keluarga mereka secara lebih baik walaupun income yang didapatkan tidak besar. Para refugees mencoba untuk mengatasi banyaknya kesulitan yang mereka hadapi, menerima, dan

45 mencoba untuk tetap bertanggung jawab atas kehidupan mereka dan keluarga mereka.

b) Produktivitas. Program ini dilaksanakan secara rutin setiap minggunya dan diharapkan menjadi tumpuan untuk mengasah kemampuan berpikir, emosional, dan potensi refugees. Refugees pun diharapkan dapat mempelajari hal-hal baru sehingga mendorong keingintahuan refugees selama mengikuti Program Livelihood. Selain itu, refugees dapat menjadi lebih berdaya dengan menyibukkan dirinya melalui Program Livelihood.

c) Interaksi. Program ini memanfaatkan banyak pihak yang mengharuskan refugees untuk berinteraksi dengan mereka.

Kemampuan berkomunikasi dengan sesama refugees, warga lokal, pihak JRS, dan lainnya menjadikan mereka percaya diri dan menumbuhkan hubungan baik secara kolektif dengan banyak pihak.

d) Kognitif dan Emosional. Selama program berjalan, refugees dibentuk untuk memiliki kemampuan berpikir dari apa yang mereka rencanakan dan gagaskan. Selain itu, kemandirian dalam menginisiasikan ide, kemampuan bertanya, dan kritis juga ditemukan di program ini melalui observasi yang peneliti amati. Selain itu, program ini memberikan kemampuan emosional, seperti berempati dengan rekan refugees selama pelaksanaan program ketika ada yang sedang mengalami kecemasan, kesedihan, sakit sehingga dapat membentuk kemampuan emosional nya secara baik.

Manfaat-manfaat tersebut divalidasi oleh Mariana Rosiana selaku Livelihood Officer di JRS Bogor dengan pernyataan sebagai berikut.

“Program ini diharapkan dapat membantu kehidupan refugees. Bukan hanya soal hasilnya atau pendapatan yang didapatkan, tetapi juga perkembangan dan keadaan yang lebih baik bagi refugees. Karena jika berbicaras soal uang, kita tidak terlalu percaya diri, tapi penghasilan kecil ini contohnya bisa membantu mereka membeli sarung bantal untuk anak mereka. Yang penting dalam segi mental, program ini membantu sekali, yang pasif jadi aktif, yang males jadi

46 inisiatif. Hal ini dirasa bisa meningkatkan resiliensi mereka” (Mariana, komunikasi pribadi, 19 Mei 2021).

5. Implementasi Program

5.1. Livelihood Kolektif : Merajut (Crochet) a) Latar Belakang

Berdasarkan program embroidery dan beads yang diadakan di tahun 2020, terdapat beberapa refugees wanita yang datang dan melakukan request dengan JRS Bogor untuk mengikuti kegiatan grup skill crochet. Bukan hanya itu saja, terdapat beberapa ibu-ibu refugees yang membawa hasil rajutannya untuk diperlihatkan ke JRS.

Sebagian besar dari mereka sudah memahami cara merajut, tetapi faktor-faktor seperti kualitas warna yang dipilih dengan tone warna kesukaan orang Indonesia masih perlu dipelajari lebih lanjut. Mereka pun belum memahami bagaimana caranya menentukan harga untuk produknya.

Ada juga refugees yang pemilihan warna dan kualitas produknya sudah baik, tetapi belum tahu dimana mereka dapat membeli material secara mandiri yang sampai saat ini masih pihak JRS yang melakukan pembelian material merajut. Melihat ini, JRS kemudian mencoba untuk menjawab kebutuhan mereka dengan memberikan material-material yang dirasa sesuai dengan skill yang dimiliki oleh refugees yang memiliki kemampuan merajut saat ini.

Peminat utama dari kelas ini adalah wanita yang terdiri dari 8 Orang. Sementara negara mereka berasal didominasi dari Afghanistan. Alasan utama mereka ingin JRS mengadakan kelas ini adalah karena mayoritas dari perempuan Afghanistan memiliki keahlian merajut sehingga mereka memiliki basic skill tersebut dan diharapkan hasilnya dapat berpotensi untuk dijualbelikan dan dijadikan sarana penghidupan.

47 b) Tujuan Kegiatan

1. Memberikan kesempatan bagi komunitas pengungsi (refugees) untuk mengetahui proses mendasar dalam pembuatan produk seperti pemilihan desain, pencampuran warna, quality control, dan pricing.

2. Memberikan kesempatan bagi komunitas pengungsi (refugees) untuk mengenali dan mengetahui tempat-tempat membeli material crochet yang terjangkau dan lengkap.

c) Kurikulum Kegiatan

Tabel 2. Kurikulum Kegiatan Merajut (Crochet)

Tanggal Tahapan Aktivitas

9 - 16 Februari 2021

Tahap I : Registrasi Peserta

Peserta diminta untuk membawa portfolio crochet yang kemudian dibeli oleh JRS

Setiap peserta diminta untuk membuat sebuah jenis rajutan dalam waktu 30 menit, lalu dilihat

Peserta saling berkenalan, setelah itu diskusi terkait apa saja yang akan dilakukan dalam grup, serta memperkenalkan Refutera

12 Maret 2021 Belajar mencari desain dari

48 17 Maret 2021 Belajar memilih

desain dan menentukan material yang dibutuhkan

Peserta memfinalisasi desain yang dipilih lalu harus mengidentifikasi material-material yang dibutuhkan beserta kuantitasnya

19 Maret 2021 Belajar terkait color

combination

Peserta belajar dari berbagai medium warna untuk memilih warna sesuai dengan tren

24 Maret 2021 Belajar terkait color

combination

Melanjutkan untuk memasang-masangkan warna ke produk-produk yang akan mereka buat

26 Maret 2021 Belajar terkait konsistensi pembuatan produk (mask connector)

Membuat produk yang tidak terlalu besar dan sederhana untuk belajar mengenai konsistensi

31 Maret 2021 Belajar terkait konsistensi

6 April 2021 Memilih produk baru yang akan dibuat dan didiskusikan warna serta materialnya

Mendiskusikan kembali produk apa yang akan dibuat secara individual

8 April 2021 Belajar pergi ke kota Bogor membeli

material

Peserta belajar menggunakan angkot untuk pergi ke kota Bogor agar bisa membeli material sendiri di lain waktu

49 menggunakan

angkot

14 April 2021 Belajar tentang quality control

Peserta belajar terkait standard

quality control dan

mempraktekkannya dengan mengkritisi produk satu sama lain 21 April 2021 Belajar tentang

quality control

Melanjutkan sesi untuk mengecek quality control masing-masing peserta

28 April 2021 Belajar menggunakan online shop

Peserta diminta untuk membawa hp dan diperkenalkan dengan berbagai medium online shop seperti

Peserta diberikan materi-materi dasar tentang bagaimana cara menentukan harga

19 Mei 2021 Latihan untuk pemberian harga

Peserta berlatih menghitung menggunakan material yang sudah mereka beli di kota Bogor

25 Mei 2021 Memilih produk baru untuk Refutera

Peserta kembali memilih produk yang sesuai untuk diproduksi dan diletakkan di Refutera

2 Juni 2021 Menyiapkan produk untuk Refutera

Peserta membuat dan saling mengumpulkan produk

9 Juni 2021 Quality control Peserta membawa produk yang mereka hasilkan lalu akan dinilai oleh volunteer JRS

16 Juni 2021 Menyiapkan produk untuk Open Pre-Order

Peserta mengumpulkan ide-ide yang unik untuk menjualkan barang-barangnya secara pre-order

50

Peserta diberikan kesempatan untuk eksplorasi tempat membeli material yang jauh lebih lengkap secara langsung

7 Juli 2021 Mengulang kembali latihan pemberian harga

Peserta diingatkan kembali terkait bagaimana untuk memberikan harga dan latihan-latihannya

14 Juli 2021 Proses produksi setelah Pre-Order sudah dibuka

Peserta menyiapkan produk sesuai dengan pesanan dari Pre-Order

21 Juli 2021 Proses produksi setelah Pre-Order sudah dibuka

Peserta menyiapkan produk sesuai dengan pesanan dari Pre-Order

28 Juli 2021 Quality control Peserta saling mengecek kualitas produk satu sama lain sebelum dikirimkan kepada orang-orang yang melakukan pembelian

d) Materi Pelatihan

1. Materi mencari berbagai referensi desain dan produk secara online.

2. Materi untuk belajar pencampuran warna yang baik.

3. Materi untuk belajar mengenai pricing.

4. Materi untuk memahami standard quality control.

51 5. Memberikan kesempatan untuk mencari dan mengetahui

tempat membeli material merajut di Kota Bogor.

e) Waktu dan Tempat Pelatihan

1. Waktu : Setiap hari Rabu pukul 09.00-10.30 WIB, dimulai dari 5 Maret - 28 Juli 2021.

2. Tempat : JRS Learning Center.

5.2. Livelihood Kolektif : Memasak (Cooking) a) Latar Belakang

Kelas mamasak didirikan dari banyaknya peminatan melalui proses assesmen di google form. Kelas ini mendapatkan presentase sebanyak 42% refugees yang ingin mengembangkan keahlian memasaknya. Skill memasak ini menempati urutan pertama dari pilihan-pilihan skill yang lainnya. Hal ini juga didasarkan pada banyaknya jumlah refugees yang memiliki kemampuan memasak dan membuat aneka kue. Berdasarkan data-data ini, maka JRS melihat sebuah kebutuhan untuk mengembangkan skill memasak yang dimiliki refugees agar nantinya dapat digunakan sebagai sarana penghidupan dan memperdalam keahlian memasaknya.

Sebagian besar yang mengikuti kelas memasak adalah refugees yang berasal dari Afghanistan. Jumlah refugeess yang mengikuti kelas ini adalah sebanyak 10 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

b) Tujuan Kegiatan

1. Memberikan kesempatan bagi komunitas pengungsi (refugees) untuk mempelajari jenis-jenis masakan Indonesia.

2. Memberikan kesempatan bagi komunitas pengungsi (refugees) untuk belajar mengenai harga-harga makanan yang dijual di sekitar daerah Bogor.

52 3. Memberikan kesempatan peserta cooking program untuk belajar pastry dan cara mendekorasi kue dan mendapatkan sertifikasi secara profesional.

4. Memberikan kesempatan bagi peserta kelas memasak untuk belajar langsung dari seorang Chef dan menggunakan peralatan lengkap pastry dari institusi memasak resmi.

c) Kurikulum Kegiatan

Terdapat 2 kurikulum kegiatan yang terdiri dari kurikulum kelas memasak reguler (masakan Indonesia) dan memasak kue.

Tabel 3. Kurikum Kegiatan Memasak Masakan

Tanggal Tujuan Aktivitas

21 Maret 2021

Perkenalan 1) Memperkenalkan soal cooking program

2) Mengatur jadwal untuk pertemuan setiap

minggunya

3) Menanyakan kebutuhan kelas Bahasa Indonesia 24 Maret

1) Memasak kebab oleh Zainab

1) Memasak sup Iraq oleh Shirin

53

1) Kue pertama dimasak oleh Nasreen, ia memasak fruit cake

2) Kue kedua tanpa susu dan telur dimasak oleh Kamila, dibantu oleh

memasak kolak dan harga kolak jika dijual

54

1) Gurame asam manis 2) Mendiskusikan

Tabel 4. Kurikulum Kegiatan Memasak Aneka Kue

Tanggal Aktivitas

9 Juni 2021

1) Belajar membuat Apple Struddle 2) Belajar membuat Peach Puff 3) Belajar membuat Beef Roll

55 16 Juni

2021

1) Belajar membuat Fruit Tartlette 2) Belajar membuat Quiche Loraine 3) Belajar membuat Cream Puff 21 Juni

2021

1) Belajar membuat Fruit Danish 2) Belajar membuat Almond Danish 3) Belajar membuat Cinnamon roll 30 Juni

2021

1) Belajar membuat kue

2) Belajar cara mendekorasi kue

d) Materi Pelatihan

1) Program ini dikemas dalam bentuk kelas memasak secara

1) Program ini dikemas dalam bentuk kelas memasak secara

Dokumen terkait