• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESILIENSI BAGI URBAN REFUGEES MELALUI PROGRAM LIVELIHOOD DI JESUIT REFUGEE SERVICE CISARUA BOGOR. Skripsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RESILIENSI BAGI URBAN REFUGEES MELALUI PROGRAM LIVELIHOOD DI JESUIT REFUGEE SERVICE CISARUA BOGOR. Skripsi"

Copied!
160
0
0

Teks penuh

(1)

RESILIENSI BAGI URBAN REFUGEES MELALUI PROGRAM LIVELIHOOD DI JESUIT REFUGEE SERVICE CISARUA BOGOR

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh Bazlin Fadilah NIM 11170541000033

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1443 H/2021

(2)

i

(3)

ii

PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Bazlin Fadilah NIM : 11170541000033

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul RESILIENSI BAGI URBAN REFUGEES MELALUI PROGRAM LIVELIHOOD DI JESUIT REFUGEE SERVICE CISARUA BOGOR adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunannya. Adapun kutipan yang ada dalam penyusunan karya ini telah saya cantumkan sumber kutipannya dalam skripsi.

Saya bersedia melakukan proses yang semestinya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku jika ternyata skripsi ini sebagian atau keseluruhan merupakan plagiat dari karya orang lain.

Demikian pernyataan ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya.

Jakarta, 28 Agustus 2021

Bazlin Fadilah

NIM. 11170541000033

(4)

iii

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi ini berjudul “Resiliensi bagi Urban Refugees Melalui Program Livelihood di Jesuit Refugee Service Cisarua Bogor” disusun oleh Bazlin Fadilah (11170541000033) telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada Rabu, 22 September 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat gelar sarjana (S.Sos) pada Program Studi Kesejahteraan Sosial.

Jakarta, 22 September 2021 Sidang Munaqasyah

Ketua Penguji

Ahmad Zaky, M.Si.

NIP. 197711272007101001

Anggota

ABSTRAK

Bazlin Fadilah, RESILIENSI BAGI URBAN REFUGEES MELALUI PROGRAM LIVELIHOOD DI JESUIT REFUGEE SERVICE CISARUA BOGOR.

Negara-negara di Asia kerap kali menjadi sasaran mobilisasi refugees yang

(5)

iv

ABSTRAK

Bazlin Fadilah, RESILIENSI BAGI URBAN REFUGEES MELALUI PROGRAM LIVELIHOOD DI JESUIT REFUGEE SERVICE CISARUA BOGOR.

Negara-negara di Asia kerap kali menjadi sasaran mobilisasi refugees yang bermigrasi untuk mencari perlindungan, salah satunya Indonesia. Di Indonesia, sebagian besarnya hidup secara mandiri di wilayah penduduk dan tinggal berdampingan dengan warga lokal atau disebut dengan urban refugees. Refugees yang datang ke Indonesia mengalami berbagai kesulitan yang berat, terlebih lagi dari adanya limitasi kesempatan untuk bekerja yang dapat mengganggu ketahanan hidupnya (resiliensinya). Hal ini mendorong organisasi masyarakat non-profit yaitu Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia di Cisarua, Bogor dengan program livelihoodnya untuk turut membantu refugees dalam mendukung ketahanan hidupnya. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana resiliensi bagi Urban Refugees melalui Program Livelihood yang sedang dijalankan di Jesuit Refugee Service di Cisarua, Bogor. Subjek dalam penelitian ini adalah empat orang Urban Refugees yang tinggal secara mandiri dan mengikuti Program Livelihood. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deksriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.

Berdasarkan hasil analisis penelitian, keempat Urban Refugees memiliki resiliensi yang baik yang didapatkan dari dukungan dan manfaat yang diperoleh dari Program Livelihood. Keempat Urban Refugees memiliki sifat-sifat individu yang resilien mulai dari kompetensi sosial (social competence), otonomi (autonomy), kemampuan memecahkan masalah (problem-solving skill), dan kesadaran akan tujuan dan masa depan (a sense of purpose and future) yang didapatkan melalui tahapan resiliensi mengalah (succumbing), bertahan (survival), pemulihan (recovery), berkembang (thriving) dan faktor pendukung resiliensi yang masing- masing miliki mulai dari I Am, I Have, dan I Can.

Kata Kunci : Resiliensi, Urban Refugees, Program Livelihood

(6)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga skripsi berjudul Resiliensi Bagi Urban Refugees Melalui Program Livelihood di Jesuit Refugee Service Cisarua Bogor dapat terselesaikan dengan baik dalam rangka memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana-1, Jurusan Kesejahteraan Sosial, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang telah menjadi teladan bagi peneliti untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.

Pada kesempatan kali ini, peneliti akan mengucapkan rasa terima kasih kepada berbagai pihak yang turut memberikan motivasi positif, dukungan, dan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penyusunan skripsi peneliti. Dengan segala kerendahan hati, peneliti mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Suparto M.Ed., Ph.D. , selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

2. Ibu Dr. Siti Napsiyah, MSW. , selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi dan Dosen di Jurusan Kesejahteraan Sosial.

3. Bapak Drs. Cecep Sastrawijaya, MA. ,selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang turut mendukung peneliti untuk berprestasi selama menjadi mahasiswa kesejahteraan sosial.

4. Bapak Ahmad Zaky, M.Si. , selaku Kepala Program Studi Kesejahteraan Sosial yang turut mendukung peneliti untuk berkiprah dan berprestasi selama perkuliahan dan penelitian.

5. Ibu Nunung Khoiriyah, MA. , selaku Sekretaris Jurusan Kesejahteraan Sosial.

6. Bapak Drs. Helmi Rustandi, M.Ag., selaku Dosen Pembimbing Akademik.

(7)

vi

7. Bapak Muhammad Kholis Hamdy S.Sos.I, MInt.Dev., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang sudah membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Ibu Lisma Dyawati Fuaida, M.Si., Ibu Ellies Sukmawati, S.T., M.Si., Ibu Nadya Kharima, M.Kessos., Ibu Nurkhayati Nurbus, S.E., M.Si., dan Bapak Ismet Firdaus, M.Si selaku Dosen Prodi Kesejahteraan Sosial.

9. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang turut mengajar dan membimbing peneliti selama menjadi mahasiswa.

10. Bapak Peter Devantara, Country Director JRS Indonesia.

11. Saudara Gading Gumilang Putra, selaku National Information and Advocacy Officer JRS Indonesia.

12. Saudari Roswita, selaku Coordinator of JRS Jakarta dan Saudari Elsza Fitriana, selaku Information and Advocacy Officer JRS Jakarta.

13. Saudari Mariana Rosiana, selaku Livelihood Program Officer JRS Bogor yang selalu dengan sabar menemani peneliti selama proses observasi dan mendukung peneliti selama proses penelitian.

14. Seluruh Staf JRS Bogor yang turut membantu peneliti selama proses penelitian yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

15. Teman-teman Refugees di Bogor yaitu Sohaila, Umull Banin, Camilla, dan Roger Gere Nzapa yang sudah bersedia mendukung penelitian ini dan seluruh teman-teman Refugees lainnya di Bogor yang turut membantu peneliti selama proses observasi.

16. Kedua Orang tua, Ayah dan Ibu yang selalu mendukung, memberikan masukan, dan menemani peneliti dalam kondisi apapun yaitu Bapak Sutrisno dan Ibu Alifah. Serta tak lupa, kakak kandung peneliti yaitu Indah Kusuma Ningrum dan Adik Kandung peneliti yaitu Muhammad Rafly Rachman yang turut berkontribusi besar dalam hidup peneliti.

17. Seluruh teman-teman UKM Bahasa-FLAT, terkhusus keluarga besar Angkatan 17 yang senantiasa menjadi support system peneliti dalam berorganisasi dan berprestasi.

18. Saudari Khoirunnisa Linda NS, selaku teman yang bersedia direpotkan

selama proses penelitian di Bogor beserta keluarga besarnya.

(8)

vii

19. Teman-teman peneliti di Jurusan Kesejahteraan Sosial yang selalu memberikan afirmasi dan dukungan positif kepada peneliti yaitu : Vicha Dita Prasetyo, Desi Melinda, Ivanka Indah Rahmawati, Mayank Intami, Alvia Tri Wahyuni, dan Oke Juliane.

20. Teman, adik, dan kakak di Komunitas Social Connect yang selalu memberikan afirmasi dan dukungan positif kepada peneliti yaitu : Putu Getsha Pradnyan Rarasati Mudita, Sinta Putri Nirmala, Laurensia Putri, dan Safira Ulfatul Islami.

21. Seluruh Mahasiswa/i Kesejahteraan Sosial UIN Jakarta Angkatan 2017.

22. Serta semua pihak yang turut membantu peneliti dengan memberikan doa dan dukungannya dalam pembuatan skripsi ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.

23. Terakhir, yang tidak kalah penting adalah diri sendiri. Thank you for being so tough beyond the journey.

Peneliti menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Untuk itu, peneliti memohon maaf dan meminta pengertiannya apabila terdapat kekurangan dan kekeliruan. Hal ini tentunya akan menjadi proses pembelajaran ke depan bagi peneliti. Besar harapan peneliti agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca di berbagai kalangan. Semoga semakin luas informasi terkait isu refugees di Indonesia tersebar, semakin besar pula inisiatif masyarakat untuk turut membantu dalam menangani persoalan pengungsi atau refugee.

Jakarta, 28 Agustus 2021 Peneliti,

Bazlin Fadilah

(9)

viii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR SINGKATAN ... xii

BAB I ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Batasan Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 6

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

1. Tujuan Penelitian ... 6

2. Manfaat Penelitian ... 6

E. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 6

F. Metode Penelitian ... 8

1. Jenis Penelitian ... 8

2. Pendekatan Penelitian ... 9

3. Sumber Data ... 9

4. Tempat dan Waktu Penelitian ... 10

5. Teknik Pengumpulan Data ... 10

6. Teknik Analisis Data ... 12

7. Teknik Keabsahan Data ... 13

8. Pedoman Penulisan ... 13

9. Teknik Pemilihan Informan ... 14

G. Sistematika Penulisan ... 15

BAB 2 ... 17

A. Landasan Teori ... 17

1. Resiliensi... 17

2. Livelihood ... 26

3. Urban Refugees ... 27

4. Organisasi Pelayanan Manusia ... 29

(10)

ix

B. Kerangka Berpikir ... 32

BAB 3 ... 33

A. Profil Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia ... 33

B. Profil Jesuit Refugee Service, Cisarua, Bogor ... 37

C. Program Livelihood di Jesuit Refugee Service, Cisarua, Bogor... 43

BAB 4 ... 59

A. Gambaran Keadaan Urban Refugees di Bogor ... 59

B. Resiliensi Urban Refugees ... 62

BAB 5 ... 76

A. Resiliensi Bagi Urban Refugees Melalui Program Livelihood di Jesuit Refugee Service, Cisarua, Bogor ... 76

BAB 6 ... 87

A. Simpulan ... 87

B. Implikasi ... 88

C. Saran ... 88

DAFTAR PUSTAKA ... 90

LAMPIRAN ... 95

(11)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Nama Informan ... 14

Tabel 2. Kurikulum Kegiatan Merajut (Crochet)... 47

Tabel 3. Kurikum Kegiatan Memasak Masakan ... 52

Tabel 4. Kurikulum Kegiatan Memasak Aneka Kue ... 54

(12)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Logo JRS Indonesia ... 34

Gambar 2. Lokasi JRS Center Bogor ... 37

Gambar 3. Struktur Organisasi JRS Bogor ... 37

Gambar 4. Data Penerima Manfaat 2020 (Berdasarkan Negara dan Gender) ... 40

Gambar 5.Data Penerima Manfaat 2020 (Berdasarkan Tipe Bantuan yang Diberikan dan Rentang Umur) ... 40

Gambar 6.Data Penerima Manfaat 2021 (Berdasarkan Negara dan Gender) ... 41

Gambar 7. Data Penerima Manfaat 2021 (Berdasarkan Tipe Bantuan yang Diberikan dan Rentang Umur) ... 42

Gambar 8.Website dan Sosial Media Refutera ... 57

Gambar 9.Bentuk Produk yang Dijual di Refutera ... 57

(13)

xii

DAFTAR SINGKATAN

UNHCR : United Nations High Commissioner for Refugees HAM : Hak Asasi Manusia

RSD : Refugee Status Determination

NGO : Non- Government Organization

JRS : Jesuit Refugee Service

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Isu kemanusiaan menjadi persoalan global yang tak kunjung usai. Seiring berjalannya waktu, isu ini menjadi semakin kompleks akibat dari kondisi sosial, ekonomi, dan politik berbagai negara yang kerap kali mengalami perubahan dan melahirkan berbagai kesenjangan bagi masyarakat di negaranya. Salah satu isu yang menjadi persoalan global adalah isu pengungsi (refugees). Mobilitas penduduk dari satu tempat ke tempat lain sudah menjadi bagian dari pola kehidupan manusia sejak zaman dahulu. Hal ini dibuktikan dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, ekspansi warga Eropa ke Amerika dan Australia, migrasi besar akibat dari Perang Dunia II, dan gelombang migrasi Indonesia yang terjadi pada 60-50 ribu tahun yang lalu hingga masuknya penjajah Hindia Belanda dan Jepang ke Indonesia (Amalia, 2019).

Pada abad ke-20, tepatnya pada Perang Rusia (Revolusi Rusia), dimana pengungsi dari Rusia berbondong-bondong bermigrasi ke Eropa Barat untuk mencari perlindungan menjadi turning point penanganan pengungsi dalam hukum internasional (Afriandi, 2014). Peristiwa ini direspon oleh komunitas internasional dan melahirkan instrumen perlindungan pengungsi yang tertuang dalam Konvensi Pengungsi 1951 dan Protokol 1967 oleh UNHCR. Instrumen tersebut mengatur bagaimana pengungsi semestinya diperlakukan untuk melindungi hak asasi manusia mereka.

Warga sipil yang mengalami kerentanan di negaranya sendiri banyak yang memutuskan bermigrasi ke perbatasan negara lain untuk mencari perlindungan dan rasa aman. Mereka yang bermigrasi keluar dari negaranya untuk mencari perlindungan karena keresahan, kecemasan, dan ancaman yang disebabkan oleh pelanggaran hak asasi manusia dan konflik disebut dengan pengungsi (refugees) atau pencari suaka (asylum seeker) (Betts & Loescer, 2011).

Dalam hukum internasional, dasar hukum utama dalam pengaturan tentang

pengungsi diatur dalam Konvensi Pengungsi tahun 1951 dan Protokol 1967

(15)

2

mengenai status pengungsi. Konvensi tersebut memberikan definisi kriteria pengungsi yakni : 1. Berada di luar negara asal/ negara kebangsaannya, 2. Memiliki ketakutan yang mendasar akan menerima persekusi, 3. Karena alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan, terhadap kelompok sosial tertentu dan pendapat politik, 4. Tidak mampu berlindung di negaranya sendiri atau tidak ingin memperoleh perlindungan dari negaranya (UNHCR, 1967).

Sehubungan dengan semakin meningkatnya konflik dan kesenjangan HAM.

Arus pengungsi pun bukan hanya memenuhi negara-negara di Eropa dan Amerika, tetapi juga negara-negara di Asia kerap menjadi sorotan mobilitas migrasi para pengungsi untuk singgah. Negara-negara berkembang menampung 86% pengungsi di seluruh dunia, satu dari nya adalah Indonesia (Jesuit Refugee Service Indonesia, 2014). Indonesia adalah salah salah satu tempat singgah pengungsi yang bertujuan untuk mencari suaka maupun tujuan transit. Hal ini dikarenakan letak geografis Indonesia yang strategis sehingga menjadikannya salah satu negara yang memiliki mobilitas pengungsi.

Indonesia merupakan tempat persinggahan terakhir dari arus pencari suaka ke negara tujuan, yaitu Australia. Saat ini, total pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar di UNHCR Indonesia sebanyak 13.459 per April 2021, secara kumulatif 57% Afghanistan, 10% Somalia, 5% Iraq (UNHCR Indonesia, 2021). Menurut The UN Refugee Agency, sebanyak 60% pengungsi yang berada di seluruh dunia bertempat tinggal secara mandiri dan hidup berbaur dengan masyarakat atau yang biasa disebut dengan Urban Refugees atau pengungsi urban.

Di samping itu, Indonesia adalah salah satu negara yang tidak atau belum meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951 dan Protokol 1967 sehingga fungsi daripada Indonesia terhadap para pengungsi tersebut adalah sebagai negara penampungan sementara dan bukan merupakan negara tujuan. Indonesia tidak berhak untuk menentukan status pengungsi atau yang biasa disebut dengan Refugee Status Determination (RSD). Para pengungsi dikendalikan penuh oleh UNHCR selaku badan penanggung jawab pengungsi secara global.

Oleh karenanya, Indonesia tidak berkewajiban normatif untuk memenuhi hak

dan kewajiban atas perlindungan bagi para pengungsi dan pencari suaka menurut

(16)

3

Konvensi Pengungsi 1951. Hak-hak pengungsi seperti hak untuk bekerja, mendapatkan pendidikan, memiliki tempat tinggal, mendapatkan bantuan publik, kebebasan beragama, dan lain-lain tidak secara wajib diberikan oleh Indonesia terhadap mereka. Walaupun demikian, Indonesia sebagai negara penampungan sementara juga berpegang pada prinsip-prinsip tidak memulangkan (non refoulment), tidak mengusir (non expulsion), tidak membedakan (non discrimination), dan juga tidak melakukan tindak pindana bagi para pengungsi di Indonesia (Sultoni et al., 2014).

Indonesia telah menunjukkan respon positifnya melalui Peraturan Presiden No.125 tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri. Sayangnya, Perpres tersebut semata-mata belum memperlihatkan komitmen pemerintah dalam penanganan pengungsi secara menyeluruh. Proses implementasi dari Perpres ini masih menemukan banyak hambatan meski penerbitan Perpres dianggap sebuah kemajuan (Agung, 2018).

Salah satu dinamika terbesar pengungsi di negara ini adalah tidak memiliki kesempatan untuk bekerja. Lingkungan baru yang tidak memperbolehkan mereka untuk bekerja memberikan beban hidup yang signifikan dirasakan oleh pengungsi, di samping banyaknya kebutuhan hidup yang perlu dipenuhi. Hidup di negara yang asing dengan ketidakpastian dan minimalnya sumber daya dalam mendukung pengungsi untuk penghidupan sehari-hari bersama keluarga memberikan efek yang signifikan kepada resiliensi para pengungsi. Tekanan hidup yang mereka rasakan di negara asal dan di Indonesia memberikan kerentanan hidup yang sama dengan bentuk yang berbeda.

Menurut De Vries (1994), kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar hidup

menjadikan mereka rentan terhadap sakit dan penyakit, kesulitan dalam mengakses

pendidikan bagi anak-anak membuat anak mereka tidak terdidik dan lemah kognitif,

dan kesulitan berbahasa membuat mereka rentan terdiskriminasi oleh masyarakat

ditambah stigma Xenophobia (ketakutan atau kebencian terhadap orang asing) yang

dipungikiri selalu ada. Hal ini mengancam resiliensi hidup para pengungsi selama

tinggal disini (Ameen & Cinkara, 2018).

(17)

4

Oleh karenanya, untuk kembali bangkit dalam hidup diatas segala ketidakpastian yang pengungsi alami adalah hal yang sangat berat, mulai dari tidak pastinya kapan akan diberangkatkan ke negara tujuan dan bertahan hidup di lingkungan baru yang tidak memperbolehkan mereka untuk bekerja, serta kesulitan- kesulitan lainnya.

Indonesia harus lebih siap dalam mempertimbangkan keputusan untuk menerima pengungsi masuk ke wilayahnya walaupun hanya sebagai tempat penampungan sementara. Keterbatasan pemerintah dan organisasi-organisasi internasional dalam memberikan bantuan kepada para pengungsi menggerakkan berbagai organisasi masyarakat nonprofit yang bergerak di bidang sosial untuk turut membantu dalam menyalurkan bantuan kepada pengungsi dalam hal kebutuhan- kebutuhan yang mereka perlukan.

Salah satunya adalah Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia yang bergerak di pemenuhan kebutuhan utama dan pendamping dengan salah satu program unggulannya yaitu pemberdayaan bagi pengungsi melalui program livelihood.

Program ini bertujuan untuk memberdayakan para pengungsi yang memiliki skill- skill tertentu agar dapat diberdayakan untuk perpanjangan hidup selama tinggal di Indonesia. Livelihood itu sendiri bukanlah hanya sekedar aktivitas mencari nafkah, tetapi juga mengembangkan aset dan jaringan sosial.

Hal ini pun juga berpengaruh terhadap resiliensi pengungsi untuk tetap bertahan hidup. Peneliti berpendapat bahwa resiliensi perlu dimiliki oleh setiap individu karena resiliensi dapat menjadi faktor berhasil atau tidaknya hidup seseorang. Setiap individu akan mengalami hambatan dan kesulitan semasa hidupnya sehingga perlu adaptasi yang baik untuk menghadapi hal-hal tersebut.

JRS Indonesia dengan program livelihood nya yang berfokus pada produktivitas

para pengungsi dengan kegiatan pengembangan dan pelatihan skill yang dirasa

menjadi program potensial untuk mencapai aspek-aspek resiliensi sehingga

pengungsi memiliki resiliensi yang lebih baik. Selain membangun kemandirian

dalam memenuhi kebutuhan hidup pengungsi, program ini pula secara luasnya dapat

membangun relasi yang baik antara pengungsi dengan pengungsi dan pengungsi

dengan warga lokal sehingga memunculkan dukungan sosial yang kuat terhadap

(18)

5

kohesi suatu kelompok (Community Cohesion) dan biasanya dihubungkan dengan meningkatkan kesehatan juga kesejahteraan kelompok diantara manfaat yang lainnya

(Diwan & Jonnalagadda, 2008). Dengan berbagai perbedaan fisik, Bahasa, agama, dan gaya hidup yang berbeda menciptakan dinamika baru bagi warga lokal yang hidup berdampingan dengan pengungsi. Selain itu, dengan keberadaan pengungsi yang tinggal berdampingan dengan masyarakat lokal, hal ini dapat menciptakan persepsi baru bagi masyarakat lokal untuk mencari tahu tentang pengungsi (Amalia, 2019).

Hubungan sosial dan dukungan lainnya yang terjadi antara pengungsi dan warga lokal memainkan peran penting perkembangan Livelihood yang sedang dijalani. Hubungan baik warga lokal tersebut dapat menjadi dukungan untuk membantu pengungsi kapanpun mereka berada dalam kesulitan. Misalnya, berbagi lahan dengan para pengungsi untuk menanam dan bagi hasil bersama. Hal ini dapat meningkatkan livelihood yang sedang dijalankan sehingga tidak ada pihak yang merasa tersaingi ketika hal itu berkaitan dengan peluang ekonomi (Kokotsaki et al., 2014).

Dengan berbagai kesulitan yang memberikan kerentanan bagi para pengungsi di Indonesia, sangat penting bagi mereka untuk memiliki ketahanan hidup yang baik agar mereka lebih kuat untuk melanjutkan hidup dan menjadi pribadi yang resilien.

Peneliti berdendapat jika isu internasional akan sangat menarik untuk dibahas dilihat dari minimnya pembahasan dari isu refugees. Di bawah urgensi yang dipaparkan diatas, peneliti bertujuan untuk melakukan penelitian yang berjudul

“Resiliensi Bagi Urban Refugees Melalui Program Livelihood di Jesuit Refugee Service Cisarua Bogor”.

B. Batasan Masalah

Banyaknya penelitian yang membahas tentang resiliensi seseorang, untuk

memudahkan proses penelitian ini, maka peneliti akan memfokuskan dan

membatasi penelitian ini pada Urban Refugees, pengungsi yang tinggal secara

mandiri di suatu wilayah yaitu Kota Bogor, serta mengamati proses resiliensi yang

hadir selama pelaksanaan Program Livelihood untuk bertahan hidup selama tinggal

di Indonesia.

(19)

6

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah yang sudah dijelaskan diatas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah

“Bagaimana Resiliensi Urban Refugees Melalui Program Livelihood di Jesuit Refugee Service, Cisarua, Bogor ?”

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Menurut rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana resiliensi bagi Urban Refugees melalui Program Livelihood di Jesuit Refugee Service (JRS), Cisarua, Bogor.

2. Manfaat Penelitian

a) Secara teoritis, manfaat penelitian ini adalah sumbangan pemikiran dan rujukan tambahan terhadap pentingnya Program Livelihood dalam memberikan harapan dan penghidupan serta mempertahankan atau meningkatkan resiliensi bagi para refugee secara luas.

b) Secara praktis, manfaat penelitian ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap isu refugees di Indonesia.

Selain itu, memberikan gambaran pentingnya program-program positif seperti livelihood untuk dikembangkan demi keadaan refugees di Indonesia yang lebih baik.

E. Tinjauan Kajian Terdahulu

Untuk menghindari plagiasi dan menguatkan penelitian yang akan dilakukan, maka dalam penyusunan penelitian ini, peneliti melakukan kajian terhadap beberapa penelitian terdahulu yang membahas terkait refugees yang spesifikasinya pada pemenuhan kebutuhan melalui Program Livelihood dan penelitian lain yang berhubungan erat dengan topik penelitian.. Hal ini dilakukan sebagai pedoman dan penguat kajian keilmuan dari penelitian yang akan dilakukan.

Kajian pertama adalah penelitian yang berjudul The IKEA Foundation and

Livelihoods in Dollo Ado Lessons from the cooperatives model yang disususn

(20)

7

oleh Alexander Betts and Raphael Bradenbrink dari University of Oxford.

Penelitian menjelaskan Program Livelihood yang diberikan oleh IKEA Foundation untuk memberikan harapan bagi refugees yang berada di Camp Dollo Ado, Ethiopia. Program yang dibangun adalah Program Livelihood yang berkepanjangan di berbagai sektor yaitu, peternakan, pertanian, energi, dan lingkungan. Karena uang yang disumbangkan tidak sedikit, IKEA Foundation memberikan modal-modal berupa infrastruktur yang memadai, microfinance, dan juga pelatihan kepada refugees dan host community. Hasil yang paling signifikan terlihat adalah di sektor pertanian dan peternakan, sementara energi dan lingkungan masih memiliki berbagai kendala. Hasil dari survey yang dilakukan, 87 % refugees yang tinggal di kamp tersebut mendapati diri mereka lebih baik dalam hal finansial (Betts &

Bradenbrink, 2020).

Kajian Kedua adalah penelitian yang berjudul Building Livelihood

Opportunities for Refugee Populations : Lessons From Past Practice yang

disusun oleh Karen Jabobsen dan Susan Fratzke dari Migration Policy Institute. Penelitian ini mendeskripsikan Program Livelihood, strategi, dan tujuan yang diimplementasikan terhadap refugees. Program yang termasuk didalamnya antara lain Job Skill , Language, Vocational Training, program pelatihan teknologi, dan microfinance. Program ini dirasa penting sebagai basis pembekalan bagi refugees untuk bekerja, serta dukungan inisiatif untuk berpartisipasi di kegiatan pertanian dan semacamnya. Penelitian ini juga memberikan evaluasi program yang diterapkan bahwa skill-skill yang diprioritaskan harus menyasar pasar dagang dan kondisi ekonomi (Jacobsen & Fratzke, 2016).

Kajian yang ketiga adalah Linkages Between Livelihood Opportunity and

Refugee-Host Relations : Learning From Experiences of Liberian Camp Based Refugees in Ghana yang disusun oleh Kokotsaki, D , Menzies, V, Wiggins, A

dari Durham University. Penelitian ini bertujuan untuk mencapai hubungan

produktif secara jangka panjang antara refugees dengan warga sipil disana yang

dihubungkan melalui Program Livelihood. Penelitian ini menggabungkan perspektif

livelihood dengan kerangka resiliensi masyarakat dalam mempelajari hubungan

refugee dengan masyarakat lokal di kamp Buduburam di Ghana (Kokotsaki et al.,

2014).

(21)

8

Kajian yang keempat adalah Persepsi Masyarakat Setempat Tentang Keberadaan Pengungsi Internasional di Wilayah Kelurahan Medang Kecamatan Pagedangan yang disusun oleh Alifa Nurul Amalia dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kelurahan Medang menjadi lokasi yang ditunjuk oleh Kemenkumhan untuk menjadi shelter bagi para pengungsi internasional di bawah manajemen IOM Indonesia. Para pengungsi internasional hidup berdampingan dengan masyarakat di wilayah Kelurahan Medang. Hal ini memunculkan dinamika sosial bagi warga sekitar, sebab berbagai perbedaan yang dimiliki oleh kedua belah pihak menciptakan berbagai persepsi di masyarakat. Berdasarkan data temuan dan hasil penelitian bahwa sebagian besar informan menunjukkan persepsi positif tentang keberadaan pengungsi internasional di lingkungan mereka. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mendominasi dalam proses pembentukan persepsi warga Medang yakni, pengetahuan, kebutuhan, kepribadian, agama yang dianut, dan nilai dalam masyarakat. Melalui faktor-faktor tersebut terdapat kesamaan dan keragaman persepsi informan tentang keberadaan pengungsi internasional di wilayah Kelurahan Medang (Amalia, 2019).

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting) dan data yang dikumpulkan bersifat kualitatif sehingga disebut dengan metode kualitatif.

Penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (1990), merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau tulisan dari orang-orang atau fenomena yang sedang diamati (Salam & Aripin, 2006).

Dengan kata lain, penelitian ini menghasilkan informasi yang tidak perlu

dikuantifikasikan dan disajikan dalam konteks khusus yang alamiah dengan

menggunakan berbagai metode alamiah. Namun, bukan berarti dalam penelitian

kualitatif peneliti tidak boleh menggunakan angka, melainkan dalam hal-hal

tertentu (Arikunto, 2006).

(22)

9

2. Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian murni yang mencakup penelitian- penelitian kerangka akademis dalam bentuk skripsi. Sementara itu, jenis penelitian yang digunakan adalah deksriptif karena penelitian yang dilakukan adalah berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung dan berkenaan dengan kondisi masa sekarang. Metode deskriptif adalah satu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu subjek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran atau pun kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2011).

Pendekatan dan jenis penelitian ini digunakan oleh peneliti untuk mendeskripsikan dan menganalisis resiliensi bagi Urban Refugees melalui Program Livelihood di Jesuit Refugee Service, Cisarua, Bogor. Dalam penelitian ini juga, peneliti berusaha menggambarkan fenomena tersebut sebaik mungkin melalui pengumpulan data dengan melakukan pengamatan, wawancara, dan studi dokumentasi serta melakukan analisis yang relevan dengan teori-teori.

3. Sumber Data

Terdapat dua jenis sumber data dalam melakukan penelitian, yaitu data primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang dikumpulkan berdasarkan interaksi langsung yang dilakukan oleh peneliti dan sumber data.

Data primer pada penelitian ini diperoleh langsung dari pihak JRS Indonesia, JRS Bogor, dan Urban Refugees yang tinggal di Bogor melalui proses observasi wawancara, dan studi dokumentasi.

Sementara itu, data sekunder diperoleh dari sumber-sumber tercetak yang

dikumpulkan melalui pihak yang bersangkutan atasnya, yaitu JRS Bogor dan

website JRS Indonesia. Data yang peneliti peroleh berupa artikel website dan

dokumentasi tertulis yang bersangkutan.

(23)

10

4. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kantor JRS Bogor dan JRS Learning Center sebagai tempat pelaksanaan program. Masing-masing lokasinya berada di sebagai berikut.

a) Kantor Pusat JRS Bogor : Komplek Kehutanan Wana Mulya II nomor 322D/39, Jalan Raya Wangun, Sindangsari, Bogor Timur, Kota Bogor.

b) JRS Learning Center (Tempat Pelayanan Refugees) : Hotel Kenanga, Jalan Labuan – Cianjur, Cibeureum, Kec. Cisarua, Kota Bogor, Jawa Barat, 16750.

5. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut.

a) Wawancara

Wawancara merupakan teknik penelitian dengan menggunakan komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi melalui serangkaian tanya jawab atas peneliti dengan informan. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2012).

Teknik wawancara yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur (semistructure interview).

Wawancara ini dimulai dari isu yang dicakup dalam pedoman wawancara. Sekuensi pertanyaan tidaklah sama pada tiap partisipan bergantung pada jawaban dan proses individu. Namun, karena adanya pedoman wawancara hal ini dapat mengendalikan peneliti untuk dapat mencapai tujuan penelitian sesuai dengan topik penelitian tergali (Rachmawati, 2007).

Wawancara pada penelitian ini dilakukan sebanyak 8 kali untuk 8

informan yang terdiri dari staff JRS sebagai pihak penyelenggara dan

(24)

11

refugees sebagai penerima manfaat. Wawancara sudah dilakukan mulai dari bulan November 2020 – Agustus 2021 untuk penggalian informasi awal terkait JRS Indonesia dan program nya secara umum. Proses wawancara dilakukan secara online dan offline.

b) Observasi

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan pancaindra mata sebagai alat bantu utamanya.

Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan (Bungin, 2009).

Menurut Marshall, menjelaskan bahwa melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut. Observasi yang dilakukan merupakan observasi non-partisipan, dimana peneliti tidak ikut terlibat dalam kegiatan secara langsung dan hanya sebagai pengamat yang independen (Sugiyono, 2008). Dalam penelitian ini, peneliti akan mengamati proses pelaksanaan Program Livelihood yang dijalankan dan bagaimana resiliensi bagi Urban Refugees yang megikuti Program Livelihood.

Observasi dalam penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu Mei – Juni 2021 di JRS Bogor.

c) Dokumentasi

Dokumentasi adalah data pendukung yang memperkuat data primer

yang didapat dari sumber data berupa laporan dan dokumentasi. Studi

dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data kualitatif

dengan melihat atau menganalisis dokumen yang dibuat sendiri oleh

subjek atau orang lain yang berkaitan dengan subjek. Studi

dokumentasi dikategorikan sebagai data sekunder untuk melalui suatu

media tertulis atau dokumen lainnya yang ditulis atau dibuat langsung

oleh subjek yang bersangkutan (Herdiansyah, 2012).

(25)

12

Dokumentasi yang peneliti dapatkan pada website JRS Indonesia adalah : visi misi, latar belakang, tugas dan fungsi, kerangka kerja strategis, dan letak geografis JRS Indonesia. Sedangkan, dokumentasi yang peneliti dapatkan pada informan di JRS Bogor adalah : logo, data penerima manfaat 2020-2021 berdasarkan negara dan gender, data penerima manfaat 2020-2021 berdasarkan tipe bantuan yang diberikan dan rentang umur, kurikulum Program Livelihood kolektif (merajut, memasak, refutera).

6. Teknik Analisis Data

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan, dokumen resmi, gambar, foto, dan sebagainya (Moleong, 2012). Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data dari Miles dan Huberman (1992), yaitu :

a) Pengumpulan Data

Dalam penelitan ini pengumpulan data dilakukan dengan mencari, mencatat, dan mengumpulkan data melalui hasil wawancara, dokumentasi, dan observasi yang terkait dengan pelaksanaan Program Livelihood di JRS Bogor.

b) Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan (Sugiyono, 2008).

c) Penyajian Data

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah

mendisplaykan data. Dalam penyajian data, maka data terorganisasikan,

(26)

13

tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami.

Display data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Penyajian data dilakukan untuk mempermudah peneliti untuk dapat mendeskripsikan data sehingga akan lebih mudah dipahami (Sugiyono, 2008).

d) Kesimpulan dan Verifikasi

Tahap selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya (Sugiyono, 2008). Pada penelitian ini, kesimpulan awal yang dikemukakan oleh peneliti akan didukung oleh data- data yang diperoleh peneliti di lapangan. Jawaban dari hasil penelitian akan memberikan penjelasan dan kesimpulan atas permasalahan penelitian yang diteliti dalam penelitian ini.

7. Teknik Keabsahan Data

Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu” (Moleong, 2009).

Hal ini dapat dicapai dengan melakukan cek dan ricek data antara data yang didapat melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi yang akan peneliti lakukan, dengan begitu keabsahan data yang diteliti oleh peneliti bersifat valid.

8. Pedoman Penulisan

Penulisan skripsi ini mengacu pada Keputusan Rektor UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta Nomor 507 tahun 2017 tentang penulisan karya ilmiah

(skripsi, tesis, dan disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(27)

14

9. Teknik Pemilihan Informan

Teknik pemilihan informan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sampel bertujuan atau purposive sampling yang mengutamakan karakteristik tertentu dari subyek penelitiannya (Moleong, 2009). Purposive sampling ialah kriteria yang diambil hanya menurut kriteria, pengetahuan peneliti, dan pemilihan secara otomatis terhadap sampel oleh pemahaman peneliti yang mempengaruhinya terhadap populasi (Nursiyono & Wahyuningtyas, 2014).

Berikut adalah daftar informan penelitian yang peneliti tetapkan. Peneliti melakukan pertimbangan terlebih dahulu terhadap informan dan pertanyaan wawancara yang dilakukan guna mendapatkan informasi yang lengkap dan mampu dimanfaatkan dalam kurun waktu yang singkat.

Pemilihan informan pelaksana program didasarkan pada pertimbangan orang yang menangani program nya secara langsung sehingga informasi dapat digali dengan lebih dalam oleh orang yang bertanggung jawab secara langsung.

Sedangkan, pemilihan informan penerima manfaat didapatkan dari kategori mereka yang berasal dari negara yang berbeda agar didapatkan keberagaman perspektif dan nilai, juga masing-masing dari penerima manfaat berasal dari kegiatan livelihood yang berbeda sehingga masing-masing kegiatan livelihood memiliki representasi.

Tabel 1. Nama Informan

No Informan Keterangan Pertanyaan

1. Gading Gumilang Putra

National Information and Advocacy Officer JRS Indonesia

Gambaran Umum JRS Indonesia.

2. Elsza Fitriana

Information and Advocacy Officer JRS Jakarta

Gambaran Program Be

Friend di JRS Jakarta.

(28)

15

3. Roswita Coordinator of JRS

Jakarta

Profiling Refugees di JRS Jakarta, Detail Program Livelihood di JRS Jakarta.

4. Mariana Rosiana Livelihood Program Officer JRS Bogor

Profiling Refugees di JRS Bogor, Detail Program Livelihood di JRS Bogor.

5. Sohaila (Pakistan) Refugee from Refutera

Activity Profiling Refugees,

Kesulitan yang dialami di Indonesia, Bagaimana Program Livelihood

memberikan harapan bagi Refugees (Dikaitkan dengan aspek-aspek resiliensi) 6. Camilla

(Afghanistan)

Refugee from Cooking Class

7. Umul Banin (Afghanistan)

Refugee From Hand Crafting Activity

8. Roger Gere Nzapa (Kongo)

Refugee From Community Project (Program

Livelihood)

G. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini ditulis ke dalam VI BAB, sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari Latar Belakang, Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjauan Kajian Terdahulu, dan Metode Penelitian.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Bab ini terdiri dari Landasan Teori dan Kerangka Berpikir.

(29)

16

BAB III GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN

Bab ini berisi tentang Gambaran Geografis, Gambaran Umum Kegiatan, Program Kerja, serta hal yang lain yang berkaitan dengan JRS.

BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

Bab ini membahas hasil temuan dan data yang mendukung penelitian mengenai resiliensi bagi Urban Refugees melalui Program Livelihood disertai kutipan wawancara dari berbagai informan.

BAB V PEMBAHASAN

Bab ini membahas mengenai keterkaitan antara teori, analisis data, dan hasil temuan yang diperoleh selama peneliti melakukan penelitian.

BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

Bab ini membahas Kesimpulan, Implikasi, dan Saran dengan tujuan untuk

penelitian selanjutnya, Daftar Pustaka, dan Lampiran-lampiran.

(30)

17

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori

1. Resiliensi

a) Pengertian Resiliensi

Resiliensi berasal dari Bahasa Latin yaitu resilire yang artinya kembali. Dalam Bahasa Inggris yaitu resiliency atau resilient diartikan sebagai suatu kondisi individu yang berhasil keluar dari kondisi terburuk.

Menurut Zainal (2011), secara umum resiliensi adalah kemampuan seseorang atau individu untuk mengembalikan kondisi semula atau awal dari kondisi terpuruk (Putri, 2019).

Menurut Jackson dan Watkin (2004), resiliensi adalah suatu konsep yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap masa-masa sulit yang dihadapi. Resiliensi seseorang juga menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam kehidupannya (Putri, 2019). Istilah resiliensi tidak hanya berkaitan seputar bagaimana seseorang mengelola dirinya ketika dihadapkan pada masa-masa sulit, tetapi juga berkaitan untuk mempertahankan kehidupan mereka agar memiliki makna dan bekontribusi terhadap orang-orang di sekitar mereka. Fiksel mengungkapkan bahwa resiliensi adalah kemampuan atau kapasitas dari sebuah sistem dalam diri untuk bertahan, beradaptasi, kemudian berkembang secara lebih baik ketika menghadapi kesulitan atau situasi yang tidak pasti (Carlson et al., 2012).

Resiliensi adalah sebuah proses yang bersifat kontinum sehingga tiap

individu dapat meningkatkan daya resiliensinya dari waktu ke waktu saat

menghadapi kesengsaraan (adversity) hidup sehari-hari. Proses

pengalaman negatif yang dialami dapat menjadi pembelajaran untuk

kehidupan selanjutnya bahkan lebih baik ketika individu dapat bangkit

dari hal tersebut. Voysoy (2014) menguraikan resiliensi sebagai

kemampuan membuat lompatan setelah orang mengalami hantaman

(31)

18

dalam hidup. Seorang yang memiliki daya lenting bisa jadi berada dalam kondisi terjatuh tetapi mampu bangkit kembali, bahkan menjadi kuat dari sebelumnya.

Menurut Cichetti dan Roggosh dalam Psychological Resilience (2010) menyatakan bahwa terdapat dua komponen yang harus ada dalam mengidentifikasi resiliensi, yaitu : (1) Paparan dari suatu yang sulit dan menekan, hambatan atau ancaman yang berat dalam hidup individu ; serta (2) Penyesuaian positif idividu pada paparan tersebut (Dwi, 2020).

Menyepakati pendapat Cichetti dan Roggosh, Luthar juga menyatakan bahwa resiliensi akan dapat diketahui ketika individu berhadapan dengan hambatan atau kesulitan yang signifikan, di mana kemudian ia mampu menunjukkan adaptasi yang positif terhadap hambatan / kesulitan tersebut (Dwi, 2020).

Daya resiliensi menurut Mulyani (2011), disebut sebagai suatu sikap yang mampu mendorong seseorang memiliki pandangan dan menemukan hal baru dalam kehidupan, hal ini menjadi suatu proses yang akan selalu mengalami peningkatan, menumbuhkan kepercayaan diri dari berinteraksi dengan orang lain, serta berani mengambil resiko atas tindakan atau perbuatan yang dilakukan.

Dari pemahaman arti resiliensi diatas, peneliti dapat menyimpulkan

bahwa resiliensi adalah kemampuan suatu individu atau kelompok untuk

bertahan dan berjuang dalam kesulitan dan masa sulit yang sedang ia

hadapi dan memiliki sikap optimis untuk keluar dari kesulitan dan

bertekad untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Sementara itu,

maksud dari meningkatkan resiliensi disini adalah bagaimana para

pengungsi di Indonesia memiliki kemampuan daya tahan hidup yang

lebih baik dari banyaknya peristiwa traumatis di negara mereka berasal

sampai di tempat penampungan sementara (Indonesia).

(32)

19

b) Tahapan Resiliensi

Menurut O’Leary dan Ickovis (2006), tahapan resiliensi bagi individu ketika menghadapi significant adversity adalah sebagai berikut.

1) Mengalah (succumbing), 2) Bertahan (survival),

3) Pemulihan (recovery), dan 4) Berkembang (thriving)

Pada tahap mengalah (succumbing), individu menyadari kemalangan yang menimpanya terlalu berat, dan outcomes dari kemalangan ini adalah depresi. Tahap ini adalah tahap dimana individu mengalah atau menyerah dalam kondisi hidup yang mereka alami.

Tahap kedua itu bertahan (survival), tahap ini adalah tahap dimana individu belum mampu mengembalikan fungsi psikologis dan emosi positif secara seutuhnya. Individu belum bisa menerima kondisi yang menimpanya, namun individu bertahan dengan kondisi yang dihadapinya.

Tahap ketiga, pemulihan (recovery) adalah kondisi individu yang sudah mampu mengendalikan kondisi psikologis dan emosi secara wajar dan beradaptasi dengan situasi yang menekan walaupun masih menyisihkan efek dari perasaan negatif yang dialaminya. Outcomes pada tahap ini adalah individu dapat beraktivitas seperti sedia kala, bahkan mampu menunjukkan sebagai individu yang resilien.

Tahap terakhir yaitu berkembang (thriving), individu tidak hanya bisa beraktivitas seperti sebelumnya tetapi bisa melampaui kondisi individu yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

c) Aspek-aspek Resiliensi

Daya tahan individu untuk bertahan atas kesulitan yang dihadapi

bukanlah sebuah bakat, melainkan kemampuan dasar bagi setiap individu

(33)

20

untuk dikembangkan. Reivich dan Shatte (2002) juga mamaparkan tujuh komponen yang membentuk resiliensi, yaitu sebagai berikut.

1) Regulasi emosi, adalah kemampuan untuk tetap tenang dalam kondisi yang penuh tekanan. Menurut Rahmawati (dalam Ismuninggar, 2017), Individu yang memiliki kemampuan meregulasi emosi dapat mengendalikan dirinya apabila sedang kesal dan dapat mengatasi rasa cemas, sedih, atau marah sehingga mempercepat dalam pemecahan suatu masalah (Maryati, 2018). Pengekpresian emosi dengan diri sendiri dan orang yang tepat merupakan salah satu bagian dari individu yang resilien. Reivich dan Shatte (2002) juga menyampaikan bahwa regulasi emosi ditandai dengan dua keterampilan yaitu tenang (calming) dan fokus (focusing).

2) Pengendalian impuls, adalah kemampuan mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. Individu dengan pengendalian impuls rendah sering mengalami perubahan emosi dengan cepat yang cenderung mengendalikan perilaku dan pikiran. Individu akan mudah kehilangan kesabaran, mudah marah, impulsif, dan berlaku agresif pada situasi- situasi kecil yang tidak terlalu penting, sehingga lingkungan sosial di sekitarnya merasa kurang nyaman yang berakibat pada munculnya permasalahan dalam hubungan sosial.

Resiliensi bukan kondisi dimana seseorang terbebas dari dorongan-dorongan impuls, tetapi bagaimana seseorang mampu mempertimbangkan sebelum mengikuti dorongan emosinya. Seorang yang resilien akan berpikir terlebih dahulu atas dorongan-dorongan keinginan agar terhindar dari permasalahan baru.

3) Optimisme, individu yang resilien adalah individu yang optimis.

Individu memiliki harapan di masa depan dan percaya dapat

mengontrol arah hidupnya. Reivich dan Shatte (2002) juga

menguraikan bahwa sikap optimis dapat menjadi pendukung yang

(34)

21

kuat sehingga individu dapat menjalani hidupnya. Seorang yang memiliki optimism akan lebih bahagia, lebih sehat, dan produktif.

4) Empati, menggambarkan bahwa individu mampu membaca tanda- tanda psikologis dan emosi dari orang lain. Empati mencerminkan seberapa baik individu mengenali keadaan psikologis dan kebutuhan emosi orang lain. Pribadi dengan empati akan memiliki kepekaan terhadap kondisi orang lain dan cenderung memiliki hubungan yang baik dengan orang lain. Kemampuan berempati adalah kemampuan memposisikan dirinya pada posisi orang lain yang sedang mengalami kesulitan dan keberhasilan orang lain dalam menghadapi kesulitan atau permasalahan.

5) Analisis penyebab masalah, merujuk pada kemampuan individu untuk secara akurat mengidentifikasi penyebab-penyebab dari permasalahan individu. Jika individu tidak mampu memperkirakan penyebab dari permasalahannya secara akurat, maka individu akan membuat kesalahan yang sama.

6) Efikasi diri, merupakan keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses.

Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil.

7) Peningkatan aspek positif. Resiliensi merupakan kemampuan yang meliputi peningkatan aspek positif dalam hidup Individu yang meningkatkan aspek positif dalam hidup, mampu melakukan dua aspek ini dengan baik, yaitu: (1) mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak realistis, (2) memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan.

Reaching out merupakan kemampuan untuk meraih apa yang

diinginkan, meskipun harus melampaui perkiraan atau batasan

kemampuan yang dimiliki sebelumnya. Kemampuan menjangkau

keluar ini merupakan sumber internal dalam diri individu untuk

(35)

22

melakukan hal yang baru. Kemampuan ini menjadi bagian terpenting bagi individu untuk menemukan hidup yang lebih baik dan tetap optimis meski menghadapi kesulitan hidup. Menurut Zahrotul Uyun (2012), Individu yang selalu meningkatkan aspek positifnya akan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan hidup, serta berperan dalam meningkatkan kemampuan interpersonal dan pengendalian emosi (Putri, 2019).

d) Sumber-sumber Resiliensi

Ada beberapa faktor yang dapat menunjukan resiliensi individu.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi menurut Grotberg (1995) antara lain :

1) I Am, merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri individu, seperti tingkah laku, perasaan, dan kepercayaan yang terdapat dalam diri seseorang. Faktor I am ini juga merupakan sikap harga diri, bangga pada diri sendiri, optimisme, kreativitas, otonomi diri, mencintai, empati, dan jiwa altuiristik. Kemampuan ini ditandai dengan adanya usaha individu untuk mencintai dan bersikap agar orang lain mencintainya. Selain daripada itu, individu ini memiliki kebanggaan pada diri sendiri yang tidak akan membiarkan orang lain menghina dan meremehkannya. Individu ini juga memiliki hubungan yang baik dengan orang lain karena rasa peduli dan empati yang dimilikinya.

Selain itu, individu ini memiliki semangat hidup dengan penuh harapan dalam situasi apapun serta berusaha untuk selalu setia dalam pilihan hidupnya dalam moralitas keimanan. Kemampuan- kemampuan ini akan menjadikan individu memiliki rasa percaya diri ketika menghadapi kesulitan dan sepenuhnya sadar dan bertanggung jawab.

2) I Have, merupakan sumber resiliensi yang berasal dari dukungan luar.

I have berupa dukungan, cinta, perhatian, dan penerimaan dari orang-

(36)

23

orang dekat seperti orang tua, anggota keluarga lain, guru, dan teman.

I have ini menunjukkan hubungan yang sehat antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Dukungan ini sangat bermakna dalam membangun kemandirian, rasa percaya diri, tanggung jawab, dan keinginan memahami dan berempati kepada orang lain.

3) I Can, merupakan apa yang mereka lakukan. I Can berupa kemampuan untuk mengelola perasaan dan impuls dari dalam diri, membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, mengenali emosi diri dan orang lain serta yang terpenting adalah kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan memecahkan masalah adalah kemampuan dasar untuk mengidentifikasi sebuah masalah dan kemudian menentukan langkah selanjutnya agar masalah tersebut dapat diselesaikan (Kim & Choi, 2014).

Faktor I Can juga mencakup keterampilan sosial dan interpersonal individu. Keterampilan sosial adalah kemampuan individu untuk berkomunikasi secara efektif dengan orang lain baik verbal maupun nonverbal yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapinya (Hargie, Saunders & Merrell, 1998).

Hal ini sejalan dengan bentuk keterampilan sosial menurut Beaty dalam Lismayanti (2008) diantaranya : empati, kemurahan hati, kerja sama, dan mau menolong orang lain. Sementara itu, keterampilan interpersonal adalah ciri khas yang digunakan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain (Henninger, 2009). Dari pendapat- pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan bentuk keterampilan interpersonal yang dimiliki seseorang adalah kemampuan berkomunikasi, memahami orang lain, kepekaan, manajemen konflik, sikap positif, dan kesantunan.

Resiliensi tidak harus secara utuh memiliki ketiga sumber tersebut

tetapi bila hanya memiliki satu saja tentu tidak cukup. Resiliensi

bersumber pada ketiga hal tersebut yang masing-masing saling

mendukung satu sama lain. Individu yang beresiliensi tinggi harus

memiliki tiga faktor tersebut, yaitu I am, I have dan I can. Individu

(37)

24

yang hanya memiliki salah satu faktor saja tidak termasuk orang yang beresiliensi tinggi atau rendah (Riza, 2013).

e) Ciri-ciri Resiliensi

Seorang yang resilien biasanya memiliki empat sifat-sifat umum (Bernard,1991) yaitu.

1) Social Competence (kompetensi sosial), kemampuan untuk memunculkan respon positif dari orang lain, dalam artian mengadakan hubungan yang positif dengan sekelilingnya.

Kompetensi sosial (social competence) merupakan salah satu bentuk dari keterampilan sosial. Hal ini sejalan dengan argumen yang diutarakan oleh Chen Li, Li, Li dan Liu (2000) bahwa kompetensi sosial adalah bertindak secara tepat dalam berbagai situasi sosial.

Individu yang memiliki kompetensi sosial yang tinggi cenderung menampilkan perilaku yang efektif dan dapat diterima (Santoso, 2015). Pernyataan ini dipertegas menurut Leahly dalam Adams (1983), kompetensi sosial adalah suatu bentuk keterampilan dan pengetahuan untuk melakukan relasi positif dengan orang lain.

Aspek-aspek kompetensi sosial menurut Rydell, et al., (1997) yaitu a) prosocial orientation (suka menolong, dermawan), b) empati (memahami orang lain), c) penanganan konflik, dan d) social initiative (inisiatif dalam situasi interaksi sosial). Adapun, aspek- aspek kompetensi sosial juga dikemukakan oleh Marlowe (1996), yaitu a) sensitivitas sosial, b) empati, c) kepercayaan diri, dan d) pemecahan masalah interpersonal. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kompetensi sosial meliputi sensitivitas sosial, empati, kepercayaan diri, dan pemecahan masalah interpersonal (Wardani, 2010).

2) Problem-solving skills, keterampilan memecahkan permasalahan melalui perencanaan yang memudahkan pengendalian diri sendiri dan memanfaatkan akal sehatnya untuk mencari bantuan orang lain.

Menurut Polya dalam Mayer (1983), problem solving merupakan

(38)

25

kemampuan untuk mencari jalan keluar dari kesulitan melalui proses kognitif dan mampu menyiasati hambatan (Pamungkas et al., 2021).

3) Autonomy (otonomi), suatu kesendaran terhadap identitas diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara independen, serta melakukan pengontrolan terhadap lingkungan.

Individu yang mandiri adalah individu yang mampu mengelola dirinya sendiri (Steinberg, 2002). Menurut Chaplin dalam Desmita (2006), otonomi adalah seseorang yang bebas untuk memilih, menjadi manusia yang bisa memerintah, menguasai, mengendalikan, dan menentukan dirinya sendiri. Sedangkan menurut pendapat Sutari dalam Fatimah (2006), kemandirian meliputi kemampuan berinisiatif, kemampuan mengatasi masalah yang dihadapi, mempunyai rasa percaya diri, dan dapat melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bergantung pada orang lain (Wicaksono, 2015).

4) A sense of purpose and future (kesadaran akan tujuan dan masa depan), kesadaran akan tujuan-tujuan, aspirasi Pendidikan, ketekunan, pengharapan dan kesadaran akan suatu masa depan.

Aspek-aspek dari sifat ini meliputi a) Menujukkan niat untuk tujuan jangka panjang, b) Motivasi internal untuk aktif dalam mengejar tujuan yang bermakna secara pribadi (Bronk, 2008; Bronk et al., 2010; Damon et al., 2003; Moran, 2009). Damon et al. (2003) juga menambahkan aspek yang ketiga yaitu tujuan yang mengarah pada kontribusi secara positif kepada masyarakat (Blattner et al., 2013).

Dari beberapa ciri terhadap individu yang resilien, dapat disimpulkan

bahwa individu yang memiliki resiliensi adalah mereka yang dibalik

kesulitannya mampu mengendalikan perasaan dan bertahan pada tujuan

serta mampu mengekspresikannya secara nyaman. Mereka mampu

bersikap optimis dan mengambil keputusan yang realistis, serta peduli

terhadap sesama.

(39)

26

2. Livelihood

a) Konsep Livelihood

Menurut Chamber et al (1998), Livelihood secara sederhana diartikan sebagai cara dimana seseorang memenuhi kebutuhan hidupnya atau peningkatan hidup. Secara sederhana, livelihood didefinisikan sebagai aliran pendapatan uang atau sumberdaya bagi seseorang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Definisi lain yang dinyatakan oleh Ellis (2000) bahwa livelihood mencakup pendapatan atau pembayaran, maupun dalam bentuk lainnya seperti institusi (saudara, kerabat, tetangga, desa), relasi gender, dan hak milik yang dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan hidup dengan standar yang ada.

(Dharmawan, 2007).

Livelihood didefinisikan sebagai strategi mencari nafkah yang cakupannya luas dibanding hanya sebagai aktivitas mencari nafkah belaka. Sebagai strategi penghidupan melalui aksi individual maupun kolektif. Strategi ini dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi infrastruktur sosial, struktur sosial, dan sistem nilai budaya yang berlaku.

(Dharmawan, 2007).

Pendekatan livelihood mengedepankan konsep sumber daya dimana individua tau kelompok memiliki strategi yang dapat diadopsikan kedalamnya untuk keberlangsungan hidup atau penghidupan. Di sisi lain, bukan hanya berfokus dalam memberikan penghasilan keuangan, tetapi juga mengembangkan asset yang lainnya seperti, jaringan sosial.

Menurut Ashley (2000) “A livelihood approach can help improve the understanding of people’adaptive capacities and how to reduce poverty as it puts people’s livelihood concerns” (Ifejika Speranza et al., 2014).

Pendekatan livelihood dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang kapasitas adaptasi masyarakat dan cara mengurangi kemiskinan karena menempatkan masalah mata pencaharian masyarakat.

Pendekatan ini memfokuskan pada komponen-komponen

masyarakat untuk memberdayakan individu melalui asset yang mereka

punya melalui serangkaian proses dan aktivitas yang dapat menunjang

(40)

27

berbagai hasil yang diharapkan untuk penghidupan. Aset-aset ini dapat berupa manusia, sosial, alam, fisik, dan modal keuangan. Semakin banyak asset yang mereka punya dalam upaya kepentingan nya, semakin luas pilihan yang tersedia bagi mereka untuk mengamankan penghidupan mereka.

Secara konseptual menurut Chambers dan Conway dalam Ellis (2000), terdapat lima tipe modal yang dapat dimiliki atau dikuasai rumah tangga untuk pencapaian livelihood nya yaitu:

1) Modal manusia , yang meliputi jumlah (populasi manusia), tingkat pendidikan, dan keahlian yang dimiliki dan kesehatannya.

2) Modal alam , yang meliputi segala sumberdaya yang dapat dimanfaatkan manusia untuk keberlangsungan hidupnya.

Wujudnya adalah air, tanah, hewan, udara, pepohonan, dan sumber lainnya.

3) Modal sosial , yaitu modal yang berupa jaringan sosial dan lembaga dimana seseorang berpartisipasi dan memperoleh dukungan untuk kelangsungan hidupnya.

4) Modal finansial , yang berupa kredit dan persediaan uang tunai yang bisa diakses untuk keperluan produksi dan konsumsi.

5) Modal fisik, yaitu berbagai benda yang dibutuhkan saat proses produksi, meliputi mesin, alat-alat, instrument dan berbagai benda fisik.

Pendekatan livelihood dalam penelitian ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang dirangkum dalam program livelihood untuk menunjang penghidupan refugees dalam mencapai kemandiriannya.

Salah satu nya melalui kegiatan penguatan, pelatihan, dan juga pengembangan.

3. Urban Refugees

Refugee atau pengungsi, mengutip bunyi pasal 1 UN Convention on The

Status of Refugees 1951 adalah orang-orang yang meninggalkan negaranya

karena adanya rasa ketakutan dan penyiksaan atau ancaman, jadi bagi mereka

(41)

28

yang masih mengungsi di wilayah territorial negara mereka belum bisa disebut sebagai pengungsi menurut Konvensi Tahun 1951 (Romsan et al., 2003).

Berdasarkan kedua pakar Malcom Proudfoot dan Pietro Verri (1977), seseorang dikatakan pengungsi apabila ia meninggalkan negaranya (melewati batas Negara) akibat dari adanya man-made disaster yaitu konflik bersenjata atau perang sehingga menyebabkan adanya rasa takut terhadap penganiayaan, penyiksaan atau ancamannya, pengusiran, perlawanan politik dengan alasan ras, agama, kebangsaan, dan keanggotannya dalam kelompok sosial tertentu.

Sehingga yang dimaksudkan oleh pengungsi adalah orang-orang yang meninggalkan teritorial negaranya atau melewati batas negara dikarenakan adanya man-made disaster sehingga menyebabkan adanya rasa takut terhadap penganiayaan, penyiksaan atau ancaman lainnya dengan alasan ras, agama, kebangsaan, dan keanggotaannya.

Namun, tidak semua pengungsi yang berpindah ke negara lain dapat dikatakan sebagai pengungsi sampai mereka mereka mendapatkan status resmi pengungsi melalui prosedur yang ditetapkan oleh UNHCR di masing masing negara bagian. Sehingga orang-orang yang menyebut dirinya sebagai pengungsi, tetapi permintaan akan status dan perlindungannya belum selesai dipertimbangkan disebut sebagai pencari suaka.

Indonesia adalah negara yang tidak atau belum meratifikasi Konvensi 1951 beserta Protokol 1967 yang membahas terkait perlindungan dan status pengungsi bagi negara penerima. Oleh karena itu, Indonesia tidak berhak untuk menentukan status pengungsi para pengungsi tersebut dan status tersebut sepenuhnya ditangani oleh UNHCR Indonesia melalui serangkaian prosedur dan pertimbangan. Walaupun demikian, Indonesia tetap menjalankan segilintir isi dari konvensi tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban Indonesia yaitu, tidak memulangkan (non refoulment), tidak mengusir (non expulsion), tidak membedakan (non discrimination), dan juga tidak melakukan tindak pindana bagi para pengungsi di Indonesia (Sultoni et al., 2014).

Pengungsi dan pencari suaka adalah kelompok orang yang sama, karena

sama-sama keluar dari negara nya untuk mencari perlindungan akibat man-

Gambar

Tabel 1. Nama Informan
Gambar 1. Logo JRS Indonesia
Gambar 2. Lokasi JRS Center Bogor
Gambar 5.Data Penerima Manfaat 2020 (Berdasarkan Tipe Bantuan yang  Diberikan dan Rentang Umur)
+5

Referensi

Dokumen terkait

perusahaan, yaitu rasio leverage perusahaan.Dengan demikian, hutang adalah unsur dari struktur modal perusahaan.Struktur modal merupakan kunci perbaikan produktivitas

Dalam SOP Penerbitan KTP Elektronik, sebagaiman dijelaskan juga oleh Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bulungan berkaitan dengan disposisi, sikap dan

Kesan negatif bencana ini kepada manusia bukan sahaja memusnahkan harta benda dan kawasan kediaman, malahan turut mengancam nyawa penduduk yang mendiami kawasan

Sebagian IPCLN dibeberapa ruang rawat inap yang adalah surveilans aktif dengan sasaran khusus (target sudah pernah mendapatkan pelatihan dan sosialisasi

Penggunaan nama brand tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan kesuksesan yang sama dengan nama merek, citra dari merek yang telah melekat di benak konsumen selanjutnya akan

Formula biskuit 50% daun jagung + 50% klobot jagung menunjukkan kualitas yang baik yaitu memiliki nilai kerapatan yang paling renda, daya serap air yang

Setelah dilakukan uji kelarutan dengan beberapa pelarut, penentuan kemagnetan dengan MSB, dan penentuan komposisi molekul padatan kompleks dengan SEM-EDX, diketahui

Berdasarkan Pasal 1471 KUHPerdata, maka jika jual beli tersebut telah terjadi dan tanpa tanda tangan para ahli warisnya sebagai pemiliknya (karena tidak ada