BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
3.12. Kerangka Kerja Penelitian
Keterangan: --- = dilakukan secara bersamaan Gambar 3.1 Kerangka Kerja penelitian
Gambaran yang Mungkin Didapatkan Anti – HBs Riwayat
Vaksinasi Anti - HBc Interpretasi
≥10mIU/mL (+) (+) Imunitas paska infeksi
≥10mIU/mL (+) (-) imunitas paska vaksin
≥10mIU/mL (-) (+) Imunitas paska infeksi
<10mIU/mL (+) (+) Rentan, Non – responder
<10mIU/mL (+) (-) Rentan, Non – responder
<10mIU/mL (-) (+) Rentan, terpapar / terinfeksi hepatitis B
<10mIU/mL (-) (-) Rentan
Subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
Kadar anti-HBs <10mIU/mL Kadar anti-HBs ≥10mIU/mL Dilakukan Random Sampling
Pengambilan data:
Kuesioner riwayat vaksinasi
Pengambilan sampel darah:
Pemeriksaan Anti - HBs
Pengambilan sampel darah:
Pemeriksaan Anti - HBc
Riwayat vaksinasi (-) Riwayat vaksinasi (+)
Pemeriksaan anti-HBc (-) Pemeriksaan anti-HBc (+)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara di Medan. Penelitian berlangsung selama bulan April 2017. Penelitian dilakukan dengan mengambil 44 sampel sesuai kriteria dan perhitungan sampel, kemudian diambil kuesioner data pribadi, data vaksinasi, serta dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan serologi (titer HBs dan total anti-HBc).
Gambar 4.1 Profil Penelitian Subyek populasi mahasiswa
pendidikan profesi dokter n = 44
Informed consent
Pengambilan sampel darah
Analisis sampel Pemeriksaan titer anti-HBs Kuesioner riwayat vaksinasi
Pemeriksaan titer anti-HBc
≥10 (n = 8)
<10 (n=36)
(+) (n = 17) (-) (n = 27)
4.1.1 Karakterisik Demografis
Penelitian ini diikuti oleh 44 orang subyek yang bersedia untuk diambil data pribadi dan sampel darahnya. Lebih dari setengah sampel adalah perempuan, yaitu 29 orang (65,9%) dan 15 sampel (34,1%) adalah laki – laki (Tabel 4.1).
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin
Karakteristik Responden N %
Jenis Kelamin
Laki – laki 15 34,1
Perempuan 29 65,9
Usia
< 20 tahun 0 0
>20 tahun 44 100%
Populasi penelitian ini mayoritas adalah perempuan dibandingkan dengan laki – laki. Penelitian ini mengambil metode random sampling, sehingga penyebab jumlah perempuan yang tinggi adalah dikarenakan populasi mahasiswa kedokteran di lokasi penelitian yang mayoritas didominasi oleh perempuan.
Seluruh peserta penelitian yang merupakan peserta program pendidikan profesi dokter berusia di atas 20 tahun (Tabel 4.1).
4.1.2 Gambaran riwayat vaksinasi
Sampel yang telah diberikan imunisasi hepatitis B saat bayi berjumlah 31 orang (70,5%), 13 orang (29,5%) tidak diimunisasi hepatitis B atau tidak lengkap. Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Riwayat Vaksinasi Hepatitis B Keterangan Vaksinasi
Vaksinasi Wajib Bayi n = 44 %
- Ya (lengkap 3 kali) 31 70,5
- Tidak 13 29,5
Vaksinasi saat dewasa n = 44 %
- Ya 8 18,2
- Tidak 36 81,8
Mayoritas sampel tidak melakukan vaksinasi saat dewasa yaitu 36 orang (81,8%). Hanya 8 orang yang telah melakukan vaksinasi hepatitis B ulangan saat
dewasa (Tabel 4.2). Keseluruhan prosedur dilakukan tanpa pemeriksaan skrining HBsAg maupun anti HBs sebelumnya untuk menentukan adekuasi imunitas ataupun perjalanan infeksi mereka.
4.1.3 Riwayat Infeksi
Dari hasil pemeriksaan total anti-HBc didapatkan 17 orang dinilai positif, yang menunjukkan bahwa 38,6% pernah terpapar dengan HBV, atau memiliki riwayat infeksi.
Tabel 4.3 Hasil pemeriksaan total anti-HBc
Total anti-HBc n = 44 %
Positif 17 38,6%
Negatif 27 61,4%
Riwayat infeksi terhadap hepatitis B dinilai dari anamnesis dan pemeriksaan anti-HBc (Tabel 4.3). Tidak ada sampel (0%) yang menyatakan pernah terdiagnosis menderita hepatitis B. Satu orang sampel (2,7%) menyatakan pernah terdiagnosis menderita penyakit hepatitis A.
4.1.4 Riwayat vaksinasi dan riwayat infeksi
Dari 30 orang sampel yang telah diberikan vaksinasi hepatitis B sewaktu bayi, 12 orang (38,7%) memiliki hasil anti-HBc positif, yang berarti kemungkinan pernah terpapar dengan HBV (Tabel 4.4). Namun pada penelitian ini tidak diperiksakan IgM dan IgG sehingga tidak diketahui apakah sampel tersebut mengalami infeksi lama atau infeksi baru. Dari keterangan subyek sendiri tidak ada yang pernah diperiksakan serologi untuk mengetahui respon vaksin.
Tabel 4.4 Riwayat vaksinasi dan riwayat infeksi
Keterangan Vaksinasi Total anti-HBc (n(%)) Positif negatif Vaksinasi Wajib Bayi
- Ya 12 (38,7%) 19 (61,3%)
- Tidak 5 (38,5%) 8 (61,5%)
Vaksinasi saat dewasa
- Ya 4 (50%) 4 (50%)
- Tidak 13 (36,1%) 23 63,9%)
Dari total 44 orang sampel, 12 orang (38,7%) positif anti HBc meski telah divaksinasi diwaktu bayi. Pada Gambar 4.2 dapat dilihat bahwa terdapat 2 orang (4.5%) yang memiliki anti-HBc positif meski telah divaksinasi dua kali. Dan terdapat 10 orang (22,7%) yang memiliki riwayat infeksi setelah divaksinasi wajib di usia bayi.
Dua orang (4,5%) anti HBc positif telah vaksinasi di usia dewasa, namun pada masa bayi tidak mendapatkan vaksinasi sehingga terdapat kemungkinan adanya paparan sebelum vaksinasi.
Gambar 4.2 Diagram sampel yang divaksinasi dan hasil anti – HBc
4.1.5 Pemeriksaan serologi Anti – HBs
Pemeriksaan titer anti HBs menunjukkan hanya 8 orang (18,1%) yang menunjukkan titer antibodi yang dinilai positif terhadap hepatitis B yaitu ≥10mIU/mL, dengan hasil yang bervariasi, dimana nilai tertinggi adalah 1071mIU/mL. Sedangkan diantara keseluruhan sampel 44 orang nilai terendah adalah 0 mIU/mL pada 6 orang sampel (13,6%) (Tabel 4.5).
Sampel N = 44 orang
Vaksin bayi (+): 31
Vaksin dewasa (+): 5
Vaksin dewasa (-): 26
Anti HBc (+): 2 (4,5%)
Vaksin bayi (-): 13
Vaksin dewasa (+): 3
Vaksin dewasa (-): 10
Anti HBc (-): 3 (6,8%) AntiHBc (+):10(22,7%) Anti HBc(-):16(36,3%) Anti HBc (+): 2 (4,5%) Anti HBc (-): 1 (2,3%)
Anti HBc (+): 3 (6,8%) Anti HBc (-): 7 (16,1%)
Tabel 4.5 Hasil pemeriksaan anti- HBs
Nilai n = 44 %
Kategori proteksi
<10mIU/mL 36 81,8
≥10mIU/mL 8 18,1
Titer anti-HBs
0 mIU/mL 6 13,6
1-10 mIU/mL 30 68,2
≥10 mIU/mL 8 18,2
Tiga puluh (68,2%) orang memiliki titer di bawah 10mIU/mL, hal ini menunjukkan adanya terbentuk kadar antibodi pada pasien, namun tidak mencapai tingkatan yang dikategorikan protektif. Sejumlah 23 (76,7%) dari semua yang memiliki titer antara 0 hingga 10 mIU/mL telah dilakukan vaksinasi ketika bayi.
Sebanyak 36 orang (81,8%) menunjukkan titer yang negatif terhadap infeksi hepatitis B yaitu <10mIU/mL (Tabel 4.5). Dengan jumlah titer yang bervariasi antara nilai 0 mIU/mL sampai dengan 10 mIU/mL, dengan titer terbanyak adalah 1 mIU/mL yaitu 12 orang (27,3%).
Tabel 4.6 Anti – HBs berdasarkan karakteristik demografi
Karakteristik Responden Titer anti-HBs
≥10mIU/mL <10mIU/mL Jenis Kelamin
Laki – laki 5 (33%) 10 (67%)
Perempuan 3 (10,3%) 26 (89,7%)
Dari hasil didapatkan sekitar 89,7% perempuan dan 67% laki – laki tidak memiliki nilai protektif terhadap hepatitis B (Tabel 4.6).
4.1.6 Anti HBs berdasarkan riwayat vaksinasi
Pada penelitian ini sendiri dijumpai 31 orang yang telah divaksinasi pada usia bayi, namun hanya 6 orang yang memiliki titer HBs positif di atas 10mIU/mL. Pada orang yang tidak melengkapi vaksinasi bayi dan tidak sama sekali divaksin memiliki titer anti-HBs negatif (<10mIU/mL) yaitu 100% dan 77.8%, yang dapat dilihat pada
Tabel 4.7 Titer anti-HBs berdasarkan riwayat vaksinasi
Keterangan Vaksinasi Titer anti-HBs (n(%))
≥10mIU/mL <10mIU/mL 77,8% tidak memberikan respon peningkatan antibodi setelah diberikan vaksinasi Hepatitis B (non-responders).
Gambar 4.3 Diagram sampel yang divaksinasi dan hasil anti – HBs
Dari hasil titer anti-HBs berdasarkan riwayat vaksinasi didapatkan terdapat 3 orang (6,7%) yang memiliki titer anti-HBs dibawah 10mIU/mL setelah divaksinasi bayi dan dewasa, dimana 1 orang diantara ketiga tersebut tidak membentuk titer antibodi samasekali. Dari 3 sampel yang telah melakukan hanya vaksinasi di usia dewasa, keseluruhannya membentuk antibodi, namun tidak melewati batas protektif yaitu hanya diantara 1-10 mIU/mL. Delapan orang yang tidak mendapatkan vaksin
sama sekali membentuk titer antibodi, dan dua diantaranya (4,5%) membentuk titer di atas 10mIU/mL (Gambar 4.3).
Hasil penelitian berdasarkan riwayat vaksinasi yaitu terdapat 30 orang yang mengalami pembentukan titer di atas 0 mIU/mL setelah vaksinasi. Sementara pada kelompok yang tidak tervaksinasi 8 orang mengalami pembentukan titer, dan 3 diantaranya positif anti – HBc.
Tabel 4.8 Status protektif dan riwayat vaksinasi baru (Tabel 2 x 2) Keterangan Vaksinasi Status Proteksi
signifikansi Protektif TidakProtektif
Vaksinasi
p 0,017
- Ya 2 2
- Tidak 0 23
Berdasarkan status vaksinasi dan proteksi yang telah dikelompokkan menjadi suatu nilai kategorik nominal (dengan melakukan ekslusi terhadap sampel dengan riwayat infeksi), dilakukan uji Fisher karen persyaratan Chi square tidak terpenuhi.
Didapatkan nilai signifikansi 0,017 (p value), yang menyatakan terdapat hubungan antara vaksinasi dan pembentukan titer anti - HBs.
4.1.7 Titer anti-HBs dan anti HBc
Dari 17 orang yang positif terhadap anti-HBc, 6 orang (35,3%) memiliki titer positif anti-HBs (Tabel 4.9). Dari data juga didapatkan ada 11 orang (25%) yang memiliki anti-HBc positif. Pada penelitian ini tidak dilakukan pemeriksaan HBsAg, IgM anti-HBc, ataupun HBV DNA untuk memastikan bahwa sampel tersebut sedang terinfeksi pada masa kini, kronis, ataupun telah mengalami resolusi infeksi. Sehingga tanpa status yang jelas kelompok ini memiliki risiko infeksius hepatitis B sebagai tenaga kesehatan.
Tabel 4.9 Pemeriksaan anti-HBs dan anti-HBc
Titer anti HBc Titer anti-HBs
≥10mIU/mL <10mIU/mL Titer anti-HBc
- Positif 6 (35,3%) 11 (64,7%)
- Negatif 2 (7,4%) 25 (92,6%)
Dari keseluruhan sampel, terdapat 8 orang (18,1%) yang memiliki nilai protektif anti-HBs ≥10mIU/mL, dimana 6 orang diantaranya mendapatkan imunitas tersebut dari riwayat infeksi (positif anti – HBc). Empat diantara sampel positif anti-HBc tersebut dulunya telah mendapatkan vaksinasi lengkap di waktu bayi sehingga terdapat kemungkinan mereka merupakan non-responder yang tidak terdeteksi di saat lahir.
Tabel 4.10 Status Proteksi berdasarkan riwayat infeksi (Tabel 2 x 2) Riwayat Infeksi Status Proteksi (n(%))
signifikansi
Berdasarkan pembentukan anti-Hbs dan riwayat infeksi yang telah dikelompokkan menjadi suatu nilai kategorik nominal, dilakukan uji Fisher karena persyaratan Chi square tidak terpenuhi. Didapatkan nilai signifikansi 0,028 (p value), dimana nilai p kurang dari 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak. Artinya ada hubungan riwayat infeksi dan pembentukan titer anti - HBs.
4.2 Pembahasan
Penelitian ini diikuti oleh 44 orang subyek yang bersedia untuk diambil data pribadi dan sampel darahnya. Lebih dari setengah sampel adalah perempuan, yaitu 29 orang (65,9%) dan 15 sampel (34,1%) adalah laki – laki (Tabel 4.1). Pada penelitian oleh Wan tahun 2009, ditemukan prevalensi HBsAg lebih banyak pada laki – laki dibandingkan dengan perempuan. Namun pada penelitian prevalensi hepatitis B di Malaysia pada mahasiswa kedokteran, ditemukan lebih banyak perempuan daripada
laki – laki (Ng, 2013). Penelitian ini mengambil metode random sampling, sehingga penyebab jumlah perempuan yang tinggi adalah dikarenakan populasi mahasiswa kedokteran di lokasi penelitian yang mayoritas didominasi oleh perempuan.
Berdasarkan data keterangan riwayat hanya 70,5% yaitu 31 orang yang melakukan vaksin hepatitis B secara lengkap di usia bayi, dimana pemberian vaksin ini merupakan program wajib dari pemerintah namun masih terdapat masyarakat yang tidak melaksanakan vaksinasi.
Dari keterangan 8 orang yang telah melakukan vaksinasi hepatitis B ulangan, keseluruhan prosedur dilakukan tanpa pemeriksaan skrining HBsAg maupun anti HBs sebelumnya untuk menentukan adekuasi imunitas ataupun perjalanan infeksi mereka sebelum menerima vaksin. Dari ACIP (Advisory Committee on Immunization Practices) CDC hanya menyatakan kontraindikasi vaksin ini adalah reaksi alergi berat terhadap dosis vaksin atau komponennya, serta hipersensitivitas terhadap ragi.
Penyakit ringan, alergi, pengobatan antibiotik, infeksi HIV, penyakit kronik (jantung, paru, ginjal dan hati), prematuritas, berat badan lahir rendah, maupun riwayat kuning saat bayi tidak menjadi kontraindikasi pemberian vaksin.
Tidak ada sampel yang melakukan pemeriksaan anti HBs sesudah vaksinasi.
Hal ini tidak sesuai dengan ketentuan dari CDC yaitu pemeriksaan ulang respon titer antibodi setelah pemberian vaksin dosis terakhir untuk melihat apakah tubuh dapat membentuk antibodi yang adekuat, dan bila tidak terdapat pembentukan antibodi maka individu tersebut harus memeriksakan HBsAg dan anti-HBc untuk menentukan pemberian booster, dimana umumnya setelah pemberian booster respon antibodi sangat tinggi. Berdasarkan penelitian oleh Evdokimov dkk terhadap 1039 anak yang telah divaksinasi, sekitar 37,9% memiliki titer protektif terhadap hepatitis B, dan dari 81 orang anak (7,8%) dan 455 orang ibu kandung (40,3%) memiliki anti-HBc positif.
Hal ini tidak dapat dijelaskan secara sempurna karena banyaknya variabel yang dapat mempengaruhi sehingga sangat penting untuk dilakukan pemeriksaan serologi sebagai pemeriksaan respon vaksinasi (Evdokimov, 2016).
Dari 31 orang sampel yang telah diberikan vaksinasi hepatitis B sewaktu bayi, 12 orang (38,7%) memiliki hasil anti-HBc positif, yang berarti kemungkinan pernah
terpapar dengan HBV. Namun pada penelitian ini tidak diperiksakan IgM dan IgG sehingga tidak diketahui apakah sampel tersebut mengalami infeksi lama atau infeksi baru. Dari keterangan subyek sendiri tidak ada yang pernah diperiksakan serologi untuk mengetahui respon vaksin. Anti HBc merupakan marker utama dalam menentukan kontak dengan HBV. Anti-HBc positif pada populasi menyatakan tiga hal:
sembuh dengan pembentukan anti-HBs; kronik yang ditandai dengan HBsAg positif;
atau OBI (occult blood infection) yang ditandai dengan HBV DNA positif. OBI sering dijumpai pada anak yang diimunisasi bayi dengan ibu yang HBsAg positif. Pada beberapa penelitian anti-HBc dapat menurun dan menghilang seiring waktu meskipun jarang terjadi, terutama pada kelompok yang divaksinasi, namun masih diperlukan penelitian yang jelas mengenai respon imun tubuh terhadap proses hilangnya HBV DNA dan anti-HBc (Wang, 2017). Salah satu hal yang dapat menyebabkan kejadian tersebut adalah anak yang lahir dari ibu yang positif HBsAg.
Pada penelitian cohort tahun 1980 di Qidong, 806 neonatus yang diberikan vaksin hepatitis B diikuti pada usia 5 tahun, 10 tahun, dan 20 tahun. 27 orang (6,7%) positif terhadap anti-HBc, dengan 19 diantaranya memiliki HBV DNA dalam serumnya, dan salah satu mengalami konversi menjadi HBsAg positif pada usia 24 tahun. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa 31,9% penerima vaksin usia bayi yang memiliki respon tidak adekuat di usia muda akan rentan terhadap infeksi hepatitis B di usia dewasa (Zhu, 2011).
Pada penelitian Wang juga didapatkan bahwa penyakit kronik muncul 10 kali lipat lebih sering pada anak yang divaksin dari ibu dengan HBsAg positif dibandingkan dengan yang lahir dari ibu dengan HBsAg negatif dan terpapar HBV di kemudian hari.
Penelitian Wang pada tahun 2017 juga menyimpulkan bahwa imunitas maupun imun memori mungkin terganggu pada anak – anak yang divaksinasi namun terlahir dari ibu positif HBsAg. Pada penelitian ini tidak ada di data riwayat positif HBsAg pada Ibu.
Perlu dilakukan pemeriksaan HBsAg dan HBV DNA untuk tindak lanjut di kemudian hari dari sampel dengan anti-HBc positif.
Pemeriksaan titer anti HBs menunjukkan hanya 8 orang (18,1%) yang menunjukkan titer antibodi yang dinilai positif terhadap hepatitis B yaitu ≥10mIU/mL,
dengan hasil yang bervariasi, dimana nilai tertinggi adalah 1071mIU/mL. Sedangkan diantara keseluruhan sampel 44 orang nilai terendah adalah 0 mIU/mL pada 6 orang sampel (13,6%). Tiga puluh (68,2%) orang memiliki titer di bawah 10mIU/mL, hal ini menunjukkan adanya terbentuk kadar antibodi pada pasien, namun tidak mencapai tingkatan yang dikategorikan protektif. Sejumlah 23 (76,7%) dari semua yang memiliki titer antara 0 hingga 10 mIU/mL telah dilakukan vaksinasi ketika bayi.
Sebanyak 36 orang (81,8%) menunjukkan titer yang negatif terhadap infeksi hepatitis B yaitu <10mIU/mL (Tabel 4.5). Dengan jumlah titer yang bervariasi antara nilai 0 mIU/mL sampai dengan 10 mIU/mL, dengan titer terbanyak adalah 1 mIU/mL yaitu 12 orang (27,3%). Sampai saat ini nilai 10mIU/mL masih dinilai sebagai nilai batas protektif yang menunjukkan adekuasi respon imun tubuh. Berdasarkan penelitian oleh Wang dkk terhadap 9793 orang yang divaksinasi sejak lahir, risiko infeksi hepatitis B usia dewasa meningkat pada kelompok yang seronegatif anti HBs saat berusia 10 – 11 tahun. Penelitian ini juga menunjukkan signifikansi pemberian dosis booster pada usia remaja, terutama bila dulu lahir dari ibu yang HBsAg positif (Wang, 2016).
Dari 8 orang yang di vaksinasi ulang di usia dewasa, hanya 2 orang yang membentuk titer antibodi di atas 10 mIU/mL (Tabel 4.7), dimana masing – masing memiliki titer yang cukup tinggi, yaitu 1045 mIU/mL dan 958 mIU/mL. Sementara 77,8% tidak memberikan respon peningkatan antibodi setelah diberikan vaksinasi Hepatitis B (non-responders).
PVST atau postvaccination serlogical testing penting untuk dilakukan karena data rutin dari negara maju seperti US sendiri mendapatkan 5.3% non responder pada anak – anak yang divaksinnya, dan dari penelitian lain di Hong Kong 22,5% anak memiliki titer <10 mIU/mL terutama dari ibu yang positif HBsAg, dan 0,6% menjadi positif HBsAg di usia 2 tahun. Pada penelitian ini sendiri dijumpai 31 orang yang telah divaksinasi pada usia bayi, namun hanya 6 orang yang memiliki titer HBs positif di atas 10mIU/mL. Pada orang yang tidak melengkapi vaksinasi bayi dan tidak sama sekali divaksin memiliki titer anti-HBs negatif (<10mIU/mL) yaitu 100% dan 77.8%, yang dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Dari 25 orang yang tidak memiliki anti HBs kategori protektif, hanya 3 (9,6%) orang memiliki titer 0, selebihnya (71%) membentuk titer meskipun tidak di atas 10.
Menurut penelitian Dini tahun 2017 dan Zhu pada tahun 2011 yang mengikuti perjalanan titer antibodi selama berkala, didapatkan bahwa orang yang immunokompeten memiliki sel memori meskipun jumlah titer berada di bawah 10mIU/mL.
Dari data juga didapatkan ada 11 orang (25%) yang memiliki anti-HBc positif.
Pada penelitian ini tidak dilakukan pemeriksaan HBsAg, IgM anti-HBc, ataupun HBV DNA untuk memastikan bahwa sampel tersebut sedang terinfeksi pada masa kini, kronis, ataupun telah mengalami resolusi infeksi. Sehingga tanpa status yang jelas kelompok ini memiliki risiko infeksius hepatitis B sebagai tenaga kesehatan. Skrining HBsAg tidak pernah dilakukan terhadap sampel yang merupakan mahasiswa pendidikan profesi dokter sebelum beraktivitas dan melakukan kontak berisiko dengan pasiennya. Hal ini bertentangan dengan rekomendasi CDC dan OSHA tentang petugas kesehatan.
Dari 17 orang yang positif terhadap anti-HBc, 6 orang (35,3%) memiliki titer positif anti-HBs (Tabel 4.9). Terdapat 64,7% dari total positif anti-HBc yang tidak memiliki titer protektif anti HBs, dan 4 diantaranya telah mendapatkan vaksin ulangan sebelum pemeriksaan ini dilakukan (Gambar 4.2). Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya non-responder dikarenakan adanya infeksi anti-HBc, namun pada penelitian ini tidak ada dilakukan konfirmasi HBsAg ataupun HBV DNA.
Dari 36 orang yang memiliki anti-HBs negatif, 6 diantaranya telah mendapatkan vaksin ulangan dan merupakan non-responder, dimana 5 diantaranya telah mendapatkan imunisasi masa bayi. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut tidak membentuk anti-HBs adekuat meski telah divaksin dua kali, yaitu pada masa bayi dan dewasa. Pada penelitian oleh Romano tahun 2017 menunjukkan pemberian booster bervariasi antara satu dosis dan ulangan hingga tiga kali mampu memberikan hasil respon 100% pada seluruh sampel yang anti-HBc negatif.
Lima puluh persen sampel yang melakukan vaksinasi saat dewasa memiliki riwayat infeksi sebelumnya (Tabel 4.4), dimana seluruh (100%) sampel tersebut tidak
membentuk titer positif anti-HBs meskipun telah melakukan vaksinasi. Sampel tersebut merupakan non-responder dengan riwayat infeksi (anti – HBc positif) yang telah melakukan vaksinasi saat dewasa dengan atau tanpa vaksin masa bayi. Penelitian Aghasadeghi kepada 52 non-responder yang diperiksakan HBsAg, HBs, dan anti-HBc hanya 3,8% yang memiliki anti-anti-HBc positif, dan setelah pemeriksaan lanjutan sama sekali tidak dijumpai HBV DNA (Aghasadeghi, 2014). Hal ini menunjukkan tidak bermakna hubungan antara anti-HBc dengan respon vaksinasi. Namun pada pasien tetap diperlukan penjajakan status infeksi saat ini dengan pemeriksaan HBsAg dan HBV DNA.
Dari keseluruhan sampel sama sekali tidak didapatkan titer anti-HBs positif yang kemungkinan didapatkan secara pasti dari vaksin bayi (0%), yaitu hasil dengan titer antibodi batas protektif tanpa adanya vaksinasi usia dewasa ataupun riwayat infeksi. Hal ini mungkin terjadi karena seluruh sampel yang merupakan mahasiswa pendidikan profesi dokter seluruhnya berusia di atas 20 tahun. Menurut Wang (2015), Imunitas yang didapatkan dari vaksin dapat bertahan tingga 15 – 17 tahun sejak vaksinasi primer usia bayi, dinilai dari titer antiHBs >10mIU/mL, dimana penurunan awal didapatkan sejak tahun pertama. Wang (2015) juga mendapatkan dari 180 orang yang divaksinasi pada usia bayi hanya 41,1% yang memiliki titer positif anti-HBs.
Romano dan Dini juga menunjukkan terjadinya penurunan pada titer anti-HBs.
Pada penelitian kohort oleh Zhu, pada 904 anak yang dilakukan vaksin di usia bayi sebanyak 3 kali, 257 (31,8%) anti-HBs negatif pada usia 5 tahun, dan di usia 10 tahun di dapatkan 503 (62,4%) anak negatif anti-HBs, dan di usia 20 tahun sekitar 66,7%
memiliki titer negatif anti-HBs. Selain itu di usia 24 tahun sekitar 27 (6,5%) orang positif anti-HBc, dan 4 orang positif HBsAg. Zhu juga menyimpulkan adanya pengaruh lingkungan risiko tinggi dan infeksi HBV yang membuat melemahnya respon imun terutama pada 31,9% yang merespon lemah di tahun – tahun awal (Zhu, 2011).
Seluruh sampel penelitian vaksinasi di usia dewasa diketahui menggunakan vaksin rekombinan. Merk vaksin Hepatitis B utama yang beredar di Indonesia saat ini seuruhnya adalah rekombinan. Penelitian Kim yang menunjukkan seropositif anti-HBs didapatkan hasil 53% positif dimana sampel menggunakan vaksin rekombinan dan
plasma, dan hasil 78% pada sampel dengan vaksin rekombinan (Kim, 2017). Selain itu, belum ada penelitian yang dengan jelas menjelaskan pengaruh pemberian vaksin plasma ataupun rekombinan terhadap titer anti-HBs. Namun pada sekitar 4,1% - 6,7%
orang yang tervaksinasi masih bisa terinfeksi HBV, ditandai dengan positifnya anti-HBc setelah 15 tahun vaksinasi (Wang, 2015).
Occupational Health Surveillance Program di beberapa negara, seperti di Itali pada penelitian terhadap 717 sampel yang merupakan pelajar di bidang kesehatan yang diperiksakan anti HBs dan anti HBC didapatkan sekitar 74,6% dari sampel penelitian telah medapatkan vaksinasi pada usia bayi, dan hanya sekitar 66,9% yang memiliki titer positif anti-HBs. Sampel yang memiliki titer negatif kemudian diberikan dosis booster dan sekitar 95,2% mendapatkan hasil positif satu bulan setelahnya, hal ini menunjukkan bahwa vaksin HBV memiliki memori imunologi yang sangat kuat (Dini, 2017).
Penelitian oleh Zhu pada tahun 1980 selama 20 tahun menunjukkan bahwa terdapat sel T spesifik terhadap HBsAg pada 41 dari 44 subyek yang tidak menunjukkan titer positif anti-HBs setelah follow-up vaksinasi hepatitis B. Sekitar 80%
menunjukkan respon imunitas yang baik setelah pemberian booster (Zhu, 2011).
Penelitian tersebut menyimpulkan adanya memori imun tubuh yang didapatkan dari vaksinasi usia bayi. Pada penelitian ini didapatkan 36 orang (81,8%) yang memiliki anti-HBs yang rendah, dan beberapa tidak memiliki riwayat vaksinasi yang jelas, namun tidak ada satupun mahasiswa pernah mendapatkan booster ataupun melakukan pemeriksaan.
Meskipun level antibodi jatuh di bawah angka 10 mIU/mL, imunitas masih
Meskipun level antibodi jatuh di bawah angka 10 mIU/mL, imunitas masih