BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konsep
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1. Populasi ... 63
2. Sampel ... 64
3. Realisasi Belanja Modal menurut Kabupaten/ Kota ... 65
4. Realisasi Fiscal Stress menurut Kabupaten/ Kota ... 66
5. Realisasi Dana Bagi Hasil Pajak menurut Kabupaten/ Kota ... 67
6. Realisasi Dana Bagi Hasil Bukan Pajak menurut Kabupaten/ Kota ... 68
7. Realisasi Pendapatan Asli Daerah menurut Kabupaten/ Kota ... 69
8. Dessriptive Statistics ... 70
9. Regression ... 71
10.NPar Tests ... 75
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak sebagai variabel moderating.
Populasi penelitian sejumlah 33 (tiga puluh tiga) pemerintahan daerah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, dan yang memenuhi kriteria disertakan sebagai anggota sampel sejumlah 24 (dua puluh empat) pemerintahan daerah kabupaten/kota. Penelitian dilakukan selama 3 (tiga) tahun pengamatan, yaitu dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010. Data kuantitatif yang dipergunakan pada penelitian ini diperoleh dari laporan tahunan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis regresi, dan sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik terhadap data sampel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Belanja Modal dan Fiscal Stress secara simultan berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak sebagai variabel moderating. Dan secara parsial, hanya Dana Bagi Hasil Pajak yang tidak berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah.
Kata Kunci : Belanja Modal, Fiscal Stress, Dana Bagi Hasil Pajak, Dana Bagi Hasil Bukan Pajak, Pendapatan Asli Daerah.
ABSTRACT
The purpose of this research is to know the influence and the contribution of Capital Expenditures and Fiscal Stress into the Local Government Revenue with the Revenue Sharing of Tax and Non Tax as a moderating variable.
The population of this research is 33 (thirty three) Local Governments of district/ city in North Sumatra province. The Local Governments that meet the criteria of the sample amounted to 24 (twenty four) districts/ cities. This research was done for 3 (three) years of observation from 2008 until 2010. Quantitative data used in this research were obtained from the annual report of the realization of the Local Goverment Revenues and Expenditures. Hypothetic examination is performed with regression analysis, and previously the classical assumptions examination is performed on the sample data.
The results showed that the Capital Expenditures and Fiscal Stress simultaneously have the positive influence into the Local Goverment Revenue with the Revenue Sharing of Tax and Non Tax as moderating variables. And partially, only Revenue Sharing of Tax has no positive influence on Local Goverment Revenue.
Keywords: Capital Expenditures, Fiscal Stress, Tax Revenue Sharing, Non-Tax Revenue Sharing, Local Government Revenue.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Manajemen pemerintah daerah di Indonesia memasuki era baru seiring dengan diberlakukannya desentralisasi fiskal. Kebijakan terkait yang tertuang dalam UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah efektif diberlakukan per Januari tahun 2001 (UU ini dalam perkembangannya diperbarui dengan dikeluarkannya UU No.32 tahun 2004 dan UU No. 33 tahun 2004). Diberlakukannya undang-undang ini memberikan peluang bagi daerah untuk menggali potensi lokal dan meningkatkan kinerja keuangannya dalam rangka mewujudkan kemandirian daerah.
Dalam era desentralisasi fiskal diharapkan terjadinya peningkatan pelayanan diberbagai sektor terutama sektor publik. Peningkatan layanan publik ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik bagi investor untuk membuka usaha di daerah. Harapan ini tentu saja dapat terwujud apabila ada upaya serius (pemerintah) dengan memberikan berbagai fasilitas pendukung (investasi). Konsekuensinya, pemerintah perlu untuk memberikan alokasi belanja yang lebih besar untuk tujuan ini. Desentralisasi fiskal disatu sisi memberikan kewenangan yang lebih besar dalam
pengelolaan daerah, tetapi disisi lain memunculkan persoalan baru, dikarenakan tingkat kesiapan fiskal daerah yang berbeda-beda. Penelitian yang dilakukan Adi
(2006) menunjukkan terjadi disparitas pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi antar daerah (kabupaten dan kota) dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal.
Dalam penciptaan kemandirian daerah, pemerintah daerah harus beradaptasi dan berupaya meningkatkan mutu pelayanan publik dan perbaikan dalam berbagai sektor yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi sumber PAD. Tuntutan untuk mengubah struktur belanja menjadi semakin kuat, khususnya pada daerah – daerah yang mengalami kapasitas fiskal rendah (Halim, 2001). Dalam upaya peningkatan kemandirian daerah pemerintah daerah juga dituntut untuk mengoptimalkan potensi pendapatan yang dimiliki dan salah satunya memberikan proporsi belanja modal yang lebih besar untuk pembagunan pada sektor – sektor yang produktif di daerah.
Wong (2004) menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur industri mempunyai dampak yang nyata terhadap kenaikan pajak daerah. Dengan terpenuhinya fasilitas publik maka masyarakat merasa nyaman dan dapat menjalankan usahanya dengan efisien dan efektif sehingga pada akhirnya akan meningkatkan partisipasi publik dalam pembangunan. Semakin tinggi tingkat investasi modal diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan publik dan pada gilirannya mampu meningkatkan tingkat partisipasi publik terhadap pembangunan yang tercermin dari adanya peningkatan PAD (Mardiasmo, 2002). Jadi belanja modal memiliki pengaruh secara tidak langsung dalam meningkatkan PAD.
Upaya perbaikan terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan publik dalam rangka menghadapi otonomi daerah. Perbaikan wawasan, kualitas SDM, kelembagaan, serta pengelolaan keuangan daerah harus didukung oleh tingkat
pembiayaan daerah yang memadai.Alokasi belanja yang dirancang dalam bentuk program diharapkan memberikan timbal balik berupa peningkatan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), baik yang berasal dari retribusi, pajak daerah maupun penerimaan lainnya.
Otonomi daerah menuntut daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Seiring dengan tujuan otonomi daerah yaitu peningkatan kemandirian daerah otonom, daerah diharapkan mampu melepaskan atau paling tidak mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah pusat. Pada era otonomi ini, Pendapatan Asli Daerah idealnya menjadi tonggak utama atau komponen utama pembiayaan daerah, dengan kata lain proporsi dana perimbangan yang berasal dari pusat dan lain-lain Pendapatan yang merupakan komponen Pendapatan Daerah proporsinya semakin diminimalisir. Namun upaya pemerintah daerah ini mengalami hambatan karena diberlakukannya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah. Keberadaan Undang-Undang ini seringkali dinilai justru menjadi disinsentif bagi daerah, dikarenakan membatasi daerah untuk melakukan ekstensifikasi pajak-pajak daerah.
Pada saat fiscal stress tinggi, pemerintah cenderung menggali potensi penerimaan pajak untuk meningkatkan penerimaan daerahnya (Shamsub dan Akoto, 2004). Hal ini berarti kondisi fiscal stress adalah tingginya angka upaya pajak yang merupakan inisiatif dari pemerintah daerah dalam rangka penerapan otonomi daerah. Upaya pajak atau disebut dengan istilah Tax effort merupakan usaha pemerintah daerah menggali potensi daerahnya untuk meningkatkan pendapatan daerahnya yang
pada akhirnya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah secara keseluruhan sehingga ketergantungan daerah terhadap dana perimbangan dapat dibatasi. Potensi yang dimaksudkan adalah besaran target yang diprogramkan pemerintah daerah dalam visi dan misi Pendapatan Daerah untuk dapat dicapai dalam tahun anggaran daerah tersebut.
Dalam pelaksanaannya, penerapan otonomi daerah didukung pula oleh perimbangan keuangan antara pusat dan daerah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dalam Undang-Undang tersebut yang dimaksud dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah adalah suatu sistem pembiayaan pemerintah dalam kerangka negara kesatuan, yang mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta pemerataan antar daerah secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata acara penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya.
Wujud dari perimbangan keuangan tersebut adalah adanya dana perimbangan yang bersumber dari pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Perimbangan terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Ketiga jenis dana tersebut bersama dengan
Pendapatan Asli Daerah dan lain-lain Pendapatan merupakan sumber dana daerah yang digunakan untuk menyelenggarakan pemerintahan di tingkat daerah.
Penelitian yang dilakukan oleh Adi (2006) yang meneliti Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Belanja Pembangunan, dan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten dan Kota se Jawa-Bali selama periode 1998-2003. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Belanja Pembangunan memberikan dampak yang positif dan signifikan terhadap PAD maupun pertumbuhan ekonomi. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Husni (2011) yang meneliti Pengaruh DAU, DAK terhadap peningkatan PAD dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening di Kabupaten/ Kota Provinsi Aceh, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa DAU, DAK, dan Belanja Modal berkontribusi signifikan terhadap PAD. Berdasarkan hal-hal yang sudah dijelaskan tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan PAD dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebagai variabel moderating pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara”.
1.2. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah Belanja Modal dan Fiscal Stress berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada pemerintah Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara?
2. Apakah Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak berpengaruh pada hubungan Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan PAD pada pemerintah Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui dan sekaligus memberikan bukti empiris pada:
1. Pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress secara pasial dan simultan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada pemerintah Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara.
2. Pengaruh Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak pada hubungan Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan PAD pada pemerintah Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Peneliti, Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang Akuntansi Sektor Publik khususnya dalam menganalisis Pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebagai variabel moderating pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara sejak diberlakukannya otonomi daerah.
2. Bagi Pemerintah, memberikan masukan baik bagi Pemerintah Pusat maupun Daerah dalam hal penyusunan kebijakan di masa yang akan datang yang berkaitan dengan perencanaan, pengendalian, dan evaluasi dari APBN dan APBD, serta UU dan PP yang menyertainya; dan
3. Bagi Akademisi, sebagai bahan referensi dan data tambahan bagi peneliti-peneliti lainnya yang tertarik pada bidang kajian ini.
1.5. Originalitas Penelitian
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian terdahulu yaitu Adi (2006) dan Husni (2011). Adi (2006) meneliti Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Belanja Pembangunan, dan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten dan Kota se Jawa-Bali selama periode 1998-2003. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Adi yaitu pada penelitian terdahulu, variabel independennya hanya Belanja Modal dan tidak memiliki variabel moderating, sedangkan dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah Belanja Modal dan Fiscal Stress dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebagai variabel moderating. Kemudian Populasi penelitian terdahulu adalah seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa dan Bali selama periode 1998-2003, sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Utara dalam periode 2008-2010.
Husni (2011) meneliti Pengaruh DAU, DAK terhadap peningkatan PAD dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening di Kabupaten/ Kota Provinsi Aceh. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Husni, yaitu pada penelitian terdahulu, variabel independennya adalah DAU dan DAK dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening, sedangkan dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah Belanja Modal dan Fiscal Stress dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebagai variabel moderating. Kemudian populasi penelitian terdahulu adalah seluruh Kabupaten/ Kota di Provinsi Aceh dalam periode 2004-2007, sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Utara dalam periode 2008-2010.
Kemudian penelitian ini juga merupakan replikasi dari penelitian Frelistiyani (2010) dan Batubara (2009). Frelistiyani (2010) meneliti pengaruh DAU terhadap PAD dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Frelistiyani yaitu pada penelitian terdahulu, variabel independen yang digunakan adalah DAU, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan 2 variabel independen yakni Belanja Modal dan Fiscal Stress, serta 2 variabel moderating yakni Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak. Lokasi dan waktu penelitian terdahulu dilakukan di Kabupaten/ Kota se-Jawa pada tahun 2006-2008, sedangkan dalam penelitian ini dilakukan di Kabupaten/ Kota se-Sumatera Utara pada tahun 2008-2010.
Batubara (2009) meneliti pengaruh Belanja Modal dan Belanja Pemeliharaan untuk pelayanan publik terhadap Realisasi PAD pada Pemerintah Kabupaten/ Kota di Provinsi Sumatera Utara. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Batubara yaitu pada penelitian terdahulu, variabel independen yang digunakan adalah Belanja Modal dan Belanja Pemeliharaan tanpa adanya variabel moderating, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan 2 variabel independen yakni Belanja Modal dan Fiscal Stress, serta 2 variabel moderating yakni Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak. Lokasi dan waktu penelitian terdahulu dilakukan di Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2006-2008, sedangkan dalam penelitian ini dilakukan di Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Utara untuk periode 2008-2010.
Kemudian lingkup Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak dalam penelitian ini dibatasi hanya yang berasal dari Pemerintah Pusat saja tanpa mengikutkan yang dari pemerintah provinsi. Hal tersebut dikarenakan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana DBH Pajak dan DBH Bukan Pajak yang dialokasikan Pemerintah Pusat mempengaruhi hubungan Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan PAD di daerah. Dengan demikian, maka dapat diketahui seberapa besar peran Pemerintah Pusat dalam meningkatkan PAD di daerah, sehingga data DBH yang dipakai dalam penelitian ini adalah data DBH dari perkiraan DBH Pajak dan DBH Bukan Pajak dalam kelompok “Transfer Pemerintah Pusat – Dana Perimbangan” pada Pendapatan Transfer di LRA Pemerintah Kabupaten/ Kota.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
Pada bab ini akan dibahas lebih mendalam mengenai teori-teori dan pendekatan-pendekatan yang menjelaskan pengertian Belanja Modal, Fiscal Stress, Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta teori-teori yang menjelaskan hubungan antara variabel tersebut yang berupa hasil penemuan terdahulu yang menjadi landasan teori dan sebagai acuan dalam pemecahan masalah yang sedang diteliti.
2.1.1. Belanja Modal
Menurut Halim (2004: 73), “Belanja Modal merupakan belanja pemerintah daerah yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah dan selanjutnya akan menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan pada Kelompok Belanja Administrasi Umum”.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 53 ayat 1 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Belanja Modal merupakan pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/ pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan. Belanja Modal ini digunakan untuk kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya.
Menurut Syaiful (2007 : 2-3), Belanja Modal dapat dikategorikan dalam 5 (lima) kategori utama.
a. Belanja Modal Tanah
Belanja Modal Tanah merupakan pengeluaran/biaya atas pengadaan/ pembelian/ pembebasan, penyelesaian, balik nama dan sewa tanah, pengosongan, pengurugan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat dan pengeluaran lainnya sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dimaksud dalam kondisi siap pakai.
b. Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Belanja Modal Peralatan dan Mesin merupakan pengeluaran/ biaya atas pengadaan/ penambahan/ penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin serta inventaris kantor yang memberikan manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan dan sampai peralatan dan mesin dimaksud dalam kondisi siap pakai.
c. Belanja Modal Gedung dan Bangunan
Belanja Modal Gedung dan Bangunan merupakan pengeluaran/ biaya atas pengadaan/ penambahan/ penggantian, termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah kapasitas sampai gedung dan bangunan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
d. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan merupakan pengeluaran/ biaya atas pengadaan/ penambahan/ penggantian/ peningkatan, pembangunan/ pembuatan serta perawatan dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan jalan irigasi dan jaringan yang menambah kapasitas sampai jalan irigasi dan jaringan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
e. Belanja Modal Fisik Lainnya
Belanja Modal Fisik Lainnya merupakan pengeluaran/ biaya atas pegadaan/ penambahan/ penggantian/ peningkatan pembangunan/ pembuatan serta perawatan terhadap fisik lainya yang tidak dapat dikategorikan dalam kriteria belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, dan jalan irigasi dan jaringan termasuk dalam belanja ini adalah belanja kontrak sewa beli, pembelian barang-barang kesenian, barang purbakala dan barang untuk museum, hewan ternak dan tanaman, buku-buku dan jurnal ilmiah.
2.1.2. Fiscal Stress
Adi (2007), menyatakan bahwa Lahirnya otonomi daerah tahun 2001 memiliki 2 (dua) persepsi yaitu disatu sisi memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah, namun disisi lain memberikan implikasi tanggung jawab yang lebih besar bagi pemerintah daerah dalam upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Kemandirian untuk mengelola dan mengatur rumah tangga sendiri akan terwujud dengan baik apabila terdapat dukungan (partisipasi) publik.
Kemandirian yang merupakan tujuan otonomi dapat terwujud apabila proses distribusi baik pada kebutuhan masyarakat maupun perolehan serta pembagian pendapatan untuk daerah dan masyarakat secara merata. Meskipun memberikan manfaat positif bagi pengembangan daerah, kebijakan otonomi dinilai terlalu cepat dilakukan, terlebih ditengah-tengah upaya daerah melepaskan diri dari belenggu krisis moneter dan ketidaksiapan pemerintah daerah mengaplikasikan otonomi daerah baik dari sisi wawasan, sumber daya manusia, kapasitas kelembagaan, maupun kemampuan mengelola keuangan daerahnya.
Brodjonegoro (2003) menegaskan, bahwa pelaksanaan otonomi dinilai sebagai penerapan pendekatan Big Bang dikarenakan pendeknya waktu persiapan untuk negara yang besar dengan kondisi geografis yang cukup menyulitkan. Otonomi daerah dilaksanakan pada saat daerah mempunyai tingkat kesiapan yang berbeda, baik dari segi sumber daya maupun kemampuan manajerian daerah. Adi (2005), menunjukkan adanya disparitas (kapasitas) fiskal yang tinggi antar daerah memasuki era otonomi.
Ada beberapa daerah tergolong sebagai daerah yang beruntung karena memiliki sumber-sumber penerimaan yang potensial, yang berasal dari pajak, retribusi daerah, maupun ketersediaan sumber daya alam yang memadai yang dapat dijadikan sumber penerimaan daerah. Hal ini berarti Pendapatan Asli Daerah tersebut cukup tinggi sehingga kebutuhan daerah tersebut dapat terpenuhi dan ketergantungan
daerah terhadap dana perimbangan dapat dibatasi. Namun disisi lain, bagi beberapa daerah, otonomi bisa jadi menimbulkan persoalan tersendiri mengingat adanya tuntutan untuk meningkatkan kemandirian daerah. Daerah mengalami peningkatan tekanan fiskal (fiscal stress) yang lebih tinggi dibanding era sebelum otonomi. Daerah dituntut untuk mengoptimalkan setiap potensi maupun kapasitas fiskalnya dalam rangka untuk mengurangi tingkat ketergantungan terhadap Dana Perimbangan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah.
Dongori (2006), menyatakan bahwa dampak diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah dan dikeluarkannya Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang membatasi pungutan pajak daerah dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap penerimaan daerah. Ketersediaan sumber-sumber daya potensial dan kesiapan daerah menjadi faktor penting keberhasilan daerah dalam era otonomi ini. Keuangan daerah, terutama pada sisi penerimaan bisa menjadi tidak stabil dalam memasuki era otonomi ini.
Di sisi lain, Andayani (2004) mengemukakan bahwa terjadinya krisis keuangan disebabkan tidak cukupnya penerimaan atau pendapatan dalam memenuhi kebutuhan pengeluaran. Daerah-daerah yang tidak memiliki kesiapan memasuki era otonomi bisa mengalami hal yang sama, tekanan fiskal (fiscal stress) menjadi semakin tinggi dikarenakan adanya tuntutan peningkatan kemandirian yang ditunjukkan dengan meningkatnya penerimaan sendiri untuk membiayai berbagai pengeluaran yang ada.
Shamsub & Akoto (2004) mengelompokkan penyebab timbulnya fiscal stress
ke dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:
1. Menekankan bahwa peran siklus ekonomi dapat menyebabkan fiscal stress. Penyebab utama terjadinya fiscal stress adalah kondisi ekonomi seperti pertumbuhan yang menurun dan resesi.
2. Menekankan bahwa ketiadaan perangsang bisnis dan kemunduran industri sebagai penyebab utama timbulnya fiscal stress. Kemunduran industri menjadikan berkurangnya hasil pajak tetapi pelayanan jasa meningkat, hal ini dapat menyebabkan fiscal stress.
3. Menerangkan fiscal stress sebagai fungsi politik dan faktor-faktor keuangan yang tidak terkontrol. Shamsub & Akoto (2004) menunjukkan bahwa sebagian dari peran ketidakefisienan birokrasi, korupsi, gaji yang tinggi untuk pegawai, dan tingginya belanja untuk kesejahteraan sebagai penyebab fiscal stress.
2.1.3. Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
Otonomi daerah hingga saat ini masih memberikan berbagai permasalahan. Kondisi geografis dan kekayaan alam yang beragam, differensial potensi daerah,