S
E K O L
A H
P A
S C
A S A R JA
N
A
PENGARUH BELANJA MODAL DAN FISCAL
STRESS TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN
ASLI DAERAH (PAD) DENGAN DANA BAGI HASIL PAJAK
DAN BAGI HASIL BUKAN PAJAK SEBAGAI VARIABEL
MODERATING PADA PEMERINTAH KABUPATEN/ KOTA
DI SUMATERA UTARA
TESIS
Oleh
ASWIN WIJAYA
107017008/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PENGARUH BELANJA MODAL DAN FISCAL
STRESS TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN
ASLI DAERAH (PAD) DENGAN DANA BAGI HASIL PAJAK
DAN BAGI HASIL BUKAN PAJAK SEBAGAI VARIABEL
MODERATING PADA PEMERINTAH KABUPATEN/ KOTA
DI SUMATERA UTARA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Akuntansi pada
Sekolah Pascasrjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
ASWIN WIJAYA
107017008/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PENGARUH BELANJA MODAL DAN FISCAL
STRESS TERHADAP PENINGKATAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DENGAN DANA BAGI HASIL PAJAK DAN BAGI HASIL BUKAN PAJAK SEBAGAI VARIABEL
MODERATING PADA PEMERINTAH
KABUPATEN/ KOTA DI SUMATERA UTARA Nama Mahasiswa : Aswin Wijaya
Nomor Pokok : 107017008 Program Studi : Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS. MBA, CPA) (Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, Ak Ketua Anggota
)
Ketua Program Studi Direktur
Tanggal lulus : 11 Juni 2012 Telah diuji pada
Tanggal : 11 Juni 2012
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS. MBA, CPA
Anggota : 1. Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, Ak
2. Dr. HB. Tarmizi, SU
4. Drs. Rasdianto, M.Si, Ak
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan tesis yang berjudul:
“Pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress Terhadap Peningkatan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak
sebagai Variabel Moderating pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera
Utara”.
Adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun
sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan
secara benar dan jelas.
Medan, Juni 2012 Yang membuat pernyataan,
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak sebagai variabel moderating.
Populasi penelitian sejumlah 33 (tiga puluh tiga) pemerintahan daerah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, dan yang memenuhi kriteria disertakan sebagai anggota sampel sejumlah 24 (dua puluh empat) pemerintahan daerah kabupaten/kota. Penelitian dilakukan selama 3 (tiga) tahun pengamatan, yaitu dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010. Data kuantitatif yang dipergunakan pada penelitian ini diperoleh dari laporan tahunan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis regresi, dan sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik terhadap data sampel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Belanja Modal dan Fiscal Stress secara simultan berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak sebagai variabel moderating. Dan secara parsial, hanya Dana Bagi Hasil Pajak yang tidak berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah.
ABSTRACT
The purpose of this research is to know the influence and the contribution of Capital Expenditures and Fiscal Stress into the Local Government Revenue with the Revenue Sharing of Tax and Non Tax as a moderating variable.
The population of this research is 33 (thirty three) Local Governments of district/ city in North Sumatra province. The Local Governments that meet the criteria of the sample amounted to 24 (twenty four) districts/ cities. This research was done for 3 (three) years of observation from 2008 until 2010. Quantitative data used in this research were obtained from the annual report of the realization of the Local Goverment Revenues and Expenditures. Hypothetic examination is performed with regression analysis, and previously the classical assumptions examination is performed on the sample data.
The results showed that the Capital Expenditures and Fiscal Stress simultaneously have the positive influence into the Local Goverment Revenue with the Revenue Sharing of Tax and Non Tax as moderating variables. And partially, only Revenue Sharing of Tax has no positive influence on Local Goverment Revenue.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya
penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul “Pengaruh Belanja
Modal dan Fiscal Stress terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan Dana
Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebagai Variabel Moderating
pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara”.
Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk
memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Akuntansi Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Penyelesaian Tesis ini tidak terlepas dari bantuan ikhlas dan dukungan
berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis
menyampaikan terima kasih yang tulus kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H., M.Sc. (CTM), Sp.A(K)., sebagai
Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, sebagai Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS., MBA., Ak., sebagai Ketua Program
Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dan sebagai
pemikiran-pemikiran yang sangat kreatif sejak awal penulisan proposal hingga
penyelesaian tesis ini.
4. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si., Ak., sebagai Sekretaris Program Studi
Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas kesempatan
dan motivasi kepada penulis selama mengikuti perkuliahan di Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Drs. Syamsul Bahri TRB, MM., Ak., sebagai anggota Komisi
Pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dalam penulisan tesis sejak
awal penulisan proposal hingga penyelesaian tesis ini.
6. Bapak Dr. HB. Tarmizi, SU dan Drs. Rasdianto, M.Si, Ak sebagai Komisi
Pembanding yang telah memberikan masukan dan saran-saran yang konstruktif
untuk kesempurnaan tesis ini.
7. Bapak dan Ibu Dosen Sekolah Pascasarjana yang telah membekali ilmu dan
pengetahuan penulis selama mengikuti perkuliahan di Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
8. Pimpinan dan staf Badan Pusat Statisik (BPS) Provinsi Sumatera Utara yang
telah menyediakan dan memberikan data maupun informasi yang dibutuhkan
sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
9. Seluruh staf dan pegawai Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang
telah membantu proses penyelesaian administrasi.
10. Secara khusus dan teristimewa sembah sujud ananda kepada Ayahanda Bapak
mendidik, mendoakan dan selalu memberikan motivasi kepada penulis sehingga
dapat menyelesaikan tesis ini.
11. Rekan-rekan mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Angkatan-19 dan seluruh civitas akademika Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara atas bantuan, dukungan, motivasi kepada penulis.
Penulis menyadari dengan kemampuan dan pengetahuan yang sangat terbatas,
penulisan tesis ini masih jauh dari sempurna. Besar harapan penulis adanya kritik dan
saran yang konstruktif demi kesempurnaan tesis ini. Kiranya tesis ini bermanfaat bagi
penulis dan berguna bagi yang membutuhkannya.
Medan, Mei 2012
Penulis,
RIWAYAT HIDUP
1. Nama : Aswin Wijaya
2. Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 01 Juni 1987
3. Alamat : Komp. Griyariatur Indah Blok F 95 Medan
4. Agama : Buddha
5. Jenis Kelamin : Laki-laki
6. Pekerjaan : Auditor
7. Status : Belum Menikah
8. Pendidikan :
a. Lulus SD Swasta Sutomo-1 Medan tahun 1999
b. Lulus SMP Swasta Sutomo-1 Medan tahun 2002
c. Lulus SMA Swasta Santo Thomas-1 Medan tahun 2005
d. Lulus Sarjana (S1) Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Medan
tahun 2009
9. Riwayat Pekerjaan :
a. Staf Audit di KAP Grant Thornton International (2009-2011)
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2. Rumusan Masalah Penelitian ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4. Manfaat Penelitian ... 6
1.5. Originalitas Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1. Landasan Teori ... 10
2.1.1. Belanja Modal ... 10
2.1.2. Fiscal Stress ... 12
2.1.3. Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak ... 15
2.1.4. Pendapatan Asli Daerah ... 17
2.2. Review Penelitian Terdahulu (Theoritical Mapping) ... 19
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ... 23
3.1. Kerangka Konsep ... 23
3.2. Hipotesis Penelitian ... 25
BAB IV METODE PENELITIAN ... 26
4.1. Jenis Penelitian ... 26
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 26
4.3. Populasi dan Sampel ... 27
4.4. Metode Pengumpulan Data ... 28
4.5. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 39
4.5.1. Definisi Operasional ... 39
4.5.2. Pengukuran Variabel ... 30
4.6.1. Uji Asumsi Klasik ... 33
4.6.2. Model Pengujian Hipotesis ... 34
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37
5.1. Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara ... 37
5.2. Hasil Penelitian ... 38
5.2.1. Deskriptif Sampel Penelitian ... 38
5.2.2. Deskriptif Statistik Data Penelitian ... 38
5.2.2.1. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 39
5.2.2.2. Realisasi Belanja Modal ... 39
5.2.2.3. Realisasi Fiscal Stress ... 40
5.2.2.4. Realisasi Dana Bagi Hasil Pajak ... 40
5.2.2.5. Realisasi Dana Bagi Hasil Bukan Pajak ... 40
5.3. Hasil Estimasi Model ... 41
5.3.1. Pengujian Asumsi Klasik ... 41
5.3.1.1. Uji Normalitas ... 41
5.3.1.2. Uji Multikolinieritas ... 42
5.3.1.3. Uji Heteroskedastisitas ... 43
5.3.1.4. Uji Autokorelasi ... 45
5.4. Uji Hipotesis ... 46
5.4.1. Pembahasan Hipotesis Satu ... 46
5.4.1.1. Interpretasi Model ... 46
5.4.1.2. Koefisien Determinasi ... 47
5.4.1.3. Uji ANOVA atau F Test atau Uji Simultan 47
5.4.1.4. Uji t atau Uji Parsial ... 48
5.4.2. Pembahasan Hipotesis Dua ... 48
5.4.2.1. Interpretasi Model ... 48
5.4.2.2. Koefisien Determinasi ... 50
5.4.2.3. Uji ANOVA atau F Test atau Uji Simultan 50
5.4.2.4. Uji t atau Uji Parsial ... 51
5.5. Pembahasan ... 52
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 58
6.1. Kesimpulan ... 58
6.2. Keterbatasan ... 58
6.3. Saran ... 59
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1. Review Penelitian Terdahulu ... 22
4.1. Populasi dan Sampel Penelitian ... 28
4.2. Operasionalisasi Variabel ... 32
5.1. Deskriptif Statistik ... 41
5.2. One-Sample Kolmogorov Smirnov Test ... 45
5.3. Collinearity Statistics ... 46
5.4. Uji Statistik Durbin Watson ... 48
5.5. Koefisien Determinasi Hipotesis Satu ... 50
5.6. Uji F atau Uji Simultan Hipotesis Satu ... 51
5.7. Uji t atau Uji Parsial Hipotesis Satu ... 51
5.8. Koefisien Determinasi Hipotesis Dua ... 53
5.9. Uji F atau Uji Simultan Hipotesis Dua ... 54
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1. Populasi ... 63
2. Sampel ... 64
3. Realisasi Belanja Modal menurut Kabupaten/ Kota ... 65
4. Realisasi Fiscal Stress menurut Kabupaten/ Kota ... 66
5. Realisasi Dana Bagi Hasil Pajak menurut Kabupaten/ Kota ... 67
6. Realisasi Dana Bagi Hasil Bukan Pajak menurut Kabupaten/ Kota ... 68
7. Realisasi Pendapatan Asli Daerah menurut Kabupaten/ Kota ... 69
8. Dessriptive Statistics ... 70
9. Regression ... 71
10.NPar Tests ... 75
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak sebagai variabel moderating.
Populasi penelitian sejumlah 33 (tiga puluh tiga) pemerintahan daerah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, dan yang memenuhi kriteria disertakan sebagai anggota sampel sejumlah 24 (dua puluh empat) pemerintahan daerah kabupaten/kota. Penelitian dilakukan selama 3 (tiga) tahun pengamatan, yaitu dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010. Data kuantitatif yang dipergunakan pada penelitian ini diperoleh dari laporan tahunan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis regresi, dan sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik terhadap data sampel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Belanja Modal dan Fiscal Stress secara simultan berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak sebagai variabel moderating. Dan secara parsial, hanya Dana Bagi Hasil Pajak yang tidak berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah.
ABSTRACT
The purpose of this research is to know the influence and the contribution of Capital Expenditures and Fiscal Stress into the Local Government Revenue with the Revenue Sharing of Tax and Non Tax as a moderating variable.
The population of this research is 33 (thirty three) Local Governments of district/ city in North Sumatra province. The Local Governments that meet the criteria of the sample amounted to 24 (twenty four) districts/ cities. This research was done for 3 (three) years of observation from 2008 until 2010. Quantitative data used in this research were obtained from the annual report of the realization of the Local Goverment Revenues and Expenditures. Hypothetic examination is performed with regression analysis, and previously the classical assumptions examination is performed on the sample data.
The results showed that the Capital Expenditures and Fiscal Stress simultaneously have the positive influence into the Local Goverment Revenue with the Revenue Sharing of Tax and Non Tax as moderating variables. And partially, only Revenue Sharing of Tax has no positive influence on Local Goverment Revenue.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Manajemen pemerintah daerah di Indonesia memasuki era baru seiring
dengan diberlakukannya desentralisasi fiskal. Kebijakan terkait yang tertuang dalam
UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No 25 tahun 1999
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah efektif
diberlakukan per Januari tahun 2001 (UU ini dalam perkembangannya diperbarui
dengan dikeluarkannya UU No.32 tahun 2004 dan UU No. 33 tahun 2004).
Diberlakukannya undang-undang ini memberikan peluang bagi daerah untuk
menggali potensi lokal dan meningkatkan kinerja keuangannya dalam rangka
mewujudkan kemandirian daerah.
Dalam era desentralisasi fiskal diharapkan terjadinya peningkatan pelayanan
diberbagai sektor terutama sektor publik. Peningkatan layanan publik ini diharapkan
dapat meningkatkan daya tarik bagi investor untuk membuka usaha di daerah.
Harapan ini tentu saja dapat terwujud apabila ada upaya serius (pemerintah) dengan
memberikan berbagai fasilitas pendukung (investasi). Konsekuensinya, pemerintah
perlu untuk memberikan alokasi belanja yang lebih besar untuk tujuan ini.
pengelolaan daerah, tetapi disisi lain memunculkan persoalan baru, dikarenakan
(2006) menunjukkan terjadi disparitas pertumbuhan ekonomi yang cukup
tinggi antar daerah (kabupaten dan kota) dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal.
Dalam penciptaan kemandirian daerah, pemerintah daerah harus beradaptasi
dan berupaya meningkatkan mutu pelayanan publik dan perbaikan dalam berbagai
sektor yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi sumber PAD. Tuntutan untuk
mengubah struktur belanja menjadi semakin kuat, khususnya pada daerah – daerah
yang mengalami kapasitas fiskal rendah (Halim, 2001). Dalam upaya peningkatan
kemandirian daerah pemerintah daerah juga dituntut untuk mengoptimalkan potensi
pendapatan yang dimiliki dan salah satunya memberikan proporsi belanja modal yang
lebih besar untuk pembagunan pada sektor – sektor yang produktif di daerah.
Wong (2004) menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur industri
mempunyai dampak yang nyata terhadap kenaikan pajak daerah. Dengan
terpenuhinya fasilitas publik maka masyarakat merasa nyaman dan dapat
menjalankan usahanya dengan efisien dan efektif sehingga pada akhirnya akan
meningkatkan partisipasi publik dalam pembangunan. Semakin tinggi tingkat
investasi modal diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan publik dan pada
gilirannya mampu meningkatkan tingkat partisipasi publik terhadap pembangunan
yang tercermin dari adanya peningkatan PAD (Mardiasmo, 2002). Jadi belanja modal
memiliki pengaruh secara tidak langsung dalam meningkatkan PAD.
Upaya perbaikan terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan
publik dalam rangka menghadapi otonomi daerah. Perbaikan wawasan, kualitas
pembiayaan daerah yang memadai.Alokasi belanja yang dirancang dalam bentuk
program diharapkan memberikan timbal balik berupa peningkatan penerimaan
Pendapatan Asli Daerah (PAD), baik yang berasal dari retribusi, pajak daerah
maupun penerimaan lainnya.
Otonomi daerah menuntut daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD). Seiring dengan tujuan otonomi daerah yaitu peningkatan kemandirian
daerah otonom, daerah diharapkan mampu melepaskan atau paling tidak mengurangi
ketergantungan terhadap pemerintah pusat. Pada era otonomi ini, Pendapatan Asli
Daerah idealnya menjadi tonggak utama atau komponen utama pembiayaan daerah,
dengan kata lain proporsi dana perimbangan yang berasal dari pusat dan lain-lain
Pendapatan yang merupakan komponen Pendapatan Daerah proporsinya semakin
diminimalisir. Namun upaya pemerintah daerah ini mengalami hambatan karena
diberlakukannya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah.
Keberadaan Undang-Undang ini seringkali dinilai justru menjadi disinsentif bagi
daerah, dikarenakan membatasi daerah untuk melakukan ekstensifikasi pajak-pajak
daerah.
Pada saat fiscal stress tinggi, pemerintah cenderung menggali potensi
penerimaan pajak untuk meningkatkan penerimaan daerahnya (Shamsub dan Akoto,
2004). Hal ini berarti kondisi fiscal stress adalah tingginya angka upaya pajak yang
merupakan inisiatif dari pemerintah daerah dalam rangka penerapan otonomi daerah.
Upaya pajak atau disebut dengan istilah Tax effort merupakan usaha pemerintah
pada akhirnya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah secara keseluruhan
sehingga ketergantungan daerah terhadap dana perimbangan dapat dibatasi. Potensi
yang dimaksudkan adalah besaran target yang diprogramkan pemerintah daerah
dalam visi dan misi Pendapatan Daerah untuk dapat dicapai dalam tahun anggaran
daerah tersebut.
Dalam pelaksanaannya, penerapan otonomi daerah didukung pula oleh
perimbangan keuangan antara pusat dan daerah, sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Daerah. Dalam Undang-Undang tersebut yang dimaksud dengan
perimbangan keuangan pusat dan daerah adalah suatu sistem pembiayaan pemerintah
dalam kerangka negara kesatuan, yang mencakup pembagian keuangan antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta pemerataan antar daerah secara
proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi
dan kebutuhan daerah sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan serta
tata acara penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan
pengawasan keuangannya.
Wujud dari perimbangan keuangan tersebut adalah adanya dana perimbangan
yang bersumber dari pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN)
yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi. Dana Perimbangan terdiri dari Dana Alokasi Umum
(DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang bersumber
Pendapatan Asli Daerah dan lain-lain Pendapatan merupakan sumber dana daerah
yang digunakan untuk menyelenggarakan pemerintahan di tingkat daerah.
Penelitian yang dilakukan oleh Adi (2006) yang meneliti Hubungan antara
Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Belanja Pembangunan, dan Pendapatan Asli Daerah
di Kabupaten dan Kota se Jawa-Bali selama periode 1998-2003. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa Belanja Pembangunan memberikan dampak yang positif dan
signifikan terhadap PAD maupun pertumbuhan ekonomi. Kemudian penelitian yang
dilakukan oleh Husni (2011) yang meneliti Pengaruh DAU, DAK terhadap
peningkatan PAD dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening di Kabupaten/
Kota Provinsi Aceh, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa DAU, DAK, dan
Belanja Modal berkontribusi signifikan terhadap PAD. Berdasarkan hal-hal yang
sudah dijelaskan tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai “Pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan PAD
dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebagai variabel
moderating pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara”.
1.2. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka permasalahan
dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah Belanja Modal dan Fiscal Stress berpengaruh secara parsial dan
simultan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada
2. Apakah Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak berpengaruh pada
hubungan Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan PAD pada
pemerintah Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui dan sekaligus memberikan bukti
empiris pada:
1. Pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress secara pasial dan simultan terhadap
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada pemerintah Kabupaten/
Kota di Sumatera Utara.
2. Pengaruh Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak pada hubungan
Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan PAD pada pemerintah
Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Peneliti, Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan dalam bidang Akuntansi Sektor Publik khususnya dalam
menganalisis Pengaruh Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan
Pendapatan Asli Daerah dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan
Pajak sebagai variabel moderating pada Pemerintah Kabupaten/Kota di
2. Bagi Pemerintah, memberikan masukan baik bagi Pemerintah Pusat maupun
Daerah dalam hal penyusunan kebijakan di masa yang akan datang yang
berkaitan dengan perencanaan, pengendalian, dan evaluasi dari APBN dan
APBD, serta UU dan PP yang menyertainya; dan
3. Bagi Akademisi, sebagai bahan referensi dan data tambahan bagi
peneliti-peneliti lainnya yang tertarik pada bidang kajian ini.
1.5. Originalitas Penelitian
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian terdahulu yaitu Adi (2006)
dan Husni (2011). Adi (2006) meneliti Hubungan antara Pertumbuhan Ekonomi
Daerah, Belanja Pembangunan, dan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten dan Kota
se Jawa-Bali selama periode 1998-2003. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
yang dilakukan oleh Adi yaitu pada penelitian terdahulu, variabel independennya
hanya Belanja Modal dan tidak memiliki variabel moderating, sedangkan dalam
penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah Belanja Modal dan Fiscal
Stress dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebagai variabel
moderating. Kemudian Populasi penelitian terdahulu adalah seluruh Kabupaten dan
Kota di Jawa dan Bali selama periode 1998-2003, sedangkan populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Utara dalam
Husni (2011) meneliti Pengaruh DAU, DAK terhadap peningkatan PAD
dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening di Kabupaten/ Kota Provinsi
Aceh. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Husni, yaitu
pada penelitian terdahulu, variabel independennya adalah DAU dan DAK dengan
Belanja Modal sebagai variabel intervening, sedangkan dalam penelitian ini yang
menjadi variabel independen adalah Belanja Modal dan Fiscal Stress dengan Dana
Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebagai variabel moderating. Kemudian
populasi penelitian terdahulu adalah seluruh Kabupaten/ Kota di Provinsi Aceh dalam
periode 2004-2007, sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Utara dalam periode 2008-2010.
Kemudian penelitian ini juga merupakan replikasi dari penelitian Frelistiyani
(2010) dan Batubara (2009). Frelistiyani (2010) meneliti pengaruh DAU terhadap
PAD dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening. Perbedaan penelitian ini
dengan penelitian yang dilakukan Frelistiyani yaitu pada penelitian terdahulu,
variabel independen yang digunakan adalah DAU, sedangkan dalam penelitian ini
menggunakan 2 variabel independen yakni Belanja Modal dan Fiscal Stress, serta 2
variabel moderating yakni Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak.
Lokasi dan waktu penelitian terdahulu dilakukan di Kabupaten/ Kota se-Jawa pada
tahun 2006-2008, sedangkan dalam penelitian ini dilakukan di Kabupaten/ Kota
Batubara (2009) meneliti pengaruh Belanja Modal dan Belanja Pemeliharaan
untuk pelayanan publik terhadap Realisasi PAD pada Pemerintah Kabupaten/ Kota di
Provinsi Sumatera Utara. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan
Batubara yaitu pada penelitian terdahulu, variabel independen yang digunakan adalah
Belanja Modal dan Belanja Pemeliharaan tanpa adanya variabel moderating,
sedangkan dalam penelitian ini menggunakan 2 variabel independen yakni Belanja
Modal dan Fiscal Stress, serta 2 variabel moderating yakni Dana Bagi Hasil Pajak
dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak. Lokasi dan waktu penelitian terdahulu dilakukan
di Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2006-2008, sedangkan
dalam penelitian ini dilakukan di Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Utara untuk
periode 2008-2010.
Kemudian lingkup Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
dalam penelitian ini dibatasi hanya yang berasal dari Pemerintah Pusat saja tanpa
mengikutkan yang dari pemerintah provinsi. Hal tersebut dikarenakan penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui bagaimana DBH Pajak dan DBH Bukan Pajak yang
dialokasikan Pemerintah Pusat mempengaruhi hubungan Belanja Modal dan Fiscal
Stress terhadap peningkatan PAD di daerah. Dengan demikian, maka dapat diketahui
seberapa besar peran Pemerintah Pusat dalam meningkatkan PAD di daerah, sehingga
data DBH yang dipakai dalam penelitian ini adalah data DBH dari perkiraan DBH
Pajak dan DBH Bukan Pajak dalam kelompok “Transfer Pemerintah Pusat – Dana
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
Pada bab ini akan dibahas lebih mendalam mengenai teori-teori dan
pendekatan-pendekatan yang menjelaskan pengertian Belanja Modal, Fiscal Stress,
Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak, dan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) serta teori-teori yang menjelaskan hubungan antara variabel tersebut yang
berupa hasil penemuan terdahulu yang menjadi landasan teori dan sebagai acuan
dalam pemecahan masalah yang sedang diteliti.
2.1.1. Belanja Modal
Menurut Halim (2004: 73), “Belanja Modal merupakan belanja pemerintah
daerah yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau
kekayaan daerah dan selanjutnya akan menambah belanja yang bersifat rutin seperti
biaya pemeliharaan pada Kelompok Belanja Administrasi Umum”.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 53
ayat 1 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Belanja Modal merupakan
pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/ pengadaan atau pembangunan
aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan.
Belanja Modal ini digunakan untuk kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk
tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset
Menurut Syaiful (2007 : 2-3), Belanja Modal dapat dikategorikan dalam 5
(lima) kategori utama.
a. Belanja Modal Tanah
Belanja Modal Tanah merupakan pengeluaran/biaya atas pengadaan/
pembelian/ pembebasan, penyelesaian, balik nama dan sewa tanah,
pengosongan, pengurugan, perataan, pematangan tanah, pembuatan
sertifikat dan pengeluaran lainnya sehubungan dengan perolehan hak
atas tanah dimaksud dalam kondisi siap pakai.
b. Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Belanja Modal Peralatan dan Mesin merupakan pengeluaran/ biaya
atas pengadaan/ penambahan/ penggantian, dan peningkatan kapasitas
peralatan dan mesin serta inventaris kantor yang memberikan manfaat
lebih dari 12 (dua belas) bulan dan sampai peralatan dan mesin
dimaksud dalam kondisi siap pakai.
c. Belanja Modal Gedung dan Bangunan
Belanja Modal Gedung dan Bangunan merupakan pengeluaran/ biaya
atas pengadaan/ penambahan/ penggantian, termasuk pengeluaran
untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan pembangunan
gedung dan bangunan yang menambah kapasitas sampai gedung dan
d. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan merupakan pengeluaran/
biaya atas pengadaan/ penambahan/ penggantian/ peningkatan,
pembangunan/ pembuatan serta perawatan dan termasuk pengeluaran
untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan jalan irigasi dan
jaringan yang menambah kapasitas sampai jalan irigasi dan jaringan
dimaksud dalam kondisi siap pakai.
e. Belanja Modal Fisik Lainnya
Belanja Modal Fisik Lainnya merupakan pengeluaran/ biaya atas
pegadaan/ penambahan/ penggantian/ peningkatan pembangunan/
pembuatan serta perawatan terhadap fisik lainya yang tidak dapat
dikategorikan dalam kriteria belanja modal tanah, peralatan dan mesin,
gedung dan bangunan, dan jalan irigasi dan jaringan termasuk dalam
belanja ini adalah belanja kontrak sewa beli, pembelian barang-barang
kesenian, barang purbakala dan barang untuk museum, hewan ternak
dan tanaman, buku-buku dan jurnal ilmiah.
2.1.2. Fiscal Stress
Adi (2007), menyatakan bahwa Lahirnya otonomi daerah tahun 2001
memiliki 2 (dua) persepsi yaitu disatu sisi memberikan kewenangan yang luas kepada
pemerintah daerah, namun disisi lain memberikan implikasi tanggung jawab yang
masyarakat. Kemandirian untuk mengelola dan mengatur rumah tangga sendiri akan
terwujud dengan baik apabila terdapat dukungan (partisipasi) publik.
Kemandirian yang merupakan tujuan otonomi dapat terwujud apabila proses
distribusi baik pada kebutuhan masyarakat maupun perolehan serta pembagian
pendapatan untuk daerah dan masyarakat secara merata. Meskipun memberikan
manfaat positif bagi pengembangan daerah, kebijakan otonomi dinilai terlalu cepat
dilakukan, terlebih ditengah-tengah upaya daerah melepaskan diri dari belenggu
krisis moneter dan ketidaksiapan pemerintah daerah mengaplikasikan otonomi daerah
baik dari sisi wawasan, sumber daya manusia, kapasitas kelembagaan, maupun
kemampuan mengelola keuangan daerahnya.
Brodjonegoro (2003) menegaskan, bahwa pelaksanaan otonomi dinilai
sebagai penerapan pendekatan Big Bang dikarenakan pendeknya waktu persiapan
untuk negara yang besar dengan kondisi geografis yang cukup menyulitkan. Otonomi
daerah dilaksanakan pada saat daerah mempunyai tingkat kesiapan yang berbeda,
baik dari segi sumber daya maupun kemampuan manajerian daerah. Adi (2005),
menunjukkan adanya disparitas (kapasitas) fiskal yang tinggi antar daerah memasuki
era otonomi.
Ada beberapa daerah tergolong sebagai daerah yang beruntung karena
memiliki sumber-sumber penerimaan yang potensial, yang berasal dari pajak,
retribusi daerah, maupun ketersediaan sumber daya alam yang memadai yang dapat
dijadikan sumber penerimaan daerah. Hal ini berarti Pendapatan Asli Daerah tersebut
daerah terhadap dana perimbangan dapat dibatasi. Namun disisi lain, bagi beberapa
daerah, otonomi bisa jadi menimbulkan persoalan tersendiri mengingat adanya
tuntutan untuk meningkatkan kemandirian daerah. Daerah mengalami peningkatan
tekanan fiskal (fiscal stress) yang lebih tinggi dibanding era sebelum otonomi.
Daerah dituntut untuk mengoptimalkan setiap potensi maupun kapasitas fiskalnya
dalam rangka untuk mengurangi tingkat ketergantungan terhadap Dana Perimbangan
dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah.
Dongori (2006), menyatakan bahwa dampak diberlakukannya
Undang-Undang Otonomi Daerah dan dikeluarkannya Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 34 Tahun
2000 yang membatasi pungutan pajak daerah dapat memberikan pengaruh yang
cukup besar terhadap penerimaan daerah. Ketersediaan sumber-sumber daya
potensial dan kesiapan daerah menjadi faktor penting keberhasilan daerah dalam era
otonomi ini. Keuangan daerah, terutama pada sisi penerimaan bisa menjadi tidak
stabil dalam memasuki era otonomi ini.
Di sisi lain, Andayani (2004) mengemukakan bahwa terjadinya krisis
keuangan disebabkan tidak cukupnya penerimaan atau pendapatan dalam memenuhi
kebutuhan pengeluaran. Daerah-daerah yang tidak memiliki kesiapan memasuki era
otonomi bisa mengalami hal yang sama, tekanan fiskal (fiscal stress) menjadi
semakin tinggi dikarenakan adanya tuntutan peningkatan kemandirian yang
ditunjukkan dengan meningkatnya penerimaan sendiri untuk membiayai berbagai
Shamsub & Akoto (2004) mengelompokkan penyebab timbulnya fiscal stress
ke dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:
1. Menekankan bahwa peran siklus ekonomi dapat menyebabkan fiscal stress.
Penyebab utama terjadinya fiscal stress adalah kondisi ekonomi seperti
pertumbuhan yang menurun dan resesi.
2. Menekankan bahwa ketiadaan perangsang bisnis dan kemunduran industri
sebagai penyebab utama timbulnya fiscal stress. Kemunduran industri menjadikan
berkurangnya hasil pajak tetapi pelayanan jasa meningkat, hal ini dapat
menyebabkan fiscal stress.
3. Menerangkan fiscal stress sebagai fungsi politik dan faktor-faktor keuangan yang
tidak terkontrol. Shamsub & Akoto (2004) menunjukkan bahwa sebagian dari
peran ketidakefisienan birokrasi, korupsi, gaji yang tinggi untuk pegawai, dan
tingginya belanja untuk kesejahteraan sebagai penyebab fiscal stress.
2.1.3. Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
Otonomi daerah hingga saat ini masih memberikan berbagai permasalahan.
Kondisi geografis dan kekayaan alam yang beragam, differensial potensi daerah,
yang menciptakan perbedaan kemampuan finansial untuk memenuhi kebutuhannya,
atau yang biasa disebut fiscal gap (celah fiskal). Pemerintah pusat dalam
undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat
dan pemerintah daerah, mengalokasikan sejumlah dana dari APBN sebagai dana
perimbangan yaitu: Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK),
Halim (2002), menjelaskan bahwa Dana Perimbangan merupakan dana yang
bersumber dari penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang
dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah. Dana Perimbangan
dipisahkan menjadi 5 (lima) jenis, yaitu:
1. Bagi Hasil Pajak, terdiri dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan, dan Pajak Penghasilan pasal 21.
2. Bagi Hasil Bukan Pajak, terdiri atas Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH),
pemberian hak atas tanah negara, landrent, dan penerimaan dari iuran eksplorasi.
3. Dana Alokasi Umum
DAU adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan
pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan
pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Estimasi untuk
perhitungan anggaran DAU dihitung berdasarkan UU No. 25 Tahun 1999 dan PP
No. 104 Tahun 2000.
4. Dana Alokasi Khusus
DAK adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada daerah
untuk membantu membiayai kebutuhan tertentu. Berdasarkan pasal 19 ayat 1 PP
No. 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan, disebutkan bahwa Dana
Alokasi Khusus dapat dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu untuk
membantu membiayai kebutuhan khusus, dengan memperhatikan tersedianya
dana dalam APBN.
2.1.4. Pendapatan Asli Daerah
Halim (2002), menyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan
semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. Adapun
kelompok pendapatan asli daerah dipisahkan menjadi empat jenis pendapatan, yaitu:
1. Pajak Daerah. Pajak Daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal
dari pajak.
2. Retribusi Daerah. Retribusi Daerah merupakan pendapatan daerah yang
berasal dari retribusi daerah. Dalam struktur APBD baru dengan
pendekatan kinerja, jenis pendapatan yang berasal dari pajak daerah dan
restribusi daerah berdasarkan UU No.34 Tahun 2000 tentang Perubahan
Atas UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Rertibusi
Daerah, dirinci menjadi:
a.Pajak Provinsi. Pajak ini terdiri atas: (i) Pajak kendaraan bermotor dan
kendaraan di atas air, (ii) Bea balik nama kendaraan bermotor
(BBNKB) dan kendaraan di atas air, (iii) Pajak bahan bakar
kendaran bermotor, dan (iv) Pajak pengambilan dan pemanfaatan
air bawah tanah dan air permukaan.
b. Jenis pajak Kabupaten/kota. Pajak ini terdiri atas: (i) Pajak Hotel,
(ii) Pajak Restoran, (iii) Pajak Hiburan, (iv) Pajak Reklame, (v)
Pajak penerangan Jalan, (vi) Pajak pegambilan Bahan Galian
c. Retribusi. Retribusi ini dirinci menjadi: (i) Retribusi Jasa Umum,
(ii) Retribusi Jasa Usaha, (iii) Retribusi Perijinan Tertentu.
3. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan milik
daerah yang dipisahkan. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil
pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan merupakan
penerimaan daerah yang berasal dari hasil perusahaan milik daerah dan
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Jenis pendapatan ini
meliputi objek pendapatan berikut:
a.Bagian laba perusahaan milik daerah.
b. Bagian laba lembaga keuangan bank.
c.Bagian laba lembaga keuangan non bank.
d. Bagian laba atas pernyataan modal/investasi.
4. Lain-lain PAD yang sah. Pendapatan ini merupakan penerimaan daerah
yang berasal dari lain-lain milik pemerintah daerah. Jenis pendapatan ini
meliputi objek pendapatan berikut:
a. Hasil penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan.
b. Penerimaan jasa giro.
c. Peneriman bunga deposito.
d. Denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan.
e. Penerimaan ganti rugi atas kerugian/kehilangan kekayaan daerah
2.2. Review Penelitian Terdahulu (Theoritical Mapping)
1. Adi (2006)
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pertumbuhan ekonomi
daerah, belanja pembangunan dan pendapatan asli daerah. Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah mempunyai dampak yang
signifikan terhadap peningkatan PAD. Dan Belanja pembangunan memberikan
dampak positif dan signifikan terhadap PAD dan pertumbuhan ekonomi.
2. Husni (2011)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh DAU dan DAK terhadap
peningkatan PAD dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening yang
merupakan studi empiris yang dilakukan di Kabupaten/ Kota Provinsi Aceh.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Dana Alokasi Khusus berkontribusi
signifikan sedangkan Dana Alokasi Umum dan tidak terhadap belanja modal.
Pada lag satu tahun, Dana Alokasi Umum, belanja modal berkontribusi
signifikan sedangkan Dana Alokasi Khusus dan tidak terhadap Peningkatan
Pendapatan Asli Daerah. Pada lag dua tahun Dana Alokasi Umum, belanja
modal berkontribusi signifikan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah
sedangkan Dana Alokasi Khusus tidak. Pada lag tiga tahun, Dana Alokasi
Umum, Dana Alokasi Khusus dan belanja modal berkontribusi signifikan
3. Frelistiyani (2010)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh DAU terhadap PAD dengan
Belanja Modal sebagai variabel intervening. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan DAU mempunyai pengaruh positif terhadap belanja modal dan
juga DAU dan belanja modal mempunyai pengaruh positif terhadap PAD. Hal
ini berarti keputusan pemerintah untuk mengalokasikan belanja modal yang lebih
besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan PAD.
4. Batubara (2009)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Belanja Modal dan Belanja
Pemeliharaan untuk pelayanan publik terhadap Realisasi PAD pada Pemerintah
Kabupaten/ Kota di Provinsi Sumatera Utara. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa baik secara parsial dan simultan Belanja Modal dan Belanja
Tabel 2.1. Review Penelitian Terdahulu
No
Nama dan
Tahun Judul Penelitian Variabel yang
Digunakan Hasil yang Diperoleh Peneliti pendapatan asli daerah
Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi daerah
mempunyai dampak yang
signifikan terhadap peningkatan PAD. Belanja
pembangunan memberikan dampak positif dan signifikan terhadap PAD dan pertumbuhan ekonomi.
2 Husni Hasrina (2011)
Pengaruh DAU, DAK terhadap Peningkatan PAD dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening studi empiris di Kabupaten/ Kota Provinsi Aceh
DAU, DAK, Belanja Modal, PAD
Dana Alokasi Khusus berkontribusi signifikan sedangkan Dana Alokasi Umum tidak terhadap belanja modal. Pada lag satu tahun, Dana Alokasi Umum, belanja modal berkontribusi signifikan sedangkan Dana Alokasi Khusus tidak terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Pada lag dua tahun Dana Alokasi Umum, belanja modal berkontribusi signifikan
terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah sedangkan Dana Alokasi Khusus tidak. Pada lag tiga tahun, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan belanja modal berkontribusi
signifikan terhadap Peningkatan Pendapatan Asli
Daerah. 3 Frelistiyani
Winda (2010)
Pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap PAD dengan Belanja Modal sebagai variabel intervening
DAU, Belanja Modal, dan PAD
Hasil pengujian menemukan bahwa DAU mempunyai pengaruh positif terhadap belanja modal dan juga DAU dan belanja modal mempunyai pengaruh positif terhadap PAD. Hal ini berarti keputusan
pemerintah untuk mengalokasikan belanja modal
4 Batubara Jansen (2009)
Pengaruh Belanja Modal dan Belanja Pemeliharaan untuk pelayanan publik terhadap Realisasi PAD pada Pemerintah Kabupaten/ Kota di Provinsi Sumatera Utara
Belanja Modal, Belanja Pemeliharaan, dan PAD
Hasil analisis menunjukkan bahwa baik secara parsial dan simultan Belanja Modal dan Belanja Pemeliharaan berpengaruh terhadap Realisasi PAD.
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan teori dan masalah penelitian, maka peneliti
mengembangkan kerangka konsep penelitian yang akan diuji secara simultan dan
parsial sebagaimana terlihat pada gambar 3.1.
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Belanja Modal
Fiscal Stress
Pendapatan
Asli Daerah
Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah kenaikan jumlah
pendapatan pada tahun berikutnya yang diperoleh daerah dan dipungut berdasarkan
peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam konteks
pembiayaan pembangunan daerah, potensi asli daerah adalah seluruh sumber daya
daearah yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sehingga memberi nilai
ekonomis yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembiayaan pembangunan
daerah.
Belanja Modal merupakan belanja pemerintah daerah yang manfaatnya
melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah.
Pemerintah Daerah mengalokasikan anggaran belanja modal di dalam APBD untuk
melaksanakan rencana pembangunan di daerah dalam bentuk proyek-proyek dari
berbagai sektor pembangunan dengan tujuan untuk melakukan investasi dan
diharapkan benar-benar langsung menyentuh sektor ekonomi produktif masyarakat
yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan peningkatan PAD di daerah.
Kondisi fiscal stress adalah tingginya angka upaya pajak yang merupakan
inisiatif dari pemerintah daerah dalam rangka penerapan otonomi daerah. Upaya
pajak atau disebut dengan istilah Tax effort merupakan usaha pemerintah daerah
menggali potensi daerahnya untuk meningakatkan pendapatan daerahnya yang pada
akhirnya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah secara keseluruhan sehingga
Dana Perimbangan adalah dana yang terdiri dari Dana Alokasi Umum, Dana
Alokasi Khusus, Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Dana Darurat. Dana
Perimbangan adalah sumber dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan
tujuan untuk membiayai kebutuhan pengeluaran daerah yang akan berpengaruh
terhadap peningkatan PAD.
3.2. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan penjelasan sementara tentang perilaku, fenomena atau
keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi (Erlina dan Mulyani, 2007).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Belanja Modal dan Fiscal Stress berpengaruh secara pasial dan simultan terhadap
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada Pemerintah Kabupaten/ Kota di
Sumatera Utara.
2. Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak berpengaruh pada hubungan
Belanja Modal dan Fiscal Stress terhadap peningkatan PAD pada pemerintah
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kausal.
Penelitian kausal berguna untuk menganalisis pengaruh antara satu variabel dengan
variabel lainnya atau bagaimana satu variabel mempengaruhi variabel lainnya
(Umar,2000).
Jadi dalam penelitian ini diteliti pengaruh antara Belanja Modal dan Fiscal
Stress yang dikategorikan sebagai variabel independen dengan Dana Bagi Hasil Pajak
dan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak sebagai variabel moderating terhadap Pendapatan
Asli Daerah yang dikategorikan sebagai variabel dependen.
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Kabupaten/ Kota di Provinsi Sumatera Utara.
Periode penelitian adalah periode tahun 2008-2010. Sedangkan rencana penelitian
yakni selama 16 minggu (Februari – Mei 2012). Tabel rencana waktu penelitian dapat
4.3. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kabupaten/ kota yang ada di
provinsi Sumatera Utara yang berjumlah 33 yang terdiri dari 25 kabupaten dan 8
kota. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kabupaten dan kota di
provinsi Sumatera Utara pada tahun 2008-2010.
Data sampel diambil dengan menggunakan purposive sampling dengan
kriteria yaitu daerah Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Utara yang
mempublikasikan laporan keuangannya secara konsisten dari tahun 2008-2010.
Dari 33 daerah kabupaten dan kota yang dijadikan populasi, hanya sebanyak
24 yang memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian pada Tabel 4.1
berikut:
Tabel 4.1. Populasi dan Sampel Penelitian
No Nama Kabupaten/Kota Sampel Jumlah
Sampel
1 Kota Binjai x -
2 Kota Medan v Sampel 1
3 Kota Sibolga v Sampel 2
4 Kota Padang Sidempuan v Sampel 3
5 Kota Tebing Tinggi v Sampel 4
6 Kota Tanjung Balai v Sampel 5
7 Kota Pematang Siantar v Sampel 6
8 Kabupaten Asahan v Sampel 7
9 Kabupaten Humbang Hasundutan v Sampel 8
10 Kabupaten Toba Samosir v Sampel 9
11 Kabupaten Tapanuli Selatan v Sampel 10 12 Kabupaten Tapanuli Tengah v Sampel 11
13 Kabupaten Batubara v Sampel 12
15 Kabupaten Tapanuli Utara v Sampel 14
16 Kabupaten Nias Selatan v Sampel 15
17 Kabupaten Deli Serdang v Sampel 16
18 Kabupaten Karo v Sampel 17
19 Kabupaten Serdang Berdagai v Sampel 18
20 Kabupaten Labuhan Batu v Sampel 19
21 Kabupaten Nias x -
22 Kabupaten Langkat v Sampel 20
23 Kabupaten Mandailing Natal v Sampel 21
24 Kabupaten Samosir v Sampel 22
25 Kabupaten Simalungun v Sampel 23
26 Kabupaten Dairi v Sampel 24
27 Kabupaten Angkola Sipirok x -
28 Kabupaten Padang Lawas x -
29 Kabupaten Padang Lawas Utara x -
30 Kabupaten Nias Utara x -
31 Kabupaten Labuhan Batu Utara x -
32 Kabupaten Labuhan Batu Selatan x -
33 Kota Gunung Sitoli x -
4.4. Metode Pengumpulan Data
Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan
dalam penentuan metode pengumpulan data. Data yang digunakan dalam penelitian
adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang sudah diolah secara statistik.
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari situs Dirjen
Perimbangan Keuangan Pemerintah Daerah melalui alamat situs jaringan
www.djpk.depkeu.go.id dan Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera
Utara yang beralamat di Jalan Asrama No. 179 Medan.
4.5. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
4.5.1. Definisi Operasional
Variabel bebas (independent variable) yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Belanja Modal dan Fiscal Stress, dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi
Hasil Bukan Pajak sebagai Variabel moderating, sedangkan Variabel terikat
(dependent variable) yang merupakan perhatian utama adalah Pendapatan Asli
Daerah (PAD). Untuk menjelaskan variabel-variabel yang sudah diidentifikasi yakni
sebagai berikut:
1. Belanja Modal (Variabel Independen/ X1) adalah pengeluaran APBD pemerintah
daerah yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran yang menambah aset atau
kekayaan daerah. Variabel ini menggunakan skala rasio.
2. Fiscal Stress (Variabel Independen/ X2) adalah tekanan fiskal yang dialami
daerah otonom sejak diberlakukannya otonomi daerah. Upaya yang dilakukan
pemerintah adalah memaksimalkan potensi daerah, dalam artian akan
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah misalnya dari pajak dan retribusi daerah.
Variabel ini menggunakan skala rasio.
3. Dana Bagi Hasil Pajak (Variabel Moderating/ Z1) merupakan dana yang
bersumber dari penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah yang terdiri
dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan, dan Pajak Penghasilan pasal 21. Variabel ini menggunakan skala
4. Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Variabel Moderating/ Z2) merupakan dana yang
bersumber dari penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah yang terdiri
dari Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), pemberian hak atas tanah negara,
landrent, dan penerimaan dari iuran eksplorasi.
5. PAD (Variabel Dependen/ Y) merupakan Total realisasi penerimaan daerah yang
bersumber dari hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan dan lain-lain penerimaan PAD yang sah. Variabel ini
menggunakan skala rasio.
4.5.2. Pengukuran Variabel
Untuk mengukur variabel-variabel yang sudah diidentifikasi digunakan
Tabel 4.2. Operasionalisasi Variabel
Variabel
Penelitian Indikator
Definisi Operasional Pengukuran Variabel Skala Pengukuran
PAD merupakan Seluruh pendapatan yang bersumber dari masing-masing daerah berupa pajak, retribusi, hasil perusahaan milik daerah, dan lain-lain PAD yang sah yang diagregatkan dalam Pos Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada LRA.
Pajak Daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal dari pajak. Retribusi Daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal dari retribusi daerah.
Hasil perusahaan milik daerah merupakan penerimaan daerah yang berasal dari hasil perusahaan milik daerah dan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.
Lain-lain PAD yang sah merupakan penerimaan daerah yang berasal dari lain-lain milik pemerintah daerah.
PAD=PAD(LRA)/PAD(APBD) Rasio
Belanja
Belanja Modal merupakan Pengeluaran yang dilakukan dalam rangka
pembelian/ pengadaan atau
pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan oleh pemerintahan kabupaten/kota.
Belanja Modal Tanah merupakan Pengeluaran/ biaya atas perolehan hak atas tanah.
Belanja Modal Peralatan dan Mesin merupakan pengeluaran/ biaya atas peralatan dan mesin serta inventaris kantor yang memberikan manfaat lebih dari 12 bulan.
Belanja Modal Gedung dan Bangunan merupakan pengeluaran/ biaya atas gedung dan bangunan.
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan merupakan pengeluaran/ biaya atas jalan, irigasi dan jaringan.
Belanja Modal Fisik Lainnya merupakan pengeluaran/ biaya yang tidak dapat dikategorikan dalam kriteria belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, serta jalan, irigasi dan jaringan.
Fiscal Stress
Fiscal Stress merupakan Tekanan keuangan yang dialami oleh daerah akibat pemberlakuan otonomi daerah yang diindikasikan dalam Pos Pajak Daerah dan Pos Retribusi Daerah pada LRA.
Pajak Daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal dari pajak.
Retribusi Daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal dari retribusi daerah.
FS=Pajak(LRA)/Pajak(APBD) Rasio
Dana Bagi
Dana Bagi Hasil Pajak merupakan Dana dari pusat yang
dialokasikan kepada pemerintah kabupaten/kota tertentu dan digunakan untuk mendanai kebutuhan daerah yang terdiri dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, dan Pajak Penghasilan pasal 21 yang
diindikasikan dalam pos Bagi Hasil Pajak.
Dana Bagi Hasil Bukan Pajak merupakan Dana dari pusat yang dialokasikan kepada pemerintah kabupaten/kota tertentu dan digunakan untuk mendanai kebutuhan daerah yang terdiri dari Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), pemberian hak atas tanah negara, landrent, penerimaan dari iuran eksplorasi yang diindikasikan dalam pos Bagi Hasil Bukan Pajak.
DBHBP=DBHBP(LRA)/DBHB P(APBD)
Rasio
4.6. Metode Analisa Data
Data dianalisis dengan menggunakan metode analisa data dengan model
persamaan regresi linier berganda, yang merupakan metode statistik deskriptif dan
infrensial yang digunakan untuk menganalisa data lebih dari dua variabel penelitian.
4.6.1. Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi
maka diperlukan pengujian asumsi klasik meliputi:
1. Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui distribusi data dalam variabel yang
digunakan dalam penelitian. Data yang baik dan layak digunakan dalam
penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal (Nugroho, 2005: 18).
Untuk menguji apakah distribusi normal atau tidak dapat dilihat melalui normal
probability plot dengan membandingkan distribusi kumulatif dan distribusi
normal. Data normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data
akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data adalah normal,
maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis
diagonalnya (Ghozali, 2005: 110).
2. Uji Multikolinieritas, diperlukan untuk mengetahui apakah ada tidaknya variabel
independen yang memiliki kemiripan dengan variabel independen lain dalam
satu model (Nugroho, 2005: 58). Selain itu deteksi terhadap multikoliniearitas
juga bertujuan untuk menghindari bias dalam proses pengambilan keputusan
mengenai pengaruh pada uji parsial masing-masing variabel independen
terhadap variabel dependen. Deteksi multikolinieritas pada suatu model dapat
dilihat jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 10 dan nilai
Tolerance tidak kurang dari 0,1, maka model tersebut dapat dikatakan terbebas
dari multikolinieritas. VIF = 1/Tolerance, jika VIF = 10 maka Tolerance = 1/10
3. Uji Heteroskedastisitas, bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi perbedaan variance residual suatu periode pengamatan ke periode
pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah model regresi yang
memiliki kesamaan variance residual suatu periode pengamatan dengan
pengamatan yang lain, atau homokesdastisitas. Cara memprediksi ada tidaknya
heteroskedastisitas pada suatu model dapat dilihat dari pola gambar scatter plot
model tersebut dan melakukan uji Glesjer (Nugroho, 2005).
4. Uji Autokorelasi, dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi
linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dan dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka
dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi
yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Pengujian asumsi
ini, dilakukan dengan menggunakan uji Durbin Watson (Durbin-Watson Test),
yaitu untuk menguji apakah terjadi korelasi serial atau tidak dengan menghitung
nilai d statistik. Salah satu pengujian yang digunakan untuk mengetahui adanya
autokorelasi adalah dengan memakai uji statistik Durbin.Watson (DW test). Jika
nilai Durbin Watson berada diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi
(Nugroho, 2005).
4.6.2. Model Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan model analisis regresi
berganda (Multiple Regression Analysis). Regresi ini bertujuan untuk menguji
variabel dependen dan lebih dari satu variabel independen disebut regresi berganda.
Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikansi 0,05 atau 5%. Untuk menguji
apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak, maka dilakukan pengujian
terhadap variabel-variabel penelitian dengan cara menguji secara simultan melalui uji
signifikansi simultan (Uji statistik F), yang bermaksud untuk dapat menjelaskan
pengaruh variabel independen dan variabel moderating terhadap variabel dependen.
Sedangkan untuk menguji masing-masing variabel secara parsial, dilakukan dengan
uji signifikansi parameter individual (uji t statistik) yang bertujuan untuk mengetahui
apakah variabel independen maupun moderating berpengaruh atau tidak terhadap
variabel dependen, serta variabel mana yang dominan mempengaruhi variabel
dependen.
Untuk pengujian hipotesis pertama akan dipergunakan analisis regresi
berganda, tujuannya adalah untuk melihat pengaruh antara variabel independen
dengan variabel dependen, dengan rumusan sebagai berikut:
Y = a + b1.X1 + b2.X2 + e
Dimana:
Y = Pendapatan Asli Daerah (PAD)
a = Konstanta
X1 = Belanja Modal
X2 = Fiscal Stress
b1-b2 = Koefisien regresi
Selanjutnya pengujian hipotesis yang kedua akan dilakukan secara
bersama-sama, yaitu semua variabel independen dan variabel moderating. Dalam penelitian ini
pengujian regresi dengan variabel moderating dilakukan dengan metode Uji Interaksi,
adapun rumus persamaan regresinya yaitu:
Y = a+b1.X1+b2.X2+b3.Z1+b4.Z2+b5.X1.Z1+b6.X2.Z1+b7.X1.Z2+ b8.X2.Z2+ e
Dimana:
Y = Pendapatan Asli Daerah (PAD)
a = Konstanta
X1 = Belanja Modal
X2 = Fiscal Stress
Z1 = Dana Bagi Hasil Pajak
Z2 = Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
b1-b8 = Koefisien regresi
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara
Sumatera Utara adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatera,
Indonesia dan beribukota di Medan. Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1° - 4°
Lintang Utara dan 98° - 100° Bujur Timur. Luas daratan Provinsi Sumatera Utara
adalah 71.680 km persegi. Pada tahun 2011 wilayah Provinsi Sumatera Utara terbagi
atas 25 Kabupaten dan 8 Kota yang mencakup 325 Kecamatan dan 5.456
Desa/kelurahan.
Provinsi Sumatera Utara memiliki berbagai suku bangsa yakni suku Batak
(41,95%), Jawa (32,62%), Nias (6,36%), Melayu (4,92%), Tionghoa (3,07%),
Minangkabau (2,66%), Banjar (0,97%), Lain-lain (7,45%). Penduduk provinsi ini
sebagian besar beragama Islam (65,5 persen), dan selebihnya beragama Kristen (31,4
persen), Buddha (2,8%), Hindu (0,2 persen), serta lainnya (0,1 persen). Sumatera
Utara merupakan provinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia
setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan
lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990 penduduk Sumatera Utara berjumlah 10,81 juta
jiwa, dan pada tahun 2010 jumlah penduduk Sumatera Utara telah meningkat menjadi
12,98 juta jiwa. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 1990 adalah 143
5.2. Hasil Penelitian
5.2.1. Deskriptif Sampel Penelitian
Data kuantitatif yang dipergunakan pada penelitian ini adalah Laporan
Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara
(Laporan Realisasi APBD) yaitu Laporan Realisasi Anggaran tahun 2008 s/d tahun
2010 dan Data Sumatera Utara Dalam Angka, untuk 3 tahun pengamatan.
Dari laporan tahunan tersebut yang menjadi objek penelitian adalah realisasi
Dana Bagi Hasil Pajak dan Sumber Daya Alam, realisasi Fiscal Stress, realisasi
Belanja Daerah, dan realisasi Pendapatan Asli Daerah. Data diperolah dari
perpustakaan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara dan dari Departemen
Keuangan Republik Indonesia, di akses melalui situs Direktorat Jenderal
Perimbangan Keuangan (http://www.djpk.depkeu.go.id).
Populasi pada penelitian ini berjumlah 33 daerah, yang terdiri dari 25
kabupaten dan 8 kota di Provinsi Sumatera Utara. Diantara 33 daerah kabupaten/kota
tersebut yang memenuhi kriteria kelengkapan data menjadi anggota sampel sesuai
kriteria purposive sampling adalah sebanyak 24 daerah kabupaten/kota yang terdiri
dari 18 kabupaten dan 6 kota di Provinsi Sumatera Utara, yang memiliki laporan
keuangan lengkap dalam tahun amatan penelitian.
5.2.2. Deskriptif Statistik Data Penelitian
Berdasarkan data cross section sebanyak 24 daerah kabupaten/kota dengan
time series sebanyak 3 tahun pengamatan, maka diperoleh sampel sebanyak 72 unit
Tabel 5.1. Deskriptif Statistik
Variabel N Minimum Maksimum Mean
Standard Deviation
Pendapatan Asli
Daerah 72 3.043.410.357 588.941.453.692 40.153.857.769 90.664.056.510
Belanja Modal 72 27.867.289.442 423.443.461.446 130.334.189.135 74.671.817.068 Fiscal Stress 72 1.447.348.373 520.281.720.011 30.236.559.372 81.436.859.899 Dana Bagi Hasil
Pajak 72 10.340.967.396 373.488.966.780 50.988.383.193 65.537.290.873
Dana Bagi Hasil
Bukan Pajak 72 254.915.092 10.151.758.356 1.519.404.177 1.787.208.033
5.2.2.1. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Dari 72 sampel yang disertakan pada penelitian ini, diperoleh rata-rata
penerimaan Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp 40.153.857.769,- , standar deviasi
(sebaran data) sebesar Rp 90.664.056.510,- . Realisasi penerimaan Pendapatan Asli
Daerah yang terendah sebesar Rp 3.043.410.357,- diperoleh Kabupaten Batu Bara
pada tahun 2008 dan realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah yang tertinggi
sebesar Rp 588.941.453.692,- diperoleh Kota Medan pada tahun 2010.
5.2.2.2. Realisasi Belanja Modal
Dari 72 sampel yang disertakan pada penelitian ini, diperoleh rata-rata
pengeluaran Belanja Modal sebesar Rp 130.334.189.135,- , standar deviasi (sebaran
data) sebesar Rp 74.671.817.068,- . Realisasi pengeluaran Belanja Modal yang
terendah sebesar Rp 27.867.289.442,- diperoleh Kota Padang Sidempuan pada tahun
2010 dan realisasi pengeluaran Belanja Modal yang tertinggi sebesar Rp