• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.10 Kerangka Teori Dan Konsep

2.10.2 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen Pengetahuan, Sikap, dan

Perilaku ibu mengenai Pemberian Imunisasi Dasar Masa Pandemi COVID-19

Gambar 2.3 Kerangka konsep

26 BAB III

METODE PENILITIAN

3.1 RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional untuk menggambarkan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu mengenai pemberian imunisasi dasar pada masa Pandemi COVID-19 di Kecamatan Tambusai Utara.

3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu pada bulan Maret 2021 hingga November 2021. Pengambilan data menggunakan kuesioner online (google-form) dengan menyebarkan melalui media sosial.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL 3.3.1 POPULASI

Populasi dari penelitian ini adalah wanita yang sudah menikah dan memiliki anak di Kecamatan Tambusai Utara. Total populasi pada penelitian ini adalah 3.248 orang.

3.3.2 SAMPEL

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode non-probability dengan jenis consecutive sampling. Pada penelitian ini untuk menghitung jumlah sampel yang akan diambil menggunakan rumus Slovin berikut ini:

𝑛 = 𝑁

1 + 𝑁𝑒2 Keterangan :

n = Besar sampel

N = Jumlah populasi

e = Batas toleransi kesalahan (Margin of error) Maka besar sampel pada penelitian ini adalah :

𝑛 = 3.248

1 + 3.248(0,1)2 = 97,01

Berdasarkan hasil perhitungan di atas menunjukan jumlah sampel minimal yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebanyak (dibulatkan menjadi 97 orang).

3.4 KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI 3.4.1 Kriteria Inklusi

 Wanita yang sudah menikah dan memiliki anak berusia < 4 tahun

 Bersedia menjadi responden penelitian 3.4.2 Kriteria Eksklusi

 Responden yang tidak mengisi kuesioner dengan lengkap

3.5 METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data primer dengan cara membagikan kuesioner kepada wanita yang sudah menikah dan memiliki anak di Kecamatan Tambusai Utara. Kuesioner digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu mengenai pemberian imunisasi dasar pada masa pandemi COVID-19.

3.6 METODE PENGOLAHAN DATA

Pengolahan data adalah salah satu langkah penting dalam penelitian.

Kuesioner yang telah diisi terlebih dahulu dikumpulkan dan diperiksa kelengkapannya, kemudian dimasukkan dan diolah dengan sistem komputerisasi menggunakan program pengolahan data melalui beberapa tahap sebagai berikut :

1. Editing

Tahapan ini digunakan untuk memeriksa kelengkapan data.

2. Coding

Data yang telah terkumpul sudah diperiksa ketepatan dan kelengkapannya. Kemudian peneliti akan memberi kode manual sebelum diolah ke dalam komputer.

3. Entring

Data yang telah diperiksa selanjutnya akan dimasukkan ke dalam program pengolahan data.

4. Cleaning

Pemeriksaan kembali semua data yang telah dimasukkan ke dalam program pengolahan data untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam memasukan data.

5. Saving

Penyimpanan data untuk dianalisis (Notoatmodjo, 2018).

3.7 METODE ANALISIS DATA

Data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner melalui googleform, lalu akan dilakukan pengolahan data lebih lanjut dengan menggunakkan program Statistic Package for Social Sciences (SPSS).

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : 1. Analisis univariat

Analisis univariat digunakan untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi setiap variabel penelitian. Pada penelitian ini variabel independen adalah masa pandemi COVID-19, dan variabel dependen adalah pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu mengenai pemberian imunisasi dasar.

2. Analisis bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk melihat perbedaa antara variabel dependen dengan variabel independen. Pengolahan dilakukan secara komputerisasi dengan

uji Mann Whitney, untuk melihat perbandingan pemberian imunisasi dasar sebelum pandemi dan masa pandemi.

3.8 DEFINISI OPERASIONAL

Tabel 3. 1 Definisi operasional

No. Variabel Definisi

Kuesioner Jumlah anak Nominal

2. Pandemi

4. Sikap Reaksi atau

Kuesioner Skala Likert Pernyataan

3.9 ALUR PENELITIAN

NB - Dengan melampirkan bukti fotokopi Kartu Keluarga Wanita yang memiliki anak < 4 tahun

di Kecamatan Tambusai Utara

Sampel Penelitian

Pengumpulan Data

Pengolahan Data

Analisis Hasil Data Penyebaran Kuesioner

Kriteria Eksklusi

Responden yang tidak mengisi kuesioner dengan lengkap.

Kriteria Inklusi

 Wanita yang sudah menikah dan memiliki anak berusia < 4 tahun.

 Bersedia menjadi responden penelitian

Gambar 3. 1 Alur penelitian

32 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sampel penelitian ini adalah wanita yang sudah menikah dan memiliki anak usia <4 tahun di Kecamatan Tambusai Utara. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji validasi dan reliabilitasnya menggunakan program SPSS 25 for windows. Data yang dikumpulkan dengan cara membagikan kuesioner secara online melalui google form. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 97 orang responden.

4.1 HASIL

4.1.1 KARAKTERISTIK RESPONDEN

Karakteristik responden meliputi usia ibu, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, dan usia anak. Distribusi frekuensi pada responden berdasarkan karakteristik dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4. 1 Karakteristik responden

Variabel Frekuensi Persentase (%) Usia

Usia Anak adalah kelompok usia <23 tahun sebanyak 8 orang (8,2%).

Berdasarkan tingkat pendidikan responden paling banyak dari tamatan SMP sebanyak 32 orang (33,0%). Sebanyak 28 orang (28,9%) dari tamatan perguruan tinggi. Tamatan dari SMA sebanyak 27 orang (27,8%), dan paling sedikit dari tamatan SD sebanyak 10 orang (10,3%).

Berdasarkan tingkat pekerjaan diketahui bahwa sebagian besar dari total responden tidak memiliki pekerjaan (ibu rumah tangga) sebanyak 90 orang (92,8%), sebanyak 4 orang (4,1%) memiliki pekerjaan sebagai guru. Sebanyak 3 orang (3,1%) memiliki pekerjaan sebagai karyawan.

Karakteristik responden berdasarkan usia anak, mayoritas kelompok responden memiliki anak usia 18-39 bulan sebanyak 58 orang (59,8%), responden yang memiliki anak usia >39 bulan sebanyak 22 orang (22,7%), dan yang paling sedikit anak usia <18 bulan sebanyak 17 orang (17,5%).

Berdasarkan karakteristik responden berdasarkan jumlah anak didapatkan responden dengan 1 anak sebanyak 38 orang (39,2%), lalu responden yang memiliki 2 anak sebanyak 28 orang (28,9%), responden dengan 3 anak sebanyak

25 orang (25,8%), dengan 4 anak sebanyak 5 orang (5,2%), dan responden dengan anak 5 hanya 1 orang (1,0%).

4.1.2 PENGETAHUAN RESPONDEN

Tingkat pengetahuan seseorang dapat diketahui dan di interprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif (Arikunto, 2013).

a. Baik, bila dapat menjawab benar 76%-100% dari seluruh pertanyaan.

b. Cukup, bila dapat menjawab benar 56%-75% dari seleuruh pertanyaan.

c. Kurang, bila dapat menjawab benar <56% dari seluruh pertanyaan.

Tabel 4. 2 Kategori pengetahuan responden terhadap imunisasi dasar

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

Baik 68 70,1

Cukup 24 24,7

Kurang 5 5,2

Total 97 100,0

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 68 orang (70,1%) kemudian diikuti dengan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 24 orang (24,7%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 5 orang (5,2%).

4.1.3 SIKAP RESPONDEN

Variabel sikap dari responden dapat dikatergorikan menjadi 3 yaitu baik, cukup, dan kurang. Sikap responden dilihat dari beberapa pertanyaan mengenai imunisasi dasar yang terdiri dari 11 pertanyaan. Adapun kategori sikap responden terhadap pemberian imunisasi dasar sebagai berikut :

Tabel 4. 3 Kategori sikap responden terhadap pemberian imunisasi dasar

Tingkat Sikap Frekuensi Persentase (%)

Baik 53 54,6

Cukup 44 45,4

Kurang 0 0

Total 97 100,0

Berdasarkan tabel 4.3 diatas, hasil jawaban dari responden mengenai pemberian imunisasi dasar yang memiliki sikap baik sebanyak 53 orang (54,6%), sedangkan yang memiliki sikap cukup sebanyak 44 orang (45,4%), dan tidak ada responden yang memiliki sikap kurang.

4.1.4 PERILAKU RESPONDEN

Variabel perilaku responden dapat dikelompokan menjadi 3, yaitu baik, cukup, dan kurang. Perilaku responden dapat dilihat dari bebarapa pertanyaan yang diberikan mengenai pemberian imunisasi dasar yang terdiri dari 9 pertanyaan.

Kategori perilaku responden terhadap pemberian imunisasi dasar dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4. 4 Kategori perilaku responden terhadap pemberian imunisasi dasar

Tingkat Perilaku Frekuensi Persentase (%)

Baik 86 88,7

Cukup 7 7,2

Kurang 4 4,1

Total 97 100.0

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan bahwa mayoritas responden memiliki perilaku yang baik mengenai pemberian imunisasi dasar sebanyak 86 orang

(88,7%), sedangkan untuk perilaku yang cukup terdapat 7 orang (7,2%), dan paling sedikit untuk perilaku kurang ada 4 orang (4,1%).

Tabel 4. 5 Distribusi frekuensi Imunisasi sebelum pandemi dan masa pandemi COVID-19 di Kecamatan Tambusai Utara tahun 2019-2020

Imunisasi

Sebelum Pandemi

Masa Pandemi

Perubahan persentase

Hb0 1641 1874 14,20%

BCG 1679 1858 10,66%

Polio 1 1609 1882 16,97%

DPT/HB/Hib 1 1688 1956 15,88%

Polio 2 1679 1963 16,91%

DPT/HB/Hib 2 1696 1966 15,92%

Polio 3 1687 1967 16,60%

DPT/HB/Hib 3 1701 1968 15,70%

Polio 4 1676 1958 16,83%

Campak 1729 2007 16,08%

Total 16785 19399 15,57%

Berdasarkan tabel 4.5 diperoleh data imunisasi dari Januari 2019 sampai dengan Desember 2019 (sebelum pandemi) dan masa pandemi Januari 2020 hingga Desember 2020. Diketahui mengenai pemberian imunisasi dasar yang paling mengalami peningkatan yaitu imunisasi polio 1 sebanyak 16,97%. Secara keseluruhan dari jenis imunisasi mengalami perubahan sebanyak 15,57%.

Tabel 4. 6 Perbandingan imunisasi sebelum pandemi dan masa pandemi COVID-19 di Kecamatan Tambusai Utara

Imunisasi Sebelum pandemi Masa pandemi Persen p-value

Total 16785 19399 15,57% 0,000

4.1.5 TINGKAT PENGETAHUAN IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR BERDASARKAN PENDIDIKAN

Tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian imunisasi dasar berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4. 7 Distribusi tingkat pengetahuan responden berdasarkan pendidikan

Pendidikan Tingkat Pengetahuan Total

Baik Cukup Kurang

N % N % N % N %

SD 4 4,1 5 5,2 1 1,0 10 10,3

SMP 23 23,7 8 8,2 1 1,0 32 33,0

SMA 21 21,6 5 5,2 1 1,0 27 27,8

Perguruan Tinggi 20 20,6 6 6,2 2 2,1 28 28,9

Total 68 70,1 24 24,7 5 5,2 97 100,0

Pada tabel 4.7 diatas diketahui bahwa responden dengan tamatan SD memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 4 orang (4,1%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 5 orang (5,2%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 orang (1,0%). Subjek dengan pendidikan terakhir SMP memiliki pengetahuan baik sebanyak 23 orang (23,7%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 8 orang (8,2%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 orang (1,0%). Responden dengan pendidikan terakhir SMA memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 21 orang (21,6%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 5 orang (5,2%), dan tingkat

pengetahuan kurang sebanyak 1 orang (1,0%). Responden tamatan Perguruan Tinggi memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 20 orang (20,6%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 6 orang (6,2%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 2 orang (2,1%).

4.1.6 TINGKAT PENGETAHUAN IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR BERDASARKAN PEKERJAAN

Tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian imunisasi dasar berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4. 8 Distribusi tingkat pengetahuan responden berdasarkan pekerjaan

Pekerjaan Tingkat Pengetahuan Total

Baik Cukup Kurang

N % N % N % N %

Ibu Rumah Tangga 64 66,0 22 22,7 4 4,1 90 92,8

Guru 2 2,1 1 1,0 1 1,0 4 4,1

Karyawan 2 2,1 1 1,0 0 0 3 3

Total 68 70,1 24 24,7 5 5,2 97 100,0

Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa mayoritas responden yang tidak bekerja (ibu rumah tangga) memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 64 orang (66,0%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 22 orang (22,7%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 4 orang (4,1%). Responden dengan pekerjaan guru memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 2 orang (2,1%), tigkat pengetahuan cukup sebanyak 1 orang (1,0%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 orang (1,0%). Responden dengan pekerjaan karyawan memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 2 orang (2,1%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 1 orang (1,0%), dan tidak ada responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang.

4.1.7 TINGKAT SIKAP IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR BERDASARKAN PENDIDIKAN

Tingkat sikap ibu terhadap pemberian imunisasi dasar berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4. 9 Distribusi tingkat sikap responden berdasarkan pendidikan

Pendidikan Tingkat Sikap Total

Baik Cukup Kurang

N % N % N % N %

SD 8 8,2 2 2,1 0 0 10 10,3

SMP 16 16,5 16 16,5 0 0 32 33,0

SMA 17 17,5 10 10,3 0 0 27 27,8

Perguruan Tinggi 12 12,4 16 16,5 0 0 28 28,9

Total 53 54,6 44 45,4 0 0 97 100,0

Pada tabel 4.9 diatas diketahui bahwa responden dengan tamatan SD memiliki tingkat sikap baik sebanyak 8 orang (8,2%), sikap cukup sebanyak 2 orang (2,1%), dan tidak ada responden yang memiliki sikap kurang. Subjek dengan pendidikan terakhir SMP memiliki sikap baik sebanyak 16 orang (16,5%), sikap cukup sebanyak 16 orang (16,5%), dan tidak ada responden yang memiliki sikap kurang. Responden dengan pendidikan terakhir SMA memiliki tingkat sikap baik sebanyak 17 orang (17,5%), sikap cukup sebanyak 10 orang (10,3%), dan tidak ada responden yang memiliki sikap kurang. Responden tamatan Perguruan Tinggi memiliki tingkat sikap cukup sebanyak 16 orang (16,5%), sikap baik sebanyak 12 orang (12,4%), dan dan tidak ada responden yang memiliki sikap kurang.

4.1.8 TINGKAT PERILAKU IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR BERDASARKAN PENDIDIKAN

Perilaku ibu terhadap pemberian imunisasi dasar berdasarkan pendidikan dapat diketahui pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4. 10 Distribusi perilaku responden berdasarkan pendidikan

Pendidikan Tingkat Perilaku Total

Baik Cukup Kurang

N % N % N % N %

SD 8 8,2 2 2,1 0 0 10 10,3

SMP 28 28,9 2 2,1 2 2,1 32 33,0

SMA 26 26,8 1 1,0 0 0 27 27,8

Perguruan Tinggi 24 24,7 2 2,1 2 2,1 28 28,9

Total 86 88,7 7 7,2 4 4,1 97 100,0

Pada tabel 4.9 diatas diketahui bahwa responden dengan pendidikan terakhir SD memiliki tingkat perilaku baik sebanyak 8 orang (8,2%), perilaku cukup sebanyak 2 orang (2,1%), dan tidak ada responden yang memiliki perilaku kurang.

Subjek dengan pendidikan terakhir SMP memiliki perilaku baik sebanyak 28 orang (28,9%),perilaku cukup sebanyak 2 orang (2,1%), dan yang memiliki perilaku kurang sebanyak 2 orang (2,1%). Responden dengan tingkat pendidikan terakhir SMA memiliki tingkat perilaku baik sebanyak 26 orang (26,8%), perilaku cukup sebanyak 1 orang (1,0%), dan tidak ada responden yang memiliki perilaku kurang. Responden dengan pendidikan terakhir Perguruan Tinggi memiliki perilaku baik sebanyak 24 orang (24,7%), perilaku cukup sebanyak 2 orang (2,1%), dan sebanyak 2 orang (2,1%) memiliki perilaku kurang.

4.2 PEMBAHASAN

4.2.1 PENGETAHUAN IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR

Dari hasil penelitian ini diketahui mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik terhadap pemberian imunisasi dasar sebanyak 68 orang (70,1%) kemudian diikuti dengan tingkat pengetahuan cukup sebanyak 24 orang (24,7%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 5 orang (5,2%).

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa tingkat pengetahuan ibu mengenai pemberian imunisasi dasar memiliki pengetahuan baik lebih banyak dibandingkan dengan pengetahuan cukup dan kurang. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Dillyana & Nurmala (2019) menyatakan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang imunisasi dasar sebanyak 48,7%, sebagaimana sejalan dengan penelitian yang dilakukan Puspita (2018) pada hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa semakin rendah pengetahuan ibu, maka semakin banyak berkontribusi terhadap ketidaklengkapan imunisasi. Buruknya pengetahuan tentang imunisasi juga berkaitan dengan peran ibu dalam melengkapi imunisasi dasar pada bayinya. Pada penelitian Kartini dkk, (2020) juga didapatkan mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 57,5%.

Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan Sarri & PH (2018) yang didapatkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan sedang sebanyak 53,3%. Pada penelitian Chusun & Suni (2020) menyatakan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup sebanyak 62,3%, hal ini menunjukan bahwa mayoritas responden belum menyadari pentingnya pengetahuan tentang imunisasi rutin pada balita, sehingaa responden hanya menyerahkan anaknya pada tenaga kesehatan dan tidak ingin mengetahui ataupun memahami pengetahuan imunisasi rutin pada balita. Penelitian yang dilakukan Rahmadhani & Amalia (2021) juga menyatakan bahwa sebagian besar responden pada penelitiannya memiliki pengetahuan kurang tentang kelengkapan imunisasi dasar yaitu sebanyak 56,2%.

4.2.2 SIKAP IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR

Pada hasil penelitian didapatkan jawaban dari responden mengenai pemberian imunisasi dasar yang memiliki sikap baik sebanyak 53 orang (54,6%), sedangkan yang memiliki sikap cukup sebanyak 44 orang (45,4%), dan tidak ada responden yang memiliki sikap kurang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Dillyana & Nurmala (2019) didapatkan mayoritas responden memiliki sikap positif tentang imunisasi dasar sebanyak 74,3%. Penelitian yang dilakukan Siregar (2021) menyatakan sikap

responden mengenai pemberian imunisasi dasar memiliki sikap baik sebanyak 51,9%, dan pada penelitian Sarri & PH (2018) juga menyatakan bahwa kebanyakan responden memiliki sikap baik yaitu sebanyak 50,6%. Kartini dkk, (2020) menyebutkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap positif sebanyak 42,5% dan menyatakan peran orang tua dan tenaga kesehatan sangat berperan penting dimasa pandemi COVID-19 dalam bekerjasama untuk menghasilkan perubahan yang baik untuk kesehatan masyarakat indonesia.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Yuda & Nurmala (2018) yang menyatakan mayoritas responden memiliki sikap cukup sebanyak 55,1%, hal ini menunjukan bahwa sikap ibu mengenai pemberian imunisasi dasar berpengaruh pada kepatuhan ibu untuk mengimunisasikan anaknya. Ibu yang memiliki sikap yang baik maka akan mengikuti program imunisasi dengan teratur.

Sikap masyarakat yang cukup tentang pemberian imunisasi perlu diperbaiki agar generasi selanjutnya dapat terhindar dari penyakit tertentu (Triana, 2016).

4.2.3 PERILAKU IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR Dari hasil penelitan diperoleh bahwa mayoritas responden memiliki perilaku yang baik mengenai pemberian imunisasi dasar sebanyak 86 orang (88,7%), sedangkan untuk perilaku yang cukup terdapat 7 orang (7,2%), dan paling sedikit untuk perilaku kurang ada 4 orang (4,1%).

Penelitian ini sejalan dengan Farasari (2021) yang menyatakan bahwa mayoritas responden memiliki perilaku yang baik sebanyak 59%. Penelitian yang dilakukan Maidartati & Yuniarti (2020) juga menyatakan secara keseluruhan dari responden didapatkan 59,5% mempunyai perilaku positif dalam pemberian imunisasi dasar. Namun pada penelitian Kartini dkk, (2020) didapatkan sebagian besar responden memiliki pengendalian perilaku positif sebanyak 53,4%. Perilaku aktif yaitu perilaku yang terlihat sedangkan perilaku pasif yaitu perilaku yang tidak terlihat contohnya motivasi, pengetahuan, atau persepsi (Sarwono, 2018).

Namun hasil penelitian ini kurang sesuai dengan hasil penelitian Gondowardojo & Wirakusama (2015) yang menyatakan bahwa mayoritas ibu memiliki perilaku buruk terhadap imunisasi dasar sebanyak 51,1%. Pada

penelitian Anton (2014) didapatkan sebagian besar responden memiliki perilaku buruk sebanyak 53,1%.

4.2.4 PERBANDINGAN IMUNISASI SEBELUM PANDEMI DAN MASA PANDEMI COVID-19 DI KECAMATAN TAMBUSAI UTARA

Pada tabel 4.6 diperoleh nilai p-value 0,000. Hal ini menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikasi dikarnakan adanya perbedaan jumlah anak yang di imunisasi pada masa pandemi lebih banyak dibandingkan dengan sebelum pandemi. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa imunisasi dasar tidak mengalami penurunan.

Imunisasi harus tetap di prioritaskan dalam pencegahan dan untuk melindungi dari PD3I selama pandemi COVID-19. WHO tidak merekomendasikan untuk melakukan penundaan vaksinasi masal, untuk menghindari penyebaran COVID-19. Risk-benefit terhadap transmisi COVID-19 tetap harus dipertimbangkan dengan seksama jika perlu dilakukan outbreak respons immunization (WHO, 2020). Beberapa strategi dilakukan untuk terlaksananya imunisasi dasar dengan aman dan mencegah penyebaran COVID-19, diantaranya dengan mengatur jadwal kedatangan agar tidak berkumpul terlalu lama. Jika wilayah dengan kasus COVID-19 tinggi, diusahakan ada petugas yang menanyakan apakah ada kontak dengan anggota keluarga atau tetangga yang sedang dirawat di Rumah Sakit karena menderita COVID-19, Jika ada riwayat kontak dilayani seusai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh Kemenkes, diusahakan ada petugas yang mengatur untuk memisahkan anak yang sakit dan anak sehat yang akan diimunisasi ke ruang tunggu dan ruang layanan yang berbeda, menyediakan juga hand sanitizer atau bak cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menyediakan ventilasi yang baik, mengatur jarak kursi ruang tunggu 1-2 meter antar penunggu, menjauhi orang yang sedang batuk pilek. IDAI juga menyarankan agar dokter dan petugas kesehatan yang berusia lebih dari 65 tahun dianjurkan tidak berhadapan dengan pasien, tetapi aktif membantu menyebarluaskan hal-hal yang berhubungan dengan pencegahan pandemi COVID-19 dan hubungannya dengan program imunisasi melalui media sosial atau media lain (IDAI, 2020).

Penelitian yang dilakukan Irawati (2020) menunjukan hasil yang berbeda yang menyatakan bahwa pandemi COVID-19 memberikan dampak penurunan cakupan imunisasi dasar lengkap pada anak-anak sehingga pelaksanaan imunisasi dasar seharusnya tetap dilakukan pada masa pandemi dengan memperhatikan berbagai kondisi agar tidak dapat menimbulkan penyakit infeksi lainnya diluar COVID-19 dan menjadi beban tambahan pada sistem kesehatan.

4.2.5 TINGKAT PENGETAHUAN IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR BERDASARKAN PENDIDIKAN

Berdasarkan pada tabel 4.7 diperoleh mayoritas tamatan SMP memiliki pengetahuan baik sebanyak 23 orang (23,7%), tamatan SMA memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 21 orang (21,6%), tamatan Perguruan Tinggi memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 20 orang (20,6%), dan tamatan SD memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 5 orang (5,2%).

Pengetahuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor pendidikan. Pernyataan ini dukung oleh Wawan dan Dewi (2016) yang menyatakan bahwa, pendidikan responden berpengaruh pada tingkat pengetahuan tentang kesehatan khususnya tentang pemberian imunisasi dasar kepada balita.

Ketika menempuh pendidikan akan terjadi hubungan baik secara sosial atau interpersonal yang berpengaruh terhadap wawasan seseorang. Pada tingkat pendidikan yang rendah interaksi tersebut berkurang, informasi yang akan didapatkan juga berkurang. Sehingga semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin mudah menerima informasi dan semakin banyak pengetahuan.

Terdapat beberapa ibu dengan pengetahuan yang kurang, dikarnakan masih sedikit informasi yang didapatkan ibu-ibu tentang pemberian imunisasi dasar.

Pengetahuan menyebabkan orang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya, jika seseorang memiliki pengetahuan baik tentang imunisasai dasar maka ia akan melengkapi imunisasi bayinya sesuai dengan jadwal pemberian. Demikian dikatakan jika semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar, maka semakin besar potensi ibu untuk datang mengimunisasikan bayinya.

4.2.6 TINGKAT PENGETAHUAN IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR BERDASARKAN PEKERJAAN

Berdasarkan pada tabel 4.8 diperoleh mayoritas responden yang tidak bekerja (Ibu rumah tangga) memiliki pengetahuan baik sebanyak 64 orang (66,0%), responden dengan pekerjaan sebagai Guru memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 2 orang (2,1%), dan pekerjaan sebagai Karyawan memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 2 orang (2,1%).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Normalisa (2015) menyatkan bahwa pekerjaan ibu yang tertinggi sebanyak 61 orang (63,5%) adalah ibu yang tidak bekerja, yang mana pengetahuan baik pada ibu didukung oleh faktor usia dan memiliki anak yang berusia dibawah 1 tahun, mayoritas pendidikan ibu tamat Perguruan tinggi, dan ibu tidak bekerja sehingga ibu mempunyai banyak waktu luang untuk bisa mendapatkan informasi dari berbagai media (televisi, radio, surat kabar dan sosial media dan lain-lain) tentang imunisasi dasar dibandingkan dengan ibu yang memiliki pekerjaan yang akan cenderung tidak memiliki waktu yang cukup untuk imunisasi anaknya. Huda (2009) menyatakan juga bahwa mayoritas responden tidak memiliki pekerjaan (ibu rumah tangga) semakin ibu memiliki pekerjaan baik di sector formal maupun informal, sehingaa aktifitas ibu yang bekerja akan berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki ibu untuk memberikan kasih sayang kepada anaknya termasuk perhatian ibu terhadap pemberian imunisasi dasar.

Namun penelitian yang dilakukan Panjaitan & Simanjuntak (2019) menyatakan bahwa mayoritas responden yang tidak memiliki pekerjaan (Ibu rumah tangga) 20,3% memiliki pengetahuan cukup dalam pemberian imunisasi dasar.

4.2.7 TINGKAT SIKAP IBU TERHADAP PEMBERIAN IMUNISASI DASAR BERDASARKAN PENDIDIKAN

Berdasarkan tabel 4.9 didapatkan bahwa sebagian besar responden tamatan SMA memiliki sikap baik sebanyak 17 orang (17,5%), tamatan SMP memiliki sikap baik sebanyak 16 orang (16,5%), tamatan perguruan tinggi memiliki sikap

cukup sebanyak 16 orang (16,5%), dan tamatan SD mayoritas responden memiliki sikap baik sebanyak 8 orang (8,2%). Hasil penelitian ini didapatkan bahwa mayoritas responden dengan tamatan SMA memiliki sikap baik dalam pemberian imunisasi dasar. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi sikap seseorang antara lain seperti fasilitas sumber informasi (misal: media massa, penyuluhan) dan faktor internal dari diri orang tersebut untuk dapat menerima atau tidak menerima suatu objek (sikap positif dan negatif), (Anton, 2014).

Sikap ibu dapat dipengaruhi oleh cara pandang dan latar belakang dari dirinya sendiri, semakin berkembang pola pikir maka semakin bertambah pengetahuan sehingga ibu akan mampu memilah hal baik untuk bayinya, salah satunya dalam pemberian imunisasi dasar. Sikap ibu terhadap imunisasi memiliki pengaruh pada tingkat kepatuhan terhadap pemberian imunisasi dasar anaknya. Suatu sikap

Sikap ibu dapat dipengaruhi oleh cara pandang dan latar belakang dari dirinya sendiri, semakin berkembang pola pikir maka semakin bertambah pengetahuan sehingga ibu akan mampu memilah hal baik untuk bayinya, salah satunya dalam pemberian imunisasi dasar. Sikap ibu terhadap imunisasi memiliki pengaruh pada tingkat kepatuhan terhadap pemberian imunisasi dasar anaknya. Suatu sikap

Dokumen terkait