• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Konsep – Konsep Penelitian dan Teori

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA KONSEP DAN TEORI

2.2. Kerangka Konsep – Konsep Penelitian dan Teori

Sudut pandang pertama menganggap bahwa komunikasi sebagai proses, maksudnya adalah proses pernyataan antara manusia. Yang dinyatakan adalah pemikiran atau parasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya atau adanya komunikator, pesan dan komunikan, media dan efek. Definisi tersebut diperkuat oleh formula Laswell “who says what in which channel to whom what effect” (Mulyana, 2001:62)

Tanda-tanda dimaknai sebagai wujud dalam memahami kehidupan. Manusia melalui kemampuan akalnya berupaya berinteraksi dengan menggunakan tanda sebagai alat untuk berbagai tujuan, salah satu tujuan tersebut adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain sebagai bentuk adaptasi dengan lingkungan.

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa komunikasi merupakan suatu proses penukaran makna, dimana makna-makna tersebut disimpulkan

melalui bahasa, simbol-simbol, warna, gerak tubuh, suara dan gambar yang kesemua itu mengandung arti tersendiri bagi yang menyampaikannya.

Penjelasan diatas juga merujuk bahwa fotografi mengandung simbol, warna yang dikreasikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu kesan dibalik tampilannya. Tugas kita adalah menyikapi makna yang terkandung dalam sebuah karya fotografi sehingga kita lebih memahami pesan yang disampaikan.

a. Foto Jurnalistik

Foto jurnalistik menurut guru besar Universitas Missouri, AS, Cliff Edom adalah paduan kata dan gambar. Sementara menurut editor majalah LIFE dari 1937-1950, Wilson Hicks, kombinasi dari kata dan gambar menghasilkan satu kesatuan komunikasi saat ada kesamaan latar belakang pendidikan sosial pembacanya.

Percepatan pemakaian fotografi sebagai elemen berita dipacu besar-besaran oleh terbitnya majalah LIFE di Amerika. Dunia fotografi jurnallistik bisa dikatakan berhutang besar kepada Wilson Hicks. Hicks adalah orang yang dianggap perintis kemajuan fotografi jurnalistik di dunia.

Ada delapan karakter foto jurnalistik menurut Frank P.Hoy dari sekolah jurnalistik dan telekomunikasi serta Walter C. Cronkite, Universitas Arizona pada bukunya berjudul Photo Jurnalism The Visual Appoach adalah sebagai berikut :

1. Foto jurnalistik adalah komunikasi melalui foto. Komunikasi yang dilakukan mengekspresikan pandangan wartawan foto terhadap suatu subyek, tetapi pesan yang disampaikan bukan merupakan ekspresi media.

2. Medium foto jurnalistik adalah media cetak koran atau majalah dan media kabel atau satelit juga internet seperti kantor berita online. 3. Kegiatan foto jurnalistik adalah kegiatan melaporkan berita. 4. Foto jurnalistik adalah paduan dari teks dan foto.

5. Foto jurnalistik mengacu pada manusia. Manusia adalah subyek, sekaligus pembaca foto jurnalistik.

6. Foto jurnalistik adalah komunikasi dengan banyak orang. Ini berarti pesan yang disampaikan harus singkat dan harus segera diterima pembaca.

7. Foto jurnalistik juga merupakan hasil kerja editor foto.

8. Tujuan foto jurnalistik adalah memenuhi kebutuhan mutlak penyampaian informasi kepada sesama, sesuai amandemen kebebasan berbicara dan pers.

Pesan yang disampaikan seorang wartawan foto dapat dilakukan melalui foto jurnalistik yang merupakan salah satu pengekspresian terhadap suatu obyek, akan tetapi pesan yang disampaikan bukan merupakan suatu pengekspresian akan pribadi tentang sesuatu, karena foto jurnalistik adalah salah satu elemen jurnalistik dalam melaporkan suatu berita.

Foto jurnalistik memiliki beberapa kategori yang dibuat oleh badan foto jurnalistik dunia (world press photo foundation) yaitu :

1. Spot Photo

Spot photo adalah foto yang dibuat dari peristiwa yang tidak terjadwal atau tidak terduga yang diambil oleh fotografer langsung dari lokasi kejadian. Misalnya, foto peristiwa kecelakaan, kebakaran, perklahian dan perang. Karena dibuat dari peristiwa yang jarang terjadi dan menampilkankonflik serta ketegangan maka foto spot harus disiarkan. Dibutuhkan keberuntungan pada fotografer dalam hal posisi dan keberadaannya, serta keberanian saat membuat foto. memperlihatkan emosi subyek yang difoto sehingga memancing emosi pembaca. 2. General News Photo

Adalah foto-foto yang diabadikan dari peristiwa yang terjadwal, rutin dan biasa. Temanya bisa bermacam-macam, yaitu politik, ekonomi dan humor.

3. People In The News Photo

Pribadi atau sosok orang yang menjadi pemberitaan atau photo profile. 4. Daily Life Photo

Foto tentang kehidupan sehari-hari manusia dipandang dari segi kemanusiaan (human interest), misal foto tentang pedagang makanan kaki lima.

Menampilkan wajah seseorang secara close up. Ditampilkan karena ada kekhasan pada wajah yang dimiliki atau kekhasan lainnya. Contoh foto close up wajah Joko Widodo pada sebuah cover majalah.

6. Sport Photo

Foto yang dibuat dari peristiwa olahraga. Dalam pembuatan foto olahraga dibutuhkan perlengkapan yang memadai, misal lensa panjang serta kamera yang menggunakan motor drive. Sehingga dapat menangkap gerakan atlet dan hal lain yang menyangkut olahraga. Contohnya, petenis perempuan Serrena Williams yang berusaha mengambil bola dari lawan mainnya.

7. Science and Technology Photo

Foto yang diambil dari peristiwa-peristiwa yang ada kaitannya dengan ilmu pengetahuandan teknologi. Contoh, foto pada pameran ilmu pengetahuan dan teknologi.

8. Art and Culture Photo

Foto yang dibuat dari peristiwa seni dan budaya.

b. Tanda dan Makna Foto

1. Teks Foto

Teks foto adalah kata-kata yang menjelaskan foto. teks foto diperlukan untuk melengkapi suatu foto. tanpa teks foto maka sebuah foto hanyalah gambar yang bisa dilihat tanpa bisa diketahui apa informasi dibaliknya.

2. Syarat Foto Jurnalistik

Syarat foto jurnalistik setelah mengandung berita dan secara fotografi bagus, syarat lain lebih kepada foto baru mencerminkan etika atau norma hukum, baik dari pembuatannya maupun penyiarannya.

Di Indonesia etika mengatur foto jurnalistik ada pada kode etik yang disebut kode etik jurnalistik. Kode etik tersebut dirumuskan oleh Lukas Luwarso, R.H Siregar, Drs. Nasution, Tarman Azzam, S.Satria Dharma, Achmad Zihni pada tanggal 1 September 1999. Pasal-pasal yang mengatur hal itu diantaranya pasal 2 dan 3 (Mirza Alwi 2008:9)

Pasal 2 berisi, wartawan Indonesia tidak menyiarkan hal yang bersifat deskriptif dan dapat merugikan bangsa dan negara, hal yang menimbulkan kekacauan, hal yang menyinggung perasaan susila, agama, kepercayaan dan keyakinan atau suatu golongan yang dilindungi undang-undang.

Pasal 3 berisi, wartawan Indonesia menempuh jalan dan cara yang jujur untuk memperoleh bahan-bahan berita. Wartawan Indonesia meneliti kebenaran suatu berita atau karangan sebelum menyiarkan dengan juga memperhatikan kredibilitas sumber berita. Didalam menyusun berita, wartawan Indonesia membedakan antara kejadian (fakta) dan pendapat (opini). Lalu foto yang bersifat pornografi juga tidak boleh disiarkan. Foto yang dibuat dengan teknik

manipulasi komputer juga tidak boleh disiarkan jika tidak berdasarkan kebenaran.

Secara terminologis, Aart Van Zoest mendefinisikan semiotika “studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya”(Van Zoest, 1992:5).

Komunikasi terjadi dengan perantara tanda-tanda, menurut pandangan Sausure yang dikutip oleh Alex Sobur: “Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penandaan. Dengan kata lain, penandaan adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna. Jadi, penandaan adalah aspek material dari bahasa, apa yang dikatan atau apa yang didengar dan apa yang ditulis dan dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi petanda adalah aspek mental dan bahasa”(Sobur, 2003:46).

Hal terpenting dalam sistem tanda yang dikemukakan oleh Sausure adalah bahasa itu merupakan sistem tanda dan setiap tanda itu dibagi menjadi dua bagian, yakni signifier (penanda) dan signified (petanda).

Roland Barthes salah satu pengikut Sausure dimana dalam pendekatan semiologinya lebih mengacu kepada unsur-unsur budaya, dalam pembahasan tentang tanda, Barthes mulai dengan pernyataan Sausure “signified dan signifier adalah komponen tanda menurut

Sausure tanda mempunyai tiga wajah, yakni tanda itu sendiri (sign), aspek material (suara, huruf, gambar, bentuk dan gerak) dari tanda yang berfungsi menandakan atau yang dihasilkan melalui aspek material (signifier) dan aspek mental atau konseptual yang ditunjukkan oleh aspek material (signified)(Sunardi, 2002:41).

Selain itu Roland Barthes juga melihat makna yang lebih tingkatannya yaitu mitos Barthes merupakan “cara berfikir dari suatu kebudayaantantang sesuatu, cara untuk mengkonpestualisasi atau memahami sesuatu (Subandy, 2004:121).

Berbagai tingkatan pertanda ini sangat penting dalam mencari dan memahami nilalli-nilai yang terkandung dalam sebuah budaya, moral dan spiritual. Bila kita melihat suatu foto, ,maka kita akan mengetahui suatu obyek apa yang ada di foto tersebut. Dalam situasi yang bagaimana foto itu diambil? Apa yang dilakukan obyek dalam foto? Bagaimana latar belakang obyek dalam foto? Apa yang terjadi dengn obyek? Secara keseluruhan makna apa yang tersirat dalam foto tersebut? Dan sederet pertanyaan lain yang bisa dikemukakan.

Foto dianggap sebagai fakta sejarah karena mencatat secara obyektif. Namun sang fotografer tentu memiliki subyektifitas dalam membuat foto tersebut terutama dalam memilih adegan yang diprotetnya. Seperti yang dikatakan Barthes “foto telah mengalahkan monumen sebagai pengingat masa lalu yang paling representativ”.

Aktual.com tanggal 21 Agustus 2014, Fotografer Junaidi Mahbub, dalam fotonya kisruh pendukung Prabowo-Hatta dalam sidang putusan sengketa pilpres 2014 di Mahkamah Konstitusi. Artinya foto sangatlah kuat dalam menceritakan kejadian-kejadian di masa lalu.

Roland Barthes menyebutkan, teks (dalam hal ini foto) adalah hasil dari “seribu sumber kebudayaan” dan karena pengarang/penulis (fotografer) saja yang bisa memberi makna kepada teks atau merupakan satu-satunya orang yang memiliki akses istimewa terhadap makna. Karena itu, Barthes menyebut “pengarang” telah mati, sementara pembaca/penonton lahir makna tidak berasal dari pengarang, maka makna harus secara aktif diciptakan oleh pembaca melalui proses analisa tekstual(Barthes, 2007:21).

Seperti yang diungkapkan Barthes diatas bahwa akan sangat salah bahwa foto hanya bisa dimaknai oleh fotografernya, karena orang yang melihat foto tersebut juga bisa melihat dan memahami apa makna dibalik foto tersebut, dan hal-hal yang lain pun bisa terjadi seperti orang mencoba menyamakan makna yang dia pahami dengan makna yang ingin dia tampilkan oleh sang fotografer.

c. Media Sebagai Agen Konstruksi Realitas

Dalam media massa pemberitaan tidak selalu bersifat objektif. Masing-masing media memiliki kebijakan dalam

menentukan isinya. Dan setiap masing-masing media pun tidak hanya melayani masyarakat yang beragam, tetapi juga menyangkut individu atau kelompok sosial.

Dalam menyajikan realitas sosial, media memiliki “bahasa” tersendiri. Keberadaan bahasa dalam media dapat menentukangambaran (makna citra) mengenai suatu realitas media yang akan muncul di benak khalayak. Bahasa yang terdiri atas seperangkat tanda tidak pernah membawa makna tunggal di dalamnya. Isi atau teks media selalu memiliki ideologi dominan yang terbentuk melalui tanda tersebut. Artinya, jika kita gali lebih dalam isi/teks media, terdapat kepentingan-kepentingan yang lebih luas dan kompleks. Oleh karenanya, pemberitaan di media haruslah dipahami sebagai hasil konstruksi realitas dari pihak media yang tidak lepas dari kepentingan atau kekuatan dibelakangnya.

Menurut Ray Eldon Hiebert dan kawan-kawan, isi media setidaknya dapat dibagi kedalam enam kategori:

1. Berita dan Informasi 2. Analisis dan Interpretasi 3. Pendidikan dan Sosialisasi

4. Hubungan Masyarakat dan Persuasi 5. Iklan dan Bentuk Penjualan

Sedangkan menurut Dennis McQuail (1996:117) dalam buku Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, menjelaskan fungsi utama dari media bagi masyarakat:

1. Informasi 2. Korelasi 3. Kesinambungan 4. Hiburan 5. Mobilisasi d. Semiotika

Secara estimologis, kata semiotika berasal dari Yunani yaitu semion yang berarti tanda. Tanda-tanda tersebut menghasilkan sebuah informasi baik secara verbal maupun non verbal sehingga bersifat komunikatif, hal tersebut memunculkan proses pemaknaan oleh yang melihat, yang pada akhirnya menerima tanda akan informasi dari pihak yang mengirim pesan melalui tanda.

Barthes melontarkan konsep tentang konotasi dan denotasi sebagai kunci analisisnya (Seto, 2006:34). Barthes menggunakan versi yang jauh lebih sederhana saat membahas model Glossematic Sign (tanda-tanda glosematis), glosematis aliran yang selain berusaha memahami bahasa juga memahami sosial budaya. Tanda glosematis atau kode kultur merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui di kodifikasikan oleh budaya (Sobur, 2004:66).

Barthes mendefinisikan sebuah tanda (sign) sebagai sebuah sistem yang terdiri dari relasi (r=relation) antara tanda (e=expression) dan maknanya (c=content). Jadi REC adalah sebuah sistem tanda primer dapat menjadi sebuah elemen dari sebuah sistem tanda yang lebih lengkap dan memiliki makna yang berbeda ketimbang semula (Sobur, 2003:66).

Tanda primer adalah denotatif sedangkan tanda kedua adalah salah satu dari semiotika konotatif. Konsep konotatif inilah yang menjadi kunci penting dari model semiotika Roland Barthes.

Dalam pengertian umum denotasi biasanya dimengerti sebagai makna harafiah, makna yang sesungguhnya. Tetapi dalam semiologi Barthes, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Disini denotasi justru lebih asosiasikan dengan ketertutupan mata.

“Kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi yang disebutnya sebagai mitos dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu” (Sobur, 2006:71). Tanda memiliki kekuatan konotasi, seperti tanda dapat berpotensi sebagai tindakan sistem yang ada.

Menurut Barthes yang kemudian dikutip oleh Kris Budiman (2004:71) prosedur-prosedur dalam memaknai konotasi khususnya dalam fotografi ada enam, yaitu:

1. Trick Effect, misalnya dengan memadukan dua gambar sekaligus secara artificial.

2. Pose, dengan mengatur arh pandang mata atau cara duduk dari seorang subyek.

3. Object, misalnya dengan menyeleksi dan menata obyek-obyek tertentu.

4. Fotogenia, misalnya dengan cara mengatur eksposure, pencahayaan (lighting, manipulasi teknik cetak dan sebagainya). 5. Estetisme, misalnya apa yang disebut sebagai “poktorialisme”

atau dengan menerapkan teknik “posterisasi” sehingga sebuah foto seolah-olah menyerupai lukisan.

6. Sintaksis, dengan merangkaikan beberapa foto kedalam sebuah sekuens sehingga penanda dan petanda konotasinya tidak dapat ditemukan pada fragmen-fragmen yang lepas satusama lain, melainkan keseluruhan rangkaian.

Enam prosedur diatas digunakan pada tahapan proses produksi foto, penulis menggunakan keenam prosedur tersebut untuk mengetahui makna foto jurnalistik kisruh demo pendukung Prabowo-Hatta di Mahkamah Konstitusi pada media online Aktual.co.

“Semiotika berarti tanda, dalam penelitian ini tanda yang akan diteliti akan dimaknai artinya. Makna sebagai kecenderungan total untuk menguak suatu bentuk bahasa”(Sobur, 2006:256).

Untuk menganalisis makna dari tanda-tanda dalam foto jurnalstik kisruh demo pendukung Prabowo-Hatta di Mahkamah Konstitusi pada media online Aktual.co, penulis menggunakan semiotika dengan pendekatan Roland Barthes, ia membuat sebuah model yang sistematis untuk menganalisis makna dari tanda-tanda. Fokus dari model ini menggaris besarkan pada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two order signification)

First Order Second Order

Reality culture signs Connotation

Signifier Form Denotation ---

Signified Content Myth

Berdasarkan gambar diatas Roland Barthes, seperti yang dikutip Fiske (2007:128) menjelaskan:

Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dallam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap ke dua. Hal ini menggambarkan

interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu denganperasaan atau emodi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Konotasi memiliki makna subyektif atau paling tidak intersubyektif. Pemilihan kata-kata kadang merupakan pilihan terhadap konotasi, misal kata “penyuapan” dengan “memberi uang pelicin”. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah obyek, sedangkan konotasi adalah bagaimana menggambarkannya.

Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos. Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Mitos merupakan produk kelas sosial yang sudah memiliki suatu dominasi. Mitos primitif misalnya, mengenai hidup dan mati, manusia dan dewa, dan sebagainya. Sedangkan mitos masa kini misalnya mengenai feminitas, maskulinitas, ilmu pengetahuan dan kesuksesan.

Dari bagan signifikasi dua tahap Roland Barthes penulis menyimpulkan bahwa pemaknaan yang terjadi pada tanda melewati tiga tahap pemaknaan yaitu tahap pertama, makna denotasi yaitu mengungkapkan makna yang paling nyata dari tanda dilanjutkan tahap kedua yaitu makna konotasi, terkait dengan tanda dan pemakainya yaitu budaya yang mempengaruhi pemakai dari tanda tersebut. Kemudian masuk ke tahap yang ketiga yaitu mitos, terjadi pada saat

budaya tersebut diceeritakan dan diberikan penilaian dengan melakukan pemaknaan terhadap tanda yang dimaksud.

Dokumen terkait