BAB 6 KESIMPULAN dan SARAN
3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian
3.2. Variabel dan Defenisi Operasional
Variabel-variabel yang diteliti mencakup :
1. Diabetes Melitus (DM), yaitu suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Purnamasari, 2009).
Kriteria diagnosa DM menurut ADA 2007 adalah :
a. Gejala klasik DM + kadar glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL. atau
b. Gejala klasik DM + kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL. c. Kadar glukosa plasma 2 jam pada TTGO ≥ 200 mg/dL.
Gejala klasik DM meliputi poliuria, polidipsia, polifagia, dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas.
Diabetes melitus
Kelainan kulit
Klasifikasi Diabetes Melitus (ADA 2009) : a. Diabetes Melitus Tipe 1
Tipe ini menjurus ke defisiensi insulin absolut. b. Diabetes Melitus Tipe 2
Tipe ini bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin.
c. Diabetes Melitus Tipe Lain d. Diabetes Kehamilan
Adanya diabetes melitus dinilai/diukur dengan melihat data rekam medik pasien yang dibuat oleh dokter spesialis penyakit dalam. Hasil dari pengukuran berupa ada atau tidaknya diagnosa diabetes melitus. Skala pengukuran yang digunakan untuk menilai ada atau tidaknya diabetes melitus adalah skala pengukuran nominal.
2. Manifestasi penyakit kulit, yaitu setiap kelainan kulit yang dialami pasien penderita diabetes melitus akibat hiperglikemia kronik yang diderita. Kelainan kulit tersebut dapat disebabkan karena proses infeksi (bakteri, jamur, virus), komplikasi DM (diabetic neuropathy, diabetic ulcer), kelainan kulit karena proses pengobatan DM (Sulphonylurea-related skin lesions, insulin lipo-atrophy), maupun kelainan kulit yang memiliki kaitan erat dengan DM (diabetic dermopathy, acanthosis nigricans, xanthoma, necrobiosis lipoidica, dll).
Adanya manifestasi penyakit kulit dinilai/diukur dengan melihat data rekam medik pasien yang dibuat oleh dokter spesialis kulit dan kelamin. Hasil pengukuran berupa ada atau tidaknya manifestasi penyakit kulit beserta jenis manifestasinya. Skala pengukuran yang digunakan untuk menilai ada atau tidaknya manifestasi penyakit kulit adalah skala pengukuran nominal.
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk melihat manifestasi kulit apa saja yang muncul pada pasien penderita diabetes melitus di RSUP H. Adam Malik Medan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain potong-melintang (cross sectional study), dimana pengukuran variabel-variabelnya dilakukan hanya satu kali pada suatu saat (Pramulyo, et al, 2008).
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2011 sampai Oktober 2011 di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Rumah sakit ini dipilih karena merupakan rumah sakit pusat rujukan di Provinsi Sumatera Utara.
4.2.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah pasien diabetes melitus rawat inap dan rawat jalan dengan penyakit kulit di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sejak Juni 2008 sampai Juni 2011.
4.2.2. Sampel
Sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik total sampling dengan kriteria inklusi seluruh pasien diabetes melitus yang mengalami manifestasi kulit dan dirujuk ke Departemen Kulit dan Kelamin sejak Juni 2008 sampai Juni 2011. Sedangkan kriteria eksklusi yaitu semua pasien diabetes
melitus yang mengalami manifestasi kulit dan tidak dirujuk ke Departemen Kulit dan Kelamin. Dari kriteria inklusi dan eksklusi diperoleh sampel berjumlah 80 sampel.
4.3. Teknik Pengumpulan Data
Data diperoleh melalui data sekunder yaitu rekam medik pasien penderita DM yang berobat dan dirujuk ke Departemen Kulit dan Kelamin. Kemudian dilihat diagnosa kelainan kulit yang terjadi beserta data-data lain yang diperlukan seperti tipe DM, jenis kelamin, usia, lama menderita DM, dan besar kadar glukosa darah saat awal timbulnya manifestasi kulit.
4.4. Pengolahan dan Analisis Data
Semua data yang terkumpul dicatat dan dilakukan editing dan coding, kemudian dimasukkan ke dalam program komputer SPSS (Statistical Package for Social Science) untuk dianalisis lebih lanjut. Jenis analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif dengan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil analisis data kemudian disajikan dalam bentuk tabel.
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17, kelurahan Kemenangan Tani, kecamatan Medan Tuntungan. Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No. 355/ Menkes/ SK/ VII/ 1990. Dengan predikat rumah sakit kelas A, RSUP Haji Adam Malik Medan telah meiliki fasilitas kesehatan yang memenuhi standar dan tenaga kesehatan yang kompeten. Selain itu, RSUP Haji Adam Malik Medan juga merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat dan Riau sehingga dapat dijumpai pasien dengan latar belakang yang sangat bervariasi. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 502/ Menkes/ IX/ 1991tanggal 6 September 1991, RSUP Haji Adam Malik Medan ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sampel
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 80 sampel, yang berupa rekam medik dari pasien DM, rawat inap maupun rawat jalan yang dirujuk ke Departemen Kulit dan Kelamin. Dari keseluruhan sampel, karakteristik yang dapat diamati adalah jenis kelamin, usia, tipe DM, lama menderita DM.
5.1.2.1. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin
Data distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5.1.
Tabel 5.1. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin
Jenis kelamin Jumlah %
Laki-laki 37 46.3
Perempuan 43 53.8
Total 80 100
Berdasarkan tabel diatas maka dijumpai pasien laki-laki yang menderita DM dengan manifestasi kulit yaitu sebanyak 37 sampel (46.3%), sedangkan pasien perempuan sebanyak 43 sampel (53.8%). Dari hasil tabel tersebut dapat dilihat bahwa sampel berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki-laki.
5.1.2.2. Distribusi sampel berdasarkan usia
Data distribusi sampel berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2. Distribusi sampel berdasarkan usia
Usia (tahun) Jumlah %
0-20 0 0
21-40 4 5
41-60 50 62.5
61-80 26 32.5
Total 80 100
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa, frekuensi tertinggi pasien DM dengan manifestasi kulit terjadi pada kelompok usia 41-60 tahun yaitu sebanyak 50 sampel (62.5%), frekuensi terkecil terdapat pada kelompok usia 21-40 tahun yaitu sebanyak 4 sampel (5%). Tidak dijumpai sampel pada kelompok usia 0-20 tahun.
5.1.2.3. Distribusi Sampel berdasarkan tipe DM yang diderita
Data distribusi sampel berdasarkan tipe DM yang diderita tertera pada tabel 5.3.
Tabel 5.3. Distribusi sampel berdasarkan tipe DM
Tipe DM Jumlah %
1 1 1.3
2 79 98.8
Total 80 100
Berdasarkan tipe DM yang diderita, didapatkan hasil sebanyak 79 sampel (98.8%) untuk DM tipe 2, dan hanya 1 sampel (1.3%) yang menderita DM tipe 1.
5.1.2.4. Distribusi sampel berdasarkan lamanya pasien menderita DM
Data distribusi mengenai lamanya pasien menderita DM sampai timbulnya manifestasi kulit dapat dilihat pada tabel 5.4.
Tabel 5.4. Distribusi sampel berdasarkan lamanya menderita DM
Lama (tahun) Jumlah %
<5 44 55
5-10 28 35
>10 8 10
Total 80 100
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pasien yang menderita DM kurang dari 5 tahun sejumlah 44 sampel (55%), yang menderita DM selama 5-10 tahun sejumlah 28 sampel (35%), dan hanya 8 sampel (10%) yang menderita DM lebih dari 10 tahun.
5.1.3 Hasil Analisis Data
Data lengkap mengenai kelainan kulit yang didapatkan pada pasien DM di RSUP Haji Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel 5.5.
Tabel 5.5. Manifestasi kulit pada pasien Diabetes Melitus
Kelainan Kulit Jumlah %
Dermatitis kontak 9 8.5
Tinea kruris 16 15.1
Tinea korporis 16 15.1
Tinea fasialis 1 0.9
Lupus eritematosus sistemik 1 0.9
Pitiriasis versicolor 1 0.9 Icthyosis vulgaris 1 0.9 Tinea pedis 1 0.9 Folikulitis 2 1.9 Furunkulosis 2 1.9 LSC 5 4.7 Keratitis seboroik 1 0.9 Dermatitis seboroik 6 5.7 Ulkus diabetes 4 3.8
Dermatitis exfoliativa generalisata 3 2.8
Pruritus 11 10.4 Psoriasis 4 3.8 Dermatitis atopik 1 0.9 Herpes zooster 2 1.9 Miliaria rubra 3 2.8 Ulkus mole 2 1.9 Kandidiasis 5 4.7 Insect bite 1 0.9 Urtikaria 1 0.9
Dari 80 sampel yang diperiksa diperoleh 31 jenis manifestasi kulit dan total 106 manifestasi kulit. Tinea korporis dan Tinea kruris menjadi manifestasi kulit yang paling banyak dijumpai pada pasien DM, yaitu masing-masing sejumlah 16 manifestasi kulit (15.1%). Kelainan kulit yang juga banyak dijumpai adalah Pruritus sebanyak 11manifestasi kulit (10.4%) dan Dermatitis kontak sebanyak 9 manifestasi kulit (8.5%). Tidak didapati kelainan kulit yang khas pada DM seperti diabetic dermopathy, acanthosis nigricans, xanthoma, necrobiosis lipoidica, dll.
Berdasarkan jenis infeksinya, maka distribusi manifestasi kulit yang dijumpai pada pasien DM dapat dilihat pada tabel di bawah ini
Tabel 5.6. Distribusi manifestasi kulit akibat infeksi pada pasien DM
Jenis Infeksi Jumlah %
Infeksi jamur Tinea kruris 16 31.4 Tinea Korporis 16 31.4 Tinea fasialis 1 2.0 P versicolor 1 2.0 Tinea pedis 1 2.0 candidiasis 5 9.8 Abses 1 0.9 Lichen amyloidosis 1 0.9 PHN 1 0.9 Keratosis aktinik 1 0.9 Purpura 1 0.9 Impetigo 1 0.9 Kondiloma akuminata 1 0.9 Total 106 100.0
subtotal 40 78.4 Infeksi bakteri folikuklitis 2 3.9 furunkulosis 2 3.9 ulkus mole 2 3.9 abses 1 2.0 impetigo 1 2.0 subtotal 8 15.7 Infeksi virus herpes zooster 2 3.9 kondiloma akuminata 1 2.0 subtotal 3 5.9 Total 51 100
Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa dijumpai total 51 manifestasi kulit akibat proses infeksi. Dari semua kelainan kulit akibat infeksi, infeksi jamur menjadi kelainan kulit terbesar, yaitu sebanyak 40 manifestasi kulit (78.4%) , kemudian disusul dengan infeksi bakteri sebanyak 8 manifestasi kulit (15.7%) dan infeksi virus sebanyak 3 manifestasi kulit (5.9%). Tidak dijumpai kelainan kulit akibat infeksi parasit.
5.2. Pembahasan
Dari hasil penelitian terhadap 80 sampel, didapatkan bahwa jumlah pasien DM yang mengalami manifestasi kulit lebih banyak terjadi pada pasien perempuan dibandingkan dengan pasien laki-laki, yaitu sejumlah 43 sampel (53.8%) berbanding 37 sampel (6.3%). Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang dilakukan dibeberapa Negara. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Foss (2005) di Brazil, diperoleh jumlah pasien perempuan sebanyak 262 orang (65.3%). Penelitian juga dilakukan oleh Mahajan, Kuranne, dan Sharma (2003) di India ,
diperoleh rasio kejadian manifestasi kulit antara pasien perempuan dan laki-laki sebesar 1,38 : 1. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Al-Mutairi dkk (2006) di Kuwait, dijumpai bahwa kejadian timbulnya manifestasi kulit pada pasien DM lebih banyak dijumpai pada laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 68 sampel (64.1%) berbanding 38 sampel (35.9%).
Berdasarkan usia, frekuensi tertinggi kejadian manifestasi kulit pada pasien DM terjadi pada kelompok usia 41-60 tahun sebanyak 50 sampel (62.5%) dan kelompok usia 61-80 tahun sebanyak (32.5%). Usia sampel yang tertua adalah 76 tahun dan yang termuda adalah 21 tahun. Pada penelitian lain dijumpai hasil yang hampir sama. Penelitian yang dilakukan oleh Al-Mutairi (2006) didapatkan bahwa manifestasi kulit paling banyak terjadi pada kelompok usia 40-60 tahun sebanyak 45 sampel (42.5%). Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahajan, Koranne, dan Sharma (2003) didapati kejadian manifestasi kulit paling sering terjadi pada kelompok usia 41-50 tahun (33%) dan 51-60 tahun (30%).
Dari hasil penelitian ini diperoleh data sebanyak 79 sampel (98.8%) menderita DM tipe 2 dan hanya 1 sampel (1.3%) yang menderita DM tipe 1. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Mahajan dkk (2003) dimana penderita DM tipe 2 sebesar 98% dan DM tipe 1 sebesar 2%. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan Foss (2005) diperoleh 31% penderita DM tipe 1 dan 69% penderita DM tipe 2.
Sedangkan berdasarkan lamanya pasien menderita DM, diperoleh bahwa manifestasi kulit pada pasien DM paling banyak terjadi pada pasien-pasien yang telah menderita DM kurang dari 5 tahun, yaitu sebanyak 44 sampel (55%). Hal ini berbeda dengan hasil penelitian oleh Al-Mutairi (2006), dimana manifestasi kulit paling banyak terjadi pada pasien yang menderita DM lebih dari 10 tahun yaitu sebesar 59 sampel (55.7%). Perbedaan ini mungkin terjadi karena pada penelitian ini sebagian pasien datang berobat pertama kali setelah timbul manifestasi kulit.
Kelainan kulit yang paling banyak terjadi adalah Tinea korporis dan Tinea kruris, masing-masing sebanyak 16 manifestasi kulit (15.1%). Kemudian diikuti oleh Pruritus sebanyak 11 manifestasi kulit (10.4%) dan Dermatitis kontak sebanyak 9 manifestasi kulit (8.5%). Sedangkan jenis infeksi yang paling banyak terjadi adalah infeksi jamur sebanyak 40 manifestasi kulit (78.4%), disusul oleh infeksi bakteri sebanyak 8 manifestasi kulit (15.7%) dan infeksi virus sebanyak 3 manifestasi kulit (5.9%). Hal ini sesuai dengan teori bahwa pada penderita DM, gula kulit berkonsentrasi tinggi di daerah intertriginosa dan interdigitalis. Hal tersebut mempermudah timbulnya dermatitis, infeksi bakterial, dan infeksi jamur (Djuanda, 2007). Kondisi hiperglikemia juga menyebabkan terjadinya gangguan mekanisme sistem imunoregulasi. Hal ini menyebabkan menurunnya daya kemotaksis, fagositosis dan kemampuan bakterisidal sel leukosit sehingga kulit lebih rentan terkena infeksi. Tidak dijumpai manifestasi kulit yang berhubungan erat dengan DM seperti Diabetic dermatopathy , Acanthosis nigricans, Necrobiosis lipoidica, xanthoma dll. Sementara penelitian yang dilakukan Al-Mutairi menempatkan Pruritus menjadi manifestasi kulit yang paling banyak, diikuti oleh infeksi jamur dan bakteri. Penelitian yang dilakukan Foss (2005) mendapatkan Dermatophytosis menjadi manifestasi kulit yang paling banyak muncul.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari penelitian ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah perempuan penderita DM yang mengalami manifestasi kulit adalah sebesar 43sampel (53.8%), sedangkan jumlah laki-laki sebesar 37 sampel (46.3%).
2. Berdasarkan usia,50 sampel (62.5%) penderita DM dengan manifestasi kulit berada pada kelompok usia 41-60 tahun, kemudian disusul pada kelompok usia 61-80 tahun yaitu sebanyak 26 sampel (32.5%).
3. Tipe DM yang paling banyak dijumpai adalah DM tipe 2, yaitu sebesar 79 sampel (98.8%).
4. Manifestasi kulit paling banyak muncul pada kelompok pasien yang menderita DM kurang dari 5 tahun, yaitu sebesar 44 sampel (55%). Kemudian disusul dengan kelompok pasien yang menderita DM selama 5-10 tahun yaitu sebesar 28 sampel (35%).
5. Manifestasi kulit yang paling banyak dijumpai yaitu Tinea korporis dan Tinea kruris masing-masing sebanyak 16 kasus (15.1%) kemudian Pruritus sebanyak 11 kasus (10.4%) dan Dermatitis kontak sebanyak 9 kasus (8.5%).
6. Berdasarkan jenis infeksinya, maka kelainan kulit akibat infeksi jamur paling banyak terjadi, yaitu sebesar 40 kasus (78.4%).
6.2. Saran
1. Pasien penderita diabetes melitus hendaknya diberi edukasi untuk menjaga kebersihan kulit, agar terhindar dari infeksi kulit.
2. Hendaknya penelitian mengambil sampel dari rentang waktu yang lebih lama agar diperoleh jumlah sampel yang lebih besar.
3. Kepada RSUP Haji Adam Malik Medan dan pihak-pihak terkait, agar data Rekam Medik lebih lengkap dan lebih rapi.
4. Pasien DM yang mengalami manifestasi penyakit kulit hendaknya dirujuk ke Departemen Kulit dan Kelamin untuk mendapat penanganan.
DAFTAR PUSTAKA
ADA. 2007. Clinical Practise Recommendation : Report of the Expert Committee on the Diagnosis and Classifications of Diabetes Mellitus Diabetes Care. USA : ADA, 2-24.
Clare-Salzler, MJ., Crawford, JM., Kumar, Vinay. 2007. Pankreas. Dalam : Kumar, Cotran, Robbins. Buku Ajar Patologi. Edisi 7. Volume 2. Jakarta : EGC, 711-734.
Djuanda, Suria. 2008. Hubungan Kelainan Kulit dan Penyakit Sistemik. Dalam : Djuanda, adhi., Hamzah, Mochtar., Aisah, Siti., ed. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 318-326.
Fitzpatrick, TB., Johnson RA., Woff, K., Polano, MK. 1997. Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Newyork : McGraw-Hill, 967.
Florez, A., Cruces, M., Jimenez, GP., 2003. Cutaneous Manifestations of Systemic Disease. In : Kerder, FA., Acosta, FJ. Dermatology, Just The Fact. NewYork : McGraw-Hill, 219-235.
Foss, NT., Polon, DP., Takada, MH., Freitas, MCF., Foss, MC., 2005. Skin Lesion in Diabetic Patients. Rev Saūde Pūblica. 39(4).
Gazali, MV., et al. 2008. Studi Cross-Sectional. Dalam : Sastroasmoro, Sudigdo., Ismael, Sofyan. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta : Sagung Seto, 112-126.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 21,3 juta Orang. Available from : http//www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/414- Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 21,3 juta Orang/. [accessed 10 March 2011].
King, H., Aubert, RE,. Herman, WH. 1998. Global Burden of Diabetes, 1995-2025. Diabetes Care 21 : 1414-1431.
Leonhardt, JM., Heyman, WR. 2003. Cutaneous Manifestation of Other Endocrine Disease. In : Freedberg, IM., Elsen, AZ., Wolff, K., Austen, KF., Goldsmith, LA., Katz, SI., ed. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Newyork : McGraw-Hill, 1662-1670.
Mahajan, S. Kuranne, RV. Sharma, SK. 2003. Cutaneous Manifestation of Diabetes Melitus. Indian Journal of Dermatology, Venereology and Leprology. 69(2) : 105-108.
Manaf, Asman. 2009. Insulin : Mekanisme Sekresi dan Aspek Metabolisme. Dalam : Sudoyo, Aru., Setyohadi, Bambang., Alwi, Idrus., ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jilid 3. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI , 1896-1899.
Mutairi, NA., Zaki, Amr., Sharma, AK., Sheltani, MA., 2006. Cutaneous Manifestation of Diabetes Mellitus, Study from Department of Dermatology, Farwaniya Hospital, Kuwait. Medical Principles and Practise. 15 : 427-430.
Purnamasari, Dyah. 2009. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam : Sudoyo, Aru., Setyohadi, Bambang., Alwi, Idrus., ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jilid 3. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI, 1880-1883.
Powers, AC. 2005. Diabetes Mellitus. In : Brauwald, Fauci, Kasper, Hauser, Longo, Jameson, ed. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 16th edition. Newyork : McGraw-Hill, 2152-2180.
Roglic, Gojka et al. 2004. Global Prevalence of Diabetes, Estimates for The Year 2000 and Projections for 2030. Diabetes Care 27 : 1047-1053.
Shah, BR., Hux, JE. 2003. Quantifying The Risk of Infection Disease For People With Diabetes. Diabetes Care 26 : 510-513.
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC
Sihombing, Bistok. 2008. Prevalensi Penyakit Arteri Perifer Pada Populasi Penyakit Diabetes Melitus di Puskesmas Kota Medan. Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran USU. Available from:
http : //repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6331/1/08E00385.pdf. [accessed 10 March 2011]
Suyono, Slamet. 2009. Diabetes Melitus di Indonesia. Dalam : Sudoyo, Aru., Setyohadi, Bambang., Alwi, Idrus., ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jilid 3. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI, 1873-1879.
Tin, Melok. 2009. Diagnosis And Holistic Management Diabetes Melitus, Manifestasi Kulit Pada Diabetes Melitus. Seminar Diagnosis and Holistic Management Diabetes Melitus RSU PKU Muhammadiyah Delanggu, 17 januari 2009.
World Health Organization. 2011. Diabetes. Available from :
http : //www.who.int/mediacentre/factsheets/fs312/en/. [accessed 10 March 2011]
LAMPIRAN 1
DATA RIWAYAT HIDUP
Nama : Lider Olmen Panggabean
Tempat/Tanggal Lahir : P. Sorkam, 10 Desember 1990
Agama : Islam
Alamat : Jl. Bunga Wijaya Kusuma Gg. Mesjid Taqwa No. 71 P.Bulan ,Medan
Riwayat Pendidikan : 1. Tahun 1996 lulus Taman Kanak-Kanak Sibuluan Indah
2. Tahun 2002 lulus Sekolah Dasar Negeri 085120 Sibolga
3. Tahun 2005 lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Pandan Nauli
4. Tahun 2008 lulus Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Matauli Pandan
Riwayat Pelatihan : 1. Basic Life Support and Traumatology TBM FK USU
Riwayat Organisasi : 1. Divisi Kerohanian Panitia Hari Besar Islam ( PHBI ) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Periode 2008-2009
2. Divisi Pendidikan dan Pelatihan Tim Bantuan Medis (TBM) FK USU PEMA FK USU
3. Sekretaris Jenderal Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU ( PEMA FK USU ) Periode 2011
LAMPIRAN 2 DATA INDUK No Rekam medik Jenis Kelamin Usia Tipe DM DM Lama menderita DM ManifestasiKulit 384570 perempuan 44 2 2 DK
363633 laki-laki 63 2 1 Tinea fasialis, Tinea kruris
358857 laki-laki 45 2 1 Tinea korporis, Tinea kruris
319595 laki-laki 57 2 2 SLE , P versicolor
077699 perempuan 58 2 1 Icthyosis vulgaris
092543 perempuan 63 2 1 Tinea pedis
012388 perempuan 43 2 10 Tinea kruris
004109 laki-laki 75 2 15 DK
091074 laki-laki 58 2 13 LSC
153578 perempuan 55 2 11 DK , Tinea korporis
164275 perempuan 63 2 1 Folikulitis , furunkulosis
123086 laki-laki 69 2 9 LSC
167475 perempuan 49 2 11 Tinea korporis
075958 perempuan 64 2 5 Keratitis seboroik
433511 perempuan 60 2 1 Dermatitis seboroik
390318 perempuan 72 2 4 Tinea korporis
452697 perempuan 58 2 1 DK
410969 laki-laki 71 2 1 Tinea korporis , Tinea kruris
446464 perempuan 57 2 1 Ulkus diabetes
466183 laki-laki 54 2 1 Dermatitis seboroik
459715 perempuan 39 2 1 Psoriasis
251397 perempuan 51 2 5 Tinea korporis
075190 perempuan 62 2 13 DK , DEG
027090 laki-laki 54 2 13 LSC
243792 perempuan 47 2 5 Pruritus
084890 laki-laki 47 2 5 Psoriasis
326494 laki-laki 60 2 1 Dermatitis atopik
265901 laki-laki 64 2 1 Tinea korporis , Tinea kruris
073580 perempuan 40 2 6 Herpes zooster
222269 laki-laki 72 2 7 Tinea kruris
321556 laki-laki 54 2 1 DEG , Psoriasis
152533 laki-laki 57 2 2 Pruritus
363550 laki-laki 56 2 2 Tinea kruris , Tinea korporis
376606 laki-laki 21 1 1 DEG, Psoriasis
225862 laki-laki 65 2 7 Ulkus mole
224752 perempuan 70 2 5 Tinea kruris, Ulkus diabetes
107553 perempuan 69 2 10 Candidiasis
013312 perempuan 66 2 7 Insect bite
294510 perempuan 64 2 3 LSC
264850 laki-laki 58 2 4 Folikulitis, Ulkus diabetes
026923 perempuan 54 2 1 DK
171808 perempuan 60 2 7 Pruritus
059927 perempuan 53 2 5 Tinea korporis, Tinea kruris,
049623 perempuan 73 2 4 Candidiasis, Urtikaria
386954 perempuan 61 2 1 Tinea korporis
365158 laki-laki 49 2 1 Miliaria rubra, DK
365067 laki-laki 58 2 1 DK, LSC, Tinea kruris
365406 laki-laki 75 2 1 Dermatitis seboroik
416046 perempuan 47 2 1 Pruritus
426028 perempuan 32 2 1 Abses
364133 perempuan 68 2 1 Pruritus
312445 laki-laki 50 2 1 Miliaria rubra, Herpes zooster
278756 laki-laki 64 2 1 Tinea korporis, Dermatitis seboroik
101552 perempuan 49 2 2 Tinea korporis, Tinea kruris
261151 laki-laki 52 2 5 Lichen amyloidosis
113187 laki-laki 53 2 3 Ulkus diabetes
363831 laki-laki 53 2 1 Pruritus, PHN
241293 laki-laki 61 2 7 Tinea korporis
243395 laki-laki 55 2 6 Candidiasis
005992 perempuan 56 2 6 Candidiasis
171808 perempuan 60 2 8 Pruritus
033125 laki-laki 41 2 3 Dermatitis seboroik, Tinea kruris
059927 perempuan 53 2 6 Tinea korporis
264850 laki-laki 58 2 4 Purpura, Pruritus
132745 perempuan 51 2 1 Pruritus, Tinea kruris
122669 perempuan 76 2 1 Impetigo
032459 perempuan 58 2 16 Pruritus
265901 laki-laki 46 2 1 Tinea korporis, Tinea kruris
125306 perempuan 62 2 5 DK
445706 perempuan 48 2 1 Kondiloma akuminata
407828 laki-laki 55 2 5 Tinea kruris
407608 perempuan 43 2 1 Tinea kruris
401773 laki-laki 65 2 7 furunkulosis
392031 laki-laki 53 2 6 Candidiasis
345602 laki-laki 45 2 8 Tinea korporis
404453 laki-laki 56 2 6 Dermatitis seboroik
043241 perempuan 58 2 12 Keratosis actinic
LAMPIRAN 3
OUTPUT DATA HASIL PENELITIAN
Frekuensi Data Penelitian
Jenis kelamin
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid laki-laki 37 46.3 46.3 46.3 perempuan 43 53.8 53.8 100.0 Total 80 100.0 100.0 Kelompok Usia
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid 21-40 years 4 5.0 5.0 5.0 41-60 years 50 62.5 62.5 67.5 61-80 years 26 32.5 32.5 100.0 Total 80 100.0 100.0
Tipe Diabetes Melitus
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 1.0 1 1.3 1.3 1.3
2.0 79 98.8 98.8 100.0
Kelompok lamanya menderita DM
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid <5 44 55.0 55.0 55.0 5-10 28 35.0 35.0 90.0 >10 8 10.0 10.0 100.0 Total 80 100.0 100.0
Manifestasi kulit pada pasien DM
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid DK 9 8.5 8.5 8.5 Tinea kruris 16 15.1 15.1 23.6 Tinea korporis 16 15.1 15.1 38.7 Tinea fasialis 1 .9 .9 39.6 SLE 1 .9 .9 40.6 P versicolor 1 .9 .9 41.5 Icthyosis vulgaris 1 .9 .9 42.5 Tinea pedis 1 .9 .9 43.4 folikulitis 2 1.9 1.9 45.3 furunkulosis 2 1.9 1.9 47.2 LSC 5 4.7 4.7 51.9 Keratitis seboroik 1 .9 .9 52.8 Dermatitis seboroik 6 5.7 5.7 58.5 Ulkus diabetes 4 3.8 3.8 62.3 DEG 3 2.8 2.8 65.1 Pruritus 11 10.4 10.4 75.5 Psoriasis 4 3.8 3.8 79.2 Dermatitis atopik 1 .9 .9 80.2 Herpes zooster 2 1.9 1.9 82.1
Miliaria rubra 3 2.8 2.8 84.9 Ulkus mole 2 1.9 1.9 86.8 Candidiasis 5 4.7 4.7 91.5 Insect bite 1 .9 .9 92.5 Urtikaria 1 .9 .9 93.4 Abses 1 .9 .9 94.3 Lichen amyloidosis 1 .9 .9 95.3 PHN 1 .9 .9 96.2 Keratosis actinic 1 .9 .9 97.2 Purpura 1 .9 .9 98.1 Impetigo 1 .9 .9 99.1 Kondiloma akuminata 1 .9 .9 100.0 Total 106 100.0 100.0
Manifestasi kulit berupa infeksi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tinea kruris 16 31.4 31.4 31.4
Tinea Korporis 16 31.4 31.4 62.7 Tinea fasialis 1 2.0 2.0 64.7 P versicolor 1 2.0 2.0 66.7 Tinea pedis 1 2.0 2.0 68.6 candidiasis 5 9.8 9.8 78.4 folikuklitis 2 3.9 3.9 82.4 furunkulosis 2 3.9 3.9 86.3 ulkus mole 2 3.9 3.9 90.2 abses 1 2.0 2.0 92.2 impetigo 1 2.0 2.0 94.1 herpes zooster 2 3.9 3.9 98.0 kondiloma akuminata 1 2.0 2.0 100.0
Manifestasi kulit berupa infeksi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative