• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Periode Juni 2008 sampai Juni 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Periode Juni 2008 sampai Juni 2011"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien Diabetes Melitus

di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

Periode Juni 2008 sampai Juni 2011

Oleh :

LIDER OLMEN PANGGABEAN

080100040

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien Diabetes Melitus

di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

Periode Juni 2008 sampai Juni 2011

“Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran”

Oleh :

LIDER OLMEN PANGGABEAN

080100040

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Periode Juni 2008 sampai Juni 2011

Nama : Lider Olmen Panggabean NIM : 080100040

Pembimbing Penguji I

(dr. Kristo A Nababan Sp.KK) (dr. Evo Elidar Sp. Rad) NIP: 196302081989031004 NIP: 196309271990102002

Medan, Desember 2011 Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(4)

ABSTRAK

Latar belakang : Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah timbulnya manifestasi kulit pada penderita diabetes melitus. Belum diketahui dengan pasti hubungan antara timbulnya manifestasi kulit dengan diabetes melitus, tetapi diduga karena hiperglikemia kronik dan abnormalitas sistem imun. Berbagai kelainan kulit dapat terjadi dan bervariasi disetiap tempat.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis manifestasi penyakit kulit yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis pada 80 data rekam medik penderita diabetes melitus yang dirujuk ke Departemen Kulit dan Kelamin sejak Juni 2008 sampai Juni 2011. Sampel dipilih dengan teknik total sampling.

Hasil : Dari 80 sampel yang diteliti diperoleh 31 jenis manifestasi kulit dan total 106 manifestasi kulit. Manifestasi kulit yang paling sering terjadi adalah Tinea korporis dan Tinea kruris, yaitu masing-masing sebesar 15.1% , kemudian Pruritus (10.4%) dan Dermatitis kontak (8.5%). Tidak dijumpai kelainan kulit yang berhubungan erat dengan diabetes melitus seperti Acanthosis nigricans dan Necrobiosis lipoidica.

Kesimpulan : Manifestasi kulit yang paling sering terjadi adalah Tinea korporis dan Tinea kruris .Manifestasi kulit akibat infeksi jamur menjadi menifestasi kulit yang paling sering muncul pada penderita diabetes melitus.

(5)

ABSTRACT

Background : Diabetes mellitus is a group of metabolic diseases that can cause various complications. One of the complications that can occur is the onset of skin manifestations in patients with diabetes mellitus. Not known with certainty the relationship between the onset of skin manifestations of diabetes mellitus, but presumably because of chronic hyperglycemia and immune system abnormalities. A variety of skin disorders may occur and vary in every place.

Objective : This study aims to determine the type of manifestation of skin disease that often occurs in people with diabetes mellitus.

Methods : This study is a descriptive study with cross sectional research design conducted at the Haji Adam Malik Medan General Hospital Center. The data was collected through analysis of medical record data on 80 patients with diabetes mellitus who were referred to the Department of Dermatology since June 2008 to June 2011. The sample was selected with a total sampling technique.

Results : Of the 80 samples studied obtained 31 types of skin manifestations and a total of 106 skin manifestations. The most common skin manifestations are Tinea corporis and Tinea cruris, which amounted to 15.1%, and Pruritus (10.4%) and Contact dermatitis (8.5%). There is no skin manifestation with strong associations with diabetes mellitus, such as Acanthosis nigricans and Necrobiosis lipoidica.

Conclusion : The most common skin manifestations are Tinea corporis and Tinea cruris. The data show that fungal infections were the most common skin manifestation in people with diabetes mellitus.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt atas rahmat dan

hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian ini

dengan judul penelitian “Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien Diabetes Melitus

di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Periode Juni 2008 Sampai

Juni 2011”. Penelitian ini dilakukan sebagai syarat kelulusan dan sebagai tugas

akhir di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya penulis sampaikan

kepada pihak-pihak yang telah membantu proses penelitian maupun penyusunan

laporan hasil penelitian ini, diantaranya kepada :

1. Kepada Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Ibunda dan Ayahanda penulis, Agustina Siagian dan Ashari Panggabean

untuk dukungan doa, motivasi, semangat, serta dukungan finansial.

3. Dr. Kristo A Nababan Sp.KK, selaku dosen pembimbing yang telah

banyak memberikan arahan, masukan, saran serta bimbingan yang sangat

bermanfaat mulai dari proses pembuatan proposal sampai selesainya

laporan hasil penelitian ini.

4. Pihak Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, yang telah

memberikan izin untuk melakukan penelitian di rumah sakit tersebut.

5. Teman-teman yang telah banyak memberikan bantuan, ide dan semangat,

khususnya kepada Juang Zebua, Tulus Laston Manurung, Ika Nopa,

Loshini Athitan, Wila Pohan, dan Wesley Tambunan.

6. Dosen dan senior FK USU, untuk pengalaman dan arahan yang telah

diberikan.

Semoga Allah membalas kebaikan semua pihak yang ikut membantu penyusunan

(7)

Penulis menyadari bahwa laporan hasil penelitian ini masih jauh dari

sempurna. Oleh karena itu masukan, saran dan kritik yang membangun sangat

diharapkan demi perbaikan laporan hasil penelitian ini di kemudian hari.

Medan, Desember 2011

(8)

DAFTAR ISI

2.1.2. Klasifikasi Diabetes Melitus ... 5

2.1.3. Faktor Resiko Diabetes Melitus ... 6

2.1.4. Patofisiologi ... 7

2.1.5. Gejala dan Tanda-Tanda Diabetes Melitus ... 9

2.1.6. Diagnosis ... 10

(9)

2.2. Manifestasi Kulit pada Diabetes Melitus ... 13

2.2.1. Patofisiologi ... 13

2.2.2. Jenis Manifestasi Kulit pada Diabetes Melitus . 14 BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL 20 3.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 20

3.2. Variabel dan Defenisi Operasional ... 20

BAB 4 METODE PENELITIAN... 22

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 24

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sampel ... 24

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul halaman

2.1. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus ... 11

5.1. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin ... 25

5.2. Distribusi sampel berdasarkan usia ... 25

5.3. Distribusi sampel berdasarkan tipe DM ... 26

5.4. Distribusi sampel berdasarkan lamanya menderita DM ... 26

5.5. Manifestasi kulit pada pasien Diabetes Melitus ... 27

5.6. Distribusi manifestasi kulit akibat infeksi pada pasien DM.. 28

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1. Xantoma Eruptif... 14

2.2. Nekrobiosis Lipoidika Diabetikorum ... 15

2.3. Akantosis Nigrikan ... 16

2.4. Granuloma Anulare ... 18

2.5. Bulla Diabetika ... 18

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Daftar Riwayat Hidup

LAMPIRAN 2 Data Induk

(13)

ABSTRAK

Latar belakang : Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah timbulnya manifestasi kulit pada penderita diabetes melitus. Belum diketahui dengan pasti hubungan antara timbulnya manifestasi kulit dengan diabetes melitus, tetapi diduga karena hiperglikemia kronik dan abnormalitas sistem imun. Berbagai kelainan kulit dapat terjadi dan bervariasi disetiap tempat.

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis manifestasi penyakit kulit yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis pada 80 data rekam medik penderita diabetes melitus yang dirujuk ke Departemen Kulit dan Kelamin sejak Juni 2008 sampai Juni 2011. Sampel dipilih dengan teknik total sampling.

Hasil : Dari 80 sampel yang diteliti diperoleh 31 jenis manifestasi kulit dan total 106 manifestasi kulit. Manifestasi kulit yang paling sering terjadi adalah Tinea korporis dan Tinea kruris, yaitu masing-masing sebesar 15.1% , kemudian Pruritus (10.4%) dan Dermatitis kontak (8.5%). Tidak dijumpai kelainan kulit yang berhubungan erat dengan diabetes melitus seperti Acanthosis nigricans dan Necrobiosis lipoidica.

Kesimpulan : Manifestasi kulit yang paling sering terjadi adalah Tinea korporis dan Tinea kruris .Manifestasi kulit akibat infeksi jamur menjadi menifestasi kulit yang paling sering muncul pada penderita diabetes melitus.

(14)

ABSTRACT

Background : Diabetes mellitus is a group of metabolic diseases that can cause various complications. One of the complications that can occur is the onset of skin manifestations in patients with diabetes mellitus. Not known with certainty the relationship between the onset of skin manifestations of diabetes mellitus, but presumably because of chronic hyperglycemia and immune system abnormalities. A variety of skin disorders may occur and vary in every place.

Objective : This study aims to determine the type of manifestation of skin disease that often occurs in people with diabetes mellitus.

Methods : This study is a descriptive study with cross sectional research design conducted at the Haji Adam Malik Medan General Hospital Center. The data was collected through analysis of medical record data on 80 patients with diabetes mellitus who were referred to the Department of Dermatology since June 2008 to June 2011. The sample was selected with a total sampling technique.

Results : Of the 80 samples studied obtained 31 types of skin manifestations and a total of 106 skin manifestations. The most common skin manifestations are Tinea corporis and Tinea cruris, which amounted to 15.1%, and Pruritus (10.4%) and Contact dermatitis (8.5%). There is no skin manifestation with strong associations with diabetes mellitus, such as Acanthosis nigricans and Necrobiosis lipoidica.

Conclusion : The most common skin manifestations are Tinea corporis and Tinea cruris. The data show that fungal infections were the most common skin manifestation in people with diabetes mellitus.

(15)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik

dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,

kerja insulin atau kedua-duanya (Purnamasari, 2009). Penyakit ini menjadi salah

satu penyakit kronik yang dapat membebani masyarakat baik dari sisi ekonomi

maupun kualitas hidup hampir di seluruh dunia (King, Aubert & Herman,1998).

Menurut Powers (2005) dalam Sihombing (2008), beban ekonomi tersebut bisa

berupa biaya perawatan dan produktivitas yang menurun sedangkan beban pada

kualitas hidup tersebut menyangkut banyak aspek termasuk morbiditas dan

mortalitas yang berkaitan dengan komplikasi penyakit tersebut.

Saat ini diabetes melitus menjadi salah satu ancaman utama bagi

kesehatan umat manusia pada abad ke-21. WHO membuat perkiraan bahwa pada

tahun 2000 jumlah penderita diabetes diatas umur 20 tahun berjumlah 150 juta

orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, pada tahun 2025, jumlah itu

akan membengkak menjadi 300 juta orang (Suyono, 2009). Menurut Powers

(2005) kejadian diabetes melitus meningkat seiring bertambahnya usia. Pada

tahun 2000, prevalensi DM di dunia diperkirakan sebesar 0,19% pada orang usia <

20 tahun dan 8,6% pada orang usia > 20 tahun. Pada orang usia > 65 tahun

prevalensi diabetes melitus sebesar 20,1%. Di tahun 2004 sekitar 3,4 juta orang

meninggal akibat konsekuensi dari tingginya kadar gula darah pada orang yang

menderita DM dan lebih dari 80% kematian tersebut terjadi di negara-negara

(16)

Di Indonesia sendiri diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi

diabetes melitus (DM) mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Menurut

penelitian epidemiologi yang dilaksanakan di Indonesia, kekerapan diabetes di

Indonesia berkisar antara 1,4 sampai 1,6% kecuali di dua tempat yaitu di

Pekajangan, suatu desa dekat Semarang, sebesar 2,3% dan di Manado sebesar 6%

(Suyono, 2009). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007,

diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia

45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah

pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8% (Depkes, 2009).

Hiperglikemia kronik pada diabetes melitus berhubungan dengan

kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh,

terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah. Selain organ-organ

tersebut , kulit menjadi salah satu organ yang sering terkena dampak dari diabetes

melitus. Manifestasi kulit berupa infeksi menjadi salah satu komplikasi kronik

yang sering terlihat pada pasien diabetes melitus (Shah & Hux, 2003). Tingginya

kadar glukosa darah menyebabkan meningginya kadar glukosa kulit pada pasien

diabetes melitus sehingga mempermudah timbulnya manifestasi kulit berupa

dermatitis, infeksi bakterial , infeksi jamur, dan lain-lain (Djuanda, 2007). Selain

itu penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa terjadi abnormalitas sistem imun

pada penderita DM sehingga berakibat meningkatnya kejadian infeksi kulit (Shah

& Hux, 2003). Kondisi sel epitel dan mukosa pada penderita DM juga mengalami

peningkatan adhesi terhadap beberapa mikroorganisme patogen seperti Candida

albicans di mulut dan sel mukosa vagina serta Eschericia coli di sel epitel saluran

kemih (Leonhardt & Heymann, 2003).

Menurut Al-Mutairi et al (2006) Manifestasi kulit dijumpai pada 30-71%

penderita diabetes melitus baik tipe 1 maupun tipe 2, dan jenis manifestasi kulit

terbanyak pada pasien diabetes di Department of Dermatology, Al-Farwaniya

Hospital, Kuwait adalah infeksi kulit oleh jamur dan bakteri. Penelitian yang

(17)

pasien diabetes di University Hospital Sao Paulo, Brasil adalah dermatophytosis.

Sedangkan menurut Mahajan, Kuranne dan Sharma (2003), infeksi kulit menjadi

manifestasi kulit yang sering muncul diikuti oleh acne vulgaris di Suchetha

Kripalani Hospital, New Delhi, India. Bervariasinya jenis manifestasi kulit di

setiap tempat dan juga masih sedikitnya penelitian mengenai manifestasi kulit

pada penderita DM di Indonesia membuat hal ini menarik untuk diteliti.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah “Apa sajakah manifestasi penyakit kulit pada penderita

diabetes melitus di RSUP H. Adam Malik Medan?”.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui jenis-jenis penyakit kulit apa saja yang sering terjadi pada penderita

diabetes melitus di RSUP H. Adam Malik Medan dari Juni 2008 sampai Juni

2011.

1.3.2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik sampel yang menderita diabetes melitus disertai

penyakit kulit berdasarkan jenis kelamin dan usia.

b. Mengetahui karakteristik sampel yang menderita diabetes melitus disertai

penyakit kulit berdasarkan tipe diabetes melitus yang diderita.

c. Memperoleh data lamanya pasien menderita diabetes melitus hingga

(18)

d. Mengetahui kisaran besar kadar glukosa darah pada awal timbulnya

manifestasi kulit.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, antara lain :

a. Sebagai sumber data bagi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik

Medan, mengenai jenis penyakit kulit apa saja yang sering muncul

pada penderita diabetes melitus.

b. Bagi peneliti, yaitu untuk menambah pengetahuan mengenai penyakit

diabetes melitus serta manifestasi kulit yang sering muncul pada

penderita diabetes melitus.

c. Bagi peneliti lain, yaitu sebagai referensi untuk melakukan penelitian

(19)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Diabetes Melitus

2.1.1. Defenisi

Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan

karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja

insulin atau kedua-duanya (Purnamasari, 2009).

2.1.2. Klasifikasi Diabetes Melitus

Klasifikasi diabetes melitus menurut ADA (American Diabetes Association) 2009

yaitu :

a. Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes tipe ini disebabkan karena destruksi sel beta pankreas yang bertugas

menghasilkan insulin. Tipe ini menjurus ke defisiensi insulin absolut. Proses

destruksi ini dapat terjadi karena proses imunologik maupun idiopatik.

b. Diabetes Melitus Tipe 2

Tipe ini bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin disertai

defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin

bersama resistensi insulin.

c. Diabetes Melitus Tipe Lain

1. Defek genetik fungsi sel beta akibat mutasi di :

a) kromosom 12, HNF-α ( dahulu MODY 3)

(20)

c) kromosom 20, HNF-α (dahulu MODY 1)

d) kromosom 13, insulin promoter factor ( dahulu MODY 4)

e) kromosom 17, HNF-1β (dahulu MODY 5)

f) kromosom 2, Neuro D1 (dahulu MODY 6) DNA mitokondria

2. Defek genetik kerja insulin : resistensi insulin tipe A, eprechaunism,

sindrom Rabson Mendenhall, diabetes lipoatrofik, lainnya.

3. Penyakit eksokrin pankreas : pankreatitis, trauma/pankreatektomi,

neoplasma, fibrosis kistik, hemikromatosis, pankreatopati fibro kalkulus,

lainnya.

4. Endokrinopati : akromegali, sindrom cushing, feokromositoma,

hipertiroidisme, somatostatinoma, aldosteronoma, lainnya.

5. Karena obat/zat kimia : vacor, pentamidin, asam nikotinat, glukokortikoid,

hormon tiroid, diazoxid, lainnya.

6. Infeksi : rubella kongenital, CMV.

7. Imunologi (jarang) : sindrom Stiffman, antibody antireseptor insulin.

8. Sindrom genetik lain : sindrom Down, sindrom Klinefelter, sindrom

Turner, sindrom Wolfram’s ataksia Friedreich’s, chorea Huntington,

porfiria, sindrom Prader Willi, lainnya.

d. Diabetes Kehamilan

2.1.3. Faktor Resiko Diabetes Melitus

Faktor-faktor risiko terjadinya Diabetes melitus tipe 2 menurut ADA dengan

modifikasi terdiri atas :

a. Faktor risiko mayor :

1) Riwayat keluarga DM.

2) Obesitas.

3) Kurang aktivitas fisik.

(21)

5) Sebelumnya teridentifikasi sebagai IFG.

6) Hipertensi.

7) Tidak terkontrol kolesterol dan HDL.

8) Riwayat DM pada Kehamilan.

9) Sindroma polikistik ovarium.

b. Faktor risiko lainnya :

1) Faktor nutrisi.

9) Konsumsi kopi dan kafein.

10)Paritas.

11)Intake zat besi

(ADA, 2007 )

2.1.4. Patofisiologi

Diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya

kekurangan insulin secara relatif maupun absolut. Defisiensi insulin dapat terjadi

melalui 3 jalan, yaitu :

a. Rusaknya sel-sel β pankreas karena pengaruh dari luar (virus, zat kimia

tertentu, dll).

b. Desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas.

c. Desensitasi/kerusakan reseptor insulin (down regulation) di jaringan

(22)

Aktivitas insulin yang rendah akan menyebabkan ;

a. Penurunan penyerapan glukosa oleh sel-sel, disertai peningkatan

pengeluaran glukosa oleh hati melalui proses glukoneogenesis dan

glikogenolisis. Karena sebagian besar sel tubuh tidak dapat menggunakan

glukosa tanpa bantuan insulin, timbul keadaan ironis, yakni terjadi

kelebihan glukosa ekstrasel sementara terjadi defisiensi glukosa intrasel -

“kelaparan di lumbung padi”.

b. Kadar glukosa yang meninggi ke tingkat dimana jumlah glukosa yang

difiltrasi melebihi kapasitas sel-sel tubulus melakukan reabsorpsi akan

menyebabkan glukosa muncul pada urin, keadaan ini dinamakan

glukosuria.

c. Glukosa pada urin menimbulkan efek osmotik yang menarik H2O

bersamanya. Keadaan ini menimbulkan diuresis osmotik yang ditandai

oleh poliuria (sering berkemih).

d. Cairan yang keluar dari tubuh secara berlebihan akan menyebabkan

dehidrasi, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kegagalan sirkulasi

perifer karena volume darah turun mencolok. Kegagalan sirkulasi, apabila

tidak diperbaiki dapat menyebabkan kematian karena penurunan aliran

darah ke otak atau menimbulkan gagal ginjal sekunder akibat tekanan

filtrasi yang tidak adekuat.

e. Selain itu, sel-sel kehilangan air karena tubuh mengalami dehidrasi akibat

perpindahan osmotik air dari dalam sel ke cairan ekstrasel yang hipertonik.

Akibatnya timbul polidipsia (rasa haus berlebihan) sebagai mekanisme

kompensasi untuk mengatasi dehidrasi.

f. Defisiensi glukosa intrasel menyebabkan “sel kelaparan” akibatnya nafsu

makan (appetite) meningkat sehingga timbul polifagia (pemasukan

makanan yang berlebihan).

g. Efek defisiensi insulin pada metabolisme lemak menyebabkan penurunan

sintesis trigliserida dan peningkatan lipolisis. Hal ini akan menyebabkan

mobilisasi besar-besaran asam lemak dari simpanan trigliserida.

(23)

sebagai sumber energi alternatif karena glukosa tidak dapat masuk ke

dalam sel.

h. Efek insulin pada metabolisme protein menyebabkan pergeseran netto

kearah katabolisme protein. Penguraian protein-protein otot menyebabkan

otot rangka lisut dan melemah sehingga terjadi penurunan berat badan

(Sherwood, 2001).

2.1.5. Gejala dan Tanda-Tanda Diabetes Melitus

Gejala dan tanda-tanda DM dapat digolongkan menjadi gejala akut dan gejala

kronik.

a. Gejala Akut Penyakit Diabetes melitus

Gejala penyakit DM dari satu penderita ke penderita lain bervariasi bahkan,

mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun sampai saat tertentu.

1) Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi serba banyak (Poli), yaitu:

a. Banyak makan (poliphagia).

b. Banyak minum (polidipsia).

c. Banyak kencing (poliuria).

2) Bila keadaan tersebut tidak segera diobati, akan timbul gejala:

a. Banyak minum.

b. Banyak kencing.

c. Nafsu makan mulai berkurang/ berat badan turun dengan cepat

(turun 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu).

d. Mudah lelah.

e. Bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual, bahkan penderita

(24)

b. Gejala Kronik Diabetes melitus

Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita Diabetes melitus adalah sebagai

berikut:

1) Kesemutan.

2) Kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum.

3) Rasa tebal di kulit.

4) Kram.

5) Capai.

6) Mudah mengantuk.

7) Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata

8) Gatal di sekitar kemaluan terutama wanita.

9) Gigi mudah goyah dan mudah lepas kemampuan seksual menurun,bahkan

impotensi.

10)Para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam

kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.

2.1.6. Diagnosis

Diagnosis DM ditegakkan dengan mengadakan pemeriksaan kadar glukosa

darah. Untuk penentuan Diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang

dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah

plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena ataupun kapiler

tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik

yang berbeda sesuai pembakuan WHO, sedangkan untuk pemantauan hasil

(25)

Kriteria diagnosis DM menurut ADA tahun 2007 dapat dilihat pada tabel 1 di

bawah ini

Tabel 2.1. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus

Kriteria diagnosis DM

a. Gejala klasik DM + Kadar glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/ dl (11.1 mmol/L).

Glukosa darah sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir. Gejala klasik adalah: poliuria, polidipsia, polifagia, dan berat badan turun tanpa sebab.

b. Gejala klasik DM + Kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/ dl (7.0 mmol/L).

Puasa adalah pasien tak mendapat kalori sedikitnya 8 jam. c. Kadar glukosa darah 2 jam PP ≥ 200 mg/ dl (11,1 mmol/L)

TTGO dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 gr glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.

Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDTP

tergantung dari hasil yang diperoleh :

TGT : glukosa darah plasma 2 jam setelah beban antara 140-199 mg/dl (7,8-11,0 mmol/L)

GDPT : glukosa darah puasa antara 100 – 125 mg/dl (5,6-6,9 mmol/L)

2.1.7. Patogenesis Komplikasi pada Diabetes Melitus

Banyak mekanisme yang mengaitkan hiperglikemia dengan komplikasi jangka

panjang diabetes. Saat ini, terdapat 2 mekanisme yang dianggap penting :

a. Glikosilasi Non Enzimatik.

Glikosilasi non enzimatik adalah proses perlekatan glukosa secara kimiawi

ke gugus amino bebas pada protein tanpa bantuan enzim. Produk glikosilasi

(26)

dinding pembuluh darah mengalami serangkaian tata ulang kimiawi (yang

berlangsung lambat) untuk membentuk irreversible advanced glycosylation end

products (AGE), yang terus menumpuk di dinding pembuluh. AGE memiliki

sejumlah sifat kimiawi dan biologik yang berpotensi patogenik :

1) Pembentukan AGE pada protein, seperti kolagen, menyebabkan

pembentukan ikatan-silang diantara berbagai polipeptida ; hal ini

kemudian dapat menyebabkan terperangkapnya protein interstisium

dan plasma yang tidak terglikosilasi. Terperangkapnya lipoprotein

densitas rendah (LDL) sebagai contoh, menyebabkan protein ini tidak

dapat keluar dari dinding pembuluh dan mendorong pengendapan

kolesterol di intima sehingga erjadi percepatan aterogenesis. AGE juga

dapat mempengaruhi struktur dan fungsi kapiler, termasuk kapiler di

glomerulus ginjal , yang mengalami penebalan membrane basal dan

menjadi bocor.

2) AGE berikatan dengan reseptor pada banyak tipe sel, seperti sel

endotel, monosit, makrofag, limfosit, dan sel mesangium. Pengikatan

ini menimbulkan beragam aktivitas biologis, termasuk emigrasi

monosit, pengeluaran sitokin dan faktor pertumbuhan dari makrofag,

peningkatan permeabilitas endotel, dan peningkatan proliferasi

fibroblast serta sel otot polos serta sintesis matriks ekstrasel. Semua

efek ini berpotensi menyebabkan komplikasi diabetes.

b. Hiperglikemia intrasel disertai gangguan pada jalur-jalur poliol.

Hiperglikemia intrasel disertai gangguan pada jalur-jalur poliol merupakan

mekanisme utama kedua yang diperkirakan berperan dalam timbulnya komplikasi

yang berkaitan dengan hiperglikemia. Pada sebagian jaringan yang tidak

memerlukan insulin untuk transpor glukosa (misal, saraf, lensa, ginjal, pembuluh

darah), hiperglikemia menyebabkan peningkatan glukosa intrasel, yang kemudian

(27)

menjadi fruktosa. Perubahan ini menimbulkan beberapa efek yang tidak

diinginkan. Penimbunan sorbitol dan fruktosa menyebabkan peningkatan

osmolaritas intrasel dan influks air, dan akhirnya menyebabkan cedera sel osmotik

(Kumar, Salzler & Crawford, 2007).

2.2. Manifestasi Kulit Pada Diabetes Melitus

2.2.1. Patofisiologi

Patofisiologi timbulnya manifestasi penyakit kulit pada penderita diabetes

melitus belum sepenuhnya diketahui. Menurut Djuanda (2007), kadar gula kulit

(glukosa kulit) merupakan 55% kadar gula darah (glukosa darah) pada orang

biasa. Pada penderita diabetes, rasio meningkat sampai 69-71% dari glukosa darah

yang sudah meninggi. Pada penderita yang sudah diobati pun rasio melebihi 55 %.

Gula kulit berkonsentrasi tinggi di daerah intertriginosa dan interdigitalis. Hal

tersebut mempermudah timbulnya dermatitis, infeksi bakterial (terutama

furunkel), dan infeksi jamur (terutama kandidosis). Keadaan-keadaan ini

dinamakan diabetes kulit.

Kondisi hiperglikemia juga menyebabkan terjadinya gangguan mekanisme

sistem imunoregulasi. Hal ini menyebabkan menurunnya daya kemotaksis,

fagositosis dan kemampuan bakterisidal sel leukosit sehingga kulit lebih rentan

terkena infeksi. Pada penderita DM juga terjadi disregulasi metabolisme lipid

sehingga terjadi hipertrigliserida yang memberikan manifestasi kulit berupa

Xantoma eruptif. Pada DM tipe 2 terjadi resistensi insulin sehingga sering terjadi

hiperinsulinemia yang menyebabkan abnormalitas pada proliferasi epidermal dan

(28)

2.2.2. Jenis Manifestasi Kulit pada Diabetes Melitus

Manifestasi kulit tersebut mencakup :

a. Dermatopati Diabetika

Nama dermatopatia sejajar dengan nama-nama retinopati, neuropati, dan

nefropati pada sindrom diabetes melitus. Pada dermatopatia tampak papul-papul

miliar bulat, tersusun secara linier dan terdapat di bagian ekstensor ekstremitas.

Lesi menyembuh sebagai sikatriks dengan lekukan sentral. Lesi primer terlihat

pada penderita yang berusia 30 tahun ke atas (Djuanda, 2007). Patogenesis

dermatopati diabetika diduga terjadinya kelainan mikrovaskular akibat gangguan

sistem kolagen berupa mikroangiopati.

b. Xantoma Eruptif (XE)

Xantoma diabetikorum tampak sebagai papul bulat yang berwarna kuning

kemerah-merahan dan kadang-kadang disertai teleangiektasis. Tempat predileksi

ialah bokong, siku dan lutut. Xantoma terutama terlihat pada wanita berusia 20-50

tahun dengan obesitas. Trauma merupakan faktor predisposisi.

Mekanisme xantoma eruptif pada penderita DM diduga akibat disregulasi

metabolism lipid sehingga menyebabkan terjadinya hipertrigliserid. Adanya

hipertrigliserid akan menyebabkan lipoprotein berakumulasi pada sel makrofag di

dermis kulit yang bermanifestasi sebagai papul eruptif ( Tin, 2009).

(29)

c. Nekrobiosis Lipoidika Diabetikorum (NLD)

NLD terdiri atas bercak numular atau plak merah dengan sentrum kuning.

Biasanya NLD berlokalisasi di kedua tungkai, jarang sekali di badan. Histologik

terdapat degenerasi jaringan ikat dengan focus nekrobiotik di korium. Kolagen

dan elastin berubah menjadi lipid, oleh karena itu NLD juga dinamakan dermatitis

atrophicans diabetic.

NLD dikenal sebagai cutaneous marker dari diabetes melitus. Baik DM

tipe 1 maupun DM tipe 2 dapat bermanifestasi sebagai lesi NLD. Insidensi NLD

berkisar 3-7 per 1000 penderita diabetes melitus (Flórez, Cruces & Jimėnez,

2003).

Patogenesis NLD diduga akibat adanya hiperglikemia yang menyebabkan

disregulasi protein seperti kolagen, sehingga terjadi disgradasi protein

non-enzymatic glycosylation (NEG) dan penumpukan protein Advanced Glycosylation

End Products (AGEs). Sebagai akibatnya terjadi penurunan solubilitas asam dan

enzimatik di dalam kolagen kulit, salah satunya menyebabkan gangguan

mikrovaskuler. Gangguan mikrovaskular ini berupa perubahan arteriolar pada area

yang mengalami nekrobiosis kolagen kulit akibat agregasi platelet. Reaksi

inflamasi ini menghasilkan granulomatosa inflamasi pada arteriolar yang

bermanifestasi sebagai papul atau plak di kulit.

(30)

d. Akantosis Nigrikan

Akantosis nigrikan adalah penyakit kulit yang ditandai penebalan pada

kulit dengan tekstur seperti beludru di area lipatan, terutama daerah leher, axial

atau paha, disertai hiperpigmentasi, kesan kulit kotor dan asimptomatik. Penyakit

ini dapat terjadi karena factor herediter, obesitas, berhubungan dengan gangguan

endokrin, obat ataupun malignansi.

Pada penderita DM telah terjadi gangguan endokrin, pada DM tipe 2

resistensi terhadap insulin predisposisi terjadi hiperinsulinemia. Hiperinsulinemia

ini memicu abnormalitas pada proliferasi epidermal sehingga terjadi penebalan

kulit disertai hiperpigmentasi yang disebut akantosis nigrikan (Tin, 2009).

Gambar 2.3. Akantosis nigrikan (Fitzpatrick, 1997)

e. Ulkus Diabetika

Patogenesis ulkus diabetika meliputi berbagai mekanisme yaitu akumulasi

protein Advanced Glycosylation End Products (AGEs) yanh menyebabkan

gangguan pada kaskade wound healing yang menyebabkan lambatnya

penyembuhan luka. Selain itu menurunnya inervasi sensori kutaneous

menyebabkan gangguan pada signaling neuroinflamatory melalui sel keratinosit,

fibroblast, sel endothelial maupun sel inflamatori yang menyebabkan vaskulopati

(31)

f. Infeksi Kulit

Kemudahan infeksi pada penderita DM disebabkan kondisi hiperglikemia

atau asidosis yang menyebabkan menurunnya fungsi sel T kutaneus dan berakibat

melambatnya gerakan kemotaksis, fagositosis, dan menurunnya kemampuan

bakterisidal sel leukosit. Jenis bakterial dan fungal yang sering terlibat meliputi :

Streptokokus grup A, Streptokokus grup B, Stafilokokus dan Kandida.

g. Bercak Tibial (shin spot)

Makula-makula hiperpigmentasi tampak pada daerah anterolateral tungkai

bawah. Bercak-bercak tersebut berkorelasi dengan neuropatia dolenta dan

arefleksi.

h. Pigmented Pretibial Patches (PPP)

Nama PPP mencakup bercak-bercak tibial (shin spot) dan lesi-lsei bulat,

atrofik, dan dengan lekukan (depresi). Lesi-lesi terakhir ini terdapat di bagian

ekstensor tungkai bawah, terutama didaerah maleolus internus dan pretibial.

i. Malum Perforans Pedis

Ulkus perforans disebabkan oleh perubahan degeneratif pada saraf dan

terdapat pada penderita yang lemah, terutama pada tabes dorsalis, lepra, dan

diabetes melitus.

j. Granuloma Anulare (GA)

Granuloma anulare (GA) adalah peradangan kulit kronis yang ditandai

dengan adanya papul eritema anuler tepi polisiklik dengan sentral datar dan kesan

menyembuh. Biasanya terdapat di area punggung tangan, siku, lutut dan dapat

menyebar ke seluruh badan.

Patogenesis GA terjadi apabila di sekitar pembuluh darah kecil terjadi

reaksi inflamasi yang mengakibatkan gangguan sistem kolagen dan jaringan

(32)

Gambar 2.4. Granuloma anulare (Fitzpatrick, 1997)

k. Bula Diabetika

Bula diabetika adalah kelainan berupa bula berisi cairan bening, tanpa

tanda inflamasi di sekitar bula, dan tidak disertai gejala nyeri atau gatal. Bula

dapat membesar dan bila terkena trauma mudah pecah, meninggalkan area erosi

tertutup krusta. Bula diabetika ini muncul spontan, mendadak dan tidak disertai

tanda inflamasi, lebih sering terjadi di akral dan sering terjadi pada penderita DM

yang kronik dengan neuropati perifer (Flórez, Cruces & Jimėnez, 2003).

Gambar 2.5 Bulla diabetika (Fitzpatrick, 1997)

l. Komplikasi Dermatologik Akibat Pengobatan Diabetes Melitus

Komplikasi dermatologic dapat timbul pada pemberian 3 jenis obat yaitu :

sulfonylurea yang hipoglikemik, senyawa biguanidin, dan insulin. Sulfonylurea

(33)

dermatitis generalisata dengan febris. Biasanya reaksi timbul sesudah 1-3 pekan.

Kadang-kadang timbul foto-sensitisasi atau purpura. Senyawa biguanidin dapat

menyebabkan reaksi dermatologic, tetapi jauh lebih jarang daripada

reaksi dalam alat cerna. Insulin dapat menimbulkan lipodistrofi, obesitas,

reaksi-reaksi alergik (biasanya urtika), atau kadang-kadang juga keloid. Lipodistrofi

hipertrofik menimbulkan penonjolan yang menyerupai lipoma dan tidak nyeri.

(34)

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka kerangka konsep dalam penelitian ini

dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian

3.2. Variabel dan Defenisi Operasional

Variabel-variabel yang diteliti mencakup :

1. Diabetes Melitus (DM), yaitu suatu kelompok penyakit metabolik dengan

karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,

kerja insulin atau kedua-duanya (Purnamasari, 2009).

Kriteria diagnosa DM menurut ADA 2007 adalah :

a. Gejala klasik DM + kadar glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL.

atau

b. Gejala klasik DM + kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL.

c. Kadar glukosa plasma 2 jam pada TTGO ≥ 200 mg/dL.

Gejala klasik DM meliputi poliuria, polidipsia, polifagia, dan berat badan

menurun tanpa sebab yang jelas. Diabetes

melitus

(35)

Klasifikasi Diabetes Melitus (ADA 2009) :

a. Diabetes Melitus Tipe 1

Tipe ini menjurus ke defisiensi insulin absolut.

b. Diabetes Melitus Tipe 2

Tipe ini bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin

disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan

sekresi insulin bersama resistensi insulin.

c. Diabetes Melitus Tipe Lain

d. Diabetes Kehamilan

Adanya diabetes melitus dinilai/diukur dengan melihat data rekam medik

pasien yang dibuat oleh dokter spesialis penyakit dalam. Hasil dari

pengukuran berupa ada atau tidaknya diagnosa diabetes melitus. Skala

pengukuran yang digunakan untuk menilai ada atau tidaknya diabetes

melitus adalah skala pengukuran nominal.

2. Manifestasi penyakit kulit, yaitu setiap kelainan kulit yang dialami pasien

penderita diabetes melitus akibat hiperglikemia kronik yang diderita.

Kelainan kulit tersebut dapat disebabkan karena proses infeksi (bakteri,

jamur, virus), komplikasi DM (diabetic neuropathy, diabetic ulcer),

kelainan kulit karena proses pengobatan DM (Sulphonylurea-related skin

lesions, insulin lipo-atrophy), maupun kelainan kulit yang memiliki kaitan

erat dengan DM (diabetic dermopathy, acanthosis nigricans, xanthoma,

necrobiosis lipoidica, dll).

Adanya manifestasi penyakit kulit dinilai/diukur dengan melihat data

rekam medik pasien yang dibuat oleh dokter spesialis kulit dan kelamin.

Hasil pengukuran berupa ada atau tidaknya manifestasi penyakit kulit

beserta jenis manifestasinya. Skala pengukuran yang digunakan untuk

menilai ada atau tidaknya manifestasi penyakit kulit adalah skala

(36)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk melihat manifestasi

kulit apa saja yang muncul pada pasien penderita diabetes melitus di RSUP H.

Adam Malik Medan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain

potong-melintang (cross sectional study), dimana pengukuran variabel-variabelnya

dilakukan hanya satu kali pada suatu saat (Pramulyo, et al, 2008).

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2011 sampai Oktober 2011 di

Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Rumah sakit ini dipilih

karena merupakan rumah sakit pusat rujukan di Provinsi Sumatera Utara.

4.2.1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah pasien diabetes melitus rawat inap dan

rawat jalan dengan penyakit kulit di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik

Medan sejak Juni 2008 sampai Juni 2011.

4.2.2. Sampel

Sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik total

sampling dengan kriteria inklusi seluruh pasien diabetes melitus yang mengalami

manifestasi kulit dan dirujuk ke Departemen Kulit dan Kelamin sejak Juni 2008

(37)

melitus yang mengalami manifestasi kulit dan tidak dirujuk ke Departemen Kulit

dan Kelamin. Dari kriteria inklusi dan eksklusi diperoleh sampel berjumlah 80

sampel.

4.3. Teknik Pengumpulan Data

Data diperoleh melalui data sekunder yaitu rekam medik pasien penderita

DM yang berobat dan dirujuk ke Departemen Kulit dan Kelamin. Kemudian

dilihat diagnosa kelainan kulit yang terjadi beserta data-data lain yang diperlukan

seperti tipe DM, jenis kelamin, usia, lama menderita DM, dan besar kadar glukosa

darah saat awal timbulnya manifestasi kulit.

4.4. Pengolahan dan Analisis Data

Semua data yang terkumpul dicatat dan dilakukan editing dan coding,

kemudian dimasukkan ke dalam program komputer SPSS (Statistical Package for

Social Science) untuk dianalisis lebih lanjut. Jenis analisis yang digunakan adalah

statistik deskriptif dengan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil analisis data

(38)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan yang berlokasi

di Jalan Bunga Lau No. 17, kelurahan Kemenangan Tani, kecamatan Medan

Tuntungan. Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit kelas A sesuai dengan

SK Menkes No. 355/ Menkes/ SK/ VII/ 1990. Dengan predikat rumah sakit kelas

A, RSUP Haji Adam Malik Medan telah meiliki fasilitas kesehatan yang

memenuhi standar dan tenaga kesehatan yang kompeten. Selain itu, RSUP Haji

Adam Malik Medan juga merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah

pembangunan A yang meliputi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat dan Riau

sehingga dapat dijumpai pasien dengan latar belakang yang sangat bervariasi.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 502/ Menkes/ IX/ 1991tanggal

6 September 1991, RSUP Haji Adam Malik Medan ditetapkan sebagai rumah

sakit pendidikan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera

Utara.

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sampel

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 80 sampel, yang berupa rekam medik dari

pasien DM, rawat inap maupun rawat jalan yang dirujuk ke Departemen Kulit

dan Kelamin. Dari keseluruhan sampel, karakteristik yang dapat diamati adalah

(39)

5.1.2.1. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin

Data distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin

Jenis kelamin Jumlah %

Laki-laki 37 46.3

Perempuan 43 53.8

Total 80 100

Berdasarkan tabel diatas maka dijumpai pasien laki-laki yang menderita DM

dengan manifestasi kulit yaitu sebanyak 37 sampel (46.3%), sedangkan pasien

perempuan sebanyak 43 sampel (53.8%). Dari hasil tabel tersebut dapat dilihat

bahwa sampel berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki-laki.

5.1.2.2. Distribusi sampel berdasarkan usia

Data distribusi sampel berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2. Distribusi sampel berdasarkan usia

Usia (tahun) Jumlah %

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa, frekuensi tertinggi pasien DM dengan

manifestasi kulit terjadi pada kelompok usia 41-60 tahun yaitu sebanyak 50

sampel (62.5%), frekuensi terkecil terdapat pada kelompok usia 21-40 tahun yaitu

(40)

5.1.2.3. Distribusi Sampel berdasarkan tipe DM yang diderita

Data distribusi sampel berdasarkan tipe DM yang diderita tertera pada tabel 5.3.

Tabel 5.3. Distribusi sampel berdasarkan tipe DM

Tipe DM Jumlah %

1 1 1.3

2 79 98.8

Total 80 100

Berdasarkan tipe DM yang diderita, didapatkan hasil sebanyak 79 sampel (98.8%)

untuk DM tipe 2, dan hanya 1 sampel (1.3%) yang menderita DM tipe 1.

5.1.2.4. Distribusi sampel berdasarkan lamanya pasien menderita DM

Data distribusi mengenai lamanya pasien menderita DM sampai timbulnya

manifestasi kulit dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4. Distribusi sampel berdasarkan lamanya menderita DM

Lama (tahun) Jumlah %

<5 44 55

5-10 28 35

>10 8 10

Total 80 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pasien yang menderita DM kurang dari 5

tahun sejumlah 44 sampel (55%), yang menderita DM selama 5-10 tahun

sejumlah 28 sampel (35%), dan hanya 8 sampel (10%) yang menderita DM lebih

(41)

5.1.3 Hasil Analisis Data

Data lengkap mengenai kelainan kulit yang didapatkan pada pasien DM di RSUP

Haji Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel 5.5.

Tabel 5.5. Manifestasi kulit pada pasien Diabetes Melitus

Kelainan Kulit Jumlah %

Dermatitis kontak 9 8.5

Tinea kruris 16 15.1

Tinea korporis 16 15.1

Tinea fasialis 1 0.9

Lupus eritematosus sistemik 1 0.9

Pitiriasis versicolor 1 0.9

Icthyosis vulgaris 1 0.9

Dermatitis seboroik 6 5.7

Ulkus diabetes 4 3.8

Dermatitis exfoliativa generalisata 3 2.8

(42)

Dari 80 sampel yang diperiksa diperoleh 31 jenis manifestasi kulit dan total 106

manifestasi kulit. Tinea korporis dan Tinea kruris menjadi manifestasi kulit yang

paling banyak dijumpai pada pasien DM, yaitu masing-masing sejumlah 16

manifestasi kulit (15.1%). Kelainan kulit yang juga banyak dijumpai adalah

Pruritus sebanyak 11manifestasi kulit (10.4%) dan Dermatitis kontak sebanyak 9

manifestasi kulit (8.5%). Tidak didapati kelainan kulit yang khas pada DM seperti

diabetic dermopathy, acanthosis nigricans, xanthoma, necrobiosis lipoidica, dll.

Berdasarkan jenis infeksinya, maka distribusi manifestasi kulit yang dijumpai

pada pasien DM dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 5.6. Distribusi manifestasi kulit akibat infeksi pada pasien DM

Jenis Infeksi Jumlah %

Kondiloma akuminata 1 0.9

(43)

subtotal 40 78.4

kondiloma akuminata 1 2.0

subtotal 3 5.9

Total 51 100

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa dijumpai total 51 manifestasi kulit akibat

proses infeksi. Dari semua kelainan kulit akibat infeksi, infeksi jamur menjadi

kelainan kulit terbesar, yaitu sebanyak 40 manifestasi kulit (78.4%) , kemudian

disusul dengan infeksi bakteri sebanyak 8 manifestasi kulit (15.7%) dan infeksi

virus sebanyak 3 manifestasi kulit (5.9%). Tidak dijumpai kelainan kulit akibat

infeksi parasit.

5.2. Pembahasan

Dari hasil penelitian terhadap 80 sampel, didapatkan bahwa jumlah pasien DM

yang mengalami manifestasi kulit lebih banyak terjadi pada pasien perempuan

dibandingkan dengan pasien laki-laki, yaitu sejumlah 43 sampel (53.8%)

berbanding 37 sampel (6.3%). Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang

dilakukan dibeberapa Negara. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Foss (2005)

di Brazil, diperoleh jumlah pasien perempuan sebanyak 262 orang (65.3%).

(44)

diperoleh rasio kejadian manifestasi kulit antara pasien perempuan dan laki-laki

sebesar 1,38 : 1. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Al-Mutairi dkk

(2006) di Kuwait, dijumpai bahwa kejadian timbulnya manifestasi kulit pada

pasien DM lebih banyak dijumpai pada laki-laki daripada perempuan dengan

perbandingan 68 sampel (64.1%) berbanding 38 sampel (35.9%).

Berdasarkan usia, frekuensi tertinggi kejadian manifestasi kulit pada pasien DM

terjadi pada kelompok usia 41-60 tahun sebanyak 50 sampel (62.5%) dan

kelompok usia 61-80 tahun sebanyak (32.5%). Usia sampel yang tertua adalah 76

tahun dan yang termuda adalah 21 tahun. Pada penelitian lain dijumpai hasil yang

hampir sama. Penelitian yang dilakukan oleh Al-Mutairi (2006) didapatkan bahwa

manifestasi kulit paling banyak terjadi pada kelompok usia 40-60 tahun sebanyak

45 sampel (42.5%). Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahajan,

Koranne, dan Sharma (2003) didapati kejadian manifestasi kulit paling sering

terjadi pada kelompok usia 41-50 tahun (33%) dan 51-60 tahun (30%).

Dari hasil penelitian ini diperoleh data sebanyak 79 sampel (98.8%) menderita

DM tipe 2 dan hanya 1 sampel (1.3%) yang menderita DM tipe 1. Hal ini serupa

dengan penelitian yang dilakukan Mahajan dkk (2003) dimana penderita DM tipe

2 sebesar 98% dan DM tipe 1 sebesar 2%. Sedangkan pada penelitian yang

dilakukan Foss (2005) diperoleh 31% penderita DM tipe 1 dan 69% penderita DM

tipe 2.

Sedangkan berdasarkan lamanya pasien menderita DM, diperoleh bahwa

manifestasi kulit pada pasien DM paling banyak terjadi pada pasien-pasien yang

telah menderita DM kurang dari 5 tahun, yaitu sebanyak 44 sampel (55%). Hal ini

berbeda dengan hasil penelitian oleh Al-Mutairi (2006), dimana manifestasi kulit

paling banyak terjadi pada pasien yang menderita DM lebih dari 10 tahun yaitu

sebesar 59 sampel (55.7%). Perbedaan ini mungkin terjadi karena pada penelitian

(45)

Kelainan kulit yang paling banyak terjadi adalah Tinea korporis dan Tinea

kruris, masing-masing sebanyak 16 manifestasi kulit (15.1%). Kemudian diikuti

oleh Pruritus sebanyak 11 manifestasi kulit (10.4%) dan Dermatitis kontak

sebanyak 9 manifestasi kulit (8.5%). Sedangkan jenis infeksi yang paling banyak

terjadi adalah infeksi jamur sebanyak 40 manifestasi kulit (78.4%), disusul oleh

infeksi bakteri sebanyak 8 manifestasi kulit (15.7%) dan infeksi virus sebanyak 3

manifestasi kulit (5.9%). Hal ini sesuai dengan teori bahwa pada penderita DM,

gula kulit berkonsentrasi tinggi di daerah intertriginosa dan interdigitalis. Hal

tersebut mempermudah timbulnya dermatitis, infeksi bakterial, dan infeksi jamur

(Djuanda, 2007). Kondisi hiperglikemia juga menyebabkan terjadinya gangguan

mekanisme sistem imunoregulasi. Hal ini menyebabkan menurunnya daya

kemotaksis, fagositosis dan kemampuan bakterisidal sel leukosit sehingga kulit

lebih rentan terkena infeksi. Tidak dijumpai manifestasi kulit yang berhubungan

erat dengan DM seperti Diabetic dermatopathy , Acanthosis nigricans,

Necrobiosis lipoidica, xanthoma dll. Sementara penelitian yang dilakukan

Al-Mutairi menempatkan Pruritus menjadi manifestasi kulit yang paling banyak,

diikuti oleh infeksi jamur dan bakteri. Penelitian yang dilakukan Foss (2005)

mendapatkan Dermatophytosis menjadi manifestasi kulit yang paling banyak

(46)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari penelitian ini, dapat

ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah perempuan penderita DM yang

mengalami manifestasi kulit adalah sebesar 43sampel (53.8%), sedangkan

jumlah laki-laki sebesar 37 sampel (46.3%).

2. Berdasarkan usia,50 sampel (62.5%) penderita DM dengan manifestasi

kulit berada pada kelompok usia 41-60 tahun, kemudian disusul pada

kelompok usia 61-80 tahun yaitu sebanyak 26 sampel (32.5%).

3. Tipe DM yang paling banyak dijumpai adalah DM tipe 2, yaitu sebesar 79

sampel (98.8%).

4. Manifestasi kulit paling banyak muncul pada kelompok pasien yang

menderita DM kurang dari 5 tahun, yaitu sebesar 44 sampel (55%).

Kemudian disusul dengan kelompok pasien yang menderita DM selama

5-10 tahun yaitu sebesar 28 sampel (35%).

5. Manifestasi kulit yang paling banyak dijumpai yaitu Tinea korporis dan

Tinea kruris masing-masing sebanyak 16 kasus (15.1%) kemudian

Pruritus sebanyak 11 kasus (10.4%) dan Dermatitis kontak sebanyak 9

kasus (8.5%).

6. Berdasarkan jenis infeksinya, maka kelainan kulit akibat infeksi jamur

(47)

6.2. Saran

1. Pasien penderita diabetes melitus hendaknya diberi edukasi untuk menjaga

kebersihan kulit, agar terhindar dari infeksi kulit.

2. Hendaknya penelitian mengambil sampel dari rentang waktu yang lebih

lama agar diperoleh jumlah sampel yang lebih besar.

3. Kepada RSUP Haji Adam Malik Medan dan pihak-pihak terkait, agar data

Rekam Medik lebih lengkap dan lebih rapi.

4. Pasien DM yang mengalami manifestasi penyakit kulit hendaknya dirujuk

ke Departemen Kulit dan Kelamin untuk mendapat penanganan.

(48)

DAFTAR PUSTAKA

ADA. 2007. Clinical Practise Recommendation : Report of the Expert Committee

on the Diagnosis and Classifications of Diabetes Mellitus Diabetes Care.

USA : ADA, 2-24.

Clare-Salzler, MJ., Crawford, JM., Kumar, Vinay. 2007. Pankreas. Dalam :

Kumar, Cotran, Robbins. Buku Ajar Patologi. Edisi 7. Volume 2. Jakarta :

EGC, 711-734.

Djuanda, Suria. 2008. Hubungan Kelainan Kulit dan Penyakit Sistemik. Dalam :

Djuanda, adhi., Hamzah, Mochtar., Aisah, Siti., ed. Ilmu Penyakit Kulit

dan Kelamin. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,

318-326.

Fitzpatrick, TB., Johnson RA., Woff, K., Polano, MK. 1997. Color Atlas and

Synopsis of Clinical Dermatology. Newyork : McGraw-Hill, 967.

Florez, A., Cruces, M., Jimenez, GP., 2003. Cutaneous Manifestations of

Systemic Disease. In : Kerder, FA., Acosta, FJ. Dermatology, Just The

Fact. NewYork : McGraw-Hill, 219-235.

Foss, NT., Polon, DP., Takada, MH., Freitas, MCF., Foss, MC., 2005. Skin Lesion

in Diabetic Patients. Rev Saūde Pūblica. 39(4).

Gazali, MV., et al. 2008. Studi Cross-Sectional. Dalam : Sastroasmoro, Sudigdo.,

Ismael, Sofyan. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta :

(49)

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Tahun 2030 Prevalensi

Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 21,3 juta Orang. Available from :

http//www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/414- Tahun 2030

Prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 21,3 juta Orang/.

[accessed 10 March 2011].

King, H., Aubert, RE,. Herman, WH. 1998. Global Burden of Diabetes,

1995-2025. Diabetes Care 21 : 1414-1431.

Leonhardt, JM., Heyman, WR. 2003. Cutaneous Manifestation of Other

Endocrine Disease. In : Freedberg, IM., Elsen, AZ., Wolff, K., Austen,

KF., Goldsmith, LA., Katz, SI., ed. Fitzpatrick’s Dermatology in General

Medicine. Newyork : McGraw-Hill, 1662-1670.

Mahajan, S. Kuranne, RV. Sharma, SK. 2003. Cutaneous Manifestation of

Diabetes Melitus. Indian Journal of Dermatology, Venereology and

Leprology. 69(2) : 105-108.

Manaf, Asman. 2009. Insulin : Mekanisme Sekresi dan Aspek Metabolisme.

Dalam : Sudoyo, Aru., Setyohadi, Bambang., Alwi, Idrus., ed. Buku Ajar

Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jilid 3. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu

Penyakit Dalam FK UI , 1896-1899.

Mutairi, NA., Zaki, Amr., Sharma, AK., Sheltani, MA., 2006. Cutaneous

Manifestation of Diabetes Mellitus, Study from Department of

Dermatology, Farwaniya Hospital, Kuwait. Medical Principles and

(50)

Purnamasari, Dyah. 2009. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Dalam :

Sudoyo, Aru., Setyohadi, Bambang., Alwi, Idrus., ed. Buku Ajar Ilmu

Penyakit Dalam. Edisi 5. Jilid 3. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit

Dalam FK UI, 1880-1883.

Powers, AC. 2005. Diabetes Mellitus. In : Brauwald, Fauci, Kasper, Hauser,

Longo, Jameson, ed. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 16th

edition. Newyork : McGraw-Hill, 2152-2180.

Roglic, Gojka et al. 2004. Global Prevalence of Diabetes, Estimates for The Year

2000 and Projections for 2030. Diabetes Care 27 : 1047-1053.

Shah, BR., Hux, JE. 2003. Quantifying The Risk of Infection Disease For People

With Diabetes. Diabetes Care 26 : 510-513.

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta :

EGC

Sihombing, Bistok. 2008. Prevalensi Penyakit Arteri Perifer Pada Populasi

Penyakit Diabetes Melitus di Puskesmas Kota Medan. Bagian Ilmu

Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran USU. Available from:

http : //repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6331/1/08E00385.pdf.

[accessed 10 March 2011]

Suyono, Slamet. 2009. Diabetes Melitus di Indonesia. Dalam : Sudoyo, Aru.,

Setyohadi, Bambang., Alwi, Idrus., ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.

Edisi 5. Jilid 3. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI,

(51)

Tin, Melok. 2009. Diagnosis And Holistic Management Diabetes Melitus,

Manifestasi Kulit Pada Diabetes Melitus. Seminar Diagnosis and Holistic

Management Diabetes Melitus RSU PKU Muhammadiyah Delanggu, 17

januari 2009.

World Health Organization. 2011. Diabetes. Available from :

http : //www.who.int/mediacentre/factsheets/fs312/en/. [accessed 10

(52)

LAMPIRAN 1

DATA RIWAYAT HIDUP

Nama : Lider Olmen Panggabean

Tempat/Tanggal Lahir : P. Sorkam, 10 Desember 1990

Agama : Islam

Alamat : Jl. Bunga Wijaya Kusuma Gg. Mesjid Taqwa No. 71

P.Bulan ,Medan

Riwayat Pendidikan : 1. Tahun 1996 lulus Taman Kanak-Kanak Sibuluan

Indah

2. Tahun 2002 lulus Sekolah Dasar Negeri 085120

Sibolga

3. Tahun 2005 lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri

2 Pandan Nauli

4. Tahun 2008 lulus Sekolah Menengah Atas Negeri 1

Matauli Pandan

Riwayat Pelatihan : 1. Basic Life Support and Traumatology TBM FK

USU

(53)

Riwayat Organisasi : 1. Divisi Kerohanian Panitia Hari Besar Islam ( PHBI )

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Periode 2008-2009

2. Divisi Pendidikan dan Pelatihan Tim Bantuan Medis

(TBM) FK USU PEMA FK USU

3. Sekretaris Jenderal Pemerintahan Mahasiswa

Fakultas Kedokteran USU ( PEMA FK USU )

(54)

LAMPIRAN 2

164275 perempuan 63 2 1 Folikulitis , furunkulosis

(55)

376606 laki-laki 21 1 1 DEG, Psoriasis

264850 laki-laki 58 2 4 Folikulitis, Ulkus diabetes

026923 perempuan 54 2 1 DK

278756 laki-laki 64 2 1 Tinea korporis, Dermatitis seboroik

101552 perempuan 49 2 2 Tinea korporis, Tinea kruris

033125 laki-laki 41 2 3 Dermatitis seboroik, Tinea kruris

(56)

392031 laki-laki 53 2 6 Candidiasis

345602 laki-laki 45 2 8 Tinea korporis

404453 laki-laki 56 2 6 Dermatitis seboroik

043241 perempuan 58 2 12 Keratosis actinic

(57)

LAMPIRAN 3

OUTPUT DATA HASIL PENELITIAN

Frekuensi Data Penelitian

Jenis kelamin

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid 1.0 1 1.3 1.3 1.3

2.0 79 98.8 98.8 100.0

(58)

Kelompok lamanya menderita DM

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Manifestasi kulit pada pasien DM

Frequency Percent Valid Percent

(59)

Miliaria rubra 3 2.8 2.8 84.9

Frequency Percent Valid Percent

(60)

Manifestasi kulit berupa infeksi

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Tinea kruris 16 31.4 31.4 31.4

Tinea Korporis 16 31.4 31.4 62.7

Tinea fasialis 1 2.0 2.0 64.7

P versicolor 1 2.0 2.0 66.7

Tinea pedis 1 2.0 2.0 68.6

candidiasis 5 9.8 9.8 78.4

folikuklitis 2 3.9 3.9 82.4

furunkulosis 2 3.9 3.9 86.3

ulkus mole 2 3.9 3.9 90.2

abses 1 2.0 2.0 92.2

impetigo 1 2.0 2.0 94.1

herpes zooster 2 3.9 3.9 98.0

kondiloma akuminata 1 2.0 2.0 100.0

Gambar

Gambar  2.1. Xantoma eruptif  (Fitzpatrick, 1997)
Gambar 2.4.  Granuloma anulare (Fitzpatrick, 1997)
Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian
Tabel 5.1. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin
+4

Referensi

Dokumen terkait

    Antibiotik adalah salah satu obat yang paling sering diresepkan dalam pengobatan modern dan digunakan untuk mengobati infeksi bakteri pada tubuh jika digunakan dengan

Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian dengan jenis studi Deskriptif Retrospektif, yaitu untuk mengetahui Pola Penyakit Kulit pada Bangsal Rawat Inap Anak di Rumah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola atau jenis kelainan kulit yang sering diderita pasien HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.. Rancangan

Dapat disimpulkan bahwa prevalensi pasien bakteri penyebab infeksi kulit terbanyak adalah dari kelompok usia muda 16 – 30 tahun, dengan infeksi kulit terbanyak adalah

menyebabkan infeksi kulit di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2015. 1.3.2

Dan untuk gejala klinis yang paling sering dirasakan oleh penderita adalah pusing berputar, mual muntah, dan keringat dingin (27,3%).. Kata kunci:

Pseudomonas aeruginosa adalah salah satu kuman yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial yang sering terdeteksi di rumah

Penyakit kulit baik sebagai diagnosis utama maupun sebagai diagnosis penyerta yang umum dijumpai pada sampel penelitian adalah infeksi jaringan kulit yakni furunkel dan karbunkel,