• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Kerangka Konsep

Karakteristik - Umur - Jenis kelamin - Tingkat pendidikan Personal Hygiene - Kebersihan kulit - Kebersihan kuku,tangan,dan kaki - Kebersihan mulut - Kebersihan rambut Sanitasi Dasar - Penyediaan Air Bersih - Jamban

- Pengelolaan limbah - Pembuangan sampah - Kondisi fisik asrama

Keluhan Kesehatan - Diare

- Sakit gigi

- Gatal-gatal/penyakit kulit

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Disabilities are as old as humanity. Penyataan ini di tuliskan oleh Robert M Goldenson dalam bukunya yang berjudul Disability and Rehabilitation handbook. Goldensons mengatakan bahwa disabilitas sudah ada sejak kehidupan ada. Penelitian Arkeologi telah mengumumkan bahwa gangguan skeletal telah ada sejak jaman dahulu.

Disabilitas merupakan sebuah istilah baru untuk menjelaskan mengenai keadaan seseorang yang memiliki ketidakmampuan berupa keadaan fisik, mental, kognitif, sensorik, emosional, perkembangan atau kombinasi dari beberapa keadaan tersebut. Istilah disabilitas saat ini lebih sering digunakan untuk menggantikan istilah penyandang cacat. Hal ini dikarenakan disabilitas terkesan lebih halus istilahnya dari penyandang cacat.

Menurut Muhtaj (2008), dapat disimpulkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama dengan masyarakat non disabilitas. Sebagai bagian dari warga negara Indonesia, sudah sepantasnya penyandang disabilitas mendapatkan perlakuan khusus, yang dimaksudkan sebagai upaya perlindungan dari kerentanan terhadap berbagai tindakan diskriminasi dan terutama perlindungan dari berbagai pelanggaran hak asasi manusia. Perlakuan khusus tersebut dipandang sebagai upaya maksimalisasi penghormatan, pemajuan, perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia universal.

Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang disabilitas, penyandang disabilitas adalah orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak.

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan penyandang cacat harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial,ekonomis, dan bermartabat. Pemerintah wajib menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan memfasilitasi penyandang cacat untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomis. Disabilitas bukan merupakan kecacatan semata namun merupakan hasil interaksi dari keterbatasan yang dialami seseorang dengan lingkungannya, bukan hanya fisik atau jiwa, namun merupakan fenomena multi dimensi yang terdiri dari fungsi tubuh,keterbatasan aktivitas, hambatan partisipasi dan faktor lingkungan.

Menurut pasal 5 ayat (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM) diatur bahwa setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya. Kelompok masyarakat rentan antara lain yaitu orang lanjut usia,anak-anak, fakir miskin, wanita hamil, dan penyandang cacat/penyandang disabilitas. Maka, dapat disimpulkan bahwa hak penyandang disabilitas adalah hak yang diberikan kepada penyandang

disabilitas untuk memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.

Hasil analisis dari Global Burden of Disease World Health Organization tahun 2014 didapatkan bahwa dari sekitar 978 juta orang populasi dunia, 15,3% mengalami disabilitas sedang, 2,9% mengalami disabilitas parah. Pada populasi usia 0-14 tahun prevalensinya berturut-turut adalah 5,1% dan 0,7%, sedangkan pada populaso usia 15 tahun atau lebih sebesar 19,4% dan 3,8%.

Berdasarkan data Susenas tahun 2012 penyandang disabilitas terbanyak adalah penyandang yang mengalami lebih dari satu jenis keterbatasan,yaitu sebesar 39,97%, diikuti keterbatasan melihat, dan berjalan atau naik tangga. Sensus penduduk 2010 mengumpulkan data mengenai penduduk yang mengalami kesulitan melihat, mendengar, berjalan atau naik tangga, mengingat atau berkonsentrasi atau berkomunikasi dan kesuliltan mengurus diri sendiri. Kesulitan disini terbagi menjadi dua, yakni sedikit dan parah. Jumlah penduduk terbanyak yang mengalami kesulitan sedikit dan parah terdapat di lima provinsi yakni, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara.

Disabilitas erat kaitannya dengan kesehatan baik fisik maupun mental. Disabilitas banyak dilatarbelakangi masalah kesehatan, dan sebaliknya kondisi disabilitas juga dapat memengaruhi kesehatan. Sektor kesehatan berperan dalam upaya pencegahan hingga rehabilitasi. Dalam upaya pelayanan kesehatan, penyandang disabilitas perlu mendapatkan pelayanan khusus dan terjangkau sesuai kebutuhan khusus dari disabilitas yang dimilikinya. Namun, kesehatan bukanlah satu bidang yang dapat berdiri sendiri. Derajat dan pelayanan kesehatan

juga dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya serta pelayanan dan penyediaan fasilitas sektor lain.

Masalah terbanyak yang dialami orang berkebutuhan khusus di Indonesia adalah kemampuan mengurus diri, capaian wilayah tertinggi di Jawa Timur (BPSN,2010). Keadaan fisik sesorang mempengaruhi tingkat personal hygiene seseorang termasuk dalam kebersihan gigi dan mulut seseorang hal ini didukung oleh penelitian Aldiaman H,Adhani R,Adenan(2016) yang menyatakan bahwa penderita stroke yang seringkali mengalami disabilitas panjang sangat sulit untuk mempertahankan kebersihan mulutnya. Mengukur kebersihan gigi dan mulut merupakan upaya dalam menentukan keadaan kebersihan gigi dan mulut seseorang.

Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Suharsimi(2013) yang menyatakan bahwa pada anak disabilitas intelektual (retardasi mental), masalah yang terjadi adalah kelemahan atau kurangnya kemampuan pada anak yang disertai keterbatasan dalam kemampuan mengurus diri (personal hygiene)

Panti Karya Hephata adalah tempat rehabilitasi para penyandang disabilitas yang dibina HKBP, berdiri pada 3 Desember 1923 oleh Tuan Robert Richtig. Panti Karya Hephata melayani berbagai tingkat dan jenis kecacatan yang meliputi tuna netra, tuna rungu, cacat mental (tuna grahita) dan tuna daksa. Terdapat 95 orang penyandang disabilitas di Panti Karya Hephata yang terdiri dari usia anak-anak hingga dewasa.

Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan di Panti Karya Hephata, ditemukan beberapa masalah personal hygiene, dan sanitasi dasar dari para

penyandang disabilitas yang ditandai dari kuku penyandang disabilitas yang panjang dan kotor, sampah yang bertebaran dimana-mana dan tidak memiliki tempat pembuangan akhir ,serta saluran pembuangan akhir limbah yang tidak ada` Berdasarkan wawancara dengan petugas yang menjaga penyandang disabilitas di panti karya hephata, beliau menyatakan bahwa terdapat beberapa keluhan kesehatan yang dialami oleh anggota panti, dan yang paling banyak didapati adalah cacingan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi personal hygiene seseorang adalah kondisi fisik. Jika kondisi fisik sedang sakit atau bahkan tidak berfungsi dengan baik tentu akan menyebabkan kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis ingin mengetahui Personal Hygiene, Sarana Sanitasi Dasar, Serta Keluhan Kesehatan Pada Penyandang Disabilitas di Panti Karya Hephata Laguboti Kabupaten Toba Samosir Tahun 2016.

Dokumen terkait