Bagian kerangka konsepsi ini akan dijelaskan hal-hal yang berkenan dengan konsep yang digunakan oleh peneliti dalam penulisan Tesis ini. Konsep pada dasarnya berperan dalam penelitian Tesis ini adalah untuk menghubungkan Teori hukum dalam perdagangan internasional dan observasi mengenai ketentuan dan kebijakan pemerintah indonesia dalam menghadapi perdagangan bebas, Konsep ini juga dapat diartikan sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dalam hal-hal yang khusus yang biasa disebut dengan defenisi operasional. Definisi operasional ini mempunyai peranan penting dalam menghindarkan perbedaan (diskriminasi). Pengertian antara penafsiran mendua (double) atau biasa juga disebut dengan istilah “debius” dari suatu istilah yang dipergunakan. Dalam proses penelitian tesis ini dipergunakan juga defenisi operasional untuk memberikan pegangan bagi penulis, yakni sebagai berikut :
48
Sekilas Tentang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Pengertian harmonisasi berasal dari ilmu musik, yang kemudian digunakan Ilmu Seni. Dalam musik dikenal harmonisasi nada-nada dan seni berkembang harmonisasi warna-warna, kata-kata, frase dan sebagainya. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) tidak diberikan perumusan mengenai kata harmoni atau harmonisasi. Yang ada ialah padanan kata harmoni yaitu serasi, selaras, sepadan.
Dalam Collins Cobuild Dictionary (1991) ditemukan kata-kata : harmonious dan harmonize dengan penjelasan sebagai berikut :
1. A Relationship, agreement etc. That harmonius is friendly and peaceful.
2. Things which are harmonius have parts which make up an attractive whole
and which are proper proportion to each other
3. When people harmonize, they agree about issue or subject in a friendly,
peaceful ways;suitable, reconcile
4. If you harmonize teo things, they fit in with each other is part of a system, society etc.
Beberapa unsur dapat ditarik dari perumusan-perumusan dalam beberapa kamus tersebut antara lain :
1. Adanya hal-hal yang bertentangan, kejanggalan.
2. Mencocokkan hal-hal yang bertentangan secara proporsional agar membentuk satu keseluruhan yang menarik, sebagai bagian dari satu sistem itu, atau masyarakat.
3. Terciptanya suasana persahabatan dan damai.
Pada tahun 1902 Rudolf Stambler di Jerman telah mengutarakan suatu konsep bahwa tujuan atau fungsi hukum adalah harmonisasi pelbagai maksud, tujuan dan kepentingan antar individu dengan individu dan atar individu dengan masyarakat.
Prinsip-prinsip hukum yang adil, yang mencakup harmonisasi antara maksud tujuan serta kepentingan perorangan dan maksud tujuan serta kepentingan umum terdiri dari dua unsur yaitu :
1. Saling menghormati maksud tujuan dan kepentingan masing-masing 2. Partisipasi semua pihak dalam usaha mencapai maksud dan tujuan
bersama.49
Harmonisasi hukum dapat juga diartikan sebagai upaya/proses untuk menjadikan hukum nasional suatu negara mempunyai prinsip ataupun kaedah yang sama tentan masalah yang sama dengan negara-negara lainnya, baik secara regional maupun global. Tujuan harmonisasi hukum adalah agar hubungan-hubungan hukum yang diatur oleh suatu negara sejalan atau tidak begitu berbeda penerapannya dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku pada negara-negara lain.50 Harmonisasi hukum dapat juga digambarkan sebagai suatu upaya yang dilaksanakan dengan proses untuk membuat hukum nasional dari negara-negara anggota ASEAN mempunyai prinsip atau pun pengaturan yang sama tentang masalah yang serupa di masing-masing jurisdiksinya.51
Tarif, atau bea impor adalah pajak-pajak yang dikenakan atas barang-barang impor dengan tujuan utama untuk meningkatkan harga jualnya di pasar negara
49
LM. Gandhi, Harmonisasi Hukum Menuju Hukum Responsif, (Jakarta : Fakutas Hukum Universitas Indonesia, 1995), Hlm., 4.
50
Suhaidi , Hukum Transaksi Internasional, (Medan : Sekolah Pascasarjana Ilmu Hukum Univeristas Sumatera Utara, 2009), Hlm., 1.
51
Komar Kantaatmadja, Harmonisasi Hukum Negara-Negara ASEAN, Kertas Kerja Pada Simposium Nasional Aspek-aspek Hukum Kerjasama Ekonomi antara Negara-negara ASEAN dalam rangka AFTA, (Bandung : Fakultas Hukum UNPAD, 1993), Hlm. 3.
pengimpor dengan tujuan utama mengurangi persaingan bagi pada produsen domestik. Beberapa negara yang lebih kecil juga menggunakannya untuk meningkatkan penerimaan baik dari impor maupun ekspor.52 Tarif juga dapat diartikan sebagai klasifikasi barang dan pembebanan bea masuk atau bea keluar.53
Bea masuk adalah pungutan negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan yang dikenakan terhadap barang yang diimpor.
GATT pada dasarnya mengakui bahwa sebuah negara mempunyai hak untuk melindungi industri dalam negerinya dengan alasan-alasan tertentu, namun satu-satunya cara yang diperbolehkan adalah dengan tarif. Hambatan-hambatan selain tarif diusahakan sejauh mungkin diubah menjadi tarif, walaupun akan membuat tingkat tarif meninggi (tariffication). Tarif juga diharapkan bisa menjadi alat yang digunakan oleh suatu negara ketika harus membalas praktek perdagangan tidak adil yang dilakukan oleh negara anggota lainnya, walaupun sebenarnya, tarif memberikan proteksi yang kecil. Hal ini bisa dipahami karena GATT bukan hanya berkeinginan menurunkan tingkat tarif tapi juga menghilangkannya dan mengurangi, sampai pada taraf tertentu menghilangkan, regulasi pemerintah dalam bidang perdagangan.
Bentuk-bentuk hambatan non tarif dalam Putaran Tokyo dan putaran-putaran perundingan GATT dan WTO antara lain :
52
Donald A. Ball, dkk., International Business, Bisnis Internasional Tantangan Persaingan
Global, (Jakarta : Salemba Empat , Buku 1, Edisi 9, 2004), Hlm. 160.
53
Pasal 1 ayat 21 Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan.
a. Subsidi dan tindakan balasan atas subsidi;54 b. Hambatan teknis;55
c. Hambatan Administratif;56
d. Government Procurement (Pembelian Negara);57
e. Dumping dan Bea Masuk Anti Dumping;58
54
Subsidi adalah penyaluran bantuan dalam bentuk finansial yang dilakukan oleh pemerintah atau instansi publik tertentu. Subsidi disalurkan dalam rangka pembangunan ekonomi baik dalam rangka bantuan, pengembangan dan atau perlindungan suatu industri atau sektor ekonomi yang dipandang sensitif serta untuk memperkuat daya saing ekspor. Subsidi bisa berupa subsidi domestik atau juga subsidi ekspor. Subsidi ekspor dilarang oleh GATT dalam pasal VI, sedangkan bentuk subsidi lainnya ada yang diperbolehkan, diperbolehkan dengan syarat dan dilarang.
55
Putaran Tokyo mengatur hambatan non tarif jenis ini dalam Agreement on Technical
Barriers to Trade atau lebih dikenal dengan standar code. Standar code ini merupakan
penyempurnaan dari aturan GATT, yaitu pasal I dan III, yang mengatur tentang dilarangnya spesifikasi yang digunakan untuk melindungi industri dalam negeri; pasal IX tentang aturan dalam merk; pasal X mengatur tentang publikasi peraturan administratif yang mencakup juga standar-standar produk; pasal XI dan XX berkenaan dengan referensi umum mengenai standar dan peraturan-peraturan yang terkait.
56
Hambatan administrasi adalah hambatan yang terjadi di kepabeanan yang menyangkut penilaian pada produk impor yang masuk. Penilaian ini harus sesuai dengan kenyataan praktek dunia perdagangan dan melarang cara penentuan penilaian yang arbiter/semena-mena dan fiktif. Dikenal sebagai custom valuation. Masalah penilaian yang bertele-tele akan sangat merugikan pihak importir karena akan ada keterlambatan waktu karena barang tertahan di pelabuhan yang akan menambah beban biaya karena harus membayar lebih atas keterlambatan itu. Harga produk pun bisa berpengaruh. Penilaian di pabean ini penting untuk menentukan tingkat bea masuk barang tersebut. GATT mengaturnya dalan pasal VII. Putaran Tokyo mengenai custom valuation ini mengandung serangkaian peraturan mengenai valuasi, bersifat meluaskan dan merinci aturan valuasi yang sudah diatur dalam Pasal VII GATT.
57
Putaran Tokyo menghasilkan Code on Government Procurement dengan maksud untuk membuka terjadinya kompetisi internasional dalam hal pembelian yang dilakukan oleh suatu negara untuk pembangunan infrastruktur seperti waduk, jalan atau jembatan dan lain-lain ataupun untuk keperluan pelayanan publik. Banyak negara, terutama negara-negara maju serta para pengusahanya, yang sangat berkepentingan dengan keterbukaan tender dalam hal pembelian negara ini dan menginginkan masuk dalam perjanjian GATT karena melihat bahwa masalah ini bisa menjadi alat untuk mendiskriminasi produk dan pemasok dari luar negeri dan memproteksi industri dalam negeri yang pastinya melanggar prinsip GATT tentang Most Favoured Nation serta National Treatment. Sedangkan di lain pihak negara-negara berkembang, yang sektor pemerintahnya umumnya adalah pembeli terbesar, berkepentingan untuk tidak membuka terlalu lebar bagi masuknya tender bagi pihak asing dalam pembelian negara karena bisa menjadi stimulus bagi industri dalam negerinya untuk mendapatkan keuntungan.
58
Dumping mempunyai dua definisi. Pertama, dumping adalah praktek yang dilakukan oleh sebuah perusahaan yang menjual produk ekspornya pada harga yang lebih rendah daripada harga produk itu jika dijual di negara asalnya. Definisi dumping ini dipakai dalam Putaran Kennedy dan Putaran Tokyo mengenai anti dumping duties. Sementara definisi dumping yang disepakati dalam
Regionalisme dapat diartikan sebagai paham pengelompokan geografis yang sesuai dengan kriteria homogenitas para anggotanya. Tujuan terbentuknya kawasan regional dalam perekonomian :
1. Meningkatkan pembangunan ekonomi dan sosial negara-negara anggota; 2. Meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi ekonomi nasional
masing-masing negara anggota;
3. Menyeimbangkan peta kekuatan ekonomi dunia sehingga benar-benar tercipta interpedensi;
4. Memperkuat posisi negara-negara anggotanya dalam berbagai forum perundingan internasional;59
Selain itu juga terdapat istilah regionalisation (regionalisasi) dan regionalism (regionalisme). Regionalisasi adalah upaya penyatuan perkonomian yang didorong oleh pasar dan biasanya didorong oleh kekuatan pasar dan perkembangan teknologi yang sama dengan proses globalisasi. Sedangkan menurut Lamberte, regionalisasi adalah upaya penyatuan perekonomian yang didorong oleh pasar yang dimulai dari
Putaran Uruguay adalah praktek yang dilakukan oleh suatu perusahaan yang menjual produk ekspornya pada harga yang lebih rendah daripada harga normal produk itu. Putaran Uruguay juga menentukan kriteria sebuah perusahaan dianggap melakukan dumping, yaitu : (i) Harga ekspornya lebih rendah daripada harga perbandingan untuk barang sejenis yang digunakan untuk konsumsi di dalam negeri pengekspor. (ii) Bila tidak ada penjualan dipasar domestik, maka digunakan perbandingan harga ekspor ke pasar negara ketiga. (iii) Bila ukuran pertama dan kedua tidak ada, maka digunakan suatu ukuran ketiga yakni dengan diadakan pembentukan harga yang didasarkan pada biaya produksi ditambah dengan satu jumlah biaya untuk administrasi, pemasaran dan biaya lainnya ditambah dengan suatu jumlah keuntungan yang wajar.
59
proses reformasi perkonomian secara unilateral di masing-masing negara dalam suatu kawasan.60
Kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar.61 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah unsur pelaksana tugas pokok dan fungsi Departemen Keuangan di bidang kepabeanan dan cukai.62 Pesatnya perkembangan industri dan perdagangan menimbulkan tuntutan masyarakat agar pemerintah dapat memberikan kepastian hukum dalam dunia usaha. Pemerintah khususnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang berfungsi sebagai memfasilitasi perdagangan harus dapat membuat suatu hukum kepabeanan yang dapat mengantisipasi perkembangan dalam masyarakat dalam rangka memberikan pelayanan dan pengawasan yang lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah.
Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada
Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari World Customs Organization yang berpusat di Brussels, Belgium, penjualan produk
antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya. Perdagangan bebas juga dapat didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar
60
Mario B. Lamberte, An Overview of Economic Cooperation and Integration in Asia, dalam
Asian Economic Cooperation and Integration, (Manila : Asian Development Bank, 2005), hlm. 4.
61
Pasal 1 Ayat 1 Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan.
62
Pasal 1 Ayat 10 Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan.
individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda.63 Pengertian kawasan perdagangan bebas dalam Kyoto Convention yang mendefinisikan free zone sebagai berikut : “Free Zone” means a part of the territory
of a Contracting Party where any goods introduced are generally regarded, insofar as import duties and taxes are concerned, as being outside the Customs territory.64
Daerah perdagangan bebas (Free Trade Area) adalah suatu kawasan dimana tarif dan kuota antara negara anggota dihapuskan, namun masing-masing negara tetap menerapkan tarif mereka masing-masing terhadap negara bukan anggota.65
Common Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT) adalah program tahapan
penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif yang disepakati bersama oleh negara-negara ASEAN.66
Industri Dalam Negeri adalah: keseluruhan produsen dalam negeri barang sejenis atau produsen dalam negeri Barang Sejenis yang produksinya mewakili sebagian besar (lebih dari 50%) dari keseluruhan produksi barang yang bersangkutan67
63
http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas diakses pada tanggal 10 Juli 2009 64
Text of The Revised Kyoto Convention : International Convention on The Simplification
And Harmonization Of Customs Procedures (as Amended), Specific Annex D, Chapter 1, Customs Warehouses And Free Zones Chapter 2 Free Zones E1./ F1. (Brussels : 1999), hlm.1.
65
Aswin Kootali dan Gunawan Saichu, Integrasi Ekonomi : Konsep Dasar dan Realitas,
Loc.Cit, hlm. 33.
66
http://www.depperin.go.id/Ind/publikasi/djkipi/afta.htm diakses pada tanggal 20 Agustus 2009.
67
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1996 Tentang Bea Masuk Antidumping dan Bea Masuk Imbalan, Pasal 1 ayat 8. Ayat 9 : Barang Sejenis adalah barang yang identik atau sama dalam segala hal dengan barang impor dimaksud atau barang yang memiliki karakteristik fisik, teknik, atau kimiawi menyerupai barang impor dimaksud
G. Metode Penelitian