• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I Pendahuluan

F. Kerangka Teori dan Konsepsional

2. Kerangka Konsepsional

Untuk menyatukan persepsi dalam pembacaan dan pemahaman penulisan antara pembaca dan penulis maka dipandang perlu untuk memberikan beberapa kerangka konsepsi yang meliputi :

1. Wilayah Pesisir, sebagai daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. 58

2. Perairan Pesisir, sebagai wilayah laut yang berbatasandengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, danlaguna.59

3. Pulau Kecil, adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km² (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan Ekosistemnya.60

4. Wilayah Perairan Indonesia meliputi laut teritorial Indonesia, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman.61

5. Laut Teritorial Indonesia adalah jalur laut selebar 12 (dua belas) mil laut yang diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia.62

6. Perairan Kepulauan Indonesia adalah semua perairan yang ter-letak pada sisi dalam garis pangkal lurus kepulauan tanpa mem-perhatikan kedalaman atau jaraknya dari pantai.63

58

Pasal 1 angka 2 UUPWPPK.

59

Pasal 1 angka 3 UUPWPPPK.

60

Pasal 1 angka 7 UUPWPPPK.

61

Pasal 3 angka 1, Undang-Undang Nomor 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.

62

7. Perairan Pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang ter-letak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indo-nesia, termasuk ke dalamnya semua bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari suatu garis penutup.64

8. Garis pangkal lurus kepulauan adalah garis-garis lurus yang menghubungkan titik-titik terluar pada garis air rendah pulau-pulau dan karang- karang kering terluar dari kepulauan Indonesia65

9. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.66

10. Pencemaran Pesisir adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan pesisir akibat adanya kegiatan Orang sehingga kualitas pesisir turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan pesisir tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

11. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian Sumber Daya

63

Pasal 3angka 3, Undang-Undang Perairan Indonesia.

64

Pasal 3angka 4, Undang-Undang Perairan Indonesia.

65

Pasal 5 angka 3, Undang-Undang Perairan Indonesia.

66

Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antarsektor, antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.67

G. Metodologi Penelitian

1. Tipe, Pendekatan dan Jenis Penelitian

a. Tipe Penelitian

Tipe penelitian hukum yang digunakan adalah penelitian doktrinal (doctrinal research), menurut Terry Hutchinson dalam Peter Mahmud Marzuki68 tipe ini adalah:

“research which provides a systematic exposition of the rules governing a particular legal category, analyses the relatinship between rules, explain areas of difficulty and, perhaps, predicts future development”

Lain lagi menurut Amirudin dan Zainal tipe penelitian doktrinal ini diartikan sebagai suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis di dalam buku maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan.69

b. Pendekatan Penelitian

Guna memecahkan permasalahan hukum yang ada dalam penelitian ini penulis akan menggunakan pendekatan undang-undang (statute approach) dilakukan

67

Pasal 1 Ayat 1, Bab I. Umum dalam Angka 3 mengenai Ruang Lingkup, UUPWPPK.

68

Peter Mahmud Marzuki, Op.Cit., hal. 32.

69

Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Graffiti, 2006), hal. 118.

dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.70

c. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Dimana menurut Soerjono Soekamto penelitian hukum normatif adalah penelitian terhadap asas-asas hukum, sistematika hukum, sinkronisasi hukum, sejarah hukum dan perbandingan hukum.71

2. Sumber Data dan Bahan Hukum

Jenis data dari sudut sumbernya dan kekuatan mengikatnya secara umum dibagi atas dua bentuk72. Khusus dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan sumber data sekunder yang diperoleh melalui bahan pustaka, yang dapat dibagi lagi atas beberapa bahan hukum73:

a. Bahan Hukum Primer

Merupakan bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari berbagai peraturan perundang-undangan baik tertulis maupun tidak tertulis. Khusus penelitian ini terdiri dari berbagai peraturan mulai dari Undang Dasar 1945, Tap MPR, Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang-undang Nomor

70

Peter Mahmud Marzuki, Op.Cit., hal. 93.

71

Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 13.

72

Menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 2008), hal. 51., jenis data dapat dibagi atas 2 (dua) yaitu data yang diperoleh langsung dari masyarakat (data empiris) dan data yang diperoleh dari bahan pustaka (data sekunder).

73

27 tahun 2007 tentang pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau, Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan lingkungan Hidup, Undang-undang no. 6 tahun 1996 tentang Perairan Nasional dan berbagai peraturan pelaksana dari UUPWPPPK.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum ini merupakan data yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer seperti RUU, hasil karya kalangan hukum seperti jurnal, buku, diktat, laporan penelitian, dll.

c. Bahan Hukum Tersier74

Bahan yang memberikan bahan yang akan membantu memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti ensiklopedi, indeks kumulatif, kamus, peta termasuk buku-buku dan tulisan-tulisan pengarang diluar bidang hukum.

74

Khusus mengenai penggolongan data sekunder ini terdapat perbedaan antara Peter Mahmud Marzuki dalam bukunya Penelitian Hukum dan Zainuddin Ali dalam bukunya Metode Penelitian Hukum (Jakarta : Sinar Grafika, 2010) dengan Soejono Soekanto dalam buku Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta : UI Press, 2008), dan Bambang Sunggono dalam buku Metode Penelitian Hukum (Suatu Pengantar). Dimana menurut pendapat Soejono Soekanto dan Bambang Sunggono data sekunder dapat dibagi menjadi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier sebagaimana yang telah dijadikan rujukan penulis dalam penelitian ini. Namun, bila merujuk pendapat Peter Mahmud Marzuki dan Zainuddin Ali, sumber penelitian hukum terdiri atas ::

1. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang bersifat autoriatif artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum ini terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim.

2. Bahan hukum sekunder, semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, serta berbagai sumber hukum tertulis lainnya.

3. Bahan non hukum, dalam hal ini dapat juga berupa bahan-bahan yang tidak berkaitan dengan hukum tetapi dapat menambah wawasan penulis dalam memperkaya dan memperluas wawasan peneliti dalam melakukan penelitian.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), yaitu melalui inventarisasi berbagai peraturan perundang-undangan, penelusuran dokumen-dokumen maupun buku-buku ilmiah untuk mendapatkan landasan teoritis berupa bahan hukum yang sesuai dengan objek yang akan diteliti.

4. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dokumen berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku hukum, jurnal hukum, tulisan lepas, artikel, kamus, peta dan berbagai tulisan lainnya termasuk bahan non hukum yang berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

5. Analisis Data

Setelah semua data terkumpul maka tahap selanjutnya adalah mengolah dan menganalisis data. Teknik analisis data yang dipakai adalah teknik analisis kualitatif, dimana dimana setelah semua data terkumpul, maka dilakukan pengolahan, penganalisisan dan pengkonstruksian data secara menyeluruh, sistematis dengan

menjelaskan hubungan antara berbagai jenis data. Selanjutnya semua data akan diseleksi dan diolah, kemudian dianalisis secara deskriptif.75

Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dikumpulkan dan diedit dengan mengelompokkan, menyusun secara sistematis, dan analisis secara kualitatif selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan dengan menggunakan logika berfikir deduktif ke induktif.76

75

M. Syamsudin, Opersionalisasi Penelitian Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 133.

76

Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum (Suatu Pengantar), (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 114-115.

BAB II

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP WILAYAH PESISIR DAN

PULAU-PULAU KECIL

Setiap kehidupan bermasyarakat membutuhkan suatu tatanan perilaku yang diakui sebagai kuat dan mengikat. Adalakanya itu hanya merupakan suatu adat-istiadat atau dapat juga berupa norma-norma hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis. Tatanan perilaku itu merupakan pedoman sikap tindakan dan batasan-batasan perilaku yang harus dipatuhi, dengan adanya untuk tidak mematuhinya. Sanksi tersebut dapat datang dari masyarakat maupun dari pihak yang mempunyai kekuasaan atas masyarakat tersebut. Sistem hukum adalah salah satu tatanan kehidupan yang diterapkan dalam masayarakat, jika sistem hukum tersebut dijalankan di suatu lingkup negara, maka disebut sebagai sistem hukum nasional. Sebaliknya jika sistem hukum itu berlaku di antara negara-negara, maka ia disebut sebagai sistem hukum internasional.77

77

Melda Kamil Ariadno, Hukum Internasional Hukum yang Hidup, (Jakarta : Diadit Media, 2007), hal. 57.

Meskipun Indonesia tidak menganut aliran dualisme78, tetapi seperti halnya negara-negara Eropa, Indonesia menganggap dirinya terikat untuk ketentuan perjanjian Internasional dan konvensi yang telah disahkan, tanpa memerlukan perundang-undangan pelaksananya (implementing legislation). Setiap perjanjian atau konvensi yang ditandatangani oleh Indonesia akan meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat untuk diratifikasi dalam bentuk Undang-undang, atau dalam bentuk Keputusan Presiden (sekarang Peraturan Presiden) jika tidak memerlukan persetujuan DPR.79

Dalam prakteknya Indonesia juga membedakan antara perjanjian internasional yang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, dengan perjanjian yang hanya memerlukan persetujuan pemerintah eksekutif dan pemberitahuan belaka

78

Aliran dualisme pernah sangat berpengaruh di Jerman dan Italia. Para pemuka aliran ini yang utama ialah Triepel, seorang pemuka aliran positivisme dari Jerman dan Anzilotti, pemuka aliran positivisme Italia. Paham dualisme ini adalah suatu paham yang bersumber pada kemauan negara, hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah satu dari yang lainnya. Alasan lain yang diajukan oleh penganut aliran dualisme bagi pandangan tersebut di atas didasarkan pada alasan formal maupun alasan yang berdasarkan kenyataan. Di antara alasan-alasan yang terpenting dikemukakan hal sebagai berikut :

a. Kedua prangkat hukum tersebut yakni hukum nasional dan hukum internasional mempunhai sumber yang berlainan, hukum nasional bersumber pada kemauan negara, sedangkan hukum internasional bersumber pada kemauan bersama masyarakat negara.

b. Kedua perangkat hukum itu berlainan subjek hukumnya. Subjek hukum dari hukum nasional ialah orang perorangan baik dalam apa yang dinamakan hukum perdata maupun hukum publik, sedangkan subjek hukum dari hukum internasional ialah negara.

c. Sebagai tata hukum, hukum nasional dan hukum internasional menampakkan pula perbedaan dalam strukturnya. Lembaga yang diperlukan untuk melaksanakan hukum dalam kenyataannya seperti mahkamah dan organ eksekutif hanya ada dalam bentuk yang sempurna dalam lingkungan hukum nasional. Alasan lain yang didasarkan atas kenyataan ialah bahwa daya laku atau keabsahan kaidah hukum nasional tidak terpengaruh pada kenyataan bahwa kaidah hukum nasional itu bertentangan dengan hukum internasional. Dengan perkataan lain dalam kenyataan ketentuan hukum naasional tetap berlaku secara efektif sekalipun bertentangan dengan ketetentau hukum internasional. Lihat lebih lanjut dalam, Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, Pengantar Hukum Internasional, (Bandung, Alumni, 2003), hal. 57-58.

79

kepada Dewan Perwakilan Rakyat (executive agreement). Dengan demikian setiap perjanjian yang memerlukan ratifikasi dari Dewan Perwakilan Rakyat, baru dapat dilaksanakan jika telah keluar undang-undang pengesahannya, dan setelah itu dapat langsung diterapkan dalam sistem hukum nasional dan pengadilan nasional, tanpa harus memerlukan suatu Undang-undang pelaksana tersendiri.80

Sebagai contoh adalah ketentuan hukum kebiasaan internasional mengenai zona ekonomi ekslusif (yang kemudian menjadi hukum perjanjian internasional dengan ditandatanganinya “The United Nation Convention on the Law of the Sea 1982”) telah diterima dalam sistem hukum nasional Indonesia dengan dikeluarkannya Undang-undang tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Undang-undang Nomor 5 tahun 1983, Lembaran Negara 1983-44), tepatnta dua tahun sebelum Indonesia ikut serta meratifikasi Konvensi Hukum Laut 1982 dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985.81

A. Kerangka Hukum Laut Internasional

Perkembangan hukum lingkungan laut nasional tidak dapat dilepaskan dari sejarah hukum Laut Internasional. Teori tentang perlindungan lingkungan laut dalam kerangka hukum internasional, sebenarnya merupakan akumulasi dari The Principle of National Sovereignity and The Freedom of The High Sea. Umumnya, argumentasi yang dikemukakan disini adalah :

80

Melda Kamil Ariadno, Op.Cit, hal. 77, lihat juga Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional.

81

"a right on the part of a state threatened with environmental injury from sources beyond its territorial jurisdiction, at least where those sources are located on the high seas, to take reasonable action to prevent or abate that injury."82

Perlindungan laut itu sendiri pada mulanya sudah ada sejak zaman Romawi dimana meskipun perlindungan laut pada masa lalu hanya meliputi pengusaan atas laut sebagai milik suatu Negara. Tujuan penguasaan masih dalam konteks yang sangat sederhana yaitu untuk membebaskannya dari bahaya ancaman bajak-bajak laut yang mengganggu keamanan pelayaran di laut yang sangat penting artinya bagi perkembangan perdagangan dan kesejahteraan hidup orang-orang yang hidup di daerah yang berada di bawah kekuasaan Roma pada masa itu.83

Semenjak berakhirnyan Perang Dunia II, Hukum laut yang merupakan cabang hukum internasional telah mengalami perubahan-perubahan yang mendalam. Bahkan, dapat dikatakan telah mengalami suatu revolusi sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Dewasa ini menonjolnya peran hukum laut bukan saja karena 70% atau 140 juta mil persegi dari permukaan laut terdiri dari laut, bukan saja karena laut merupakan jalan raya yang menghubungkan suatu bangsa dengan bangsa lain keseluruh pelosok dunia untuk segala macam kegiatan, bukan saja karena kekayaannya dengan segala macam jenis ikan yang vital bagi kehidupan manusia, tetapi juga dan terutama karena kekayaan mineral yang terkandung di dasar laut itu

82

Suhaidi, Perlindungan Lingkungan Laut : Upaya Pencegahan Lingkungan Laut Dengan Adanya Hak Pelayaran Internasional di Perairan Indonesia, (Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Bidang Ilmu Hukum Internasional Pada Fakultas Hukum USU, 1 April 2006), hal. 2.

83

sendiri.84 Pentingnya laut dalam hubungan antar bangsa menyebabkan pentingnya pula arti hukum laut internasional. Tujuan hukum ini adalah untuk mengatur kegunaan rangkap dari laut, yaitu sebagai jalan raya dan sebagai sumber kekayaan serta sebagai sumber tenaga.85

Masalah perlindungan lingkungan laut merupakan salah satu masalah yang mendapatkan perhatian utama masyarakat internasional semenjak beberapa dekade ini karena menyangkut langsung kelanjutan hidup umat manusia. Penggunaan bahan-bahan kimia secara besar-besaran untuk keperluan industri, pengembangan eksploitasi laut dan penggunaan tangki-tangki raksasa, berkali-kali terlebih telah merusak lingkungan karena polusi yang diakibatkannya. Kecelakaan kapal-kapal Torry-Kanyon di tahun 1967 dan Amoco-Cadiz ditahun 1978 misalnya yang merusak pantai-pantai dan laut disekitarnya telah mendorong masyarakat internasional untuk membuat ketentuan-ketentuan bagi perlindungan dan pemeliharaan lingkungan baik darat, udara maupun di laut.86

Perlindungan terhadap wilayah laut tidak hanya meliputi perairan tetapi telah lebih luas menjadi pesisir dan pulau kecil, mengingat bagi beberapa negara pantai dan negara kepulauan, dampak dari pencemaran dan kerusakan laut akan memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil yang mereka miliki.

84

Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global Edisi ke-2, (Bandung : Alumni, 2005), hal. 304.

85

Idem., hal. 307.

86

Untuk itulah, dalam penelitian ini akan membahas perlindungan wilayah pesisir dan pulau kecil secara umum dari tingkat internasional sampai lahirnya Undang-undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil. Adapun pembahasan akan dimulai dengan memaparkan hukum lunak (soft law), dengan tujuan kita akan dapat dengan mudah memahami prinsip-prinsip hukum internasional yang melatarbelakangi pembentukan konvensi-konvensi yang melindungi laut beserta pesisir dan pulau kecil disekitarnya. Setelah itu barulah akan dibahas hukum keras

(hard law) sebagai sumber hukum yang akan mengatur mengenai perlindungan

secara global.87

1. Hukum Lunak (Soft Law)

Hukum lunak (soft law) merupakan satu bentuk hukum internasional yang tidak secara langsung mengikat negara, tetapi ia harus dipedomani untuk membentuk hukum dimasa yang akan datang (the future law). Menurut Davit Hunter, et al., hukum lunak diartikan sebagai :

“Soft law is either not yet law or not only law. Soft law is an important innovation in international law-making that describes a flexible process for states to develop and test new lagal norms before they become binding upon the international community.”

Terdapat beberapa hukum lunak / soft law yang nantinya akan melatarbelakangi pemberlakuan hukum keras / hard law dalam rangka perlindungan

87

Sukanda Husin, ”Pengaturan Perlindungan Keanekaragaman Hayati dalam Lingkungan Internasional”, Jurnal Hukum Yustisia, Edisi XVI. No. 2, Juli 2006, hal. 38.

laut secara umum beserta seluruh wilayah pesisir dan pulau kecil sebagai bagian ekosistem laut, antara lain :

a. Deklarasi Stockholm 1972

Deklarasi Stokholm 1972 merupakan pilar perkembangan Hukum Lingkungan internasional Modern, artinya semenjak saat itu paradigma hukum lingkungan telah berubah dari use-oriented menjadi environment-oriented. Deklarasi ini ditandatangani oleh 113 kepala Negara dan berisikan 26 prinsip pembangunan. Deklarasi ini meminta Negara-negara di dunia untuk melaksanakan pembangunan demi memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup generasi hari ini dengan tidak mengurangi hak generasi mendatang untuk menikmati lingkungan hidup yang baik dan sehat. Konsep ini disebut dengan suitainable development atau pembangunan Berkelajutan yang kemudian dijadikan prinsip hukum dalam deklarasi Rio1992. Deklarasi Stockholm inilah yang nantinya akan memicu lahirnya beberapa konvensi internasional salah satunya Konvensi Hukum Laut 1982.88

Deklarasi ini berisikan 26 prinsip internasional untuk mengelola lingkungan hidup. Sekalipun deklarasi ini tidak sebagai sumber langsung hukum internasional, tetapi merupakan soft law yang harus dipatuhi oleh masyarakat internasional untuk membentuk hukum di masa yang akan datang (the future law). Sebagai suatu kodefikasi dari prinsip atau adegium hukum kebiasaan internasional sebagaimana yang termuat dalam prinsip 21, paling tidak ada tiga prinsip hukum yang dikodifikasi

88

Sukanda Husin, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal. 24.

oleh Deklarasi Stockholm, yakni prinsip territorial (state soverignty), prinsip sic utere tuo ut alienum non laedas (good neighborliness and duties to cooperate) dan

prinsip state responsibility.89 b. Deklarasi Rio 1992

Konferensi ini diadakan oleh PBB di Rio de Janeiro dan merupakan peringatan 20 tahun Konferensi Stockholm 1972. Konferensi Rio ini dinamakan dengan UNCED (United Nations Conference on Environment dan Development), yang menghasilkan consensus mengenai beberapa bidang yang dituangkan dalam beberapa dokumen dan perjanjian90, salah satunya adalah ”Agenda 21”.

Agenda 21 merupakan rencana kerja global yang pertama kali disusun secara menyeluruh mengenai pembangunan berkelanjutan, meliputi berbagai isu ekonomi, sosial dan lingkungan yang berbeda-beda, dan menampung masukan dari semua negara di dunia ini. Agenda 21 Global merupakan suatu dokumen komprehensif setebal 700 halaman yang berisikan program aksi pembengunan berkelanjutan menjelang abad 21, serta dapat digunakan baik oleh pemerintah, organisasi internasional, kalangan industri maupun masyarakat lainnya untuk mendukung upaya pengintegrasian lingkungan ke dalam seluruh kegiatan sosial-ekonomi.91

Sehubungan dengan peran hukum dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan, Geoge H. De Bert Romily mengatakan, bahwa dengan adanya

89

Sukanda Husin, Penegakan Hukum....,Op.Cit., hal. 24.

90

Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan EdisiVIII Cetakan kesembilan belas, (Yogyakarta : Gadjah Mada Univ. Press, 2006), hlm. 19.

91

penekanan pada Chapter 8 dari Agenda 21 yang menekankan bahwa hukum dan peraturan yang disesuaikan dnegan kondisi khusus negara termasuk instrumen yang amat penting untuk mewujudkan kebijaksanaan lingkungan dan pembangunan menjadi kegiatan.92

Pengarahan yang tegas bagi negara-negara yang melakukan pengembangan kelambagaan dan program pembaharuan hukum lingkungan untuk memberikan kerangka hukum bagi pembangunan berkelanjutan diberikan dalam section 8.14, yang menyatakan, bahwa adalah esensial untuk mengembangkan dan melaksanakan hukum dan peraturan yang integratif, dapat ditegakkan, dan efektif yang didasarkan pada prinsip sosial, ekologi, ekonomi dan ilmiah yang kuat. Meskipun perkembangan hukum nasional akan bergerak berdasarkan kebutuhan, persyaratan dan prioritas yang khusus dirasakan oleh negara yang bersangkutan, namun suatu jangkauan yang luas dari berbagai sektor perlu diatur apabila sesuatu strategi hukum untuk pembangunan yang berkelanjutan ingin memperoleh hasil yang baik.93

Dari 27 prinsip-prinsip lingkungan dan pembangunan yang dituangkan dalam deklarasi Rio tersebut, terdapat beberapa prinsip yang nantinya akan berkaitan dengan perlindungan lingkungan secara umum, antara lain prinsip 4 Deklarasi Rio yaitu :

”Dalam upaya untuk mewujudkan suatu pembangunan yang berkelanjutan, aspek perlindungan lingkungan harus merupakan bagian integral dari proses pembangunan tersebut dan karenanya hal itu tidak dapat dipandang secara terpisah dari proses yang dimaksud.”

92

Idem, hlm. 34.

93

c. The Johannesburg Declaration on Sustainable Developmen Tahun 2002 di Johanesburg

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang dikenal dengan World Summit on

Dokumen terkait