• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian

Struktur modal menjadi penting diperhatikan untuk meningkatkan nilai perusahaan karena penetapan struktur modal dalam kebijakan pendanaan perusahaan menentukan profitabilitas perusahaan. Menurut Syamsuddin (2000:10) strutur modal

adalah bauran dari hutang dan ekuitas. Pemilihan struktur modal merupakan masalah yang menyangkut komposisi pendanaan yang akhirnya berarti penentuan apakah perusahaan akan menggunakan hutang atau modal sendiri untuk mendanai perusahaan. Sumber dana perusahaan berasal dari sumber dana internal dan sumber dana eksternal. Sumber dana internal berasal dari arus kas perusahaan sedangkan sumber dana eksternal diperoleh dari kreditor dalam bentuk hutang dan dari ekuitas pemegang saham.

Hutang dan ekuitas adalah dua kelompok utama dari kewajiban (liabilities) perusahaan, dimana kreditor dan pemegang saham merupakan investor dari perusahaan. Struktur hutang terdiri dari hutang lancar (hutang jangka pendek) dan hutang jangka panjang. Struktur sekuritas terdiri dari nilai ekuitas dan laba ditahan. Setiap unsur dari stuktur modal tersebut dapat ditentukan nilainya apabila dibandingkan dengan aktiva yang mencerminkan total investasi yang berasal dari hutang dan ekuitas pemegang saham. Masing-masing investor ini berhubungan dengan tingkat resiko, keuntungan dan kontrol yang berbeda terhadap perusahaan.

Struktur modal merupakan perimbangan penggunaan hutang dan modal sendiri dalam pendanaan perusahaan. Struktur modal dapat diformulasikan kedalam beberapa rasio (Riyanto, 2001:333) antara lain yaitu: Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Long term Debt To Asset Ratio (LDAR) dan Equity to Asset Ratio (EAR). Variabel struktur modal yang digunakan penulis pada penelitian ini adalah Debt to Equity Ratio (DER), Debt to Assets Ratio (DAR). DER merupakan perbandingan antara jumlah hutang dengan jumlah modal sendiri sedangkan DAR

merupakan perbandingan antar jumlah hutang dengan aktiva perusahaan. Struktur modal merupakan variabel bebas yang menggambarkan proporsi hutang atas aktiva (rasio leverage) dan proporsi hutang atas ekuitas pemegang saham (rasio hutang).

Brigham dan Houston (2001:5) menyatakan bahwa kebijakan struktur modal melibatkan perimbangan (trade-off) antara resiko dan pengembalian, yang pada akhirnya memutuskan apakah menggunakan hutang atu modal sendiri untuk mendanai perusahaan. Tujuan pokok manajemen struktur modal adalah menciptakan suatu bauran atau kombinasi sumber pembelanjaan permanen yang mampu memaksimumkan harga saham, dan meminimumkan biaya modal. Keown et,al (2000) menjelaskan bahwa biaya modal dapat diminimumkan dengan menggunakan leverage (pengungkit) keuangan. Perusahaan dinyatakan menggunakan leverage keuangan apabila dalam pendanaannya memiliki beban tetap, salah satu diantaranya adalah hutang.

Menurut teori tradeoff semakin besar penggunaan hutang, semakin besar keuntungan dari penggunaan hutang yang di peroleh dari pajak penghasilan. Tetapi biaya kebangkrutan dan biaya agensi juga akan meningkat bahkan lebih besar, jika satu-satunya pengaruh dalam perusahaan hanya pajak penghasilan. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan tetapi hanya sampai pada titik tertentu. Setelah titik tersebut, penggunaan hutang justru akan menurunkan nilai perusahaan karena kenaikan keuntungan dari penggunaan hutang tidak sebanding dengan kenaikan biaya kebangkrutan dan biaya keagenan. Tititk balik tersebut disebut dengan struktur modal optimal yang menunjukkan jumlah

hutang perusahaan yang optimal. Teori ini disebut teori tradeoff karena struktur modal optimal dapat ditemukan dengan menyeimbangkan keuntungan penggunaan hutang (tax shield benefits of leverage) dengan biaya kebangkrutan dan biaya agensi (Atmaja, 1994:320)

Arifin (2005:93) menjelaskan bahwa tradeoff theory merupakan teori yang sangat konsisten dalam upaya mencari struktur modal optimal agar nilai perusahaan dapat dimaksimumkan. Dengan teori tradeoff dimana bunga hutang dapat dikurangkan pada perhitungan penghasilan kena pajak, maka kecendrungan kebijakan pendanaan adalah menggunakan huutang yang mengakibatkan rasio hutang dalam struktur modal akan meningkat (Weston dan Copeland, 1990:53). Berdasarkan teori tradeoff apabila perusahaan belum mencapai struktur modal optimal maka setiap penambahan hutang akan maningkatkan nilai perusahaan sebaliknya, apabila perusahaan telah mencapai struktur modal opimalnya maka setiap penambahan hutang akan menurunkan nilai perusahaan. Dengan demikian jika diasumsikan perusahaan berusaha untuk mencapai struktur modal yang optimal maka teori trade off manunjukkan hubungan yang positif antara struktur modal dengan nilai perusahaan.

Paramu (2006) menemukan bahwa pengaruh hutang terhadap rasio hutang berpengaruh signifikan. Dijelaskan bahwa profitabilitas perusahaan mengandung konsekuensi pembayaran pajak secara proporsional. Namun karena cost of debt akan mengurangi jumlah pajak yang dibayarkan, ada kecendrungan meningkatnya profitabilitas akan semakin mendorong perusahaan untuk melakukan debt financing.

Arifin (2005:92) menjelaskan bahwa semakin besar hutang perusahaan maka semakin kecil dana ”menganggur” yang dapat dipakai manajer untuk pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu, yang membuat manajer menjadi disiplin sehingga penggunaan aset menjadi lebih produktif dan efisien yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Martono dan Hardjito (2000:248) menjelaskan bahwa berdasarkan teori free cash flows dengan adanya tingkat hutang yang tinggi, maka manajemen berada pada posisi yang terdesak karena harus memastikan arus kas yang dihasilkan mencukupi pembayaran hutang sehingga adanya hutang memotivasi manajemen untuk lebih disiplin. Selain itu perusahaan yang menggunakan hutang akan lebih efisien karena manajemen berusaha menghilangkan biaya-biaya yang tidak perlu, sedangkan perusahan dengan sedikit pinjaman memiliki kecendrungan untuk tidak terlalu mengawasi pemakaian biaya-biaya yang sebenarnya dapat dikurangi.

Menurut Brigham dan Houston (2001) profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan. Analisa rasio-rasio profitabilitas menggambarkan bagaimana manajemen perusahaan beroparesi dalam menggunakan dananya. Rasio profitabilitas memperlihatkan pengaruh kombinasi likuiditas, aktivitas, dan leverage terhadap perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Syamsuddin (2000:63) menjelaskan bahwa profitabilitas dapat ditentukan dengan bebrapa rasio yaitu: Ratio Return On Aktiva (ROA) atau sering disebut dengan Ratio return On Investasi (ROI), Ratio Return On Equity (ROE), Gross Profit Margin (GPM), Operating Profit Margin (OPM), Net Profit Margin (NPM)dan earning

power. Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return On Equity (ROE). Sartono (2001) menyatakan bahwa semakin besar penggunaan hutang dalam struktur modal maka semakin meningkat ROE suatu perusahaan tersebut.

Model kerangka pemikiran dibawah ini akan menegaskan bahwa semakin tinggi porsi penggunaan hutang dalam struktur modal, yang ditunjukkan oleh besarnya Debt to Equity Ratio, Debt to Assets Ratio maka semakin meningkat pula kemampuan perusahaan menghasilkan laba, ditunjukkan melalui meningkatnya Return On Equity. Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka model kerangka konseptual dapat digambarkan seperti sibawah ini.

H1

H3

H2 Gambar 2.1

Diagram Kerangka Konseptual

Return On Equity (Y) Debt to Equity Ratio

(X2)

Debt to Assets Ratio (X1)

2. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pemikiran penelitian, maka diajukan hipotesis sebagai berikut :

H1 : Ada pengaruh variabel Debt to Assets Ratio terhadap Return On Equity H2 : Ada pengaruh variabel Debt to Equity Ratio terhadap Return On Equity

H3 : Ada pengaruh variabel Debt to Equity Ratio dan variabel Debt to Assets Ratio secara bersama-sama terhadap Return On Equity

Dokumen terkait