KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konseptual
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Pengaruh program UKS Holistik dalam pencegahan perilaku agresif dan harga diri rendah anak usia sekolah dasar
Faktor yang mempengaruhi perilaku agresif 1. Faktor personal
2. Isyarat agresif 3. Provokasi 4. Frustasi
5. Rasa sakit dan ketidaknyamanan
Kemampuan adaptasi terhadap faktor internal maupun eksternal tidak adekuat Gangguan emosional tidak stabil
Faktor yang mempengaruhi harga diri 1. Faktor internal
2. Faktor eksternal
Program UKS Holistik
Biologis Psikologis Sosial Spiritual
imunisasi
Daya tahan anak semakin meningkat anak semakin aktif Kognitif anak meningkat
Pengetahuan meningkat
Mampu mengontrol emosi
Koping anak meningkat
Lebih banyak teman Kepercayaan diri anak meningkat Tingkat religi anak semakin meningkat Anak mampu menilai benar dan
salah Berpikir
positif
Perilaku agresif adalah perilaku yang dianggap wajar pada anak usia sekolah tetapi dapat bertahan di usia remaja bahkan masa dewasa. Hal ini secara langsung atau tidak langsung merupakan sebagian dari tingkah laku agresi. Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistim yang dapat menyesuaikan diri (adaptive system). Sebagai sistim yang dapat menyesuaikan diri manusia dapat digambarkan secara holistik (biologis, psikologis, sosial). Pada manusia sebagai suatu sistim yang dapat menyesuaikan diri yaitu dengan menerima masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri (Faz Patrick & Wall; 1989). Input atau stimulus yang masuk, dimana feedbacknya dapat berlawanan atau responnya yang berubah ubah dari suatu stimulus. Salah satu dari input atau stimulus adalah faktor yang dapat menyebabkan perilaku agresif di kalangan murid sekolah yaitu faktor personal, isyarat agresif, provokasi, frustasi, rasa sakit dan ketidaknyamanan. Sala satu faktor personal adalah jenis kelamin. Penelitian Maccoby dan Jaklin (Pearce, 2002) menjelaskan bahwa baik manusia maupun binatang yang berjenis kelamin laki-laki lebih agresif dibandingkan dengan perempuan. Oleh karena itu faktor personal ini tidak dapat dipungkiri diasumsikan menjadi salah satu dari penyebab terjadinya perilaku agresif pada semua tingkatan usia sekolah seperti TK, MI/SD, SMP, SMA, dan bahan perguruan tinggi. Adapun yang dimaksud dengan adalah anak yang emosional, pemarah, sensitif, dan lepas kendali (Budiman, dkk., 2006: 76). Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai tingkat adaptasi yang berbeda dan sesuai dari besarnya stimulus yang dapat ditoleransi oleh manusia.
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri (stuart, sundeen; 1995). Manusia sebagai suatu sistim yang dapat menyesuaikan diri disebut mekanisme koping, yang dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu Mekanisme koping bawaan dan dipelajari. Mekanisme koping bawaan, ditentukan oleh sifat genetik yang dimiliki, umumnya dipandang sebagai proses yang terjadi secara otomatis tanpa dipikirkan sebelumnya oleh manusia. Sedangkan mekanisme koping yang dipelajari, dikembangkan melalui strategi seperti melaui pembelajaran atau pengalaman-pengalaman yang ditemui selama menjalani kehidupan berkontribusi terhadap respon yang biasanya dipergunakan terhadap stimulus yang dihadapi. Respon adaptif, adalah keseluruhan yang meningkatkan integritas dalam batasan yang sesuai dengan tujuan “human system”. Respon maladaptif, yaitu segala sesuatu yang tidak memberikan kontribusi yang sesuai dengan tujuan “human system”. Dua Mekanisme Koping yang telah diidentifikasikan yaitu: Susbsistim Regulator dan Susbsistim Kognator. Regulator dan Kognator adalah digambarkan sebagai aksi dalam hubungannya terhadap empat efektor atau cara penyesuaian diri yaitu fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi. Faz Patrick & Wall (1989), manusia sebagai suatu sistim adaptif adalah respon adaptif (dapat menyesuaikan diri) dan respon maldaptif (tidak dapat menyesuaikan diri). Respon-respon yang adaptif itu mempertahankan atau meningkatkan intergritas, sedangkan respon maladaptif dapat mengganggu integritas sehingga dapat mengakibatkan anak mengalami gangguan emosional. Hal ini dapat merubah
perilaku anak menjadi perilaku agresif. Perilaku agresif dapat dibagi menjadi empat diantaranya agresi fisik, verbal, kemarahan dan permusuhan. Setiap tindakan apapun bentuknya, baik fisik maupun verbal, akan menimbulkan kerugian bagi anak. Para peneliti menjelaskan bahwa perilaku agresif yang terjadi di sekolah merupakan suatu bentuk perilaku agresif antar pelajar yang mempunyai dampak negatif bagi murid atau anak, baik secara fisik maupun psikologi.
Subsistem Regulator dan Kognator adalah mekanisme penyesuaian atau koping yang berhubungan dengan perubahan lingkungan, diperlihatkan melalui perubahan biologis, psikologis dan social. Subsistim Regulator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan pada sistim saraf, kimia tubuh, dan organ endokrin. Subsistim regulator merupakan mekanisme kerja utama yang berespon dan beradaptasi terhadap stimulus lingkungan. Sebagai contohnya ketika anak mengalami kecemasan maka kelenjar adrenal akan mengeluarkan hormone kortisol sehingga terjadi perilaku agresif. Subsistim Kognator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan kognitif dan emosi, termasuk didalamnnya persepsi, proses informasi, pembelajaran, membuat alasan dan emosional. Denga adanya kognator dapat digunakan untuk pengembangan program UKS Holistik. Program UKS Holistik dari segi biologis yaitu dengan adanya pendidikan kesehatan berupa perkembangan anak dan penyakit menular dan tidak menular anak diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan anak sehingga adanya perilaku yang lebih baik daripada sebelumnya. Pelayanan kesehatan dengan dipantaunya gizi seimbang anak akan mampu meningkatkan nutrisi otak anak sehingga diharapkan dengan gizi yang seimbang, olahraga yang
cukup akan membuat anak semakin kuat (imunitas anak meningkat) sehingga fungsi tubuh baik kesehatan mata dan telinga anak akan membaik sehingga anak mampu menerima pelajaran maupun program UKS. Pada segi psikologis bagian pendidikan anak diberikan pengetahuan tentang perilaku agresif dan harga diri anak. Sehingga pengetahuan anak akan meningkat dan anak akan terhindar dari perilaku agresif dan harga diri rendah anak usia sekolah. Pada bagian pelayanan kesehatan anak diberikan tes kesehatan mental, bimbingan konseling dan manajemen marah. Dimana akan mampu mengontrol emosi dan terbuka dalam menangani permasalah setiap anak. Pada segi soaial anak diberikan pengetahuan tentang jajanan sehat dan pencegahan kecelakan. Hal ini untuk menunjang pertumbuhan biologis anak sehingga anak tidak gampang sakit dan mampu menolong anak yang mengalami luka.sehingga tingkat kepercayaan diri anak akan meningkat. Pada bagian pelayanan untuk meningkatkan rasa kebersamaan diakan program senyum, salam dan sapa, bermain peran dan kerja bakti antar warga sekolah. Hal ini akan meningkatkan rasa empati dan saling tolong-menolong. Pada segi spiritual anak ditanamkan nilai dan moral. Ketika anak mendapatkan pengetahuan tentang nilai dan moral, pengetahuan anak akan semakin meningkat dan anak mampu membedakan benar atau salah sesuai dengan ajaran agama. Sehingga dengan adanya membaca alquran, bermain rebana dan sholat berjamaah, anak akan memiliki tingkat saling menghargai yang tinggi. Dengan demikin perilaku agresif dan harga diri anak usia sekolah bisa dicegah.
3.2 Hipotesis
H1 : Program UKS Holistik dapat mencegah perilaku agresif H2 : Program UKS Holistik dapat mencegah harga diri rendah anak H3 : Ada hubungan antara perilaku agresif dan harga diri anak