• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Konseptual dan Hipotesis

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Kerangka Konseptual dan Hipotesis

Kerangka konseptual adalah suatu model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah riset. Secara teoritis, kerangka konseptual akan menjelaskan hubungan antara variabel independen (ukuran perusahaan, likuiditas, leverage, dan profitabilitas) terhadap variabel dependen (nilai perusahaan) dan kebijakan dividen sebagai Variabel Moderasi. Adapun kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1

Kerangka konseptual merupakan suatu model yang menerangkan hubungan teori dengan faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Kerangka-kerangka konseptual yang menjelaskan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen yaitu :

1. Hubungan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan.

Dengan semakin besar ukuran perusahaan, maka ada kecenderungan lebih banyak investor yang menaruh perhatian pada perusahaan tersebut. Hal ini disebabkan karena perusahaan yang besar cenderung memiliki kondisi yang lebih stabil. Kestabilan tersebut menarik investor untuk memiliki saham perusahaan tersebut. Kondisi tersebut menjadi penyebab atas Ukuran Perusahaan

naiknya harga saham perusahaan di pasar modal. Investor memiliki ekspektasi yang besar terhadap perusahaan besar. Ekspektasi insvestor berupa perolehan dividen dari perusahaan tersebut. Peningkatan permintaan saham perusahaan akan dapat memacu pada peningkatan harga saham di pasar modal. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dianggap memiliki “nilai” yang lebih besar, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah:

H1: Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan 2. Hubungan Likuiditas terhadap Nilai Perusahaan

Current ratio merupakan salah satu ukuran dari likuiditas yang merupakan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya melalui sejumlah kas dan setara kas, seperti giro atau simpanan lain di bank yang dapat ditarik setiap saat yang dimiliki perusahaan. “Semakin tinggi current ratio menunjukkan kemampuan kas perusahaan untuk memenuhi (membayar) kewajiban jangka pendeknya” (Brigham, 2006:210). Semakin tinggi likuiditas maka semakin baiklah posisi perusahaan di mata kreditur.

Terdapat kemungkinan yang lebih besar bahwa perusahaan akan dapat membayar kewajibannya tepat pada waktunya. “Dilain pihak ditinjau dari segi sudut pemegang saham, likuiditas yang tinggi tak selalu menguntungan karena berpeluang menimbulkan dana-dana yang menganggur yang sebenarnya dapat digunakan untuk berinvestasi dalam proyek-proyek yang menguntungkan perusahaan” (Tunggal, 1995:98).

Maka hipotesis yang dapat diajukan adalah:

H2: Likuiditas berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan.

3. Hubungan Leverage terhadap Nilai Perusahaan

Sebuah perusahaan dikatakan tidak solvable apabila total hutang perusahaan lebih besar daripada total harta/aset yang dimiliki perusahaan.

Dengan semakin tingginya rasio Leverage menunjukkan semakin besarnya dana yang disediakan oleh kreditur. Hal tersebut akan membuat investor berhati-hati untuk berinvestasi diperusahaan yang rasio Leveragenya tinggi karena semakin tinggi rasio Leveragenya semakin tinggi pula resiko investasinya (Westondan Copeland, 1992 dalam Analisa, 2011). Penelitian Johan Halim (2005) mengatakan bahwa Leverage memiliki hubungan yang negative signifikan terhadap nilai perusahaan, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah:

H3: Leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan

4. Hubungan Profitabilitas dengan Nilai Perusahaan

Penelitian yang dilakukan oleh Ulupui (2007) bahwa ROA berpengaruh positif signifikan terhadap return saham satu periode ke depan. Oleh karena itu, ROA merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Yuniasih dan Wirakusuma (2007) juga menurut hasil penelitiannya, menyatakan bahwa ROA terbukti berpengaruh positif secara statistis pada nilai perusahaan. Namun hasil yang berbeda diperoleh oleh Adyana Putra dan Wirawanti (2013) bahwa ROA berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Semakin baik nilai ROA maka secara teoritis

kinerja keuangan perusahaan dikatakan baik, yang berakibat pula naiknya harga saham perusahaan. Berdasarkan teori dan penelitian tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H4: Profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan

5. Hubungan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Moderating

Ukuran perusahaan adalah ukuran besar kecilnya perusahaan di tingkat industri. Perusahaan besar dengan akses pasar yang lebih baik seharusnya mampu membayar dividen yang tinggi kepada para pemegang sahamnya, sehingga antara ukuran perusahaan dan pembayaran dividen memilik hubungan yang positif. Ukuran untuk menentukan ukuran perusahaan adalah dengan logaritma natural dari net sales. Suatu perusahaan yang besar dan mapan akan mudah untuk menuju ke pasar modal, karena perusahaan besar tersebut memiliki kemudahan untuk berhubungan dengan pasar modal. Hal tersebut dapat diartikan bahwa perusahaan besar memiliki fleksibilitas yang lebih besar dan dapat membayarkan deviden lebih besar dengan perusahaan kecil, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah:

H5: Kebijakan dividen mampu memoderasi ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.

6. Hubungan Likuiditas Terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Moderating

Arus kas bebas mencerminkan kinerja manajemen keuangan dalam

mengambil keputusan keuangan. Nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham apabila perusahaan memiliki kas yang benar-benar bebas, yang dapat dibagikan kepada pemilik saham sebagai dividen. Penelitian yang dilakukan oleh Hartini (2010) yang menyatakan terdapat hubungan antara nilai perusahaan dengan pembayaran dividen, arus kas bersih, leverage dan earnings per share yang diharapkan setiap tahun oleh perusahaan bahwa dividen menunjukkan hal yang pasti berkaitan dengan apresiasi harga saham. Semakin tinggi nilai kesehatan suatu perusahaan akan memberikan keyakinan kepada pemegang saham untuk memperoleh pendapatan (dividen atau capital gain) di masa yang akan datang.

Dividend payout ratio pada hakikatnya menentukan porsi keuntungan yang akan dibagikan kepada para pemegang saham, dan yang akan ditahan sebagai bagian dari laba ditahan. Manajer percaya bahwa investor lebih menyukai perusahaan yang mengikuti dividend payout ratio yang stabil.

Persamaan lainnya yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan likuiditas sebagai salah satu perwakilan kinerja keuangan yang digunakan dalam penelitian ini seperti penelitian Murtini (2008) yang menggunakan arus kas bebas. Maka hipotesis keempat adalah :

H6: Kebijakan dividen mampu memoderasi likuiditas terhadap nilai perusahaan.

7. Hubungan Leverage Terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Moderating

Leverage yang diproksikan dengan debt to equity ratio, aturan struktur financial konservatif memberikan batas imbangan yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan mengenai besarnya modal asing dan modal sendiri. Dia sumsikan bahwa pembelanjaan yang sehat itu pertama-tama harus di bangun dari modal sendiri yaitu modal yang tahan risiko maka aturan financial tersebut menetapkan bahwa besarnya modal asing dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh melebihi besarnya modal sendiri. Jika perusahaan menggunakan modal yang berasal dari pinjaman maka akan menimbulkan beban tetap berupa bunga pinjaman. Jika perusahaan menggunakan modal yang berasal dari pemilik perusahaan (modal sendiri),maka perusahaan wajib memberikan balas jasa dalam bentuk dividen. Semakin besar pembelanjaan perusahaan yang menggunakan modal dari para pemegang sahamnya maka semakin besar pula dividen yang harus dibagikan. Para kreditur umumnya senang bila rasio ini rendah, semakin rendah rasio tersebut berarti semakin tinggi tingkat pembelanjaan perusahaan yang disediakan oleh para pemegang saham dan semakin besar tingkat perlindungan kreditur dari kehilangan uang yang diinvestasikan ke perusahaan tersebut, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah:

H7: Kebijakan dividen mampu memoderasi leverage terhadap nilai perusahaan.

8. Hubungan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Moderating

Nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham apabila perusahaan memiliki kas yang benar-benar bebas, yang dapat dibagikan kepada pemilik saham sebagai dividen. Semakin tinggi nilai kesehatan suatu perusahaan akan memberikan keyakinan kepada pemegang saham untuk memperoleh pendapatan (dividen atau capital gain) di masa yang akan datang.

Kebijakan dividen mempengaruhi pendapatan yang diharapkan, karena dividen merupakan bagian dari keputusan pendanaan, yaitu pendanaan internal berupa laba ditahan. Semakin besar laba bersih yang dibayarkan sebagai dividen semakin kecil laba ditahan, dan sebaliknya. Hal ini akan berdampak pada penggunaan sumber dana eksternal seperti utang dan penerbitan saham baru. Perusahaan yang dibelanjai dengan utang seluruhnya, atau kombinasi utang dengan modal sendiri, akan menghasilkan laba bersih yang berbeda-beda.

Perusahaan dengan laba yang tinggi mampu membayar deviden yang lebih tinggi. Para manajer tidak hanya mendapatkan dividen yang dibagikan, tetapi juga power yang lebih besar dalam menentukan kebijakan perusahaan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden diantaranya adalah pertumbuhan pendapatan perusahaan. Jika pendapatan perusahaan mengalami pertumbuhan, maka jumlah pembayaran dividen dapat dinaikkan.

Menurut teori signaling, ada kecenderungan harga saham akan naik jika ada pengumuman kenaikan dividen, dan harga saham akan menurun jika

ada pengumuman penurunan dividen. Artinya dividen dipakai sebagai signal oleh perusahaan. Jika perusahaan merasa bahwa prospek dimasa yang akan mendatang baik, pendapatan, aliran kas diharapkan meningkat atau diperoleh pada tingkat dimana dividen yang meningkat tersebut dibayarkan, maka perusahaan akan meningkatkan dividen. Pasar akan merespons positif kenaikan dividen tersebut. Hal ini sebaliknya terjadi.

Jika perusahaan merasa prospek dimasa mendatang menurun, perusahaan akan menurunkan pembayaran dividennya. Pasar akan merespons negatif pengumuman tersebut. Menurut teori tersebut, dividen mempunyai kandungan informasi, yaitu prospek perusahaan di masa mendatang.

(Mamduh Hanafi, 2008 : 372). Dengan ini maka yang menjadi hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah:

H8: Kebijakan dividen mampu memoderasi profitabilitas terhadap

nilai perusahaan.

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka penelitian ini tergolong penelitian asosiatif kausal.

Asosiatif kausal merupakan penelitian dengan menggunakan karakteristik masalah berupa hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih.

Penelitian ini berusaha menjelaskan Pengaruh Ukuran Perusahaan (X1), Likuiditas (X2), Leverage (X3), dan Profitabilitas (X4) sebagai variabel independen terhadap Nilai Perusahaan (Y) sebagai variabel dependen dengan kebijakan dividen (Z) sebagai variabel moderasi pada perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015.

3.2 Batasan Operasional

Untuk menghindari kesimpangsiuran dalam pembahasan penelitian, maka luas penelitian dibatasi dan hanya menyangkut pengaruh pengaruh variabel Ukuran Perusahaan (X1), Likuiditas (X2), Leverage (X3), dan Profitabilitas (X4) terhadap Nilai Perusahaan (Y) dengan kebijakan dividen (Z) sebagai variabel moderasi pada perusahaan-perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2015.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah sekelompok orang, kejadian, suatu yang mempunyai karakteristik tertentu (Erlina, 2008 : 75). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk ke dalam perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang sudah dan masih terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015 yaitu sebanyak 66 perusahaan.

Sampel adalah bagian populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi (Erlina, 2008 : 75). Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu (Erlina, 2008 : 87).

Kriteria yang digunakan dapat berdasarkan pertimbangan (judgement) atau jatah (quota) tertentu. Adapun kriteria yang ditetapkan oleh penulis adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang sudah dan masih terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian yakni 2012-2015.

2. Perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang mempunyai laba bersih positif selama periode penelitian yakni 2012-2015.

3. Perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang membagikan dividen tunai minimal 3 (tiga) tahun selama periode penelitian yakni 2012-2015.

4. Perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang

menampilkan data dan informasi yang lengkap terkait dengan variabel-variabel yang dibutuhkan dalam penelitian.

Tabel 3.1

Daftar Populasi dan Sampel Penelitian

NO. KODE NAMA PERUSAHAAN Subsektor Keramik, Porselin, dan Kaca

7. AMFG Asahimas Flat Glass, Tbk.     Sampel 4

27. PICO Pelangi Indah Canindo, Tbk.   − −

59. DAJK Dwi Aneka Jaya Kemasindo, Tbk − − − − 60. FASW Fajar Surya Wisesa, Tbk.  − − − 61. INKP Indah Kiat Pulp & Paper, Tbk.  − − − 62. INRU Toba Pulp Lestari, Tbk.  − − − 63. KBRI Kertas Basuki Rachmat Indonesia, Tbk.  − − − 64. KDSI Kedawung Setia Industrial, Tbk  − − −

65. SPMA Suparma, Tbk.  − − −

66. TKIM Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, Tbk.   − −

Berdasarkan kriteria tersebut, maka sampel dalam penelitian ini berjumlah 8 data perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia dengan total sampel penelitian berjumlah 32 (8x4).

3.4 Jenis dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang tidak secara langsung diberikan kepada pengumpul data.

Data penelitian diambil dari laporan keuangan tahunan dari setiap perusahaan yang merupakan sampel penelitian dari tahun 2012-2015. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan jumlah dividen. Data yang dibutuhkan oleh peneliti diperoleh melalui Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan situs resmi Bursa Efek Indonesia yakni www.idx.co.id.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian in adalah metode studi pustaka dan dokumentasi. Metode studi pustaka berarti

memeroleh data melalui buku, artikel, jurnal, penelitian, maupun sumber tertulis lainnya sedangkan dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data yang sudah didokumentasikan seperti neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan informasi pembagian dividen perusahaan manufaktur sektor industry dasar dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2015.

3.6 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel 3.6.1 Definisi Operasional

Variabel penelitian adalah: “Sesuatu yang dapat membedakan atau mengubah nilai” (Erlina, 2008). Sesuai dengan judul skripsi ini yaitu

“Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, Likuiditas, Leverage, dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Moderating pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Dasar Dan Kimia yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2012 – 2015”.

Maka definisi dari setiap variabel dan pengukurannya adalah sebagai berikut:

3.6.1.1 Variabel Dependen

Variabel dependen (variabel terikat) merupakan variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen (Erlina, 2008).

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Nilai Perusahaan yang diukur dengan Price to Book Value (PBV). PBV merupakan rasio pasar rasio pasar yang digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai bukunya. PBV dihitung dengan rumus berikut:

PBV = Ps BVS

PBV = Price to Book Value

Ps = Harga pasar saham perlembar BVS = Nilai Buku perlembar saham

3.6.1.2 Variabel independen

Variabel Independen (variabel bebas) merupakan variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen dan mempunyai hubungan yang positif maupun negatif bagi variabel dependen lainnya (Erlina, 2008). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah sebagai berikut:

1) Ukuran Peusahaan (X1)

Ukuran perusahaan dapat diartikan sebagai besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity, nilai perusahaan, ataupun total assets dari suatu perusahaan (Suharli,2006 dalam Analisa 2011). Skala pengukuran yang digunakan dalam variabel ini adalah Log Natural dari total aset.

SIZE = log natural total assets

2) Likuiditas (X2)

aset lancar lainnya dengan kewajiban lancar. Rasio Likuiditas disini adalah Current Ratio (CR). Current Ratio merupakan perbandingkan antara total aset lancar dengan kewajiban lancar (current assets/current liabilities). Current assets merupakan pos-pos yang berumur satu tahun atau kurang, atau siklus operasi usaha yang normal yang lebih besar. Current liabilities merupakan kewajiban pembayaran dalam satu tahun atau siklus operasi yang normal dalam usaha. Tersedianya sumber kas untuk memenuhi kewajiban tersebut berasal dari kas atau konversi kas dari aktiva lancar.

3) Leverage (X3)

Rasio Leverage dapat menunjukkan solvabilitas suatu perusahaan, dan rasio Leverage disini adalah debt to equity ratio (DER). Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio hutang terhadap modal, rasio ini mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang.

Semakin tinggi debt to equity ratio menggambarkan gejala yang kurang baik bagi perusahaan.

4) Profitabilitas (X4)

Menurut Brigham dan Houston (2010) “Profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen asset, dan hutang pada hasil operasi”.

Profitabilitas mengukur kemampuan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan sumber-sumber yang dimiliki perusahaan seperti aktiva, modal atau penjualan perusahaan.

Rasio Profitabilitas disini adalah Return on Asset (ROA). Return on Asset (ROA) merupakan salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk mengukur perbandingan antara laba operasi bersih terhadap total aktivanya.

3.6.1.3 Variabel Moderating

Variabel moderating adalah variabel yang mempunyai dampak kontijensi yang kuat pada hubungan variabel independen dan variabel dependen (Erlina, 2008 : 43). Variabel moderating merupakan tipe variabel yang mempunyai pengaruh terhadap sifat atau arah hubungan antar variabel. Sifat atau arah hubungan antar variabel-variabel independen dengan variabel-variabel dependen kemungkinan positif atau negatif dalam hal ini tergantung pada variabel moderating.

Variabel moderating yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kebijakan Dividen. Kebijakan dividen adalah kebijakan pembagian atas pendapatan yang harus diikuti dalam membuat keputusan dividen.

Kebijakan dividen dalam penelitian ini diwakili oleh dividend payout ratio (DPR).

3.6.2 Skala Pengukuran Variabel

Operasional variabel diperlukan untuk menjabarkan variabel penelitian ke dalam konsep dimensi dan indikator. Di samping itu, tujuannya adalah untuk memudahkan pengertian dan menghindari perbedaan persepsi dalam penelitian ini.

Tabel 3.2

Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel No Variabel

Penelitian Indikator Skala

1 Ukuran Perusahaan

(X1) Size = Logaritma Natural Total Assets Ratio 2 Likuiditas Sumber: Data Diolah oleh Peneliti (2016)

3.7 Metode Analisis Data 3.7.1 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah statistik yang menggambarkan fenomena atau

karakteristik data. Dalam suatu penelitian, analisis deskriptif perlu dilakukan karena karakteristik suatu data akan menggambarkan fenomena dari data.

Karakteristik data umumnya perlu diketahui meliputi frekuensi, tendensi pusat dan dispersinya. Statistik deskriptif merupakan proses transformasi data penelitian dalam bentuk tabulasi, sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan. Statistik deskriptif umumnya digunakan untuk memberi informasi mengenai variabel penelitian yang utama, terdiri dari:

1. Mean adalah jumlah seluruh angka pada data yang dibagi dengan jumlah data yang ada.

2. Median adalah angka tengah yang didapat dari apabila disusun berdasarkan angka tertinggi dan terendah.

3. Range adalah selisih nilai tertinggi dan terendah dalam satu kumpulan data.

4. Standar deviasi adalah suatu ukuran penyimpangan. Jika nilainya kecil maka data yang digunakan mengelompok di sekitar nilai rata-rata.

5. Variance adalah jumlah selisih antar data dengan rata-rata data dan kemudian dibagi dengan jumlah data dikurangi 1 (n-1).

3.7.2. Uji Asumsi Klasik

Pengujian dengan menggunakan asumsi klasik dilakukan untuk menghindari atau mengurangi biasnya atas hasil penelitian yang dilakukan.

Menurut Ghozali (2012) terdapat 4 (empat) uji yang dilakukan dalam melaksanakan uji asumsi klasik, yaitu uji normalitas, uji multikolinearitas, uji

heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Model regresi yang baik memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.

Untuk mendeteksi apakah variabel residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik. Sedangkan normalitas suatu variabel umumnya dideteksi dengan uji statistik nonparametrik Kolmogorof - Smirnov (K-S). Suatu variabel dikatakan terdistribusi normal jika nilai signifikansinya > 0,05 (Ghozali, 2012).

2. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen (Ghozali, 2012). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi antara lain dapat dilakukan dengan melihat (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance inflation factor (VIF). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance ≥ 0,10 atau sama dengan nilai VIF

≤ 10 (Ghozali, 2012).

3. Uji Heteroskedastisitas

Pengujian ini dilakukan untuk mendeteksi apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam model regresi, salah satu asumsi yang harus dipenuhi bahwa varians residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tidak memiliki pola tertentu.

Pendeteksian ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat juga dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit) pada grafik plot (scatterplot) antara nilai prediksi variabel terkait (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).

4. Uji Autokorelasi

Asumsi ini disebut juga dengan asumsi non-autokorelasi (non-autocorrelation). Untuk menguji asumsi independensi dari error, dapat digunakan uji Durbin-Watson. Nilai statistik dari uji Durbin-Watson berkisar di antara 0 dan 4. Field (2009) menyatakan sebagai berikut “Nilai statistik dari uji Durbin-Watson berkisar dari 0 sampai 4. Nilai statistik dari uji Durbin-Watson yang bernilai 2 berarti residual tidak berkorelasi”.

Nilai statistik dari uji Durbin-Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3 diindikasi terjadi autokorelasi. Field (2009) menyatakan “Nilai dari statistik uji Durbin-Watson bergantung pada jumlah variabel bebas dan banyaknya pengamatan dalam sampel. Nilai kritis Durbin-Watson dapat dilihat dalam tabel distribusi Durbin-Watson atau dengan

menggunakan patokan nilai (rule of thumb). Nilai statistik Durbin-Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3 perlu mendapat perhatian bahwa terindikasi terjadi autokorelasi.”

3.8. Pengujian Hipotesis

3.8.1 Analisis Regresi Berganda

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh variabel Ukuran Perusahaan, Likuiditas, Leverage, dan Profitabilitas terhadap kebijakan dividen digunakan uji statistik dengan rumus :

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + e Keterangan :

Y = Nilai Perusahaan α = Konstanta

β = Koefisien Regresi X1 = Ukuran Perusahaan X2 = Likuiditas

X3 = Leverage X4 = Profitabilitas

e = Error

a. Uji T

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen memengaruhi variabel dependen secara signifikan.

antara nilai t-hitung dengan nilai t- tabel. Uji ini dilakukan dengan syarat:

1. Jika t-hitung ˃ t-tabel, maka H0 ditolak yang berarti variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

1. Jika t-hitung ˃ t-tabel, maka H0 ditolak yang berarti variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Dokumen terkait