LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
C. KERANGKA KONSEPTUAL DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Kerangka teoritis adalah model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Sekaran, 2006).
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Kerangka teoritis memberikan dasar konseptual bagi penelitian dan mengidentifikasi jaringan hubungan antarvariabel yang dianggap penting bagi studi terhadap masalah (Sekaran, 2006).
Independent Variable Dependent Variable
Environmental Disclosure Environmental Performance (Kinerja Lingkungan) Kinerja Perusahaan 1. Profitabilitas 2. Leverage 3. ROA 4. TATO Karakteristik Perusahaan 1. Size 2. Length of listing di BEI Firm Value (Nilai Perusahaan)
commit to user
Kerangka konseptual yang menggambarkan pengaruh antara environmental performance, profitabilitas, leverage, ROA, TATO, firm size, length of listing di BEI, dan firm value terhadap environmental disclosure dapat dilihat dalam gambar 2.1 di atas.
Pengembangan Hipotesis 1. Environmental performance
Environmental performance menunjukkan tanggung jawab dan prestasi perusahaan dalam pengelolaan lingkungan, yang diukur berdasarkan peringkat perusahaan dalam mengikuti PROPER (perusahaan dengan kategori: emas, hijau, biru, merah, hitam). Semakin tinggi peringkat PROPER suatu perusahaan (predikat emas atau hijau), cenderung semakin mengungkapkan environmental disclosure dalam laporan tahunannya (Suratno dkk., 2006). Lebih lanjut Suratno dkk. (2006) menemukan pengaruh positif environmental performance terhadap environmental disclosure yaitu perusahaan dengan environmental performance yang baik perlu mengungkapkan informasi kuantitas dan mutu lingkungan yang lebih dibandingkan perusahaan dengan environmental performance lebih buruk. Hasil ini konsisten dengan penjelasan discretionary disclosure theory bahwa pelaku lingkungan yang baik percaya bahwa mengungkapkan environmental performance mereka menggambarkan good news bagi pelaku pasar (Suratno dkk., 2006). Penelitian Al-Tuwaijri dkk. (2003) juga menemukan hubungan positif signifikan antara environmental performance dengan environmental disclosure. Namun bertentangan dengan penelitian Ingram dan Frazier (1980), Wiseman (1982), Freedman dan Wasley (1990), Rockness (1985), serta penelitian Freedman dan Jaggi (1982) yang
commit to user
menemukan hubungan yang tidak signifikan antara environmental performance dengan environmental disclosure.
: Environmental performance berpengaruh terhadap environmental disclosure.
2. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan faktor yang membuat manajemen menjadi fleksibel untuk mengungkapkan pertanggungjawaban sosial kepada pemegang saham (Sembiring, 2005). Perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi cenderung mengungkapkan informasi sosialnya (Bowman dan Haire, 1976), pendapat ini konsisten dengan penelitian Hapsoro (2009) yang menemukan pengaruh positif profitabilitas terhadap pengungkapan sukarela (voluntary disclosure); penelitian Ulmann (1985); dan penelitian Hanifa dan Cooke (2005) yang menyatakan bahwa semakin baik profitabilitas perusahaan maka semakin baik pula pengungkapan perusahaan; serta penelitian Suhardjanto dan Miranti (2009) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap environmental disclosure namun bertentangan dengan penelitian Hackston dan Milne (1996), penelitian Anggraini (2006), dan penelitian Suhardjanto dan Choiriyah (2010) yang menemukan tidak adanya pengaruh antara profitabilitas dengan jumlah pengungkapan lingkungan dan sosial.
: Profitabilitas berpengaruh terhadap environmental disclosure. 3. Leverage
Leverage menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai investasinya (Sartono, 1990). Menurut teori keagenan, perusahaan dengan rasio leverage tinggi akan mengungkapkan lebih banyak informasi
commit to user
karena biaya keagenan perusahaan dengan struktur modal seperti itu lebih tinggi (Jensen dan Meckling, 1976), namun pendapat ini bertentangan dengan pendapat Belkaoui dan Karpik (1989) bahwa manajemen perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi akan mengurangi pengungkapan tanggung jawab sosial yang dibuatnya agar tidak menjadi sorotan dari para debtholders, dengan demikian menunjukkan pengaruh negatif leverage terhadap environmental disclosure. Suhardjanto dan Choiriyah (2010) menemukan pengaruh negatif antara leverage dengan environmental disclosure. Penelitian Hapsoro (2009) menunjukkan hal yang berbeda, yaitu leverage tidak berpengaruh terhadap voluntary disclosure dan pendapat ini konsisten dengan penelitian Anggraini (2006) yang tidak menemukan pengaruh leverage terhadap pengungkapan informasi sosial oleh perusahaan.
: Leverage berpengaruh terhadap environmental disclosure. 4. Return on Assets (ROA)
Return on Assets (ROA) menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan (Sartono, 1990). Hanifa dan Cooke (2005) menyatakan ROA menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba serta mengukur tingkat efisiensi operasional perusahaan secara keseluruhan dan efisiensi perusahaan dalam menggunakan harta yang dimilikinya. Semakin tinggi ROA mengindikasikan semakin tinggi pula kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan, dan perusahaan dengan laba yang tinggi cenderung mengungkapkan informasi mengenai perusahaannya termasuk di dalamnya environmental disclosure, namun pendapat ini bertentangan dengan penelitian Suhardjanto dan Choiriyah
commit to user
(2010) serta penelitian Belkaoui dan Karpik (1989) yang menemukan bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap environmental disclosure.
: Return on Assets (ROA) berpengaruh terhadap environmental disclosure.
5. Total Assets Turnover (TATO)
Total Assets Turnover (TATO) menunjukkan efektifitas perusahaan dalam menggunakan total aktiva untuk menciptakan penjualan dan memperoleh laba (Sartono, 1990). Semakin tinggi TATO mengindikasikan semakin efektif perusahaan dalam mengelola keseluruhan aktivanya. Perusahaan dengan TATO tinggi cenderung mengungkapkan environmental disclosure. Gray, Kouhy, dan Lavers (1995) menemukan turnover berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
: Total Assets Turnover (TATO) berpengaruh terhadap environmental disclosure.
6. Firm Size
Perusahaan dengan firm size besar cenderung mengungkapkan environmental disclosure. Freedman dan Jaggi (2005) menyatakan bahwa semakin besar perusahaan akan semakin banyak aktivitas dan semakin berpengaruh terhadap stakeholder, sedangkan Hasibuan (2001) menemukan bahwa perusahaan di Indonesia yang termasuk dalam kategori perusahaan besar dan high profile cenderung lebih banyak mengungkapkan kewajiban sosialnya daripada yang bukan perusahaan besar dan high profile. Hackston dan Milne (1996) menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap jumlah pengungkapan lingkungan dan sosial, pendapat ini konsisten
commit to user
dengan penelitian Dian (2009) yang menemukan bahwa size berpengaruh positif terhadap environmental disclosure dan penelitian Sembiring (2005) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan serta penelitian Hapsoro (2009) yang menemukan pengaruh positif firm size terhadap voluntary disclosure. Namun pendapat ini bertentangan dengan penelitian Suhardjanto dan Choiriyah (2010) yang menemukan tidak adanya pengaruh size perusahaan terhadap tingkat environmental disclosure perusahaan serta penelitian Anggraini (2006) yang tidak menemukan pengaruh firm size terhadap pengungkapan informasi sosial oleh perusahaan.
: Firm size berpengaruh terhadap environmental disclosure. 7. Length of Listing di BEI
Perusahaan dengan length of listing muda tanpa adanya pemegang saham yang state diharapkan lebih percaya pada penggalian dana eksternal daripada perusahaan dengan length of listing lama (Barnes dan Walker, 2006) dan memilki keinginan yang lebih besar untuk mengurangi skeptisme serta meningkatkan kepercayaan investor (Hanifa dan Cooke, 2002). Roberts (1992) menemukan pengaruh positif umur perusahaan dengan pengungkapan sosial perusahaan.
: Length of listing di BEI berpengaruh terhadap environmental disclosure.
8. Firm Value
Perusahaan akan mengungkapkan informasi tanggung jawab sosial perusahaan sebagai keunggulan kompetitif perusahaan (Rustiarini, 2010).
commit to user
Perusahaan yang memiliki kinerja lingkungan dan sosial yang baik akan direspon positif oleh investor melalui peningkatan harga saham, sedangkan perusahaan yang memiliki kinerja lingkungan dan sosial yang buruk memunculkan keraguan pada pihak investor sehingga akan direspon negatif melalui penurunan harga saham (Almilia dan Wijayanto, 2007). Al-Tuwaijri dkk. (2003) menemukan pengaruh antara kualitas pengungkapan lingkungan dengan firm value. Konsisten dengan penelitian Harjoto dan Jo (2011), penelitian Rustiarini (2010) menunjukkan bahwa pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Namun penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Nurlela dan Islahuddin (2008) yang menemukan tidak adanya pengaruh antara CSR dengan nilai perusahaan. Hubungan environmental disclosure dengan nilai perusahaan (firm value) diproksikan dengan Tobin’s Q yang digunakan oleh Yuniasih dan Wirakusuma (2009).
: Firm value berpengaruh terhadap environmental disclosure.
BAB III