• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kerangka Konseptual

Berdasarkan landasan teori dan rumusan masalah penelitian, peneliti menidentifikasi 5 (lima) independen variabel yaitu akuntabilitas keuangan daerah (X1), value for money (X2), kejujuran (X3), transparansi (X4), dan pengawasan (X5

Kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian ini, dapat digambarkan sebagai berikut :

), yang diperkirakan mempengaruhi baik simultan maupun parsial terhadap pengelolaan keuangan daerah (Y).

Variabel Independen(X) Variabel Dependen (Y)

Akuntabilitas Keuangan Daerah (X1)

Value for Money (X2) Kejujuran (X3) Transparansi (X4) Pengawasan (X5) Pengelolaan Keuangan Daerah(Y)

Berdasarkan landasan teori dan masalah penelitian maka peneliti mengembangkan kerangka penelitian ini yang diuji secara simultan dan parsial yaitu pengelolaan keuangan daerah (Y) diperkirakan baik secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh variabel independen (X) yaitu akuntabilitas keuangan daerah (X1), value for money (X2), kejujuran (X3), transparansi (X4), dan

pengawasan (X5

Akuntabilitas keuangan daerah dapat dilihat dari kemampuan pemerintah daerah dalam menjelaskan, menjawab dan mempertanggung-jawabkan setiap kebijakan publik secara proporsional kepada publik melalui Laporan Pertanggungjawaban Pemerintah Daerah yang telah diperiksa oleh BPK dan disampaikan kepada DPRD selambat – lambatnya 6 bulan setelah berakhir tahun anggaran.

).

Pengelolaan kuangan daerah dapat dilakukan dengan prisip Value For Money yaitu (1) prinsip ekonomi adalah sebagai suatu cara untuk memperoleh input dengan kualitas dan kuantitias tertentu pada harga yang terendah atau dengan kata lain menghindari pemborosan dan yang tidak produktif, (2) efisien adalah pemerintah mampu mencapai produktifitas kerja yang baik dalam setiap kegiatan pencapaian program dengan target yang telah ditetapkan atau pemerintah mampu melakukan penggunaan dana masyarakat dengan berdaya guna maksimal ( perbandingan output / input yang dikaitkan dengan standar kerja atau target yang telah ditetapkan. (3) efektif adalah pemerintah daerah mampu mencapai hasil program kerja yang

maksimal atas target yang telah ditetapkan. Selain itu prinsip value for money juga melaksanakan elemen lain yaitu adil (equity) dan merata (equality).

Kejujuran atau fairness merupakan bagian dari tujuan “good governance” yaitu hal wajib yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk menunjang terlaksananya pemerintahan yang bersih dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN), dan salah satunya pemerintah daerah selama ini dengan tegas melaksanakan akuntablitas kejujuran (Accountability for probit) terkait dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan (abuse of power) dengan memberikan funishment (hukuman) kepada setiap aparatur pemerintah yang melanggarnya.

Transparansi adalah keterbukaan pemerintah daerah baik dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah, dan pemerintah daerah berkewajiban untuk memberikan informasi keuangan yang terbuka, menyeluruh dan jujur kepada masyarakat sebagai bukti pertanggungjawaban pemerintah dan pengelola sumberdaya yang dipercayakan kepadanya (fungsi pemerintah daerah sebagai Agent) dan informasi tentang keuangan daerah dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat maupun pihak pengguna informasi lainnya baik melalui media elektronik maupun media informasi lainnya.

Pengawasan pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan untuk meminimalisir kebocoran keuanga daerah, dengan metode pembukuan yang tertib dan metode pengawasan keuangan daerah sesuai dengan perundang - undangan yang berlaku.

Pengawasan pengelolaan keuangan daerah dilakukan oleh Itwilkot (inspektorat wilayah kota) sebagai Pengawas Intern Pemerintah dan BPK sebagai

Pengawas Extern Pemerintah dan dalam pengawasan pengelolaan keuangan daerah pemerintah daerah melakukan pembinaan meliputi pemberian pedoman, bimbingan, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan.

Pengelolaan keuangan daerah adalah seluruh kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah, dengan baik dan benar dan memuaskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3.2 Hipotesis

Berdasarkan tinjauan pustaka (teori), maka hipotesis penelitian ini adalah : akuntabilitas keuangan daerah, value for money, kejujuran, transparansi, dan pengawasan berpengaruh terhadap pengelolaan keuangan daerah baik secara simultan maupun parsial

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini dapat dikatakan sebagai penelitian kausal yaitu untuk melihat hubungan beberapa variabel yang belum pasti, Umar (2008) menyebutkan desain kausal berguna untuk menganalisis bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain, dan juga berguna pada penelitian yang bersifat eksperimen dimana variabel independennya diperlakukan secara terkendali oleh peneliti untuk melihat dampaknya pada variabel dependen secara langsung.

Peneliti menggunakan penelitian ini untuk memberikan bukti empiris dari analisis pengaruh akuntabilitas keuangan daerah, value for money, kejujuran, transparansi, dan pengawasan terhadap pengelolaan keuangan daerah.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada seluruh SKPD Pemerintah Kota Dumai, Provinsi Riau, rencana waktu penelitian yakni 6 minggu (Oktober s/d Desember 2011). Jumlah SKPD di lingkungan Pemerintahan Kota Dumai sebanyak 31 SKPD, dan seluruhnya disebarkan kuisioner.

Ruang lingkup pada penelitian ini dibatasi pada 5 variabel independen (X) yang diperkirakan berpengaruh terhadap pengelolaan keuangan daerah (Y) yaitu

akuntabilitas keuangan daerah (X1), value for money (X2), kejujuran (X3),

transparansi (X4), dan pengawasan (X5

Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Alat pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuisioner secara langsung, instrumen dalam kuisioner berisi berbagai pertanyaan / pernyataan yang berkaitan dengan variabel – variabel yang akan diteliti.

).

4.3. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah pejabat/aparatur Pemerintah Kota Dumai yang terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan daerah yaitu kepala dan pelaksana teknis disetiap SKPD, dan oleh karena jumlah seluruh SKPD yang berada pada Pemerintah Kota Dumai sebanyak 31 maka sampel sebanyak 62. Metode pengambilan sampel adalah sensus.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Sumber data penelitian ini merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan data primer. Untuk mendapatkan data dari responden digunakan instrumen penelitian berupa kuisioner yang diantar langsung oleh penulis dalam satu tahap yaitu kuisioner diantara langsung oleh peneliti kepada responden sebanyak 62 kuisioner, dan responden diberi waktu untuk menjawab pertanyaan kuisioner hingga

7 hari setelah kuisioner diberikan. Daftar responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 1.

Kuisioner dalam penelitian ini peneliti adopsi dari Penelitian Siregar (2011), dan sebagian kuisioner peneliti tambah atau kurangi sesuai judul yang peneliti ambil dengan sumber referensi sebagai berikut : Nordiawan. Deddi, Iswahyudi Sondi Putra, Mulidah Rahmawati (2007) dalam bukunya Akuntansi Pemerintahan. Jakarta; Mursyidi (2009), Akuntansi Pemerintahan di Indonesia, Refika Aditama Bandung; Mardiasmo (2002), Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Jogjakarta; Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 tahun (2006), Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; Sulistioni, G. (2003), Fiqh Korupsi : Amanah VS Kekuasaan, Somasi, Nusa Tenggara Barat

Setelah informasi yang diperoleh dianggap cukup memadai, setelah itu melakukan penyederhanaan informasi yang diperoleh kedalam kategori dan ukuran tertentu sehingga dapat dikuantifikasikan untuk memudahkan dalam pengolahan data dan pada akhirnya dapat ditafsirkan untuk merumuskan kesimpulan penelitian.

4.5. Defenisi Operasional

Untuk memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan pelaksanaan penelitian ini, maka perlu diberikan defenisi variabel operasional yang akan diteliti sebagai dasar dalam menyusun kuisioner penelitian, Menurut Jogiyanto (2004), defenisi operasional adalah hasil dari pengoperasionalan konsep kedalam elemen – elemen yang dapat di observasi yang menyebabkan konsep dapat diukur dan

dioperasionalkan dalam konsep. Untuk pengukuran variabel dalam penelitian ini, peneliti menggunakan skala interval.

Menurut Mas’ud (2004), sekala nominal digunakan untuk membedakan kategori – katgori yang berkaitan dengan variabel. Skala interval digunakan untuk menyatakan kategori, peringkat dan jarak variabel yang diukur, sedangkan skala rasio memiliki karakteristik yang sama dengan pengukuran lainnya, tetapi skala rasio memiliki tambahan karakteristik yaitu nilai nol yang memungkinkan untuk menyatakan hubungan dalam hal proporsi atau rasio.

Adapun Defenisi operasional dimaksud adalah :

1. Pengelolaan Keuangan Daerah (Y) merupakan variabel terikat (dependen) adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuesioner dengan skala 5 point yang dikembangkan oleh Mahoney et.al., (1963 – 1965)

2. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah akuntabilitas keuangan daerah (X1),

adalah kewajiban pemerintah daerah untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktifitas yang terkait dengan penerimaan dan penggunaan uang publik kepada pihak yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut DPRD dan Masyarakat luas. Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuisioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh akuntabilitas keuangan daerah telah dilaksanakan.

3. Value for Money (VFM) (X2

Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuisioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh telah menggunakan konsep ”Value for Money”

) adalah Pemanfaatan uang sebaik mungkin dalam kinerja anggaran yang pada dasarnya merupakan sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja atau merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga jenis elemen yaitu : ekonomi, efisiensi, dan efektifitas

4. Kejujuran (X3

5. Transparansi (X

) adalah suatu sikap jujur dan memiliki integeritas yang tinggi, sehingga kesempatan untuk korupsi dapat diminimalkan dalam pengelolaan keuangan daerah. Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuiesioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh kejujuran telah dilaksanakan dalam pengawasan pengelolaan keuangan daerah

4

6. Pengawasan (X

) adalah keterbukaan pemerintah dalam melaksanakan pengelolaan keuangan daerah, sehingga dapat diawasi oleh DPRD dan Masyarakat. Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuisioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh transparansi telah dialaksanakan dalam pengelolaan pengelolaan keuangan daerah

5) adalah pengawasan keuangan daerah perlu untuk

mengetahui apakah perencanaan yang telah disusun sudah berjalan dengan efisien, efektif dan ekonomis atau belum, yang dilakukan oleh eksekutif sebagai pengguna anggaran.

Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuisioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh pengawasan telah dilaksanakan dalam pengelolaan keuangan daerah.

Masing – masing vriabel diukur dengan model Skala Likert yaitu mengukur sikap dengan menyatakan setuju atau ketidaksetujuannya terhadap pertanyaan yang diajukan dengan skor sebagai berikut :

5 = (SS = Sangat Setuju) 4 = (S = Setuju)

3 = (TT = Tidak Tahu) 2 = (TS = Tidak Setuju)

1 = (STS = Sangat Tidak Setuju)

Tabel 4.1 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel Penelitian Defenisi Operasioanal Pengukuran Variabel Skala Pengukuran Pengelolaan

Keuangan Daerah (Y)

Dependen Variabel Pengelolaan Keuangan Daerah perlu untuk mengetahui apakah telah dilakukan sesuai dengan amanat undang – undang terhadap perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan pelaporan,

pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah

Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuesioner dengan skala 5 poin yang dikembangkan oleh Mahoney et.al., (1963 – 1965), skala ini untuk menunjukkan tingkat pengelolaan keuangan daerah.

Akuntabilitas Keuangan Daerah (X

Independen Variabel

1

Kewajiban pemerintah daerah

untuk memberikan pertanggungjawaban,

menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktifitas yang terkait dengan penerimaan dan penggunaan uang publik kepada pihak yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut yaitu DPRD dan Masyarakat luas.

)

Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuesioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh akuntabilitas keuangan

daerah telah dilaksanakan.

Interval

Value for Money (VFM) (X2

Pemanfaatan uang secara ekonomis, efisiensi, dan efektifitas

)

Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuesioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh telah menggunakan konsep ”Value for Money”

Interval

Kejujuran (X3 suatu sikap jujur dan memiliki integeritas

) Pengukuran varibel ini

menggunakan istrumen kuesioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh

kejujuran telah dilaksanakan dalam pengawasan pengelolaan keuangan daerah

Interval

Transparansi (X4 Keterbukaan pemerintah dalam pengelolaan keuangan daerah, sehingga dapat diawasi oleh DPRD dan Masyarakat

) Pengukuran varibel ini

menggunakan istrumen kuesioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh transparansi telah dilaksanakan dalam pengawasan pengelolaan keuangan daerah

Interval

Pengawasan (X5) Proses monitoring atau membandingkan antara yang telah direncanakan dengan yang telah dicapai.

Pengukuran varibel ini menggunakan istrumen kuesioner dengan skala 5 point untuk menunjukkan bahwa seberapa jauh pengawasan telah dilaksanakan

4.6. Metode Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis yaitu analisis regresi berganda terlebih dahulu dilakukan uji kualitas data, uji asumsi klasik. Pengolahan data menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Science) versi 18.0.1 Model analisis regresi berganda dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

Y = a + b1X1 +b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5

Dimana :

+ e

Y = Pengelolaan Keuangan Daerah

b1, b2, b3, b4, b5

X

= Koeffisien regresi

1

X

= Akuntabilitas keuangan daerah

2

X

= Value for money

3 X = Kejujuran 4 X = Transparansi 5 e = error term = Pengawasan

4.6.1. Uji Kualitas Data 4.6.1.1 Uji Validitas

Uji Validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner. Suatu kuisioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuisioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuisioner tersebut (Ghozali, 2006). Pengukuran validitas pertanyaan kuisioner adalah korelasi product moment dari karl pearson dengan ketentuan : jika r hitung > r tabel, maka butir pertanyaan

kuisioner dinyatakan valid, dan sebaliknya jika r hitung < r tabel, maka butir pertanyaan

kuisioner dinyatakan tidak valid.

4.6.1.2 Uji Reliabilitas

Reliabilitas sebenarnya adalah alat ukur untuk mengukur suatu kuisioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuisioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban sesorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2006). Pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

1. Pengukuran ulang (repeated measure) atau pengukuran ulang. Disini seseorang akan disodori pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda, dan kemudian dilihat apakah ia tetap konsisten dengan jawabannya atau tidak.

2. One shot atau pengukuran sekali saja. Disini pengukuran hanya sekali saja dan kemudian hasil nya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar pertanyaan. SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan

uji statistik Chronbach Alpha (á). Suatu konstruk atau variabel dinyatakan reliabel jika memberikan nilai Chronbach Alpha > 0,60 (Nunnally, 1960)

4.6.2. Pengujian Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi berganda, maka diperlukan Uji pengujian assumsi klasik yang meliputi pengujian Normalitas, Linieritas, multikolinearitas, dan Heteroskedastisitas.

4.6. 2.1. Uji Normalitas

Tujuan Uji Normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi data mengikuti atau mendekati distribusi normal. Data yang baik adalah data yang memiliki pola seperti bentuk lonceng pada diagram histogram.

Uji Normalitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kolmogorov-Smirnov. Kriteria pengujian satu sampel menggunakan pengujian satu sisi yaitu dengan membandingkan probabilitas denga tingkat signifikansi tertentu yaitu :

1. Nilai signifikansi atau probabilitas < 0,05 maka distribusi data tidak normal 2. Nilai signifikansi atau probabilitas > 0,05 maka distribusi data adalah normal.

4.6.2.2. Uji Multikolinieritas.

Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji, apakah ditemukan atau tidak korelasi diantara variable independen. Jika terjadi korelasi antar variable independen

maka akan ditemukan adanya masalah multikolinearitas. Suatu model regresi yang baik harus tidak menimbulkan masalah multikolinearitas. Untuk itu diperlukan uji multikolinearitas terhadap setiap variable bebas yaitu dengan :

1. Melihat angka collinearity statistcs yang ditujukan oleh nilai variance inflation factor (VIF). Jika angka VIF > 5, variable bebas yang ada memiliki masalah multikollinearitas (Santoso, 2002)

2. Melihat nilai tolerance pada output penilaian multikollinearitas yang tidak menunjukkan nilai tolerance < 10 akan memberikan kenyataan bahwa tidak terjadi masalah multikolinearitas.

4.6.2.3 Uji Hetroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam model regresi terjadi ketidak samaan variable dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas, dan jika berbeda disebut hetroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi hetroskedastisitas.

4.7 Pengujian Hipotesis

Untuk menguji ada tidaknya pengaruh dari variable bebas secara menyeluruh terhadap variable terikat dilakukan dengan menggunakan uji F. Uji ini menggunakan

α 0,05 dengan ketentuan, jika F hitung > F table maka H0 ditolak dan H1 diterima atau

berdasarkan hasil uji hipotesis yang diajukan oleh table koefisien pada kolom

signifikan, yang menunjukkan nilai < α 0,05.

Penilaian variable dilakukan untuk setiap variable bebas untuk melihat variable apa yang memberikan pengaruh paling dominan diantara variable yang ada. Pengujian dilakukan dengan uji t atau sering disebut uji parsial.

Tingkat pengaruh yang signifikan juga didasarkan pada α 0,05 Atau melihat nilai t hitung > t table. Sebaliknya jika t hitung < t table maka pengaruh yang terjadi tidak

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Deskriptif Data

Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada pejabat/aparatur Pemerintah Kota Dumai yang terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan daerah yaitu kepala dan pelaksana teknis disetiap SKPD, dan seluruhnya berjumlah 31 SKPD maka diperoleh sampel sebanyak 62 (31 x 2).

Deskripsi statistik jawaban kuisioner pengelolaan keuangan daerah oleh seluruh SKPD di Pemerintah Kota Dumai ditunjukkan pada tabel 5.1

Tabel 5.1 Deskripsi Statistik

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Akuntabilitas Keuangan Derah

62,00 32,00 45,00 39,45 3,53

Value For Money

62,00 22,00 40,00 30,90 4,26 Kejujuran 62,00 21,00 40,00 32,16 4,29 Transparansi 62,00 27,00 50,00 39,89 4,83 Pengawasan 62,00 30,00 50,00 40,98 4,37 Pengelolan Keuangan Daerah

62,00 21,00 40,00 32,56 4,07 Valid N (listwise) 62,00

Sumber : Data Primer Olahan

Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa dari 62 sampel penelitian yang digunakan, variabel pengelolaan keuangan daerah (Y) memiliki nilai rata-rata 32,56 yang berarti jika nilai rata – rata tersebut dibagikan dengan jumlah pertanyaan pada kuisioner

sebanyak 8 maka diperoleh hasil 4,07. Ini menunjukkan bahwa rata -rata respon responden menyatakan setuju terhadap pengelolaan keuangan daerah yang sudah ada di pemerintah kota dumai.

Sedangkan untuk variabel independen yaitu akuntabilitas keuangan daerah (X1

Value For Money (X

), mempunyai nilai rata-rata sebesar 39,45artinya jika nilai rata – rata tersebut dibagikan dengan jumlah pertanyaan pada kuisioner sebanyak 9 maka diperoleh hasil 4,38. Ini menunjukkan bahwa rata -rata respon responden menyatakan setuju terhadap akuntabilitas keuangan daerah yang saat ini ada di pemerintahan Kota Dumai.

2

Kejujuran (X

) mempunyai nilai rata-rata sebesar 30,90 artinya jika nilai rata – rata tersebut dibagikan dengan jumlah pertanyaan pada kuisioner

sebanyak 8 maka diperoleh hasil 3,86. Ini menunjukkan bahwa rata -rata respon responden menyatakan tidak setuju. Hasil jawaban kuisioner ini menerangkan bahwa pemerintah kota dumai belum melaksanakan prinsip Value For Money dengan baik.

3

Transparansi (X

) mempunyai nilai rata-rata sebesar 32,16 yang berarti bahwa artinya bahwa nilai rata – rata tersebut dibagikan dengan jumlah pertanyaan pada kuisioner sebanyak 8 maka diperoleh hasil 4,02. Ini menunjukkan bahwa rata -rata respon responden menyatakan dalam katagori setuju terhadap kejujuran yang sudah ada pada pemerintahan Kota Dumai

4) mempunyai nilai rata –rata sebesar 39,89 yang berarti

bahwa jika nilai rata – rata tersebut dibagikan dengan jumlah pertanyaan pada kuisioner sebanyak 10 maka diperoleh hasil 3,9. Hal ini menunjukkan bahwa rata -

rata respon responden menyatakan dalam katagori tidak tahu terhadap transparansi yang sudah ada pada pemerintahan Kota Dumai.

Pengawasan (X5) mempunyai nilai rata –rata sebesar 40,98 yang berarti

bahwa jika nilai rata – rata tersebut dibagikan dengan jumlah pertanyaan pada kuisioner sebanyak 10 maka diperoleh hasil 4,09. Hal ini menunjukkan bahwa rata - rata respon responden menyatakan dalam katagori setuju terhadap pengawasan yang sudah ada pada pemerintahan Kota Dumai.

5.1.1 Karakteristik Responden

Penelitian ini dilakukan pada Pemerintah Kota Dumai. Sampel dalam

penelitian ini adalah, pejabat/aparatur Pemerintah Kota Dumai yang terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan daerah yaitu kepala dan pelaksana teknis disetiap SKPD sebanyak 31 SKPD, dari setiap SKPD diedarkan 2 kuisioner sehingga total kuisioner sejumlah 62. Dari 62 kuisioner tersebut dapat kembali dan terkumpul seluruhnya dalam waktu yang relatif bersamaan.

Tabel 5.2 Pengumpulan Data

Keterangan Jumlah Persentase

Kuisioner yang dibagikan 62 100%

Kuisioner yang tidak kembali 0 0 %

Kuisioner yang kembali 62 100 %

Kuisioner yang dapat digunakan dalam penelitian 62 100 % Sumber : Data Primer Olahan

Karakteristik tentang demografi responden penelitian yang dibutuhkan dalam penelitian ini terdiri dari : (1) jenis kelamin , (2) usia responden, (3) tingkat

pendidikan (4) masa kerja

Pada Tabel 5.3 menunjukkan bahwa pejabat yang berhubungan dalam pengelolaan keuangan daerah yaitu pejabat/kepala SKPD anggaran dan pelaksana teknis dalam penelitian ini berjumlah 62 orang terdiri dari 47 orang (76 %) berjenis kelamin pria dan 15 orang (24 %) berjenis kelamin wanita.

Tabel 5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

Pria 47 76%

Wanita 15 24%

Total 62 100%

Sumber : Data Primer Olahan

Tabel 5.4 menunjukkan data usia responden dikelompokkan ke dalam 4 kelompok usia yaitu usia 21-30 tahun sebanyak 7 orang (11%), usia 31-40 tahun sebanyak 24 orang atau (39%), usia 41 – 50 tahun sebanyak 23 orang (37%) dan usia >50 tahun sebanyak 8 orang (13%).

Tabel 5.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

21-30 tahun 7 11 %

31-40 tahun 24 39 %

41-50 tahun 23 37 %

>50 tahun 8 13 %

Total 62 100%

Sumber : Data Primer Olahan

Tabel 5.5 menunjukkan data tingkat pendidikan responden yang juga

dikelompokkan dalam 4 kelompok tingkat pendidikan yaitu SLTA sebanyak 4 orang (6%), Diploma sebanyak 2 orang (3%), Strata satu sebanyak 41 orang (66%) dan Pasca sarjana sebanyak 15 orang (24%). Dari data tersebut dapat kita ketahui bahwa jumlah terbesar responden adalah berpendidikan Strata satu.

Tabel 5.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase

Sekolah Lanjutan Tingkat Atas 4 6 %

Diploma 2 3 %

Strata Satu 41 66 %

Pasca Sarjana 15 24 %

Total 62 100%

Sumber : Data Primer Olahan

Tabel 5.6 menunjukkan data tentang masa kerja responden yaitu masa kerja 0 – 10 tahun sebanyak 22 orang (35%), masa kerja >10-20 tahun sebanyak 17 orang (27%) dan masa kerja >20 tahun sebanyak 23 orang (37%).

Tabel 5.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja

Masa Kerja Frekuensi Persentase

0 – 10 tahun 22 35 %

>10-20 tahun 17 27 %

Total 62 100 % Sumber : Data Primer Olahan

5.1.2 Karakteristik Penelitian

Jumlah kuisioner yang disebar kepada responden sebanyak 62 kuesioner dan dilakukan dalam satu tahap. Tenggang waktu antara pendistribusian dan

pengumpulan kuesioner selama tujuh hari kalender, dan kuisioner yang terkumpul sesuai dengan waktu yang ditentukan sebanyak 62 kuisioner.

Baik pendistribusian maupun pengumpulan kuesioner dilakukan langsung oleh peneliti

5.1.3 Uji Respon Bias

Karena masa penerimaan kembali kuisioner seluruhnya dapat terkumpul pada saat yang ditentukan yaitu tujuh hari kalender maka tidak perlu lagi dilakukan uji respon bias.

5.2 Analisis Data 5.2.1 Uji Kualitas Data

Sebelum dilakukan pengujian assumsi klasik dan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan realibitas untuk menguji kualitas data, apakah data yang sudah terkumpul layak untuk dilanjutkan atau sebaliknya, karena peneliti menggunakan data primer.

5.2.1.1 Uji Validitas

Dalam menggunakan pengujian validitas data dilakukan dengan menggunakan instrument software statistic (SPSS), nilai validitas ditunjukkan pada kolom Pearson

Dokumen terkait