TINJAUAN PUSTAKA
5. Ukuran Perusahaan (Firm Size)
2.3 Kerangka Konseptual
2.3.1 Pengaruh Tingkat Suku Bunga terhadap Yield Obligasi
Bunga adalah tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan persentase dari uang yang dipinjamkan. Suku bunga adalah tingkat bunga yang dinyatakan dalam persen, jangka waktu tertentu (perbulan atau pertahun).
Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur. Menurut Mishkin (2017), suku bunga adalah biaya pinjaman atau harga yang dibayarkan untuk dana pinjaman tersebut.
Kenaikan suku bunga memberikan dampak yang sangat besar terhadap yield (Mouchakkaa, 2014). Karena tren penurunan bunga mungkin tidak terlihat menarik bagi investor dengan pendapatan tetap (termasuk obligasi) untuk mendapatkan imbal hasil yang menarik (Caron & Spaltro, 2014).
Saat meningkatnya suku bunga SBI, investor akan lebih tertarik investasi deposito dibank karena lebih menguntungkan daripada berinvestasi obligasi.
Investor terdorong untuk mengubah obligasi yang dimilikinya dan menjadi deposito dengan menjualnya sehingga penawaran obligasi meningkat sedangkan permintaan obligasi menurun kemudian investor akan meminta kompensasi dengan meminta yield yang lebih tinggi (Saputra & Prasetiono, 2014).
Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara tingkat suku bunga terhadap yield obligasi.
2.3.2 Pengaruh Tingkat Inflasi terhadap Yield Obligasi
Inflasi memengaruhi pertumbuhan, perkembangan sektor keuangan dan sektor kesejahteraan masyarakat. Menurut Cecchetti (2000), tingkat inflasi yang
ringan akan merusak pertumbuhan riil. Inflasi yang lebih tinggi akan mengakibatkan investasi pendapatan tetap kurang atraktif dan akan berdampak pada penurunan harga.
Menurut Tandelilin (2010) bahwa inflasi adalah kecenderungan terjadinya peningkatan harga produk-produk secara keseluruhan. Tingkat inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang terlalu panas. Inflasi yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan penurunan daya beli uang, serta dapat menurunkan tingkat pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasinya, sebaliknya jika tingkat inflasi suatu negara mengalami penurunan maka hal ini akan merupakan sinyal yang positif bagi investor seiring dengan turunnya risiko daya beli uang dan risiko penurunan pendapatan riil.
Inflasi yang berfluktuatif akan berdampak pada investasi berbagai sekuritas lainnya seperti obligasi (Nurfauziah & Setyarini, 2004). Inflasi yang terus meningkat menyebabkan kenaikan harga secara keseluruhan, sehingga investasi pada surat-surat berharga seperti obligasi akan dirasa semakin berisiko, sehingga investor akan mengharapkan yield yang lebih tinggi atas investasinya. Menurut Moss & Houle (2010) yang menyatakan bahwa kenaikan tingkat inflasi cenderung menyebabkan jatuhnya harga obligasi, artinya inflasi yang meningkat sama dengan kenaikan yield obligasi karena harga obligasi memiliki efek terbalik terhadap yield obligasi.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat inflasi terhadap yield obligasi.
2.3.3 Pengaruh Peringkat Obligasi Terhadap Yield obligasi
Menurut Fahmi (2015) mengungkapkan bahwa peringkat obligasi ini
penting karena peringkat tersebut memberikan pernyataan yang informatif dan memberikan sinyal tentang probablititas kegagalan utang suatu perusahaan.
Proses pemeringkatan berguna untuk menilai kinerja perusahaan dari berbagai faktor yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan keuangan perusahaan. Semakin tinggi peringkat obligasi semakin menunjukan obligasi tersebut terhindar dari risiko default (Indarsih, 2013).
Obligasi yang berperingkat tinggi akan memberikan yield yang rendah, demikian pula sebaliknya, jika obligasi berperingkat rendah maka akan memberikan yield yang tinggi. Hal ini berhubungan negatif dengan risiko yang melekat pada obligasi tersebut. Semakin tinggi peringkat obligasi maka risiko semakin rendah, yield yang diberikan juga semakin rendah. Sebaliknya jika semakin rendah peringkat obligasi semakin tinggi risiko, semakin tinggi juga yield yang diberikan. Bond rating dan yield berbanding terbalik, jika bond rating meningkat maka yield akan turun dan sebaliknya, bond rating turun maka yield akan meningkat (Ibrahim, 2008).
Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara peringkat obligasi terhadap yield obligasi.
2.3.4 Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Yield Obligasi
Debt to Equity Ratio merupakan perbandingan antara utang dengan modal sendiri dengan menunjukan risiko distribusi laba usaha perusahaan yang terserap untuk melunasi kewajiban utang perusahaan. Penggunaan utang yang tinggi akan meningkatkan profitabilitas dilain pihak, utang yang tinggi juga akan meningkatkan risiko. Jika penjualan tinggi perusahaan bisa memperoleh
keuntungan yang tinggi. Sebaliknya jika penjualan turun, perusahaan terpaksa bisa mengalami kerugian.
Menurut Indra (2006) debt to equity ratio yang semakin besar akan mengakibatkan risiko finansial perusahaan yang semakin tinggi. Dengan penggunaan hutang yang semakin besar akan mengakibatkan semakin tinggi risiko untuk tidak mampu membayar hutang. Menurut Sartono (2001), semakin besar tingkat risiko maka semakin besar keuntungan yang diisyaratkan. Dengan demikian semakin besar DER, maka yield obligasi yang diisyaratkan juga semakin besar.
Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara debt to equity ratio (DER) terhadap yield obligasi.
2.3.5 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Yield Obligasi
Semakin besar suatu perusahaan maka semakin tinggi pula pengungkapan yang seharusnya perusahaan lakukan. Ada empat argument yang dapat menjelaskan mengapa perusahaan besar lebih mungkin untuk mengungkapkan lebih banyak informasi dibandingkan perusahaan kecil. Hal ini yang sangat berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan, terutama bagi investor.
Menurut Ibrahim (2008) berpendapat bahwa perusahaan yang mempunyai nilai skala kecil cenderung kurang menguntungkan dibandingkan dengan perusahaan yang berskala besar. Perusahaan kecil hanya memiliki faktor-faktor pendukung untuk memproduksi barang dengan jumlah tertentu. Oleh karena itu, perusahaan yang berskala kecil mempunyai risiko yang lebih besar daripada perusahaan besar. Perusahaan yang mempunyai risiko besar biasanya menawarkan return yang besar untuk menarik investor.
Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara ukuran perusahaan terhadap yield obligasi.
2.3.6 Pengaruh Maturitas Terhadap Yield Obligasi
Maturitas yaitu tanggal dimana nilai yang dijanjikan dibayar pada saat jatuh tempo (Jogiyanto, 2010). Penting bagi investor mengetahui umur maturitas untuk keputusan investasi. Semakin lama maturitas obligasi akan memberi efek kenaikan risiko obligasi sehingga investor akan mengisyaratkan yield yang semakin besar pula.
Menurut Rahardjo (2003) mengemukakan bahwa semakin pendek jangka waktu obligasi maka akan semakin diminati oleh investor karena dianggap memiliki risiko yang lebih kecil, sehingga imbal hasil dari obligasi tersebut juga semakin kecil, begitu pula sebaliknya apabila umur obligasi semakin panjang maka risiko lebih besar sehingga menginginkan imbal hasil yang tinggi pula.
Semakin lama maturity, semakin besar perubahan tingkat harga obligasi karena perubahan hasil (Fabozzi, 2000). Obligasi berumur pendek akan menawarkan yield lebih rendah dibandingkan dengan obligasi yang umurnya panjang (Tandelilin, 2010).
Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara maturitas terhadap yield obligasi.
Berdasarkan telaah pustaka, landasan teori dan penelitian terdahulu yang telah dikemukakan diatas adapun kerangka pemikiran teoritis yang dapat diajukan adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.4 Hipotesis
Berdasarkan gambar kerangka pemikiran teoritis diatas maka hipotesis yang dapat diajukan adalah:
1. Tingkat suku bunga berpengaruh positif dan signifikan terhadap yield obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Tingkat inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap yield obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Peringkat obligasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap yield obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
4. Debt to equity ratio (DER) berpengaruh positif dan signifikan terhadap yield obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
5. Ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap yield obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
6. Maturitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap yield obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Maturitas Ukuran Perusahaan Debt to Equity Ratio (DER)
Yield obligasi Peringkat Obligasi
Tingkat Inflasi Tingkat Suku Bunga
36 BAB III