• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.2. Kerangka Operasional

Kabupaten Bogor terletak di selatan Provinsi DKI Jakarta yang diapit oleh tiga buah gunung yaitu Gunung Salak, Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Hal ini menyebabkan Kabupaten Bogor memiliki banyak sumber mata air yang salah satunya berasal dari sekitar Gunung Salak. Salah satu wilayah di sekitar lokasi tersebut yang memiliki mata air berlimpah adalah Desa Cijeruk Kecamatan Cijeruk. Keberadaan mata air tersebut sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga serta irigasi persawahan. Selain itu, sumber mata air tersebut juga dimanfaatkan sebagai bahan baku sejumlah perusahaan air minum.

Pengelolaan serta pengawasan sumber mata air di Desa Cijeruk belum dilaksanakan secara optimal khususnya terhadap perusahaan-perusahaan air minum. Hal ini menyebabkan pemanfaatan yang berlebihan terhadap sumber mata air yang mengakibatkan kelangkaan sumberdaya air. Kelangkaan tersebut diindikasikan dari sulitnya masyarakat sekitar dalam memperoleh air serta penurunan produktivitas padi akibat berkurangnya pasokan air irigasi.

Penelitian ini mempunyai tiga tujuan yang saling berhubungan satu sama lain. Pertama, mendeskripsikan gambaran kelangkaan sumberdaya air akibat pemanfaatan secara berlebihan. Tujuan tersebut diletakkan ditujuan pertama karena adanya kelangkaan sumberdaya air akibat pemanfaatan secara berlebihan yang menjadi awal latar belakang dari penelitian ini. Kedua, mengkaji bagaimana

20 seharusnya kelembagaan yang mengatur pemanfaatan sumber mata air di Kecamatan Cijeruk. Hal ini dikarenakan belum optimalnya kelembagaan yang ada sekarang sehingga pengelolaan terhadap sumber mata air tidak berjalan dengan baik. Tujuan ketiga, mengestimasi nilai economic losses dari sumber mata air tersebut. Tujuan ketiga ini merupakan tujuan inti penelitian.

Berdasarkan ketiga tujuan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada Pemerintah Kabupaten Bogor mengenai kondisi kelangkaan sumberdaya air di Desa Cijeruk Kecamatan Cijeruk. Selain itu juga dapat memberikan rekomendasi mengenai nilai economic losses dari sumber mata air serta kelembagaan yang mengaturnya. Berdasarkan uraian kerangka pemikiran di atas, maka alur kerangka berpikir terkait dengan tujuan penelitian tersaji pada Gambar 2.

21

Gambar 2 : Diagram Alur Berpikir

Keterangan:

= Ruang lingkup penelitian

Sumber mata air

Pemanfaatan oleh masyarakat Pemanfaatan oleh perusahaan

Petani padi

Identifikasi kelangkaan sumberdaya air bagi masyarakat

Kelembagaan pengelolaan sumber mata air sebelum dan sesudah pemanfaatan oleh

perusahaan air minum

Penilaian economic losses masyarakat Rumahtangga

Pemanfaatan sumber mata air yang tidak merugikan masyarakat

22

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RW 04 dengan sumber mata air yang bernama mata air Cikiara dan di RW 05 dengan sumber mata air yang bernama mata air Legok Adung Desa Cijeruk Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor. Lokasi penelitian ini dipilih atas rekomendasi dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor serta berdasarkan survey langsung karena adanya pemanfaatan sumber mata air oleh perusahaan air minum yang menimbulkan kerugian terhadap masyarakat. Pengambilan data primer dilaksanakan pada bulan Juni 2010.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner serta observasi lapang. Responden yang diwawancarai meliputi rumah tangga dan petani padi yang memperoleh air dari sumber mata air. Data sekunder sebagai data penunjang dan pelengkap diperoleh dari Desa Cijeruk serta Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor.

4.3. Penentuan Jumlah Responden

Responden yang diperlukan dalam penelitian ini adalah rumahtangga di RW 04 dan RW 05 Desa Cijeruk yang memanfaatkan sumber mata air. Selain rumahtangga, responden dalam penelitian ini adalah petani padi pemilik lahan yang sumber air irigasi sawahnya berasal dari sumber mata air. Pengambilan

23 contoh untuk responden rumahtangga dikelompokkan berdasarkan jarak rumah dengan sumber mata air.

Responden yang berada di wilayah RW 04 diambil sebanyak 15 responden untuk rumahtangga yang rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari sumber mata air dan 15 responden untuk rumahtangga yang rumahnya berjarak sekitar 1000 meter dari sumber mata air serta 15 responden dari RW 05 yang rumahnya berjarak sekitar 500 meter dari sumber mata air. Pengambilan contoh untuk responden petani padi dilakukan secara justified sampling yaitu pengambilan sampel yang menjustifikasi bahwa petani padi yang ditemui sesuai dengan kriteria bahwa air irigasi untuk persawahannya berasal dari sumber mata air. Contoh responden diambil sebanyak 30 responden petani padi pemilik lahan yang terdiri dari 15 responden di RW 04 dan 15 responden di RW 05.

4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis economic losses responden petani padi dengan pendekatan produktifitas serta analisis economic losses responden rumahtangga dengan pendekatan metode biaya tambahan.

4.4.1 Analisis Kelangkaan Sumberdaya Air

Pengukuran kelangkaan sumber daya air menggunakan pengukuran moneter yang menggunakan aspek ekonomi seperti harga dan biaya ekstraksi. Pengukuran moneter pada penelitian ini dilakukan dengan cara menghitung harga

24 riil dan unit cost. Pengukuran kelangkaan berdasarkan harga riil merupakan standar pengukuran kelangkaan dalam ilmu ekonomi. Menurut Fauzi (2006), berdasarkan standar teori ekonomi klasik, ketika barang menjadi berkurang kuantitasnya, maka konsumen mau membayar dengan harga mahal untuk komoditas tersebut. Jadi, tingginya harga barang dari sumberdaya mencerminkan tingkat kelangkaan dari sumberdaya tersebut.

Pengukuran yang menggunakan unit cost didasarkan pada prinsip bahwa jika sumberdaya air mulai langka, maka biaya untuk mengekstraksinya juga menjadi semakin besar. Kedua pengukuran tersebut dilakukan dengan bertanya langsung ke responden menggunakan kuisioner.

4.4.2 Penilaian Economic Losses Sumber Mata Air

Penilaian economic losses sumber mata air di Desa Cijeruk dilakukan berdasarkan dua objek yang mengalami kerugian yaitu petani dan rumahtangga. Penilaian dilakukan dengan terlabih dahulu melakukan tahapan-tahapan dalam melakukan penilaian economic losses sumber mata air (Ando et al, 2004). Tahapan atau proses dalam melakukan penilaian economic losses sumber mata air diawali dengan mengidentifikasi tipe sumberdaya yang berpotensi terkena dampak serta menentukan apakah economic losses telah terjadi. Tahapan yang kedua, kuantifikasi economic losses yaitu menentukan layanan sumber mata air yang terkena dampak. Tahapan yang terakhir yaitu melakukan penilaian economic losses dengan metode yang sesuai.

Tahapan yang pertama dan kedua dilakukan dengan observasi langsung ke lapang serta dengan bertanya langsung ke responden melalui kuisioner. Tahapan

25 yang ketiga dilakukan dengan menggunakan metode penilaian economic losses sesuai dengan kelompok responden. Kelompok responden petani menggunakan metode pendekatan produktifitas, sedangkan kelompok responden rumahtangga menggunakan metode biaya tambahan.

4.4.2.1 Analisis Pendekatan Produktifitas

Penilaian yang dilakukan terhadap petani menggunakan pendekatan produktifitas. Menurut KLH (2006) pendekatan produktifitas mengacu pada penentuan ganti kerugian berdasarkan perubahan produktifitas berdasarkan sebelum dan sesudah terjadinya pemanfaatan sumber mata air oleh perusahaan air minum. Nilai economic losses pada pendekatan produktifitas dilakukan dengan cara sebagai berikut (KLH, 2006):

N = VP x L x H (Rp/Kg/Tahun) ………(4.1)

VPt = Pt – Pt+1 ………(4.2)

Dimana : Pt = Produktifitas sebelum terjadinya kerusakan. Pt+1 = Produktifitas setelah terjadinya kerusakan. L = Luas lahan pertanian.

H = Harga produk pertanian. N = Nilai economic losses

Produktifitas (Pt) ditentukan sebelum adanya perusahaan air minum yang memanfaatkan sumber mata air. Produktifitas (Pt+1) ditentukan pada saat perusahaan air minum memanfaatkan sumber mata air secara berlabihan yang menyebabkan debit mata air berkurang.

26

4.4.2.2 Analisis Averted Cost Method (Metode Biaya Tambahan)

Metode biaya tambahan adalah salah satu metode dalam penilaian economic losses sumberdaya alam dan lingkungan dengan prinsip dasar bahwa

kelangkaan dapat menyebabkan penambahan biaya dari pemanfaatan SDAL yang terkena dampak (Ando et al, 2004). Penambahan biaya ini merepresentasikan pengukuran kehilangan sosial. Metode biaya tambahan dilakukan pada responden rumahtangga yang mengalami kerugian akibat adanya biaya tambahan dalam pemanfaatan air yang disebabkan kelangkaan sumberdaya air.

Informasi mengenai biaya tambahan apa saja yang dikeluarkan oleh rumahtangga didapat dengan cara bertanya langsung ke responden melalui kuisioner. Hasil rata-rata biaya tambahan atau biaya kerugian per rumahtangga didapat dari total biaya tambahan seluruh responden dibagi jumlah responden.

4.4.3 Mengkaji Pengelolaan Sumberdaya Air di Desa Cijeruk

Kajian ini dilakukan dengan cara pengambilan data primer dimasyarakat melalui kuisioner dan data sekunder yang didapat dari instansi pemerintah yaitu data penunjang dan pelengkap diperoleh dari Desa Cijeruk serta Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor. Data tersebut dianalisis mengenai kesesuaiannya dengan praktiknya di lapang. Hasil analisis yang didapat, penulis memberikan kesimpulan mengenai kelembagaan yang mengatur pemanfaatan sumber mata air di Desa Cijeruk. Penulis juga memberikan saran mengenai sistem kelembagaan yang optimal dalam mengatasi kelangkaan sumberdaya air tersebut.

Berikut ini matriks keterkaitan antara tujuan penelitian, sumber data dan metode analisis data yang digunakan dalam penelitian.

27

Tabel 1. Matriks Keterkaitan Tujuan, Sumber Data dan Metode Analisis Data

No Tujuan Penelitian Sumber Data Metode Analisis Data

1. Mengidentifikasi Data primer Analisis deskriptif kelangkaan SD air ( kuisioner)

2. Mengkaji pengelolaan SD Data primer dan Analisis deskriptif air di Kecamatan Cijeruk sekunder

3. Mengestimasi nilai Data primer dan Perubahan produktifitas economic losses sekunder dan metode biaya tambahan

28

V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Desa Cijeruk terletak kurang lebih 42 km di sebelah selatan Ibu Kota Kabupaten Bogor. Wilayah Desa Cijeruk seluruhnya berupa perbukitan dengan total luas wilayah 430.2 Ha dengan 49.6 % luas wilayah berupa tanah sawah seluas 213.4 Ha. Keterangan luas wilayah Desa Cijeruk beserta Sebaran wilayah Kecamatan Cijeruk serta luas wilayahnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Sebaran Desa di Kecamatan Cijeruk

No Nama Desa Luas Wilayah (Ha)

1. Cipelang 645.50 2. Sukaharja 534.56 3. Cipicung 461.82 4. Cijeruk 430.20 5. Palasari 425.00 6. Tajur Halang 396.53 7. Cibalung 335.00 8. Warung Menteng 228.75 9. Tanjung Sari 200.00 Total 3 657.36

Sumber: Kecamatan Cijeruk (2009)

Luas wilayah Desa Cijeruk menempati urutan ke empat luas wilayah terbesar di Kecamatan Cijeruk. Desa Cijeruk terletak di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut sehingga memiliki udara yang sejuk dengan suhu maksimum sebesar 22° C dan suhu minimum sebesar 18° C. Jumlah bulan dengan curah hujan terbanyak di Desa Cijeruk sebanyak delapan bulan dengan curah hujan rata-

29 rata 3 300 mm/tahun (Desa Cijeruk 2009). Karakteristik penduduk di Desa Cijeruk dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Karakteristik Penduduk Desa Cijeruk Tahun 2009

No. Karakteristik Keterangan Jumlah %

1. Jumlah Penduduk Laki-laki 4 248 orang 51.30 Perempuan 3 985 orang 48.70 Total 8 285 orang 100.00

2. Jumlah Kepala 2 139 KK Keluarga (KK)

3. Mata Pencaharian Petani pemilik lahan 155 orang 1.90 Buruh tani 1 025 orang 12.40 Peternak kecil 160 orang 1.93 PNS 125 orang 1.50 Pedagang 83 orang 0.99 Pengrajin 26 orang 0.30 Guru swasta 15 orang 0.18 Lainnya 6 696 orang 80.80 Total 8 285 orang 100.00

4. Tingkat Pendidikan Tidak sekolah 7 503 orang 90.60 Tamat SD/sederajat 654 orang 7.90 Tamat SLTP/sederajat 67 orang 0.80

Tamat SLTA/sederajat 43 orang 0.50 Perguruan Tinggi 18 orang 0.24 Total 8 285 orang 100.00

Sumber : Kecamatan Cijeruk (2009)

Berdasarkan Tabel 3, sebagian besar penduduk Desa Cijeruk adalah sebagai ibu rumahtangga serta masih banyak yang pengangguran (80.80 %). Berdasarkan informasi dari Kepala Desa Cijeruk, banyaknya pengangguran lebih banyak disebabkan oleh tingkat pendidikan yang masih rendah serta minimnya

30 keahlian yang dimiliki sehingga sulit untuk membuka peluang usaha. Mata pencaharian penduduk Desa Cijeruk didominasi oleh buruh tani, peternak kecil serta petani pemilik lahan. Hal ini menyebabkan kebutuhan air untuk mengairi sawah petani cukup besar karena lahan pertanian mencakup 21.65 % dari total luas wilayah Desa Cijeruk. Pemenuhan kebutuhan air tersebut sebesar 100 % berasal dari sumber mata air. Mata pencaharian penduduk yang lainnya dengan persentase di bawah 1 % yaitu pedagang, pengrajin, guru swasta dan penjahit.

Tingkat pendidikan penduduk di Desa Cijeruk masih sangat rendah. Hal ini dicerminkan dengan banyaknya penduduk yang tidak sekolah, yaitu sebesar 90.6 %, sedangkan persentase penduduk yang tamat SLTA/sederajat serta tamat Perguruan Tinggi hanya di bawah 1 %. Rendahnya tingkat pendidikan di Desa Cijeruk dikarenakan akses yang sulit dan jauh menuju sekolah serta masih rendahnya kesadaran mengenai pentingnya pendidikan.

5.2 Karakteristik Sumberdaya Alam

Desa Cijeruk terletak di kaki Gunung Salak yang memiliki karakteristik kaya akan sumberdaya alam yang sebagian besar berupa sumberdaya air, seperti mata air, sungai, dan air terjun (Kecamatan Cijeruk, 2009). Berdasarkan informasi dari pejabat Kecamatan Cijeruk, pejabat Desa Cijeruk serta masyarakat, mata air merupakan sumberdaya alam yang jumlahnya berlimpah. Sumber mata air yang ada di Kecamatan Cijeruk paling banyak berada di Desa Cijeruk. Hasil survei lapang yang telah dilakukan serta informasi dari pejabat Desa Cijeruk, lokasi mata air di Desa Cijeruk seluruhnya berada di lahan milik individu. Kepemilikan mata air di Desa Cijeruk didasarkan pada lokasi mata air tersebut berada, sehingga

31 kepemilikan mata air dimiliki oleh individu. Penggunaan atau pemanfaatan sumber mata air di Desa Cijeruk untuk kebutuhan rumahtangga serta untuk irigasi pertanian. Sebelum adanya perusahaan air minum yang juga memanfaatkan sumber mata air, masyarakat sangat mudah mendapatkan air dengan jumlah yang banyak. Tidak ada batasan dalam pemafaatan sumber mata air oleh masyarakat. Berdasarkan musyawarah yang dilakukan oleh masyarakat, setiap bulannya masyarakat dikenakan biaya atau iuran untuk pemeliharaan saluran distribusi air.

Pembagian zonasi pemanfaatan sumber mata air didasarkan pada lokasi masing-masing sumber mata air tersebut. Setiap wilayah/RW di Desa Cijeruk memiliki sumber mata air sendiri. Tidak semua sumber mata air memiliki debit air yang besar. Di Desa Cijeruk terdapat dua lokasi mata air yang memiliki jumlah debit yang cukup besar sehingga pemanfaatannya tidak hanya oleh masyarakat tetapi juga oleh perusahaan air minum. Penelitian ini dilakukan di dua lokasi sumber mata air tersebut, yaitu mata air Cikiara di RW 04 serta mata air Legok Adung di RW 05.

Berdasarkan keterangan pihak aparat Desa Cijeruk serta masyarakat, saat ini sumber mata air di Desa Cijeruk sebagian besar dieksploitasi oleh perusahaan air minum, baik perusahaan air minum yang ada di Desa Cijeruk maupun di luar Desa Cijeruk. Hal ini menyebabkan masyarakat serta petani mulai merasakan kerugian dengan adanya eksploitasi sumber mata air yang dilakukan oleh perusahaan air minum. Sumber mata air di Desa Cijeruk yang memiliki debit air paling besar yaitu mata air Cikiara dan mata air Legok Adung. Karakteristik mengenai kedua mata air tersebut, dapat dilihat pada Tabel 4.

32

Tabel 4. Karakteristik Mata Air Cikiara dan Mata Air Legok Adung di Desa Cijeruk Tahun 2010

No. Mata Air Lokasi Jumlah Titik Total Diameter

1. Cikiara RW 04 4 buah 30 inchi 2. Legok Adung RW 05 3 buah 27 inchi Sumber : Survei Penulis (2010)

Mata air Cikiara berlokasi di RW 04, sedangkan mata air Legok Adung berlokasi di RW 05. Mata air Cikiara memiliki empat buah titik mata air. Masing- masing titik tersebut dimiliki oleh individu dan perusahaan. Kepemilikan mata air tersebut didasarkan pada kepemilikan lahan tempat mata air berada. Pemilik lahan berhak untuk menjual air ke pihak swasta tetapi berdasarkan musyawarah dengan penduduk desa, pemilik lahan juga berkewajiban untuk tidak memutus distribusi air ke penduduk desa. Pengaturan serta distribusi air untuk penduduk desa diserahkan kepada penduduk desa dan ketua RT serta RW setempat sebagai koordinatornya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua RW 04 dan pengamatan langsung, titik yang pertama dan kedua dengan total diameter 24 inchi dimiliki oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bogor. Titik yang ketiga dengan total diameter 3 inchi disalurkan ke perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Titik yang keempat dengan total diameter 3 inchi dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk pengairan sawah serta untuk kebutuhan rumahtangga.

33

Sumber : Dokumentasi penulis

Gambar 3: Foto Mata Air Cikiara

Mata air Legok Adung memiliki tiga buah titik mata air. Ketiga titik mata air tersebut dimiliki oleh individu. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua RW 05 dan pengamatan langsung, titik yang pertama dengan total diameter 15 inchi dimanfaatkan oleh penduduk lokal yang disalurkan sebesar dua inchi ke perusahaan air curah. Titik yang kedua dengan total diameter delapan inchi dimanfaatkan penduduk lokal untuk pengairan sawah serta untuk kebutuhan rumahtangga sebesar enam inchi serta sebesar dua inchi disalurkan ke perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Titik yang ketiga dengan total diameter empat inchi yang disalurkan seluruhnya ke perusahaan AMDK.

34

Sumber : Dokumentasi penulis

Gambar 4: Foto Mata Air Legok Adung

5.3 Gambaran Umum Responden

Responden dalam penelitian ini terdiri dari responden rumah tangga dan responden petani padi pemilik lahan. Responden rumah tangga berjumlah 45 orang responden yang ditentukan berdasarkan jarak rumah dengan sumber mata air. Sebanyak 75 % responden dengan jarak rumah kurang lebih 500 meter dari sumber mata air dan 25 % responden dengan jarak rumah kurang lebih 1000 meter dari sumber mata air. Responden petani padi berjumlah 30 orang yang seluruhnya menggunakan mata air sebagai sumber air bagi pengairan sawahnya.

5.3.1 Umur

Karakteristik umur responden yang didapat berbeda antara responden rumah tangga dan responden petani padi. Responden rumah tangga sebagian besar berumur kurang dari 45 tahun, sedangkan responden petani padi sebagian besar berumur lebih dari 45 tahun. Banyaknya responden petani padi yang berumur lebih dari 45 tahun dikarenakan banyaknya generasi muda yang tidak tertarik dengan usaha pertanian serta semakin banyaknya lahan pertanian yang berubah

35 fungsi menjadi rumah penduduk. Rentang umur responden rumah tangga dan responden petani padi dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rentang Umur Responden Rumah Tangga dan Responden Petani Padi di Desa Cijeruk Tahun 2010.

Umur (Tahun) Petani (orang) (%) Rumahtangga (orang) (%)

≤ 35 1 3.33 16 35.55 36-45 5 16.67 17 37.78 46-55 14 46.67 12 26.67 56-65 6 20.00 0 0 66-75 3 10.00 0 0 ≥ 76 1 3.33 0 0 Jumlah 30 100 45 100 Sumber: Survei Penulis (2010)

5.3.2 Pendidikan Terakhir

Pendidikan terakhir responden baik petani padi maupun rumahtangga, mayoritas berpendidikan Sekolah Dasar (SD) dengan persentase lebih dari 70%. Sebagian kecil berpendidikan SMP dan SMA dengan persentase tidak lebih dari 15 %. Terdapat responden petani padi yang tidak sekolah dengan persentase sebesar 13.3 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berpendidikan rendah. Hai ini dikarenakan akses yang sulit dan jauh serta tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih sangat rendah. Perbandingan tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Tabel 6.

36

Tabel 6. Sebaran Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Cijeruk Tahun 2010.

Pendidikan Petani (orang) (%) Rumahtangga (orang) (%)

SD 22 73.33 28 62.22 SMP 1 3.33 9 20.00 SMA/K 3 10.00 8 17.78 Perguruan Tinggi 0 0 0 0 Tidak Sekolah 4 13.33 0 0 Jumlah 30 100 45 100 Sumber : Survei Penulis (2010)

5.3.3 Lama Bertani

Responden petani padi memiliki perbedaan lamanya dalam bertani padi antara petani yang satu dengan yang lainnya. Berdasarkan Tabel 4, umur sebagian besar responden petani padi lebih dari 45 tahun yang akan mempengaruhi lama bertaninya. Sebagian besar responden petani padi melakukan usaha bertani padi lebih dari 20 Tahun. Perbandingan persentase tingkat lama bertani responden petani padi dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Sebaran Responden Petani Padi Berdasarkan Lama Bertani di Desa Cijeruk Tahun 2010

Lama Bertani (Tahun) Petani (orang) (%) ≤10 2 6.67 11-2O 3 10.00 21-30 11 36.67

≥31 8 26.67 Jumlah 30 100

37

5.3.4 Luas Lahan

Luas lahan pertanian yang dimiliki responden petani padi sebagian besar kurang dari 5 000 meter persegi. Sebanyak 74 % dari total responden memiliki luas lahan pertanian sebesar 1 000 – 3 000 meter persegi. Status kepemilikan lahan responden petani padi seluruhnya adalah lahan milik sendiri. Persentase luas lahan pertanianyang dimiliki responden petani padi dapat dilihat pada Gambar 5.

Sumber: Data Primer (Diolah)

Gambar 5. Sebaran Responden Petani Padi Menurut Luas Lahan Pertanian di Desa Cijeruk Tahun 2010

5.3.5 Pekerjaan Rumahtangga

Mata pencaharian responden rumahtangga sebagian besar bekerja sebagai buruh dengan tingkat persentase sebesar 60%. Sebagian yang lain bekerja sebagai pedagang/wiraswasta, sopir, swasta dan pensiunan. Perbandingannya dapat dilihat pada Gambar 6.

38

Sumber: Data Primer (diolah)

Gambar 6. Sebaran Responden Rumahtangga Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Desa Cijeruk Tahun 2010

5.3.6 Tingkat Pendapatan Rumahtangga

Sebagian besar responden rumah tangga berpendapatan antara Rp 500 000 sampai dengan Rp 1 000 000 dengan persentase lebih dari 40%. Responden yang lain berpendapatan kurang dari Rp 500 000 dan lebih dari Rp 1 000 000 dengan persentase yang sama. Kecilnya pendapatan responden rumahtangga diantaranya disebabkan oleh tingkat pendidikan yang masih rendah, sehingga pengetahuan serta kemampuan yang dimiliki juga rendah. Perbandingan tingkat pendapatan responden rumahtangga dapat dilihat pada Gambar 7.

39

Sumber: Data Primer (Diolah)

Gambar 7. Sebaran Responden Rumahtangga Berdasarkan Tingkat Pendapatan di Desa Cijeruk Tahun 2010

5.3.7 Lama Tinggal

Semua responden rumahtangga merupakan penduduk asli. Sebanyak lebih dari 70 % responden sudah tinggal selama lebih dari 30 tahun. Persentase jumlah responden berdasarkan lama tinggalnya dapat dilihat pada Gambar 8.

Sumber: Data Primer (Diolah)

Gambar 8. Sebaran Responden Rumahtangga Berdasarkan Lama Tinggal di Desa Cijeruk Tahun 2010

40

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1Mengidentifikasi Kelangkaan Sumberdaya Air di Desa Cijeruk

Kelangkaan sumberdaya air yang terjadi di Desa Cijeruk Kabupaten Bogor mulai dirasakan sejak tahun 2007. Hal ini berdasarkan wawancara dengan Ketua RW 04 dan RW 05 serta masyarakat. Penyebab terjadinya kelangkaan tersebut karena mulai maraknya pengambilan air dari mata air secara berlebihan oleh perusahaan air minum, baik perusahaan air curah yang menggunakan truk tanki maupun perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang ada disekitar wilayah Desa Cijeruk.

Terdapat dua titik mata air yang memiliki debit air cukup besar dan banyak perusahaan air yang memanfaatkannya, yaitu mata air Cikiara dan mata air Legok Adung. Mata air Cikiara terdapat di wilayah RW 04 Desa Cijeruk

Dokumen terkait