Pada bagian pertama dalam buku ini adalah BAB I berupa Pendahuluan;
dengan beberapa sub bab; latar belakang yakni penjelasan mengenai pokok-pokok pikiran tentang pemikiran pluralisme agama dengan mengedepankan latar belakang munculnya pembahasan mengenai diskursus pemikiran pluraliosme agama di kalangan dai Kota Samarinda; kajian terdahulu; e) kerangka pemikirancatatan metodologis; dan pembahasan.
Pada Bab II pemaparan mengenai Landasan Epistimologis Pemikiran Pluralisme Agama, berisi tentang; a) keberagamaan masyarakat modern;
b) terminology pluralisme agama; c) pemikiran pluralisme agama dalam Islam; d) Tipologi pemikiran pluralisme agama di Indonesia; e) pluralisme bukan toleransi.
Pada bab III pemaparan mengenai Dinamika Sosial Keagamaan masyarakat Kota Samarinda yakni; a) sejarah lahirnya Kota Samarinda; b) Sosio-Religius masyarakat; c) Perkembangan Islam di Kota Samarinda; d) Kecenderungan pemikiran keislaman; e) sebaran dai Kota Samarinda; f) tema-tema dakwah di Kota Samarinda.
Bab IV pemaparan mengenai kontroversi mengenai pemikiran pluralisme agama di kalangan dai Kota Samarinda, dengan subbab sebagai berikut: a) latar belakang pemikiran pluralisme agama; b) pandangan dai mengenai pemikiran pluralisme agama dan faktor-faktor yang mempengaruhi pandangannya; serta c) implementasi pemikiran pluralisme agama di kalangan dai kota Samarinda.
Bab V yakni bab penutup berisi pemaparan mengenai kesimpulan hasil penelitian dan implikasi penelitian.
LANDASAN EPISTIMOLOGIS PEMIKIRAN PLURALISME
AGAMA
A. Keberagamaan Masyarakat Modern
Religiusitas masyarakat modern di Indonesia tampak semarak, ditandai dua fenomena, yakni kegairahan individu atau kelompok masyarakat Muslim dalam mengkaji dan melaksanakan ajaran agama yang menekankan aspek spiritualitas, di samping semakin merebaknya kelompok religius yang mengembangkan dan mempraktekkan paham keagamaan tertentu.
Fenomena pertama cenderung dilakukan kelompok masyarakat muslim yang mengalami problema spiritualitas akibat belenggu skenario sosial sehingga memerlukan sandaran kehidupan yang religi melalui praktik tasawuf sebagai penguat pribadi menuju kesalehan sosial. Sedangkan fenomena kedua dilakukan kelompok “sempalan” yang cenderung fanatis, eksklusif dan radikal yang tidak siap menghadapi realitas kehidupan (pergeseran nilai) dalam berbagai aspek yang dipandang menyimpang dari koridor Islam, di samping kelompok yang melakukan reinterpretasi terhadap ajaran Islam secara liberal.
Pada era modern ini kehidupan masyarakat penuh dengan semangat rasionalisme terutama di kalangan intelektual, sehingga ada sesuatu yang dirasakan kering. Pergeseran nilai-nilai budaya dan nilai-nilai
fundamental yang berasal darai ajaran agama juga terjadi, akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Nurcholish Madjid menyatakan, bahwa pada era ini manusia cenderung mengabaikan harkatnya, dan bidang kerohanian sebagai aspek kemanusiaan yang paling vital mengalami kehampaan. Karenanya di tengah suasana tersebut manusia merasakan kerinduan akan nilai-nilai ketuhanan (Ilāhiyah).39
Seiring dengan kerinduan tersebut, masyarakat muslim di negeri kita tampak terjadi kesemarakan kehidupan beragama. Setidaknya terdapat dua kecenderungan besar yang dapat dilihat, yakni semakin mengental dan bergairahnya individu atau kelompok masyarakat untuk melaksanakan agama dengan lebih menekankan aspek spiritualitas,40 dan semakin merebaknya “sempalan” yang berusaha keluar dari konteks agama formal atau agama besarnya.
Dalam konteks ini, manusia, oleh sebagian aliran dipandang sebagai suatu makhluk, sedangkan fungsinya dititikberatkan pada kepribadian dan sifat dasarnya. Sehingga muncul salah satu atribut manusia sebagai makhluk spiritual, karena manusia diciptakan dalam keadaan fitrah,41 yakni memiliki naluri beragama, mengakui kebenaran agama (Islam) dan memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan kebenaran.
Komitmen beragama seseorang dapat ditampakkan dari aktualisasi unsur-unsur dalam agama secara optimal, meliputi pengetahuan, keyakinan,
39 Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 71.
40 Futuris berkaliber dunia, John Neisbit pernah mensinyalir tentang munculnya “abad kebangkitan agama-agama” pada abad ini. Ia memperkenalkan jargon “Spirituality yes, Organized Religion, No”. Kebangkitan agama-agama yang dimaksud bukan agama-agama dalam pengertian formal seperti Islam, Kristen, Yahudi. Lebih spesifik malah bukan kebangkitan agama, tapi kebangkitan spiritualitas. Hal ini terlihat dengan merebaknya gerakan-gerakan yang berbau mistis atau tasawuf dalam Islam. Lihat, Nurcholis Madjid, ”Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan untuk Generasi Mendatang“ dalam Jurnal ‘Ulumul Qur`an No.I,Vol.IV, th. 1993, h. 8
41 Fitrah itu tidak berubah dan tidak boleh dirubah. Lihat surah al-Rūm: 30. Penegasan ini bermakna semua manusia memiliki fitrah yang sama, yakni sama-sama memiliki potensi menjadi muslim dan menjadi baik. Jadi, fitrah penciptaannya tidak ada perubahan, yakni adanya sifat dasar cenderung beriman kepada Allah. Namun, fitrah yang sifatnya potensial itu menjadikan manusia tidak selalu konsisten mengakui kebenaran agama Islam. Manusia mungkin akan melakukan konversi agama (kufur). Jika dalam realita terdapat manusia yang menjadi kufur dan jahat bukanlah merupakan sifat dasar manusia sejak penciptaannya, melainkan, manifestasi dari nilai-nilai yang diperoleh/dialami dalam hidupnya. Kekufuran itu timbul sebagai akibat dari interaksi manusia dengan sesuatu di luar dirinya. Faktor luar yang sangat besar pengaruhnya terhadap manusia adalah lingkungannya, terutama lingkungan sosialnya. M. Quraish Shihab menjelaskan, bahwa mengakui kebenaran Tuhan (iman) merupakan fitrah manusia yang mungkin ditangguhkan untuk waktu yang lama, namun pada hakekatnya tetap ada pada manusia. Sebagai bukti, Fir’aun yang terkenal sangat kufur, sombong dan tinggi diri selama hidupnya menunjukkan keingkarannya pada Tuhan, bahkan ia sendiri mengaku sebagai Tuhan. Tetapi pada saat akan tiba ajalnya (mati) ternyata ia sempat ingat kepada Tuhan.
sikap dan tingkah laku. Nuril42 menyatakan, bahwa unsur-unsur tersebut saling terkait, namun tidak dapat dikatakan sebagai suatu unsur yang linier.
Dari mana seseorang menampakkan aktualisasinya tidak selalu sama.
Menurutnya, seseorang yang memeluk suatu agama sejak kecil mungkin dimulai dari tingkah laku, seperti sholat, kehadirannya tempat-tempat ibadah, pengajian dan sebagainya. Tetapi seseorang yang mulai memeluk agama sejak usia dewasa dimulai dari pengetahuan, bergerak ke keyakinan, kemudian ke sikap dan perbuatan. Gerakan tersebut bisa cepat dan bisa amat lamban, karena pada hakekatnya pemelukan terhadap suatu agama merupakan proses internal.
Tanwir Y. Mukawi43 yang mengintrodusir pendapat Allaport menyatakan, bahwa cara manusia beragama itu ada dua, yakni cara beragama ekstrinsik dan intrinsik. Cara beragama ekstrinsik mengajarkan agama hanya dipdandang sebagai simbolitas dan status yang digunakan untuk memberikan legitimasi bagi individu atau kelompok manusia. Pemahaman agama sebatas pada kognisi manusia tanpa mempengaruhi aspek afeksi dan psikomotoriknya. Menurut Fruerbach44 agama hanyalah alat psikologis yang digunakan untuk menggantungkan harapan, kebaikan, dan ideal-ideal kepada wujud khayal supranatural. Sedangkan cara beragama instrinsik mengajarkan agama sebagai pengendali hasrat dan keinginan manusia, di samping menjadi faktor dan kekuatan pemandu kehidupan, perilaku dan kepribadian manusia.