APPLIED THEORY Administrasi Publik
2.2. Kerangka Pemikiran
Sebelum peneliti menguraikan kerangka pemikiran sebagai landasan berpijak perlu dikemukakan beberapa teori yang menyatakan keterhubungan antara implementasi kebijakan dan pengembangan sumberdaya manusia terhadap kualitas pelayanan publik. Untuk memahami keterkaitan teori Implementasi Kebijakan Publik dengan pengembangan sumberdaya manusia dinyatakan oleh Dunn (2003 : 115) :
Implementasi kebijakan adalah pelaksanaan dan pengendalian arah tindakan kebijakan sampai dicapainya hasil kebijakan. Kebijakan pada umumnya dirumuskan dengan strategi tersendiri yang menyangkut pengambilan keputusan bagi kegiatan penyelenggaraan pemerintah atau negara dalam menjalankan misi pemerintah. Kebijakan biasanya dilakukan dengan bentuk kegiatan formal. Kebijakan yang telah diambil, dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasi sumber daya, financial dan manusia.
Pernyataan Dunn tentang keterkaitan Implementasi kebijakan publik dengan pengembangan sumberdaya manusia bahwa pemimpin sebagai pelaksana kebijakan harus mampu menterjemahkan dan dilaksanakan sesuai dengan yang telah digariskan, oleh karena itu untuk menggerakkan sumber daya baik manusia dan memotivasi para pelaksana kebijakan dalam kegiatan-kegiatan formal.
Implementasi kebijakan publik berkaitan pula dengan kepentingan untuk memberikan pelayanan, hal ini ditegaskan Subarsono (2005: 88) berikut ini :
Implementasi melibatkan usaha dari policy makers untuk mempengaruhi apa yang disebut street level bureaucrats untuk memberikan pelayanan atau mengatur perilaku kelompok sasaran. Untuk kebijakan yang sederhana, implementasi hanya melibatkan satu badan yang berfungsi sebagai implementator, sedangkan untuk kebijakan makro maka usaha-usaha implementasi akan melibatkan berbagai institusi. Kompleksitas implementasi bukan saja ditunjukkan oleh banyak aktor maupun unit
organisasi yang terlibat, namun juga dikarenakan proses implementasi dipengaruhi oleh berbagai variabel yang kompleks, baik variabel yang individual maupun variabel organisasional, dan masing-masing variabel pengaruh tersebut juga saling berinteraksi satu sama lain.
Pernyataan Subarsono mengungkapkan bahwa implementasi kebijakan langsung terhubung dengan kualitas pelayanan karena masing-masing variabel mempunyai keterkaitan yag sangat erat baik untuk kepentingan private (pribadi), organisasi maupun kepentingan Negara yang menentukan ke kalangan yang luas yaitu masyarakat umum.
Selanjutnya keterhubungan Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Kualitas Pelayanan Publik yang dapat disimak pendapat Notoatmodjo (2003: 4) sebagai berikut, “Suatu proses perencanaan, pendidikan dan latihan dan pengelolaan tenaga atau karyawan, untuk mencapai suatu hasil yang optimal, hasil ini dapat berupa jasa maupun benda atau uang.” Dari pendapat tersebut di atas mengenai Pengembangan Sumber Daya Manusia secara mikro diharapkan untuk dapat menghasilkan secara optimal dan hasil tersebut diantaranya jasa. Sedangkan yang dimaksud jasa adalah pelayanan.
Keterhubungan variabel Implementasi kebijakan publik dan pengembangan terhadap kualitas pelayanan publik menurut Jones (1984: 166) yaitu:
Tiga kegiatan yang perlu dilakukan dalam bentuk implementasi yaitu: organization, interpretation and application. Organisasi berkaitan dengan pembentukan atau penataan kembali Sumber Daya, unit serta metode yang diperlukan untuk menjalankan program, interpretasi adalah agar penafsiran program menjadi jelas dan dapat diterima serta dapat dilaksanakan, sedangkan aplikasi artinya ketentuan rutin dari pelayanan atau lainnya yang disesuaikan dengan tujuan atau instrumen program.
Teori Jones diatas menyatakan bahwa organisasi berkenaan dengan pengembangan sumber daya, interprestasi bagaimana mengimplementasikan program yang telah di sahkan sedangkan aplikasi berkaitan dengan pelayanan yang diberikan oleh para pemerintah.
Implementasi Kebijakan publik menurut Edward III (1980 : 2) :
Implementing a publik policy may include a wide variety of action : issuing and enforcing directives, disbursing funds, making loans, awarding grants, signing contract, collecting data, disseminating information, analyzing problems, assigning and hiring personnel, creating organizational units, proposing alternative, planning for the future, and negotiating with private citizens, business, interest groups, legislative committees, bureaucratic unit, and even other countries. (artinya implementasi kebijakan publik mencakup berbagai tindakan: menyelenggarakan persoalan-persoalan hukum, pemberian bantuan, memberikan pinjaman, memberikan hibah, menandatangani kontrak, mengumpulkan data, mengumpulkan dan menganalisa informasi, menganalisa masalah-masalah, dengar pendapat secara pribadi, membangun unit-unit organisasi, mengusulkan alternatif, merencanakan masa depan, berunding bersama masyarakatnya, pebisnis, kelompok-kelompok kepentingan, lembaga-lembaga legislatif, unit birokrasi, dan dengan beberapa negara yang terkait.)
Pernyataan Edward III mengungkapkan begitu luasnya implementasi kebijakan yang meliputi seluruh aspek kehidupan menyelenggarakan kegiatan mengumpulkan dan mengolah data, dianalisa kemudian direncanakan, dilaksanakan dengan bargaining position melalui legislatif, ekskutif maupun yudikatif pada suatu Negara.
Dimensi Implementasi Kebijakan Publik. adalah faktor-faktor dari kebijakan publik yang mempengaruhi keberhasilan Implementasi Kebijakan menurut Edwards III (1980 : 10) :
1. Communication
For implementation to be effective, those whose responsibility it is to implement a decision must know what they are supposed to do orders to implement policies must be transmitted to the approviate personnel, and they must be clear, accurate, and consistent. If the policies decisions makers wish to see implemented are not clearly specified, they may be mist understood by those at whom they are directed. obiviusly, confusion by implementors about what to do increases the chances that they will not implement a policy as those who passed or ordered intended.
Inadequate communications also provide implementers with discretion as they attempt to turn general policies into specific actions. This discretion will not necessarily be exercised to further the aims of the original decision makers. Thus, implementation instruction that are not transmitted, that are distorted in transmission, or that are vague or consistent present serious obstacles to policy implementation. Conversely, directives that are too precise may hinder implementation by stifling creatifity and adaptability. The causes and consequences of communication failures are analysed in chapter 2.
2. Resources
No matter how clear and consistent implementation orders are and no matter how accurately they are transmitted, if the personnel responsible for carrying out policies lack the resources to do an affective job, implementation will not be effective. Important resources include staff of the proper size and with the necessary expertise; relevant and adequate information on how to implement policies and on the compliance of others involved in implementation; the authority to ensure that policies are arried out a they are intended; and facilities (including buildings, equipment, land, and supplies) in which or with which to provide services. Insufficient resources will mean that laws will not be developed. Chapter 3 analyzed the role of resources in policy implementation.
3. Disposition
The dispositions or attitudes of implementors is the third critical faktor in our approach to the study of publik policy implementation. If implementation is to proceed effectively, not only must implementers know what to do and have the capability to do it, but they must also desire to carry out a policy. Most implementors can exercise considerable discretion in the implementation of policies. One of the reasons for this is their independence from their nominal superiors who formulate the policies. Another reason is the complexity of the policies themselves. The way in which implementors exercise their
discretion, however, dependens in large part upon their dispositions toward the policies. Their attitudes, in turn, will be influenced by their views toward the policies per se and by how they see the policies affecting their organizational and personal interests.
Implementors are not always disposed to implement policies as those who originally made them would like. Consequently, decisionmakers are often faced with the task of trying to manipulate or work around implementors dispositions or to reduce their discretion. In chapter 4 we exmine both the problems that dispositions of implementors pose for implementation and the efforts of their superiors to implement policies in spite of these dispositions.
4. Even if sufficient resources to implement a policy exist and implementers know what to do it, implementation may still be thwarted because o deficiencies in bureaucratic structure. Organizational fragmentation may hinder coordination necessary to implement successfully a complex policy requiring the cooperation of many people, and it may also waste scarce resoures, inhibit change, create confusion, lead to policies working at cross-purpoes, and result in important fuctions being overloocked.
As organizational units aminister policies they develop standard operating procedures (SOPs) to handle the routine situations with which they regularly deal. Unfortunately, SOPs designed for on going policies are often inappropriate for new policies and may cause resistance to change, delay, waste,or unwanted actions. SOPs sometimes hinder rather than help policy implementation. Both organizational fragmentation and standard operating procedures are discussed in chapter 5.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan menurut Edward III tersebut di atas terjemahannya oleh peneliti sebagai berikut: 1. Komunikasi.
Implementasi yang efektif baru akan terjadi apabila para pembuat keputusan (decision maker) sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan. Pengetahuan atas apa yang akan mereka kerjakan baru akan dapat berjalan manakala komunikasi berlangung dengan baik, sehingga setiap keputusan kebijakan dan peraturan implementasi harus ditransmisikan (atau dikomunikasikan) kepada bagian personalia
yang tepat. Selain itu kebijakan yang dikomunikasikan pun harus tepat, akurat, dan konsisten. Komunikasi (atau pentransmisian informasi) diperlukan agar para pembuat keputusan dan para implementor semakin konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan yang akan diterapkan dalam masyarakat.