II. TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Kerangka Pemikiran dan Definisi
Fenomena TKI Wanita sangat beragam, melibatkan berbagai aspek, yaitu pada tingkat individu, rumah tangga, lingkungan sosial di desa seperti sponsor/calo, kepala desa dan masyarakat, Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (P2TKIS), Balai Latihan Kerja, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Nilai-nilai dan norma-norma budaya tentang pembagian peran antar pria dan wanita mempunyai dampak besar pada kedudukan wanita dan merupakan variabel penting yang mendukung dan memperkuat perbedaan mendasar dalam kedudukan ekonomi wanita yang lebih rendah dari pada pria. Krisis ekonomi yang melanda dunia telah mengakibatkan pengaruh yang lebih mempersulit dan merendahkan kedudukan wanita, terutama wanita miskin di daerah pedesaan, yang pendapatan riilnya menjadi semakin berkurang dengan beban kerja yang semakin meningkat.
Calon TKI Wanita tersebut direkrut secara formal (lewat P2TKIS) dan secara informal (desa, sponsor/calo). Adapun dalam seleksi calon TKI, ikut terlibat pemerintah, dalam hal ini Disnaker (sosialisasi/penyuluhan, pendaftaran, seleksi dan perjanjian penempatan), Departemen Kesehatan (pemeriksaan kesehatan dan psikologi calon), Departemen Hukum dan HAM (paspor), Departemen Keuangan (dana perlindungan, penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri).
Fokus dalam penelitian ini adalah proses yang dilakukan oleh TKI Wanita sebelum berangkat ke Saudi Arabia, yaitu:
1. Latar belakang pada tingkat individu, rumah tangga, dan lingkungan sosial dimana TKI tinggal.
2. Proses dan kondisi keberangkatan TKI, antara lain:
a. Persiapan keberangkatan yang mencakup perizinan dari keluarga dan desa.
b. Seleksi administratif di P2TKIS, medical check-up, pendidikan dan pelatihan, dan uji kompetensi.
c. Penerbitan paspor dan visa, pengurusan KBSA, persiapan tiket penerbangan, persiapan PAP, penandatangan perjanjian kerja
Dalam penelitian ini beberapa istilah dasar didefinisikan sebagai berikut:
1. Migrasi adalah suatu bentuk gerak penduduk geografi dan teritorial antara wilayah yang melibatkan perubahan tempat asal yaitu darai tempat tinggal sampai tempat tujuan.
2. Motivasi TKI wanita adalah motif yang mendorong TKI untuk melakukan sesuatu dengan cara bekerja di luar negeri yang digolongkan ke dalam (1) Memperbaiki kondisi ekonomi keluarga (2) Memperbaiki kondisi keluarga dengan ijin keluarga (3) Memperbaiki kondisi keluarga, mencari pengalaman.
3. Rumah tangga adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik, biasanya tinggal bersama serta makan dari satu dapur.
4. Izin suami/orang tua adalah kesediaan suami/orang tua untuk memberikan dukungan moral bagi satu atau lebih anggota keluarganya untuk bekerja sabagai TKI Wanita di Suadi Arabia.
5. Peranan sponsor/calo adalah kegiatan sponsor/calo dalam mengurus dan menfasilitasi keberangkatan TKI ke Arab Saudi yang mencakup pemberian pinjaman modal dan membantu mengurus berbagai perlengkapan administrasi TKI Wanita.
6. Izin kepala desa adalah ketersediaan peluang untuk bekerja bagi tenaga kerja yang memungkinkan warga masyarakat usia kerja dalam hal ini TKI Wanita melakukan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Saudi Arabia.
PRA
2. Surat Ijin Pengerahan (SIP), Informasi/ pengantar rekrut ke Prov/Kab/Kota (DEPNAKERTRANS)
7. Dana Pembinaan, Penempatan dan Perlindungan TKI (PP 92/2000) : 15 USD (PNBP) (DEPKEU-P2TKIS)
8. Visa Kerja (dari perwakilan Negara Penempatan) (P2TKIS)
Gambar 2. Kerangka pemikiran Analisis Proses Pemberangkatan Tenaga Kerja Indonesia Wanita Ke Saudi Arabia
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT SS Jakarta. Perusahaan tersebut dipilih karena sudah berpengalaman dalam bidang penyediaan jasa tenaga kerja ke Saudi Arabia sejak tahun 1999 sampai dengan sekarang serta jarang bermasalah, sebagaimana dijelaskan oleh staf Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Di samping itu, PT SS juga mempunyai spesialisasi khusus dalam memberangkatkan TKI ke Saudi Arabia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - Maret 2008.
3.2 Metode Penelitian
Data penelitian berupa data primer dan data sekunder. Data primer berupa terdiri dari: (1) data diri; (2) data keluarga; (3) motivasi menjadi TKI;
(4) proses perijinan; (5) pelatihan di P2TKIS ; dan (6) pengurusan dokumen.
Data primer tersebut diperoleh melalui pengamatan di lapangan, dengan menggunakan kuesioner pada calon TKI Wanita yang akan berangkat ke Saudi Arabia. Jumlah responden penelitian ini adalah 20 orang, terdiri dari 10 orang TKI yang akan berangkat ke Saudi Arabia untuk pertama kalinya, dan 10 orang TKI yang sudah pernah berangkat ke Saudi Arabia dan bersiap berangkat lagi (TKI berulang).
Data tersebut akan diklasifikasikan berdasarkan dua kategori, yaitu:
1. Data diri, sumber daya rumah tangga dan lingkungan sosial responden penelitian, meliputi antara lain : (1) Data Diri; Umur, Status Perkawinan,
Pendidikan, Asal Daerah dan Motivasi; (2) Sumber daya rumah tangga;
Pekerjaan suami/orang tua/anggota keluarga yang lain dan perijinan; (3) Sumber informasi; Diri Sendiri, Tetangga dan Sponsor/calo.
2. Data Perizinan, meliputi antara lain: (1) Izin suami/orang tua/wali, Akta Kelahiran/Surat Kenal Lahir/Ijazah, Surat Nikah; (2) Mengurus perizinan sendiri; (3) Mengetahui isi surat perjanjian kerja (SPK/Kontak Kerja)
Pemilihan sampel dilakukan secara sengaja (purposif), yaitu di PT SS yang mengirimkan TKI wanita sebagai penata laksana rumah tangga ke Saudi Arabia. Data sekunder diperoleh dari data administrasi, dokumen-dokumen, literatur, catatan instansi dan sebagainya.
3.3 Pengolahan Data
Data yang diperoleh, baik primer maupun sekunder, dianalisis dan disajikan dalam bentuk data kuantitatif dan kualitatif, sesuai dengan kuesioner yang disebar dan wawancara yang didapatkan.
Selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel untuk mempermudah pemahaman dan dijelaskan secara deskriptif dengan menginterpretasikan hasil wawancara tersebut.
IV. PROFIL PERUSAHAAN DAN PROFIL TKI WANITA
4.1. Profil Perusahaan
PT SS mendapatkan SIUP (Surat Izin Usaha Penempatan) dari Depnakertrans Izin No.KEP 095/MEN/DN-LN/BP/2000 tahun 2000, memfokuskan diri untuk bergerak di bidang penyediaan dan penempatan tenaga kerja di dalam dan luar negeri.
Pada saat ini karyawan PT SS mencapai 15 orang. Bidang yang ditangani perusahaan ini adalah pengadaan tenaga kerja di bidang: industri, perawat, pembantu rumah tangga, perkebunan, transportasi, operator, konstruksi, babysitter, dan lainnya bagian terbesar adalah pengiriman tenaga kerja untuk pembantu rumah tangga (Penata Laksana Rumah Tangga). Negara tujuan Saudi Arabia, Malayisa, Singapura, Brunei Darusalam, dan Hongkong.
Meski bidang yang ditangani perusahaan mencakup pengadaan tenaga kerja di berbagai bidang, sampai sekarang PT SS berfokus pada pengiriman TKI Wanita di Saudi Arabia sebagai pembantu rumah tangga. Hal ini selain gampang merekrut calon TKI, juga karena banyak peminat.
Dari Tabel 3 tersebut, TKI yang diberangkatkan oleh PT SS yang dimulai tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 sebagian besar (92,5 persen) diberangkatkan ke Saudi Arabia, kemudian Malaysia (4,7 persen), Hongkong (1,9 persen), Brunei Darussalam (0,6 persen) dan Singapura (0,3 persen).
Setiap tahun TKI yang diberangkatkan juga terus meningkat dengan persentase kenaikan yang bervariasi. Antara 2005-2006 naik signifikan (43 persen) karena ditunjang oleh prosedur yang mudah bagi calon TKI ke Saudi Arabia. Antara 2006-2007 turun signifikan (6,7 persen) karena persaingan usaha yang sangat ketat dengan perusahaan lain. Ternyata dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007, TKI Wanita dan TKI Pria selalu TKI Wanita lebih besar dari pada TKI Pria, ini menunjukkan bahwa TKI wanita lebih besar peluangnya mencari kerja di luar negeri dari pada pria karena wanita sebagai pembantu rumah tangga yang tidak memerlukan pendidikan yang tinggi. Dan ini terjadi pada TKI wanita yang bekerja di Saudi Arabia lebih besar prosentasenya dibandingkan dengan negara-negara lain.
Wilayah rekruitmen calon TKI yang dijaring oleh PT SS Jakarta meliputi tiga zona yaitu:
1. Jawa Barat, meliputi Bandung, Indramayu, Majalengka, Bogor, Cirebon, Tangerang, Serang, Sukabumi, Cianjur, dan Tasikmalaya,
2. Jawa Tengah, meliputi Cilacap, Banyumas, Purwokerto, Pekalongan, Pati, Semarang, Brebes, dan Kebumen.
3. Jawa Timur, meliputi Banyuwangi, Lumajang, Blitar, Bojonegoro, Tuban, Madiun, Ponorogo, Malang, Ngawi, Kediri, Nganjuk, Tulungagung, dan Trenggalek.
Berdasarkan informasi manajer/pemilik PT SS (Smt, 42 th) bahwa rekruitmen yang dilaksanakan pada PT SS ini dimulai sejak tahun 1999 sampai dengan sekarang, Jawa Barat paling tinggi sebagai pengirim tenaga kerja Indonesia khususnya ke Saudi Arabia dan sebagai pembantu rumah tangga. Ini juga didukung oleh letak PT SS yang dekat dengan provinsi Jawa Barat, sehingga memudahkan proses lewat PT SS tersebut.
Selain faktor letak geografis, pelayanan yang diberikan oleh PT SS kepada setiap calon TKI atau TKI yang sudah berangkat cukup baik, mulai dari proses penampungan, program pelatihan, pelayanan harian seperti makan, minum dan sebagainya. Pelayanan yang baik ini membuat para pelanggan, yaitu calon TKI tersebut semakin lama semakin bertambah dan menjadi pelanggan loyal. Hal ini ditunjang oleh adanya mitra kerja di dalam negeri (BLKLN Laksana Terampil, PT Asuransi Jasindo, dan PT Jamsostek) serta 8 mitra usaha luar negeri khususnya di Saudi Arabia.
Hal lain yang mendukung adalah reputasi PT SS yang baik. Ketika ada satu atau beberapa orang yang merasa cocok dengan sebuah perusahaan, maka mereka akan menyampaikan hal itu pada orang-orang di sekitar mereka. Pembicaraan dari
mulut ke mulut inilah yang membuat PT SS menjadi perusahaan tujuan pemberangkatan.
4.2. Profil TKI Wanita 4.2.1 Aspek Individu
Tabel 4. Data Diri, Sumberdaya Keluarga dan Sumber Informasi menjadi TKI, 2008.
Kategori TKI Pertama kali
Total responden 55 persen umurnya di atas 30 tahun. 40 persen berumur 20-30 tahun dan hanya 1 responden (5 persen) yang berumur di bawah 20 tahun. Antara TKI yang pertama kali berangkat ke Saudi Arabia dengan TKI yang berulang, terlihat bahwa TKI yang berulang usianya cenderung lebih tua dari pada TKI yang pertama kali berangkat.
Status perkawinan, 75 persen sudah menikah 25 persen belum beda TKI pertama kali dengan TKI berulang. Maka antara TKI yang pertama dengan TKI yang berulang berkerja di Saudi Arabia adalah relatif sama dalam status pernikahan.
“Kita sudah lama nikah, tetapi hidup begini-begini aja, karena suami saya nganggur dan pada saat ini kondisinya stress, nggak tahu karena apa yang pasti suami saya tidak bisa cari uang guna menghidupi kedua anak saya (yang satu sekolah di STM dan SD). Pokoknya saya ingin merubah kehidupan saya. Kata sponsor (calo), menjadi TKI mudah dan gajinya besar.” (SM,36 Th, TKI berulang)
Hal ini terkait dengan kebutuhan hidup setelah berkeluarga yang membutuhkan pemenuhan uang.
“Anak harus sekolah, suami tidak/belum kerja (kerja musiman), sedangkan kebutuhan tidak bisa ditunda, sehingga perlu ada penyelesaian yang nyata, yaitu menjadi TKI”. (Rk, 37 th, TKI berulang)
Kerja musiman biasanya terjadi di kalangan buruh petani, di mana ketika musim tanam atau musim panen, mereka bekerja di sawah/ladang. Sedangkan kalau musim kering atau kemarau, maka mereka menganggur.
Status pendidikan responden sebagian besar lulus SD, dengan prosentase 70 persen. Ada 30 persen diantara mereka yang tidak lulus SD. Mereka sulit mencari kerja di dalam negeri.
“Yang lulusan sarjana saja masih banyak yang menganggur, apalagi mereka yang SD saja tidak tamat, yach... menjadi pembantu rumah tangga jalan keluarnya.“ (Ay, 29 th, sponsor/calo)
Pekerjaan sebagai TKI Wanita di Saudi Arabia tidak memerlukan keahlian dan pendidikan khusus.
Daerah asal calon TKI dari Jawa Barat , Jawa Tengah, Jawa Timur dan luar Jawa. Wilayah Jawa Barat 45 persen, Jawa Tengah 25 persen, Jawa Timur 20 persen dan luar Jawa 10 persen. Hal ini terkait dengan kedekatan wilayah antara PT SS dan Jawa Barat. Wilayah Jawa Barat yang banyak menyumbangkan TKI ke Saudi Arabia adalah Indramayu, Ciamis, Sukabumi dan Tasikmalaya.
“Saya tinggal di Sukabumi. Masa mau nyari penyalur (TKI) harus jauh-jauh. Saya milih tempat yang dekat saja. Apalagi sponsor saya menyarankan ke Jakarta”. (Sp, 23 th, TKI pertama kali)
Yang berasala dari luar Jawa hanya sebagian kecil, karena menyangkut pertimbangan jarak, dimana untuk proses administrasi, proses keberangkatan dan sebagainya akan terasa sulit dan butuh waktu lebih lama apabila harus ke Jakarta.
“Dari pada saya cari P2TKIS yang baru dan belum tahu akan kinerjanya, mendingan saya pakai jasa P2TKIS yang memberangkatkan saya dulu” (Hb, 29 th, TKI berulang)
Secara umum TKI pertama kali dan TKI berulang daerah asal mereka hampir sama hal ini ditunjukkan dengan data, bahwa TKI dari Jawa Barat hanya turun 5 persen, Jawa Tengah turun 5 persen, Jawa Timur naik 10 persen, sedangkan luar Jawa sama.
Motivasi ekonomi menjadi alasan utama (TKI pertama kali 70 persen dan TKI berulang 60 persen) responden untuk menjadi TKI. Mereka menganggap bahwa kerja sebagai TKI sangat menjanjikan dari segi gaji, dan lapangan kerja jelas ada/terjamin. Mereka (calon TKI) melihat (tetangga/saudara) yang sudah pernah ke luar negeri punya ekonomi yang lebih baik. Hal ini menjadi daya dorong bagi mereka untuk memperbaiki ekonomi mereka dan mencontoh tetangga mereka menjadi TKI di luar negeri.
Tabel 5. Responden menurut Umur dan Motivasi Keberangkatan TKI ke Saudi Arabia, 2008
Motivasi
Umur Ekonomi Non-ekonomi Ekonomi dan
Non-Ekonomi
- < 20 th. - - 1
- 20-30 th 5 2 1
- > 30 th 8 1 2
Jumlah 13 3 4
Hubungan motivasi dan umur TKI, maka motivasi ekonomi menjadi pendorong utama (ekonomi 65 persen, Non Ekonomi 20 persen dan Ekonomi dan non ekonomi 15 persen) untuk menjadi TKI. Sebagian besar responden pada kategori ini berumur lebih dari 30 tahun, dan rata-rata responden sudah menikah. Motivasi non-ekonomi yang ditemukan pada responden meliputi: mencari pengalaman dan gengsi dengan tetangga. Gabungan antara motivasi ekonomi dan non-ekonomi berupa sengketa keluarga (ditinggal oleh suami, broken home).
“Saya punya masalah dengan adik majikan. Terus saya pulang ke kampung (Indonesia) sebelum masa kerja berakhir. Ternyata setelah sampai di kampung suami saya sudah serumah dengan wanita lain.
Saya ingin cerai, tapi suami tidak mau. Lebih baik saya kembali kerja di Saudi Arabia walaupun di kampung hanya dua bulan” (Kw,32 th,TKI berulang)
4.2.2 Aspek Rumah Tangga
Tabel 4, sebagian besar calon TKI berasal dari keluarga golongan bawah, terutama buruh tani ( 50 persen) Bahkan ada keluarga yang suaminya masih menganggur (25 persen).
“Suami saya kadang kerja kadang nggak. Tergantung musim di sawah.
Kalau lagi tanam/panen, ya kerja. Tapi kalau kemarau, ya menganggur“. (Hb,29 th,TKI berulang)
Pekerjaan suami/orang tua, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara TKI pertama kali dan TKI berulang. Hal ini ditunjukkan dengan data bahwa suami/orang tua yang menganggur hanya selisih 5 persen antara TKI pertama kali dan TKI berulang. Sedangkan profesi sebagai buruh tani dan pedagang tidak ada perbedaan. Sedangkan usaha sendiri juga hanya selisih 5 persen.
Tabel 6. Perolehan Data Perizinan, TKI Pertama Kali dan TKI Berulang, 2008 Kategori TKI Pertama kali TKI berulang Izin suami/orang tua, Akta
Tabel 6 menunjukkan semua responden memiliki izin dari orang tua/suami/wali. Mereka tahu bahwa izin adalah wajib dan tanpa surat izin tersebut mereka tidak diproses lebih lanjut.
Mengurus perizinan, hampir semua TKI mengandalkan bantuan sponsor/calo.
Hal ini terungkap dari data yang menunjukkan 95 persen responden tidak memproses perizinan sendiri melainkan menggunakan jasa calo/sponsor. Hanya 1 orang TKI pertama kali yang memproses/mengurus sendiri, mulai dari surat keterangan dari RT, RW, Desa, Disnaker, dan sebagainya.
„Saya ngurus sendiri jauh lebih lama dan biaya yang mahal dibanding menggunakan jasa sponsor/calo. Baru mengurus surat tingkat RT saja sudah dikenakan biaya Rp.50.000,- belum yang lain-lain, padahal cukup Rp.250.000,- saja sudah dapat surat ijin sampai dengan selesai, boleh ngutang lagi...“ (Hr,33 th, TKI pertama kali)
Berdasarkan keterangan dari responden, bila memproses dokumen administrasi calon TKI secara sendiri, mereka memerlukan waktu minimal 3 hari kerja. Tetapi kalau menggunakan jasa calo/sponsor, maka cukup 1 hari kerja. Sedangkan biaya yang dikeluarkan oleh calon TKI apabila memproses sendiri ternyata lebih mahal dibandingkan menggunakan jasa calo/sponsor.
Untuk menggunakan jasa sponsor/calo alasan utamanya adalah terlalu berbelitnya birokrasi di berbagai instansi, ketidaktahuan prosedur pengurusan, faktor kedekatan antara calon TKI dan calo. Dalam hal pengetahuan tentang isi surat perjanjian kerja, semua responden menyatakan hanya mengetahui sebagian saja.
Adapun hal-hal yang mereka ketahui dan tidak ketahui, dipaparkan pada Tabel 7.
Tabel 7 Pengetahuan TKI tentang isi Perjanjian Kerja antara Pengguna Jasa Tenaga Kerja dengan Tenaga Kerja Sektor Rumah Tangga, 2008
No Ketentuan-Ketentuan di
5 Ibadah haji dan umrah (pasal
4) 0 0
9 Mengikuti majikan ke luar
negeri (pasal 8) 0 0
14 Jangka waktu dan berakhirnya
perjanjian kerja (pasal 13) 100 100
Semua responden (100 persen ) menyatakan bahwa ketika penandatanganan Surat Perjanjian Kerja (SPK), mereka hanya mengetahui isi SPK sebagian. Mereka hanya membaca tiga hal dari isi SPK tersebut, yaitu: besaran gaji yang diterima pada setiap bulannya, penempatan kerja, dan jangka waktu kontrak kerja. Ketidaktahuan hak dan kewajibannya menyebabkan TKI tidak memiliki posisi tawar di hadapan pihak-pihak yang memproses keberangkatan dan pemulangan, juga dihadapan majikan. Terlebih lagi, TKI juga tidak mengetahui mekanisme penanganan konflik antar TKI dan majikan dan jaminan keamanan serta perlindungan bekerja.
„Pokoknya saya hanya melihat gaji saya setiap bulannya/800 real, alamat dan nama majikan saya serta kontrak kerja saya selama dua tahun.
Langsung saja saya teken di atas meterai...“ (semua responden,TKI pertama kali & berulang)
4.2.3. Aspek Informasi Kerja dari Lingkungan
Berdasarkan Tabel 4, peranan sponsor/calo dominan dalam hal memberikan informasi seputar pekerjaan menjadi TKI dan prosedur keberangkatan. Dari membantu mengurus berbagai kelengkapan administrasi TKI sampai dengan meminjamkan modal dalam rangka mengurus dan memfasilitasi keberangkatan TKI ke Saudi Arabia.
“Menggunakan jasa calo/sponsor lebih cepat dan lebih murah daripada mengurus sendiri. Malah-malah saya dipinjami modal terlebih dahulu.
Nanti diganti setelah kerja di Saudi Arabia“. (AS,20 th,TKI pertama kali)
Berdasarkan informasi dari responden bahwa lama waktu mengurus sendiri hingga 5 hari sampai dengan 7 hari, dibanding diurus calo/sponsor 1 sampai dengan 2
hari. Sedangkan biaya mengurus sendiri hingga Rp. 500.000,-, dibanding diurus calo/sponsor Rp. 250.000,-.
Informasi dari tetangga juga berpengaruh dikarenakan lingkungan dimana TKI tinggal. Responden yang mencari informasi sendiri hanya sebagian kecil.
Mencari informasi ini umumnya pada keluarga mereka yang pernah berangkat ke Saudi Arabia menjadi TKI baik ibu, kakak/adik perempuan, atau saudara yang lain.
V. PROSES PEMBERANGKATAN DAN PERAN MASING-MASING PIHAK
Proses perekrutan TKI Wanita sampai dengan pemberangkatan ke Saudi Arabia, melibatkan banyak pihak yang terlibat/memainkan peran, mulai dari kepala desa, petugas penyuluh lapangan, Disnaker/BP2TKI, Dinas Kesehatan, Deplu dan sebagainya.
Inpres Nomor 6 Tahun 2006 tanggal 2 Agustus 2006, maka proses perekrutan sampai dengan pemberangkatan, termasuk peranan masing-masing pihak yang terlibat terhadap TKI Wanita, beserta perbandingan antara peraturan dan fakta di lapangan dapat dianalisa sebagai berikut :
Tabel 8. Perbandingan Peraturan dan Fakta Proses Pemberangkatan, 2008
No PROSES Informasi/ pengantar rekrut ke Prov/Kab/Kota
Job Order/ Visa Wakalah/Demand Letter datangnya dari kantor perwakilan yang ada di Saudi Arabia
Surat Ijin Pengerahan (SIP) ada pada P2TKIS
Penyululuhan dan seleksi dilaksanakan langsung oleh Kantor Cabang P2TKIS (sponsor/calo) di daerah asal calon
5 syarat maka calon TKI baik pertama kali maupun TKI berulang, mengikuti pelatihan,uji kompetensi di Balai Latihan Kerja/ P2TKIS selama 3 – 4 minggu
Visa kerja datangnya dari Saudi Arabia langsung oleh Perwakilan P2TKIS
- PAP dilaksanakan oleh BP3TKI, TKI diwajibkan mengikuti setelah terbit paspor dan visa kerja, bagi TKI berulang dengan negera yang sama diperbolehkan tidak mengikuti asal tidak lebih dari 2 tahun sejak kepulangan TKI.
- PAP dilaksanakan sekurang-kurangnya 20 jam pelajaran/3 hari efektif.
- TKI pertama dan berulang hanya tahu sebagian saja isi dari perjanjian kerja (majikan, gaji dan lama bekerja)
- Terbitlah Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN)
Perbandingan antara proses pemberangkatan TKI sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan keadaan di lapangan, sangat berbeda khususnya pada saat proses rekrutmen. Ini terlihat adanya campur tangan pihak pemerintah daerah
Kabupaten/Kota tidak melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan dibuktikan adanya calo/sponsor dalam rangka merekrut calon TKI yang diangkat langsung oleh kantor pusat P2TKIS. Jadi pihak yang berperan langsung dalam proses rekrutmen adalah P2TKIS, sedangkan Disnakertrans, Pemda, dan BP2TKI tidak berperan. Padahal seharusnya yang berperan besar dalam merekrut calon TKI adalah Disnakertrans, Pemda, dan BP2TKI. Mereka harus melaksanakan penyuluhan dan menginformasikan adanya lowongan kerja di luar negeri.
Pihak Pemda/Disnaker/ BP2TKI dalam perekrutan calon TKI, mereka tidak turun langsung ke lapangan. Hal ini dimungkinkan terjadi karena minimnya dana untuk proses rekrutmen atau kesibukan lain yang dijalani mereka (Sumber: Smt, 42 th, PT SS)
P2TKIS atau kantor cabang/petugas lapangan/sponsor calo yang mendapat kuasa untuk melakukan seleksi calon TKI secara langsung, maka P2TKIS bersama-sama dengan instansi kabupaten/kota melakukan seleksi.
Seleksi tersebut meliputi : (1) administrasi dan (2) minat dan ketrampilan calon TKI. (Peraturan Menakertrans No.PER.19/MEN/V/2006, pasal 10). Tetapi yang terjadi dilapangan hanya P2TKIS saja yang menyeleksi calon TKI tersebut, sampai dengan pengurusan administrasi sebagai syarat menjadi TKI dan mengabaikan minat serta ketrampilan calon TKI. Pengguna atau Mitra Usaha yang akan melakukan seleksi ketrampilan calon TKI wajib datang ke Indonesia untuk melakukan seleksi yang dilaksanakan bersama-sama P2TKIS dengan instansi Kabupaten/Kota yang berpedoman pada jenis dan persyaratan jabatan berdasarkan surat permintaan TKI/job order/employment order/demand
letter/wakalah. (Peraturan Menakertrans No.PER.19/MEN/V/2006, pasal 13).
Tetapi fakta yang ada di lapangan pihak Pengguna/Mitra Usaha hanyalah dengan
Tetapi fakta yang ada di lapangan pihak Pengguna/Mitra Usaha hanyalah dengan