• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pemberangkatan dan Syarat-syarat Administratif TKI

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Proses Pemberangkatan dan Syarat-syarat Administratif TKI

Depnakertrans Sumber: Depnakertrans,2006

Gambar 1. Proses Pemberangkatan dan Syarat-syarat Administratif TKI

- Recruitmen Agreement

- Job Order/Visa Wakalah/Demand Letter - Draft Perjanjian Kerja

DISETUJUI OLEH KBRI/KJRI

- Surat Ijin Pengerahan (SIP)

- Informasi/pengantar rekrut ke Prov/Kab/Kota DEPNAKERTRANS

Dana Pembinaan, Penempatan & Perlindungan TKI (PP 92/2000) : 15 USD (PNBP)

Gambar tersebut diatas adalah sebagai tindak lanjut hasil kesepakatan Rakornis (Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi) di Hotel Santika (Desember 2006) dan INPRES Nomor 6 Tahun 2006 tanggal 2 Agustus 2006 huruf ‘A’ point 1 huruf ‘c’ tentang penyuluhan, seleksi dan penandatanganan perjanjian penempatan. Menghasilkan

“Petunjuk Pelaksanaan Rekrut Calon TKI ke Luar Negeri” sebagai pedoman pelaksanaan rekrut calon TKI (Penata Laksana Rumah Tangga).

Proses penempatan TKI oleh P2TKIS dilakukan setelah ada permintaan nyata.

Dalam pasal 12 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 19 tahun 2006 tanggal 12 Mei 2006, dikenal berbagai bentuk permintaan nyata (Job Order) yaitu:

(1) Employment Order, (2) Demand Letter, (3) Visa untuk kerja (Wakalah), (4) Bentuk lain sesuai dengan peraturan negara tujuan. Employment Order maupun Demand Letter tercantum hal-hal sebagi berikut : (1) Nama dan alamat peminta TKI

di luar negeri, (2) Jenis serta jumlah TKI yang diminta, (3) Persyaratan personal, (4) Persyaratan kerja. Visa untuk kerja (Wakalah) merupakan bentuk Job Order dari negara kawasan Timur Tengah.

Setelah secara resmi P2TKIS sebagai pelaksana penempatan TKI memperoleh

“Permintaan Nyata” dari mitra kerjanya di luar negeri, selanjutnya P2TKIS harus mengajukan izin/rekomendasi dan Depnaker untuk melakukan kegiatan rekruitmen yang diawali dengan kegiatan penyuluhan, pendaftaran dan seleksi. Dalam penyuluhan, mengawali proses pelaksanaan penampatan TKI harus menjelaskan sebagai berikut: (1) Adanya lowongan pekerjaan dan jabatan yang tersedia di luar

kerja yaitu upah, jaminan sosial, waktu kerja dan kondisi kerja dan lain-lain, (4) Situasi dan kondisi negara tempat kerja, (5) Hak dan kewajiban TKI.

Menurut pasal 9 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.19/MEN/V/2006 setiap calon TKI yang akan dipekerjakan ke luar negeri harus memenuhi syarat: (1) Usia minimal 18 tahun, kecuali peraturan negara tujuan menentukan lain; (2) Memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan akte kelahiran/surat kenal lahir dari instansi yang berwenang; (3) Sehat mental dan fisik dibuktikan dengan surat keterangan dokter atau lulus tes kesehatan sesuai dengan ketentuan negara penempatan; (4) Surat Ijin dari suami/isteri/orang tua/wali yang diketahui oleh Kepala Desa atau Lurah; (5) kartu Tanda Pendaftaran sebagai pencari kerja dari instansi Kabupaten/Kota; (6) Berpendidikan tertentu, memiliki keterampilan atau pengalaman sesuai dengan persyaratan jabatan atau pekerjaan yang diperlukan dan buktikan dengan sertifikat keterampilan; (7) Bersedia mematuhi pelaksanaan isi perjanjian kerja yang telah disepakati dan ditanda tangani sebelum berangkat ke negara tempat bekerja; (8) Memiliki paspor dari kantor imigrasi terdekat dengan daerah asal TKI sesuai dengan peraturan Undang Undang yang berlaku; (9) Bersedia memikul biaya yang diperlukan dalam proses penempatan yang telah disepakati sesuai dengan ketentuan yang berlaku; (10) Mengikuti program Pengiriman uang (remittance), tabungan serta program kesejahteraan tenaga kerja.

Setelah mengadakan penyuluhan, maka calon TKI dapat melakukan pendaftaran dan seleksi. Pendaftaran dilaksanakan di kantor Depnaker setempat atau melalui P2TKIS langsung. pada tahap ini, calon TKI dikenai biaya untuk proses

keberangkatannya ke luar negeri. Pemungutan biaya oleh P2TKIS terhadap calon TKI bertujuan untuk menambah biaya akomodasi dan administrasi.

Kegiatan penyeleksian terhadap calon TKI dilakukan Depnaker atau P2TKIS secara langsung, dengan tujuan memperoleh TKI sesuai dengan keperluan dan memenuhi ketentuan yang digariskan dalam perencanaan pengerahan. Setelah kedua kegiatan itu berlangsung selanjutnya P2TKIS sebagai pelaksana penempatan tenaga kerja membuat daftar nominasi calon TKI yang dinyatakan lulus dan menyerahkannya kepada Depnaker setempat.

Berdasarkan daftar nominasi calon TKI, Depnaker setempat memberikan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) kepada setiap calon TKI guna dokumen administratif rencana pengerahan TKI dari daerah Kandepnaker setempat. Selain itu KTKLN juga merupakan persyaratan bagi calon tenaga kerja keluar negeri dalam mengurus paspor.

Setiap calon TKI yang akan ditempatkan di luar negeri memerlukan pemenuhan persyaratan kualifikasi kerja tertentu sebagaimana permintaan pihak pengerah jasa TKI. Salah satu persyaratan tersebut adalah terpenuhinya kualifikasi keterampilan kerja yang sesuai dengan permintaan pengguna jasa TKI. Untuk memastikan kesesuaian persyaratan ini maka perusahaan jasa menyelenggarakan latihan keterampilan dan bahasa Arab pada setiap calon yang dipersiapkan.

Bagi calon TKI ke luar negeri menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.19/MEN/V/2006 pasal 16 bahwa calon TKI yang telah lulus seleksi dan telah menandatangani perjanjian penempatan TKI dengan P2TKIS

terhadap calon TKI untuk keperluan pelatihan kerja, pemeriksaan kesehatan dan psikologi, dan pengurusan dokumen.

Selesai mengikuti program latihan yang diselenggarakan P2TKIS, calon TKI tersebut diajukan oleh P2TKIS untuk mengikuti uji keterampilan pada Departemen Tenaga Kerja. Calon TKI yang berhasil dalam uji keterampilan, dalam rangka meningkatkan dan penetapan kualifikasi keterampilan profesi atau alih profesi dapat memilih bukti lulus dalam mengikuti uji keterampilan. Dengan demikian calon TKI mendapat pengukuhan keterampilan dengan pemberian sertifikat keterampilan TKI.

Persyaratan pokok lainnya yaitu perjanjian kerja, paspor serta visa. Berkenaan dengan perjanjian seperti penandatanganan perjanjian kerja oleh TKI. Hal itu dilakukan setelah ditandatangani pihak pengguna jasa di luar negeri. Penandatanganan perjanjian kerja diketahui oleh atas nama Kepala Perwakilan Republik Indonesia (dimana TKW ditempatkan) dan atas nama Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Selain perjanjian setiap calon TKI juga harus memiliki paspor dan visa sesuai dengan negara tujuan. Pengurusan paspor dilakukan oleh setiap calon TKI bersama pembina pengelola P2TKIS, sedangkan pengurusan visa dapat dilakukan P2TKIS.

Setelah kelengkapan persyaratan teknis dan administrasi pengerahan tenaga kerja dipenuhi, calon TKI diantar oleh petugas P2TKIS menuju pelabuhan pemberangkatan dengan membawa kelengkapan pribadi dan dokumen perjalanan antara lain berupa identitas TKI melalui paspor dan visa, tiket perjalanan, perjanjian kerja yang telah disyaratkan dan direkomendasikan bebas fiskal luar negeri.

P2TKIS wajib mengikutsertakan calon TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri untuk mengikuti Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP), dengan melampirkan paspor dan visa kerja calon TKI kepada Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI). Dan calon TKI diberikan surat keterangan tlah mengikuti PAP yang diterbitkan oleh BP3TKI. Bagi TKI yang pernah mengiktui PAP, apabila akan bekerja kembali ke negara yang sama, tidak diwajibkan mengikuti PAP dengan ketentuan tidak lebih dari dua tahun sejak kepulangan TKI yang bersangkutan ke Indonesia.

Dalam hal ini BP3TKI yang membuat jadwal PAP, pelaksanaan PAP dikelompokan menurut negara tujuan penempatan dan dilaksanakan sekurang-kurangnya 20 jam pelajaran. Bagi tenaga kerja Indonesia setelah sampai pada negara tujuan wajib melaporkan diri ke kantor perwakilan negara Indonesia yang berada di negara tersebut, baik Kedutaan Besar (Kedubes), Konsulat Jendral (Konjen), atau lembaga lain yang setara dengan itu. Hal ini bertujuan agar keberadaan tenaga kerja diketahui sehingga memudahkan selama pemrosesan bila terjadi sesuatu hal-hal yang tidak diinginkan.

Tenaga kerja yang akan kembali dari negara tersebut menuju negara asalnya dapat dilakukan dengan berbagai pertimbangan seperti : berakhirnya masa perjanjian kerja; pemutusan hubungan kerja sebelum masa kerja berakhir; terjadi perang, bencana alam, atau wabah penyakit; mengalami kecelakaan kerja; meninggal dunia di negara tujuan; atau dideportasi oleh pemerintah setempat.

Kepulangan tenaga kerja pada waktu habis masa kontrak menjadi tanggung

terhadap TKI kemungkinan adanya tindakan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Sedangkan kepulangan TKI karena faktor bencana, perang, deportasi adalah tanggung jawab bersama baik Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI, Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.

Dokumen terkait