Obesitas sentral adalah salah satu jenis obesitas yang banyak dialami orang dewasa, baik di negara maju maupun negara berkembang. Obesitas sentral terjadi akibat kelebihan akumulasi lemak pada daerah perut. Peningkatan kejadian obesitas sentral berimplikasi pada peningkatan berbagai macam penyakit degeneratif, seperti penyakit kardiovaskuler, hipertensi, dislipidemia, diabetes tipe 2, batu empedu, dan beberapa jenis kanker (WHO 2000).
Terdapat banyak faktor risiko yang menyebabkan terjadinya obesitas sentral, antara lain karakteristik demografi dan sosial-ekonomi serta gaya-hidup. Karakteristik demografi dan sosial-ekonomi meliputi umur, jenis kelamin, status kawin, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan, pengeluaran per kapita, dan tipe wilayah. Kejadian obesitas sentral meningkat seiring dengan bertambahnya umur seseorang; makin bertambah umur, semakin meningkat kandungan lemak tubuh total seseorang, terutama distribusi lemak pusatnya. Peningkatan umur pun menyebabkan penurunan massa otot dan perubahan beberapa jenis hormon sehingga dapat memicu penumpukan lemak perut.
Jenis kelamin juga berhubungan dengan kejadian obesitas sentral. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obesitas sentral lebih banyak dialami perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini karena kelebihan lemak pusat lebih banyak terdapat pada perempuan.
Status kawin berhubungan pula dengan kejadian obesitas sentral. Beberapa penelitian menunjukkan, hubungan nyata positif antara status kawin dengan kejadian obesitas sentral. Seseorang yang menikah akan cenderung menyesuaikan diri dengan pasangannya. Penyesuaian diri dapat memengaruhi gaya hidup dan pola makannya.
Besar keluarga pun berpengaruh terhadap kejadian obesitas sentral. Seseorang yang memiliki anggota keluarga kecil cenderung lebih berisiko mengalami obesitas sentral dibandingkan dengan yang memiliki anggota keluarga besar. Seseorang dengan anggota keluarga kecil cenderung memiliki ketersediaan pangan lebih banyak daripada seseorang dengan anggota keluarga besar.
Pendidikan juga berhubungan dengan kejadian obesitas sentral. Pendidikan yang rendah dapat meningkatkan risiko obesitas sentral. Pendidikan dapat memengaruhi kepercayaan seseorang mengenai kebiasaan makan. Di samping itu, pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan dan keahlian berpikir
seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi lebih mudah menyerap informasi mengenai pesan kesehatan daripada seseorang yang berpendidikan lebih rendah.
Perubahan dan peningkatan proporsi pekerjaan berhubungan pula dengan terjadinya obesitas sentral. Hal tersebut karena pada beberapa jenis pekerjaan tertentu tidak membutuhkan aktivitas fisik yang cukup sehingga terjadi penumpukan kelebihan energi dalam tubuh. Begitu pun dengan peningkatan pengeluaran per kapita, ini juga berhubungan dengan peningkatan kejadian obesitas sentral. Hal itu terkait dengan kemudahan dalam memanfaatkan akses dan penggunaan fasilitas modern yang membuat rendahnya aktivitas fisik seseorang. Seseorang yang berpendapatan tinggi sering membelanjakan pendapatannya tersebut untuk mengonsumsi pangan berenergi tinggi.
Tipe wilayah pun berhubungan dengan kejadian obesitas sentral. Beberapa penelitian menemukan bahwa obesitas sentral lebih banyak dialami orang yang tinggal di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. Arus urbanisasi menyebabkan gaya hidup seseorang berubah tidak baik, seperti kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, mengonsumsi sedikit sayuran dan buah, serta mengonsumsi banyak makanan/minuman manis dan berlemak. Kemudahan akses di perkotaan menyebabkan seseorang cenderung kurang melakukan aktivitas fisik.
Selain berhubungan dengan terjadinya obesitas sentral, karakteristik demografi dan sosial-ekonomi juga berhubungan dengan perubahan gaya hidup yang tidak baik, seperti kebiasaan merokok; rendahnya aktivitas fisik; tingginya konsumsi minuman beralkohol, makanan/minuman manis, makanan berlemak; rendahnya konsumsi sayuran dan buah;serta kondisi mental emosional. Namun, dalam penelitian ini tidak dilakukan analisis hubungan antara karakteristik demografi dan sosial-ekonomi dengan gaya-hidup.
Kebiasaan merokok berhubungan dengan peningkatan terjadinya obesitas sentral. Beberapa penelitian menemukan bahwa orang yang berhenti merokok cenderung mengalami obesitas sentral daripada yang merokok dan tidak merokok. Hal itu diduga karena meningkatnya asupan energi disertai dengan menurunnya pengeluaran energi dan aktivitas fisik, perubahan oksidasi lemak, dan metabolisme jaringan adiposa (seperti aktivitas lipoprotein). Beberapa penelitian menemukan, penurunan aktivitas fisik berhubungan langsung dengan
peningkatan kejadian obesitas sentral. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan terjadinya penimbunan lemak akibat kelebihan asupan energi.
Konsumsi makanan/minuman berhubungan dengan terjadinya obesitas sentral. Konsumsi banyak minuman beralkohol berhubungan pula dengan peningkatan terjadinya obesitas sentral. Di samping memiliki kontribusi energi yang tinggi, konsumsi minuman beralkohol dapat mengubah hormon yang dapat menyebabkan penumpukan lemak pada daerah perut. Rendahnya konsumsi sayuran dan buah serta tingginya konsumsi makanan/minuman manis dan berlemak pun berhubungan dengan kejadian obesitas sentral. Beberapa penelitian menemukan, rendahnya konsumsi sayuran dan buah dapat mengakibatkan risiko obesitas sentral. Demikian halnya dengan konsumsi makanan/minuman manis dan makanan berlemak yang berlebihan, juga dapat memberikan kontribusi energi yang dapat disimpan sebagai lemak dalam tubuh sehingga meningkatkan risiko obesitas sentral.
Tekanan hidup dapat menyebabkan kondisi mental emosional terganggu. Hal ini berdampak pada peningkatan kejadian obesitas sentral. Beberapa penelitian menemukan bahwa orang yang mengalami depresi dapat menyebabkan lingkar perutnya meningkat. Selain itu, seseorang yang depresi cenderung memiliki pola hidup yang tidak baik, seperti mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dan mengonsumsi makanan berlemak tinggi yang dapat meningkatkan terjadinya obesitas sentral.
Keterangan:
Gambar 1. Bagan kerangka pemikiran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral
: hubungan yang diteliti : hubungan yang tidak diteliti
Karakteristik Demografi dan Sosial-Ekonomi - Umur - Jenis kelamin - Status kawin - Besar keluarga - Pendidikan - Pekerjaan
- Pengeluaran per kapita - Tipe wilayah Gaya Hidup - Kebiasaan merokok - Aktivitas fisik - Perilaku konsumsi (minuman beralkohol, sayuran dan buah, makanan/minuman manis dan makanan berlemak) - Kondisi mental emosional Obesitas Sentral Pria, LP >90 cm Wanita, LP >80 cm
METODE
Desain, Waktu dan Tempat
Desain penelitian adalah cross-sectional study berskala nasional bersifat deskriptif. Data yang digunakan adalah data sekunder Riskesdas 2007 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Departemen Kesehatan. Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, dan DKI Jakarta diambil sebagai sampel penelitian karena memiliki prevalensi obesitas sentral tertinggi dan di atas prevalensi nasional. Pengolahan dan analisis lanjut data dilakukan pada bulan Maret-Juni 2009 di Kampus IPB Dramaga Bogor, Jawa Barat.
Jumlah dan Cara Pengambilan Sampel
Riskesdas 2007 menerapkan rancangan sampel PPS (Probability proportional to size). Pemilihan sampel terdiri atas 3 tahap. Pertama, diambil sejumlah blok sensus dari setiap kabupaten/kota yang masuk dalam kerangka sampel yang proporsional terhadap jumlah rumah tangga di kabupaten/kota tersebut. Kedua, dari setiap blok sensus yang terpilih, diambil 16 rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). Ketiga, seluruh anggota rumah tangga dari setiap rumah tangga yang terpilih diambil sebagai sampel individu (Balitbangkes Depkes 2008). Metode yang digunakan hampir seluruhnya sama dengan Susenas (Survei Ekonomi Nasional) 2007 sehingga dapat dikorelasikan dengan data Susenas 2007.
Sampel penelitian ini adalah orang dewasa berumur 15 tahun yang tinggal di Sulawesi Utara, Gorontalo dan DKI Jakarta, tidak hamil, dan memiliki data lengkap. Jumlah sampel awal obesitas sentral 30 150, setelah dikurangi data yang tidak lengkap tersisa 26 561 sampel, dengan rincian: Sulawesi Utara 8 885 sampel, Gorontalo 5 871 sampel, dan DKI Jakarta 11805 sampel. Kabupaten/kota di Sulawesi Utara yang tidak diambil sebagai sampel penelitian adalah empat kabupaten/kota baru yang meliputi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kepulauan Siao Tagolandang Biaro, Minahasa Tenggara dan Kota Mobagu. Adapun di Gorontalo, kabupaten/kota baru yang tidak diambil sebagai sampel penelitian adalah Kabupaten Gorontalo Utara.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini seluruhnya merupakan data Riskesdas 2007 yang diperoleh dalam bentuk electronic file. Data terdiri atas variabel karakteristik
demografi dan sosial-ekonomi sampel (umur, jenis kelamin, status kawin, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan, pengeluaran per kapita, dan tipe wilayah), gaya-hidup (kebiasaan merokok, aktivitas fisik berat, konsumsi minuman beralkohol, konsumsi sayuran dan buah, konsumsi makanan/minuman manis, konsumsi makanan berlemak, dan kondisi mental emosional) dan ukuran lingkar perut.
Pengumpulan data dilakukan oleh tim Riskesdas 2007. Data karakteristik demografi dan sosial-ekonomi dan gaya-hidup diperoleh tim Riskesdas 2007 dengan wawancara langsung kepada sampel menggunakan kuesioner terstruktur yang dilengkapi buku pedoman pengisian kuesioner. Data lingkar perut diperoleh dengan metode pengukuran menggunakan alat ukur yang terbuat dari fiberglass dengan presisi 0.1 cm. Lingkar perut diukur pada titik tengah antara titik batas tepi tulang rusuk paling bawah dan titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul pada ekspirasi normal.
Pengolahan dan Analisis Data
Data dianalisis menggunakan Microsoft Excell 2007 dan SPSS 15.0 for Windows. Tahap pengolahan data meliputi pemilihan variabel yang akan diteliti, cleaning dan recode variabel menjadi data kategori. Cara pengkategorian variabel disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kategori variabel penelitian
No Variabel Kategori
1 Karakteristik Demografi dan Ekonomi
Umur 1. 15-24 2. 25-34 3. 35-44 4. 45-54 5. 55-64 6. 65-74 7. 75
Jenis kelamin 1. Laki-laki
2. Perempuan
Status kawin 1. Belum kawin
2. Kawin 3. Cerai hidup/mati Besar keluarga 1. 1-2 2. 3-4 3. 5-6 4. > 6
Pendidikan 1. Tidak Sekolah
2. Tidak Tamat SD 3. Tamat SD 4. Tamat SMP 5. Tamat SMA
No Variabel Kategori 6. Tamat PT
Pekerjaan 1. Tidak bekerja/sekolah
2. Ibu Rumah Tangga 3. TNI/POLRI/PNS 4. Pegawai BUMN/swasta 5. Wiraswasta/pedagang/jasa 6. Petani/nelayan/buruh 7. Lainnya
Pengeluaran per kapita 1. Kuintil ke-1 2. Kuintil ke-2 3. Kuntil ke-3 4. Kuintil ke-4 5. Kuintil ke-5
Tipe wilayah 1. Perkotaan
2. Perdesaan
2. Kebiasaan merokok 1. Tiap hari
2. Kadang-kadang 3. Pernah
4. Tidak pernah
3 Aktivitas fisik berat 1. Ya
2. Tidak 4 Konsumsi minuman beralkohol 1. Ya
2. Tidak 5 Konsumsi sayuran dan buah 1. Cukup
2. Kurang 6 Konsumsi makanan/minuman manis dan
makanan berlemak 1. > 1 kali/hari 2. 1 kali/hari 3. 3-6 kali/minggu 4. 1-2 kali/minggu 5. < 3 kali/bulan 6. Tidak pernah 7 Kondisi mental emosional* 1. Terganggu
2. Tidak terganggu
8 Lingkar perut 1. Normal ( 90 cm pada laki-laki; 80 cm pada perempuan) 2. Obesitas sentral (> 90 cm pada
laki-laki; > 80 cm pada perempuan)
*Self Reporting Questionnaire (SRQ) WHO
Analisis data terdiri atas analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis univariat dilakukan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi dan proporsi dari berbagai variabel yang diteliti. Analisis bivariat dilakukan untuk mendapatkan ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dan terikat dengan menggunakan Korelasi Spearman dan Kontingensi. Korelasi Spearman digunakan untuk menguji hubungan variabel ordinal, sedangkan Kontingensi untuk menguji hubungan variabel nominal.
Variabel bebas yang diuji adalah variabel umur, jenis kelamin, status kawin, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan, pengeluaran per kapita, tipe wilayah, kebiasaan merokok, aktivitas fisik berat, konsumsi minuman beralkohol,
konsumsi sayuran dan buah, konsumsi makanan/minuman manis, konsumsi makanan berlemak, dan kondisi mental emosional. Adapun variabel terikat adalah obesitas sentral.
Analisis multivariat dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dengan menggunakan analisis regresi logistik. Kriteria untuk dapat dilakukan analisis regresi logistik, yaitu variabel memiliki nilai signifikan p<0.05 pada analisis bivariat. Variabel-variabel dengan nilai signifikan p<0.05 yang terpilih, kemudian dimasukkan dalam kandidat model multivariat. Analisis ini menggunakan model binary logistic regression dengan metode backward wald. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
n n n n x x x x x x x x
e
e
x
β β β β β β β β β βπ
+ + + + + + + + + ++
=
... ... 3 3 2 2 1 1 0 3 3 2 2 1 1 01
)
(
Keterangan:(x) = Peluang terjadinya obesitas sentral (0 = tidak, 1=ya) e = eksponensial
0 - 1 = koefisien regresi
x1 = umur (0=15-34 tahun, 1=35-54 tahun, 2= >55 tahun) x2 = jenis kelamin (0=laki-laki, 1=perempuan)
x3 = status kawin (0=belum kawin, 1=kawin, 2=cerai) x4 = besar keluarga (0= 4; 1= >4)
x5 = pendidikan (0=tidak sekolah/tidak tamat SD, 1=SD/SMP, 3=SMA/PT) x6 = pekerjaan (0=tidak bekerja/sekolah, 1=ibu rumah tangga,
2=TNI/POLRI/PNS, 3=pegawai BUMN/swasta,
4=wiraswasta/pedagang/jasa, 5=petani/nelayan/buruh/lainnya) x7 = pengeluaran per kapita (0=kuintil 1, 1=kuintil 2, 2=kuintil 3, 3=kuintil 4, 4=kuintil 5)
x8 = tipe wilayah (0=perdesaan, 1=perkotaan)
x9 = kebiasaan merokok (0=tidak merokok, 1=pernah merokok, 3=merokok) x10 = aktivitas fisik berat (0=ya, 1= tidak)
x11 = konsumsi minuman beralkohol (0=tidak, 1=ya) x12 = konsumsi sayuran dan buah (0=cukup, 1=kurang)
x13 = konsumsi makanan/minuman manis (0=jarang, 1= sering) x14 = konsumsi makanan berlemak (0=jarang, 1=sering)
Asumsi dan Keterbatasan
Penelitian ini menggunakan beberapa asumsi dan beberapa keterbatasan. Asumsi-asumsi tersebut digunakan agar hasil penelitian ini dapat diterima secara umum. Asumsi yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian seluruhnya benar. 2. Keadaan wilayah yang diteliti stabil dan normal.
Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah: 1. Terbatas pada asumsi-asumsi tertentu.
2. Tergantung kepada data sekunder yang digunakan.
3. Tergantung dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI.
Batasan Operasional
Karakteristik demografi dan sosial-ekonomi, adalah kondisi individu dan sosial seseorang yang terdiri atas umur, jenis kelamin, status kawin, besar keluarga, pekerjaan, pendidikan, pengeluaran per kapita, dan tipe wilayah.
Status kawin, adalah status seseorang yang digolongkan menjadi belum kawin, kawin, dan cerai hidup/mati.
Besar keluarga, adalah banyak anggota rumah tangga yang tinggal dalam satu rumah dan digolongkan menjadi 4 kelompok, yaitu: 1-2 anggota rumah tangga, 3-4 anggota rumah tangga, 5-6 anggota rumah tangga, dan > 6 anggota rumah tangga.
Pendidikan, adalah jenjang pendidikan tertinggi yang pernah ditempuh seseorang yangdikategorikan menjadi tidak pernah sekolah; tidak tamat SD; tamat SD; tamat SMP; tamat SMA; dan tamat Perguruan Tinggi. Pekerjaan, adalah jenis aktivitas yang mendatangkan penghasilan utama yang
dikategorikan menjadi tidak bekerja/sekolah; ibu rumah tangga; TNI/POLRI/PNS; pegawai BUMN/swasta; wiraswasta/pedagang/jasa; petani/buruh/nelayan; dan lainnya.
Pengeluaran per kapita, adalah besar pengeluaran yang dikeluarkan untuk membelanjakan kebutuhan suatu rumah tangga yang digolongkan menjadi lima kuintil.
Gaya hidup, adalah kebiasaan hidup seseorang, yang terdiri atas aktivitas fisik, kebiasaan merokok, perilaku konsumsi makanan/minuman, dan kondisi mental emosional.
Aktivitas fisik berat, adalah kegiatan tubuh seseorang setiap harinya yang terkait dengan aktivitas fisik, seperti bersepeda cepat, mencangkul, tenis tunggal, lari cepat, mendaki gunung, angkat besi, dan bulu tangkis tunggal, yang dikategorikan menjadi dua, yaitu ya dan tidak.
Kebiasaan merokok, adalah kebiasaan merokok/penggunaan tembakau dalam sebulan terakhir, seperti rokok, cerutu, cangklong, rokok linting, dan tembakau yang dikunyah, yang dikategorikan ke dalam 4 kategori, yaitu tiap hari merokok, kadang-kadang merokok, pernah merokok, dan tidak pernah merokok.
Perilaku konsumsi makanan/minuman, adalah perilaku seseorang dalam mengonsumsi makanan dan/atau minuman yang terdiri atas konsumsi sayuran dan buah, makanan/minuman manis, makanan berlemak, dan minuman beralkohol.
Konsumsi sayuran dan buah, adalah kebiasaan makan sayuran dan buah seseorang yang meliputi frekuensi konsumsi sayuran dan/atau buah dalam seminggu dan banyaknya/porsi konsumsi selama sehari, yang dikategorikan atas: cukup apabila mengonsumsi 5 porsi/hari dalam seminggu dan kurang apabila mengonsumsi < 5 porsi/hari dalam seminggu.
Konsumsi makanan/minuman manis, adalah kebiasaan makan
makanan/minuman manis seseorang, seperti dodol, cake, biskuit, buah kaleng, yang diukur berdasarkan frekuensi konsumsi yang dikategorikan menjadi 6, yakni: >1 kali per hari, 1 kali per hari, 3-6 kali per minggu, 1-2 kali per minggu, < 3 kali per bulan, dan tidak pernah. Konsumsi dikatakan sering apabila mengonsumsi 1 kali/hari, dan jarang apabila mengonsumsi < 1 kali/hari.
Konsumsi makanan berlemak, adalah kebiasaan makan makanan berlemak seseorang, seperti sop buntut, sate, pizza, burger, dan gorengan, yang diukur berdasarkan frekuensi konsumsi yang dikategorikan menjadi 6, yakni: >1 kali per hari, 1 kali per hari, 3-6 kali per minggu, 1-2 kali per minggu, < 3 kali per bulan, dan tidak pernah. Konsumsi dikatakan sering
apabila mengonsumsi 1 kali/hari, dan jarang apabila mengonsumsi < 1 kali/hari.
Konsumsi minuman beralkohol, adalah keadaan konsumsi minuman yang mengandung alkohol dalam sebulan terakhir, seperti minuman beralkohol merek (bir, whiskey, vodka, anggur/wine, dll) dan minuman tradisional (tuak, poteng, sopi), yang dikategorikan menjadi dua, yaitu ya dan tidak. Kondisi mental emosional, adalah suatu keadaan yang mengindikasikan
individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut. Individu mengalami kondisi mental emosional terganggu apabila menjawab minimal enam jawaban ”ya” dari 20 pertanyaan (Self-Reporting Questionnaire) yang diberikan.
Faktor risiko, adalah faktor-faktor yang keberadaannya meningkatkan obesitas sentral.
Obesitas sentral, adalah kondisi kelebihan lemak pada seseorang yang terpusat di perut, diukur dengan lingkar perut; pada laki-laki ukurannya >90 cm, dan pada perempuan >80 cm.