3 METODE 3.1 Pendekatan Sistem
3.2 Kerangka Pemikiran
Beras sebagai bahan pangan pokok sudah merupakan produk strategis yang harus dikelola sebaik mungkin baik menyangkut aspek volume pasokan, distribusi, harga dan mutunya. Dari sisi volume pasokan haruslah diupayakan jangan sampai terjadi kekurangan, sebab akan terjadi gejolak sosial apabila sampai terjadi kekurangan pasokan.
Terdapat banyak cara untuk mencapai swsembada beras, diantaranya adalah dengan:
1. Ekstensifikasi, yaitu perluasan lahan tanaman padi, sehingga produksi padi dapat meningkat
19 2. Intensifikasi, yaitu upaya untuk meningkatkan produktifitas per luasan lahan.
Pada cara ini biasa digunakan varietas padi berproduktifitas tinggi.
3. Diversifikasi, yaitu upaya penganekaragaman sumber pangan karbohidrat. Selain digunakan beras, digunakan pula karbohidrat dari sumber tanaman lain, baik umbi-umbian serealia lain ataupun buah-buahan. Dari kelompok umbi biasa digunakan cassava, ubi jalar dan kentang sedangkan dari kelompok buah adalah pisang dan sukun dari serealia antara lain jagung.
4. Mereduksi kehilangan pasca panen.
5. Menghilangkan kebiasaan buruk sebagian anggota masyarakat yang biasa menyisakan nasi di piring dan akhirnya dibuang di tempat cucian piring.
Fokus pada penelitian ini adalah usaha untuk mereduksi kehilangan pasca panen. Penanganan pasca panen tanaman padi yang belum baik menyebabkan terjadinya kehilangan hasil panen. Kehilangan hasil panen ini masih cukup tinggi, sekitar 20 persen. Kehilangan hasil panen terjadi sejak operasi pemanenan, perontokkan, pengangkutan, pengeringan, penggilingan dan juga penyimpanan.
Memperhatikan angka produksi beras domestik tahun 2010 yang mencapai sekitar 38 juta ton beras, kalau kehilangan pasca panen dapat ditekan dari 20% menjadi 10% berarti akan diperoleh tambahan pasokan beras sebanyak 3,8 juta ton. Ini adalah jumlah beras yang besar.
Upaya untuk mereduksi kehilangan pasca panen ditempuh dengan dua jalur yang saling mendukung yaitu pemberdayaan petani padi dan pembangunan agroindustri berbasis padi. Upaya pemberdayaan petani dipandang cukup vital agar harkat dan kesejahteraan petani dapat ditingkatkan. Lewat upaya pemberdayaan ini pula petani disadarkan pentingnya menekan kehilangan pasca panen. Petani disadarkan agar bekerja lebih cermat dalam penanganan pasca panen.
Lingkup pemberdayaan petani paling tidak mencakup tiga aspek yaitu: a) Capacity building atau peningkatan kapasitas SDM petani
b) Hardskill, yaitu penguasaan teknik pemanenan, perontokkan, pengeringan, penggilingan, pengemasan, penyimpanan dan pengangkutan gabah/beras. c) Softskill, yaitu manajemen/pengelolaan usaha misalnya usaha penggilingan
padi.
Langkah selanjutnya adalah membangun agroindustri modern berbasis tanaman padi. Agroindustri ini didesain dengan mengadopsi prinsip-prinsip green production, yaitu:
a) Profitability b) Quality of life c) Environment
Berdasarkan prinsip-prinsip green production tersebut, maka yang dapat diaplikasikan pada pembangunan agroindustri ini adalah:
1. Produk utama yang dihasilkan:
a) Beras kepala terkemas dengan mutu super
b) Tepung beras, yang dihasilkan dari pengolahan lanjut beras patah dan menir
c) Bekatul, dijual ke pabrik-pabrik pakan ternak
20
2. Pemanfaatan panas buangan engine/diesel penggerak mesin penggiling. Penggunaan air untuk pendingin engine akan digantikan dengan radiator. Seterusnya panas yang dilepas radiator akan dihembuskan ke dalam ruang pengering gabah
3. Pemanfaatan panas efek rumah kaca. Ruang pengering gabah dengan memanfaatkan panas efek rumah kaca perlu disediakan untuk mengatasi permasalahan pengeringan di musim penghujan.
Dengan adanya fasilitas pengeringan pada butir 2 dan 3, diharapkan proses pengeringan beras tidak akan terhambat meskipun panen terjadi di musim penghujan. Sesunggunya untuk membangun agroindustri itu bukanlah urusan ringan, melainkan urusan yang berat. Apalagi masyarakat petani hendak membangun agroindustri, pastilah banyak kendala dan keterbatasan.
Untuk mengatasi kendala dan keterbatasan tersebut, diusahakan dengan pola divestasi. Pola ini diinisiasi oleh lembaga non profit yang merupakan investor untuk membangun agroindustri. Sementara itu masyarakat petani dipersiapkan untuk mengambil alih dengan program pemberdayaan. Bila agroindustri telah tumbuh, maju dan menguntungkan serta masyarakat tani siap untuk mengambil alih kepemilikan, maka investor akan exit dan selanjutnya akan pindah ke lokasi lain dengan desain agroindustri yang lebih modern.
Dengan demikian secara bertahap akan dapat terbangun agroindustri-agroindustri milik masyarakat tani setempat.
Secara singkat, pilihan pola divestasi didasarkan atas pemikiran:
1. Masyarakat atau kelompok tani setempat dapat ikut memiliki, mengoperasikan dan ikut menikmati benefit atas dibangunnya unit agroindustri berbasis tanaman padi di wilayah mereka.
2. Investor dapat exit (melepas sebagian atau seluruh sahamnya) kepada kelompok tani setempat dan secara paralel investor dapat menyusun desain agroindustri yang lebih mudah dibangun di tempat lain.
3. Biaya untuk membangun unit-unit agroindustri modern secara nasional menjadi lebih ringan.
4. Biaya untuk program pemberdayaan petani sangat dimungkinkan berasal dari penerimaan kabupaten / propinsi setempat.
Alur pikir pembangunan agroindustri modern berbasis tanaman padi ini dapat dilihat pada Gambar 3.
Bila skenario seperti yang diuraikan di atas dapat berjalan lancar, maka akan terbangunlah agroindustri-agroindustri modern berbasis padi milik kelompok tani. Dengan demikian, maka tujuan agar:
Petani padi lebih sejahtera
Produksi beras domestik meningkat
Swasembada beras dapat diraih dan berkelanjutan akan dapat tercapai. Secara ringkas alur pikir landasan penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1.
21
Gambar 3.1 Pembangunan agroindustri berbasis padi dengan pola divestasi 3.3 Tata Laksana Penelitian
Agar penelitian ini dapat berjalan dengan baik, perlu disusun tata laksana penelitian seperti terlihat pada Gambar 3.2. Tahapan pelaksanaan penelitian ini dimulai dengan kajian terhadap studi-studi terdahulu, data sekunder yang tersedia agar diperoleh gambaran awal.
Gambar 3.2 Alur pikir landasan penelitian
Seterusnya dilakukan kajian dan survei terhadap existing system yang menyangkut :
1. Aspek petani (khususnya petani padi) 2. Aspek budidaya padi
3. Aspek pasca panen 4. Aspek agroindustri padi
5. Informasi lain yang relevan dan perlu
Berdasarkan hasil kajian dan survey terhadap existing system tersebut, disusun program pemberdayaan masyarakat dan desain fungsional agroindustri modern berbasis tanaman padi yang berciri: green technology.
Beras Produk Strategis
Peningkatan produksi: LOSS pasca panen
Pemberdayaan petani Tanam, petik, jual Tanam, petik, proses, jual
Agroindustri modern berbasis padi milik kelompok tani berciri green
technology.
Pekerjaan berat bagi kelompok tani?
Pola divestasi Biaya lebih ringan bagi pemerintah maupun petani
Agroindustri modern berbasis padi milik kelompok tani
Petani lebih sejahtera Produksi beras meningkat Investor
(Lembaga non profit)
Agroindustri modern berbasis padi Agroindustri modern berbasis padi milik kelompok tani Analisis kondisi saat ini penggilingan padi Tumbuh dan maju Program pemberdayaan kelompok petani padi
Investor pindah ke lokasi dengan desain yang lebih
22
Pada tahap ini ditentukan pula:
1. Penetapan kapasitas unit penggilingan padi modren 2. Analisis investasi
Langkah berikutnya adalah melakukan estimasi pembiayaan baik dengan divestasi maupun tanpa divestasi dan selanjutnya ditentukan opsi yang optimum yaitu untuk mencari biaya investasi yang tidak terlalu besar dengan waktu (durasi) yang tidak terlalu lama.
Mulai
Kajian Studi Terdahulu Profil sentra produksi beras Survai Lapang Profil Agroindustri Padi
o Aspek Petani Aspek Petani
o Aspek Pasca Panen Aspek Pasca Panen
o Aspek Agroindustri Aspek Agroindustri
Penentuan Teknologi Teknologi Terpilih Analisis Fuzzy Investasi Profil Investasi
Simulasi Sistem Dinamik ∆ Produksi Beras Produksi Beras ∆ Pendapatan Petani Simulasi Sistem Dinamik
Pembiayaan *Dengan Divestasi *Tanpa Divesasi
Gambar 3.3 Tahapan pelaksanaan penelitian
Secara konseptual model pembangunan agroindustri berbasis padi dengan pola divestasi ini melibatkan dan perlu dukungan dari pemerintah daerah setempat, seperti terlihat pada Gambar 3.4. Terdapat tujuh entitas yang terkait pada model ini, yaitu: supplier saprotan, petani, investor agroindustri yang merupakan lembaga nirlaba, pedagang (distributor atau retail), perbankan, pemerintah dan konsumen.
∆ Pembiayaan
Penyusunan SPK Cerdas
SPK cerdas pembangunan agroindustri
23
Konsumen
Gambar 3.4 Model pembangunan agroindustri berbasis padi dengan pola divestasi
Adapun peran tiap-tiap entitas adalah sebagai berikut:
*Supplier saprotan, adalah mitra petani dengan peran yang demikian penting sebagai penyedia berbagai sarana produksi pertanian seperti bibit dan benih, pupuk dan bahan-bahan lainnya.
*Petani, merupakan pelaku utama dalam mata rantai produksi beras, petani harus diberdayakan, ditingkatkan wawasan, pengetahuan dan juga tingkat kesejahteraanya. Secara kolektif petani perlu untuk bergabung dalam kelembagaan yang kondusif untuk mengelola unit penggilingan padi modern. *Investor agroindustri (lembaga nirlaba), merupakan entitas yang sentral sebagai inisiator dan investor unit penggilingan padi modern. Entitas ini harus diisi dengan personil-personil yang kompeten sehingga dapat merancang dan melaksanakan semua program-program dalam pembangunan unit penggilingan padi modern.
*Pemerintah, khususnya pemerintah daerah setempat, juga memiliki peran yang penting dalam mempersiapkan petani dan kelembagaannya agar dapat mendukung program-program yang dijalankan oleh investor.
*Pedagang beras, baik sebagai distributor atau retail, merupakan mitra unit penggilingan padi yang berperan untuk memasarkan produk untuk pasar lokal ataupun regional.
Dukungan Pemerintah Daerah
Petani (Kelompok Tani) Agroindustri Berbasis Padi Investor (Lembaga Nirlaba) Lembaga Keuangan Distributor Retail Supplier Saprotan
24
*Perbankan, merupakan mitra petani dan juga unit penggilingan padi yang dapat memperlancar urusan transaksi bisnis dan urusan-urusan lainnya dalam bidang keuangan.
*Konsumen atau masyarakat konsumen, adalah entitas yang juga penting sebagai konsumen beras. Perubahan selera konsumen perlu untuk direspon oleh unit penggilingan padi dan petani agar produknya tetap menjadi pilihan konsumen.
Sebagai stopping point pada penelitian adalah penyusunan Sistem Penunjang Keputusan Cerdas (SPK Cerdas) Model Pembangunan Agroindustri Berbasis Padi dengan Pola Divestasi, dengan konfigurasi seperti terlihat pada Gambar 3.5. Penyusunan SPK Cerdas dimaksudkan untuk membantu para pengambil kebijakan untuk menentukan keputusan guna membangun agroindustri berbasis padi di suatu sentra produksi padi.
Gambar 3.5 Konfigurasi SPK secara umum 3.4 Pengumpulan Data
Data yang diperlukan pada penelitian berasal dari berbagai sumber, yaitu data primer diperoleh dengan survai di lapangan dan data dari responden pakar. Sedangkan data sekunder dari berbagai instansi yang terkait dengan substansi studi dan publikasii penelitian sebelumnya yang relevan. Jumlah narasumber pakar yang terlibat 3 orang, dengan kualifikasi akademisi, peneliti dan praktisi. Lembaga sumber data dan informasi antara lain: Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, BPS Kabupaten Cianjur, Kantor Cabang Dinas Pertanian di Lingkungan Kabupaten Cianjur, Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Cianjur, BPS Pusat (Jakarta). Pemilihan Kabupaten Cianjur sebagai lokasi studi kasus didasarkan daerah ini yang merupakan salah satu sentra produksi beras yang penting dan terkenal di Provinsi Jawa Barat. Survai lapang dilakukan terhadap unit-unit penggilingan padi dengan responden berjumlah tiga unit dan responden petani berjumlah 30 orang yang berasal dari beberapa kecamatan. Data harga mesin-mesin dan peralatan didapatkan dari beberapa perusahan supplier peralatan dan mesin-mesin pertanian.
Sistem Manajemen Basis Data
Sistem Manajemen Basis Model
Sistem Manajemen Dialog
Sistem Pengolahan
Terpusat Fasilitas Penjelasan