4 ANALISIS INVESTASI DAN PEMILIHAN TEKNOLOGI PENGGILINGAN PADI
PADI BERPOLA DIVESTASI
5.1 Prosedur Analisis .1 Kerangka Pemikiran
5.1.2 Simulasi System Dynamics
System dynamics pada awal kemunculannya ditujukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam sektor industri (Daalen & Thissen 2001; Muhammadi et al.2001). Sesuai dengan namanya, system dynamics ini berhubungan dengan dinamika sistem yang komplek, apakah sistem stabil atau tidak, fluktuatif, tumbuh, surut atau dalam kondisi ekuilibrium. Permasalahan yang mempunyai sifat dinamis adalah masalah yang menyangkut perubahan kuantitas atau volume suatu variabel yang diamati terhadap perubahan waktu. Disamping itu, permasalahan yang ditangani merupakan permasalahan yang memiliki hubungan umpan balik atau sistem umpan balik.
Simulasi sistem dinamik umumnya mengikuti empat tahapan, yaitu: konseptualisasi, formulasi, verifikasi & validasi dan implemendasi kebijakan atau manajerial (Sterman 2000; Daalen & Thissen 2001).
Pekerjaan berat bagi kelompok tani
Pola divestasi Biaya lebih ringan bagi
pemerintah, petani &lembaga nirlaba
Unit penggilingan padi modern milik
kelompok tani. Petani lebih sejahtera& Produksi beras naik meningkat
Unit penggilingan padi modern milik kelompok tani
Investor (Lembaga nirlaba) Unit Penggilingan padi modern Unit penggilingan padi modern milikkelompok tani Dukungan Pemerintah Daerah Tumbuh dan maju Program pemberdayaan kelompok petani padi
Investor pindah dengan desain yang lebih modern
49 a. Konseptualisasi
Penanganan pasca panen tanaman padi yang belum baik menyebabkan terjadinya kehilangan hasil panen.Kehilangan hasil panen ini masih cukup tinggi, sekitar 20 persen.Kehilangan hasil panen terjadi sejak operasi pemanenan, perontokkan, pengangkutan, pengeringan, penggilingan dan juga penyimpanan.
Saat ini susut pasca panen cukup tinggi. Kehilangan ini terjadi sejak pemanenan, perontokan, transportasi, pengeringan, penggilingan, dan juga penyimpanan. Produksi GKG dalam negeri tahun 2013 sebesar 68.59 juta ton. Jika susut dapat dikurangi 5% saja, berarti dapat menambah pasokan GKG sebesar 3.43 juta ton. Suatu jumlah yang cukup banyak.
Usaha untuk mengurangi susut pasca panen dapat dilakukan melalui dua cara yang saling mendukung, yaitu pemberdayaan petani padi dan pengembangan agroindustri berbasis beras. Pemberdayaan merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kemakmuran petani. Melalui pemberdayaan ini, petani diingatkan bahwa betapa pentingnya susut pasca panen. Petani seharusnya bekerja lebih hati-hati pada penanganan pasca panen.
Ruang lingkup pemberdayaan petani terdiri dari tiga aspek, yaitu: 1. Peningkatan kapasitas diri petani (capacity building).
2. Keterampilan kerja untuk menangani pemanenan, perontokan, pengeringan, penggilingan, pengemasan, penyimpanan, dan transportasi beras.
3. Keterampilan pengelolaan usaha industri penggilingan padi.
Tahapan berikut merupakan tahapan untuk mengembangkan agroindustri berbasis beras. Agroindustri ini dirancang dengan mengadopsi prinsip teknologi hijau yaitu keuntungan, kualitas gabah, dan lingkungan.Prinsip teknologi hijau dapat diterapkan pada pembangunan agroindustri seperti: 1. Produk utama:
a. Beras super dikemas dengan kualitas tinggi.
b. Tepung beras, dihasilkan dari beras patah dan menir. c. Bekatul, dijual ke industri pakan ternak.
d. Sekam, dijual ke industri peternakan sebagai alas kandang. 2. Pemanfaatan panas buangan engine/mesinpenggerak. Penggunaan air sebagai pendingin mesin akan diganti dengan radiator. Udara panas dialirkan untuk pengeringan gabah.
3. Pemanfaatan efek rumah kaca. Ruang pengering padi dengan rumah kaca dibutuhkan sebagai solusi untuk pengeringan pada saat musim hujan.
Penyediaan fasilitas pengeringan sebagaimana dinyatakan pada point 2 dan 3, diharapkan proses pengeringan akan lebih singkat terutama pada saat musim hujan. Pada dasarnya, untuk membangun agroindustri tidaklah mudah. Akan tetapi petani yang akan membangunnya akan mendapatkan banyak kendala. Untuk mengurangi kendala, pola divestasi dapat digunakan. Pola ini diinisiasi oleh lembaga nirlaba atau investor yang membangun agroindustri. Sementara petani harus dipersiapkan untuk mengambil alih melalui program pemberdayaan.
Jika agrondustri telah tumbuh, berkembang dengan baik, dan petani siap mengambil alih kepemilikan, selanjutnya investor melepaskan kepemilikan dan akan berpindah ke lokasi lain dengan pola divestasi lebih baik. Secara bertahap,
50
agroindustri beras yang dibangun melalui pola divestasi dapat dimiliki oleh petani lokal pada daerah tertentu.
Secara singkat, pola divestasi dilakukan berdasarkan:
1. Masyarakat petani dapat berpartisipasi bersama untuk memiliki, mengoperasikan, dan mengambil keuntungan agroindustri.
2. Investor dapat melepaskan kepemilikan sebagian atau secara keseluruhan kepada petani dan secara bersama dapat merancang agroindustri yang lebih muda di lokasi lain.
3. Biaya untuk mebangun unit agroindustri modern secara nasional akan lebih murah.
4. Biaya program pemberdayaan sangat memungkinkan berasal dari pemerintah setempat.
b. Formulasi Model
Jumlah variabel unit penggilingan padi yang akan dibangun secara divestasi akan berkorelasi dengan pendapatan petani dan produksi beras. Ketiga variabel ini akan berkorelasi dengan variabel waktu, oleh karena itu dapat dianalisis menggunakan simulasi sistem dinamik. Diagram causal-loop dapat ilihat pada Gambar 5.3 dan Diagram Forrester dapat dilihat pada Gambar 5.4. Divestasi Lembaga Nirlaba Pertambahan Pendapatan Petani Pertamabahan Produksi Gabah Unit Penggilingan Padi Modern Milik Petani Harga Beras Kualitas Beras Pertambahan Produksi Beras + + + + + + + + + + + +
Gambar 5.3 Diagram causal-loop pembangunan unit penggilingan padi modern dengan pola divestasi
Adapun variabel input dan output untuk simulasi sistem dinamis dapat dilihat pada Lampiran 5. Kondisi disain penggilingan beras modern, transaksi gabah, investasi dan divestasi, serta asumsi sebagai berikut:
Bahan Baku
Terdapat dua terminologi mengenai gabah, yaitu gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG). Gabah kering panen mengandung
51 kadar air tinggi, sekitar 25%, dan gabah kering giling mengandung kadar air 14% (Patiwiri 2006; Thahir 2010).
Kapasitas Giling
Penggilingan beras dirancang pada kapasitas 1 ton gkg per jam atau 8 ton gkg per hari (waktu operasi 8 jam per hari). Sehingga kapasitas giling sebesar 2400 ton gkg per tahun atau 2 755 ton gkp per tahun.
Transaksi Gabah
Gabah disuplai oleh kelompok petani lokal dalam bentuk GKP. Harga pasar GKP sebesar Rp 4 000 per kg. Petani mendapatkan insentif produksi sebesar Rp 500 per kg GKP, sebagai insentif untuk meningkatkan produksi gabah.
Investasi dan Divestasi
Lembaga nirlaba akan membangun unit penggilingan padi modern dengan total investasi dan modal kerja Rp5.4 milyar per unit. Unit penggilingan padi akan didivestasi kepada kelompok tani lokal dengan tenggang waktu pembayaran selama 4 tahun tanpa bunga. Sumber pembiayaan untuk membiayai divestasi bersumber dari insentif produksi GKP.
investasi_baru investasi durasi_angsuran reinvestasi alih_status perbaikan_pasca_panen nilai_pertamb_gkp_upp_baru profit_upp_baru insentif_gkp_upp_baru pertamb_pend_pt_upp_baru upp_sudah_tak_ekonomis upp_lunas upp_baru total_upp pertamb_gkp_upp_baru pertamb_gkp_upp_lunas nilai_pertamb_gkp_upp_lunas gkp_upp_lunasinsentif_gkp_upp_lunas pertam_pend_pt_upp_lunas total_gkp total_pertamb_gkp ekivalen_beras peningktn_rend total_gkg total_beras pertamb_beras total_pertamb_beras
Gambar 5.4 Diagram Forrester hubungan antara jumlah penggilingan beras, peningkatan tambahan pendapatan petani, peningkatan produksi beras dan variabel yang lain.
Asumsi-Asumsi
Mesin-mesin modern akan dipasang pada penggilingan beras, sehingga meningkatkan rendemen beras sosoh sebesar 2% dan dengan penanganan pasca panen yang lebih baik akan mengurangi kehilangan gabah sebesar 5%.
52
Pada akhir tahun pembukuan keuangan, semua keuntungan bersih operasi penggilingan beras akan ditransfer ke petani sebagai tambahan pendapatan. Berdasarkan analisis finansial (neraca rugi laba), keuntungan bersih usaha unit penggilingan padi mencapai Rp 800 juta per tahun.
Beberapa parameter atau variabel yang digunakan dalam permodelan ini adalah sebagai berikut:
UPP , unit penggilingan padi, unit
UPP baru, unit penggilingan padi yang baru dibangu, unit
UPP lunas,unit penggilingan padi yang sudah lunas atau sudah menjadi milik kelompok petani, unit
UPP sudah tak ekonomis, unit penggilingan padi yang sudak tidak ekomis lagi untuk dioperasikan karena faktor umur dan kinerjanya sudah turun, unit Alih status, perubahan status unit penggilingan padi baru menjadi unit penggilingan padi lunas, unit
Durasi angsuran, tenggang waktu angsuran untuk melunasi divestasi unit penngilingan padi, tahun
Investasi,biaya atau dana yang diperlukan untuk membangun unit penggilingan padi baru, milyar rupiah
Reinvestasi, dana yang diinvestasikan kembali yang berasal dari pembayaran divestasi, milyar rupiah
Investasi baru, dana segar yang digunakan untuk investasi unit penggilingan padi, milyar rupiah
GKP, gabah kering panen, yaitu gabah yang relatif baru dipanen dengan kadar air sekitar 25 %, ton
GKG, gabah kering giling, yaitu gabah kering panen yang dikeringkan lebih lanjut hingga berkadar air sekitar 14 %, yaitu kadar air yang baik untuk proses penggilingan gabah, ton
Insentif gkp, insentif diberikan kepada petani anggota dari unit penggilingan padi, besarnya insentif adalah Rp500,- per kg gkp
Pertambahan beras, pertambahan beras yang berasal dari reduksi susut pasca panen (5%) dan peningkatan rendemen giling (2%), dalam ton
Pertambahan pendapatn petani, pertambahan pendapatan petani sebagai anggota kelompok tani yang memiliki unit penggilingan padi modern, yang terdiri atas insentif gkp dan keuntungan netto usaha unit penggilingan padi, milyar rupiah.
Persamaan Powersim nya adalah sebagai berikut: init upp_baru = 0
flow upp_baru = -dt*alih_status +dt*investasi
init upp_lunas = 0
flow upp_lunas = -dt*upp_sudah_tak_ekonomis +dt*alih_status
aux alih_status = upp_baru/durasi_angsuran aux investasi = reinvestasi+investasi_baru
aux ekivalen_beras = total_pertamb_gkp*2400/2755*0.67 aux gkp_upp_lunas = upp_lunas*2755
aux insentif_gkp_upp_baru = upp_baru*1.4 aux insentif_gkp_upp_lunas = upp_lunas*1.4