Officials and Administrators
6. Kerangka Pemikiran
PKBL adalah program yang seringkali dipersepsikan sebagai tanggung jawab sosial (CSR) dari BUMN. Program Kemitraan adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN dan Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN di wilayah usaha BUMN tersebut melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Pendanaan untuk program PKBL berasal dari laba perusahaan pada tahun sebelumnya sebesar 2 persen untuk masing-masing program.
Seperti yang dipaparkan dalam Committee Draft ISO 26000 Guidance on Social
Responsibility pada tahun 2010, tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung jawab organisasi atau perusahaan atas dampak dari keputusan dan kegiatan di masyarakat dan lingkungan, melalui perilaku transparan dan etis yang
37
memberikan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Perusahaan juga turut mempertimbangkan harapan stakeholder, melakukan kegiatan sesuai dengan hukum yang berlaku dan konsisten dengan perilaku norma-norma internasional, dan terintegrasi di seluruh organisasi dan dipraktekkan dihubungan perusahaan.
Berdasarkan piramida yang dibuat oleh Carroll untuk menjelaskan tingkat tanggung jawab perusahaan, CSR terbagi menjadi 4 tingkat, yaitu Economic
responsibility, Legal responsibility, Ethical responsibility, dan Philanthropic responsibility. Pada masing-masing tingkatan, tanggung jawab perusahaan
dimaknai berbeda. Dimana menurut Carroll, perusahaan akan merasa bertanggungjawab sosial apabila perusahaan merasakan sebagai perusahaan warga negara atau Corporate Citizen. Pada tahapan tersebut, perusahaan telah melakukan CSR yang memperhatikan keinginan setiap stakeholder. Dengan begitu setiap kegiatan CSR dapat didasari pada kepentingan bersama.
Upaya yang dilakukan untuk mencapai keinginan bersama tersebut, maka pengambilan keputusan tidak dapat dilakukan secara sepihak oleh perusahaan. Pengambilan keputusan, perusahaan seharusnya mencari informasi sebanyak mungkin untuk menganalisis strategi yang akan digunakan. Dengan begitu perusahaan dapat memilih prioritas kegiatan CSR yang sesuai dengan tujuan dari setiap stakeholder. Kemudian implementasi kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan sukses.
38
Mengadopsi tahapan proses pengambilan keputusan yang diusulkan oleh Herbert A. Simon (1960), terdapat tiga proses penting dalam proses pengambilan keputusan.
“Simon (1960) proposed decision-making as a four-phase model: (1)
intelligence, (2) design, (3) choice and (4) implementation (Turban et al 2001: Figure 2-1: p8) also called review (Finlay 1994).” (De Kock, E,
2003:75)
Pertama Intelligence, dimana organisasi melihat lingkungan untuk menemukan data-data yang kemudian diolah dan diteliti. Hasil dari tahapan tersebut adalah identifikasi masalah. Kemudian tahap kedua Design, yaitu tahap yang mengharuskan organisasi berfikir kreatif untuk menemukan pemecahan masalah beserta analisis kemungkinan implementasinya. Sehingga muncul beberapa pilihan solusi yang mungkin diterapkan. Tahap terakhir yaitu Choice, merupakan tahap yang penting dimana organisasi memilih keputusan yang paling sesuai dengan kriteria memenuhi harapan. Tahap ke empat Implementation merupakan penambahan dari Turban, dimana pada tahap tersebut terdapat hasil program. Bila terdapat kekurangan, makan kembali pada tahap pertama.
Pelaksanaan PKBL BUMN diatur melalui UU no. 5 tahun 2007. Dimana Perum dan Persero wajib melaksanakan PKBL sesuai ketentuan UU tersebut, sedangkan Perseroan Terbuka (PT) dapat mengaturnya melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), namun tetap berpanduan pada UU tersebut. Salah satu PT dalam BUMN adalah PT. Angkasa Pura II yang bergerak dalam bidang
39
pelayanan jasa kebandarudaraan di wilayah barat Indonesia. Dengan didasari keputusan tersebut Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Kantor Cabang Utama PT. AP II) membentuk unit khusus yang melaksanakan tupoksi berkaitan dengan PKBL, unit tersebut yaitu SME-CD (Small and Medium Enterpise-Community Development). SME-CD ini merupakan unit yang tidak terpisahkan dalam manajemen perusahaan karena diawasi oleh bagian Direksi Keuangan.
PT. Angkasa Pura II Kantor Cabang Utama Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang pada tahun 2012 mengeluarkan dana sebesar Rp 581.091.600,- (lima ratus delapan puluh satu juta sembilan puluh ribu enam ratus rupiah) untuk bantuan ambulan kepada Puskesmas di Kecamatan Benda, Kecamatan Batu Ceper, dan Kecamatan Kosambi (masing-masing satu ambulans seharga Rp. 193.697.200,-). Dimana jumlah tersebut merupakan jumlah pengeluaran terbesar (23% dari total dana BL), bila dibanding dengan jumlah pengeluaran lain dalam anggaran penyaluran dana Bina Lingkungan (BL). Sebelumnya hal ini pernah dilakukan untuk Kecamatan Neglasari dan Kecamatan Teluknaga pada tahun yang sama. Jadi ada lima kecamatan di sekitar bandara yang telah menerima bantuan tersebut. Bantuan ambulan tersebut merupakan bantuan insiatif perusahaan yang bersifat monumental atau PKBL Monumental, sedangkan dalam UU no.5 tahun 2007 tidak disebutkan mengenai bantuan yang bersifat monumental.
Sebagai bentuk bantuan yang diinisiatifkan oleh perusahaan, bantuan tersebut seharusnya tetap diputuskan setelah adanya integrasi dengan stakeholder lain. Pengambilan keputusan seharusnya tidak semata-mata bergantung pada RUPS, melainkan ada peran partisipasi masyarakat, pemerintah, dan stakeholder lainnya.
40
Penggunaan metode yang baik dalam mengambil keputusan menentukan hasil dari keputusan tersebut. Bila bantuan ambulan tersebut ditujukan untuk masyarakat yang berobat ke puskesmas, maka seharusnya PT. Angkasa Pura II mengajak dinas terkait dari pemerintah Kota maupun Kabupaten Tangerang, beserta masyarakat untuk mengintegrasikan tujuan penggunaan dana BL tersebut.
Oleh karena itu, dalam mengkaji pengambilan keputusan penyaluran dana PKBL Monumental sebagai CSR PT. Angkasa Pura II Soekarno-Hatta, penulis akan mengidentifikasi sejauh mana stakeholder lain dapat berperan dalam pengambilan keputusan penyaluran dana PKBL Monumental tersebut. Apakah terdapat peran masyarakat, sehingga muncul pemberdayaan masyarakat, atau hanya didasari pada keputusan yang dibuat perusahaan melalui Unit SME-CD tanpa ada campur tangan Stakeholder lain. Kemudian, penulis akan menjelaskan kegiatan apa yang menjadi keputusan perusahaan dengan sejauh mana peran
Stakeholder lain, untuk kemudian ditarik kesimpulan bagaimana metode
pengambilan keputusan untuk penyaluran dana PKBL Monumental dapat disalurkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing stakeholder oleh CSR PT. Angkasa Pura II Bandara Soekarno-Hatta di Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten.
41 PRIORITAS PROGRAM HASIL Konvergensi Paralel FORUM MULTI STAKEHOLDER PERUSAHAAN IMPLEMENTASI INTELEGENCE CHOICE DESIGN SME-CD STAKEHOLDER: 1. PERUSAHAAN