DAFTAR GAMBAR
2.4. Kerangka Pemikiran Operasional
7. Urgensi prioritas issue
Langkah ini perlu dilakukan karena kita tidak bisa mengerjakan semua pekerjaan sekaligus sehingga per lu dianalisis dalam SWOT. Ini penting karena kita harus memilih dengan memakai kriteria apakah memiliki elemen sebagai berikut: § Sentral § Penting § Kemampuan kontrol § Biaya § Pandangan umum § Pervasif
§ Dampak nilai dasar
§ Apa yang dilakukan pesaing
2.3. Kerangka Pemikiran Teoritis
Hubungan ketiga kelembagaan bakul pasar, ”bank plecit” dan bank pasar ini memang sangat diperlukan, tentu saja dengan tetap mempertahankan cara kerja informal atau non konvensional dalam menjangkau bakul pasar. Asumsi ini berdasarkan pengalaman bahwa komunitas bakul pasar tidak memiliki akses kredit dari lembaga keuangan formal karena tidak mampu menyediakan agunan, skala kredit yang diperlukan terlalu kecil untuk bank komersial, dan jarak lembaga keuangan formal tersebut terlalu jauh dengan masyarakat dan mata pencaharian tidak menjamin kepastian pengembalian atau beresiko tinggi.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efektivitas dari model kelembagaan keuangan yang berorientasi kepada bakul pasar adalah: faktor internal dan fakto r eksternal dari masing-masing kelembagaan bakul pasar, “bank plecit” dan bank pasar. Apabila faktor-faktor ini dapat dikembangkan ke arah yang lebih positif, maka diharapkan kelembagaan keuangan yang berorientasi kepada bakul pasar benar-benar efektif dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi bakul pasar.
2.4. Kerangka Pemikiran Operasional
Sebelum melakukan berbagai kegiatan pengembangan bakul pasar, terlebih dahulu akan dilakukan penelitian mengenai praktek “bank plecit” di pasar Bantul. Hubungan sosial ekonomi seperti apa yang begitu kuat terjadi antara bakul pasar dengan “bank plecit” dalam transaksi pinjam meminjam uang? Faktor-faktor sosial budaya apa yang mendukung pelembagaan praktek “bank plecit” di pasar Bantul ? Metode apa yang digunakan oleh para “bank plecit”
untuk memikat bakul pasar menjadi nasabahnya? Benarkah “bank plecit” berperilaku sebagai lintah darat atau mereka justru sebagai “helpers in need” kebutuhan bakul pasar akan uang tunai secara instan yang tidak bisa dipenuhi oleh institusi finansial formal?
Setelah pertanyaan-pertanyaan di atas terjawab melalui metode penelitian survey, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi faktor-faktor eksternal dan internal diantara ketiga stakeholder dan selanjutnya dilakukan analisis dengan metode SWOT.
Berdasarkan data dari responden secara individual dan hasil analisis SWOT tersebut, akan dipilih strategi pengembangannya. Penjabaran dari strategi tersebut selanjutnya didiskusikan oleh ketiga stakeholder dengan metode FGD (Focus Group Discussion) untuk merumuskan program pemberdayaan bakul pasar tradisional desa Bantul. Secara skematis kerangka pemikiran teoritis dan operasional seperti disajikan dalam gambar 2.
Gambar 2 Kerangka Pemikiran Pemberdayaan Bakul Pasar Tradisional Desa Bantul
Keterangan Gambar:
: tata hubungan dua arah antar kelembagaan
: proses kajian
: faktor pengaruh
Program Pengembangan Kelembagaan Keuangan
Yang EFEKTIF dan BERORIENTASI kepada
Bakul Pasar
PEMBERDAYAAN BAKUL PASAR
Transformasi
Kelembagaan Keuangan TUJUAN
Bank Pasar “Bank Plecit”
Bakul Pasar FAKTOR INTERNAL ANALISIS SWOT FGD - Profit Sharing tidak adil - Bunga yg terlalu tinggi Tidak Berdaya
Tidak Efektif Tidak Efektif
FAKTOR
25 III. METODE KAJIAN
3.1. Lokasi, Waktu & Komunitas Subyek Kajian 3.1.1. Lokasi
Lokasi kajian dilaksanakan di Pasar Bantul, Desa Bantul, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Lokasi ini dipilih karena beberapa alasan sebagai berikut:
1. Maraknya praktek “Bank Plecit” di Pasar Bantul dengan jumlah sekitar 25 pengusaha (300 “Bank Plecit” di pasar-pasar tradisional seluruh Kabupaten Bantul10) dan dana yang berputar sekitar Rp 27 Miliar selama tahun 200211. 2. Pasar Bantul adalah pasar terbesar baik secara kuantitas maupun kualita s
barang yang diperjualbelikan dan Bantul merupakan salah satu penyangga aktivitas sosial, ekonomi dan budaya antara Yogyakarta dan Kecamatan-Kecamatan di Kabupaten Bantul.
3. Pemerintah Kabupaten Bantul telah menaruh perhatian pada nasib para baku l pasar namun baru sebatas pemberian kredit dengan bunga jauh lebih ringan dari “Bank Plecit” dan belum melakukan kajian-kajian lebih dalam permasalahan bakul pasar tradisional.
Alasan-alasan tersebut diharapkan agar kajian membawa implikasi terhadap hasil kajian agar dapat digeneralisasikan pada lokasi lain yang mempunyai karakteristik lokasi hampir sama.
3.1.2. Waktu
Waktu Penyusunan Kajian Pengembangan Masyarakat dilaksanakan pada Bulan Juni s/d Agustus 2005. Penentuan Waktu didasarkan atas beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1. Pada bulan-bulan tersebut adalah mulai tahun ajaran baru dimana keuangan para bakul pasar pada posisi paling sulit bukan karena sepi pembeli namun karena harus membiayai anak-anak masuk sekolah.
2. Di sisi lain bulan tersebut jug a masa dimana anak-anak sekolah berdarmawisata sehingga biasanya juga akan mendongkrak penjualan bahan
10
Kompas, Jum’at 5 Maret 2004 11
makan yang menuntut ketersediaan barang dagangan lebih banyak dari biasanya maka diperlukan tambahan modal usaha untuk berjualan.
3.1.3. Komunitas Subyek Kajian Komunitas
Komunitas subyek kajian adalah komunitas bakul pasar tradisional yang menggantungkan hidupnya di pasar Bantul, dengan ka rakteristik sebagai berikut: (1)Pedagang informal skala kecil baik dari sisi aset maupun modal kerja, yang mengembangkan pengetahuannya berdagang berdasarkan pengalaman tanpa dibekali ilmu yang memadai; (2)Tidak memiliki badan usaha dan melakukan kegiatan perdagangan barang dan/ atau jasa dalam skala kecil yang dijalankan oleh pengusahanya sendiri berdasarkan azas keke luargaan; (3)Memiliki modal usaha di luar tanah dan bangunan tempat usaha tidak lebih dari Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah);
3.2. Data & Metode Pengumpulannya 3.2.1. Jenis Data
Kelanjutan dari kegiatan praktek lapangan I (Pemetaan sosial) dan praktek la pangan II (Evaluasi program pengembangan masyarakat) adalah kajian lapangan. Data yang digunakan dalam kajian lapangan merupakan sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer merupakan data yang diperoleh melalui; responden: bakul pasar, bank pasar dan ”bank plecit”, informan: Lurah Pasar dan Lurah Desa Bantul. Data yang diperlukan dari bakul pasar antara lain: profil bakul pasar, ukuran keadilan dan nilai pertukaran, informasi tentang jumlah bakul pasar yang kreditnya macet. Data yang diperlukan dari Bank Pasar antara lain: data tentang program kredit anti rentenir, syarat pemberian kredit, jangkauan program kredit anti rentenir. Data yang diperlukan dari ”bank plecit” antara lain: aturan main pemberian kredit oleh ”bank plecit”, etika yang berlaku antar ”bank plecit” yang beroperasi di pasar Bantul.
Sumber data sekunder seperti dokumen desa diperoleh dari kepala desa, seketaris desa, dan ketua paguyuban bakul pasar. Data yang diperlukan antara lain; peta desa, jumlah penduduk, pendidikan warga, jenis mata pencaharian, statistik tentang bakul pasar. Kegiatan yang dilakukan dalam prose s kajian lapangan antara lain: pengamatan berperanserta merupakan proses mengamati
27
perilaku anggota komunitas bakul pasar menunjuk pada kegiatan yang diteliti dan berperan sebagai anggota komunitas.
Tabel 5 Tujuan, Metode Pengumpulan Data, Data yang Diambil, dan Sumber Data.
No. Tujuan Diperlukan Data Yang Sumber Metode Rekaman
1. Mengidentifikasi pola hubungan pertukaran yg terjadi pd praktek “bank plecit”
§ Profil bakul pasar & “bank plecit”
§ Ukuran keadilan dan nilai pertukaran Bakul Pasar “Bank Plecit” Bank Pasar § Wawancara Mendalam § Observasi Catatan harian 2. Memahami & menganalisis mekanisme kerja kelembagaan keuangan bank pasar & “bank plecit”
§ Syarat -syarat untuk mendapatkan kredit § Kelemahan dan kelebihan fasilitas kredit § Toleransi dan kebijaksanaan pembayaran angsuran § Bakul Pasar § Pelaku “Bank Plecit” § Karyawan Bank Pasar § Lurah Pasar Wawancara Mendalam (Data Primer) Catatan harian 3. Menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal kelembagaan keuangan bank pasar, “bank plecit” dan bakul pasar.
§ Hasil wawancara individual mengenai Faktor Internal dan Faktor Eksternal masing-masing stakeholder Bank Pasar “Bank Plecit” Bakul Pasar §Wawancara mendalam §Analisis SWOT Catatan harian 4. Menyusun program pemberdayaan bakul pasar tradisional Desa Bantul § Strategi pengembangan § Solusi dan penanganan masalah
§ Kriteria dan cara kerja penanganan masalah Bank Pasar “Bank Plecit” Bakul Pasar FGD berdasarkan hasil analisis SWOT Catatan harian
3.2.2. Teknik Analisis Data
Dalam menyusun kajian lapangan pengkaji menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis data kuantitatif dilakukan dengan Analisis SWOT dan Focus Group Discussion sedangkan data kualitatif dilakukan dengan cara : 1. Reduksi data merupakan data yang diperoleh di lapangan ditulis dalam
bentuk uraian atau laporan yang terinci. Laporan tersebut direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting, disusun lebih si tematis, sehingga mudah dibaca dan diinterpretasikan (Singarimbun, 1995). Data yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah pengkaji untuk mencari kembali data yang diperlukan.
2. Penyajian data merupakan sekumpulan data dan informasi, untuk melihat gambaran keseluruhannya atau bagian-bagian tertentu dari kajian tersebut, maka dibuat matriks, grafik, jaringan dan bagan, dengan demikian pengkaji dapat menguasai data.
3. Kesimpulan merupakan proses menemukan makna data, mencari pola, tema, hubungan, persamaan, hal-hal yang sering timbul, hipotesis dan sebagainya.
Ketiga macam kegiatan analisis yang disebut diatas saling berhubungan dan berlangsung terus selama kajian dilakukan.