Prediksi Rugi Laba Kredit "Bank Plecit"
7.1. Resiprositas antara Bakul Pasar dan “Bank Plecit”
Partisipan utama dalam aktivitas pinjam meminjam uang atau hutang piutang secara informal di pasar Bantul adalah bakul pasar dan “bank plecit”, namun demikian realita di lapangan praktek “bank plecit” sudah masuk ke kampung-kampung. Ada indikasi hal ini disebabkan karena gencarnya kelembagaan keuangan formal yang masuk ke komunitas bakul pasar tradisional.
Seorang “bank plecit” biasanya protektif terhadap orang yang baru dikena lnya apalagi berasal dari luar komunitas bakul pasar. Sebelum melakukan pendekatan kepada “bank plecit”, pengkaji telah melakukan sosialisasi dan pengamatan sejak Praktek Lapang I melalui perkenalan dengan seorang tukang parkir yang sehari-harinya bekerja di pasar Bantul. Tukang parkir inilah yang dijadikan entry point dalam rangka mendapatkan informasi tentang pinjam meminjam uang melalui kelembagaan keuangan informal.
Gambar 15 Wawancara Dengan Salah Satu Responden Bakul Pasar
Aktivitas “Bank plecit” dilakukan setiap hari dengan mengunjungi nasabah satu demi satu untuk mengambil cicilan dan mencari
nasabah-nasabah baru untuk melakukan ekspansi usaha. Setelah berusaha menemui nasabah satu per satu pada pagi hari, sisa waktu pada siang hari ia lanjutkan untuk menemui nasabah di kampung-kampung sekitar pasar dan pada sore hari akan kembali ke pasar mencari nasabah yang belum ditemuinya pada pagi hari. Rutinitas ini akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya aktivitas pasar pada sore hari. Namun demikian adapula “bank plecit” yang juga melayani bakul “ratengan” (makanan dan lauk pauk) yang berjualan di sekitar pasar hingga larut malam. Profil “bank plecit” yang berhasil ditemui pengkaji adalah sebagai berikut.
Tabel 13 Profil “bank plecit”
No Nama Umur Jenis Kelamin Status Pendidikan
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ibu A Ibu B Pak C Ibu D Pak E Ibu F Ibu G Ibu H Ibu I 48 45 36 51 34 40 29 50 52 Perempuan Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Kawin Kawin Belum Janda Kawin Kawin Kawin Kawin Kawin SMA SMP SMA SD SMP SMA SD SD SD
Sumber : Hasil Penelitian
Dari sudut pandang gender, “bank plecit” didominasi oleh perempuan yaitu 7 orang atau 77,78% dan yang berjenis kelamin laki -laki hanya 2 orang atau 22,22%. Komposisi gender “bank plecit” ada indikasi masih dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial dalam komunitas Jawa, bahwa perempuan adalah pengambil keputusan dalam manajemen keuangan sebuah keluarga sedangkan para suami bertanggungjawab memberikan nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sehingga perempuan dianggap lebih memiliki kemampuan dan berpengalaman dalam menggunakan uang. Pernyataan lain yang mendukung kecenderungan perempuan lebih mendominasi dalam profesi “bank plecit” adalah sebagaimana hasil wawancara dengan bapak Asep penjual kain gordyn di pasar Bantul berikut ini.
“Kewajiban saya selaku kepala rumah tangga adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya sehari-hari. Selanjutnya uang hasil berdagang sebagaian besar saya serahkan kepada istri untuk sepenuhnya mengatur penggunaannya. Apabila tidak cukup saya akan berusaha mencari punjaman kepada kerabat, atau sumber-sumber lain.
63
Jika sudah tidak memungkinkan lagi mendapat pinjaman saya akan berhubungan dengan “bank plecit” untuk mendapatkan hutang.”
Tabel 14 Latar Belakang Pekerjaan “Bank Plecit”
No Nama Latar Belakang Pekerjaan Pekerjaan Utama
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ibu A Ibu B Pak C Ibu D Pak E Ibu F Ibu G Ibu H Ibu I Bakul Pasar Bakul Pasar Bakul Pasar Bakul Pasar Bakul Pasar Bakul Pasar Mantan Karyawan BPR Bakul Pasar Pensiunan PNS “Bank Plecit” “Bank Plecit” “Bank Plecit” Bakul Pasar “Bank Plecit” “Bank Plecit” “Bank Plecit” “Bank Plecit” “Bank Plecit”
Sumber : Hasil Penelitian
Gambar 16 Tukang Parkir Yang Menjadi “Entry Point” Dalam Mengumpulkan Data “Bank Plecit”
Berdasarkan pengamatan di lapangan, beberapa “bank plecit” ternyata juga berprofesi sebagai bakul di pasar Bantul. Ada dua macam dugaan yang melatarbelakangi perilaku “bank plecit” yang berprofesi ganda ini. Pertama, kegiatan berdagang di pasar Bantul dilakukan hanyalah sebagai kamuflase saja sehingga aktivitas utama mereka sebagai “bank plecit” tidak kelihatan mencolok, dan untuk mengantisipasi kecurigaan dari aparat. Kedua, aktivitas sebagai bakul
pasar dijalankan adalah sebagai diversifikasi usaha dan untuk membangun jejaring perdagangan yang lebih luas sehingga diharapkan juga akan memperluas skala usahanya baik sebagai “bank plecit” maupun sebagai bakul pasar.
Usia para pelaku “bank plecit” adalah berkisar antara 29 hingga 52 tahun, dari sudut pandang demografi, kelompok umur ini adalah termasuk dalam usia produktif secara ekonomi. Dan mereka memulai aktivitas hutang piutang ini setelah menikah, hanya 1 orang saja yang masih berstatus bujangan yaitu pak C. Apabila dilihat dari tingkat pendidikan, 3 orang “bank plecit” berpendidikan sampai tingkat SMA, 2 orang SMP dan 4 orang hanya tamat Sekolah Dasar. Sesuai realita di lapangan, tidak ada korelasi antara kesuksesan “bank plecit” dengan tingkat pendidikannya. Praktek hutang piutang informal lebih didasarkan pada “jam terbang” dan pengalaman berinteraksi dengan nasabah daripada pengetahuan yang bersifat akademis.
Tabel 15 Penerimaan Per Bulan “Bank Plecit”
No Nama Penerimaan Kotor (Rp) Penerimaan Suami/Istri (Rp) Penerimaan Total (Rp) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ibu A Ibu B Pak C Ibu D Pak E Ibu F Ibu G Ibu H Ibu I 800.000,- 1.000.000,- 750.000,- 1.000.000,- 1.500.000,- 900.000,- 1.500.000,- 600.000,- 2.000.000,- 750.000,- 600.000,- - - 1.500.000,- 900.000,- 1.200.000,- 850.000,- 1.000.000,- 1.550.000,- 1.600.000,- 750.000,- 1.000.000,- 3.000.000,- 1.800.000,- 2.700.000,- 1.450.000,- 3.000.000,-
Sumber : Hasil Penelitian
Menurut pengakuan dari para pelaku kredit informal ini, seperti dikatakan pak E bahwa omzet mereka dalam satu bulan adalah berkisar Rp. 1,5 juta sampai dengan Rp. 5 juta. Namun pengkaji mengalami kesulitan untuk mengungkap secara pasti berapa sebenarnya omzet dan modal yang diputar. Angka tersebut hanya sebuah nilai kasar tentang jangkauan aktivitas komersial mereka. Sehingga dapat diperkirakan penghasilan mereka dalam sebulan adalah berkisar antara Rp. 500.000, - sampai dengan Rp. Rp. 2.000.000,- dengan asumsi bunga yang diambil dari setiap pinjaman adalah sebesar 30%. Penerimaan sebesar itu di kalangan komunitas bakul pasar Bantul sudak masuk
65
dalam strata ekonomi menengah. Informasi mengenai penerimaan “bank plecit” ini tentu saja hanya sebagian dari kenyataan. Berdasarkan dari pengamatan dan wawancara dengan para nasabah bakul pasar, ada indikasi penerimaan mereka jauh lebih tinggi dari apa yang mereka sampaikan dalam wawancara.
Gambar 17 Seorang “Bank Plecit” Sedang Bertransaksi Dengan Nasabah Bakul Pasar
Profesi nasabah “bank plecit” yang terbesar adalah bakul pasar, ini bisa dilihat dari aktivitas mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu dalam sehari untuk mengunjungi nasabah-nasabahnya di pasar Bantul pada pagi hari dan sore hari. Sedangkan sisa waktu pada sela-sela istirahat siang dipergunakan untuk mengunjungi nasabah-nasabah di luar pasar yaitu penduduk di sekitar pasar Bantul. Disamping itu hasil wawancara dengan beberapa “bank plecit” juga membenarkan pernyataan tersebut. Adapun yang menjadi alasan mereka lebih memilih bakul pasar menjadi nasabahnya adalah karena bakul pasar hampir dapat dipastikan kehadirannya setiap hari di pasar, selain itu profesi ini selalu memegang uang cash dari hasil berdagang (cash flow tinggi). Pernyataan yang mendukung pendapat ini adalah seperti disampaikan oleh Ibu G pada suatu kesempatan, sebagai berikut :
“Secara umum saya percaya pada kejujuran para bakul pasar dan mereka bisa dipercaya menjadi nasabah saya. Tentu saja, ada satu dua
beberapa yang terlambat dengan cicilannya dan hampir tidak ada yang sampai ngemplang sama sekali tidak mengembalikan. Ketika hal ini terjadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Jika hal ini saya laporkan polisi, akan semakin menyulitkan usaha saya, karena aktivitas saya adalah ilegal dan tidak disukai pemerintah. Dari Pengalaman saya selama menjadi “bank plecit” di pasar Bantul, saya bisa mengatakan bahwa 95% nasabah mengembalikan pinjaman pada waktunya, sisanya 4% sering bermasalah. Ini saya anggap sebagai resiko yang harus ditanggung. Dan kurang dari 1% tidak mengembalikan pinjaman alias ngemplang.“
Dari perspektif bakul pasar sendiri, sebenarnya berhubungan dengan “bank plecit” adalah karena kondisinya yang tidak mungkin lagi berhubungan dengan kelembagaan keuangan formal seperti bank formal, dan “bank plecit” merupakan pilihan terakhir apabila sumber-sumber lain tidak mungkin lagi memberinya pinjaman. Hal ini menunjukkan adanya unsur keterpaksaan karena tidak dimilikinya akses kepada kelembagaan keuangan formal yang mungkin disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, ada pendapat di kalangan bakul pasar bahwa berhubungan dengan bank formal adalah suatu hal yang tidak mungkin dijangkau oleh kalangan bawah seperti bakul pasar. Kedua, syarat-syarat administratif yang ditetapkan oleh bank formal cukup membuat bakul pasar berpikir dua kali untuk meminjam uang di bank formal. Ketiga, tidak adanya petugas khusus dari bank formal yang menangani kredit murah tanpa agunan bagi bakul pasar dan memilih pasif menunggu di belakang meja teller.
Dari sudut pandang yang berbeda yaitu dari perspektif “bank plecit”, bahwa orang yang telah menerima bantuan dari “bank plecit” akan merasa hutang budi sehingga wajib mengembalikan bantuan tersebut suatu saat. Hal ini sesuai dengan pepatah Jawa bahwa hutang uang bisa dilunasi, hutang budi dibawa mati. Secara tidak langsung, budaya ini diterjemahkan oleh para “bank plecit” untuk mendukung operasi mereka dan meningkatkan optimalisasi profit.
Pola hubungan yang terjadi antara “bank plecit” dan nasabah adalah faktor utama yang paling menentukan kemudahan-kemudahan atau fasilitas yang akan diberikan “bank plecit” kepada nasabahnya. Nasabah yang mempunyai “hubungan baik” atau reputasi yang baik sebelumnya akan mendapat kemudahan -kemudahan misalnya akan memperoleh kredit dalam jumlah besar dan jangka panjang, bunga rendah dan tidak perlu menyediakan jaminan. Sebaliknya, nasabah yang belum memiliki akses terhadap tipe hubungan tersebut harus menerima konsekuensi-konsekuensi yang kurang menyenangkan pada saat mereka hendak meminjam uang kepada "bank plecit".
67
Seperti harus menyediakan jaminan barang yang senilai dengan pinjamannya dan akan segera dijualnya apabila ternyata nasabah tidak mampu lagi membayar cicilan.
Ketika ditanyakan perihal Kontribusi Sosial ini, pendapat lain disampaikan oleh Mbah Kaji, salah satu tokoh religius yang menjadi panutan di kalangan bakul pasar Bantul, sebagai berikut:
“Seorang muslim sudah diwajibkan untuk membayar zakat, zakat fitrah ataupun sedekah. Adapun besarnya zakat, zakat fitrah dan sedekah sudah ditentukan yaitu sebesar 2,5 persen dari penghasilan sebulan. Selain itu orang-orang muslim yang memiliki barang-barang berharga seperti emas dan permata juga wajib membayar 2,5 persen dari hartanya tersebut sebagai zakat per tahun. Sedangkan zakat fitrah adalah berbentuk barang-barang natura seperti beras dan dibayarkan setiap tahun pada akhir Ramadhan. Disamping itu jika seorang muslim tidak dapat menjalankan puasa selama Ramadhan karena berhalangan semisal sakit, hamil, atau sedang menempuh perjalanan jauh maka ia juga harus menyumbangkan sejumlah uang kepada orang miskin sesuai dengan jumlah hari dimana ia tidak dapat menjalankan puasanya. Sedekah adalah kontribusi finansial sukarela untuk membantu anggota masyarakat yang miskin dengan jumlah tergantung kebaikan hati orang tersebut.”
Berdasarkan data dari Kecamatan Bantul, sebagian besar masyarakat Bantul (94,6%) adalah muslim sehingga norma-norma agama sangat kental dan mewarnai segala bidang kehidupan masyarakat Bantul.
Untuk menjaga hubungan baik dengan nasabah, “bank plecit” kerap kali melakukannya dengan empati yang ditunjukkan dengan bentuk-bentuk kepedulian sosial. Misalnya ada nasabah yang sedang mempunyai hajatan atau sedang ditimpa musibah ia akan datang untuk memberikan sumbangan uang. Bagi “bank plecit”, uang sejumlah Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 20.000,- adalah buka n jumlah yang berarti, karena sebenarnya nilai tersebut sudah masuk dalam kalkulasi nilai yang bisa diperolehnya dari nasabah yang bersangkutan. Jadi nilai tersebut bukanlah uang yang akan hilang. Akan tetapi sebaliknya, “bank plecit” akan memperoleh beberapa manfaat. Pertama, nasabah akan semakin tergantung dan tidak mungkin meninggalkanya. Kedua, nilai tersebut adalah termasuk dalam komponen biaya sosial yang harus dibayar untuk memperbaiki stereotype “bank plecit” sebagai lintah darat. Dengan demikian “bank plecit” menyadari betul bahwa sumbangan-sumbangan tadi bukan hanya semata -mata untuk menunjukkan kepedulian sosialnya, akan tetapi
lebih dari itu juga memiliki efek samping ekonomi yang positif yaitu sebagai instrumen konsolidasi hubungan pinjam meminjam uang.
Pak Tarno adalah seorang bakul gudeg yang asli Bantul memiliki sebuah los kecil khusus makanan di tengah pasar. Ia telah berkeluarga dan mengelola warung bersama isterinya. Pak Tarno berpendapat bahwa:
“Menawi babagan mbang-sinumbang punika sampun dados adat tradisi mas, lan pun jagi dumugi sepriki malah asring sanget blonjo kagem nyumbang langkung ageng tinimbang blonjo dapur. Amargi kados makaten menika mujudaken raos peduli dateng sesami lan dados lambang pasederekan ing antawisipun bakul pasar wonten mriki.”
“Masalah sumbangan-sumbangan di antara bakul pasar memang sudah menjadi tradisi dan tetap terjaga hingga saat ini dan seringkali anggaran untuk sumbangan sosial ini lebih besar daripada anggaran dapur sehari-hari. Karena hal seperti itu menunjukkan kepedulian dan persaudaraan di antara bakul pasar.”
Hubungan personal antara “bank plecit” dan bakul pasar mempresentasikan sebuah kontrol sosial. Ini terlihat pada saat bakul pasar belum bisa mengembalikan cicilan akan ditunggu sampai punya uang, untuk menghindari cap serakah yg akan diberikan kepada “bank plecit” apabila terlalu menekan nasabah. Sedang Nasabah juga akan selalu berusaha untuk tidak `ngemplang` supaya tidak mendapat sangsi sosial berupa black list oleh “bank plecit”, dan rasa tidak nyaman lagi di lingkungannya karena dikucilkan sesama bakul pasar. Disamping itu “bank plecit” selalu berusaha membantu nasabah yang punya hajat dengan ikut `nyumbang`, sehingga ini mencerminkan simbol modal budaya karena untuk tujuan memperkuat hubung an dengan nasabah.
Keberadaan Bank Formal dengan bunga rendah, disamping membantu para bakul pasar, ternyata juga menyediakan tambahan modal bagi praktek “bank plecit”. Proses ekonomi tersebut dideskripsikan sebagai pembagian keuntungan dan resiko antara bank formal dengan “bank plecit”. Dapat ditarik kesimpulan dari pola hubungan ini bahwa antara bank formal dan “bank plecit” terjadi kompetisi dalam hal nasabah namun ada kerjasama dalam hal distribusi kredit di pasar Bantul.
69