• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasar modal merupakan salah satu wahana alternatif dalam berinvestasi khususnya investasi dalam jangka panjang dan sebagai media investasi bagi pemodal. Tiap-tiap pilihan investasi memiliki tingkat keuntungan dan risiko yang berbeda-beda. Pasar modal memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu sistem perekonomian.

Investor adalah pihak perorangan maupun lembaga yang menanamkan modalnya dalam efek-efek yang diperdagangkan di pasar modal. Motivasi utama investor dalam menginvestasikan dananya dalam bentuk saham adalah memperoleh

Return atau imbal hasil dari investasi. Salah satu analisis yang dapat dimanfaatkan oleh investor adalah analisis fundamental. Analisis fundamental adalah analisis berdasarkan laporan keuangan (financial report) yang diterbitkan oleh emiten. Laporan keuangan memiliki kandungan informasi apabila laporan keuangan tersebut dapat digunakan untuk pengambilan keputusan investasi oleh para investor.

Menurut Sunariyah (2006:4)

“Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimilki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang”.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa investasi adalah suatu komitmen atas dana yang dibuat untuk Iujuan untuk mendapatkan laba yang positif di masa satu tahun dengan diinvestasikan pada satu atau lebih aktiva, yang berjangka

waktu lebih dari satu tahun dengan tujuan untuk mendapatkan laba yang positif di masa yang akan datang.

Kinerja keuangan merupakan salah satu faktor yang dilihat oleh calon investor sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi. Para pemodal dan analis keuangannya berkepentingan untuk mengetahui tingkat pengembalian atas investasi mereka. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan laporan keuangan perusahaan dengan tujuan mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan serta mengidentifikasi kecenderungan dan pertumbuhan yang mungkin ada. Dengan adanya informasi keuangan dapat membantu mereka untuk memutuskan tindakan, apakah untuk membeli, menahan, atau menjual saham suatu perseroan.

Keuntungan yang dibagikan kepada para pemegang saham adalah dividen dan

capital gain. Jadi investasi terdiri dari dua unsur yang sangat penting risiko dan tingkat keuntungan. Suatu investasi dapat dikatakan menguntungkan (profitable) apabila investor tersebut dapat membuat pemodal (investor) menjadi lebih makmur. Dengan kata lain kemakmuran investor menjadi lebih besar setelah melakukan investasi. Berinvestasi di pasar modal akan memberikan keuntungan yang sangat besar apabila investor mampu mengambil keputusan yang tepat setiap saat dalam melakianukan investasi. Namun keputusan tersebut tidak terlepas dari kondisi di masa yang akan datang yang penuh dengan ketidakpasimbangan di dalam mengambil suatu keputusan.

Salah satu informasi yang dapat digunakan investor adalah dengan menganalisis laporan keuangan perusahaaan yang bersangkutan. Agar dapat diketahui bagaimana kinerja suatu perusahaan dalam memberikan keuntungan atau tingkat pengembalian bagi perusahaan itu sendiri maupun kepada investornya.

Agar dapat mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan serta kinerja keuangan. Analisis keuangan perlu melakukan pemeriksaaan atas berbagai aspek kesehatan keuangan perusahaan. Alat yang sering digunakan selama pemeriksaaan tersebut adalah rasio keuangan (financial ratio). Salah satu pertimbangan yang digunakan investor untuk berinvestasi pada suatu perusahaan adalah Earning Per Share yang merupakan salah satu rasio profitabilitas.

Menurut Sutrisno (2009:223) mengemukakan bahwa:

Earning Per Share merupakan salah satu bagian dari rasio profitabilitas perusahaan yang mana para pemilik menginginkan data mengenai keuntungan yang diperoleh untuk setiap lembar sahamnya. Earning Per Share atau laba per lembar saham merupakan ukuran kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik.

EPS yang dihasilkan perusahaan merupakan indikator fundamental keuangan perusahaan, yang seringkali dipakai sebagai acuan untuk mengambil keputusan dalm saham.

Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2006:139):

“Semakin tinggi nilai EPS suatu perusahaan, maka akan menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham”.

Menurut Lukman Syamsudin (2007:66-67) menyatakan bahwa:

Pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik dengan EPS. Karena hal ini menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa. Para calon pemegang saham tertarik dengan EPS yang besar, karena hal itu merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan. EPS yang besar menandakan kemampuan perusahaan yang lebih besar dalam menghasilkan keuntungan bersih dari setiap lembar saham. Peningkatan EPS menandakan perusahaan berhasil meningkatkan tarap kemakmuran investor dan hal ini akan mendorong investor untuk menambah jumlah modal yang ditanamkan pada perusahaan. Dengan harapan investor memperoleh tingkat return yang tinggi pula.

Dari teori-teori yang dikemukakan diatas maka dapat dsimpulkan bahwa

earning per share (EPS) berpengaruh positif terhadap return saham. Selain EPS itu rasio profitabilitas lain yang perlu diperatikan adalah return on equity (ROE) membandingkan laba bersih setelah pajak (dikurangi dividen saham biasa). Rasio ini menunjukkan daya untuk menghasilkan laba atas investasi berdasarkan nilai buku para pemegang saham, sering kali dijadikan dalam membandingkan dua atau lebih perusahaan. ROE merupakan salah satu alat utama investor yang paling sering digunakan dalam menilai suatu saham. Dalam perhitungannya, secara umum ROE dihasilkan dari pembagian laba dengan ekuitas selama satu tahun terakhir.

Menurut Mandala Manurung dan Prathama Rahardja (2004:156)

Return on equity adalah rasio yang menunjukkan berapa persen laba bersih setelah pajak terhadap ekuitas (modal). ROE merupakan indikator penting bagi pemilik bank, karena menunjukkan tingkat pengembalian modal atau investasi yang ditanamkan dalam industri perbankan. Angka ROE yang semakin tinggi memberikan indikasi bagi para pemegang saham bahwa tingkat pengembalian investasi di sektor perbankan semakin tinggi. Angka ROE yang tinggi akan menjadi daya tarik bagi pemegang saham untuk menambah modal.

Menurut Lukman Dendawijaya (2005:119)

Return on equity merupakan rasio yang banyak diamati oleh oleh para pemegang saham baik itu pendiri maupun pemegang saham baru serta para investor di pasar modal yang ingin membeli saham bank. ROE merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembayaran dividen yang merupakan bagian dari komponen

return saham. Kenaikan dalam rasio ini menandakan terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang bersangkutan. Selanjutnya kenaikan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga saham bank. Dengan adanya kenaikan harga saham bank maka akan mempengaruhi besarnya return saham yang akan diperoleh investor.

Dari teori yang telah dikemukakan diatas menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara ROE dengan return saham dimana apabila terjadi kenaikan pada ROE maka return saham juga akan mengalami kenaikan. Berdasarkan alur pemikiran di atas, maka dapat dibuat skema kerangka pemikiran sebagai berikut

Gambar 2.1

Skema Kerangka Pemikiran

Pasar Modal Investor

Analisis Teknikal Analisis Fundamental

Laporan Keuangan

Rasio Keuangan

Rasio Profitabilitas Rasio Likuiditas, Rasio

Aktivitas, dan Rasio Leverage

EPS (X1) ROE (X2) Return Saham (Y)

Berdasarkan skema kerangka pemikiran di atas, menunjukkan bahwa earning per share dan return on equity merupakan rasio profitabilitas yang penting dalam pertimbangan keputusan investasi yang dapat mempengaruhi return saham. Jika

earning per share dan return on equity tinggi maka perusahaan memiliki rasio profitabilitas yang baik, dengan demikian maka akan mengakibatkan return saham juga tinggi.

Untuk dapat menguraikan lebih jelas, penulis akan menyajikan dalam paradigma penelitian :

Earning Per Share

- Laba setelah bunga dan pajak

- Jumlah lembar saham yang beredar (Tandelilin, 2010:374)

(X1)

Return On Equity

- Earning After Tax

- Modal Sendiri (Sutrisno, 2009:223) (X2) Return saham (Y) - Harga penutupan saham akhir - Harga penutupan saham awal (Mohamad Samsul, 2009:292) Lukman Syamsudddin, 2007:66 Abdul Halim (2003:8) Gambar 2.2 Paradigma Penelitian Mandala Manurung dan Prathama

2.3. Hipotesis

Menurut Sugiyono (2010:84) dikatakan bahwa :

“Hipotesis adalah alternatif dugaan jawaban yang dibuat oleh peneliti bagi problematika yang diajukan dalam penelitian.”

Dugaan jawaban tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara yang akan diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian.

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka penulis mengambil hipotesis sementara dalam memecahkan masalah tersebut, bahwa terdapat pengaruh yang signifikan baik secara simultan maupun parsial antara Earning Per Sharedan Return On Equity terhadap Return Saham.

59 3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian yang menjadi fokus penelitian penulis adalah sebagai berikut:

1. Earning per sharedan return on equitysebagai variabel bebas (variabel independen).

2. Return Saham sebagai variabel terikat (variabel dependen).

Penelitian dilakukan pada perusahaan subsector perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2005-2009.

Dokumen terkait