• Tidak ada hasil yang ditemukan

1992-2006 Sumber: BPS, 2007

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis .1 Konsep Pendapatan Usahatani

Kegiatan usahatani sebagai satu kegiatan untuk memperoleh produksi di lapangan pertanian, pada akhirnya akan dinilai dari pendapatannya yang merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran. Pendapatan tersebut merupakan balas jasa faktor-faktor produksi. Balas jasa yang diterima pemilik faktor-faktor produksi dihitung untuk jangka waktu tertentu, misalnya satu musim atau satu tahun.

Analisis pendapatan mempunyai kegunaan bagi petani pemiliki faktor produksi. Tujuan utama dari analisis pendapatan, yaitu menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usahatani dan menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. Analisis pendapatan usahatani memerlukan dua keterangan pokok yaitu keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Penerimaan merupakan nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu. Penerimaan usahatani berwujud tiga hal yaitu: (1) hasil penjualan tanaman, ternak, ikan atau produk yang akan dijual, (2) produk yang dikonsumsi petani dan keluarganya, (3) kenaikan nilai inventaris. (Soeharjo dan Patong dalam Irmayani, 2007).

Pendapatan usahatani petani dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pertama, nilai produksi kotor (value of production) atau pendapatan kotor usahatani (gross

farm income) dan kedua, biaya atau pengeluaran total usahatani (total farm expenses). Untuk melakukan perhitungan pendapatan usahatani dilakukan dengan

melihat pendapatan bersih usahatani (net farm income) yaitu selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan pengeluaran total usahatani.

Pengeluaran total usahatani (total farm expenses) didefinisikan sebagai nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam proses produksi, tetapi tidak termasuk tenaga kerja dalam keluarga petani. Pengeluaran usahatani meliputi biaya tunai dan diperhitungkan. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. Pengeluaran tunai usahatani tidak mencakup bunga pinjaman dan jumlah pinjaman pokok. Selisih antara penerimaan dan pengeluaran tunai usahatani disebut pendapatan tunai usahatani (Soekartawi et al, 1986).

Secara umum pendapatan usahatani dapat didefinisikan sebagai sisa (perbedaan) antara pengurangan nilai penerimaan usahatani dengan biaya-biaya yang dikeluarkan. Pendapatan kotor usahatani (gross farm income) di definisikan sebagai nilai total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Semua komponen produk yang tidak dijual harus dinilai berdasarkan harga pasar berlaku. Perhitungan pendapatan kotor usahatani merupakan hasil perolehan sumberdaya yang digunakan dalam usahatani atau hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga persatuan yang diterima petani. Harga yang diterima oleh petani sangat mempengaruhi besarnya tingkat penerimaan dan pendapatan petani, sehingga harga output menjadi salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan pendapatan petani.

Pendapatan bersih usahatani dapat digunakan untuk mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan dari modal milik sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke

dalam kegiatan usahatani. Oleh karena itu, pendapatan bersih usahatani merupakan ukuran keuntungan usahatani yang dapat dipakai untuk membandingkan penampilan beberapa usahatani.

3.1.2 Kebijakan Harga Dasar

Harga merupakan salah satu faktor yang sulit dikendalikan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah mengenai harga, namun sampai saat ini tetap saja harga masih merupakan masalah bagi petani. Kebijakan mengenai harga merupakan wewenang pemerintah yang diturunkan dalam bentuk peraturan dan keputusan pejabat berwenang seperti surat keputusan menteri.

Kebijakan harga dasar terhadap output berorientasi kepada perlindungan petani (harga dasar). Panen raya memberikan gambaran produksi yang banyak (excess supply). Sesuai dengan teori ekonomi, bila penawaran meningkat sementara permintaan tetap maka harga akan turun. Itulah yang terjadi pada saat panen raya, harga turun ketika harga pasar berada di bawah harga yang semestinya (harga keseimbangan).

Pada Gambar 2 kebijakan yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan harga dasar menjadi lebih tinggi daripada harga pasar tersebut. Misalkan harga pasar adalah Hp dan harga dasar adalah Hd, maka Hd lebih besar dari Hp. Dalam hal ini untuk menjaga agar harga dasar tetap berlaku maka pemerintah harus ambil bagian dalam pasar, yaitu dengan menampung kelebihan produksi sehingga penawaran dan permintaan pasar tetap seimbang dan harga tidak terpengaruh.

Jumlah produksi yang diminta oleh masyarakat adalah sebesar OQp dengan harga sebesar Hp yang berada di bawah harga dasar (Hd). Bila harga dasar

tetap berlaku, maka jumlah permintaan adalah sebesar OQ1d. bila dikehendaki harga dasar dapat berfungsi dengan baik, maka pemerintah harus menampung dan membeli kelebihan produksi (penawaran) sebesar Q1dQd. Dengan demikian permintaan yang sebenarnya bisa diimbangi oleh produksi sebesar OQ1d.

Harga D S Hd Hp Kuantitas Qp Q1d Qd O

Gambar 2. Kebijaksanaan Harga Dasar Pada Saat Panen Raya Sumber: Lipsey, 1995

3.1.3 Konsep Maksimisasi Laba (Profit)

Dalam ilmu ekonomi, perusahaan atau seorang produsen memiliki tujuan untuk mencapai laba ekonomi sebesar mungkin. Secara definisi produsen membuat perbedaan sebesar mungkin antara penerimaan total dengan biaya ekonomi total. Jika seorang produsen adalah pencari laba maksimum, mereka akan membuat keputusan berdasarkan konsep marjinal. Produsen akan melihat laba tambahan (atau marjinal) dari produksi satu unit output, atau tambahan laba dari penggunaan tambahan satu unit input. Sepanjang tambahan laba ini masih positif, produsen akan memutuskan untuk memproduksi tambahan output atau menggunakan tambahan input. Namun, ketika tambahan laba dari aktivitas

produksi menajdi nol, maka produsen akan mempertahankan aktivitasnya karena tidak lagi menguntungkan bila menambah produksi.

TC TC

TR TR

Gambar 3. Hubungan Total Penerimaan dengan Total Biaya dalam Menentukan Tingkat Output Pada Saat Laba Maksimum Sumber: Nicholson, 2000

Hubungan antara maksimisasi laba dengan konsep marjinal secara langsung dengan melihat tingkat output yang akan dipilih untuk diproduksi. Produsen menjual tingkat output (Q) dan dari penjualannya produsen menerima penerimaan (TR). Jumlah penerimaan yang diperoleh dipengaruhi berapa banyak output yang terjual (Q) dan berapa harga output tersebut (Pq). Demikinan pula,

q2 q* q1 0 π Output Output (a) (b)

untuk menghasilkan Q, diperlukan biaya ekonomi tertentu (TC) yang tergantung dari output yang diproduksi. Laba ekonomi (π) didefinisikan sebagai:

π = TR – TC

dimana : TR = Pq x Q

TC = Fungsi biaya terhadap output.

Untuk menentukan berapa banyak output yang akan diproduksi, produsen akan memilih kuantitas produksi ketika laba ekonomi paling besar. Proses ini diilustrasikan pada Gambar 3.

Pada Gambar 3. Kurva biaya total (TC) dan penerimaan total (TR) pada gambar (a) akan membentuk hubungan kurva laba pada gambar (b). Dapat terlihat bahwa laba akan mencapai maksimum pada saat produsen memproduksi pada q*. pada tingkat output yang lebih besar atau lebih kecil dari q*, laba akan kecil dibandingkan dengan ketika output diproduksi pada q*. Dengan demikian, untuk memaksimumkan laba produsen akan menghasilkan output dimana penerimaan marjinal sama dengan biaya marjinal (MR = MC).