• Tidak ada hasil yang ditemukan

1992-2006 Sumber: BPS, 2007

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai tingkat kesejahteraan rumah tangga petani pernah dilakukan oleh Irmayani pada tahun 2007. Lokasi yang diteliti yaitu Desa Purwasari Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Tujuan penelitian tersebut yaitu: (1) mengkaji tingkat pendapatan rumah tangga petani dan sumber-sumber pendapatan petani di luar usaha pertanian, (2) menganalisis tingkat kesejateraan rumah tangga petani dan (3) menganalisis hubungan antara karakteristik petani dengan tingkat kesejahteraan. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif mengenai karakteristik rumah tangga petani, analisis usahatani serta analisis korelasi rank spearman untuk melihat hubungan antara karakteristik rumah tangga petani dengan tingkat kesejahteraan.

Pengukuran tingkat kesejahteraan rumah tangga petani dengan menggunakan sebelas kriteria indikator kesejahteraan dari BPS, sebagian besar dari responden (80 persen) termasuk kategori kesejahteraan tinggi. Sementara berdasarkan kriteria garis kemiskinan Sajogyo, sebagian besar responden (90 persen) termasuk kategori tidak miskin. Berdasarkan hasil analisis, variabel karakteristik responden yang mempengaruhi secara nyata tingkat kesejahteraan yaitu luas lahan yang dimiliki dengan hubungan yang positif. Sedangkan variabel umur, pendidikan, pengalaman kerja dan jumlah anggota rumah tangga petani tidak secara nyata mempengaruhi tingkat kesejahteraan.

Analisis tingkat pendapatan petani padi organik dan padi anorganik berdasarkan status kepemilikan lahan yang dilakukan Marhamah (2007) menunjukkan petani dengan status pemilik lebih tinggi dibandingkan petani dengan status bagi hasil. Selain itu jumlah pendapatan bersih yang diterima petani

padi organik lebih tinggi dibandingkan dengan yang diterima oleh petani padi anorganik.

Penelitian yang dilakukan di Kelurahan Situgede Kota Bogor ini membandingkan tingkat produktivitas dan tingkat pendapatan dari padi organik dan padi anorganik berdasarkan status kepemilikan lahan. Alat analisis data yang dilakukan meliputi analisis produktivitas, analisis pendapatan usahatani dan analisis faktor adopsi dengan menggunakan AHP (Analytic Hierarchy Process). Petani dengan status sebagai bagi hasil pada usahatani padi organik mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan status pemilik. Hal ini disebabkan oleh adanya pemeliharaan yang lebih intensif dari petani bagi hasil dibandingkan petani pemilik. Pada usahatani padi anorganik status penguasaan lahan pemilik mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi usahatani padi organik menunjukkan bahwa tujuan utama yang ingin dicapai dalam menjalankan usahatani padi organik adalah meningkatkan pendapatan usahatani. Tujuan adopsi padi organik yang ingin dicapai adalah menghasilkan pangan yang sehat, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan produktivitas. Faktor prioritas yang mempengaruhi adopsi usahatani padi organik adalah ciri pribadi petani. Prioritas selanjutnya adalah faktor luar usahatani, informasi teknologi dan kondisi usahatani.

Program Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) di Kabupaten Cianjur Jawa Barat telah dapat meningkatkan pendapatan petani yang mengikuti program tersebut (Sumiati, 2003). Namun sistem usahatani peserta SLPHT secara umum sama dengan sistem usahatani padi petani non-SLPHT.

Yang membedakan adalah penggunaan ramuan-ramuan (pestisida botanis) untuk menggantikan pestisida kimia dalam pemberantasan hama dan penyakit tanaman padi.

Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani dapat dilihat bahwa untuk petani non SLPHT penerimaan totalnya lebih besar daripada penerimaan total petani SLPHT. Nilai RC rasio petani SLPHT lebih besar daripada petani Non SLPHT (3,24 / 2,54). Hal tersebut menunjkkan bahwa usahatani petani SLPHT lebih efisien daripada petani Non SLPHT sehingga usahatani petani SLPHT secara finansial lebih efisien daripada usahatani petani non SLPHT.

Analisis tingkat pendapatan petani lahan kering di lokasi program PINDRA di Kabupaten Pacitan Jawa Timur telah dilakukan oleh Dirmansyah pada tahun 2004. Dari analisis pendapatan usahatani petani program PINDRA, nilai R/C rasio petani program lebih besar daripada petani non program (3,62 / 3,47). Pendapatan bersih petani program PINDRA lebih besar daripada petani non program. Dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani program, secara statistik program PINDRA tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani di lokasi program. Artinya perbedaan pendapatan petani program PINDRA dengan petani non PINDRA tidak jauh berbeda. Di sisi lain adanya program ini cukup efektif dalam usaha meningkatkan pendapatan petani yang bermukim di lahan kering. Adanya perubahan perilaku, perbaikan di bidang pertanian, misalnya dalam meningkatkan motivasi petani dalam perbaikan di bidang pertanian, serta adanya pembangunan prasarana didesa lokasi penelitian.

Kajian terhadap pendapatan petani dan harga lahan di kawasan Agropolitan di Kabupaten Cianjur telah dilakukan oleh Mulyani tahun 2007. Hasil

analisis usahatani menunjukkan program pengembangan kawasan agropolitan belum signifikan dalam pencapaian manfaat jangka menengah yaitu meningkatkan pendapatan usahatani petani. Konsisi ini terjadi karena meskipun terjadi peningkatan intensitas penyuluhan pertanian namun belum terjadi peningkatan produktivitas karena keterbatasan petani dalam permodalan. Pembangunan infrastruktur transportasi kawasan agropolitan tidak menurunkan biaya transportasi dan tidak merubah pola pemasaran komoditi pertanian.

Terdapat kecenderungan program pengembangan kawasan ini di Kecamatan Pacet dan Cipanas meningkatkan jumlah petani dengan tingkat pendapatan tinggi dan sedang serta meningkatkan rata-rata tingkat pendapatan usahatani petani di wilayah inti dibandingkan wilayah transisi dan hinterland. Program ini terutama pembangunan infrastruktur transportasi secara lokalitas berpengaruh secara nyata terhadap peningkatan harga lahan. Semakin dekat dengan pusat agropolitan semkin mahal. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu terjadinya alih fungsi lahan pertanian kepada aktovotas non pertanian yang memiliki nilai land rent yang lebih tinggi

Studi perbandingan pendapatan dan efisiensi usahatani padi program PTT dengan petani non-PTT dilakukan di Kabupaten Karawang oleh Nasution tahun 2003. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) menganalisis pendapatan usahatani, produktivitas usahatani yang dilakukan oleh petani program dibandingkan dengan petani non-program, (2) menganalisis keefektifan program dilihat dari peranannya dalam meningkatkan produksi petani dan (3) menganalisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi yang dilakukan petani program dibandingkan dengan

petani non-program. Analisis yang digunakan yaitu analisis efisiensi dan pendapatan usahatani serta analisis incremental net benefit.

Produktivitas tanaman per hektar petani program lebih besar dibandingkan petani non program, akan tetapi perbedaan produktivitas yang diperoleh relatif kecil dan pendapatan rata-rata per hektar yang diperoleh petani non program lebih tinggi dibandingkan dengan petani program. Meskipun demikian dilihat dari segi pengeluaran biaya tunai dan baya total, maka biaya yang dikeluarkan petani program lebih rendah diabndingkan petani non-program. Hal ini terjadi karena petani program PTT melakukan masa tanam serentak yang dapat mengurangi resiko hama, pemberantasan hama secara bersama sehingga mengurangi biaya tunai.

Dilihat dari R/C rasio, usahatani petani program maupun non-program masih menguntungkan untuk diusahakan, akan tetapi nilai R/C petani program lebih tinggi dibandingkan petani non-program. Hasil ini menunjukkan bahwa dari segi analisis pendapatan, petani program lebih efisien dibandingkan dengan petani non-program. Berdasarkan analisis incremental net benefit yang dilakukan, nilai B-C yang diperoleh petani program dengan ikut serta dalam program PTT lebih besar daripada nol, akan tetapi kentungan tambahan per hektar yang diperoleh relatif kecil.

Program sistem tunda jual pola gadai gabah yang dibuktikan secara statistik melalui fungsi pendapatan dapat dinyatakan bahwa adanya kebijakan tersebut meningkatkan pendapatan petani (Gunawan, 2004). Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penerapan sistem tunda jual pola gadai gabah terhadap tingkat pendapatan petani. Hal ini menggambarkan bahwa petani telah

menerima manfaat yang nyata dengan adanya program tersebut, karena petani dapat menerima harga layak setelah petani melakukan tunda jual. Hasil analisis pendapatan usahatani yang membedakan antara petani sebelum dan setelah ikut program sistem tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendapatan petani setelah ikut program tunda jual pola gadai gabah lebih besar dibandingkan sebelum ikut program.

Suparmin (2005) melakukan penelitian mengenai peranan bulog dalam stabilisasi harga beras di pasar domestik. Suparmin membedakan analisisnya menjadi tiga periode waktu kebijakan perberasan nasional. Perkembangan kebijakan perberasan nasioanl tersebut yaitu rezim Orde Baru (1969-1997), rezim pasar bebas (1998-1999) dan rezim pasar terbuka terkendali (2000-2003). Data yang digunakan dalam penelitian tersebut mencakup harga gabah di tingkat petani, harga dasar gabah yang ditetapkan pemerintah, operasi pembelian gabah dan tingkat produksi padi. Alat analisis yang digunakan adalah Vector Error

Correction Model (VECM) dan analisis kointegrasi.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa bulog hanya berperan dalam stabilisasi harga gabah di tingkat petani dalam rezim orde baru, demikian pula kebijakan operasi pembelian gabah petani hanya efektif dalam rezim orde baru. Sedangkan peran bulog dalam stabilisasi harga beras konsumen tidak ada sama sekali dalam ketiga rezim tersebut. Sehingga, kebijakan pemerintah dalam stabilisasi harga harus berimbang yaitu lebih memperhatikan produsen tanpa melupakan konsumen. Kebijakan tersebut harus memberikan jaminan harga gabah di tingkat petani yang memadai terutama pada musim panen raya. Sedangkan bagi

konsumen perlu adanya ketersediaan beras dengan kualitas yang baik dan harga terjangkau sepanjang musim maupun sepanjang tahun.

Penelitian mengenai DPM-LUEP belum banyak dilakukan. Penelitian efektivitas penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah terhadap pendapatan petani telah dilakukan oleh Mila Yulisa tahun 2008. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Binong dan Kecamatan Pusakanagara Kabupaten Subang. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu menganalisis pendapatan usahatani petani padi, mengidentifikasi peranan penetapan HPP gabah terhadap pendapatan petani, dan mengidentifikasi peranan DPM-LUEP dalam upaya meningkatkan pendapatan petani. Penelitian yang dilakukan hanya sebatas mendeskrisikan harga gabah di tingkat petani dari seluruh petani responden. Selain itu, kajian terhadap program DPM-LUEP sendiri hanya sebatas gambaran pelaksanaan program, deskripsi harga gabah petani dan perbandingan pendapatan petani yang diperoleh dari hasil penelitian terdahulu.

Berdasarkan hasil analisis, penetapan HPP di lokasi penelitian sudah efektif. Hal ini terlihat dari harga gabah yang diterima petani sudah berada diatas HPP yang ditetapkan pemerntah. Program DPM-LUEP sudah efektif tercermin dari stabilnya harga gabah di lokasi penelitian. Selain itu, pendapatan petani di lokasi penelitian setelah adanya program DPM-LUEP lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Munandar pada tahun 1978.

Penelitian yang dilakukan hanya melihat efektivitas program DPM-LUEP terhadap kestabilan harga gabah petani di lokasi penelitian. Analisis yang dilakukan sederhana yaitu hanya melihat harga rata-rata yang diterima dari seluruh responden penelitian. Sedangkan, pendapatan petani di lokasi program

tidak dibedakan antara petani yang menjual ke LUEP atau tidak. Perbandingan pendapatan dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Munandar pada tahun 1978. Peneltian ini hanya membedakan pendapatan petani berdasarkan status keanggotaan irigasi teknis di lokasi penelitian. Sehingga tidak dapat ditemui apakah pendapatan petani yang menjual ke LUEP lebih tinggi daripada petani yang menjual ke non-LUEP.

Berdasarkan tinjauan penelitian yang telah dibahas, penelitian mengenai pendapatan usahatani di lokasi program DPM-LUEP belum membedakan antara petani yang menjaul ke LUEP dengan yang tidak. Sedangkan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu membedakan pendapatan petani yang menjual ke LUEP dengan yang tidak. Selanjutnya, akan menganalisis apakah program DPM-LUEP telah dapat meningkatkan pendapatan petani.