• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Kerangka Pemikiran

Sapi tergolong ternak besar yang sudah lama dipelihara masyarakat, dan merupakan sumber pendapatan tambahan bagi peternak dalam meningkatkan pendapatan keluarga.

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan konsumsi daging dan mengurangi impor, pemerintah menyusun program peningkatan produksi daging sapi/kerbau dalam negeri, menggunakan pendekatan yang lebih banyak mengikutsertakan peran aktif masyarakat. Mulai tahun 2017, Pemerintah menetapkan Upsus Siwab (upaya khusus percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting).

Dengan upaya khusus ini sapi/kerbau betina produktif milik peternak dipastikan dikawinkan, baik melalui inseminasi buatan maupun kawin alam. Berdasarkan kebijakan tersebut, diharapkan produksi peternak meningkat setiap tahunnya sehingga pendapatan peternak juga mengalami peningkatan.

Peternak sapi desa Dolok Sagala umumnya memiliki berbagai jenis usaha diluar peternakan sapi dalam mendukung kontinuitas untuk memnuhi seluruh kebutuhan rumah tangganya. Pendapatan rumah tangga terdiri dari pendapatan usaha pertanian dan usaha non pertanian ( buruh bangunan, guru,karyawan, pegawai negeri sipil, wirausaha, buruh lepas dan lain-lain ). Berbagai usaha tersebut memberikan kontirbusi yang berbeda-beda terhadap pendaptan rumah tangga peternak. Kontribusi usaha ternak sapi terhadap pendapatan rumah tangga peternak dapat dianalisis dengan menggunakan analisis pendapatan.

Analisis pendapatan rumah tangga peternak dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan yang diperoleh dari berbagai jenis usaha (usaha pertanian dan non pertanian). Kontribusi usaha ternak sapi terhadap pendapatan rumah tangga merupakan perbandingan antara tingkat pendapatan petrnak dari usaha ternak sapi dengan tingkat pendapatan rumah tangga dari keseluruhan aktivitas usaha yang dilakukan.

Adapun skema kerangka pemikiran sebagai berikut :

Gambar 2.1. Skema Kerangka Pemikiran Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan dan Kontribusi Pendapatan Usaha Ternak Sapi Terhadap Pendapatan Keluarga

Usaha ternak

Variabel yang mempengaruhi pendapatan : 1. Produksi

2. Biaya tenaga kerja 3. Inseminasi buatan 4. Biaya pakan Produksi

Pendapatan Usaha ternak

Pendapatan keluarga Harga

Pendapatan Non usaha

Ternak

Kontribusi

2.4 Penelitian Terdahulu Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Nama

Penulis Judul Metode Hasil Penelitian

1. Khairul

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan perkembangan kegiatan inseminsai buatan di provinsi Riau apabila dilihat dari segi lokasi /SP-IB dan jumlah akseptor, tetapi terjadi penurunan dari kinerja pelaksanaan inseminasi secara keseluruhan yang ditunjukkan oleh hasil realisasi IB dan jumlah ternak lahir, dibuktikan dengan perbedaan yang sangat signifikan antara skala peubah parameter profil reproduksi di provinsi Riau dengan skala parameter

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pendapatan rumah tanggan yang mengusahakan peternakan dan memiliki usaha non pertanian jauh lebih besar disbanding dengan rumah tangga yang hanya mengusahakan usaha ternak sapi perah; kontribusi usaha ternak sapi perah terhadap pendapatan rumah tangga masing-masing 70,58 %, 78,41 % dan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : (1) Pengusahaan sapi perah pada ketiga skala usaha menguntungkan dan efesien secara financial karena memiliki keuntungan yang lebih besar dari nol.

Pengusahaan susu sapi laktasi juga menguntungkan secara ekonomi .Untuk skala usaha kurang dari tiga ekor menguntungkan secara ekonomi dengan nilai keuntungan sebesar Rp 688,72 per liter nilai DRC sebesar 0,67; Nilai PCR yang lebih kecil dari DRC (PCR< DRC) menunjukan bahwa adannya intervensi dari pemerintah pada pengusahaan sapi perah berupa kebijakan tarif impor dan

Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

pengurangan subsidi membuat

keuntungan finansial lebih kecil dari keuntungan ekonomi. Artinya akan lebih efisien jika kebijakan pemerintah diperbaiki atau dikaji kembali; Hasil analisis dampak kebijakan input-output menunjukan bahwa berdasarkan Koefisien Proteksi Efektif (EPC), adanya kebijakan pemerintah tidak berdampak intensif terhadap peternak sapi perah, karena nilai tambah keuntungan peternak menjadi lebih rendah dari yang seharusnya; Pada analisis sensitivitas meningkatnya harga pakan sebesar 30 %, menurunya harga susu sebesar 5 % dan analisis sensitivitas gabungan keduannya, 4. Tri

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : menyatakan bahwa variabel modal, jumlah ternak, pengalaman beternak signifikan terhadap pendapatan kelompok peternak sapi.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : (1) Perkembangan usaha ternak kambing di Kabupaten Deli Serdang selama 6 tahun belakangan ini (2002-2007) mengalami peningkatan. (2) Hasil analisis dengan korelasi sederhana diketahui bahwa secara parsial variabel lama beternak, jumlah ternak, jumlah investasi dan total penerimaan usaha ternak kambing memiliki hubungan yang

nyata terhadap besarnya

pendapatanbersih usaha ternak.

Sedangkan variabel umur, tingkat

Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Kabupaten

Deli Serdang.

pendidikan, jumlah yanggungan keluarga, tingkat cosmopolitan, luas kandang dan total biaya produksi tidak memiliki hubungan yang nyata terhadap pendapatan. (3) Pendapatan diluar usaha ternak kambing tidak memiliki hubungan yang nyata dengan jumlah pendapatan usaha ternak kambing.

2.5 Hipotesis Penelitian

1. Terdapat pengaruh Variabel produksi, tenaga kerja, pakan dan pendekatan teknologi inseminasi buatan terhadap pendapatan peternak sapi di daerah penelitian

2. Terdapat kontribusi pendapatan usaha ternak sapi terhadap total pendapatan rumah tangga peternak sapi di daerah penelitian.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Daerah penelitian ditentukan secara sengaja yaitu di Desa Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Daerah penelitian ini dipilih karena daerah ini memiliki jumlah populasi ternak sapi terbesar di Kecamatan Dolok Masihul .

Tabel 3.1. Populasi Ternak Sapi Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2017

Desa Ternak Sapi

Bukit Cermin Hilir 250

Dame 35

Dolok Manampang 1.820

Durian Puloan 120

Dolok Sagala 3.167

Havea 250

Tanjung Maria 150

Total 11.367

Sumber : Badan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Serdang Bedagai, 2017

Pada Tabel 3.1. Berdasarkan hasil sensus yang dilakukan oleh Badan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2017, Desa Dolok Sagala berada pada urutan pertama dengan jumlah populasi sapi 3.167 ekor dan Desa Dolok Manampang dengan jumlah populasi sapi 1.820 ekor dan Desa Pertambatan dengan jumlah populasi sapi 1.743 ekor.

Universitas Sumatera Utara

3.2 Metode Penelitian

Persyaratan responden adalah para peternak sapi di Desa Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan keluarga yang memelihara ternak sapi.

3.3 Metode Pengambilan Sampel

Peternak sampel adalah bagian dari populasi peternak terpilih yang mengusahakan ternak sapi sebagai pekerjaan utama maupun sampingan. Metode penentuan sampel yang digunakan untuk penelitian adalah metode penarikan sampel secara acak (Random Sampling).

Penentuan pengambilan Sample yaitu apabila kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-55% atau lebih tergantung sedikit banyaknya dari kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana;

Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek dan besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti (Arikunto, 2008)

Berdasarkan referensi tersebut maka sampel dalam penelitian ini diambil dari 10% Jumlah populasi peternak sapi yaitu 360 KK, sehingga diperoleh 36 sampel peternak.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data skunder. Data primer diperoleh dari para peternak sapi melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner yang sebelumnya telah disiapkan. Sedangkan data skunder diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara, Penyuluh Pertanian Kabupaten Serdang Bedagai, Kantor Kepala Desa

3.5 Metode Analisis Data

3.5.1. Membuktikan Hipotesis 1.

Untuk membuktikan hipotesis satu bahwa terdapat pengaruh variabel produksi, tenaga kerja, pakan dan pendekatan teknologi inseminasi buatan terhadap pendapatan peternak sapi di daerah penelitian, digunakan model estimasi regresi linear berganda dengan spesifikasi model ekonometrika. Alat bantu dalam mengelola data primer yang digunakan adalah program SPSS 17 (Statistical Product and Service Solution).

Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4D + ui

Y = Pendapatan ( Rp )

b0 = Koefesien intercept ( nilai konstanta ) X1 = Produksi ( Kg )

X2 = Biaya tenaga kerja ( Rp ) X3 = Biaya Pakan ( Rp )

D = 0 ; Tidak menggunakan Inseminasi Buatan ( IB )

= 1; Pendekatan Inseminasi Buatan ( IB ) ui = Error

3.5.1.1 Uji Kesesuaian Model ( Test of Goodness of Fit ) 1. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan variabel bebas dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai koefisien determinasi (R2) berkisar antara 0 < R2 <1, dengan kriteria pengujiannya adalah R2 yang semakin tinggi (mendekati 1) menunjukkan model yang terbentuk mampu menjelaskan keragaman dari variabel terikat, demikian pula sebaliknya.

2. Uji Serempak ( Uji F – Statistik )

Uji F digunakan untuk menguji kelinearan pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) secara serempak (simultan).

Kriteria pengujian :

1. Jika sig. F< 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima 2. Jika sig. F> 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak Hipotesis yang digunakan :

1. H0 : variabel bebas ( produksi, biaya tenaga kerja, biaya pakan, dan pendekatan teknologi inseminasi buatan) tidak berpengaruh secara serempak terhadap variabel terikat (pendapatan).

2. H1 : variabel bebas ( produksi, biaya tenaga kerja, biaya pakan, dan pendekatan teknologi inseminasi buatan) berpengaruh secara serempak terhadap variabel terikat (pendapatan).

3. Uji Parsial ( Uji t - Statistik )

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara parsial berpengaruh terhadap variabel terikat.

Kriteria pengujian :

1. Jika sig. F< 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima 2. Jika sig. F> 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak Hipotesis yang digunakan :

1. H0 : variabel bebas ( produksi, biaya tenaga kerja, biaya pakan, dan pendekatan teknologi inseminasi buatan) tidak berpengaruh secara parsial terhadap variabel terikat (pendapatan).

2. H1 : variabel bebas ( produksi, biaya tenaga kerja, biaya pakan, dan pendekatan teknologi inseminasi buatan) berpengaruh secara parsial terhadap variabel terikat (pendapatan).

3.5.1.2. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis Ordinary Least Square (OLS).

Pada prinsipnya model regresi linear yang dibangun sebaiknya tidak boleh menyimpang dari asumsi BLUE ( Blue, Linear, Unbiased dan Estimator). Ada empat uji asumsi klasik ynag akan digunakan dalam penelitian ini antara lain uji normalitas, heterokedastisitas, multikolinearitas dan autokorelasi.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak. Uji normalitas dapat dilakukan dengan oji OS-KS (One Sample Kolmogorov Smirnov) dengan melihat nilai signifikansi.

- Sig K.S > 0,05 = Data terdistribusi normal - Sig K.S < 0,05 = Data tidak terdistribusi normal 2. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk melihat apakah didalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dan residual. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas yaitu dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya ZRESID. Dengan kriteria uji sebagai berikut :

- Jika ada pola tertentu, seperti titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit) dapat disimpulkan bahwa terjadi heteroskedastisitas.

- Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas.

3. Uji Multikolinearitas

Uji asumsi multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah ditemukan adanya korelasi atau hubungan antar variabel bebas dalam model regresi.

Korelasi diantara variabel bebas seharusnya tidak terjadi dalam model regresi yang baik. Cara mendeteksi terjadinya multikolinearitas dalam model regresi adalah sebagi berikut :

- Jika nilai koefesien determinasi (R2) tinggi, pada uji F variabel bebas secara serempak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat, akan tetapi dalam uji secara parsial (uji t) variabel bebas banyak yang tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

- Menganalisis matriks korelasi antar variabel-variabel bebas. Jika antar variable bebas terdapat korelasi yang cukup tinggi , umumnya diatas 0,90, maka hal ini mengindikasikan terjadinya multikolinearitas.

- Nilai standart error yang besar mengindikasikan terjadinya multikolinearitas.

- Melihat nilai toleransi (Tolerance) dan VIF. Dengan criteria uji sebagai berikut:

Jika nilai toleransi ≤ 0,10 dan VIF ≥ 10 : terjadi multikolinearitas.

Jika nilai toleransi > 0,10 dan VIF < 10 : tidak terjadi multikolinearitas.

3.5.2. Membuktikan hipotesis 2

Untuk membuktikan hipotesis dua bahwa terdapat kontribusi pendapatan usaha ternak sapi terhadap total pendapatan rumah tangga digunakan analisis pendapatan rumah tangga peternak. Rumus yang digunakan sebagai berikut :

Y = X1 + X2

Keterangan :

Y = Pendapatan rumah tangga peternak (Rp/peternak/tahun) X1 = Pendapatan usaha ternak sapi (Rp/peternak/tahun)

X2 = Pendapatan diluar usaha ternak sapi (Rp/peternak/tahun)

Untuk melihat kontribusi pendapatan usaha ternak sapi terhadap pendapatan rumah tangga peternak dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Keterangan :

KP = Kontribusi pendapatan usaaternak sapi terhadap pendapatan rumah tangga peternak (%)

X = pendapatan bersih sapi (Rp/peternak/tahun)

Y = Pendapatan rumah tangga peternak (Rp/peternak/tahun)

3.6 Definisi Batasan Operasional 3.6.1. Definisi

1. Peternakan adalah kegiatan mengembangkan dan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan membudidayakan hewan ternak untuk tujuan mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut.

2. Pendapatan merupakan pengurangan dari penerimaan dengan biaya total.

Pendapatan rumah tangga yaitu pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usaha ternak ditambah dengan pendapatan yang berasal dari kegiatan diluar usaha ternak.

3. Produksi adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa.

𝐊𝐏 =𝐗

𝐘𝐱 𝟏𝟎𝟎%

4. Tenaga kerja adalah penduduk yang berumur 10 tahun atau lebih, yang sudah atau sedang mencari pekerjaan dan sedang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga.

5. Inseminasi buatan (IB )adalah teknik memasukkan mani atau semen ke dalam alat reproduksi ternka betina sehat untuk dapat membuahi sel telur dengan menggunakan alat inseminasi.

3.6.2 Batasan Operasional

1. Daerah penelitian adalah desa Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedaga, Provinsi Sumatera Utara

2. Waktu penelitian adalah Agustus 2017 – Desember 2017.

3. Responden penelitian adalah peternak yang mengusahakan ternak sapi sebagai pekerjaan utama maupun sampingan yang bertempat tinggal di Desa Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai.

4. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data primer dan data sekunder. Dimana data primer langsung diperoleh dari para peternak sedangkan data skunder diperoleh dari instansi-instansi yang berkaitan.

BAB IV

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1 Geografis Desa

4.1.1. Batas Administrasi dan Aksesibilitas Desa

Desa Dolok Sagala merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatra Utara. Secara geografi desa Dolok Sagala terletak pada ketinggian 80 - 110 M diatas permukaan laut, dan memiliki luas wilayah 2.699 Ha dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Desa Kerapuh

 Sebelah Timur : Desa Bukit Cermin Hilir

 Sebelah Selatan : Desa Sungai Sei Sibarau

 Sebelah Barat : Desa Pertambatan

4.2. Topografi

Luas wilayah Desa Dolok Sagala yaitu 2.600 Ha dan Peruntukan lahan sebagian besar yang ada di Dolok Sagala dimanfaatkan oleh penduduk untuk kegiatan pertanian yaitu untuk lahan perkebunan 775 Ha, permukiman pekarangan 125 Ha, Prasarana umum 8,5 Ha, perkantoran dan pendidikan 2,4 Ha, perkebunan atau tanah wakaf 7,5 Ha, Perladangan 595 Ha dan Penggunaan lainnya 7,6 Ha, perkebunan swasta 1.079 Ha. Secara rinci peruntukan atau pemanfaatan lahan dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Luas Lahan menurut Peruntukan di Desa Dolok Sagala Tahun 2016

No Peruntukan Lahan Luas Lahan

(Ha)

Presentase

1 Perkebunan Rakyat 799 29,8

2 Pemukiman / Pekarangan 125 4,8

3 Prasarana Umum 8,5 0,32

4 Perkantoran dan Pendidikan 2,4 0,09

5 Pekuburan/TanahWakaf 7,5 0.28

6 Perladangan/Tegalan 300 22,88

7 Lainnya 7,6 0,29

8 Perkebunan Swasta 1.350 41,5

Jumlah 2.600 100

Sumber: Data Monografi Dolok Sagala Tahun 2016

4.3 Keadaan Sosial

a. Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Desa Dolok Sagala memiliki penduduk sebanyak 4.485 jiwa dengan 1.176 kepala keluarga (KK), dan menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki jumlahnya hampir sama atau sebanding , yang dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Dolok Sagala

No Jenis Kelamin Jumlah Jiwa

1.

Sumber: Data Monografi Dolok Sagala Tahun 2016

b. Kedaan Penduduk Menurut Kelompok Usia

Keadaan penduduk menurut usia yang terdapat didesa Dolok Sagala dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Menurut Usia di Desa Dolok Sagala

No Usia ( Tahun ) Jumlah ( Jiwa )

Sumber: Data Monografi Dolok Sagala Tahun 2016

c. Keadaan Penduduk Menurut Pendidikan

Keadaan penduduk desa Dolok Sagala menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini :

Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan di Desa Dolok Sagala

No Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa)

1.

Sumber: Data Monografi Dolok Sagala Tahun 2016

d. Keadaan Penduduk Menurut Agama di Desa Dolok Sagala

Penduduk Desa Dolok Sagala menganut beberapa agama. Penduduk desa termasuk kedalam mayoritas yang menganut agama islam. Komposisi penduduk desa Dolok Sagala menurut agama dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Menurut Agama Yang Dianut

No Agama Jumlah (jiwa)

Sumber: Data Monografi Dolok Sagala Tahun 2016

e. Keadaan Penduduk Menurut Suku Bangsa (Etnis)

Penduduk desa Dolok Sagala terdiri dari beberapa suku bangsa (Etnis), namun ada salah satu suku yang mendominasi desa Dolok Sagala yaitu suku Jawa yang dapat dilihat dari Tabel 4.6 berikut :

Tabel 4.6 Jumlah Penduduk Menurut Suku Bangsa

Sumber: Data Monografi Desa Dolok Sagala Tahun 2016

f. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencarian

Mata pencarian yang paling banyak di Desa Dolok Sagala (mayoritas) adalah bertani, karena lahannya yang masih memungkinkan untuk melakukan usaha di bidang pertaniaan. Selain tanahnya yang masih subur dan tempatnya sangat strategis dalam melaksanakan usaha pertanian untuk memenuhi swasembada bahan pokok dan tidak begitu jauh dengan Bandara Internasional Kuala Namu. Hal tersebut dapat dilihat dari Tabel 4.7 berikut:

Tabel 4.7 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencarian

No. Jenis Mata Pencarian Jumlah (jiwa)

1.

Pegawai Negri Sipil (PNS) ABRI / Polri

Buruh Wiraswasta Karyawan

Belum Bekerja dan Tidak Bekerja

181

Sumber: Data Monografi Dolok Sagala Tahun 2016

4.4 Kepemilikan Ternak

Mayoritas penduduk di Desa Dolok Sagala memiliki ternak sapi, berikut ini diterangkan pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8. Kepemilikan Ternak (KK)

Ayam/Itik Kambing Sapi Kerbau Ikan Babi Lembu

- - - - - - 367

Sumber: Data Monografi Dolok Sagala Tahun 2016

4.5 Keadaan Ekonomi

Keadaan ekonomi masyarakat Desa Dolok Sagala secara kasat mata terlihat jelas perbedaannya antara Rumah Tangga yang berkategori miskin, sangat miskin, sedang dan kaya. Hal ini disebabkan karena mata pencahariannya disektor-sektor yang berbeda-beda pula, sebahagian besar disektor non formal seperti: wirausaha, wiraswasta, buruh bangunan, buruh tani, , buruh lepas, petani sawah tadah hujan, perkebunan karet dan sawit dan sebahagian kecil disektor formal seperti PNS pemda, Honorer, Guru, Tenaga Medis, TNI/Polri, dll.

Desa Dolok Sagala merupakan desa pertanian, dengan demikian penghasilan ekonomi masyarakat didapat dari hasil pertanian dan buruh karyawan perkebunan PT.socfindo. Dari jumlah KK yang ada lebih kurang 4.147 jiwa Adalah buruh tani, selebihnya bermata pencaharian sebagai petani, karyawan, wiraswasta, jasa dan sebagian kecil sebagai PNS dan anggota TNI/POLRI.

Dilihat dari tingkat penghasilan rata-rata masyarakat desa Dolok Sagala tergolong dalam kategori masyarkat kurang mampu dari segi ekonomi produktif, ini berakibat pada tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata hanya tamat SD dan SLTP dan sedikit SLTA, ditambah dengan sumberdaya manusia yang sangat terbatas.

Akan tetapi dari segi tempat tinggal hanya 23 % dari bangunan rumah penduduk yang sudah permanen, sedangkan yang 77 % lainnya belum permanen.

Bangunan-bangunan rumah penduduk yang non-permanen terebut diseluruh wilayah dusun.

4.6 Sarana dan Prasarana yang Terdapat di Dolok Sagala

Keadaan sarana dan prasarana di Desa Dolok Sagala akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan masyarakat Desa Dolok Sagala. Semakin baik sarana dan prasarana pendukung maka akan mempercepat laju pembangunan desa Dolok Sagala baik di tingkat lokal maupun regional. Keadaan sarana dan prasarana di Desa Dolok Sagala dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut:

Tabel 4.9. Sarana dan Prasarana di Desa Dolok Sagala No Fasilitas Sarana dan Prasarana Jumlah/

Volume 2. Kesehatan Puskesmas Pembantu

Posyandu

5. Transportasi Jalan Aspal Jalan Tanah

- 9 km Sumber: Data Monografi Desa Dolok SagalaTahun 2016

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan

5.1.1 Produksi Ternak Sapi

Usaha pemeliharaan sapi bertujuan untuk mendapatkan produksi daging dengan peningkatan bobot badan yang tinggi melalui pemberian pakan yang berkualitas. Berdasarkan observasi dilapangan, kegiatan yang rutin dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah pemberian pakan hijau maupun tambahan, obat-obatan dan vitamin, sistem perkembangbiakan dan sanitasi kandang.

Pemenuhan kebutuhan pakan dilakukan dengan mengarit dan mengangon. Desa Dolok Sagala merupakan desa yang dikelilingi oleh perkebunan masyarakat dan swasta, sehingga sangat mudah untuk mendapatkan pakan hijauan.

Sistem perkembangbiakan ternak sapi terbagi dua yaitu kawin alam dan teknologi inseminasi buatan. Sebagian ternak menggunakan sistem perkembangbiakan kawin alam, dimana sapi indukan dan sapi jantan saling bertemu. Umumnya kawin alam terjadi pada saat diangon bersama-sama dengan ternak sapi lain. Namun beberapa peternak mengandangkan sapi indukan yang birahi bersama pejantannya, hal ini dianggap lebih efektif. Sebagian peternak lain menggunakan teknologi inseminasi buatan, yaitu menyuntikkan bakal anakan (semen) kedalam rahim sapi indukan. Teknologi ini dianggap sangat efektif dalam peningkatan produksi karena peternak bisa langsung memilih jenis bakalan yang akan disuntikkan.

Bakal anak yang di suntikkan harus sesuai dengan kondisi indukan. Induk sapi aceh dan sapi bali tidak dapat disuntikkan bakal anak sapi limosin, simental, Brahman dan semua sapi yang tergolong sapi besar. Karena dikhawatirkan

Universitas Sumatera Utara

indukan akan mati saat melahirkan. Produksi ternak sapi pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.1 berasal dari lampiran 2.

Tabel 5.1 Produksi Ternak Sapi ( Kg )

Umur Sapi Jenis

Kelamin Total Rata-Rata

1. Produksi Tahun 2018

Anak (< 1 Tahun) 5.545 154,02

Muda (1-2,5 tahun) Jantan 4.505,46 125,14

Betina 5.625 156,25

Dewasa (>2,5 tahun) Jantan 5.478,9 154,91

Betina 23.820 665,93

Total 44.974,36 1.256,25

Sumber : Data Primer diolah

Performan produksi ternak sapi pedaging menggambarkan kemampuan atau produktivitas sapi, yaitu pertambahan bobot badan harian ( dengan lama penggemukan selama setahun ). Ternak sapi pedaging yang mempunyai pertambahan bobot badan yang cepat yaitu pada sapi simental dan limosin.

Namun penggunaan pakan oleh peternak didaerah penelitian masih kurang optimal, tidak ada pembedaan proporsi pakan terhadap jenis sapi dan bobot badan, sehingga pertambahan bobot badan sapi tidak optimal.

5.1.2 Biaya Usaha Ternak Sapi a. Biaya Pakan

Biaya pakan ternak sapi pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.2 berasal dari Lampiran 6.

Tabel 5.2 Biaya Pakan Usaha Ternak Sapi

Tabel 5.2 Biaya Pakan Usaha Ternak Sapi

Dokumen terkait