BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.2 Kerangka Pemikiran
Anak jalanan merupakan sebuah realita sosial yang mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Anak jalanan denga n berbagai karakter yang dimiliki telah menjadi bagian dalam setiap aktivitas sehari-hari yang secara tidak langsung mengganggu keamanan, ketertiban dan kenyamanan orang lain serta dirinya sendiri.
Pekerjaan yang dijalani anak jalanan dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori yaitu usaha dagang,usaha jasa, pengamen dan kerja serabutan. Pekerjaan yang dijalani anak jalanan di jalan merupakan pekerjaan yang penuh resiko. Mereka akan mudah terserang penyakit sehingga membutuhkan tempat tinggal, makanan, pakaian, dan tentunya jaminan kesehatan. Terdapat kecenderungan semakin pasti jenis pekerjaan anak jalanan maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.
Sebagian besar anak jalanan memiliki tingkat pendidikan yang rendah, ada yang pernah sekolah namun terpaksa putus sekolah bahkan ada yang tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah. Anak jalanan sangat memerlukan pendidikan dan keterampilan untuk meningkatkan pengetahuan dan daya kreatifitasnya agar tidak tertinggal walaupun pendidikan mereka tergolong rendah.Hal ini berarti adanya kecenderungan semakin rendah tingkat pendidikan anak jalanan maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.
Penyebab anak-anak turun ke jalan pun beragam, yaitu: pertama, kondisi ekonomi keluarga (kemiskinan) sehingga semakin miskin kondisi ekonomi keluarga anak jalanan maka semakin tinggi tingkat kepuasan pemenuhan kebutuhan di rumah singgah. Anak-anak yang berasal dari keluarga miskin tentu sangat membutuhkan sandang, pangan dan papan, jaminan kesehatan dan pendidikan yang tidak terpenuhi dengan baik dalam keluarganya.
Latar belakang kedua, disharmonisasi keluarga (konflik dengan/antar orang tua) Selain membutuhkan sandang, pangan, papan, jaminan kesehatan dan pendidikan anak jalanan yang mengalami konflik dalam keluarga juga sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang lebih, dalam hal ini dapat diberikan oleh kakak pembina sebagai pengganti orangtua dan sesama anak jalanan sebagai pengganti saudara. Memiliki kecenderungan semakin tinggi konflik yang terjadi di dalam keluarga anak jalanan maka semakin tinggi tingkat kepuasan pemenuhan kebutuhan di rumah singgah.
Latar belakang ketiga adalah faktor pendorong dari diri sendiri (motivasi) adalah ingin mencari pengalaman dan memperoleh penghasilan sendiri. Untuk
memacu semangat anak jalanan untuk giat bekerja sangat diperlukan sarana dan prasarana yang memadai di rumah singgah. Seperti contoh, adanya pembinaan menjahit disertai dengan adanya mesin jahit dan tempat untuk memasarkan hasil jahitan mereka. Terdapat kecenderungan semakin tinggi motivasi untuk bekerja yang dimiliki anak jalanan maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.
Penindasan yang dihadapi anak jalanan bukan saja penindasan oleh pelaku keluarga namun diperparah dengan penindasan oleh pelaku di lingkungan kerja sehari-hari dan penindasan oleh aparat pemerintah dalam bentuk kekerasan fisik, psikologis, dan seksual sehingga tentu saja membutuhkan suatu upaya perlindungan yang dapat dilakukan oleh keluarga maupun tempat lain, seperti rumah singgah. Anak yang mengalami tindak kekerasan sangat membutuhkan tempat berlindung yang memberikan rasa aman. Tentu saja dengan memberikan apa yang menjadi kebutuhan anak jalanan seperti makanan, pakaian, pendidikan dan jaminan kesehatan juga kasih sayang dan perhatian. Terdapat kecenderungan semakin tinggi penindasan yang dialami anak jalanan maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.
Pola interaksi yang terjadi di Rumah Kita dapat dilihat melalui frekuensi kehadiran dalam kegiatan di rumah singgah, tingkat keakraban dan tingkat penyelesaian masalah. Anak jalanan memperoleh bimbingan secara rutin yang diadakan oleh para pekerja sosial agar tujuan rumah singgah dapat tercapai, yaitu membantu anak jalanan mengatasi masalah-masalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya serta untuk membentuk kembali sikap dan
perilaku anak yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi warga masyarakat yang produktif.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat kecenderungan semakin tinggi pola interaksi anak jalanan di rumah singgah maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.
Penelitian ini akan mengungkapkan bagaimana gambaran rumah singgah, serta bagaimana karakteristik anak jalanan binaan rumah singgah, latar belakang anak turun ke jalan, penindasan terhadap anak jalanan dan pola interaksi yang terjadi di rumah singgah sehingga perlu dilakukan upaya perlindungan. Pada akhirnya diharapkan mampu mengidentifikasikan sejauhmana peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan. Secara jelas dapat dilihat pada gambar 2.
Karakteristik Anak Jalanan:
- Jenis Kelamin - Jenis Pekerjaan - Tingkat Pendidikan
Latar Belakang Anak Turun ke Jalan:
- Tingkat kemiskinan keluarga - Tingkat konflik keluarga - Motivasi untuk bekerja
Penindasan Terhadap Anak Jalanan:
- Penindasan oleh pelaku keluarga
- Penindasan oleh pelaku di lingkungan kerja
- Penindasan oleh aparat pemerintah
Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak
(2) kebutuhan pakaian tiga stel atau lebih.
(3) kebutuhan kesehatan.
(4) kebutuhan tempat tinggal/berlindung.
(5) kebutuhanpendidikan.
Gambar 2. Bagan Kerangka Pemikiran
2.2. Hipotesis
§ Terdapat hubungan antara karakteristik anak jalanan (jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan tingkat pendidikan) dengan peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.
§ Terdapat hubungan antara latar belakang anak turun ke jalan (tingkat kemiskinan keluarga, motivasi untuk bekerja dan tingkat konflik keluarga) dengan peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.
§ Terdapat hubungan antara permasalahan anak jalanan dengan peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.
Pola Interaksi Anak Jalanan di Rumah Singgah :
- Frekuensi kehadiran - Tingkat keakraban
- Tingkat keterlibatan anak jalanan dalam penyelesaian masalah
§ Terdapat hubungan antara pola interaksi di rumah singgah dengan peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.
2.3. Definisi Operasional
§ Jenis kelamin adalah pembedaan responden yang dikategorikan atas:
a. Laki-laki b. Perempuan
§ Jenis pekerjaan adalah pekerjaan yang dijalani oleh anak-anak jalanan binaan rumah singgah. Kategori :
a. Jenis pekerjaan usaha dagang b. Jenis pekerjaan usaha jasa c. Jenis pekerjaan pengamen d. Jenis pekerjaan kerja serabutan
§ Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal yang pernah atau masih dijalani oleh anak-anak jalanan binaan rumah singgah. Kategori :
a. Rendah, apabila anak jalanan tamat SD b. Sedang, apabila anak jalanan tamat SMP c. Tinggi, apabila anak jalanan tamat SMA
§ Tingkat kemiskinan keluarga adalah tingkat ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dalam sebuah keluarga yang dilihat berdasarkan jumlah pendapatan orangtua laki-laki dan orangtua perempuan per bulan.
Pengukuran dilakukan dengan mendata seluruh pendapatan rumah tangga per bulan dari 30 responden, kemudian diperoleh nilai batas maksimum
berdasarkan pendapatan rumah tangga terbesar yaitu Rp.700000 per bulan dan batas minimum yaitu pendapatan rumah tangga terkecil sebesar Rp.230000 per bulan. Kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori kemiskinan antara lain; (1) kategori sangat miskin sekali yaitu mereka yang memiliki pendapatan Rp.230000-Rp.386667, kemudian (2) kategori miskin sekali yaitu mereka yang memiliki pendapatan antara Rp.386668-Rp.543334 dan (3) kategori miskin, apabila mereka memiliki pendapatan Rp.543335-Rp.700000.
§ Tingkat konflik keluarga adalah tingkat perselisihan yang terjadi di antara hubungan ayah dan ibu dan antara anak dengan orangtua ketika anak jalanan masih tinggal bersama orangtuanya.
Pengukuran dilakukan dengan mengajukan 13 pernyataan yang berkaitan dengan konflik antar orangtua dan antara orangtua dengan anak. Pernyataan dapat ditanggapi dengan jawaban sering dengan skor 3, jarang dengan skor 2 dan tidak pernah dengan skor 1. Total skor maksimum adalah 39 dan minimum 13. Responden dapat dikatakan memiliki keluarga dengan tingkat konflik rendah apabila skor yang diperoleh 13-21, sedang apabila skor yang diperoleh 22-30 dan tinggi apabila skor ya ng diperoleh 31-39.
§ Motivasi untuk bekerja adalah dorongan dari dalam diri individu anak jalanan untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
Pengukuran dilakukan dengan mengajukan 8 pernyataan. Pernyataan dapat ditanggapi dengan jawaban sangat setuju dengan skor 3, setuju dengan skor 2 dan tidak setuju dengan skor 1. Total skor maksimum adalah 24 dan minimum 8. Responden dapat dikatakan memiliki motivasi untuk bekerja tinggi apabila
skor yang diperoleh 19-24, sedang apabila skor yang diperoleh 13-18 dan rendah apabila skor yang diperoleh 8-12.
§ Penindasan terhadap anak jalanan adalah segala bentuk diskriminasi atau tekanan dalam bentuk fisik, psikologis dan seksual yang pernah dialami oleh anak jalanan baik oleh pelaku keluarga, oleh pelaku di lingkungan kerja sehari-hari maupun oleh aparat pemerintahan.
Pengukuran dilakukan dengan mengajukan 35 pernyataan yang terbagi atas 15 pernyataan tentang penindasan dalam keluarga, 10 pernyataan yang berkaitan dengan penindasan di lingkungan kerja dan 10 pernyataan yang berkaitan dengan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah. Masing-masing pernyataan ditanggapi dengan jawaban sering dengan skor 3, jarang dengan skor 2 dan tidak pernah dengan skor 1. Total skor maksimum adalah 105 dan skor minimum adalah 35. Responde n dapat dikatakan memiliki permasalahan rendah apabila skor yang diperoleh 35-57, sedang apabila skor yang diperoleh 58-82, dan tinggi apabila skor yang diperoleh 83-105.
§ Penindasan di tingkat keluarga adalah segala bentuk tekanan/diskriminasi baik secara fisik, psikologis dan seksual yang pernah dilakukan anggota keluarga anak jalanan (ayah, ibu, kakak dan adik) terhadap anak jalanan tersebut.
§ Penindasan di lingkungan kerja adalah segala bentuk tekanan/diskriminasi baik secara fisik, psikologis dan seksual yang pernah dialami anak jalanan di lingkungan kerja
§ Penindasan di tingkat pemerintah adalah segala bentuk tekanan/diskriminasi baik secara fisik, psikologis dan seksual yang pernah dilakukan oleh aparat pemerintahan kepada anak jalanan.
§ Pola interaksi di rumah singgah adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak jalanan dan pembina di rumah singgah yang mewarnai hubungan diantara mereka yang ditunjukan melalui frekuensi kehadiran, tingkat keakraban dan tingkat penyelesaian masalah.
Pengukuran dilakukan dengan mengajukan 25 pernyataan yang terbagi atas 10 pernyataan yang berkaitan dengan frekuensi kehadiran, 10 pernyataan yang berkaitan dengan keakraban dan 5 pernyataan yang berkaitan dengan upaya penyelesaian masalah. Total skor maksimum adalah 75 dan skor minimum adalah 25. Responden dapat dikatakan memiliki pola interaksi tinggi apabila skor yang diperoleh 25-41, sedang apabila skor yang diperoleh 42-58, dan rendah apabila skor yang diperoleh 59-75.
§ Frekuensi kehadiran adalah intensitas atau tingkat keseringan (berapa kali) anak jalanan hadir dalam kegiatan pembinaan dalam satu bulan.
§ Tingkat keakraban adalah tingkat kedekatan/keintiman hubungan antara sesama anak jalanan di rumah singgah dan antara anak jalanan dengan pekerja sosial/pengelola rumah singgah yang diekspresikan melalui diskusi dan interaksi selama menjadi anak binaan.
§ Tingkat keterlibatan anak jalanan dalam penyelesaian masalah adalah tingkat partisipasi anak jalanan dalam mengatasi dan menyelesaikan masalah yang terjadi di rumah singgah secara bersama -sama.
§ Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh rumah singgah untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang serta berpartisipasi secara optimal yang dilihat berdasarkan tingkat pemenuhan kebutuhan di rumah singgah.
Penilaian dilakukan dengan memberikan 9 butir pernyataan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan anak. Pernyataan tersebut dapat ditanggapi dengan jawaban sering dengan skor 3, jarang dengan skor 2, dan tidak pernah dengan skor 1. Total skor maksimum adalah 27 dan skor minimun sebesar 9.
Peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan dikatakan baik apabila skor yang diperoleh 22-27, cukup baik apabila skor yang diperoleh 15-21 dan kurang baik apabila skor yang diperoleh 9-14.
§ Tingkat kepuasan pemenuhan kebutuhan adalah tingkat dimana kebutuhan anak jalanan di rumah singgah dirasakan sudah terpenuhi berdasarkan penilaian dari individu anak jalanan itu sendiri.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Singgah Rumah Kita yang berlokasi di Kecamatan Gunung Batu, Kabupaten Bogor Barat, Propinsi Jawa barat, tepatnya di Gg. Mesjid no.158 RT 05 RW 01. Pemi lihan rumah singgah ’Rumah Kita’ sebagai sasaran penelitian dipilih secara sengaja (purposive) karena lokasi mudah dijangkau oleh peneliti dan berdasarkan hasil survai, Rumah Kita adalah rumah singgah yang cukup lama berdiri (+ lima tahun) dan masih dikunjungi anak jalanan serta masih eksis dengan program-program pembinaannya. Pengumpulan data di lapangan dilakukan selama kurang lebih dua bulan (bulan Januari 2006 sampai Februari 2006).
3.2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian survai untuk menguji variabel dan hubungan diantara variabel-variabel yang ada dengan didukung oleh penjelasan kualitatif. Pengumpulan data dengan metode penelitian kuantitatif menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Sementara metode penelitian kualitatif digunakan untuk menggali lebih dalam permasalahan yang tidak dapat tergali dalam metode penelitian kuantitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan panduan pertanyaan dan melalui pengamatan langsung selama penelitian berlangsung.
3.3. Pemilihan Responden dan Informan
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila sesorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka disebut penelitian populasi atau disebut juga studi populasi atau studi sensus (Arikunto,1996). Oleh karena subjeknya meliputi semua anak jalanan binaan Rumah Kita yang berjumlah 30 orang, maka disebut juga sensus. Hal ini dilakukan karena jumlah populasi yang sedikit.
Dalam studi sensus, sebelum melakukan penelitian harus mengadakan pembatasan lebih dulu. Dalam hal ini, syarat responden adalah:
1. Anak jalanan binaan Rumah Kita baik laki-laki maupun perempuan 2. Memiliki usia diantara 7-18 tahun.
3. Telah menjadi anak binaan Rumah Kita sejak Rumah Kita berdiri (lima tahun) atau minimal tiga tahun.
Sedangkan informan adalah para pekerja sosial yang mengelola rumah singgah serta warga yang tinggal di sekitar rumah singgah.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan mengguna kan daftar pertanyaan (kuesioner) dan wawancara mendalam (panduan pertanyaan) sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan melalui analisis dokumen.
3.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh berupa data nominal dan data ordinal. Setelah data dari kuesioner responden tersebut dikumpulkan, selanjutnya data tersebut diolah dan dianalisis secara kuantitatif dengan ditambahkan analisis kualitatif. Pengujiannya dilakukan dengan menggunakan uji statistik non parametrik, yakni Korelasi Chi-Square dan Rank Spearman. Syarat penggunaan uji Korelasi Rank Spearman adalah variabel pengaruh dan terpengaruh menggunakan variabel ordinal, sedangkan uji Chi-Square salah satu variabelnya nominal (Siegel,1997). Uji Chi-Chi-Square digunakan untuk menguji hubungan antara variabel nominal dan ordinal dan tidak membahas seberapa jauh hubungan tersebut, yang dalam hal ini adalah hubungan antara variabel jenis kelamin dan jenis pekerjaan dengan upaya perlindungan..
Perhitungan dengan uji Chi-Square dilakukan dengan memperhatikan syarat-syarat penggunaan lainnya (Singarimbun dan Effendi,1989), yaitu:
1. Tidak boleh dipakai untuk sampel yang kurang dari 20
2. Frekuensi teoritis (ft) minimum harus 5 dalam dalam setiap sel untuk tabel 2 x 2 (dua kolom, dua baris), untuk tabel yang lebih besar, 80 persen harus 5 atau lebih.
3. Setiap sel tidak boleh memiliki frekuensi kurang dari 1.
Sementara itu untuk mengetahui ada tidaknya hubungan, maka dilihat berdasarkan nilai asymptotic signifkansi (2-sided) yang dihasilkan dari hasil uji Chi-Square kemudian akan dibandingkan dengan tingkat signifikansi yang digunakan yaitu 0,05 (α =0,05). Jika nilai asymptotic signifikansi lebih besar dari 0,05 maka
tidak terdapat hubungan antar variabel yang diuji, sebaliknya apabila nilai sngnifikansi lebih kecil dari 0,05 maka terdapat hubungan antar variabel yang diuji.
Selanjutnya Korelasi Rank Spearman digunakan untuk menguji hubungan antara variabel ordinal dengan ordinal, dalam hal ini adalah hubungan antara variabel latar belakang turun ke jalan, permasalahan anak jalanan dan pola interaksi dengan upaya perlindungan.
Besarnya nilai koefisien korelasi Rank Spearman rs terletak antara -1< rs < 1, artinya :
rs = 1, hubungan X dan Y sempurna positif (mendekati hubungan sangat kuat dan positif)
rs = -1, hubungan X dan Y mendekati sempurna negatif (mendekati -1, hubungan sangat kuat dan negatif)
rs = 0, hubungan X dan Y lemah sekali dan tidak ada hubungan.
Untuk mengetahui adanya keeratan hubungan yang signifikan atau tidak pada koefisien korelasi Rank Spearman dilakukan dengan cara menguji nilai signifikansi dari hasil koefisin korelasi Rank Spearman. Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (α =0,05), berarti H0 diterima atau tidak terdapat korelasi, sedangkan jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, berarti H0 ditolak atau terdapat korelasi. Selanjutnya jika diperoleh hubungan antara dua variabel signifikan, maka koefisien korelasi akan diartikan sebagai berikut;
Kurang dari 0,20 hubungan rendah sekali, lemah sekali 0,20 - 0,40 hubungan rendah sekali tapi pasti 0,40 – 0,70 hubungan yang cukup berarti 0,70 – 0,90 hubungan yang tinggi; kuat
Lebih dari 0,90 hubungan sangat tinggi; kuat sekali dan dapat diandalkan
Untuk memudahkan pengolahan data dan penarikan kesimpulan dalam uji Chi-Square dan uji Korelasi Rank Spearman maka digunakan program SPSS 10.0 for Windows. Dan data kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara dengan responden akan digunakan untuk memperjelas gambaran mengenai peranan rumah singgah terhadap upaya perlindungan anak jalanan.
Untuk metode pengumpulan, pengolahan dan analisis data dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Kuantitatif (kuesioner) Responden (anak jalanan)
Kuantitatif (kuesioner) Responden (anak jalanan)
Kuantitatif (kuesioner) Responden (anak jalanan)
Kuantitatif (kuesioner) Responden (anak jalanan)
Kuantitatif (kuesioner) Responden (anak jalanan)
BAB IV
GAMBARAN RUMAH SINGGAH RUMAH KITA
4.1. Sejarah Berdirinya Rumah Kita
Rumah Singgah Rumah Kita merupakan salah satu program yang dicanangkan oleh suatu yayasan nonpanti yang bernama Yayasan Gerak (Gerakan Rakyat) dibawah penanggung jawab Bapak MK. Rumah Kita didirikan pada bulan Juli tahun 2000 atas prakarsa para pekerja sosial di yayasan Gerak. Rumah Kita merupakan sebuah rumah yang digunakan sebagai tempat beristirahat dan melakukan berbagai kegiatan pembinaan bagi anak jalanan.
Pada awal berdirinya, Rumah Kita bertempat di Kampung Kramat daerah Paledang Bogor, diantara rumah-rumah warga dengan jumlah anak jalanan 60 orang.
Untuk sampai di tempat ini harus melalui jembatan diatas sungai Ciliwung dengan turunan-tanjakan yang curam.
Setelah dua tahun keberadaan Rumah Kita di daerah ini jumlah anak binaan pun meningkat menjadi 75 orang, namun demikian masih banyak warga yang tidak menerima keberadaan mereka sehingga pada akhirnya Rumah Kita berpindah lokasi ke Kepatihan di daerah Gunung Batu tetap di daerah Bogor. Namun hal yang sama terjadi lagi, setelah enam bulan Rumah Kita berpindah lokasi untuk yang keduakalinya ke Purbasari masih di daerah Gunung Batu, mereka digusur oleh aparat polisi karena fitnah dari warga yang tidak suka akan keberadaan anak jalanan di wilayah tersebut.
Setelah itu pengelola membeli sebuah ruma h di daerah Gunung Batu tepatnya di Gang Mesjid diantara perumahan warga dekat sungai Ciliwung. Dana pembelian rumah diperoleh atas bantuan pihak Belanda yang merupakan donatur tetap Rumah Kita. Rumah bernomor 158, dengan fasilitas ruang tamu serta tiga ruang kamar tidur dan satu kamar mandi menjadi tempat bernaung dan melaksanakan berbagai kegiatan bagi anak jalanan.
Berdasarkan informasi dari informan, pertama kali datang di daerah ini mereka sempat mengalami penolakan keras dari warga karena penampilan anak jalanan yang urakan dan tidak sopan. Namun setelah mengadakan musyawarah bersama para warga yang dipimpin oleh Ketua RW dan RT dengan perjanjian harus dapat menjaga hubungan dengan saling menghormati dan sopan santun, serta tidak membuat keributan, maka Rumah Kita tetap berdiri hingga saat ini.
Saat ini warga mulai menerima kehadiran anak jalanan bahkan warga juga mengijinkan anak-anaknya untuk ikutserta dalam kegiatan pembinaan keterampilan, seperti menyablon, menjahit, dan membuat berbagai macam kerajinan tangan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan warga sekitar Rumah Kita, mereka terlihat cukup menghargai keberadaan anak-anak jalanan tersebut.
”Emang sih dulu saya juga ikut nolak anak jalanan, tapi sekarang udah biasa aja soalnya anak saya juga suka ikut bikin sablon-sablon jadi ada gunanya juga buat anak saya, makanya saya udah ga kawatir lagi.”
(NS, 30 tahun)
Berikut pendapat Ketua RT yang menyatakan warganya tidak terganggu dengan adanya anak jalanan dan tentang harapannya ke depan terhadap hubungan anak-anak jalanan dengan warganya.
” Dulu orang-orang disini nolak anak jalanan teh karena takut pengaruhnya ga bagus buat anak-anak mereka tapi saya pikir kalo anak jalanan harus tidur di jalanan juga bahaya buat mereka.
Sekarang mah udah saling adaptasi dan tahu kegiatan positif yang dikerjain anak Rumah Kita, lama kelamaan warga nerima malah ikut seneng karena anak-anaknya jadi pinter bisa buat sablon, bisa jahit”.
(PH, 50 tahun)
Beliau sangat menghargai keberadaan anak-anak jalanan, sehingga meskipun masih banyak warganya yang tidak menerima mereka dengan sepenuh hati, namun ia berharap suatu saat nanti seluruh warga dapat menerima kehadiran anak-anak jalanan ini dengan ikhlas. Ia berharap agar Rumah Kita dapat menampung lebih banyak anak jalanan dan lebih meningkatkan kegiatan pembinaan supaya hidup anak jalanan di masa depan dapat lebih baik.
Menurut salah satu tokoh masyarakat di daerah ini (Fd, 60 tahun), tempat berlindung adalah tempat bernaung dari segala ancaman, baik dari kekerasan maupun dari panas, hujan dan dinginnya malam atau tempat yang membuat mereka merasa aman. Selain itu, sebagai manusia tentu saja membutuhkan makan, minum, dan
Menurut salah satu tokoh masyarakat di daerah ini (Fd, 60 tahun), tempat berlindung adalah tempat bernaung dari segala ancaman, baik dari kekerasan maupun dari panas, hujan dan dinginnya malam atau tempat yang membuat mereka merasa aman. Selain itu, sebagai manusia tentu saja membutuhkan makan, minum, dan