• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERANAN RUMAH SINGGAH DALAM UPAYA PERLINDUNGAN ANAK JALANAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PERANAN RUMAH SINGGAH DALAM UPAYA PERLINDUNGAN ANAK JALANAN"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERANAN RUMAH SINGGAH DALAM UPAYA PERLINDUNGAN ANAK JALANAN

(Kasus Rumah Singgah Rumah Kita, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat)

Oleh :

KESPA KRISMITUHU YUDI A14201023

PROGRAM STUDI

KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2006

(2)

RINGKASAN

KESPA KRISMITUHU YUDI. ANALISIS PERANAN RUMAH SINGGAH DALAM UPAYA PERLINDUNGAN ANAK JALANAN. Kasus Rumah Singgah Rumah Kita, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat (Dibawah Bimbingan TITIK SUMARTI M.C)

Krisis moneter yang melanda Indonesia beberapa tahun silam membawa dampak yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat Indonesia di segala bidang, terutama di bidang sosial ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk miskin. Hal ini merupakan salah satu hal yang menyebabkan tingginya fenomena anak jalanan di perkotaan.

Kehidupan jalanan yang rawan akan kekerasan baik dalam bentuk fisik, psikologis dan seksual tentu saja membuat kita merasa iba. Oleh karena itu anak jalanan sangat membutuhkan perlindungan. Salah satu upaya perlindungan dapat dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan (sandang, pangan, papan, pendidikan, kasih sayang, dan kesehatan) yang dilakukan oleh rumah singgah.

Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana peranan rumah singgah terhadap upaya perlindungan anak jalanan. Secara rinci tujuan penelitian adalah : (1) mendeskripsikan karakteristik anak jalanan dan latar belakang anak turun ke jalan, (2) mendeskripsikan permasalahan yang dihadapi anak jalanan, (3) mendeskripsikan pola interaksi yang terjadi di rumah singgah dan (4) mengidentifikasi peranan rumah singgah terhadap upaya perlindungan anak jalanan.

Penelitian dilakukan pada komunitas anak jalanan binaan rumah singgah Rumah Kita, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat tepatnya di Gang Mesjid no.158 RT 05 RW 01. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan (1) Rumah Kita merupakan rumah singgah yang cukup lama berdiri yaitu sekitar 5 tahun dan tetap eksis dengan program-program pembinaannya. (2) lokasi mudah dijangkau oleh peneliti. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dan metode pemilihan responden dengan sensus, dimana responden adalah seluruh anak jalanan binaan yang berjumlah 30 orang.

Karakteristik anak jalanan binaan Rumah Kita dilihat berdasarkan jenis kelamin, jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan. Sebagian besar anak jalanan binaan Rumah Kita adalah laki-laki (25 orang). Jenis pekerjaan yang dominan dilakukan adalah sebagai pengamen. Pendidikan anak jalanan termasuk dalam kategori rendah artinya sebagian besar anak jalanan mengenyam pendidika n hanya sampai tamat Sekolah Dasar.

Latar belakang anak turun ke jalan adalah karena kemiskinan keluarga, adanya konflik keluarga dan juga motivasi untuk bekerja (ingin mencari pengalaman). Sebagian anak binaan Rumah Kita berasal dari golongan keluarga miskin sekali. Sebagian besar dari mereka juga mengalami tekanan karena adanya

(3)

konflik antar orangtua (broken home) dan juga terlibat konflik antar responden dengan orangtua yang tergolong sedang. Hal ini berarti bahwa cukup sering terjadi perselisihan dalam sebuah keluarga. Selain itu motivasi untuk bekerja yang tergolong sedang (cukup tinggi) membawa mereka turun ke jalan. Hal ini dikarenakan tidak ada pekerjaan lain yang dapat dilakukan oleh anak jalanan seperti menjadi pengamen, pedagang asongan, tukang sol sepatu dan sebagainya. Pekerjaan tersebut dijalani oleh anak jalanan karena tidak membutuhkan pendidikan tinggi.

Kehidupan jalanan memiliki konsekuensi yang cukup memprihatinkan bagi setiap orang terutama anak-anak. Penindasan yang dihadapi anak jalanan binaan Rumah Kita tergolong sedang, artinya mereka cukup sering mengalami penindasan di tingkat keluarga, di lingkungan kerja sehari-hari dan di tingkat pemerintah. Di tingkat keluarga mereka mengalami ancaman, pukulan, makian, tendangan, dan pengusiran yang dilakukan orangtua maupun saudara kandung. Ketika di lingkungan kerja mereka harus menghadapi pemalakan, penghinaan, keroyokan, pelecehan seksual dari sesama anak jalanan maupun masyarakat umum. Selain itu mereka juga harus dikejar-kejar aparat keamanan, ditangkap dan dipenjarakan dan tidak jarang yang mengalami pelecehan seksual. Ironis karena mereka adalah orang-orang yang sepatutnya dilindungi.

Pola interaksi yang tergolong sedang terjadi di tempat ini. Hal ini dapat terlihat melalui frekuensi kehadiran dalam kegiatan pembinaan, tingkat keakraban, dan tingkat penyelesaian masalah. Sebagian besar anak jalanan memiliki frekuensi kehadiran yang cukup sering dalam kegiatan pembinaan, dan mereka akui bahwa kegiatan yang diberikan di rumah singgah sangat bermanfaat. Mereka dapat mengembangkan keterampilan menyablon, menjahit, dan bermain musik. Apabila mereka tekun dan mampu mempraktekan pembinaan yang diberikan di Rumah Kita maka mereka akan hidup lebih baik di masa depan misalnya dengan membuka jasa sablon atau jahit.

Suasana keakraban juga terjalin sangat baik, ada keterikatan emosional antar sesama anak jalanan dan antara anak jalanan dengan kakak pembinanya. Anak jalanan cukup sering melakukan pembicaraan dan konsultasi yang bersifat pribadi dengan ka kak pembina. Mereka merasa ada yang mendengarkan curahan hati (curhat) dan permasalahan yang dihadapi dalam pergaulan sehari-hari seperti memiliki pacar, bertengkar dengan sesama anak jalanan bahkan bila dikejar-kejar petugas keamanan dan ketertiban. Dalam upaya penyelesaian masalah, mereka cukup sering terlibat dan bebas mengemukakan pendapat sehingga mereka merasa dihargai.

Misalnya, pembuatan jadwal kegiatan pembinaan yang dihasilkan atas kesepakatan bersama antara kakak pembina dengan anak-anak binaan sehingga tidak ada yang merasa dipaksakan dalam menjalani kegiatan pembinaan.

Peranan rumah singgah Rumah Kita dalam upaya perlindungan anak jalanan dapat dinilai cukup baik. Hal ini dapat terlihat dari terpenuhinya hak dan kebutuhan anak jalanan di Rumah Kita seperti kebutuhan makan, kebutuhan pakaian, kebutuhan kesehatan, kebutuhan tempat tinggal/berlindung, kebutuhan pendidikan, kebutuhan kasih sayang dan perhatian, serta hak untuk memiliki harapan dan cita-cita. Hal-hal yang berhubungan dengan penilaian responden (anak jalanan) terhadap upaya perlindungan yang cukup baik adalah (1) tingkat pendidikan, dimana sebagian besar

(4)

pendidikan anak jalanan tergolong rendah (mengenyam pendidikan hingga tamat SD) sehingga pembinaan keterampilan sangat dibutuhkan oleh mereka, (2) tingkat kemiskinan keluarga, karena hampir seluruh anak jalanan binaan Rumah Kita berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya dengan baik, (3) tingkat konflik keluarga seperti pertengkaran antar orangtua juga pemukulan yang dilakukan ayah pada ibu atau orangtua pada anak yang cukup sering dialami anak jalanan sehingga mereka membutuhkan rasa aman yang dipenuhi di rumah singgah, (4) penindasan anak jalanan yang terjadi di tingkat keluarga, lingkungan kerja sehari-hari dan tingkat pemerintahan dan (5) pola interaksi yang tergolong sedang (cukup tinggi) antara anak jalanan dengan kakak pembina dan antar sesama anak jalanan di rumah singgah.

(5)

ANALISIS PERANAN RUMAH SINGGAH DALAM UPAYA PERLINDUNGAN ANAK JALANAN

(Kasus Rumah Singgah Rumah Kita, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat)

Skripsi

Sebagai Bagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

Pada

Fakultas Perta nian, Institut Pertanian Bogor

KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

Agustus, 2006

(6)

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang ditulis oleh:

Nama : Kespa Krismituhu Yudi

NRP : A14201023

Program Studi : Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Judul Penelitian : Analisis Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan (Kasus di Rumah Singgah Rumah Kita, Kelurahan Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat) Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr.Ir. Titik Sumarti M.C, MS NIP. 131 569 245

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus Ujian:

(7)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

“ANALISIS PERANAN RUMAH SINGGAH DALAM UPAYA

PERLINDUNGAN ANAK JALANAN” (KASUS RUMAH SINGGAH RUMAH KITA, KELURAHAN GUNUNG BATU, KECAMATAN BOGOR BARAT, KABUPATEN BOGOR, PROPINSI JAWA BARAT) BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR- BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, 1 Agustus 2006

Kespa Krismituhu Yudi

A14201023

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis yang bernama Kespa Krismituhu Yudi lahir di Jakarta, 01 Oktober 1982 sebagai anak tertua dari dua bersaudara pasangan Solechan dan Sud arwati.

Selama hidupnya, penulis menempuh pendidikan formal pada:

q Tahun 1989-1995 di SD. MARDI YUANA, Bogor.

q Tahun 1995-1998 di SLTPN 5, Bogor.

q Tahun 1998-2001 di SMUN 2, Bogor.

Pada tahun 2001, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB).

Selama masa perkuliahan, penulis mengikuti Lomba Presenter TV yang diadakan oleh Badan Eksekutif Ma hasiswa Fakultas Pertanian pada tanggal 3 Oktober 2005 dan aktif dalam kegiatan kepanitiaan MAKRAB (Malam Keakraban) KPM angkatan 38.

(9)

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan terimakasih setinggi-tingginya Kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat cinta dan kasih-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini, juga kepada Bapak dan Ibu tercinta serta Septi Peni Naluri my lovely sister, untuk doa dan dukungannya kepada penulis selama ini. Tuhan memberkati kalian selamanya.

Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Dr. Ir. Titik Sumarti M.C, MS. sebagai dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan nasihat berharga kepada penulis selama melakukan penelitian dan penulisan skripsi.

2. Ibu Ir. Sarwititi Agung, M.Si sebagai dosen Penguji Utama atas waktu dan saran yang diberikan kepada penulis.

3. Ibu Ratri Virianita, M.Si. selaku dosen Penguji Komdik yang telah memberikan bimbingan dan pengarahannya kepada penulis.

4. Seluruh dosen pengajar dan staff pada program studi KPM, atas waktu dan bimbingannya kepada penulis, tanpa kalian penulis bukan siapa-siapa.

5. Mbak Eny, Mbak Diana, Mbak Dini dan semua anak jalanan di Rumah Kita.

Hanya ucapan ‘hatur nuhun pisan’ yang mampu penulis sampaikan.

6. Heri Purwanto, SE. Masku tercinta yang tak pernah lelah memberikan cinta, doa dan kasih sayangnya dan atas kesetiaannya mendampingi penulis. There

(10)

is no end to love you babe. Tidak lupa juga kepada Keluarga Cimanggu atas kasih sayang dan perhatiannya.

7. My Lovely Aunty, Le’Marsih. Atas dukungannya selama ini, walaupun jauh di mata tetapi dekat di hati.

8. Kakak dan sahabatku Mbak Yuana Eviyanti, terimakasih atas suka dan duka yang kita alami bersama, semoga tali silaturahmi tetap terjalin.

9. Sahabat tercintaku Rossy Dinaryati, Monalisa, Santi Rimadias, Rokhila Farida, terimakasih yang sangat luar biasa atas kesetiaan dan atas besarnya perhatian serta kasih sayang yang diberikan tanpa henti kepada penulis.

10. Sahabat setiaku Anik Kurniati, Bravo!! cukup lama dan berkesan perjalanan yang kita lalui sebagai sahabat. Thanks for everything my dear friend.

11. Sahabat-sahabat tercinta Astri Testiandini, Uthie, Butet, Uchie, Vieta, Rika Aprianti, Skini, Aya, Nana, Cecil dan seluruh anak-anak KPM’38 atas dukungan dan kasih sayang kepada penulis. Thats all so sweet guys.

12. Bapak Edy Julianto beserta keluarga di Pondok Aren atas dukungan dan doa yang diberikan kepada penulis. Tuhan memberkati kalian.

13. Bapak Asep Muslihat dan Asep Kurnia beserta keluarga yang telah menyediakan fasilitas demi lancarnya proses penulisan skripsi ini.

Akhir kata ‘tiada gading yang tak retak’, semoga tulisan kecil ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan tentu dengan segala keterbatasannya.

Bogor, 1 Agustus 2006

Penulis

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Kegunaan Penelitian... 6

BAB II TINJAUAN TEORITIS ... 7

2.1 Tinjauan Pustaka ... 7

2.1.1 Rumah Singgah ... 7

2.1.1.1 Definisi Rumah Singgah ... 7

2.1.1.2 Tujuan dan Fungsi Rumah Singgah ... 8

2.1.1.3 Pola Interaksi di Rumah Singgah ... 10

2.1.2 Anak Jalanan ... 12

2.1.2.1 Batasan Anak Jalanan ... 12

2.1.2.2 Pekerjaan Anak Jalanan ... 13

2.1.2.3 Pendidikan Anak Jalanan ... 14

2.1.2.4 Latar Belakang Anak Turun ke Jalan ... 15

2.1.2.5 Permasalahan Anak Jalanan ... 19

2.1.3 Perlindungan Anak ... 21

2.1.3.1 Definisi Perlindungan Anak ... 21

2.1.3.2 Ciri-ciri Anak yang Membutuhkan Perlindungan ... 22

(12)

2.2 Kerangka Pemikiran ... 24

2.3 Hipotesis... 28

2.4 Definisi Operasional... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian... 33

3.2 Metode Penelitian... 33

3.3 Pemilihan Responden dan Informan ... 34

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 34

3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data... 34

BAB IV GAMBARAN RUMAH SINGGAH RUMAH KITA ... 39

4.1 Sejarah Berdirinya Rumah Kita ... 39

4.2 Struktur Organisasi Rumah Kita ... 43

4.3 Lokasi Rumah Kita ... 46

4.4 Kondisi Fisik dan Fasilitas Rumah Kita... 46

4.5 Kegiatan Pembinaan di Rumah Kita ... 48

BAB V PEMBAHASAN ... 50

5.1 Karakteristik Anak Jalanan dan Latar Belakang Anak Turun Ke Jalan... 50

5.1.1 Karakteristik Anak Jalanan Rumah Kita ... 50

5.1.2 Latar Belakang Anak Turun ke Jalan ... 54

5.2 Penindasan Terhadap Anak Jalanan ... 58

5.3 Pola Interaksi di Rumah Singgah ... 59

5.4 Analisis Peranan Rumah Singgah Terhadap Upaya Perlindungan Anak Jalanan ... 61

5.4.1 Hubungan Jenis Kelamin dengan Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan... 63

5.4.2 Hubungan Jenis Pekerjaan dengan Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan... 65

(13)

5.4.3 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Peranan Rumah Singgah

dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan... 66

5.4.4 Hubungan Tingkat Kemiskina n Keluarga dengan Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan... 67

5.4.5 Hubungan Tingkat Konflik Keluarga dengan Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan... 69

5.4.6 Hubungan Motivasi untuk Bekerja dengan Upaya Perlindungan ... 71

5.4.7 Hubungan Tingkat Penindasan Anak Jalanan dengan Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan... 72

5.4.8 Hubungan Pola Interaksi Anak Jalanan dengan Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan... 74

BAB VI PENUTUP ... 76

6.1 Kesimpulan ... 76

6.2 Saran... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 79

LAMPIRAN ... 82

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

Teks

Tabel 1. Jenis Tindakan Kekerasan yang dialami Anak Jalanan ... 21

Tabel 2. Metode Pengumpulan dan Analisis Data ... 38

Tabel 3. Data Anak Jalanan Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin ... 43

Tabel 4. Jadwal Kuliah Rumah Kita ... 48

Tabel 5. Komposisi Anak Jalanan Menurut Jenis Kelamin, di Rumah Kita, 2006... 50

Tabel 6. Komposisi Anak Jalanan Menurut Jenis Pekerjaan dan Jenis Kelamin, di Rumah Kita, 2006 ... 51

Tabel 7. Komposisi Anak Jalanan Menurut Tingkat Pendidikan, di Rumah Kita, 2006 ... 53

Tabel 8. Jenis Pekerjaan Orangtua Anak Jalanan Binaan Rumah Kita ... 54

Tabel 9. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Tingkat Kemiskinan Keluarga, di Rumah Kita, 2006 ... 55

Tabel 10.Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Tingkat Konflik Keluarga, di Rumah Kita, 2006 ... 56

Tabel 11.Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Motivasi untuk Bekerja, di Rumah Kita, 2006 ... 57

Tabel 12. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Tingkat Penindasan, di Rumah Kita, 2006 ... 58

Tabel 13. Pola Interaksi Anak Jalanan di Rumah Kita, 2006 ... 60

Tabel 14. Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan, di Rumah Kita, 2006 ... 61

Tabel 15. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Jenis Kelamin dan

(15)

Perananan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak

Jalanan, di Rumah Kita, 2006 ... 63 Tabel 16. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Jenis Pekerjaan dan

Perananan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak

Jalanan, di Rumah Kita, 2006 ... 65 Tabel 17. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan

Perananan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak

Jalanan, di Rumah Kita, 2006 ... 66 Tabel 18. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Tingkat Kemiskinan

Keluarga dan Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan, di Rumah Kita, 2006 ... 67 Tabel 19. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Tingkat Konflik Keluarga

dan Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak

Jalanan, di Rumah Kita, 2006 ... 69 Tabel 20. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Motivasi untuk Bekerja

dan Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak

Jalanan, di Rumah Kita, 2006 ... 71 Tabel 21. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Tingkat Penindasan dan

Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak

Jalanan, di Rumah Kita, 2006 ... 72 Tabel 22. Komposisi Anak Jalanan Berdasarkan Pola Interaksi dan

Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak

Jalanan, di Rumah Kita, 2006 ... 74

(16)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

Teks

Gambar 1. Piramida Hierarki Kebutuhan Maslow ... 17

Gambar 2. Bagan Kerangka Pemikiran ... 27 Gambar 3. Struktur Organisasi Rumah Kita ... 44

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman Teks

Lampiran 1. Kuesioner ... 82

Lampiran 2. Peta Lokasi Rumah Kita ... 88

Lampiran 3. Hasil Uji Korelasi ... 89

Lampiran 4. Dokumentasi Penelitian ... 93

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sejak krisis moneter beberapa tahun silam, kehidupan masyarakat Indonesia di segala bidang menjadi tidak menentu, bahkan mengalami kemunduran. Krisis moneter sangat berpengaruh terutama dalam kehidupan sosial ekonomi dengan meningkatnya jumlah penduduk miskin yang menghantarkan bangsa Indonesia pada suatu permasalahan yang semakin kompleks (Departemen Sosial, 2004).

Meningkatnya jumlah anak jalanan membuktikan fenomena kemiskinan yang merupakan satu dari sekian permasalahan yang muncul dan perlu perhatian serius dari berbagai pihak. Fenomena anak jalanan di perkotaan semakin kompleks dan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya. Childope (1993) dalam Amal (2002) menyatakan bahwa fenomena anak jalanan merupakan indikator utama terhadap adanya kemelaratan perkotaan dan krisis nilai-nilai sosial yang menghadang negara- negara berkembang. Pada tahun 1998, Menteri Sosial menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah anak jalanan di Indonesia sekitar 50.000 anak dan 10 persen diantaranya adalah perempuan (Irwanto dkk, 1999 dalam Shalahudin, 2004).

Anak jalanan adalah anak-anak yang hidup dan bekerja serta melakukan aktivitasnya di jalanan yang ditinggalkan, diterlantarkan maupun melarikan diri dari keluarganya. Pada masyarakat perkotaan, keberadaan anak jalanan merupakan pemandangan umum yang menyertai aktivitas sehari-hari. Segala bentuk kegiatan

(19)

mereka lakukan untuk menghasilkan uang, antara lain menjadi pengamen, pengemis, penjual koran, penyemir sepatu, penjual minuman dan sebagainya. Pasar, gedung- gedung kosong, gerbong kereta api, emperan toko, taman kota dan terminal menjadi tempat komunitas anak jalanan untuk mencari nafkah sekaligus sebagai tempat bernaung walaupun sebagian dari mereka masih ada yang tinggal bersama orangtua dan di rumah singgah. Anak-anak yang selayaknya mengenyam pendidikan ini terpaksa meninggalkan bangku sekolah sebagian besar karena faktor ekonomi (Shalahudin, 2004). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Atmajaya (1999) mengidentifikasi hal-hal sebagai berikut :

1. Anak jalanan terkonsentrasi di 312 ibukota yang ada di Indonesia

2. Usia anak jalanan sebagian besar dalam kategori antara 15-18 tahun (41 persen), 12-14 tahun (33 persen), 6-11 tahun (24 persen) dan dibawah 6 tahun (2 persen)

3. Sebagian besar dari mereka beraktifitas sebagai pengemis, pengamen, tukang lap mobil, pedagang asongan dan kuli angkut barang

4. Mayoritas anak jalanan terkonsentrasi di perempatan jalan, pasar, terminal dan pusat-pusat perbelanjaan

5. Pada umumnya anak jalanan kurang berpendidikan (pendidikan rendah/tidak sekolah). Jumlah anak jalanan laki-laki yang tidak tamat SD sebesar 54 persen dan yang tidak pernah sekolah 3 persen sedangkan anak jalanan perempuan yang tidak tamat SD sebesar 46 persen dan tidak pernah sekolah 10 persen.

6. Anak jalanan rentan terhadap perlakuan salah, pelanggaran hukum, tindak kekerasan fisik, psikologis dan seksual.

(20)

Kehidupan jalanan menimbulkan konsekuensi munculnya tindakan kekerasan dan perlakuan salah terutama bagi anak-anak. Sangat rentan bagi anak-anak jalanan khususnya perempuan terhadap perilaku kekerasan, baik kekerasan fisik, psikologis maupun eksploitasi seksual. Berdasarkan hasil monitoring Pengelola Anak Jalanan Semarang (PAJS) tahun 1997 terdapat 22 kasus kekerasan fisik di kawasan Tugu Muda pada periode Juli-September 1996. Selain kekerasan yang dialami secara personal, terdapat juga kekerasan terhadap komunitas seperti kasus yang terjadi di Semarang, yaitu pengusiran anak-anak jalanan dari rumah singgah oleh pengelolanya sendiri dan penyerangan sekelompok orang terhadap anak jalanan di Manggala (Aliansi, 2000 dalam Shalahudin, 2004).

Sementara menurut Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial, Pudji Hastuti, pada tahun 1998 sebanyak 150.000 anak jalanan di berbagai kota besar di Indonesia bekerja dan hidup di jalanan. Mereka tidak memiliki rumah tinggal dan tidak terlindungi. Selain itu, menurut perkiraan terdapat sekitar 40.000- 70.000 anak, terutama anak perempuan, dieksploitasi secara seksual dan terikat dengan jaringan prostitusi anak. Sekitar 4000 anak juga terlibat dalam kriminalitas dan dipenjara tanpa ada jalan keluarnya.

Bogor merupakan kota yang berada pada peringkat ketiga setelah Jakarta dan Bandung yang memiliki jumlah anak jalanan cukup besar, yaitu terdapat 694 anak jalanan (Dinas Sosial Kota Bogor, 2002), tidak hanya dapat disebut sebagai kota sejuta angkot namun dapat juga diibaratkan sebagai ‘kota sejuta anak jalanan’

sedangkan di Jakarta terdapat 2218 anak jalanan dan sekitar 986 anak jalanan tersebar di kota Bandung (Departemen Sosial, 2001). Berdasarkan data dari Dinas Sosial Kota

(21)

Bogor tahun 2004, jumlah anak jalanan di Bogor sekitar 781 orang, meningkat jumlahnya bila dibandingkan tahun 2002. Melihat kenyataan tersebut maka perlu dilakukan upaya perlindungan, baik oleh masyarakat maupun pihak-pihak terkait.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, salah satunya dengan menandatangani Konvensi Hak Anak pada tahun 1990. Kemudian pada tahun 1999 pemerintah mensahkan UU No. 3 tentang peradilan anak. Pada tahun 2000 pemerintahan Abdurrahman Wahid menandatangani Konvensi ILO No. 182 tentang penghapusan bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Pemerintah juga membentuk UU No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Namun tampaknya segala upaya tersebut tidak terealisasikan dengan baik bahkan hampir semua pasal yang bersifat melindungi dilanggar (Prabowo, 2004).

Alternatif lain pembinaan terhadap anak jalanan yang dikelola secara swadaya oleh pihak swasta ataupun pemerintah adalah melalui pendirian pondok pemberdayaan anak jalanan yang terkumpul pada suatu tempat dinamakan dengan istilah Rumah Singgah. Keberadaan rumah singgah dimaksudkan sebagai tempat berteduh dan memperoleh perlindungan agar dapat bertumbuh serta berkembang seperti anak lainnya. Selama di rumah singgah, anak-anak berkumpul dari berbagai latar belakang etnis, agama tanpa dibedakan satu dengan yang lainnya. Melalui rumah singgah anak dapat bermain serta bercanda dengan sesama anak jalanan dan pekerja sosial. Keberadaan rumah singgah baru berkembang sejak tahun 1997 bersamaan dengan terjadinya krisis moneter. Pada tahap awal, rumah singgah berfungsi untuk penanganan secara terarah terhadap anak jalanan. Pada tahap selanjutnya,

(22)

keberhasilan rumah singgah membina anak jalanan sangat ditentukan oleh program dan strategi yang digunakan di rumah singgah (Firman, 2005).

Program rumah singgah yang digulirkan pemerintah untuk pengentasan ana k terlantar (termasuk anak jalanan) belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh anak-anak jalanan. Dari 781 anak jalanan di kota Bogor hanya sekitar 422 anak jalanan yang menjadi anak binaan rumah singgah (Dinas Sosial Kota Bogor, 2004). Dengan 4 buah rumah singga h yang ada di Bogor tentu saja tidak dapat menampung seluruh anak jalanan sehingga perhatian pemerintah sangat diharapkan.

Namun upaya-upaya tersebut belum dapat mengatasi permasalahan anak jalanan secara optimal. Hal ini menyebabkan fenomena anak jalanan semakin meluas dan berlarut-larut. Bentuk perlindungan yang dibutuhkan bukan sekedar memberikan tempat penampungan bagi anak, namun dapat menyerahkan mereka pada lembaga- lembaga yang peduli pada kesejahteraan dan perlindungan anak dan mempunyai kewenangan untuk mengasuh sebagaimana layaknya seorang anak agar segera tercapai pemulihan (Setiawan, 2005).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini akan menganalisis peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

1.2. Perumusan Masalah

Adapun permasalahan yang dapat dirumuskan adalah:

1. Bagaimana karakteristik anak jalanan dan latar belakang anak turun ke jalan?

2. Apa saja penindasan yang dihadapi anak jalanan binaan rumah singgah?

3. Bagaimana pola interaksi anak jalanan yang terjadi di rumah singgah?

(23)

4. Bagaimana peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :

1. Mendeskripsikan karakteristik anak jalanan dan latar belakang anak turun ke jalan.

2. Mendeskripsikan penindasan yang dihadapi anak jalanan binaan rumah singgah.

3. Mendeskripsikan pola interaksi anak jalanan yang terjadi di rumah singgah

4. Mengidentifikasi dan menganalisis peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

1.4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi berkembangnya wawasan penulis dan seluruh mahasiswa serta bagi ilmu pendidikan sosiologi keluarga. Selain itu juga dapat menjadi wacana bagi lembaga -lembaga sosial dan pemerhati masalah anak dan anak jalanan sehingga mampu melakukan upaya perlindungan secara optimal dan menyeluruh. Tidak kalah penting bagi pemerintah daerah maupun pusat agar dapat membuat kebijakan yang mampu mengayomi dan memenuhi hak serta kebutuhan anak-anak terlantar seperti anak jalanan sebab mereka adalah generasi penerus bangsa.

(24)

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Rumah Singgah

2.1.1.1. Definisi Rumah Singgah

Rumah Singgah didefinisikan sebagai suatu wahana yang dipersiapkan sebagai perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu menyelesaikan masalah-masalah sosial dan menemukan alternatif pemenuhan kebutuhan hidupnya (Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak Jalanan melalui Rumah Singgah Departemen Sosial RI Dirjen Bina Kesejahteraan Sosial RI, 1999).

Sedangkan menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial (1999), rumah singgah adalah tempat penampungan bagi anak jalanan dengan memberikan kemudahan bagi eksistensi mereka, memberikan pelayanan dan pembinaan yang bermisi sebagai penyiapan anak untuk masa depannya.

Pengertian singgah yang dimaksudkan adalah :

a. Anak jalanan boleh tinggal sementara untuk tujuan perlindungan, misalnya karena tidak punya rumah, ancaman atau tindak kekerasan yang dilakukan orangtua.

b. Pada saat tinggal sementara mereka akan memperoleh pembinaan yang intensif dari pekerja sosial untuk menemukan situasi-situasi yang tertera pada butir pertama.

(25)

c. Anak jalanan datang sewaktu-waktu untuk bercakap-cakap, istirahat, bermain, mengikuti kegiatan.

d. Rumah singgah tidak memperkenankan anak jalanan tinggal selamanya (maksimal sampai usia 18 tahun).

e. Anak jalanan tidak diperkenankan tinggal menetap di rumah singgah kecuali dalam situasi darurat.

2.1.1.2. Tujuan dan Fungsi Rumah Singgah

Tujuan rumah singgah pada umumnya adalah membantu anak jalanan mengatasi masalah-masalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk membentuk kembali sikap dan perilaku anak yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, mengupayakan anak-anak kembali ke rumah jika memungkinkan atau ke panti dan lembaga pengganti lainnya dan memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi warga masyarakat yang produktif.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial (1999) menyebutkan fungsi rumah singgah adalah sebagai berikut :

a. Fasilitator

Rumah singgah memiliki fungsi sebagai perantara antara anak jalanan dengan keluarga, panti, keluarga pengganti, dan lembaga lainnya. Anak jalanan diharapkan tidak terus-menerus bergantung pada rumah singgah, melainkan dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik melalui atau setelah proses yang dijalaninya.

(26)

b. Kuratif-Rehabilitatif

Pada fungsi ini, para pekerja sosial diharapkan mampu mengatasi permasalahan anak jalanan dan memperbaiki sikap dan perilaku sehari-hari yang akhirnya akan mampu memunculkan fungsi sosial anak yang dilakukan dengan cara atau intervensi profesional termasuk menggunakan konselor yang sesuai dengan permasalahannya.

c. Perlindungan

Rumah singgah dianggap sebagai tempat berlindung anak dari kekerasan, penyimpangan seks dan bentuk-bentuk lain yang terjadi di jalan.

d. Pusat informasi

Dalam fungsi ini, rumah singgah menyediakan informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan anak jalanan seperti data dan informasi tentang anak jalanan, bursa kerja, pendidikan, kursus keterampilan dan lain-lain.

e. Akses terhadap pelayanan

Sebagai persinggahan, rumah singgah menyediakan akses kepada berbagai pelayanan sosial. Pekerja sosial membantu anak mencapai pelayanan tersebut.

f. Resosialisasi

Lokasi rumah singgah berada di lingkungan masyarakat sebagai upaya mengenalkan kembali norma, situasi dan kehidupan bermasyarakat bagi anak jalanan. Dengan harapan adanya pengakuan, tujuan dan upaya dari warga masyarakat terhadap penanganan masalah anak jalanan.

g. Pusat Rujukan

(27)

Pada fungsi ini, rumah singgah dapat dimanfaatkan sebagai rujukan bagi kebutuhan dan masalah anak jalanan yang tidak terselesaikan di jalan.

2.1.1.3. Pola Interaksi di Rumah Singgah

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial (1999) menyatakan bahwa rumah singgah terbuka 24 jam bagi anak. mereka boleh datang kapan saja, siang hari maupun malam hari terutama bagi anak jalanan yang baru mengenal rumah singgah. Anak-anak yang sedang dibina dan dilatih, datang pada jam yang telah ditentukan. Hal ini memberikan kesempatan kepada anak jalanan untuk memperoleh perlindungan kapanpun. Para pekerja sosial siap dikondisikan untuk menerima anak dalam 24 jam tersebut. Disamping bekerja di rumah singgah, para pekerja sosial tetap akan berkunjung ke jalanan.

Model rumah singgah memungkinkan anak jalanan menemukan situasi lain melalui rumah singgah. Mereka adalah anak yang rutin datang bahkan tinggal sementara, hanya datang sekali atau dua kali saja. Anak yang jarang dan enggan ke rumah singgah dikunjungi pekerja sosial di jalanan atau melalui program Mobil Unit Keliling (Dirjen Bina Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial, 1998).

Penciptaan suasana keluarga bertujuan agar anak jalanan dapat kembali menemukan konsep keluarga dimana untuk sebagian besar diantaranya tidak lagi dapat dipenuhi. Hubungan-hubungan yang informal, saling pengertian dan perlakuan secara adil dan sejajar merupakan kebutuhan utama dimana kondisi tersebut tidak diperoleh di jalanan atau diperoleh dengan cara yang salah melalui orang-orang yang hanya memanfaatkan mereka. Kehadiran anak jalanan dalam setiap kegiatan pembinaan, keakraban yang terjalin antar sesama anak jalanan dan antara anak jalanan dengan kakak pembina serta berbagai cara yang ditempuh anggota keluarga rumah singgah dalam menyelesaikan suatu masalah merupakan hal-hal yang dapat menunjukkan bagaimana pola interaksi di rumah singgah (Setiawan, 2000).

(28)

Pola hubungan seperti keluarga di rumah singgah dalam sosiologi keluarga, dapat dilihat melalui pendekatan interaksionis (diwakili oleh Simmel, Cooley dan Mead) menganggap bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menggunakan dan memanipulasi simbol-simbol dan untuk berfikir secara bebas dan kreatif. Fokus utama adalah pada interaksi manusia. Interaksi menunjuk pada hubungan yang khas yang terjadi antar anggota keluarga (dalam hal ini adalah hubungan antar sesama anak jalanan dan antara anak jalanan dengan para pekerja sosial). Kekhasan pada fakta manusia menginterpretasi atau mendefinisi tindakan satu sama lain. Anggota keluarga bertindak melalui penggunaan simbol-simbol, dengan konsep kunci adalah komunikasi. Kontrol sosial diperoleh melalui kasih sayang dan keserasian antar anggota keluarga. Interaksi keluarga adalah tindakan kolektif dari anggota keluarganya.

Pemeliharaan dan memperteguh hubungan antara anak jalanan dengan pekerja sosial di rumah singgah memerlukan tindakan tertentu untuk mengembalika n keseimbangan. Rahmat (1997) dalam Firman (2005) menjelaskan empat faktor yang penting dalam memelihara keseimbangan hubungan, yaitu :

1. Keakraban, merupakan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan antar pribadi akan terpelihara apabila anak jalanan dengan pe ngelola rumah singgah sepakat menetapkan tingkat keakraban yang telah dibina.

2. Kesepakatan siapa yang akan mengontrol siapa dan bilamana. Jika dua orang mengambil pendapat berbeda sebelum mengambil kesepakatan siapa yang harus berbicara lebih banyak dan siapa menentukan dan dominan maka akan terjadi

(29)

konflik, karena masing-masing lebih mementingkan diri sendiri dan ingin berkuasa.

3. Ketepatan respon, artinya respon anak jalanan harus diikuti oleh respon pekerja sosial yang sesuai. Pertanyaan harus disambut jawaban dan lelucon disambut dengan tawa.

4. Keserasian suasana emosional ketika berlangsungnya hubungan. Jika seseorang berinteraksi dengan seseorang dan individu lainnya dalam suasana emosional yang berbeda maka interaksi tersebut menjadi tidak stabil.

2.1.2. Anak Jalanan

2.1.2.1. Batasan Anak Jalanan

Soedijar (1989) dalam Amal (2002) menyatakan bahwa anak jalanan adalah anak-anak usia 7-15 tahun yang bekerja di jalan raya dan tempat umum lain yang dapat mengganggu ketentraman dan keselamatan orang lain serta membahayakan dirinya. Dalam diskusi Badan Koordinasi Kesejahteraan Sosial (1996) mendefinisikan anak-anak jalanan adalah anak-anak yang hidup dan bekerja di jalanan, ditinggalkan atau diterlantarkan, atau melarikan diri dari keluarga yang masih ada hubunga n dengan keluarganya tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja di jalan.

Rumah Singgah Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) menggunakan batasan mengenai anak jalanan dimana mereka adalah anak-anak baik perempuan maupun laki-laki yang hidup di jalanan yang berusia 7-18 tahun. Lebih jauh Depsos (1999) mendefinisikan anak jalanan sebagai anak yang berusia di bawah

(30)

18 tahun yang sebagian besar waktunya dipergunakan untuk menjalankan berbagai aktivitas di jalanan atau di tempat-tempat umum lainnya. Aktivitas anak jalanan bukan hanya yang bertujuan mencari uang atau mencari nafkah, tetapi juga aktivitas bermain, istirahat, tidur atau belajar.

Anak jalanan adalah anak-anak laki-laki maupun perempuan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk hidup atau beraktifitas di jalanan. Silva (1996) membagi anak jalanan dalam tiga kelompok. Pertama, anak-anak yang benar- benar hidup dan bekerja di jalanan karena terlantar atau diterlantarkan atau lari dari keluarga mereka, pada kelompok ini anak jalanan sudah putus hubungan dengan keluarga. Kedua adalah anak-anak yang menjaga hubungan dengan keluarga mereka tetapi menghabiskan waktunya di jalanan. Sedangkan yang ketiga adalah anak-anak dari keluarga yang hidup di jalanan.

Keberadaan anak di jalana n untuk mencari nafkah menimbulkan beberapa ciri fisik dan psikis yang dapat membedakan dengan anak-anak lainnya, sebagaimana dinyatakan oleh Sunusi (1996) dalam Werdiastuti (1998) yaitu penampilan terlihat kusam dan pada umumnya berpakaian tidak rapi, aktivitas di jalanan bergerak cepat, tingkat kemandirian tinggi, memiliki semangat hidup tinggi, banyak akal atau kreatif, tidak mudah tersinggung, blak-blakan, penuh perhatian dan serius dalam mengerjakan sesuatu.

2.1.2.2. Pekerjaan Anak Jalanan

Anak jalanan binaan rumah singgah YKAI melakukan pekerjaan yang sangat beragam, persentase terbesar ditempati oleh pengamen (69,86 persen), kemudian

(31)

diikuti oleh penjual koran (11,48 persen), penyemir sepatu (5,74 persen) dan 5,26 persen sebagai penjual kantong di pasar. Pekerjaan yang dijalankan oleh anak-anak jalanan pada umumnya bersifat kerja kasar. Namun yang mendominasi adalah pekerjaan sebagai pengamen (Amal, 2002).

Berdasarkan hasil penelitian UNIKA Atmajaya, STKS Bandung, Kanwil Depsos Propinsi Jawa Barat serta beberapa LSM di Bandung (1999) dalam Amal (2002) bahwa aktivitas yang paling banyak dilakukan oleh anak jalanan adalah sebagai pengamen. Mengamen bagi anak jalanan dianggap sebagai suatau pekerjaan yang menjanjikan dan tidak perlu memakai modal besar. Selain mengamen, anak- anak juga banyak yang menjadi pedagang asongan. Alternatif kegiatan ini banyak dipilih anak karena modalnya tidak terlalu besar bahkan tidak perlu modal awal karena menggunakan sistem setoran.

Jenis pekerjaan anak jalanan oleh Departemen Sosial (1998) dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu ;

1. Usaha dagang yang terdiri dari pedagang asongan, penjual koran, majalah serta menjual sapu atau lap kaca mobil.

2. Usaha di bidang jasa yang terdiri dari pembersih bus, pengelap kaca mobil, pengatur lalu lintas, kuli angkut pasar, ojek payung, tukang semir sepatu dan kenek atau calo.

3. Pengamen. Dalam hal ini menyanyikan lagu dengan berbagai macam alat musik seperti gitar, kecrekan, suling bambu, gendang, radio karaoke dan lain-lain.

4. Kerja serabutan yaitu anak jalanan tidak mempunyai pekerjaan tetap, dalam arti dapat berubah-ubah sesuai keinginan mereka.

(32)

Demikian juga dengan pendapat Nuryana (1998) yang membagi anak jalanan menjadi empat kategori yaitu pedagang asongan, pengamen, “polisi cepek” dan “joki three in one”.

2.1.2.3. Pendidikan Anak Jalanan

Amal (2002) menemukan kenyataan bahwa sebagian besar anak jalanan tidak bersekolah lagi atau tidak melanjutkan pendidikannya. Namun masih ada juga yang masih sekolah meskipun tidak banyak jumlahnya.

Kategori tidak bersekolah dapat dibagi menjadi : 1. anak yang tidak pernah bersekolah,

2. sekolah sampai kelas 2 SD (Sekolah Dasar),

3. bersekolah lebih dari kelas 3 SD namun tidak mampu menyelesaikan sekolahnya, 4. hanya lulus SD,

5. lulus SD dan melanjutkan ke SMP.

Sedangkan untuk kategori yang melanjutkan pendidikan terbagi atas : 1. anak pada tingkat pendidikan kelas 2 SD,

2. lebih dari kelas 2 SD,

3. pada tingkat pendidikan SLTP.

Menurut Hasanudin (2000), tingkat pendidikan anak jalanan dikategorikan atas kategori tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP dan tamat SMA.

Anak jalanan yang tidak lagi bersekolah, selain disebabkan oleh ketidakmampuan orangtua untuk membiayai, juga disebabkan karena kurangnya motivasi anak untuk memperoleh haknya dalam hal pendidikan.

(33)

2.1.2.4. Latar Belakang Anak Turun ke Jalan

Berdasarkan berbagai penelitian, penyebab anak turun ke jalan dapat dikelompokkan dalam dua kategori, kelompok pertama disebabkan karena kemisikinan struktural dan kelompok kedua karena kemiskinan fungsional.

Kemiskinan struktural adalah ketiadaan keluarga atau keluarga yang telah hancur (broken home) sehingga seorang anak lari dan merasa lebih nyaman hidup di jalan karena merasa mendapat keluarga. Sementara kemiskinan fungsional, anak-anak turun ke jalan karena merasa tereksploitasi oleh keluarganya.

Menurut Sunusi (1997) dalam Amal (2002), latar belakang anak turun ke jalan secara rinci dapat di jelaskan sebagai berikut :

1. Kondisi ekonomi keluarga

Kegiatan anak-anak di jalanan berhubungan dengan kemiskinan keluarga dimana orangtua tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar (sandang, pangan dan papan) dari anggota keluarganya sehingga dengan terpaksa ataupun sukarela mencari penghidupan di jalan untuk membantu orangtua.

2. Konflik dengan/antar orangtua

Selain faktor ekonomi, perselisihan dengan orangtua ataupun antar orangtua (disharmonis keluarga) menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anak turun ke jalan dan akhirnya menjadi anak jalanan.

3. Mencari pengalaman

Disamping alasan ekonomi dan konflik dalam keluarga, tidak jarang anak melakukan aktivitas di jalan dengan alasan mencari pengalaman untuk

(34)

memperoleh penghasilan sendiri. Kebanyakan dari mereka berasal dari luar Jakarta yang pergi ke Jakarta untuk mencari pengalaman baru dan kehidupan baru yang lebih baik. Sebagian besar dari mereka tidak datang bersama orangtua, melainkan dengan saudara atau teman sebaya. Hal ini berhubungan dengan motivasi untuk bekerja.

Berdasar pada kata dasarnya yaitu motif (bahasa latin: movere) yang berarti bergerak, motivasi yang ada pada seseorang merupakan kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan untuk kepuasan dirinya (Handoko, 1999). Faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi untuk bekerja dapat dijelaskan dengan Teori Hierarki Kebutuhan Maslow.

Gambar 1. Piramida Hierarki Kebutuhan Maslow

1. Kebutuhan aktualisasi diri (kepuasan terhadap hasil kerja yang mengandalkan kemampuan diri sendiri)

2. Kebutuhan harga diri (penghargaan internal seperti rasa percaya diri, otonomi dan prestasi dan penghargaa n external seperti status, pengakuan dan perhatian).

Kebutuhan fisiologis Kebutuhan terhadap keamanan

Kebutuhan sosial Kebutuhan harga diri

Kebutuhan aktualisasi diri

(35)

3. Kebutuhan sosial (persahabatan, keakraban, penerimaan dan keterikatan) 4. Kebutuhan terhadap keamanan (rasa aman dan terlindungi dari resiko fisik

mental).

5. Kebutuhan fisiologis (makanan, minuman dan tempat tinggal).

Departemen Sosial (1998) mengungkapkan motivasi anak untuk bekerja dapat ditinjau dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dari individu yaitu faktor yang berasal dari dalam diri anak, yaitu keinginan untuk membantu keuangan orangtua dan keinginan untuk memiliki uang untuk membeli makanan dan pakaian sendiri. Sedangkan faktor eksternal dalam hubungan dengan orang lain yakni ketidakharmonisan keluarga, tidak ada biaya untuk meneruskan sekolah, kemampuan dari orangtua yang rendah untuk membiayai kelangsungan pendidikan anak dan adanya pengaruh dari teman-teman mereka sehingga mereka jadi anak jalanan.

Sedangkan Sudrajat (1995) dalam Werdiastuti (1998) menjelaskan fenomena penyebab munculnya anak jalanan pada umumnya dalam tiga tingkatan, yaitu :

1. Tingkat Mikro (Immediate Causes)

Merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi anak dan keluarganya, misalnya ketidakharmonisan dalam keluarga, penolakan oleh orangtua terhadap anak dan adanya kekerasan dalam keluarga.

2. Tingkat Meso (Undelying Causes)

Merupakan faktor-faktor yang terdapat di masyarakat tempat anak dan keluarga berada, misalnya anak yang ikut migrasi bersama keluarga ke tempat kumuh.

3. Tingkat Makro (Basic Causes)

(36)

Merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan struktur makro dari masyarakat, seperti ekonomi, politik dan budaya. Pada umumnya anak jalanan berasal dari keluarga ekonomi lemah atau keluarga yang memiliki keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Silvianti (1997) mengemukakan bahwa keberadaan anak jalanan umumnya disebabkan oleh faktor ekonomi keluarga sehingga anak terpaksa ikut membantu ekonomi keluarga dengan bekerja. Selain itu, ketidakharmonisan dalam hubungan keluarga yang sering berakhir dengan penganiayaan dan kekerasan fisik. Perlakuan yang dilakukan orangtua terhadap anak dapat menyebabkan anak melarikan diri dan akhirnya mereka hidup sebagai anak jalanan. Hal serupa juga dikemukakan oleh Nuryana (1998) yang mengatakan munculnya anak jalanan erat kaitannya dengan latar belakang ekonomi dan sosial keluarga, selain itu adalah perlakuan salah terhadap anak menyebabkan anak tidak betah berada di rumah dan akhirnya memilih jalanan sebagai tempat tinggalnya. Kurangnya pengetahuan antara orangtua dan anak ikut pula mendukung munculnya anak jalanan. Ada pula anak jalanan yang mengalami broken home (disharmonisasi keluarga) sehingga menimbulkan konflik batin dan menyebabkan mereka merasa kehilangan panutan dan akhirnya menjadi korban.

2.1.2.5. Permasalahan Anak Jalanan

Kehidupan jalanan pada kenyataanya diikuti oleh ancaman tidak terpenuhinya kebutuhan dan pelanggaran atas hak-hak anak. Anak-anak jalanan sering dihadapkan pada resiko yang mengancam keselamatannya, sperti resiko menerima tindakan

(37)

kekerasan, dipukuli, dikeroyok, dipers, dipalak, kecelakaan lalu lintas. Bahkan menurut Irwanto (1995) bahwa salah satu tindakan kekerasan yang dialami oleh anak adalah sodomi. Diantara anak jalanan yang mengalami resiko tindakan kekerasan itu dikarenakan tidak memiliki tempat tinggal yang memadai sehingga mereka terpaksa tidur rumah-rumah kardus, emperan toko, dibawah jembatan yang rawan terhadap penampilan perilaku anti sosial, ditandai dengan adanya tindakan berperilaku menyimpang dari norma hukum, agama dan etika seperti pemaksaan, pemerasan dan tindakan kriminal lainnya.

Anak-anak yang dipekerjakan oleh orangtuanya di satu sisi dapat membantu namun di sisi lain tentu akan menimbulkan masalah bagi diri mereka sendiri.

Permasalahan anak jalanan sudah dimulai dari ketidakharmonisan yang terjadi dalam keluarga mereka. Menurut Camelia (1999), ketidakharmonisan tersebut menunjukkan adanya penindasan anak jalanan di tingkat keluarga seperti ancaman, makian, pukulan, tendangan sampai pengusiran. Selain itu anak jalanan juga mengalami penindasan di lingkungan kerja sehari-hari, mi salnya konflik antara teman-teman sebaya di tempat pekerjaan dalam bersaing memperoleh rejeki, atau dengan preman- preman yang sering meminta uang (memalak) dan mengganggu ketenangan mereka dalam bekerja. Penindasan pada tingkat pemerintah juga dialami oleh anak jalanan, seperti penangkapan, pelecehan seksual dan kekerasan fisik lainnya yang dilakukan petugas keamanan.

Demikian juga menurut Depsos (2004), secara kuantitatif mengungkapkan cukup banyak anak yang mengalami tindakan kekerasan dengan dampak yang sangat mendalam bagi anak. Bentuk kekerasan tersebut bukan hanya secara fisik saja tetapi

(38)

juga non fisik. Anak akan memikul dampak kekerasan tersebut sepanjang hidupnya.

Perilaku kekerasan terhadap anak jalanan juga sudah sampai pada pelecehan seksual yakni sodomi maupun diperkosa. Lebih memprihatinkan lagi, tindak kekerasan yang dialami anak jalanan pada umumnya dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekeliling mereka seperti orangtua, kakak, teman sesama anak jalanan dan preman.

Orang-orang yang diharapkan menjadi pelindung dari anak jalanan seringkali justru menjadi pelaku tindak kekerasan. Tabel 1 berikut menunjukkan bentuk kekerasan yang dialami anak jalanan dan pelakunya.

Tabel 1. Jenis Tindakan Kekerasan yang dialami Anak Jalanan

No. Bentuk Kekerasan Pelaku

1. diancam, dimarahi, diumpat, dimaki

ayah kandung, sesama anak jalanan, anak jalanan senior, preman, sopir, pengendara, polisi, petugas kamtib

2. Dikencingi anak jalanan

3. dipukuli/ditempeleng ayah kandung, ayah tiri, penculik, teman, petugas kamtib, polisi

4. digebuki/ditendang ibu kandung, ayah tiri, ibu tiri, kakak, anak jalanan, massa, kernet, polisi, guru, satpam

5. Dipalak anak jalanan, preman

6. Dikeroyok Preman

7. Kepala dibenturkan ke tembok

ayah dan ibu

8. digaruk/digerebek polisi, petugas kamtib

9. Disetrum Satpam

10. dieksploitasi ekonomi ibu kandung, penculik, pacar 11. diganggu/dilecehkan orang lain, polisi

12. Disodomi turis, orang dewasa, sesama anak jalanan

(39)

13. Diperkosa anak jalanan, preman, tetangga, pacar Sumber: Pemetaan dan survei Sosial ANJAL 1999 (in-depth interview)

2.1.3. Perlindungan Anak

2.1.3.1. Definisi PerindunganAnak

Secara umum perlindungan anak tertuang dalam UU No.39 tahun 1990 tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam UU ini anak didefinisikan sebagai “setiap manusia yang belum berusia 18 tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya” (Mulyanto, 2005). Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang serta berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (UU No.23 tahun 2002 pasal 1 ayat 1).

Menurut PBB dalam 45 pasal dalam Konvensi Hak Anak (KHA) ada 4 hak dasar anak yang harus diperhatikan antara lain :

1. Hak kelangsungan hidup, termasuk dalam survival right ini adalah hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan terbaik.

2. Hak berkembang, bahwa pemberian gizi dan pendidika n serta sosial budaya yang memungkinkan anak berkembang sebagai manusia dewasa yang beridentitas dan bermartabat.

3. Hak memperoleh perlindungan dari berbagai diskriminasi dan tindak kekerasan baik oleh warna kulit, ideologi, politik, agama maupun kondisi fisik.

(40)

4. Hak untuk berpartisipasi dalam berbagai keputusan yang menyangkut kepentingan hidupnya.

2.1.3.2. Ciri-ciri Anak yang Membutuhkan Perlindungan

Menurut PBB dalam Departemen Sosial (2002), batasan mengenai situasi yang dianggap rawan bagi anak sehingga membutuhkan upaya perlindungan khusus adalah sebagai berikut :

1. Anak berada dalam lingkungan hubungan antara anak dan orang-orang disekitarnya penuh dengan kekerasan dan keterlantaran.

2. Anak sedang berada dalam lingkungan yang mengalami konflik bersenjata.

3. Anak yang berada dalam lingkungan kerja baik formal maupun informal.

4. Anak melakukan pekerjaan yang mengandung resiko kerja tinggi.

5. Anak terlibat dalam penggunaan zat-zat psikoaktif.

6. Anak yang rentan terhadap berbagai perlakuan diskriminatif karena kondisi fisik, sosial-ekonomi, dan politis orangtuanya.

7. Anak sedang berhadapan dengan hukum.

Pada tahun 1987, Menteri Tenaga Kerja juga mengeluarkan Peraturan Menteri No. PER-01/MEN/1987 tentang perlindungan terhadap anak-anak yang terpaksa bekerja. Peraturan ini mengijinkan anak-anak di bawah 14 tahun yang terpaksa bekerja untuk membantu keluarganya dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Peraturan ini juga mensyaratkan bahwa pengusaha yang memperkerjakan anak-anak harus memenuhi ketentuan :

1. Anak-anak tidak diperbolehkan bekerja lebih dari empat jam sehari.

(41)

2. Anak-anak tidak diperkenankan bekerja pada malam hari.

3. Memberikan upah sesuai dengan pengaturan pengupahan yang berlaku.

. Dalam upaya perlindungan anak, sangat penting untuk mengetahui apa yang menjadi kebutuhan anak-anak pada umumnya. Kebutuhan anak menurut Departemen Sosial (1999) adalah : (1) kebutuhan makan tiga kali sehari. (2) kebutuhan pakaian tiga stel atau lebih. (3) kebutuhan kesehatan. (4) kebutuhan tempat tinggal/berlindung. (5) kebutuhan pendidikan. (6) kebutuhan kasih sayang dan perhatian. (7) uang saku atau uang jajan. (8) harapan dan cita-cita (Prabowo, 2002).

2.2. Kerangka Pemikiran

Anak jalanan merupakan sebuah realita sosial yang mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Anak jalanan denga n berbagai karakter yang dimiliki telah menjadi bagian dalam setiap aktivitas sehari-hari yang secara tidak langsung mengganggu keamanan, ketertiban dan kenyamanan orang lain serta dirinya sendiri.

Pekerjaan yang dijalani anak jalanan dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori yaitu usaha dagang,usaha jasa, pengamen dan kerja serabutan. Pekerjaan yang dijalani anak jalanan di jalan merupakan pekerjaan yang penuh resiko. Mereka akan mudah terserang penyakit sehingga membutuhkan tempat tinggal, makanan, pakaian, dan tentunya jaminan kesehatan. Terdapat kecenderungan semakin pasti jenis pekerjaan anak jalanan maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

(42)

Sebagian besar anak jalanan memiliki tingkat pendidikan yang rendah, ada yang pernah sekolah namun terpaksa putus sekolah bahkan ada yang tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah. Anak jalanan sangat memerlukan pendidikan dan keterampilan untuk meningkatkan pengetahuan dan daya kreatifitasnya agar tidak tertinggal walaupun pendidikan mereka tergolong rendah.Hal ini berarti adanya kecenderungan semakin rendah tingkat pendidikan anak jalanan maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

Penyebab anak-anak turun ke jalan pun beragam, yaitu: pertama, kondisi ekonomi keluarga (kemiskinan) sehingga semakin miskin kondisi ekonomi keluarga anak jalanan maka semakin tinggi tingkat kepuasan pemenuhan kebutuhan di rumah singgah. Anak-anak yang berasal dari keluarga miskin tentu sangat membutuhkan sandang, pangan dan papan, jaminan kesehatan dan pendidikan yang tidak terpenuhi dengan baik dalam keluarganya.

Latar belakang kedua, disharmonisasi keluarga (konflik dengan/antar orang tua) Selain membutuhkan sandang, pangan, papan, jaminan kesehatan dan pendidikan anak jalanan yang mengalami konflik dalam keluarga juga sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang lebih, dalam hal ini dapat diberikan oleh kakak pembina sebagai pengganti orangtua dan sesama anak jalanan sebagai pengganti saudara. Memiliki kecenderungan semakin tinggi konflik yang terjadi di dalam keluarga anak jalanan maka semakin tinggi tingkat kepuasan pemenuhan kebutuhan di rumah singgah.

Latar belakang ketiga adalah faktor pendorong dari diri sendiri (motivasi) adalah ingin mencari pengalaman dan memperoleh penghasilan sendiri. Untuk

(43)

memacu semangat anak jalanan untuk giat bekerja sangat diperlukan sarana dan prasarana yang memadai di rumah singgah. Seperti contoh, adanya pembinaan menjahit disertai dengan adanya mesin jahit dan tempat untuk memasarkan hasil jahitan mereka. Terdapat kecenderungan semakin tinggi motivasi untuk bekerja yang dimiliki anak jalanan maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

Penindasan yang dihadapi anak jalanan bukan saja penindasan oleh pelaku keluarga namun diperparah dengan penindasan oleh pelaku di lingkungan kerja sehari-hari dan penindasan oleh aparat pemerintah dalam bentuk kekerasan fisik, psikologis, dan seksual sehingga tentu saja membutuhkan suatu upaya perlindungan yang dapat dilakukan oleh keluarga maupun tempat lain, seperti rumah singgah. Anak yang mengalami tindak kekerasan sangat membutuhkan tempat berlindung yang memberikan rasa aman. Tentu saja dengan memberikan apa yang menjadi kebutuhan anak jalanan seperti makanan, pakaian, pendidikan dan jaminan kesehatan juga kasih sayang dan perhatian. Terdapat kecenderungan semakin tinggi penindasan yang dialami anak jalanan maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

Pola interaksi yang terjadi di Rumah Kita dapat dilihat melalui frekuensi kehadiran dalam kegiatan di rumah singgah, tingkat keakraban dan tingkat penyelesaian masalah. Anak jalanan memperoleh bimbingan secara rutin yang diadakan oleh para pekerja sosial agar tujuan rumah singgah dapat tercapai, yaitu membantu anak jalanan mengatasi masalah-masalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya serta untuk membentuk kembali sikap dan

(44)

perilaku anak yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi warga masyarakat yang produktif.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat kecenderungan semakin tinggi pola interaksi anak jalanan di rumah singgah maka semakin baik peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

Penelitian ini akan mengungkapkan bagaimana gambaran rumah singgah, serta bagaimana karakteristik anak jalanan binaan rumah singgah, latar belakang anak turun ke jalan, penindasan terhadap anak jalanan dan pola interaksi yang terjadi di rumah singgah sehingga perlu dilakukan upaya perlindungan. Pada akhirnya diharapkan mampu mengidentifikasikan sejauhmana peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan. Secara jelas dapat dilihat pada gambar 2.

Karakteristik Anak Jalanan:

- Jenis Kelamin - Jenis Pekerjaan - Tingkat Pendidikan

Latar Belakang Anak Turun ke Jalan:

- Tingkat kemiskinan keluarga - Tingkat konflik keluarga - Motivasi untuk bekerja

Penindasan Terhadap Anak Jalanan:

- Penindasan oleh pelaku keluarga

- Penindasan oleh pelaku di lingkungan kerja

- Penindasan oleh aparat pemerintah

Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan:

Tingkat kepuasan pemenuhan kebutuhan

(1) kebutuhan makan tiga kali sehari.

(2) kebutuhan pakaian tiga stel atau lebih.

(3) kebutuhan kesehatan.

(4) kebutuhan tempat tinggal/berlindung.

(5) kebutuhanpendidikan.

(45)

Gambar 2. Bagan Kerangka Pemikiran

2.2. Hipotesis

§ Terdapat hubungan antara karakteristik anak jalanan (jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan tingkat pendidikan) dengan peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

§ Terdapat hubungan antara latar belakang anak turun ke jalan (tingkat kemiskinan keluarga, motivasi untuk bekerja dan tingkat konflik keluarga) dengan peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

§ Terdapat hubungan antara permasalahan anak jalanan dengan peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

Pola Interaksi Anak Jalanan di Rumah Singgah :

- Frekuensi kehadiran - Tingkat keakraban

- Tingkat keterlibatan anak jalanan dalam penyelesaian masalah

(46)

§ Terdapat hubungan antara pola interaksi di rumah singgah dengan peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan.

2.3. Definisi Operasional

§ Jenis kelamin adalah pembedaan responden yang dikategorikan atas:

a. Laki-laki b. Perempuan

§ Jenis pekerjaan adalah pekerjaan yang dijalani oleh anak-anak jalanan binaan rumah singgah. Kategori :

a. Jenis pekerjaan usaha dagang b. Jenis pekerjaan usaha jasa c. Jenis pekerjaan pengamen d. Jenis pekerjaan kerja serabutan

§ Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal yang pernah atau masih dijalani oleh anak-anak jalanan binaan rumah singgah. Kategori :

a. Rendah, apabila anak jalanan tamat SD b. Sedang, apabila anak jalanan tamat SMP c. Tinggi, apabila anak jalanan tamat SMA

§ Tingkat kemiskinan keluarga adalah tingkat ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dalam sebuah keluarga yang dilihat berdasarkan jumlah pendapatan orangtua laki-laki dan orangtua perempuan per bulan.

Pengukuran dilakukan dengan mendata seluruh pendapatan rumah tangga per bulan dari 30 responden, kemudian diperoleh nilai batas maksimum

(47)

berdasarkan pendapatan rumah tangga terbesar yaitu Rp.700000 per bulan dan batas minimum yaitu pendapatan rumah tangga terkecil sebesar Rp.230000 per bulan. Kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori kemiskinan antara lain; (1) kategori sangat miskin sekali yaitu mereka yang memiliki pendapatan Rp.230000-Rp.386667, kemudian (2) kategori miskin sekali yaitu mereka yang memiliki pendapatan antara Rp.386668-Rp.543334 dan (3) kategori miskin, apabila mereka memiliki pendapatan Rp.543335-Rp.700000.

§ Tingkat konflik keluarga adalah tingkat perselisihan yang terjadi di antara hubungan ayah dan ibu dan antara anak dengan orangtua ketika anak jalanan masih tinggal bersama orangtuanya.

Pengukuran dilakukan dengan mengajukan 13 pernyataan yang berkaitan dengan konflik antar orangtua dan antara orangtua dengan anak. Pernyataan dapat ditanggapi dengan jawaban sering dengan skor 3, jarang dengan skor 2 dan tidak pernah dengan skor 1. Total skor maksimum adalah 39 dan minimum 13. Responden dapat dikatakan memiliki keluarga dengan tingkat konflik rendah apabila skor yang diperoleh 13-21, sedang apabila skor yang diperoleh 22-30 dan tinggi apabila skor ya ng diperoleh 31-39.

§ Motivasi untuk bekerja adalah dorongan dari dalam diri individu anak jalanan untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Pengukuran dilakukan dengan mengajukan 8 pernyataan. Pernyataan dapat ditanggapi dengan jawaban sangat setuju dengan skor 3, setuju dengan skor 2 dan tidak setuju dengan skor 1. Total skor maksimum adalah 24 dan minimum 8. Responden dapat dikatakan memiliki motivasi untuk bekerja tinggi apabila

(48)

skor yang diperoleh 19-24, sedang apabila skor yang diperoleh 13-18 dan rendah apabila skor yang diperoleh 8-12.

§ Penindasan terhadap anak jalanan adalah segala bentuk diskriminasi atau tekanan dalam bentuk fisik, psikologis dan seksual yang pernah dialami oleh anak jalanan baik oleh pelaku keluarga, oleh pelaku di lingkungan kerja sehari-hari maupun oleh aparat pemerintahan.

Pengukuran dilakukan dengan mengajukan 35 pernyataan yang terbagi atas 15 pernyataan tentang penindasan dalam keluarga, 10 pernyataan yang berkaitan dengan penindasan di lingkungan kerja dan 10 pernyataan yang berkaitan dengan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah. Masing-masing pernyataan ditanggapi dengan jawaban sering dengan skor 3, jarang dengan skor 2 dan tidak pernah dengan skor 1. Total skor maksimum adalah 105 dan skor minimum adalah 35. Responde n dapat dikatakan memiliki permasalahan rendah apabila skor yang diperoleh 35-57, sedang apabila skor yang diperoleh 58-82, dan tinggi apabila skor yang diperoleh 83-105.

§ Penindasan di tingkat keluarga adalah segala bentuk tekanan/diskriminasi baik secara fisik, psikologis dan seksual yang pernah dilakukan anggota keluarga anak jalanan (ayah, ibu, kakak dan adik) terhadap anak jalanan tersebut.

§ Penindasan di lingkungan kerja adalah segala bentuk tekanan/diskriminasi baik secara fisik, psikologis dan seksual yang pernah dialami anak jalanan di lingkungan kerja

(49)

§ Penindasan di tingkat pemerintah adalah segala bentuk tekanan/diskriminasi baik secara fisik, psikologis dan seksual yang pernah dilakukan oleh aparat pemerintahan kepada anak jalanan.

§ Pola interaksi di rumah singgah adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak jalanan dan pembina di rumah singgah yang mewarnai hubungan diantara mereka yang ditunjukan melalui frekuensi kehadiran, tingkat keakraban dan tingkat penyelesaian masalah.

Pengukuran dilakukan dengan mengajukan 25 pernyataan yang terbagi atas 10 pernyataan yang berkaitan dengan frekuensi kehadiran, 10 pernyataan yang berkaitan dengan keakraban dan 5 pernyataan yang berkaitan dengan upaya penyelesaian masalah. Total skor maksimum adalah 75 dan skor minimum adalah 25. Responden dapat dikatakan memiliki pola interaksi tinggi apabila skor yang diperoleh 25-41, sedang apabila skor yang diperoleh 42-58, dan rendah apabila skor yang diperoleh 59-75.

§ Frekuensi kehadiran adalah intensitas atau tingkat keseringan (berapa kali) anak jalanan hadir dalam kegiatan pembinaan dalam satu bulan.

§ Tingkat keakraban adalah tingkat kedekatan/keintiman hubungan antara sesama anak jalanan di rumah singgah dan antara anak jalanan dengan pekerja sosial/pengelola rumah singgah yang diekspresikan melalui diskusi dan interaksi selama menjadi anak binaan.

§ Tingkat keterlibatan anak jalanan dalam penyelesaian masalah adalah tingkat partisipasi anak jalanan dalam mengatasi dan menyelesaikan masalah yang terjadi di rumah singgah secara bersama -sama.

(50)

§ Peranan Rumah Singgah dalam Upaya Perlindungan Anak Jalanan adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh rumah singgah untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang serta berpartisipasi secara optimal yang dilihat berdasarkan tingkat pemenuhan kebutuhan di rumah singgah.

Penilaian dilakukan dengan memberikan 9 butir pernyataan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan anak. Pernyataan tersebut dapat ditanggapi dengan jawaban sering dengan skor 3, jarang dengan skor 2, dan tidak pernah dengan skor 1. Total skor maksimum adalah 27 dan skor minimun sebesar 9.

Peranan rumah singgah dalam upaya perlindungan anak jalanan dikatakan baik apabila skor yang diperoleh 22-27, cukup baik apabila skor yang diperoleh 15-21 dan kurang baik apabila skor yang diperoleh 9-14.

§ Tingkat kepuasan pemenuhan kebutuhan adalah tingkat dimana kebutuhan anak jalanan di rumah singgah dirasakan sudah terpenuhi berdasarkan penilaian dari individu anak jalanan itu sendiri.

BAB III

(51)

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Singgah Rumah Kita yang berlokasi di Kecamatan Gunung Batu, Kabupaten Bogor Barat, Propinsi Jawa barat, tepatnya di Gg. Mesjid no.158 RT 05 RW 01. Pemi lihan rumah singgah ’Rumah Kita’ sebagai sasaran penelitian dipilih secara sengaja (purposive) karena lokasi mudah dijangkau oleh peneliti dan berdasarkan hasil survai, Rumah Kita adalah rumah singgah yang cukup lama berdiri (+ lima tahun) dan masih dikunjungi anak jalanan serta masih eksis dengan program-program pembinaannya. Pengumpulan data di lapangan dilakukan selama kurang lebih dua bulan (bulan Januari 2006 sampai Februari 2006).

3.2. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian survai untuk menguji variabel dan hubungan diantara variabel-variabel yang ada dengan didukung oleh penjelasan kualitatif. Pengumpulan data dengan metode penelitian kuantitatif menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Sementara metode penelitian kualitatif digunakan untuk menggali lebih dalam permasalahan yang tidak dapat tergali dalam metode penelitian kuantitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan panduan pertanyaan dan melalui pengamatan langsung selama penelitian berlangsung.

3.3. Pemilihan Responden dan Informan

Referensi

Dokumen terkait

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa apa saja yang terkadnung dalam ekstrak etanol dari simplisia kulit batang sintok.. Golongan senyawa

Jika wasit melihat ada perbedaan antara gerakan yang dilakukan pesenam dengan gambar atau keterangannya, maka wasit harus memotong sesuai dengan ketentuan yang

〔最高裁民訴事例研究四五一〕代位弁済者が原債権を財団債権として破産手続外で行使すること

Penyebab lain perbedaan jumlah perhitungan harga pokok produk menurut perusahaan dibanding dengan hasil analisis adalah pembebanan biaya overhead pabrik yang tidak sesuai

Hasil : Masalah utama yang ditemukan yaitu gangguan pertukaran gas, pola nafas tidak efektif,nyeri akut, intoleransi aktivitas dan gangguan kebutuhan nutrisi, gangguan pertukaran

(1) Dalam hal Hukuman Disiplin Militer terhadap perbuatan yang melanggar peraturan perundang-undangan pidana yang sedemikian ringan sifatnya sebagaimana dimaksud dalam

[r]

Farmakogenomik merupakan studi variabilitas genetik yang bertujuan menyusun suatu pemetaan variasi DNA pada outcomes terapi spesifik, yang menggambarkan