BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA
4.2. KERANGKA PENDANAAN
Sesuai target kinerja masing-masing indikator kinerja yang telah ditetapkan maka kerangka pendanaan untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran strategis Balai Besar POM di Jayapura periode 2015-2019 adalah sebagai berikut :
Tabel 9. Sasaran Strategis, Indikator Kinerja dan Pendanaan
Sasaran
Strategis Indikator
Alokasi (Rp Milyar) PIC
2015 2016 2017 2018 2019 Menguatnya Sistem Pengawasan Obat dan Makanan Persentase obat yang memenuhi syarat meningkat 5,720 5,828 5,975 6,117 6,402 Balai Besar POM di Jayapura Persentase Obat Tradisional yang memenuhi syarat meningkat Persentase Kosmetik yang memenuhi syarat meningkat Persentase Suplemen Kesehatan yang memenuhi syarat meningkat Persentase Makanan yang memenuhi syarat meningkat Meningkatnya kemandirian pelaku usaha, kemitraan dengan pemangku kepentingan, dan partisipasi masyarakat Tingkat Kepuasan Masyarakat 1,792 1,900 2,100 2,200 2,400 Balai Besar POM di Jayapura Jumlah kabupaten/ kota yang memberikan komitmen untuk pelaksanaan Pengawasan Obat dan Makanan dengan memberikan alokasi anggaran pelaksanaan regulasi obat dan makanan
Meningkatnya kualitas kapasitas kelembagaan BPOM
Nilai SAKIP Balai Besar POM di Jayapura dari BPOM 11,784 12,300 12,850 13,400 13,950 Balai Besar POM di Jayapura
Dalam kerangka pendanaan di buku II RPJMN terkait dengan kesehatan dan gizi masyarakat, pemerintah dimandatkan untuk meningkatkan pendanaan dan peningkatan efektivitas pendanaan pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat antara lain melalui peningkatan dukungan dana publik (pemerintah), termasuk peningkatan peran dan tanggungjawab pemerintah daerah dan juga peningkatan peran dan dukungan masyarakat dan dunia usaha/swasta melalui public private partnership (PPP) dan corporate social
responsibility (CSR).
Model PPP dan CSR ini tentu saja merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh Badan POM dalam mendukung program-program Badan POM. Apalagi banyak perusahaan, khususnya pelaku usaha di bidang Obat dan Makanan yang berkepentingan secara langsung dengan Badan POM. Namun demikian, juga terdapat tantangan dimana akan muncul semacam
conflict of interest antara Badan POM sebagai regulator sekaligus eksekutor
terhadap perusahaan-perusahaan yang berkepentingan dengan Badan POM tersebut.
Tetapi potensi konflik kepentingan ini bisa dihindari dengan membuat aturan main dan program yang jelas, serta bisa dievaluasi oleh publik. Bahkan, kalau perlu dibentuk semacam badan independen yang mengawasi pelaksanaan kerjasama PPP dan CSR ini. Di sisi lain, Badan POM juga sebisa mungkin menghindari supporting langsung dari perusahaan (khususnya dana), agar potensi konflik kepentingan ini bisa dihindari sedari awal. Dalam hal ini, Badan POM bisa mendorong dan mengarahkan agar program- program mitra-mitra utama Badan POM bisa didukung oleh perusahaan- perusahaan tersebut, tentunya dalam kerangka mendukung tugas dan fungsi
Balai Besar POM di Jayapura sebagai UPT Badan POM dalam pengawasan Obat dan Makanan.
Matriks kinerja dan pendanaan Balai Besar POM di Jayapura per kegiatan sebagaimana pada Lampiran 1. Matriks Kinerja dan Pendanaan Kementerian/Lembaga
BAB V
PENUTUP
Renstra Balai Besar POM di Jayapura Tahun 2015-2019 adalah panduan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Balai Besar POM di Jayapura untuk 5 (lima) tahun ke depan. Keberhasilan pelaksanaan Renstra Tahun 2015-2019 sangat ditentukan oleh kesiapan kelembagaan, ketatalaksanaan, SDM dan sumber pendanaannya, serta komitmen pimpinan dan staf Balai Besar POM di Jayapura. Selain itu, untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan Renstra Tahun 2015-2019, setiap tahun akan dilakukan evaluasi. Apabila diperlukan, dapat dilakukan perubahan/revisi muatan Renstra Balai Besar POM di Jayapura, termasuk indikator-indikator kinerjanya yang dilaksanakan sesuai dengan mekanisme yang berlaku dan tanpa mengubah tujuan Balai Besar POM di Jayapura yaitu meningkatkan kinerja lembaga dan pegawai dengan mengacu kepada RPJMN 2015-2019.Renstra Balai Besar POM di Jayapura Tahun 2015-2019 harus dijadikan acuan kerja di lingkungan di Balai Besar POM di Jayapura sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Diharapkan semua unit kerja dapat melaksanakannya dengan akuntabel serta senantiasa berorientasi pada peningkatan kinerja lembaga, unit kerja dan kinerja pegawai.
Pelaksanaan Renstra diharapkan berkontribusi pada pencapaian RPJMN dan Visi Misi Presiden. Hal ini dimungkinkan karena program dan kegiatan dalam Renstra Balai Besar POM di Jayapura 2015-2019 ini telah dilengkapi dengan target outcome dan output yang akan dipantau dan dievaluasi secara berkala setiap tahun, pada pertengahan periode Rencana Strategis/RPJMN sebagai midterm review, maupun pada akhir RPJMN sebagai
impact assessment.
Evaluasi Renstra yang dilaksanakan setiap tahun didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2006 tentang Pengendalian dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan Nasional yang dikoordinasikan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan nasional (BAPPENAS). Selain sebagai bahan evaluasi seperti tersebut di atas,Renstra juga menjadi pedoman untuk penyusunan Laporan Kinerja sesuai dengan Peraturan Presiden tentang Sistem Akuntansi Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang dikoordinasikan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Dengan demikian, hasil pelaksanaan Renstra Balai Besar POM di Jayapura Tahun 2015-2019 dapat memberikan kontribusi terhadap visi, misi dan program kerja Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2014-2019, yaitu βTerwujudnya Indonesia yang Berdaulat Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royongβ.
2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019
SS 1 Menguatnya sistem pengawasan Obat dan Makanan 5.720 5.828 5.975 6.117 6.402
1.1. Persentase obat yang memenuhi syarat Provinsi Papua 99.00 97.28 97.70 98.14 98.57 99.00 1.2. Persentase obat Tradisional yang memenuhi syarat Provinsi Papua 82.14 83.00 83.50 84.00 84.50 85.00 1.3. Persentase Kosmetik yang memenuhi syarat Provinsi Papua 95.67 95.00 95.50 96.00 96.50 97.00
1.4. Persentase Suplemen Kesehatan yang memenuhi syarat Provinsi Papua 99.44 99.00 99.10 99.20 99.30 99.50
1.5. Persentase makanan yang memenuhi syarat Provinsi Papua 93.11 91.50 91.90 92.60 92.90 93.10
SS 2
Meningkatnya kemandirian Pelaku Usaha, Kemitraan Dengan Pemangku Kepentingan, dan Partisipasi Masyarakat
1.792 1.900 2.100 2.200 2.400
2.1 Tingkat Kepuasan Masyarakat Provinsi Papua NA 75.00 80.00 85.00 90.00 95.00
2.2
Jumlah Kabupaten/Kota yang memberikan komitmen untuk pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan dengan memberikan alokasi anggaran pelaksanaan regulasi Obat dan Makanan
Provinsi Papua NA 8 11 14 17 20
SS 3 Meningkatnya kualitas kapasitas kelembagaan BPOM 11.784 12.300 12.850 13.400 13.950
3.1 Nilai SAKIP BBPOM dari Badan POM Provinsi Papua B B BB A A A
SP 1 Menguatnya sistem pengawasan Obat dan Makanan 5.720 5.828 5.975 6.117 6.402
1.1. Persentase obat yang memenuhi syarat Provinsi Papua 99.00 97.28 97.70 98.14 98.57 99.00
1.2. Persentase obat Tradisional yang memenuhi syarat Provinsi Papua 82.14 83.00 83.50 84.00 84.50 85.00
1.3. Persentase Kosmetik yang memenuhi syarat Provinsi Papua 95.67 95.00 95.50 96.00 96.50 97.00
1.4. Persentase Suplemen Kesehatan yang memenuhi syarat Provinsi Papua 99.44 99.00 99.10 99.20 99.30 99.50
1.5. Persentase makanan yang memenuhi syarat Provinsi Papua 93.11 91.50 91.90 92.60 92.90 93.10
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Jayapura
Program Pengawasan Obat dan Makanan
Lampiran 1. Matriks Kinerja dan Pendanaan Balai Besar POM di Jayapura
Program/
Kegiatan Sasaran Program (Outcome)/Sasaran Kegiatan (Output)/Indikator Lokasi Baseline
Target Alokasi (dalam Miliar rupiah) Unit
Organisasi Pelaksana
K/L-N-B-NS-BS
2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019
Program/
Kegiatan Sasaran Program (Outcome)/Sasaran Kegiatan (Output)/Indikator Lokasi Baseline
Target Alokasi (dalam Miliar rupiah) Unit
Organisasi Pelaksana
K/L-N-B-NS-BS SP 2
Meningkatnya kemandirian Pelaku Usaha, Kemitraan Dengan Pemangku Kepentingan, dan Partisipasi Masyarakat
1.792 1.900 2.100 2.200 2.400
2.1 Tingkat Kepuasan Masyarakat Provinsi Papua NA 75.00 80.00 85.00 90.00 95.00
2.2
Jumlah Kabupaten/Kota yang memberikan komitmen untuk pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan dengan memberikan alokasi anggaran pelaksanaan regulasi Obat dan Makanan
Provinsi Papua NA 8 11 14 17 20
SP 3 Meningkatnya kualitas kapasitas kelembagaan BPOM 11.784 12.300 12.850 13.400 13.950
3.1 Nilai SAKIP BBPOM dari Badan POM Provinsi Papua B B BB A A A
19 20 21 22 23
1 Jumlah sampel yang diuji menggunakan parameter kritis Provinsi Papua 3000 2500 2500 2500 2500 2500 2.938 2.953 2.967 2.982 3.085 2 Pemenuhan target sampling produk Obat di sektor publik (IFK) Provinsi Papua 100 100 100 100 100 100 0.100 0.120 0.150 0.200 0.250 3 Persentase cakupan pengawasan sarana produksi Obat dan Makanan Provinsi Papua 34 34 36 38 40 42 0.061 0.070 0.093 0.100 0.122
4 Persentase cakupan pengawasan sarana distribusi Obat dan Makanan Provinsi Papua 50 51 51 53 53 55 1.856 1.870 1.900 1.920 1.980
5 Jumlah Perkara di bidang obat dan makanan Provinsi Papua 8 8 9 10 11 11 0.765 0.815 0.865 0.915 0.965 6 Jumlah layanan publik BB/BPOM Provinsi Papua 167 167 178 184 190 197 1.250 1.300 1.400 1.450 1.550 7 Jumlah Komunitas yang diberdayakan Provinsi Papua 13 19 24 29 34 39 0.542 0.600 0.700 0.750 0.850 8 Persentase pemenuhan sarana prasarana sesuai standar Provinsi Papua 70 70 70 75 75 80 10.300 10.800 11.300 11.800 12.300 9 Jumlah dokumen perencanaan, penganggaran, dan evaluasi yang
dilaporkan tepat waktu Provinsi Papua 8 10 9 10 9 10 1.484 1.500 1.550 1.600 1.650
Catatan: Matriks ini akan menjadi lampiran 1 Renstra BB/BPOM
2 Target per indikator Sasaran Strategis/Sasaran Program/Kegiatan diisi setiap tahun
3 Alokasi Anggaran pada baris Satker BB/BPOM merupakan penjumlahan alokasi anggaran SS1 + SS2 +SS3
4 Alokasi anggaran pada baris Sasaran Strategis (SS) merupakan penjumlahan dari Sasaran Program yang mendukungnya a. Alokasi anggaran Sasaran Strategis 1 sama dengan alokasi anggaran pada Sasaran Program 1
b. Alokasi anggaran Sasaran Strategis 2 sama dengan alokasi anggaran pada Sasaran Program 2 c. Alokasi anggaran Sasaran Strategis 3 sama dengan alokasi anggaran pada Sasaran Program 2 5 Alokasi anggaran pada baris Program merupakan akumulasi anggaran kegiatan yang mendukung
a. Alokasi anggaran Sasaran Program 1 merupakan akumulasi anggaran pada indikator kegiatan 1, 2, 3, 4, dan 5 b. Alokasi anggaran Sasaran Program 2 merupakan akumulasi anggaran pada indikator kegiatan 6 dan 7 c. Alokasi anggaran Sasaran Program 3 merupakan akumulasi anggaran pada indikator 8 dan 9 6 Alokasi anggaran diisi untuk setiap tahun pada masing-masing indikator kegiatan
7 Alokasi anggaran pada masing-masing indikator sasaran strategis/sasaran program tidak perlu diisi
8 Kolom baseline diisi dengan realisasi tahun 2014. Untuk indikator baru yang belum ada data sebelumnya dapat diisi dengan NA (Not Available) 9 Penetapan target agar memperhatikan Definisi Operasional pada Lampiran 3, baseline, dan Target Nasional (tidak harus sama)
Kegiatan Pengawasan Obat dan Makanan di Balai Besar POM Jayapura
Meningkatnya kinerja pengawasan obat dan makanan di seluruh Indonesia
No. Arah Kerangka Regulasi dan/atau
Kebutuhan Regulasi Urgensi Pembentukan Berdasarkan Evaluasi Regulasi Eksisting, Kajian dan Penelitian Penanggung Jawab Unit Terkait
1. Direktorat Standardisasi Obat
2. Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Suplemen makanan
3. Biro Hukum dan Humas 1. Direktorat Standardisasi Obat
2. Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Suplemen makanan
3. Biro Hukum dan Humas
4. Direktorat Standardisasi Produk Pangan 1. Bidang Pengujian Teranokoko 1. PPOMN
2. Bidang Pengujian Pangan dan Bahan Bernahaya
3. Bidang Pengujian Mikrobiologi 4. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan
1. Biro Hukum dan Humas
2. Bidang Sertifikasi dan LIK
3. Direktorat Pengawasan Distribusi Obat 4. Biro Hukum dan Humas
1. Bidang Sertifikasi dan LIK 1. PIOM
2. Sub Bagian Tata Usaha 2. Biro Hukum dan Humas
1. Bidang Pengujian Teranokoko 1. Direktorat Standardisasi Obat 2. Bidang Pengujian Pangan dan
Bahan Bernahaya 2. Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Suplemen makanan 3. Bidang Pengujian Mikrobiologi 3. Biro Hukum dan Humas
4. Bidang Pemeriksaan dan
Penyidikan 4. PPOMN
7
1. Bidang Pemeriksaan dan
Penyidikan 1. Direktorat Surveilan Penyuluhan Keamanan Pangan 2. Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Suplemen makanan
Regulasi yang mendukung
optimalisasi Pusat Kewaspadaan Obat dan Makanan dan Early Warning
System (EWS) yang informatif
Sistem Outbreak response dan EWS yang belum optimal dan informatif sehingga didapatkan response yang cepat dan efektif pada saat terjadi outbreak bencana yang berkaitan dengan bahan obat dan makanan (contoh: Obat terkontaminasi etilen glikol)
5
3. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan
Sistem penyebaran informasi Obat dan Makanan yang belum terintegrasi
Juknis/pedoman untuk
pengintegrasian penyebaran informasi Obat dan Makanan
6
3. Biro Umum Meningkatkan Efektifitas Pengawasan Obat dan Makanan
Terciptanya sinergi antara Pemerintah Pusat dan Daerah berdasarkan UU No. 23 tahun 2014 pasal 16 dalam hal: (1) Pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan dan (2) Sebagai pedoman Pemerintah Daerah dalam
penyelenggaraan pengawasan Obat dan Makanan Norma, standar, prosedur, dan kriteria
(NSPK) terkait pelaksanaan UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintah konkuren
Peraturan dengan instansi terkait yang mengatur regulatory insentive
Lampiran 2. Matriks Kerangka Regulasi Balai Besar POM di Jayapura
1. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan
Peraturan Perundang-undangan terkait pengawasan Obat dan Makanan
2. Bidang Sertifikasi dan LIK 2. Direktorat insert dan pengawasan kedeputian 1,2,3 2. Biro Hukum dan Humas
1
2
3
4
1. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan
Untuk Pengawalan Mutu Obat dan Makanan Oleh Balai Besar POM di Jayapura terhadap isu terkini
Standar kompetensi laboratorium dan standar GLP
1. Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan
Minutes of Understanding (MoU)
Penguatan sistem pengawasan Obat dan Makanan di wilayah Free Trade
Zone (FTZ), daerah perbatasan,
terpencil dan gugus pulau
Belum optimalnya quality surveilance/ Monitoring mutu untuk daerah perbatasan, daerah terpencil dan gugus pulau
1. Badan POM RI 8 Peraturan Kepala BPOM tentang
koordinasi dengan pemerintah daerah serta Peraturan Kepala Daerah (Gubernur, Bupati, dan Walikota) untuk meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan di daerah
Pengawasan Obat dan Makanan tidak dapat berhasil tanpa adanya kerjasama dan komitmen dari daerah dalam mendukung BBPOM di Jayapura
1. Balai Besar POM di jayapura
2. Stakeholder di wilayah kerja BBPOM di Jayapura
KEMENTERIAN/LEMBAGA : BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN (BPOM) Up Date 05 MAR 2015
1 Persentase obat yang memenuhi syarat
a. obat yang mendapatkan NIE dari Badan POM.
b. Yang dimaksud dengan obat adalah obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika (tidak termasuk OT)
c. obat Memenuhi Syarat (MS) ditetapkan melalui uji laboratorium.
d. Kategori obat yang disampling sesuai dengan pedoman sampling Obat dan Makanan. e. Jumlah produk obat TMS dihitung berdasarkan satuan bets
SBD 2012 terkoreksi dengan survei produk beredar Untuk pengumpulan data baseline: - Survey Lanjutan Baseline Data (SBD) - Survei produk beredar
Untuk pengumpulan data capaian:
- Laporan Hasil Uji (LHU) Balai
- Survei produk beredar tahun berjalan apabila dilakukan
- Sampel yang tidak diuji dengan parameter uji kritis tidak dihitung sebagai data - Untuk parameter yang tidak mampu diuji harus diuji rujuk
- sampel lain-lain harus berdasarkan kajian risiko Obat: 20% sampel. Dari 20% tersebut maks. 2% untuk sampel obat lain-lain
Setiap triwulan dan akhir tahun anggaran Untuk survei produk beredar dilakukan setiap 2 tahun
Selain itu sebagai verifikasi juga dilakukan survei lanjutan SBD tahun 2017 Ya. Indikator Sasaran Program pada Matriks Renstra BPOM. Untuk pengumpulan data tiap tahun dilakukan oleh Kedeputian I dan 33 BB/BPOM Untuk survei produk beredar dilakukan oleh Kedeputian I Untuk survei lanjutan SBD dilakukan oleh PROM 2 Persentase obat tradisional yang memenuhi syarat
a. Obat Tradisional yang mendapatkan NIE dari Badan POM.
b. Obat Tradisional (OT) yang memenuhi syarat ditetapkan melalui pengujian laboratorium.
c. Kategori Obat Tradisional yang diuji sesuai dengan pedoman sampling Obat dan Makanan.
Laporan Kinerja Dit. Insert OT Kos PK 2014
Untuk pengumpulan data capaian:
- Laporan Hasil Uji (LHU) Balai
- Sampel yang tidak diuji dengan parameter uji kritis tidak dihitung sebagai data - Untuk parameter yang tidak mampu diuji harus diuji rujuk
Setiap triwulan dan akhir tahun anggaran. Selain itu sebagai verifikasi juga dilakukan survei lanjutan SBDtahun 2017 Ya. Indikator Sasaran Program pada Matriks Renstra BPOM. Kedeputian II dan 33 BB/BPOM Untuk survei lanjutan SBD dilakukan oleh PROM 3 Persentase Kosmetik yang memenuhi syarat
a. Kosmetik yang mendapatkan notifikasi dari BPOM
b. Kosmetik yang memenuhi syarat ditetapkan melalui pengujian laboratorium. c. Kategori kosmetik yang diuji sesuai dengan pedoman sampling Obat dan Makanan.
Laporan Kinerja Dit. Insert OT Kos PK 2014
Untuk pengumpulan data capaian:
- Laporan Hasil Uji (LHU) Balai
- Sampel yang tidak diuji dengan parameter uji kritis tidak dihitung sebagai data - Untuk parameter yang tidak mampu diuji harus diuji rujuk
Setiap triwulan dan akhir tahun anggaran. Selain itu sebagai verifikasi juga dilakukan survei lanjutan SBD tahun 2017 Ya. Indikator Sasaran Program pada Matriks Renstra BPOM. Kedeputian II dan 33 BB/BPOM 4 Persentase Suplemen kesehatan yang memenuhi syarat
a. Suplemen Kesehatan (SK) yang mendapatkan NIE dari BPOM.
b.Suplemen Kesehatan (SK) yang memenuhi syarat ditetapkan melalui pengujian laboratorium.
c. Kategori suplemen kesehatan yang diuji sesuai dengan pedoman sampling Obat dan Makanan.
Laporan Kinerja Dit. Insert OT Kos PK 2014
Untuk pengumpulan data capaian:
- Laporan Hasil Uji (LHU) Balai
- Sampel yang tidak diuji dengan parameter uji kritis tidak dihitung sebagai data - Untuk parameter yang tidak mampu diuji harus diuji rujuk
Setiap triwulan dan akhir tahun anggaran Selain itu sebagai verifikasi juga dilakukan survei lanjutan SBD tahun 2017 Ya. Indikator Sasaran Program pada Matriks Renstra BPOM. Kedeputian II dan 33 BB/BPOM Untuk survei lanjutan SBD dilakukan oleh PROM METODE PERHITUNGAN TERCANTUM PADA RENSTRA KL (YA/TIDAK) PENANGGUNG JAWAB PROGRAM PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN
LAMPIRAN
MATRIK KAMUS INDIKATOR RENSTRA BPOM 2015-2019
INDIKATOR KONSEP DAN DEFINISI SUMBER DATA
(BASELINE 2014) MEKANISME PENGUMPULAN DATA FREKUENSI PENGUMPULAN DATA (REALISASI) π·πππππππππ ππππ π΄πΊ = π·πππ ππ ππππ π΄πΊ πππ π πππππ ππππππππ π±πππππ πππππππ ππππ ππππ π ππππ π πππππ πππππππππ ππππππ πππ π πππππ ππππππππ ππππ% π·πππππππππ πΆπ» π΄πΊ = π±πππππ πΆπ» ππππ ππππππππ ππππππ πππ π πππππ ππππππππ π»ππππ πΆπ» ππππ π ππππ π πππππ πππππππππ ππππππ πππ π πππππ ππππππππ (π) ππππ% π·πππππππππ π²ππ π΄πΊ = π±πππππ ππππππππ ππππ ππππππππ ππππππ πππ π πππππ ππππππππ π»ππππ π²ππ ππππ π ππππ π πππππ πππππππππ ππππππ πππ π πππππ ππππππππ (π) ππππ% π·πππππππππ πΊπ² π΄πΊ = π±πππππ πΊπ² ππππ ππππππππ ππππππ πππ π πππππ ππππππππ π»ππππ πΊπ² ππππ π ππππ π πππππ πππππππππ ππππππ πππ π πππππ ππππππππ (π) ππππ% II.L.063.1
METODE PERHITUNGAN TERCANTUM PADA RENSTRA KL (YA/TIDAK) PENANGGUNG JAWAB INDIKATOR KONSEP DAN DEFINISI (BASELINE 2014)SUMBER DATA MEKANISME PENGUMPULAN DATA
FREKUENSI PENGUMPULAN DATA (REALISASI) 5 Persentase makanan yang memenuhi syarat
a. Makanan adalah pangan olahan yang mendapatkan NIE dari Badan POM. b. Makanan MS ditetapkan melalui uji laboratorium.
c. Kategori pangan yang diuji sesuai dengan pedoman sampling Obat dan Makanan.
Laporan Kinerja Dit. Insert Pangan 2014
Untuk pengumpulan data capaian:
- Laporan Hasil Uji (LHU) Balai
- Sampel yang tidak diuji dengan parameter uji kritis tidak dihitung sebagai data - Untuk parameter yang tidak mampu diuji harus diuji rujuk
Setiap triwulan dan akhir tahun anggaran. Selain itu sebagai verifikasi juga dilakukan survei lanjutan SBD tahun 2017 Ya. Indikator Sasaran Program pada Matriks Renstra BPOM. Kedeputian III dan 33 BB/BPOM 6 Tingkat Kepuasan Masyarakat
a.Tingkat Kepuasan Masyarakat adalah tolok ukur untuk menilai kualitas pelayanan yang diperoleh dari hasil survei Kepuasan Masyarakat.
b. Tata cara pelaksanaan survei mengacu pada pedoman yang disiapkan Inspektorat BPOM mengacu pada pedoman terkini (Saat ini PermenPAN No. 16 tahun 2014) c. Target dinyatakan dalam angka
Laporan Survei Kepuasan Masyarakat 2014
Survei lapangan satu kali setahun Hasil Survei lapangan Ya. Indikator Sasaran Program dan Sasaran Kegiatan pada Matriks Rancangan Renstra Balai Balai
7 Jumlah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang memberikan komitmen untuk pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan dengan memberikan alokasi anggaran pelaksanaan regulasi Obat dan Makanan
Provinsi adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia yang dipimpin oleh Gubernur
Kabupaten/ Kota adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia setelah provinsi yang dipimpin oleh Bupati/ Kota.
Komitmen untuk pelaksanaan adalah perjanjian (keterikatan) Kota/ Kabupaten untuk melakukan pelaksanaan pengawasan obat, kosmetik, obat tradisional, pangan dan bahan berbahaya yang sering disalahgunakan dalam pangan, baik yang dilakukan secara mandiri dan atau terpadu melalui pengawasan/ pemeriksaan, advokasi/ penyuluhan, pembentukan tim terpadu, pertemuan dan kegiatan lainnya yang dapat memperkuat pengawasan.
Alokasi anggaran adalah alokasi anggaran daeran baik yang berupa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Kota dan lain-lain sumber pendapatan yang sah dan tidak mengikat, yang dikelola oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.
N/A Pengisian matriks pemantauan pengalokasian anggaran Pemda untuk Pengawasan Obat dan Makanan
Setiap tahun Dihitung dari hasil rekapitulasi matriks pemantauan pengalokasian anggaran Pemda untuk Pengawasan Obat dan Makanan Ya. Indikator Sasaran Program dan Sasaran Kegiatan pada Matriks Renstra BPOM. Balai
8 Nilai SAKIP BPOM Nilai SAKIP diukur berdasarkan hasil penilaian SAKIP yang dilakukan oleh APIP Badan POM
Laporan Hasil Evaluasi APIP Badan POM
Laporan Kinerja Balai Setiap tahun Nilai Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Balai yang dilakukan oleh APIP Badan POM
Ya. Indikator Sasaran Kegiatan pada Matriks Renstra Balai.
Balai
1 Jumlah sampel yang diuji menggunakan parameter kritis
a. Parameter kritis adalah parameter uji yang bersifat sebagai penentu terhadap jaminan keamanan, manfaat, dan mutu produk yang diuji
b. Parameter kritis ditetapkan dalam pedoman sampling Obat dan Makanan (juga menjelaskan "penentu" terhadap jaminan keamanan, manfaat, dan mutu produk yang diuji)
Laporan Hasil Uji
(LHU) Balai Laporan Hasil Uji (LHU) Balai Setiap triwulan dan akhir tahun. Jumlah sampel yang diuji menggunakan parameter kritis Ya. Indikator Sasaran Kegiatan pada Matriks Renstra BPOM.
BB/BPOM
2 Pemenuhan target sampling produk Obat di sektor publik (Instalasi Farmasi Kabupaten)
a.Diukur berdasarkan jumlah sampel yang diambil pada IFK (termasuk gudang obat KB) dibandingkan dengan target sampel yang harus disampling di IFK (termasuk gudang obat KB) di masing-masing balai.
b. Target sampel yang harus disampling di sarana sektor publik untuk masing-masing balai ditetapkan dalam Pedoman Sampling.
Laporan Hasil Uji (LHU) Balai
Laporan Hasil Uji (LHU) Balai Rencana sampling produk Obat di IFK (termasuk gudang obat KB) di masing-masing balai disampaikan ke Dit. Pengawasan Produksi PT PKRT
Setiap triwulan dan
akhir tahun. Pemenuhan target sampling produk Obat di sektor publik (IFK) Ya. Indikator Sasaran Kegiatan pada Matriks Renstra BPOM. BB/BPOM
Pengawasan Obat dan Makanan di 33 Balai Besar/Balai POM
π·πππππππππ π΄ππππππ π΄πΊ = π΄ππππππ ππππ π΄πΊ πππ π πππππ ππππππππ π±πππππ πππππππ ππππππ πππππππ ππππ π ππππ π πππππ πππππππππ ππππππ πππ π πππππ ππππππππ ππππ% = π±πππππ ππππππ ππππ π ππππππ πππ π π°ππ² π ππ πππ πππ ππππππ π²π© π»πππππ ππππππ ππππ πππππ π πππππππππ π π π°ππ² π ππ πππ πππ ππππππ π²π© π π ππππππβππππππ πππππ X 100% II.L.063.2
METODE PERHITUNGAN TERCANTUM PADA RENSTRA KL (YA/TIDAK) PENANGGUNG JAWAB INDIKATOR KONSEP DAN DEFINISI (BASELINE 2014)SUMBER DATA MEKANISME PENGUMPULAN DATA
FREKUENSI PENGUMPULAN DATA (REALISASI) 3 Persentase cakupan pengawasan sarana produksi Obat dan Makanan
a. Sarana produksi Obat dan Makanan adalah jumlah sarana industri Farmasi, Industri Rokok, Industri Obat Tradisional (IOT), Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), Industri Kosmetika, Industri Pangan olahan MD, dan Industri Rumah Tangga Pangan.
b. Sarana produksi yang diperiksa setiap tahun ditetapkan berdasarkan kriteria Pedoman Pengawasan Sarana Produksi Obat dan Makanan.
c. Cakupan pengawasan sarana produksi pertahun dihitung dari jumlah sarana produksi yang diperiksa dibandingkan dengan jumlah sarana produksi yang ada di wilayah tersebut d. Untuk penetapan target sarana produksi pangan MD dan IRTP yang diperiksa mengikuti ketentuan:
- untuk balai yang memiliki sarana produksi MD <51, target sarana produksi pangan MD diperiksa sebesar 100%, sisa target pemeriksaan diambil dari sarana produksi IRTP - untuk balai yang memiliki sarana produksi MD 51-100, target sarana produksi pangan MD diperiksa sebesar 90%, sisa target pemeriksaan diambil dari sarana produksi IRTP - untuk balai yang memiliki sarana produksi MD 101-150, target sarana produksi pangan MD diperiksa sebesar 80%, sisa target pemeriksaan diambil dari sarana produksi IRTP - untuk balai yang memiliki sarana produksi MD >150, target sarana produksi pangan MD diperiksa sebesar 70%, sisa target pemeriksaan diambil dari sarana produksi IRTP
Laporan SIPT a. Database jumlah sarana Industri Farmasi dari Ditwas Produksi PT dan PKRT. b. Database jumlah Industri Obat Tradisional (IOT), Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Mikro Obat Tradisional