FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
DAFTAR LAMPIRAN
III. METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Penelitian
Bank merupakan lembaga keuangan yang mempunyai peranan besar dalam perekonomian masyarakat sehingga mempunyai peranan penting dalam pengelolaan dana yang beredar dimasyarakat. Bank melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat dan menyalurkanya kembali kepada masyarakat dalam beragam alternatif investasi. Bank memiliki risiko kerugian dalam menyalurkan dananya kembali kepada masyarakat dalam beragam investasi. Bank harus menutupi kerugian yang timbul dengan menyediakan cadangan dana agar bank tetap bisa menjalankan aktivitasnya. Aktivitas bank syariah dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat tidak lepas dari pembiayaan bermasalah.
Banyak faktor yang mempengaruhi adanya pembiayaan bermasalah diantaranya faktor internal maupun eksternal dari nasabah maupun bank. Adanya pembiayaan bermasalah akan berpengaruh terhadap besarnya NPL bank. Semakin meningkatnya NPL suatu bank maka berpengaruh terhadap meningkatnya cadangan modal minimum yang disediakan bank. Cadangan modal minimum dalam bank dapat dilihat dari nilai CAR. Kredit yang disalurkan bank kepada masyarakat dapat dilihat dari rasio LDR. Rasio-rasio tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi profitabilitas suatu bank. Efisiensi operasi juga harus diperhatikan, karena efisiensi ini erat kaitannya dengan kesehatan bank. Efisiensi ditunjukkan dalam rasio BOPO. Semakin besar rasio BOPO menunjukkan bahwa bank kurang mampu dalam menekan biaya operasional dan meningkatkan pendapatan operasionalnya.
Bank Muamalat Indonesia, Tbk sebagai bank umum syariah pertama berdiri di Indonesia juga mengalami hal yang sama dalam kegiatan menyalurkan pembiayaan kepada nasabah. Adanya pembiayaan bermasalah merupakan masalah utama dalam kegiatan penyaluran pembiayaan yang berpengaruh terhadapprofitabilitasbank. Kerangka pemikiran dari penelitian ini diperlihatkan pada Gambar 1.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Muamalat Institute dengan objek penelitian PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk yang berlokasi di Arthaloka Building Jalan Jenderal Sudirman No.2 Jakarta. Waktu dan pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2011.
3.3. Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan sebelumnya oleh pihak tertentu yang kemudian digunakan peneliti lain dengan tujuan yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Dalam hal ini data diperoleh melalui Muamalat Institute yang berlokasi di Gedung Dana Pensiunan Telkom Lantai 2 Jalan S. Parman Kavling 56 Slipi Jakarta Barat.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data BOPO, NPL, CAR, LDR dan NIM tahun 2001 - 2010. Metode yang diguanakan ini adalah Analisis Regresi Berganda untuk mengetahui seberapa besar antara variabel bebas dan variabel terkait. Variabel dependen adalah NIM sedangkan variabel independen adalah BOPO, NPL, CAR dan LDR. Hasil perhitungan tersebut dianalisis untuk melihat sejauh mana BOPO, NPL, CAR dan LDR mempengaruhi bank dalam pengambilan keputusan dimasa yang akan datang. Dalam penelitian ini program komputer yang digunakan adalah SPSS 15.0.
3.4. Metode Pengolahan Data
Metode analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Metode tersebut merupakan analisis metode statistika inferensia yang berkaitan dengan analisis data untuk peramalan dan atau penarikan kesimpulan serta memberikan dasar terhadap analisis varian. Selain itu data yang digunakan dalam menunjang penelitian ini adalah data time seriesBOPO, NPL, CAR, LDR dan NIM triwulan, selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2010.
3.4.1 Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi adalah suatu proses melakukan estimasi untuk memperoleh suatu hubungan fungsional antara variabel acak Y
dengan variabel X. Persamaan regresi digunakan untuk memprediksi nilai Y untuk nilai X tertentu. Analisis regresi linear berganda adalah analisis bentuk dan tingkat hubungan antar satu variabel terkait dan lebih dari satu variabel bebas.
Terdapat dua variabel dalam penelitian ini, yaitu :
1. Variabel bebas (Independent variable) adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel independen tersebut yaitu : a. X1 adalah Beban Operasional Pendapatan Operasional
(BOPO)
b. X2 adalahNon Performing Loan (NPL) c. X3 adalahCapital Adequacy Ratio(CAR) d. X4 adalanLoan To Deposit Ratio(LDR)
2. Variabel terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang memberikan respon jika dihubungkan dengan variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Net Interest Margin (NIM).
Model regresi linear berganda dengan satu variabel dependen (Y) dan dua variabel independen (X) adalah :
Y = a + b1.X1 + b2.X2 + b3.X3 + b4.X4………(7)
Keterangan :
Y :Net Interest Margin(NIM) a : Konstanta b : Koefisien X1 : BOPO X2 : NPL X3 : CAR X4 : LDR 3.4.2 Hipotesis
Hipotesis merupakan pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi. Hipotesis dalam penelitian ini terdiri dari :
H0 : Variabel independen (BOPO, NPL, CAR dan LDR) tidak mempengaruhi variabel dependen (NIM)
H1 : Variabel independen (BOPO, NPL, CAR dan LDR) mempengaruhi variabel dependen (NIM)
Pembuktian hipotesis dapat dilakukan dengan : 1. Uji F
Uji F yaitu uji untuk mengetahui sejauh mana variabel-variabel idependen secara simultan mampu menjelaskan variabel dependen. Dalam penelitian ini digunakan uji F dengan probabilitas value yang dibandingkan dengan 0,05 (α). Jika P value < α maka terima
H0. Hal ini berarti variabel bebas secara simultan mempengaruhi pengaruh yang signifikan dengan variabel terikat. Namun jika P
value > α maka tolak H0.
2. Uji T
Uji T bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masing- masing variabel independen secara individual (parsial) terhadap varaiabel independen. Hasil uji ini pada output SPSS dapat dilihat pada table Coefficients. Nilai uji T dapat dilihat pada p-value (pada kolom sig.)
3.4.3 Uji Asumsi Klasik Regresi
Model regresi yang baik harus memenuhi asumsi klasik dalam regresi. Analisis asumsi klasik diantaranya adalah :
1. Uji Normalitas
Tujuan dari uji normalitas adalah untuk menentukan apakah variable berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Pengujian normalitas dapat dilihat dari grafik normal probability plot. Apabilavariable berdistribusi normal, maka penyebaran plot akan berada di sekitar dan disepanjang garis 45 derajat.
2. Uji Multikolinieritas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Untuk mendeteksi adanya Multikolinieritas dapat dilakukan dengan mencari besarnya Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai
tolerance-nya. Jika nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance- nya lebih dari 0,1 maka model regresi bebas dari Multikolinieritas. 3. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian Heteroskedastisitas dilakukan dalam sebuah model regresi, dengan tujuan bahwa apakah suatu regresi tersebut terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari setiap pengamatan ke pengamatan lainya berbeda, maka disebut heteroskedastisitas. 4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada koralasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan penggangu pada periode t-1 (sebelumnya). Masa autokorelasi muncul pada observasi yang menggunakan data runtut waktu (time series) karena “gangguan”
pada seseorang/individu/kelompok cenderung mempengaruhi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1 Sejarah
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk didirikan pada 24 Rabius Tsani 1412 H atau 1 Nopember 1991, diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (Perusahaan MUI) dan Pemerintah Indonesia, dan memulai kegiatan operasinya pada 27 Syawwal 1412 H atau 1 Mei 1992. Dengan dukungan dari eksponen Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha Muslim, pendirian Bank Muamalat juga menerima dukungan masyarakat, terbukti dari komitmen pembelian saham Perseroan senilai Rp 84 miliar pada saat penandatanganan akta pendirian Perseroan. Selanjutnya, pada acara silaturahmi peringatan pendirian tersebut di Istana Bogor, diperoleh tambahan komitmen dari masyarakat Jawa Barat yang turut menanam modal senilai Rp 106 miliar.
Pada tanggal 27 Oktober 1994, hanya dua tahun setelah didirikan, Bank Muamalat berhasil menyandang predikat sebagai Bank Devisa. Pengakuan ini semakin memperkokoh posisi Perseroan sebagai bank syariah pertama dan terkemuka di Indonesia dengan beragam jasa maupun produk yang terus dikembangkan. Pada akhir tahun 90an, Indonesia dilanda krisis moneter yang memporakporandakan sebagian besar perekonomian Asia Tenggara. Sektor perbankan nasional tergulung oleh kredit macet di segmen korporasi. Bank Muamalat pun terimbas dampak krisis. Di tahun 1998, rasio pembiayaan macet (NPF) mencapai lebih dari 60 persen. Perseroan mencatat rugi sebesar Rp 105 miliar. Ekuitas mencapai titik terendah, yaitu Rp 39,3 miliar, kurang dari sepertiga modal setor awal.
Dalam upaya memperkuat permodalannya, Bank Muamalat mencari pemodal yang potensial, dan ditanggapi secara positif oleh
Islamic Development Bank (IDB) yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Pada RUPS tanggal 21 Juni 1999 IDB secara resmi menjadi salah satu pemegang saham Bank Muamalat. Oleh karenanya, kurun waktu antara tahun 1999 dan 2002 merupakan masa-masa yang penuh tantangan bagi Bank Muamalat.
Saat ini Bank Mumalat memberikan layanan bagi lebih dari 2,5 juta nasabah melalui 275 gerai yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Jaringan BMI didukung pula oleh aliansi melalui lebih dari 4000 Kantor Pos Online/SOPP di seluruh Indonesia, 32.000 ATM, serta 95.000merchantdebet. BMI saat ini juga merupakan satu-satunya bank syariah yang telah membuka cabang luar negeri, yaitu di Kuala Lumpur, Malaysia. Untuk meningkatkan aksesibilitas nasabah di Malaysia, kerjasama dijalankan dengan jaringan Malaysia Electronic Payment System (MEPS) sehingga layanan BMI dapat diakses di lebih dari 2000 ATM di Malaysia. 4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan
a. Visi Bank Muamalat Indonesia, Tbk
Menjadi Bank Syariah utama di Indonesia, dominan di pasar spiritual, dikagumi di pasar rasional.
b. Misi Bank Muamalat Indonesia, Tbk
Menjadi Role Model Lembaga Keuangan Syariah dunia dengan penekanan pada semangat kewirausahaan, keunggulan manajemen dan orientasi investasi yang inovatif untuk memaksimumkan nilai bagistakeholder.
4.1.3 Struktur Organisasi Perusahaan
Pemegang tertinggi dalam struktur organisasi bank Muamalat adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang membawahi Dewan Pengawas Syariah dan Dewan Komisaris. Wewenang RUPS meliputi : (1) Mengangkat dan memberhentikan anggota Dewan Komisaris, Dewan Pengawas Syariah dan Direksi, (2) Menyetujui Perubahan Anggaran Dasar Perseroan, (3)
Menyetujui Laporan Tahunan, (4) Menunjuk Auditor Eksternal Independen dan (5) Menentukan jumlah dan jenis remunerasi serta fasilitas lainnya untuk anggota Dewan Komisaris, Dewan Pengawas Syariah dan Direksi.
Pada struktur organisasi Bank Muamalat Indonesia, Presiden Direktur terletak dibawah Dewan Pengawas Syariah dan Dewan Komisaris serta membawahi 5 Divisi diantaranya Complience and Corporate Planning Director, Corporate Banking Director, Retail Banking Director, Treasury and International Banking Director, Finance and Operator Director.
4.1.4 Produk dan Jasa
Produk dan jasa pada Bank Muamalat Indonesia terdiri dari penghimpunan dan penyaluran dana
a. Penghimpunan Dana
Penghimpunan dana merupakan kegiatan Bank Muamalat Indonesia untuk menghimpun dana dari masyarakat. Bank Muamalat Indonesia memiliki 8 produk penghimpunan dana, yaitu :
1. Shar-e, Merupakan tabungan investasi syariah yang memadukan kemudahan akses ATM, Debit dan Phone Bankingdalam satu kartu.
2. Tabungan Ummat, merupakan investasi murni yang sesuai dengan syariah dalam mata uang rupiah yang memungkinkan nasabah melakukan penyetoran dan penarikan tunai dengan mudah. Selain itu, Tabungan Ummat merupakan tabungan investasi dengan Akad Mudharabah yang penarikanya dapat dilakukan secara bebas biaya di seluruhcounterbank Muamalat dan jaringan ATM bersama.
3. Tabungan Ummat Junior, merupakan tabungan yang diperuntukkan khusus untuk pelajar.
4. Tabungan Haji Arafah, merupakan tabungan yang ditujukan bagi nasabah yang berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji secara terencana sesuai dengan kemampuan dan jangka waktu yang nasabah inginkan. Tabungan Haji Arafah plus ditujukan bagi nasabah premium yang memiliki perencanaan haji singkat.
5. Deposito Mudharabah, merupakan jenis investasi syariah tersedia dalam jangka waktu 1,3,6 dan 12 bulan dengan pilihan mata uang rupiah atau USD. Deposito Mudharabah dapat diperpanjang secara otomatis dan dijadikan jaminan pembiayaan di Bank Muamalat.
6. Deposito Fulinvest, merupakan pilihan investasi dalam mata uang rupiah maupun USD dengan jangka waktu 6 dan 12 bulan yang ditujukan bagi nasabah yang ingin berinvestasi secara halal, murni dan sesuai syariah. Deposito ini dikhususkan bagi nasabah perseorangan dan dilengkapi dengan fasilitas asuransi jiwa.
7. Giro Wadi’ah, merupakan titipan dana pihak ketiga berupa simpanan giro yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro dan aplikasi pemindahbukuan. Diperuntukkan bagi nasabah pribadi maupun perusahaan untuk mendukung aktivitas usaha. 8. DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) Muamalat,
merupakan lembaga yang menyelenggarakan program pensiun, yaitu suatu program yang menjanjikan sejumlah uang yang pembayaranya dilakukan secara berkala.
b. Penyaluran Dana
Penyaluran dana merupakan kegiatan bank Muamalat dalam penyaluran dana kepada masyarakat. Bank Muamalat Indonesia memiliki 8 produk penyaluran dana, yaitu :
1. Pembiayaan Jual Beli
a. Murabahah, merupakan fasilitas penyaluran dana dengan system jual beli untuk pembiayaan modal, investasi, dan konsumtif. Pihak bank akan membelikan barang-barang halal yang nasabah butuhkan kemudian menjualnya kepada nasabah untuk diangsur sesuai kemampuan nasabah dan kesepakatan kedua belah pihak.
b. Istishna, merupakan kegiatan jual beli dimana produsen ditugaskan membuat barang pesanan dari pemesanan. Objek pemesanan harus dibuat atau dipesan terlebih dahulu dengan cirri-ciri khusus yang dipesan oleh pemesan. Pembayaran dapat dilakukan diawal, ditengah dan diakhir.
2. Pembiayaan Bagi Hasil
a. Musyarakah, merupakan kerjasama yang dilakukan antara bank dengan nasabah dalam suatu usaha dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana, pekerjaan dan keahlian dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Umumnya digunakan untuk pembiayaan modal dan investasi b. Mudharabah, merupakan kerja sama antara dua pihak
dimana bank selaku penyedia dana dan pihak lain (nasabah) bertindak sebagai pengelola usaha. Bank menyerahkan modalnya kepada nasabah untuk dikelola.
3. Pembiayaan Sewa
a. Ijarah, merupakan perjanjian antara bank selaku pemberi sewa dengan nasabah selaku penyewa atas suatu barang atau asset milik bank. Bank
mendapatkan jasa atas barang atau asset yang disewakan.
b. Ijarah Muntahia Bittamlik (IMBT), merupakan perjanjian antara bank selaku pemberi sewa dan nasabah selaku penyewa. Dengan konsep IMBT, nasabah (penyewa) setuju akan membayar uang sewa selama masa yang diperjanjikan dan bila sewa berakhir penyewa mempunyai hak opsi untuk memindahkan kepemilikan objek sewa tersebut dari pemberi sewa.
c. Qardh, merupakan pinjaman dari bank kepada nasabah yang diperlukan untuk kebutuhan mendesak, seperti dana talangan dengan kriteria tertentu dan bukan untuk pinjaman yang bersifat konsumtif.
4.2. Perkembangan Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) Efisiensi adalah suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi besarnya sumber biaya untuk mencapai hasil yang diharapkan. Efisiensi akan lebih jelas jika dikaitkan dengan konsep perbandingan output-input. Output merupakan hasil suatu organisasi dan input adalah sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Dibidang perbankan efisiensi dilakukan untuk mengetahui apakah bank dalam operasinya yang berhubungan usaha pokok bank, dilakukan dengan benar dalam arti sesuai yang diharapkan manajemen dan pemegang saham. Efisiensi operasi juga berpengaruh terhadap kinerja bank, yaitu untuk menunjukkan apakah bank telah menggunakan semua faktor produksinya dengan tepat guna.
Menurut Bank Indonesia, efisiensi operasi diukur dengan membandingkan total biaya operasi dengan total pendapatan operasi atau sering disebut BOPO. Rasio BOPO ini bertujuan untuk mengukur kemampuan pendapatan operasional dalam menutup biaya operasional. Berikut perkembangan BOPO Bank Muamalat dari tahun 2001 sampai tahun 2010 :
0 20 40 60 80 1 0 0 1 2 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
B
O
P
O
B O P Omemperoleh penghasilan dari kegiatan operasi bank. Sedangkan nilai BOPO terendah terlihat pada tahun 2008 kuartal I yaitu sebesar 75,76 persen. Hal ini disebabkan pendapatan operasional bank meningkat dikarenakan stabilitas ekonomi Indonesia dalam keadaan baik, hal ini dibuktikan dengan pendapatan laba bersih bank Muamalat pada tahun 2008 mengalami kenaikan pesat yaitu sebesar 203,36 Milyar yang sebelumnya pada tahun 2007 laba bersih hanya sebesar 139,78 Milyar.
4.3. PerkembanganNon Performing Loan(NPL)
Non Performing Loan (NPL) adalah rasio jumlah kredit pada tingkat kolektibilitas tiga sampai dengan lima terhadap total kredit yang diberikan oleh bank. Sesuai dengan ketetapan yang telah dibuat oleh Bank Indonesia, kredit bermasalah (NPL) dihitung dengan menggunakan NPL Gross atau NPL yang belum mempertimbangkan Perhitungan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP).
Besarnya nilai NPL maksimal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) adalah 5 persen jika bank melebihi nilai yang ditetapkan oleh BI maka akan mempengaruhi tingkat kesehatan bank tersebut dan masuk dalam kategori Bank Dalam Perhatian Khusus (BDPK). NPL merupakan indikator kualitas asset suatu bank, maka semakin tinggi rasionya akan menyebabkan semakin rendah likuiditasnya. Berikut merupakan perkembangan NPL pada Bank Muamalat Indonesia dari tahun 2001 sampai tahun 2010 :
0 2 4 6 8 10 21 14 16 18 20 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
N
P
L
N P L0 5 10 15 20 25 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
C
AR
C A RBerdasarkan Grafik perkembangan CAR, semua nilai CAR bank Muamalat Indonesia Tbk sejak tahun 2001 sampai 2010 berada pada posisi lebih dari 8 persen. Hal ini menunjukkan bahwa bank Muamalat Indonesia mampu mengelola modal untuk melindungi diri dari risiko kerugian yang muncul. Pada tahun 2001 CAR Bank Muamalat masih relatif rendah yaitu 8,01 persen dan terus mengalami kenaikan sampai kuartal I tahun 2002, pada kuartal II tahun 2002 mengalami penurunan. Setelah itu CAR relatif mengalami kenaikan dan penurunan sampai tahun 2010.
Nilai CAR tertinggi ditunjukkan pada tahun 2003, yang terjadi pada kuartal III yaitu sebesar 19,34 persen persen, hal ini terjadi karena untuk
tahun 2003, tema perkembangan bank Muamalat adalah “Tahun
Pengembangan Jaringan dan Aliansi Pelayanan”. Dalam menunjang
pelayanan dan pertumbuhan usaha, bank Muamalat mengambil langkah menerbitkan obligasi Syariah 1 Subordinasi Bank Muamalat tahun 2003 senilai Rp 200 miliar. Nilai CAR terendah terjadi pada kuartal I tahun 2001, yaitu sebesar 8,01 persen. Penurunan nilai CAR menunjukkan semakin berkurangnya cadangan dana yang harus disediakan bank terhadap ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko). Tahun 2001 nilai CAR rendah yaitu sebesar 8,01 persen, hal ini disebabkan karena belum pulihnya kondisi perekonomian akibat krisis ekonomi tahun 1998 yang berdampak pada perekonomian Bank Muamalat sendiri. Dilihat dari nilai CAR Bank Muamalat Indonesia termasuk dalam golongan bank yang sehat karena dari tahun 2001 sampai tahun 2010 tidak ada nilai CAR yang dibawah 8 persen.
4.5. PerkembanganLoan To Deposit Ratio(LDR)
Loan To Deposit Ratio(LDR) merupakan rasio antara total kredit yang diberikan oleh bank terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK). LDR menunjukkan tingkat kemampuan bank dalam menyalurkan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh bank yang bersangkutan. Peraturan Bank Indonesia menyatakan bahwa kemampuan likuiditas bank dapat dicerminkan dengan tingkat LDR, yaitu perbandingan antara kredit dengan Dana Pihak Ketiga (DPK). Rasio ini digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank yang dengan
cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga. LDR menunjukkan perbandingan antara volume kredit dibandingkan volume deposit yang diimiliki oleh bank. Hal ini berarti menunjukkan tingkat likuiditas semakin kecil dan sebaliknya karena sumber dananya (deposit) yang dimiliki telah habis digunakan untuk membiayai financing portofolio kreditnya. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar.
Kredit yang diberikan tidak termasuk kredit kepada bank lain sedangkan untuk dana pihak ketiga adalah giro, tabungan, simpanan berjangka, sertifikat deposito. Standar yang digunakan Bank Indonesia untuk rasio LDR adalah 80 persen hingga 110 persen. Jika angka rasio LDR suatu bank berada pada angka dibawah 80 persen (misalkan 60 persen), maka dapat disimpulkan bahwa bank tersebut hanya dapat menyalurkan sebesar 60 persen dari seluruh dana yang berhasil dihimpun. Karena fungsi utama dari bank adalah sebagai intermediasi (perantara) antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana, maka dengan rasio LDR 60 persen berarti 40 persen dari seluruh dana yang dihimpun tidak tersalurkan kepada pihak yang membutuhkan, sehingga dapat dikatakan bahwa bank tersebut tidak menjalankan fungsinya dengan baik.
Kemudian jika rasio LDR bank mencapai lebih dari 110 persen, berarti total kredit yang diberikan bank tersebut melebihi dana yang dihimpun. Oleh karena dana yang dihimpun dari masyarakat sedikit, maka bank dalam hal ini juga dapat dikatakan tidak menjalankan fungsinya sebagai pihak intermediasi (perantara) dengan baik. Semakin tinggi LDR menunjukkan semakin riskan kondisi likuiditas bank, sebaliknya semakin rendah LDR menunjukkan kurangnya efektifitas bank dalam menyalurkan kredit. Jika rasio LDR bank berada pada standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, maka laba yang diperoleh oleh bank tersebut akan meningkat (dengan asumsi bank tersebut mampu menyalurkan kreditnya dengan efektif).
Berikut merupakan perkembangan LDR PT Bank Muamalat Indonesia periode tahun 2001 hingga tahun 2010 :
0 20 40 60 80 1 0 0 1 2 0 1 4 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
L
D
R
L DR0 2 4 6 8 10 12 14 16 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
N
IM
N IMnormal atau tidak. Pengujian distribusi normal dilakukan dengan cara melihat histogram yang membandingkan data observasi dengan distribusi yang mendekati normal. Selain itu uji normalitas dapat juga dengan menggunakan normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data yang sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari data distribusi normal. Jika distribusi normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya.
Dengan memperhatikan tampilan grafik histogram dan grafik normal plot dapat disimpulkan bahwa grafik histogram memberikan pola distribusi yang mendekati normal. Pada grafik normal plot terlihat titik- titik menyebar disekitar garis diagonal, dengan penyebaran mengikuti arah garis diagonal. Dengan memperhatikan ke-empat grafik tersebut dapat dikatakan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas sehingga layak untuk digunakan.
R e g r e s s io n S t a n d a r d iz e d R e s id u a l 3 2 1 0 - 1 - 2 F r e q u e n c y 1 0 8 6 4 2 0 H is t o g r a m D e p e n d e n t V a r ia b le : N IM M e a n = - 3 . 4 S t d . D e v . = N = 4
4.7.2 UjiMultikolinearitas
Tujuan dari uji multikolinearitas adalah untuk mengetahui apakah ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Untuk mengetahui apakah model tersebut terdapat multikolinearitas dapat dilakukan dengan mencari besarnya Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai tolerance nya. Jika nilai VIF kurang dari 10 dan nilai