BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Kerangka Pikir
Novel Infinitum karya Ahyar Anwar merupakan salah satu karya sastra berbobot. Novel ini memiliki banyak keistimewaan diantaranya banyak kiasan metafora yang terkandung di dalamnya. Dari segi pemilihan kata, Ahyar Anwar memiliki gaya tersendiri serta memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri secara original dalam menuliskan novel tersebut. Untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai keunikan dan kekhasan kebahasaan dalam novel Infinitum karya Ahyar Anwar maka dapat dikaji dengan menggunakan analisis stilistika.
Kajian stilistika novel Infinitum karya Ahyar Anwar dapat dijadikan bahan daalam pembelajaran sastra di SMA. Novel ini kaya akan nilai dan muda dicerna, selain itu novel ini memiliki keindahan bahasa yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa meminati pembelajaran di SMA.
Kajian stilistika pada novel Infinitum karya Ahyar Anwar akan menitikberatkan pada telaah aspek gaya bahasa yang digunakan di dalamnya. Berikut disajikan bagan kerangka pikir dalam penelitian ini.
Kerangka Pikir Penelitian Genre
Karya Sastra
Novel Infinitum Karya Ahyar Anwar
Analisis Stilistika
Karakteristik Gaya Bahasa
Relevansi sebagai Bahan Ajar Sastra SMA
Analisis dan Temuan
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Berdasarkan jenisnya, penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif bertujuan untuk mengungkapkan berbagai informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal (indivudu atau kelompok), keadaan, gejala, atau fenomena yang lebih berharga daripada hanya pernyataan dalam bentuk angka-angka dan tidak terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputi analisis dan interpretasi data (Sutopo, 1997: 8-10)
Subroto, dkk (1992: 5) mengatakan bahwa metode kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian terhadap suatu masalah yang tidak dirangsang menggunakan prosedur-prosedur statistik. Metode ini bersifat deskriptif sehingga datanya berupa kalimat yang dianalisis dari segi kegramatikalannya dengan menggunakan teori atau pendekatan tertentu. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan ancangan struktural, maksudnya meneliti dan memerikan serta menerangkan segi-segi tertentu mengenai struktur bahasa berdasarkan fakta-fakta kebahasan yang dijumpai dalam pertuturan (Subroto, dkk, 1992: 32).
Pemilihan jenis penelitian kualitatif deskriptif ini disesuaikan dengan permasalahan yang dibahas dan tujuan penelitian. Untuk membahas permasalahan dan mencapai tujuan penelitian, penelitian kualitatif
43
deskriptif menggunakan strategi berpikir fenomenologis yang bersifat lentur dan terbuka serta menekankan analisisnya secara induktif dengan meletakkan data penelitian bukan sebagai alat pembuktian, tetapi sebagai modal dasar untuk memahami fakta-fakta yang ada (Sutopo, 1997 : 47).
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas, fatka-fakta yang akan dideskripsikan penelitian ini ialah pengunaan gaya bahasa novel Infinitum karya Ahyar Anwar yang mencakup dan telaah relefansinya sebagai bahan pembelajaran sastra di SMA. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini diarahkan untuk memperoleh deskripsi yang objektif dan akurat dari karakteristik gaya bahasa yang digunakan novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
B. Data dan Sumber Data 1. Data
Data dan sumber data penelitian merupakan dua hal pokok yang harus diklarifikasikan dalam penelitian. Sumber data merupakan sumber dari mana data dapat diperoleh. Yang dimaksud data ialah semua informasi atau bahan mentah yang disediakan alam (dalam arti luas) yang harus dicari dan dikumpulkan dengan sengaja oleh peneliti yang sesuai dengan masalah yang diteliti (Subroto, dkk, 1992: 34).
Sehingga, data sebagaimana pendapat di atas merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang diteliti.
Adapun data dalam penelitian ini data dalam penelitian ini adalah
karakteristik gaya bahasa figuratif yang memperlihatkan keunikan-keunikan dan kekhasan pemakaian bahasa dalam novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
2. Sumber Data
Sumber data adalah objek dari mana data diperoleh yang menjadi dasar pengambilan atau tempat untuk memperoleh data yang diperlukan.
Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Infinitum karya Ahyar Anwar. Novel Infinitum diterbitkan oleh Penerbit Ombak Yogyakarta, cetakan ke satu, setebal viii + 364 halaman.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah teknik pustaka, teknik simak, dan catat. Teknik pustaka yaitu pencarian data dengan menggunakan sumber-sumber tertulis yang mencerminkan pemakaian bahasa sinkronis (Subroto, dkk, 1992: 42).
Teknik pustaka merupakan pengambilan data dari sumber tertulis oleh peneliti dalam rangka memperoleh data beserta konteks lingual yang mendukung untuk dianalisis.
Pengumpulan data melalui teknik pustaka ini dilakukan dengan membaca, mencatat, dan mengumpulkan data-data dari sumber data tertulis. Selanjutnya sumber tertulis itu dilakukan pembacaan dengan seksama lalu dipilih tuturan yang relevan sebagai data yang dianalisis.
Setelah itu, data dicatat dalam kartu data. Data-data yang telah
dikumpulkan lalu diperikan sesuai dengan rumusan masalah untuk dianalisis.
Pencatatan data dalam penelitian ini dengan menerapakan kartu data. Data dicatat pada kartu data yang telah disiapkan dengan diberi nomor urut data dan keterangan sesuai dengan masalah yang diteliti sehingga akan mudah mengklasifikasikan data dan menganalisisnya.
D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik mengalir. dan penarikan kesimpulan. Tiga kegiatan ini terjadi secara bersamaan dan saling menjalin, baik sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data secara paralel (Milles, 1992:13). Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Membaca secara intensif novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
2. Mengidentifikasi dengan cermat dan mencatat kutipan-kutipan kalimat percakapan yang ada dalam novel tersebut.
3. Mengklasifikasikan data yang sudah diidentifikasi dan dicatat dalam kartu data yang telah disediakan, kemudian dilanjutkan dengan analisis karakteristi gaya bahasa yang digunakan dalam novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
Langkah selanjutnya ialah penyajian data. Sutopo (1997: 61) mengemukakan bahwa penyajian data merupakan proses merakit atau mengorganisasikan informasi yang ditemukan yang memungkinkan
penarikan kesimpulan. Mengorganisasikan informasi penelitian yang ditemukan ini merupakan proses intelektual yang penting dalam penelitian kualitatif. Adapun komponen unsur-unsur novel dalam kerangka kajian stilistika ini disajikan dalam uraian karakteristik gaya bahasa novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian dan Karakteristik Gaya Bahasa dalam Novel Infinitum Karya Ahyar Anwar
Keunikan dan kekhasan pemakaian bahasa dalam novel Infinitum sangat ditentukan oleh faktor pengetahuan terhadap bahasa dan faktor sosiokultural penulis. Selain itu, latar belakang pendidikan penulis juga turut berperan serta dalam mewujudkan berbagai keunikan dan kekhasan kosakata yang diungkapkan melalui deskripsi ceritanya.
Novel Infinitum karya Ahyar Anwar mampu menonjolkan keunikan pemilihan dan pemakaian kosakata yang spesifik dan sangat kaya dengan pengetahuan terhadap berbagai novel maupun judul lagu yang digemari penulis. Hal ini tentu membuat novel Infinitum karya Ahyar Anwar sangat kaya dengan pengetahuan sekaligus romantik dengan berbagai pilihan beberapa buku novel yang diangkat dalam cerita pada novel ini.
1. Pemakaian kosakata asing
Pemanfaatan kosakata bahasa Asing dalam novel Infinitum karya Ahyar Anwar diantaranya dapat dilihat pada kata, frase ataupun klausa bahasa Inggris yang digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia. Ahyar Anwar sebagai seorang penulis novel Infinutum merupakan kritikus sastra dan memiliki wawasan memadai tentang bahasa asing khususnya bahasa Inggris. Keunikan pemilihan dan pemakaian beragam kosakata bahasa
48
Inggris dalam kalimat yang berupa kata dan frasa diantaranya adalah sebagai berikut.
(1) Aku tersenyum dengan head line itu. tidak begitu tertarik dengan politik (Infinitum, 2010: 4)
(2) Jangan lupa sebentar sore pukul 15.00 kita latihan di sekretariat.. Ingat ya ON TIME! (Infinitum, 2010: 181)
(3) Sorry, baru pulang fitnes (Infinitum, 2010: 35)
(4) Ya beginilah, make my own world (Infinitum, 2010: 36)
(5) Lilya mengurus semua keberangkatanku, termasuk melakukan boarding pass untuk tiketku. Setelah semua beres, kami mengambil kesempatan untuk lunch di sebuah rumah makan (Infinitum, 2010: 40)
(6) Aku masih ingat smsnya menyatakan: “just take it, don’taskwhy, give it time, and...make it last.” Aku ingin dia milikku, dan aku ingin bersamanya (Infinitum, 2010: 42)
(7) Wait a minute!” ada sms dari Rian anak sastra Indonesia (Infinitum, 2010: 193)
(8) Katanya mungkin yang dimaksud itu Dewa Farhan! good luck dehh! (Infinitum, 2010: 193)
(9) Aku menyempatkan diri untuk singgah ke mall mencari compact disc musik intrumental violis (Infinitum, 2010: 183) Pemakaian frasa bahasa Inggris head line pada data (1) yang berarti judul berita, on time pada data (2) yang berarti tepat waktu, sorry dan fitnes pada data (3) yang berarti maaf dan olahraga, make my own world pada data (4) yang berarti membuat dunia saya sendiri, boarding pass dan lunch pada data (5) yang berarti pas naik dan makan siang, dan just take it, dont’taskwhy, give it time, and make it last pada data (6) kurang lebih bermakna tenag saja aku akan membi waktu untuk membuat
yang terakhir. Selanjutnya penggunaan bahasa Inggris Wait a minute!
pada data (7) yang berarti tunggu sebentar, data (8) good luck yang berarti semoga beruntung, dan data (9) compact disc yang merujuk pada kaset CD. Data-data di atas menunjukkan bahwa Ahyar Anwar kaya akan pengetahuan kosakata bahasa Asing.
Selain data-data di atas, penggunaan bahasa Inggris dalam novel Infinitum dapat dilihat dari penggunaan bahasa Inggris yang diambil dari berbagai judul novel asing. Pemakaian judul novel asing tersebut dapat menjadi ukuran kapasitas intelektual Ahyar Anwar sebagai pengarang yang suka membaca novel. Novel-novel tersebut ialah novel karya Nicholas Sparks, Umberto Eco, Orhan Pamuk, Jason F. Wright, Wolfgan Von Goethe, Nietzhe, dan pengarang novel terkenal lainya. Hal ini dapat dlihat pada kutipan data berikut:
(10) Aku membaca The Message In A Bottle karya Nicholas Sparks (Infinitum, 2010: 14)
(11) Aku juga membaca The Name of The Rose karya Umberto Eco, demikian pulu My Name Is Red karya Orhan Pamuk.
Lalu menghubungkannya dengan nama-nama lain dalam kehidupanku (Infinitum, 2010: 14)
(12) Aku pernah membaca The Wednesday Letters karya Jason F.
Wright, tetapi sangat menggugah bagiku adalah kisah cinta pada novel The Notebook Karya Nicholas Sparks lainnya (Infinitum, 2010: 14)
(13) Sewaktu kuliah di Yogyakarta dulu, aku selalu membawa novel terjemahan karya Wolfgan Von Goethe, sastrawan Jerman yang sangat terkenal itu, The Sorrow Of Young Werther (Infinitum, 2010: 14)
(14) atau apa yang disebut Milan Kundera dalam novelnya The Unbearable Loghtness of Being sebagai “Corpus Dilicti” dari cinta (Infinitum, 2010: 27-28)
(15) Secangkir teh hangat dan sebuah novel tipis karya Marguarite Duras berjudul Moderato Cantabile masih terbuka halaman akhir (Infinitum, 2010: 26)
Data di atas memperlihatkan penggunaan bahasa Asing yang dirujuk dari berbagai novel asing. Penggunaan judu-judul novel tersebut menggambarkan wawasan Ahyar Anwar sebagai pengarang. Judul The Message In A Bottle pada data (10) yang berarti pesan dalam botol merupakan buku karya Nicholas Sparks yang mengisahkan tentang pencarian sebagian hati yang hilang akibat pengkhianatan. Theresa, merupakan seorang wanita yang telah menutup hatinya dari yang namanya cinta. Ia adalah seorang jurnalis sebuah surat kabar di Kota Boston yang juga merupakan seorang ibu dari anak laki-laki bernama Kevin. Perceraian dengan suaminya menyebabkan ia harus bekerja sepenuh hati demi menghidupi anak lelakinya yang mulai beranjak dewasa.
Judul The Name of The Rose jika diterjemahkan menjadi Nama dari Mawar dan My Name Is Red yang berarti Namaku Merah Kirmizi pada data (11) merupakan genre novel serius. The Name of The Rose merupakan novel detektif karya Umberto Eco. Dalam cerita novel ini terjadi serangkaian pembunuhan misterius yang harus diungkapkan. Eco menggambarkan bahwa interpretasi teks bisa menemukan makna dan kebenaran baru, sehingga mampu dijadikan alat untuk menemukan sang
pembunuh. Sedangkan novel My Name Is Red karya Orhan Pamuk pada di atas merupakan salah novel terbaik Orhan Pamuk yang digemari Ahyar Anwar sebagai pembaca sastra yang teliti. Novel My Name is Red ini bisa dikatakan novel yang kaya akan perspektif. Novel ini bisa dibaca sebagai novel sejarah peradaban islam, misteri, intrik sosial, dan teka-teki filosofis.
Pamuk mengemas kisah dalam novel ini dengan sangat menarik.
Selanjutnya, The Wednesday Letters karya Jason F. Wright pada data (12) merupakan salah satu genre novel romantik yang mengemas cinta pada pasangan hidup. Judulnya jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan berarti, Surat Cinta di Hari Rabu merupakan sebuah novel yang indah tentang keluarga, kasih sayang, serta indahnya saling memaafkan. Jack dan Laurel membuktikan bahwa setiap orang memiliki berbagai cara untuk mengekspresikan cintanya. Novel ini juga menunjukkan pentingnya mengeratkan silaturahmi antar keluarga dan sahabat, terbukti bahwa banyak orang yang mengagumi keramahan dan kedermawanan pasangan Jack-Laurel di buku ini.
Judul novel The Sorrow of Young Werther pada data (13) yang berarti Kesedihan Werther muda merupakan karya Wolfgan Von Goethe merupakan novelis, sastrawan, humanis, ilmuwan, dan filsuf Jerman.
Novel ini merupakan karya yang kontraversial di masanya. Novel Kesedihan Werther Muda (bahasa Jerman: Die Leiden des jungen Werthers) merupakan sebuah novel yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1774 dan memiliki banyak penggemar di daratan Eropa. Sejak
diluncurkannya novel tersebut, para pemuda banyak yang meniru gaya berpakaian Werther, yaitu jaket biru panjang, celana panjang kuning dan baju berkerah terbuka. Begitu populernya novel ini di antara kalangan pemuda Eropa pada masa itu, bahkan hampir ada 2000 pemuda Eropa melakukan bunuh diri dengan cara yang sama seperti apa yang Werther lakukan untuk mengakhiri hidupnya: Menembakkan pistol di kepala, ketika cinta sudah kandas didepan mata, serta dengan memakai pakaian yang serupa dalam novel tersebut. Hingga pada tahun1974, David Philips, peneliti yang meneliti kasus peniruan bunuh diri menamakan fenomena bunuh diri tersebut dengan sebutan Efek Werther.
Data selanjutnya adalah judul novel The Unbearable Loghtness of Being pada data (14) merupakan karya Milan Kundera. Novel ini dipublikasikan tahun 1984. Buku ini menceritakan tentang sifat tragis takdir seorang individual, dengan berteori bahwa satu kali masa hidup itu tidak ada apa-apanya di dalam skala konsep pengulangan abadi Nietzsche. Dalam sebuah alam semesta yang infinite, semua hal dipastikan akan berulang secara infinit. Di tahun 1988, sutradara Amerika Philip Kaufman merilis adaptasi film novel ini.
Data selanjutnya ialah novel Moderato Cantabile pada data (15) merupakan karya Marguarite Duras. Novel ini diterbitkan pada tahun 1958. Frasa moderato cantabile berasal dari bahasa Italia yang berarti 'bernyanyi dengan kecepatan sedang'. Tema novel ini mengenai alienasi kebudayaan antarkelas. Cerita dalam novel ini mengenai
kehidupan seorang wanita, Anne Desbaresdes, dan hubungannya dengan anaknya, guru piano anaknya Mademoiselle Giraud dan Chauvin. Chauvin adalah seorang buruh laki-laki yang saat ini menganggur dan sesekali waktu pergi ke sebuah kafe. Kafe ini terletak di dekat apartemen di mana anak Anne Desbaresdes mengambil les piano pada Madame Giraud.
Suatu hari ada seorang wanita yang ditembak mati di depan kafe itu.
Wanita muda ini ditembak oleh kekasihnya yang cemburu, maka lalu Anne mencoba membayangkan kenapa hal ini bisa terjadi. Anne sering kembali ke kafe, sebelum kembali ke rumah yang nyaman, rumah terakhir di Boulevard de la Mer, yang dengan sendirinya mewakili pembagian sosial
antara kelas buruh dan kelas menengah.
Penggunaan bahasa asing dalam bentuk judul novel juga dapat diamati pada data-data berikut:
(16) Bahkan sekali waktu aku membaca karya-karya Nietzche kembali, seperti The Birth of Tragedy atau Beyond God and Evil (Infinitum, 2010: 28)
(17) Aku kembali ingat dengan catatan novel Nicholas Sparks yang berjudul Night Rhodante, aku bahkan sudah dua kali menonton filmnya, bahwa cinta kadang tumbuh di saat yang tidak diharapkan (Infinitum, 2010: 29)
(18) Sebelumnya aku mampir membeli dua buah novel yaitu City of Joy karya Dominique Lapierre yang berkisah tentang kisah epik kompleks cinta dalam dunia sosial bawah. Novel satunya adalah The Glass Place karya Amitav Ghosh yang juga novel epik sejarah tentang perjalanan hidup dan pencarian cinta sejati (Infinitum, 2010: 36)
(19) Tolstoy tidak hanya menulis karya besarnya seperti War and Peace dan Anna Karenina melalui sebuah keputusan besar.. (Infinitum, 2010: 195)
(20) Virginia Woolf menulis karya novel pentingnya To The Loght House yang sangat optimistik.. (Infinitum, 2010: 195) (21) Di cover itu tertera sebuah catatan untuk menjelaskan
sebuah tema dari film itu “He loved her like there was no tomorrow.” (Infinitum, 2010: 217)
Penggunaan bahasa Inggris dari judul novel seperti The Bird of Tragedi dan Beyond God and Evil karya Nietzhe, Night Rhodante karya Nikholas Sparks, City of Joy karya Dominique Lapierre dan The Glass Place karya Amitav Ghosh, War and Peace dan Anna Karenina karya Leo Tolstoy, To The Loght House karya Virginia Woolf pada data di atas menunjukkan luasnya wawasan Ahyar Anwar terhadap karya-karya novel bermutu. Ahyar Anwar berinteraksi dengan filosof dan pengarang dunia melalui karya-karya yang dibacanya. Untuk membaca berbagai literatur dari pengarang-pengarang dunia tentu membutuhkan kecapakan bahasa asing (Inggris) yang memadai. Tentunya novel-novel sebagaimana pada data di atas masih sulit ditemukan dalam bentuk terjemahan bahasa Indonesia. Novel-novel tersebut merupakan karya-karya serius yang hanya dibaca oleh kalangan tertentu seperti kritikus dan pembaca sastra serius.
Berdasarkan penjelasan data di atas, dapat dikemukakan bahwa Ahyar Anwar sebagai pengarang memiliki wawasan luas tentang berbagai novel serius. Pengutipan judul novel dalam Infinitum menjadikan novel karangan Ahyar Anwar ini menawarkan kompleksitas nilai kehidupan.
Deskripsi tentang novel-novel yang disebutkan di atas merupakan apresiasi dan pembacaan kritis Ahyar Anwar terhadap novel-novel yang
dibaca yang kemudian dijadikan sebagai unsur penguatan struktur cerita novel Infinitum yang dituliskannya.
Selain penggunaan istilah bahasa asing dalam bentuk kosakata, frasa, maupun judul novel, penulis novel Infinitum juga menggunakan istilah asing di bidang film dan musik. Data-data terkait dapat dilihat pada uraian berikut:
(22) Aku mengajaknya menonton sebuah film berjudul “Only You”. Sebuah film tentang pencarian seorang wanita terhadap catatan hidupnya pada sebuah kenangan (Infinitum, 2010: 106)
(23) Salah satu yang paling aku suka adalah The Corss, kelompok band Folk Rock asal Irlandia.. (Infinitum, 2010:
182)
(24) Album violin klasiknya diantaranya yang kadang membuatku hanyut dalam suasana jiwa yang damai adalah
“choreography” (Infinitum, 2010: 182)
(25) Hanya ada beberapa kalimat lirik yang sempat aku tangkap
“don’t you sheed a tears” dan “The way you loved me, vanished all the tears (Infinitum, 2010: 204)
Berdasarkan uraian data di atas, dapat dikemukakan bahwa Ahyar Anwar memiki wawasan tentang dunia perfilman dan musik. Pengetahuan Ahyar Anwar tentang film dapat dilihat pada data (22), film Only You jika diterjemahkan berarti “Hanya Kamu” merupakan film bergenre romantik tentang cinta, kenangan, dan tragedi antara Cheol Min dan Jung Hwa.
Cheol berusaha mendapatkan uang yang cukup untuk biaya operasi Jung Hwa. Cheol Min pergi ke Thailand dan memenangkan pertandingan tinjunya. Sayang sekali ketika kembali ke Korea Cheol Min di tusuk dan ditabrak mobil oleh musuhnya sehingga dirinya cacat. Sementara itu, Jung
Hwa yang sudah bisa melihat terus mencoba mencari Cheol Min yang telah berganti identitas dan pergi tanpa jejak.
Selain film, Ahyar Anwar juga menggunakan istilah-istilah asing yang diambil dari judul lagu, misalnya The Cross kelompok band Folk Rock pada data (23), musik instrumental choreography pada data (24) dan pengutipan kalimat lirik lagu don’t you sheed a tears” dan “The way you loved me, vanished all the tears pada data (25) menunjukkan pengetahuan Ahyar Anwar menggemari musik.
Pemilihan dan pemakaian bahasa Inggris pada data-data di atas menunjukkan bahwa penulis sangat memahami dan menguasai leksikon bahasa Inggris. Selain itu juga memperlihatkan intelektualitas pengarang tentang wawasan dan pengetahuan yang luas mengenai kosakata bahasa Inggris, serta memperlihatkan kelihaian pengarang dalam menempatkan klausa tersebut dalam kalimat.
Pemakaian leksikon bahasa Inggris oleh Ahyar Anwar dalam deskripsi cerita tersebut membawa konsekuensi bahwa pemanfaatan bahasa Inggris dalam realisasinya makna yang tersirat dapat dipahami oleh para pembaca. Selain memberikan gambaran secara asosiasif hubungan antara paduan kata-kata yang mengandung bahasa Inggris dengan tafsiran yang terdapat dalam kalimat tersebut, pemanfaatan kosakata bahasa Inggris juga dapat memberikan wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai kosakata bahasa Inggris. Pemanfaatan
kosakata bahasa Inggris juga membuat deskripsi ceritanya semakin menarik dan memiliki nilai estetik tersendiri.
Penggunaan leksikon bahasa Inggris pada data-data di atas juga dimaksudkan untuk mengkuatkan makna yang terkandung dalam kalimat dan memperkaya isi novel Infinitum. Selain itu, pemilihan leksikon bahasa Inggris dalam deskripsi cerita memperlihatkan bahwa pengarangnya jeli dan pandai mengolah kosakata sebagai hasil ciptaan karyanya.
Berdasarkan uraian data-data di atas dapat diketahui bahwa pemakaian dan pemilihan kata, frasa dan klausa dalam bentuk komunikasi maupun judul novel yang digunakan Ahyar Anwar dalam Infinitum memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri yang tidak banyak dimiliki sastrawan lain.
2. Pemakaian kosakata prokem (gaul)
Pemakaian kosakata prokem atau bahasa gaul dapat juga ditemukan dalam struktur teks novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
Penggunakan kosakata prokem tidak dapat dilepas dari situasi sosial
Penggunakan kosakata prokem tidak dapat dilepas dari situasi sosial