i
A STYLISTICS ANALYSIS ON INFINITUM WRITTEN BY AHYAR ANWAR AS A MEANS LEARNING
IN LITERATURE AT SMA
Tesis
Oleh:
GUSNO AGUS
Nomor Induk Mahasiswa : 04 08 922 2013
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2015
ii TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Magister
Program Studi
Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun dan diajukan oleh
GUSNO AGUS NIM : 04 08 922 2013
Kepada
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2015
iii
KAJIAN STILISTIKA NOVEL INFINITUM KARYA AHYAR ANWAR SEBAGAI SARANA
PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
Yang disusun dan diajukan oleh
GUSNO AGUS NIM : 04 08 922 2013
Telah diperiksa di hadapan Pembimbing Tesis Menyetujui
Komisi Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M, M. Pd Dr. A. Sukri Syamsuri, M. Hum
Mengetahui Direktur Program Pascasarjana
Prof. Dr. H. M. Ide Said. D.M, M. Pd NBM. 988 463
Ketua Program Studi
Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Dr. Abd. Rahman Rahim, M. Hum NBM. 922 699
iv
Judul : Kajian Stilistika Novel Infinitum Karya Ahyar Anwar Sebagai Sarana Pembelajaran Sastra di SMA
Nama : Gusno Agus
Nim : 04.08.922.2013
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Konsentrasi : -
Telah diuji dan dipertahankan di depan Panitia Penguji Tesis pada Tanggal 10 Oktober 2015 dan dinyatakkan telah memenuhi persyaratan dan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Megister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 23 Nopember 2015 TIM Penguji :
Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M, M. Pd ………..
(Ketua/Pembimbing/Pengujui)
Dr. A. Sukri Syamsuri, M. Hum ………..
(Sekretaris/Penguji)
Dr. Abd. Rahman Rahim, M. Hum ………..
(Penguji)
Dr. Syafruddin, M.Pd. ………..
(Penguji)
v Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : Gusno Agus
NIM : 04 08 922 2013
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar- benar merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan pengembalian tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Makassar, 23 Nopember 2016 Yang menyatakan,
Gusno Agus
vi
GUSNO AGUS. 2015. Kajian Stilistika Novel Infinitum Karya Ahyar Anwar sebagai Sarana Pembelajaran Sastra di SMA, dibimbing oleh:
H. M. Ide Said D.M dan A. Sukri Syamsuri.
Tujuan penelitian ini ialah 1) mengetahui karakteristik gaya bahasa yang digunakan dalam novel Infinitum karya Ahyar Anwar dan 2) mengetahui relefansi novel Infinitum karya Ahyar Anwar sebagai sarana pembelajaran sastra di SMA.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif bertujuan untuk mengungkapkan berbagai informasi kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah teknik pustaka, teknik simak, dan catat.
Pengumpulan data melalui teknik pustaka ini dilakukan dengan membaca, mencatat, dan mengumpulkan data-data dari sumber data tertulis. Pencatatan data dalam penelitian ini dengan menerapakan kartu data. Data dicatat pada kartu data yang telah disiapkan dengan diberi nomor urut data dan keterangan sesuai dengan masalah yang diteliti sehingga akan mudah mengklasifikasikan data dan menganalisisnya.
Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa keunikan atau kekhasan pemakaian bahasa pada novel Infinitum karya Ahyar Anwar dilatarbelakangi oleh faktor sosial budaya dan pendidikan penulis yang diungkapkan melalui deskripsi ceritanya. Adapun keunikan pemilihan dan pemakaian kosakata yaitu tampak pada, 1) pemakaian kosakata asing, 2) pemakaian leksikon bahasa prokem, dan 3) penggunaan bahasa figuratif. Novel Infinitum karya Ahyar Anwar mampu menonjolkan keunikan pemilihan dan pemakaian kosakata yang spesifik dan lain dari yang lain.
Secara stilistika dan standar penggunaan sebagai bahan ajar sastra, novel Infinitum karya Ahyar Anwar sangat bernilai dan memenuhi standar moral yang secara positif dapat digunakan sebagai media pengayaan bahan ajar pemeblajaran bahasa dan sastra di SMA. Hal ini dikemukakan berdasarkan pertimbangan kesesuaian isi novel yang lugas, menarik, dan puitik serta dapat menjangkau kalangan usia dewasa maupun remaja.
vii
Sebagai awal kata yang terindah dari seorang hamba sepatutnyalah mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah swt, karena atas berkat dan rahmat dan karuniaNyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Kajian Stilistika Novel Infinitum Karya Ahyar Anwar sebagai Sarana Pembelajaran Sastra di SMA.
Dengan segala kerendahan hati dan usaha yang dapat diperbuat lewat tulisan inilah penulis menyadari dalam proses penulisannya masih jauh dari kesempurnaan, sehingga manusiawi adanya jika masih terdapat kekurangan dan kekeliruan di dalamnya.
Berbagai suka penulis telah penulis rasakan dalam menempuh jenjang pendidikan. Namun berkat doa kepada Allah Sang Pengasih dan Penyayang serta ketabahan hati menjadi penopang dalam menghadapi rintangan dan hambatan.
Penulis menyadari pula bahwa dalam penulisan tesis ini, tidak mungkin tanpa cinta, bantuan dan dorongan dari semua pihak. Oleh karena itu sepatutnyalah penulis mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada ayah dan ibu yang telah melahirkan dan membesarkanku.
Terima kasih kepada Prof. Dr. H. M. Ide Said, D.M, M.Pd sebagai pembimbing I dan Dr. A. Sukri Syamsuri, M. Hum sebagai pembimbing II,
viii
Terima kasih pula yang sebesar-besarnya kepada Dr. Irwan Akib M.Pd, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Prof. Dr. H.
M. Ide Said, D.M, M.Pd selaku Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Dr. A. Rahman Rahim, M. Hum selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, atas saran dan petunjuknya.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih atas masukan dan kritikan dari pembaca yang sifatnya membangun dan semoga tesis ini bermanfaat bagi pembaca serta mendapat rahmat dari Allah swt, Amin.
Makassar, 23 Nopember 2015
Penulis
ix
SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ………..ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI ………. iv
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
A. Tinjauan Teori ... 8
1. Pengertian Novel ... 8
2. Unsur-Unsur Pembangun Novel ... 11
3. Hakikat Bahasa Novel ... 17
4. Tinjauan Analisis Stilistika ... 18
5. Pembelajaran Sastra di SMA ... 36
B. Kerangka Pikir ... 41
BAB III METODE PENELITIAN ... 43
A. Jenis Penelitian ... 43
B. Data dan Sumber Data ... 44
C. Teknik Pengumpulan Data ... 45
D. Teknik Analisis Data ... 46
x
B. Penggunaan Bahasa Figuratif Novel Infinitum
Karya Ahyar Anwar ... 66
C. Penggunaan Novel Infinitum Karya Ahyar Anwar sebagai Sarana Pembelajaran Sastra di SMA ... 74
D. Pembahasan ... 82
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 87
A. Simpulan ... 87
B. Saran ... 88
DAFTAR PUSTAKA ... 89 LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karya sastra merupakan hasil konstruksi imajinasi pengarang dengan menggunakan media bahasa. Karya sastra tercipta melalui kontemplasi mendalam tentang realitas kehidupan. Sehingga, karya sastra selalu bersumber dari fakta kehidupan masyarakat yang kemudian diolah dan dipadukan dengan imajinasi pengarang sehingga menjadi sebuah karya yang memiliki keindahan.
Seiring perkembangan dinamika sastra, karya sastra dapat diklasifikasikan menjadi beragam genre berdasarkan kompleksitas struktur masing-masing genre tersebut. Novel merupakan salah satu genre dalam sastra yang umumnya dikenal sebagai jenis karya sastra yang memiliki kompleksitas. Kompleksitas sebuah novel dapat dilihat dari struktur internal yang membangunnya secara intrinsik serta dapat ditelaah dari segi struktur eksternal yang mempengaruhinya secara ekstrinsik.
Struktur novel yang kompleks dapat dikaji dari penggunaan bahasa yang menjadi sarana mutlak pengarang mengkomunikasikan setiap peristiwa dalam novel yang dituliskannya. Bahasa sebagai alat komunikasi berperang penting dalam konstruksi sebuah karya sastra.
Dalam konteks ini, penggunaan bahasa sebagai sarana oleh pengarang dalam dunia sastra berbeda-beda sehingga dapat
1
menentukan kadar nilai sebuah karya sastra. Dari sikap penggunaan media bahasa itu lahirlah gaya pengarang merangkai kata-kata dalam menyusun sebuah novel.
Setiap novel pasti mempunyai tujuan tertentu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada masyarakat sebagai pembacanya. Kata-kata yang digunakan dalam novel biasanya menggunakan gaya bahasa yang bervariasi dalam mengungkapkan gaya bahasa atau melukiskan sesuatu gaya bahasa. Untuk itu pengarang novel menyampaikan karyanya dengan cara dan bahasa yang berbeda-beda.
Stanton (2007: 61) mengemukakan bahwa dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter, dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan menyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora. Campuran berbagai aspek di atas (dengan kadar tertentu) akan menghasilkan gaya.
Penyusunan suatu karya sastra (novel) tidak lepas dari pemilihan kata (diksi), struktur kalimat, dan gaya bahasa. Diksi adalah pemilihan kata yang dipilih dan disusun dengan cara sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya disebut diksi puitis (Barfield dalam Pradopo, 2000: 54). Pilihan diksi kata dalam
novel bertujuan untuk mengungkapkan imajinasi seorang penulis novel. Sedangkan gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang mempunyai makna ungkapan individual yang tinggi.
Gaya bahasa merupakan ilmu yang meneliti tentang pemakaian bahasa yang khas yang merupakan ciri khas dari seorang penulis (Teeuw, 1984: 72). Seperti halnya genre sastra lainnya, novel juga mempunyai gaya bahasa yang khas dan mempunyai nilai keindahan bahasa. Menurut Aminuddin (2002) gaya bahasa merupakan perwujudan penggunaan bahasa oleh seorang penulis untuk mengemukakan gambaran, gagasan, pendapat, dan membuahkan efek tertentu bagi pembacanya. Sebagai wujud cara menggunakan kebahasaan, gaya merupakan rentetan kata dalam kalimat yang disusun sedemikian rupa untuk menyampaikan kode ke bahasa sebagai sistem tanda.
Selanjutnya, salah satu cara untuk mengetahui gaya penulisan setiap pengarang adalah dengan meneliti kekhasan dan keunikan penggunaan bahasa yang digunakan setiap penulis dalam membuat karya-karyanya. Pengkajian mengenai kekhasan dan keunikan pemakaian bahasa tersebut adalah untuk menemukan dan menandai ciri umum karya seorang penulis. Pada konteks kajian ini, ilmu yang tepat untuk mengkaji penggunaan bahasa dalam karya sastra dengan pendekatan secara linguistik adalah stilistika.
Kajian stilistika merupakan analisis yang menggunakan parameter linguistik yang terfokus pada pada telaah gaya bahasa sebuah karya sastra. Wellek dan Werren (2014: 206) mengemukakan bahwa stilistika merupakan bagian ilmu sastra, dan akan menjadi bagian yang penting, karena hanya metode stilistikalah yang dapat menjabarkan ciri-ciri khusus semacam itu. Ada dua kemungkinan pendekatan analisis stilistika semacam itu. Yang pertama dimulai dengan analisis sistematis tentang linguistik karya sastra, dilanjutkan dengan interpretasi tentang ciri-cirinya dilihat dari tujuan estetis karya tersebut sebagai “makna total”. Di sini gaya akan muncul sebagai sistem linguistik yang khas dari karya atau sekelompok karya.
Berdasarkan uraian pendapat di atas, pada prinsipnya pusat perhatian stilistika adalah gaya bahasa, yaitu cara yang digunakan oleh seseorang untuk mengutarakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarananya. Hal ini cukup beralasan jika penulis melakukan telaah linguistik dalam rangka menemukan dan memerikan keunikan-keunikan dan kekhasan pemakaian bahasa novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
Pemilihan kajian stilistika novel Infinitum karya Ahyar Anwar didasarkan pada ketertarikan peneliti terhadap kandungan novel Infinitum yang puitik. Data mengenai stilistika juga tergolong mudah diakses dari literatur yang tersdia maupun data penelitian-penelitian dengan menggunakan stilistika yang dilakukan sebelumnya.
Penelitian-penelitian dengan menggunakan analisis stilistika, di antaranya ialah hasil tesis penelitian yang dilakukan oleh Sundari (2002) yang berjudul, Kajian Stilistika Novel Berbahasa Jawa Tahun 1960-an, mengkaji tentang pemakaian kosakata, segi struktur morfosintaksis, penggunaan gaya bahasa dan menelaah segi sosial kultural novel berbahasa Jawa Tahun 1960-an. Penelitian sejenis sebelumnya juga dilakukan oleh Mursalin (2004), dengan judul Kajian Stilistika Puisi Amir Hamzah dan Kontribusinya terhadap Pengembangan Bahan Ajar Puisi di SMAU, mengkaji tentang deskripsi gaya bahasa Amir Hamzah dan kontribusinya terhadap pengembangan media pembelajaran puisi di SMU.
Penelitian-penelitian yang disebutkan di atas merupakan informasi tentang signifikansi kajian. Sehingga, penelitian ini akan sangat membantu membuka cakrawala pemahaman pembaca tentang stilistika sebagai konstruksi pemahaman dalam pembelajaran bagi guru dan siswa di sekolah.
Berbeda dengan penelitian di atas, penelitian ini akan mengkaji novel Infinitum karya Ahyar Anwar dengan menggunakan pendekatan analisis stilistika untuk membongkar karakteristik gaya bahasa yang digunakan oleh Ahyar Anwar. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul Kajian Stilistika Novel Infinitum Karya Ahyar Anwar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini ialah:
1. Bagaimanakah karakteristik gaya bahasa yang digunakan dalam novel Infinitum karya Ahyar Anwar?
2. Apakah novel Infinitum karya Ahyar Anwar dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran sastra di SMA?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini ialah:
1. Untuk mengetahui karakteristik gaya bahasa yang digunakan dalam novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
3. Untuk mengetahui relefansi novel Infinitum karya Ahyar Anwar sebagai sarana pembelajaran sastra di SMA.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, baik manfaat secara teoretis maupun praktis.
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangsi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, khsusnya pengembangan bidang kajian stilistika sastra.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menumbuhkan minat peneliti lain untuk ikut menggali dan melestarikan sastra khususnya pengkajian novel secara stilistika serta diharapkan menambah wawasan dan pengetahuan penulis khususnya dan pembaca umumnya serta pemerhati sastra mengenai analisis novel secara stilistika.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Pengertian Novel
Novel sering juga disebut sebagai roman. Pada hakikatnya sudah diketahui oleh hampir seluruh lapisan masyarakat yang telah menduduki bangku sekolah. Akan tetapi, jika didefinisikan tentulah masih banyak perbedaan redaksional. Oleh karena itu, dalam penulisan ini dikemukakan beberapa batasan mengenai novel di antaranya.
Secara etimologi, novel berasal dari kata latin “novellus” yang diturunkan dari kata novies yang berarti “baru”. Sedangkan secara istilah Novel sebagai salah satu jenis karya sastra dapat didefinisikan sebagai pemakaian bahasa yang indah dan menimbulkan rasa seni pada pembaca.
Secara sederhana, pengertian novel dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa “Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat-sifat pelaku.
Pengertian novel dalam The American College Dictionary (dalam Tarigan, 1984:164) dijelaskan bahwa “novel adalah suatu cerita yang fiktif dalam panjang yang tertentu, melukiskan para tokoh, gerak
8
serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut”. Novel mempunyai panjang tertentu dan merupakan suatu cerita prosa yang fiktif. Hal itu sejalan dengan pendapat Burhan (1995: 9) yang memberikan pengertian bahwa novel adalah sebuah prosa fiksi yang panjangnya cukup, artinya tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek.
Hal itu dikarenakan novel merupakan sesuatu yang baru di dalam karya satra. Seperti yang diungkapkan oleh Abrahms (dalam Burhan, 1995: 9), yaitu novel dalam bahasa Inggris yang kemudian berkembang di Indonesia berasal dari bahasa Italia novella (yang dalam bahasa Jerman novelle). Secara harfiah novella berarti “sebuah barang baru yang kecil”. Novel berasal dari bahasa Latin novellas yang kemudian diturunkan menjadi novies, yang berarti baru. Perkataan baru ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa novel merupakan jenis cerita fiksi yang muncul belakangan dibandingkan dengan cerita pendek dan roman.
Selain itu Burhan (1995: 4) mengatakan bahwa “di dalam sebuah novel menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajiner yang dibangun melalui unsur intrinsik seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, dan sudut pandang yang tentu saja semuanya bersifat imajiner”. Dikatakan menawarkan model kehidupan yang diidealkan, karena di dalam novel terdapat suatu model kehidupan yang menampilkan aspek kehidupan manusia secara
mendalam. Sesuai dengan pernyataan Semi (1993: 32), yaitu novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus.
Berdasakan pendapat di atas, dapat dikemukakan bahwa novel merupakan suatu cerita prosa fiktif yang mempunyai panjang tertentu, di dalamnya terdapat unsur-unsur intrinsik dan semuanya bersifat imajiner. Meskipun demikian, di dalam sebuah novel mengangkat sebuah cerita kehidupan yang diidealkan karena menampilkan kehidupan manusia secara mendalam dan kejadiannya pun luar biasa, serta disajikan secara halus.
Istilah novel memiliki padanan kesamaan dengan istilah roman karena secara semantik keduanya adalah cerita yang berbentuk prosa (Djunaedi, 1992: 17). Novel adalah suatu karya prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh cerita) dari kejadian ini timbul konflik suatu pertikaian yang mengalihkan urusan nasib mereka.
Di Indonesia istilah roman dan novel sering diberi arti yang berbeda. Roman sering diartikan sebagai cerita bentuk prosa yang panjang. Dalam pengertian roman seperti ini cerita dimulai sejak kecil sampai kematian. Jadi, melengkapi masa kehidupan yang panjang, sedangkan novel sering diartikan sebagai cerita bagian kehidupan seseorang, seperti masa menjelang perkawinanya setelah mengalami
masa percintaan atau bagian kehidupan waktu seseorang mengalami krisis dalam jiwanya dan sebagainya.
Novel adalah suatu cerita dalam alur yang cukup panjang mengisi satu buku atau lebih, yang menggarap kehidupan pria dan wanita yang bersifat imajinatif. Di samping itu novel juga merupakan suatu karya sastra yang sangat dikenal dan digemari oleh banyak orang, karena bentuknya yang lebih muda untuk dipahami pembacanya. Novel juga dapat memberikan arti bagi kehidupan yang dapat dijadikan pelajaran bagi penikmatnya.
Sebagian ahli juga mengatakan bahwa novel adalah suatu cerita dengan plot yang cukup panjang mengenai satu atau lebih buku yang menggarap kehidupan laki-laki dan wanita yang bersifat imajinatif. Adapun ciri-ciri novel antara lain: a) bergantung pada pelakunya, b) menyajikan lebih dari satu impresi, c) menyajikan lebih dari satu efek,dan d) menyajikan lebih dari satu emosi.
2. Unsur-Unsur yang Membangun Novel
Pada dasarnya karya sastra dibangun oleh dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.
a. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Yang termasuk dalam unsur intrinsik adalah tema, alur, tokoh, penokohan, latar/setting, sudut pandang dan amanah.
1) Tema
Setiap fiksi haruslah mempunyai dasar atau tema yang merupakan sasaran tujuan. Penulis menuliskan watak para tokoh dalam karyanya dengan dasar tersebut. Dengan demikian tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dalam seluruh cerita.
Tema adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan mengenai kehidupan yang membentuk gagasan utama dari suatu karya sastra . Scharbach (dalam Nurasiah, 2006: 11), mengatakan bahwa istilah tema berasal dari bahasa latin yaitu tempat untuk meletakkan suatu perangkat. Jadi tema adalah ide sebuah cerita atau sesuatu yang menjadi pengarang yang dibeberkan melalui tindakan- tindakan tokoh cerita itu terutama tokoh utama. Tema yang baik harus bersama di dalam unsur cerita.
2) Alur
Alur adalah rangkaian cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin 2002: 83). Menurut Sukade (1987: 3), alur mula-mula dikaitkan dengan unsure cerita atau pencerita, kemudian berkembang sebagai akibat logis dari berbagai unsur secara kompleks. Menurut Hayati dan Winarno (1990: 10), alur adalah rangkaian peristiwa atau kejadian yang sambung menyambung dalam suatu cerita. Dengan demukian alur merupakan suatu jalur lintasan
atau urutan suat peristiwa yang berangkai sehingga menghasilkan suatu cerita.
Pengarang mengkomunikasikan novelnya melalui tokoh- tokohnya. Tokoh ini melaksanakan peran masing-masing sehingga timbul situasi konflik menurut Ginarsa (1989: 11), adanya alur disebabkan oleh terbentuknya kekuatan-kekuatan yang terjadi karena adanya problema yang perlu diselesaikan.
3) Tokoh
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya dalam peristiwa dalam kehidupan sehari-hari selalu diembang oleh tokoh-tokoh atau pelaku- pelaku tertentu. Pelaku yang mengembang peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita disebut tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau disebut penokohan.
Menurut Santoso (1995:106-107), tokoh adalah pelaku yang memainkan peran dalam cerita rekaan. Pada umumnya tokoh dalam cerita rekaan adalah manusia, tetapi dapat pula tokoh yang berwujud binatang, benda-benda, tumbuhan, dewa, jin, dan roh yang diinsankan.
Tokoh dalam cerita fiksi dapat dibedakan beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut nama penamaan itu dilakukan.
Tokoh utama atau tokoh protagonis adalah tokoh yang diutamakan penceritanya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Sedangkan tokoh kedua atau tokoh antagonis
adalah tokoh atau pelaku yang menyambungi atau membayang- bayangi bahkan menjadi musuh tokoh utama.
Tokoh penyebab terjadi konflik disebut tokoh antagonis. Tokoh protagonis secara langsung ataupun tidak langsung bersifat fisik atau batin (dalam Jakub Sumohardjo, 1984: 1).
4) Penokohan
Penokohan yang ditemukan dalam cerita fiksi adalah pelaku imajinatif, pelaku yang ada dalam benak pengarang. Pelaku imajinatif itu tidak akan dijumpai sekalipun dicari di seluruh dunia. Pelaku imajinatif tidak dapat ditangkap oleh alat indera. Ia hanya dapat ditangkap oleh daya imajinasi seseorang melalui raut muka, bentuk tubuh dan perilakunya. Karakter tokoh atau pelaku dapat dikenal lewat penggambaran baik yang dilakukan pengarang pencerita maupun oleh pelaku.
Hayati dan Winarno (1990: 1), mengungkapkan bahwa dalam penggambaran, seorang pengarang dapat melakukannya dengan dua cara yaitu secara eksposisi dan dramatik. Cara eksposisi, yaitu penggambaran tokoh dikatakan memiliki sifat-sifat yang sama jika sifat- sifat yang sama itu memiliki bersifat lahiriah maupun batinia. Misalnya pengarang menggambarkan kondisi badannya, umumnya kesukaannya, kesopanannya dan sebaliknya. Sebaliknya cara dramatik, yaitu pengarang secara tidak langsung menjelaskan sifat-
sifat atau watak tokoh tatapi hanya memberikan gambaran berupa tindakan atau gerak-gerik seorang tokoh.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa penokohan atau karakter adalah pengembangan watak yang meliputi pandangan, perilaku, keyakinan dan kebiasaan yang dimiliki para tokoh yang mempunyai tempat tersendiri dalam suatu karya sastra.
5) Latar/setting
Latar adalah keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya suatu kejadian. Menurut Suroto (1989: 94), latar adalah penggambaran situasi, tempat dan waktu serta suasana terjadinya peristiwa.
Hudson (dalam Nurasiah 2006: 14), membedakan latar sosial dan latar fisik. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan mastarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikap-sikapnya, adapt, kebiasaan, cara hidup, bahasa dan sebagainya yang melatari peristiwa. Adapun yang dimaksud latar fisik adalah tempat wujud fisiknya, yaitu bangunan, daerah, dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa latar adalah segala mengenai waktu dan ruang (tempat), dan suasana terjadinya peristiwa serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis yang dilukiskan dalam suatu karya sastra. Sebuah karya sastra yang berlatar lengkap memiliki aspek-aspek tersebut sehingga jelas kepada
pembaca tentang kapan, di mana, dam bagaimana peristiwa itu diceritakan terjadi.
6) Sudut Pandang (Point of view)
Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan pelaku dalam cerita termasuk diri pengarang itu sendiri. Sudut pandang cerita itu menyatakan bagaiman fungsi pengisah (pengarang) dalam sebuah cerita, apakah ia mengambil seluruh bagian langsung dalam seluruh peristiwa atau sebagai pengamat terhadap objek dari seluruh tindakan- tindakan dalam cerita itu. Pengarang dapat bertindak sebagai tokoh utama yaitu mengisahkan adegan dengan menggunakan kata ganti orang pertama (aku, kami). Pengarang dapat juga sebagai pengamat dengan menggunakan kata ganti orang kedua (kau, kamu).
7) Amanah
Amanah adalah gagasan yang mendasari karya sastra atau pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar. Menurut Sudjiman (1992: 57), amanah adalah suatu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang yang diangkat dari sebuah karya sasrta.
b. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar. Yang termasuk dalam unsur ekstrinsik adalah psikologi, sosial, budaya, filsafat, lingkungan dan agama.
3. Hakikat Bahasa Novel
Wujud cipta sastra yang pertama-tama terlihat dari sisi bahannya adalah bahasa. Bahasa adalah alat utama pengarang untuk menciptakan karya seni yang imajinatif dengan unsur estetikanya yang dipandang dominan yang kemudian disebut dengan nama sastra.
Bahasa merupakan sarana pengarang agar leluasa dalam mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaannya.
Penelitian stilistika menggunakan bahasa yang memungkinkan kita untuk mengetahui bagaimana kiat pengarang memanfaatkan kemungkinan yang tersedia dalam bahasa sebagai sarana pengungkapan makna dan efek estetik dari bahasa. Bunyi bahasa yang dituturkan pengarang mungkin selalu berubah, kadang-kadang secara teratur dan kadang tidak dengan faktor-faktor pendorong yang bermacam-macam pula. Perubahan mencakup segala wujudnya yang diatur oleh asas-asas tertentu, baik yang berasaskan penggantian, penambahan, dan pelenyapan maupun yang berasaskan peloncatan, penyusutan, dan kombinasi di antara sesamanya (Sudaryanto, 1989:
18)
Semua bentuk ekspresi kejiwaan dalam karya sastra khususnya novel, disalurkan melalui bahasa yang lebih ruwet, membahasakan ekspresi pengarang yang ditujukan kepada pembacanya misalnya menyakinkan, menyindir, mengkritik, menghibur, dan sebagainya.
Seorang sastrawan, memerlukan kalimat yang sanggup menggugah
perasaan yang halus dari manusia dan kemanusiaan, dan mampu membahasakan ekspresi kejiwaannya (Razak, 1990: 2-3).
Bahasa di dalam novel akan mencerminkan style seorang pengarang, karena di sana akan tampak originalitas pengarang dalam memilih dan menggunkan kata-kata, maupun gaya bahasa untuk mengungkapkan ide, gagasan ataupun imajinasinya dalam cerita.
Bahasa di dalam novel umumnya penuh makna dan menimbulkan efek estetik. Dalam kreasi penulisan novel efek tersebut terkait dengan upaya pemerkayaan makna, penggambaran obyek dan peristiwa secara imajinatif maupun pemberian efek emotif bagi pembacanya.
Selanjutnya bahasa di dalam novel juga memperhatikan diksi.
Diksi berasal dari bahasa Latin dicere, dictum yang berarti to say
„mengatakan . Diksi berarti pemilihan dan penyusunan kata-kata dalam tuturan atau penulisan (Scoot, 1980: 170). Pemilihan kata dalam novel sangat penting, sebab kata dalam novel mempunyai dua arti yaitu denotasi dan konotasi. Kata denotasi adalah bahasa yang menunjuk korespondensi satu satu. Sementara itu, kata konotasi mempunyai arti asosiatif.
4. Tinjauan Analisis Stilistika
Karya sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran manusia.
Karya sastra diciptakan untuk dinikmati dan diapresiasi. Dalam hal ini setiap penulis memiliki cara dalam mengemukakn gagasan dan
gambarannya serta gaya bahasa untuk menghasilkan efek-efek tertentu bagi pembacanya. Secara menyeluruh kajian stilistik berperan untuk membantu menganalisis dan memberikan gambaran secara lengkap bagaimana nilai sebuah karya sastra, tak terkecuali pada jenis karya sastra anak dalam penelitian ini.
Style dapat diartikan sebagai cara khas yang dipergunakan oleh seseorang untuk mengutarakan atau mengungkapkan diri atau gaya pribadi. Pengertian style sangat luas, bisa meliputi style sekelompok pengarang, style suatu bangsa, style perseorangan, dapat juga merupakan style pada periode tertentu atau gaya penulisan tertentu (Satoto, 1995: 36).
Stilistika sering dikaitkan dengan bahasa sastra meskipun Chapman menyatakan bahwa kajian ini dapat ditujukan terhadap berbagai ragam penggunaan bahasa (Nurgiyantoro, 2000: 279).
Adapun, Pradopo (2007: 264) mengartikan stilistika sebagai ilmu yang mempelajari gaya bahasa. Dengan deinikian, pengertian stilistika dalam penelitian ini dapat dibatasi sebagai kajian terhadap gaya bahasa, khususnya yang terdapat di dalam karya sastra.. Pandangan Pradopo ini tidak berbeda dengan pandangan Hartoko dan Rahmanto (1986: 138) yang menyatakan stilistika sebagai cabang ilmu sastra yang memiliki style atau gaya bahasa.
Stilistika tidak hanya merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan saja, tetapi juga studi gaya dalam bahasa pada
umumnya meskipun ada perhatian khusus pada bahasa kesusastraan yang paling sadar dan paling kompleks. Mulyana (dalam Pradopo, 1993: 2) mengemukakan bahwa stilistika itu pengetahuan tentang kata berjiwa. Kata berjiwa itu adalah kata yang dipergunakan dalam cipta sastra yang mengandung perasaan pengarangnya. Stilistika berguna untuk membeberkan kesan pemakaian susun kata dalam kalimat yang menyebabkan gaya kalimat, disamping ketepatan pemilihan kata, memegang peranan penting dalam ciptaan sastra.
Stilistika membicarakan bagaimana memahami dan mengkaji sastra dari segi penggunaan bahasa yang dilakukan oleh penyair. Hal ini dikemukakan oleh Atmazaki (2007: 152) bahwa stilistika sebenarnya merupakan salah satu pendekatan dalam kritik sastra, yaitu kritik sastra yang menggunakan linguistik sebagai dasar kajian.
Kajian stilistika ini berkaitan dengan bagaimana kata-kata tersebut menimbulkan efek dan makna tertentu. Analisis stilistika ini merupakan pendekatan struktural, sehingga analisis ini boleh dimulai dari unsur kebahasaan manapun. Stilistika dalam kaitannya dengan studi retorika haruslah merupakan suatu pencarian filosofis tentang bagaimana kata- kata bekerja atau berpengaruh dalam wacana.
Stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Stilistika merupakan sebuah proses dalam menganalisis karya sastra dengan melihat bagaimana unsur-unsur bahasa sebagai medium karya sastra digunakan
sastrawan sehingga terlihat bagaimana perlakuan sasstrawan terhadap bahasa dalam rangka menuangkan gagasannya. Oleh sebab itu, semua proses yang berhubungan dengan analisis bahasa karya sastra dimaksudkan untuk mengungkapkan aspek kebahasaan dalam karya tersebut, seperti diksi, penggunaan bahasa kias, bahasa piguratif, struktur kalimat, bentuk-bentuk wacana, dan sarana retorika lainnya.
a. Stilistika sebagai ilmu
Stilistika dapat juga dimasukkan sebagai bidang linguistik terapan. Secara pengertian luas, stilistika adalah cara untuk mengungkapkan teori dan metodologi penganalisisan formal sebuah teks sastra. Stilistika ini juga dapat disebut sebagai tempat pertemuan antara makroanalisis bahasa dan makroanalisis sastra (Satoto,1995:
36).
Turner (dalam Pradopo, 1993: 2) mengemukakan bahwa stilistika adalah bagian linguistik yang memusatkan diri pada variasi dalam penggunaan bahasa. Stilistika berarti studi gaya, yang menyarankan bentuk suatu ilmu pengetahuan atau paling sedikit berupa studi yang metodis. Yunus (1989: xvii) mengemukakan bahwa hakikat stilistika itu pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra, tetapi kesadaran tentangnya muncul dalam linguistik.
Stilistika dapat dikatakan sebagai studi yang menghubungkan antara bentuk linguistik dengan fungsi sastra. Stilistika mengkaji
wacana sastra dari orientasi linguistik dan merupakan pertalian antara linguistik pada satu pihak dan kritik sastra di pihak lain. Secara morfologis, dapat dikatakan bahwa komponen style berhubungan dengan kritik sastra sedangkan komponen istics berhubungan dengan linguistik (Widdowson, 1979: 3). Kridalaksana (2011: 15) mengemukakan bahwa stilistika adalah (1) ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan; (2) penerangan linguistik pada penelitian gaya bahasa.
Selanjutnya, linguistik memiliki keabsahan akademis untuk ikut mengkaji penggunaan bahasa suatu karya sastra dalam rangka ikut memberi sumbangan bagi kritik sastra, karena karya sastra dipandang sebagai wacana sastra dengan memanfaaatkan potensi-potensi yang ada pada bahasa untuk keperluan pengungkapan sastra. Dengan demikian telaah linguistik pada sebuah karya sastra akan memberi bantuan terhadap studi susastra. Subroto, dkk (1992: 24) menyatakan bahwa analisis stilistika dengan telaah linguistik tidak berpretensi atau berkeinginan untuk menggantikan fungsi dan tugas kritik sastra, akan tetapi boleh dikatakan hanya sekadar pioner pembuka jalan bagi kegiatan kritik sastra yang lebih efektif. Menelaah suatu karya sastra tidak mungkin hanya mengandalkan studi atau kajian linguistik saja, namun demikian telaah linguistik telah dapat memberi sumbangan
yang cukup berharga dalam mengungkapkan aspek-aspek kebahasaan dalam karya sastra.
Selanjutnya menurut Subroto, dkk (1992: 26) pemilihan penggunaan bahasa dalam karya sastra dilakukan dengan penuh kesadaran, dengan demikian dalam karya sastra yang bersangkutan ditemukan atau terdapat penyimpangan-penyimpangan dari kaedah kebahasaan yang berlaku secara umum, sehingga hal yang demikian ini tentu sangat disadari oleh para pengarang. Lebih lanjut Edi Subroto menyatakan bahwa untuk memahami ihwal pemakaian bahasa dalam wacana sastra perlu pula di pahami ihwal variasi bahasa berdasarkan faktor fungsi pemakaian bahasa dan situasinya. Oleh karena itu, sampai pada batas-batas tertentu pengkajian bahasa di dalam karya sastra ini perlu memanfaatkan teori-teori yang dikembangkan di dalam sosiolinguistik.
Sosiolinguistik merupakan wujud pemakaian bahasa yang ditentukan oleh beberapa variabel, di antaranya faktor sosial penutur yang terlibat seperti kelas sosial penutur dan lawan tutur, umur, jenis kelamin, pendidikan, akrab atau belum akrab; faktor situasi yang berkaitan dengan tingkat keresmian bahasa, dan faktor situasional yang meliputi, hadirnya pihak lain dalam pembicaraan yang terjadi, pokok pembicaraan, konteks pembicaraan, saluran tutur, dan tempat terjadinya pembicaraan.
Pengkajian terhadap karya sastra misalnya novel, faktor-faktor sosial dan situasional itu berpengaruh terhadap pemilihan bentuk tutur yang melibatkan para tokoh yang berinteraksi. Oleh karena itu, hadirnya teori sosiolinguistik diperlukan untuk mengkaji keunikan pemakaian bahasa dalam karya sastra tersebut (Subroto, dkk, 1997:
12).
b. Fokus kajian analisis stilistika
Bidang kajian stilistika adalah style, yaitu cara yang digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Menurut Sudjiman (1993: 12), style adalah gaya bahasa dan gaya bahasa itu sendiri mencakup diksi, struktur kalimat, majas, citraan, pola rima, serta matra yang digunakan seorang pengarang atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Stilistika dapat dikatakan sebagai studi yang menghubungkan antara bentu linguistik dengan fungsi sastra.
Gaya bahasa dalam novel terdapat pada berbagai tataran seperti kata, kalimat dan wacana. Tataran kata misalnya pada pilihan kata-kata arkais, katakata serapan, tataran frase misalnya personifikasi, tataran kalimat misalnya ironi, dan tataran wacana misalnya alegori.
Selanjutnya Aminuddin (2002: 44) menjelaskan bahwa bidang kajian stilistika dapat meliputi kata-kata, tanda baca, gambar, serta bentuk tanda lain yang dapat dianalogikan sebagai kata-kata. Bidang
kajian tersebut terwujud sebagai print-out ataupun tulisan dalam karya sastra. Secara potensial print-out itu dapat membuahkan 1) gambaran objek atau peristiwa, 2) gagasan, 3) satuan isi, 4) ideologi yang terkandung dalam karya sastra.
Stilistika sebagai bidang kajian yang memperhatikan gaya intregitas seluruh tingkat-tingkat dalam hierarki lingistik suatu teks atau wacana (discourse) dan dalam aplikasinya dapat diterapkan terhadap prosa, puisi dan drama (Satoto, 1995: 83-84). Jadi, dapat dikatakan bahwa bidang kajian stilistika meliputi pemakaian bahasa dalam karya sastra. Artinya dalam kajian stilistika, kita dapat melihat bagaimana bahasa itu digunakan sebagai alat menuangkan pikiran dalam bentuk karya sastra.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa bidang kajian stilistika secara umum membicarakan hal-hal yang mengandung ciri-ciri linguistik. Ciri-ciri tersebut seperti fonologi, struktur kalimat, ciri makna kata, serta tidak melupakan ciri-ciri bahasa yang bersifat figuratif.
c. Bahasa figuratif dalam stilistika
Bahasa figuratif sebenarnya adalah gaya bahasa kiasan.
Altenbernd yang dikutip oleh Pradopo (1993: 93) membedakan bahasa kiasan dan sarana retoris (rethorical device). Sejalan dengan pendapat Altenbernd, Abrams (1981: 63) mengelompokkan gaya bahasa kiasan dan sarana retoris ke dalam bahasa figuratif.
Menurutnya, bahasa figuratif sebenarnya merupakan bahasa penyimpangan dari bahasa sehari-hari atau dari bahasa standar untuk memperoleh efek tertentu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Abrams (1981: 63).
Wujud unsur stile dalam stilistika terdiri atas: unsur lesikal, unsur gramatikal, retorika, dan kohesi. Retorika adalah suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, baik lisan maupun tertulis yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik (Keraf, 2007:
1)
Retorika berkaitan dengan pendayagunaan semua unsur bahasa, baik yang menyangkut masalah pilihan kata, kata ungkapan, struktur kalimat, penyusunan dan penggunaan bahasa kias, pemanfaatan bentuk citraan dan lain-lain yang semuanya disesuaikan dengan situasi dan tujuan penuturan.
Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis yang diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa yaitu bagaimana pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya (Nurgiyantoro, 2000: 295)
Retorika terbagi atas pemajasan, penyiasatan struktur, dan pencitraan. Unsur stile yang berwujud retorika sebagaimana dikemukakan Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2000: 296) meliputi bahasa figuratif (figurative language) dan wujud pencitraan (imagery).
d. Unsur-unsur bahasa figuratif
Sebagai wujud pemakaian bahasa, unsur-unsur bahasa figuratif terdiri atas komponen permajasan dan penyiasatan struktur. Dalam novel, pengarang menggunakannya sebagai sarana untuk memperindah karya yang dituliskannya. Penjelasan tentang permajasan dan penyiasatan struktur dijelaskan sebagai berikut.
1) Permajasan
Pemajasan merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan yang maknanya tidak menunjuk pada makna harafiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat. Dengan demikian, pemajasan merupakan gaya yang sengaja mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa kias.
Dalam memahami bahasa kias, kadang-kadang memerlukan perhatian yang khusus untuk menangkap pesan pengarang.
Penggunaan bentuk-bentuk kiasan dalam kesastraan, dengan demikian merupakan salah satu bentuk penyimpangan kebahasaan, yaitu penyimpangan makna.
Keraf (2007) membedakan gaya bahasa retoris dan kiasan.
Gaya retoris adalah gaya bahasa yang maknanya harus diartikan menurut nilai lahirnya. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang mengandung unsur kelangsungan makna. Sebaliknya, gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang maknanya tidak dapat ditafsirkan
sesuai dengan makna kata-kata yang membentuknya (dalam Nurgiyantoro, 2000: 298)
Pemilihan dan penggunaan bentuk kiasan bisa saja berhubungan dengan selera, kebiasaan, kebutuhan, dan kreativitas pengarang. Bentuk-bentuk pemajasan yang banyak dipergunakan pengarang adalah bentuk perbandingan atau persamaan, yaitu yang membandingkan sesuatu dengan yang lain melalui ciri-ciri kesamaan antara keduanya, misalnya yang berupa ciri fisik, sifat, keadaan, suasana, tingkah laku, dan sebagainya.
2) Penyiasatan struktur
Keefektifan sebuah wacana sangat dipengaruhi oleh bangunan struktur kalimat secara keseluruhan, bukan semata-mata oleh sejumlah bangunan dengan gaya tertentu (Nurgiyantoro, 2000: 300).
Pembicaraan tentang struktur kalimat sebagai bagian retorika lebih ditujukkan pada bangunan struktur kalimat yang menonjol, yaitu bentuk penyimpangan yang sengaja disusun secara demikian oleh penulisnya untuk memperoleh efek tertentu, khususnya efek estetis.
Bentuk penyimpangan tersebut lebih dikenal dengan penyiasatan struktur.
Ada bermacam gaya bahasa yang terlahir dari penyiasatan struktur kalimat. Salah satu gaya yang banyak digunakan orang adalah yang berangkat dari bentuk pengulangan, baik yang berupa pengulangan kata, bentuk kata, frase, kalimat, maupun bentuk-bentuk
lainnya, antara lain: repetisi, anafora, polisindenton, pertanyaan retoris, paradoks, tautologi, pleonasme, dan enumerasi.
e. Jenis-jenis bahasa figuratif
Nurgiyantoro (2000: 296) megemukakan bahwa pembedaan bahasa figuratif sejalan dengan pembagian Keraf (2007: 124-145) yang membedakan gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan berdasarkan langsung tidaknya makna. Oleh karena itu, pembahasan penjelasan tentang jenis bahasa figuratif mengambil pendapatnya.
Menurut Keraf (2007: 113-115), secara umum gaya bahasa merupakan sarana yang sengaja atau tidak disengaja ditulis penulis dalam mengekspresikan karyanya. Gaya bahasa yang baik mengandung tiga unsur: kejujuran, sopan santun, dan menarik.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diuraikan pembagian gaya bahasa berdasarkan permajasan dan struktur kalimat, sebagai berikut:
1) Jenis permajasan
Dilihat dari aspek ciri-cirinya, majas terdiri dari beberapa jenis yang digolongkan berdasarkan karakteristik dan makna bahasa yang digunakan. Jenis permajasan dimaksud diantaranya diuraikan sebagai berikut:
a) Simile
Simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. (Keraf, 2007: 138). Gaya bahasa simile dikenal juga dengan istilah gaya
bahasa perumpamaan. Gaya bahasa ini mengungkapkan sesuatu dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dan sebagainya.
Pradopo (2007: 62) mengemukakan bahwa simile adalah perbandingan antara dua hal yang berbeda tetapi sengaja dianggap sama atau menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penaka, se, dan kata- kata pembanding yang lain
b) Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya. (Keraf, 2007:
139).
Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, laksana, dan sebagainya, sehingga pokok pertama langsing dihubungkan dengan pokok kedua.
Proses terjadinya sebenarnya sama dengan simile tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok utama dihilangkan.
Salah satu ciri metafora yaitu dengan hilangnya kata: seperti layaknya, bagaikan, dan sebagainya. Contoh: Jangan menjadi sampah
masyarakat (orang yang tidak berguna). Sampah masyarakat langsung disebutkan tanpa kata penghubung seperti, layaknya, dan sebagainya.
c) Hiperbola
Gaya bahasa yang mengandung suatu pertanyaan yang berlebihan (Keraf, 2007: 135). Gaya bahasa hiperbola melebihlebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
Contoh: Suaranya tak kalah dengan guruh yang berkumandang. Suara guruh sangat keras, sementara suara manusia sebenarnya tidak sekeras guruh. Akan tetapi, ketika dikatakan suaranya seperti guruh berarti suaranya keras. Contoh lain: Hatiku hancur mengenang dikau, berkepingkeping jadinya.
d) Personifikasi
Personifikasi merupakan gaya bahasa kiasan dengan menggunakan benda-benda mati sebagai sarana perumpamaan. Keraf (2007: 140) mengemukakan bahwa personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan.
Personifikasi digunakan untuk menghidupkan suasana.
Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbicara seperti manusia. Gaya bahasa ini mengungkapkan sesuatu dengan memberikan sifat dan tindak tanduk manusia kepada benda mati atau
tidak bernyawa. Seolah-olah benda mati atau tidak bernyawa tersebut seperti manusia. Contoh: Nyiur melambai di tepi pantai. Biasanya manusia yang melambai saat berpisah dengan temannya.
2) Jenis penyiasatan struktur
Penyiasatan struktur bermain di ranah struktur, dimaksudkan sebagai struktur yang sengaja disiasati, dimanipulasi, dan didayakan untuk memperoleh efek keindahan. Dalam kaitannya dengan tujuan untuk mencapai efek retoris sebuah pengungkapan, penyiasatan struktur (rhetorical figures) lebih menonjol daripada pemajasan, namun keduanya dapat digabungkan dalam sebuah struktur (Nurgiyantoro, 2000: 245-246).
Badrun (dalam Pradopo, 2007: 32) mengemukakan bahwa lebih jauh lagi salah satu cara memperoleh efek estetis dalam karya sastra yaitu dengan cara menyiasati struktur kalimat. Penyiasatan struktur kalimat ini selain untuk memperoleh efek estetis juga akan mempengaruhi keefektifan kalimat dalam sebuah wacana.
Penyiasatan struktur kalimat dalam sebuah karya sastra sebagai bagian dari retorika, bisa merupakan sebuah bentuk penyimpangan.
Penyimpangan ini memang disengaja oleh pengarang untuk mendapatkan efek estetis dan efek lainnya bagi pembaca.
Penggunaan struktur kalimat yang disiasati dalam karya sastra bertujuan untuk memperoleh tekanan dan efek keindahan.
Bentuk-bentuk penyiasatan struktur ini kemudian dikenal dengan pelbagai istilah. Menurut Nurgiyantoro (2000: 301) gaya yang dihasilkan dari penyiasatanstruktur kalimat, yaitu repetisi, paralelisme, anaphora, polisindeton, asyndeton, antitesis, aliterasi, klimaks, antiklimaks, dan pertanyaan retoris. Keraf (2007: 124-129) menyebutkan lima gaya yang dihasilkan dari penyiasatan struktur kalimat yaitu klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, dan repetisi.
Sedangkan Sayuti (1985: 125-139) membedakan penyiasatan struktur kalimat dalam 4 macam gaya bahasa, yaitu: repetisi, paralelisme, klimaks, dan antiklimaks.
Dari ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penyiasatan struktur kalimat memiliki gaya bahasa: repetisi, paralelisme, klimaks, antiklimaks, antitesis, ironi, asindeton, polisindeton, anaphora, aliterasi, dan pertanyaan retoris. Berdasarkan klasifikasi jenis majas menurut para ahli di atas dapat diketahui bahwa penyiasatan struktur kalimat ada bermacam-macam dan masing- masing ahli membuat klasifikasi yang berbeda-beda. Penyiasatan struktur kalimat yang digunakan dalam kajian teori ini meliputi repetisi, paralelisme, klimaks, antiklimaks. Agar lebih mudah dipahami, di bawah ini akan dijelaskan jenis-jenis penyiasatan struktur kalimat sebagai berikut:
1) Repetisi
Novel banyak memanfaatkan berbagai perulangan untuk memperoleh efek retoris yang dimaksud, baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Novel pada umumnya menampilkan bentuk-bentuk repetisi dalam kata ataupun kelompok kata. Keraf (2007: 127) mengemukakan repetisi adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Gaya bahasa ini banyak digunakan oleh penulis prosa. Contoh:
Aku sangat menyayangi dan sangat mengasihimu! Contoh lain:
“Salah, salah, angin dari sana. Kamu tukar tempat,” teriaknya. (Jalan tak Ada Ujung, Mochtar Lubis).
2) Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 2007:
124)
Klimaks merupakan pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/ kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/ lebih penting. Contohnya: Saya menabung sedikit demi sedikit untuk membiayai haji, mulai dari lima puluh ribu, seratus ribu, hingga lima ratus ribu rupiah.
3) Antitesis
Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan katakata atau kelompok kata yang berlawanan. Gaya bahasa ini timbul dari kalimat yang berimbang. Contohnya: Mereka sudah kelihangan banyak harta bendanya, tetapi mereka juga telah banyak memperoleh keuntunganya daripadanya. Contoh lainnya: Kaya- miskin, tua-muda, besar-kecil, semuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa dan negara.
f. Fungsi gaya bahasa figuratif
Secara umum, gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi atau meyakinkan pembaca atau pendengar.
Maksudnya gaya bahasa dapat membuat pembaca atau pendengar semakin yakin dan percaya terhadap apa yang disampaikan penulis.
Selain itu, gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk menciptakan keadaan perasaan hati tertentu. Maksudnya gaya bahasadapat menjadikan pembaca hanyut dalam suasana hati tertentu, misalnya kesan baik atau buruk, senang, tidak enak dan sebagainya setelah mengetahui tentang apa yang disampaikan penulis.
Fungsi gaya bahasa lainnya yaitu sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap gagasan yang disampaikan. Maksudnya gaya bahasa dapat membuat pembaca atau pendengar terkesan terhadap agasan yang disampaikan penulis atau pembicara.
Dalam karya sastra, gaya bahasa akan memperindah, menghidupkan, menyangatkan, mengejek, mengkonkretkan, memadatkan, dan mengintensifkan karya sastra. Hal ini disebabkan karena bahasa sastra ditulis untuk memperoleh efektivitas pengungkapan sehingga bahasa disiasati, dimanipulasi, dan didayagunakan secermat mungkin sehingga bahasa sastra tampil dengan sosok yang berbeda bahasa nonsastra. (Nurgiyantoro, 2000:
271).
Gaya bahasa sebagai bagian dari unsur instrinsik novel berkaitan erat unsur instrinsik novel lain, yaitu tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan nilai. Mindrop (2005: 58) mengatakan karakterisasi tokoh bisa dilakukan menggunakan gaya bahasa, khususnya simile, metafor, personifikasi, dan simbol. Dengan demikian, gaya bahasa difungsikan untuk memperkuat karakter tokoh.
5. Pembelajaran Sastra di SMA
Karya sastra diciptakan untuk dinikmati. Dengan demikian, pembelajaran sastra harus membimbing siswa untuk dapat menikmati karya sastra. Karena perasan nikmat itu mucul dari proses pengalaman ruhani pembaca (siswa) yang dialami secara individual, maka tentu saja siswa tidak bisa menikmati karya sastra dengan pikiran dan perasaan orang lain. Ia harus memiliki kerelaan untuk menikmati karya sastra dengan menggunakan perasaan dan pikirannya sendiri. Kerelaan untuk menikmati karya satra akan tumbuh
dengan sendirinya apabila mereka berminat untuk menikmati karya sastra. Dengan demikian, tugas pertama guru sastra adalah membangkitkan minat siswa untuk membaca dan menikmati karya sastra.
Minat siswa akan tumbuh apabila mereka dibawa pada pengalaman menemukan berbagai kenikmatan ketika membaca karya sastra. Hal ini harus dilakukan secara bertahap melalui pintu masuk pengalaman bersastra yang menyenangkan. Kurang bijaksana memperkenalkan karya sastra dari hal yang rumit menurut pandangan para siswa. Karya sastra mengandung muatan pikiran yang mendalam, tetapi juga mengandung muatan perasaan yang mengasyikkan. Apabila siswa hanya diajak berpikir tentang teori sastra, mereka boleh jadi menganggap karya sastra itu hanya mengandung kerumitan yang susah dicerna oleh pikiran mereka.
Bukan mustahil, pembelajaran sastra menjadi terasa memberatkan dan membosankan yang akhirnya tidak mereka sukai. Sumardjo dan Saini (1997: 123) mengatakan bahwa tidak mustahil pembelajaran sastra yang demikian akan menciptakan orang-orang yang memusuhi sastra.
Siswa harus diajak pada pengalaman bersastra. Pegalaman di sini dimaksudkan sebagai kegiatan respons yang utuh dari jiwa manusia ketika kesadarnnya bersinggungan dengan realitas, yakni sesuatu yang dapat merangsang atau menyentuh kesadaran manusia,
beik yang ada di dalam maupun yang ada di luar dirinya. Disebut respons yang utuh karena tidak hanya meliputi kegiatan pikiran atau nalar, tetapi juga menyangkut perasaan dan imajinasi (Sumardjo dan Saini, 1997: 10).
Rosenblatt dalam Gani (1988:13) menegaskan bahwa pengajaran sastra melibatkan peneguhan tentang sikap etik. hampir mustahil membicarakan cipta sastra seperti novel, puisi atau drama tanpa menghadapi masalah etik dan tanpa menyentuhnya dalam konteks filosofi sosial. tanpa menghadapkan siswa pada masalah kehidupan sosial yang digeluti sepanjang hari di tengah-tengah masyarakat yang dihidupi dan menghidupinya.
Dalam kaitan itu Rosenblatt menyarankan beberapa prinsip yang memungkinkan pembelajaran sastra mengemban fungsinya dengan baik sebagai berikut.
Pertama, siswa harus diberi kebebasan untuk menampilkan respons dan reaksinya. Kedua, siswa harus diberi kesempatan untuk mempribadikan dan mengkristalisasikan rasa pribadinya terhadap cipta sastra yang dibaca dan dipelajarinya. Ketiga, guru harus berusaha untuk menemukan butir-butir kontak di antara pendapat para siswa.
Keempat, peranan dan pengaruh guru harus merupakan daya dorong terhadap penjelajahan pengaruh vital yang inherendi dalam sastra itu sendiri. Sebab itu, Rosenblatt menggarisbawahi bahwa makna yang diperoleh dan diberikan siswa dalam proses penjelajahan sastra
haruslah merupakan hasil dari interaksi antara aktivitas jiwa siswa dengan kata-kata yang terangkai dalam halaman-halaman cipta sastra itu. Dengan kata lain, makna itu diciptakan, dibentuk, dan diwujudkan oleh siswa sendiri, sebagai pembaca dalam kegiatan membacanya.
Tegasnya, makna yang diperolehnya merupakan maknanya sendiri, bukan yang direncanakan penulis atau makna yang ditawarkan guru.
Selanjutnya Gani (1988: 14) menjelelaskan bahwa substansi sastra tidak lain adalah pengalaman kemanusiaan. Hubungan kompleks yang melibatkan seseorang, emosi yang membuatnya menderita atau bahagia, pengalaman yang dihadapinya, nilai serta kebermaknaannya yan diharapkan. Dengan kata lain, apa pun yang ditemukan pembaca dalam cipta sastra yang dibacanya tentang isu kehidupan, seperti cinta, maut, keadilan, baik dan buruk, segalanya itu harus berkaitan dengan pengalaman batinnya.
Untuk membawa para siswa pada pengalaman bersastra, guru harus memiliki pengalaman menikmati karya sastra. Pada saat membaca karya sastra, guru sastra harus memiliki kesadaran penuh dengan dibekali pedekatan pengkajian agar dapat memilih karya sastra yang layak untuk para siswanya. Guru harus mampu memilih karya sastra yang tepat untuk siswanya ditinjau dari segi intra-estetika dan ekstra-estetika. Yang dimaksud dengan unsur intra-estetika ialah segala hal yang dapat memuaskan kepekaan estetika para siswa yang terdapat dalam karya sastra. Sementara, yang dimaksud dengan unsur
ekstra-estetika ialah nilai-nilai moral yang agung yang terkandung dalam karya sastra tersebut yang dapat dijadikan bahan renungan mereka dalam mengebangkan kepribadiannya.
Produksi karya sastra saat ini sangat berlimpah dengan jumlah yang sangat banyak. Guru tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk membaca semuanya. Oleh karena itu, pihak yang terkait dengan masalah ini perlu segera menerbitkan daftar karya yang sesuai dengan setiap jenjang pendidikan. Apabila hal ini belum dilakukan, untuk sementara, saling tukar informasi di antara guru sastra tentang karya yang cocok untuk siswanya dapat memperingan tugas guru dalam menjelajah khasanah karya sastra yang sangat luas tersebut.
B. Kerangka Pikir
Novel Infinitum karya Ahyar Anwar merupakan salah satu karya sastra berbobot. Novel ini memiliki banyak keistimewaan diantaranya banyak kiasan metafora yang terkandung di dalamnya. Dari segi pemilihan kata, Ahyar Anwar memiliki gaya tersendiri serta memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri secara original dalam menuliskan novel tersebut. Untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai keunikan dan kekhasan kebahasaan dalam novel Infinitum karya Ahyar Anwar maka dapat dikaji dengan menggunakan analisis stilistika.
Kajian stilistika novel Infinitum karya Ahyar Anwar dapat dijadikan bahan daalam pembelajaran sastra di SMA. Novel ini kaya akan nilai dan muda dicerna, selain itu novel ini memiliki keindahan bahasa yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa meminati pembelajaran di SMA.
Kajian stilistika pada novel Infinitum karya Ahyar Anwar akan menitikberatkan pada telaah aspek gaya bahasa yang digunakan di dalamnya. Berikut disajikan bagan kerangka pikir dalam penelitian ini.
Kerangka Pikir Penelitian Genre
Karya Sastra
Novel Infinitum Karya Ahyar Anwar
Analisis Stilistika
Karakteristik Gaya Bahasa
Relevansi sebagai Bahan Ajar Sastra SMA
Analisis dan Temuan
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Berdasarkan jenisnya, penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif bertujuan untuk mengungkapkan berbagai informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal (indivudu atau kelompok), keadaan, gejala, atau fenomena yang lebih berharga daripada hanya pernyataan dalam bentuk angka-angka dan tidak terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputi analisis dan interpretasi data (Sutopo, 1997: 8-10)
Subroto, dkk (1992: 5) mengatakan bahwa metode kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian terhadap suatu masalah yang tidak dirangsang menggunakan prosedur-prosedur statistik. Metode ini bersifat deskriptif sehingga datanya berupa kalimat yang dianalisis dari segi kegramatikalannya dengan menggunakan teori atau pendekatan tertentu. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan ancangan struktural, maksudnya meneliti dan memerikan serta menerangkan segi-segi tertentu mengenai struktur bahasa berdasarkan fakta-fakta kebahasan yang dijumpai dalam pertuturan (Subroto, dkk, 1992: 32).
Pemilihan jenis penelitian kualitatif deskriptif ini disesuaikan dengan permasalahan yang dibahas dan tujuan penelitian. Untuk membahas permasalahan dan mencapai tujuan penelitian, penelitian kualitatif
43
deskriptif menggunakan strategi berpikir fenomenologis yang bersifat lentur dan terbuka serta menekankan analisisnya secara induktif dengan meletakkan data penelitian bukan sebagai alat pembuktian, tetapi sebagai modal dasar untuk memahami fakta-fakta yang ada (Sutopo, 1997 : 47).
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas, fatka-fakta yang akan dideskripsikan penelitian ini ialah pengunaan gaya bahasa novel Infinitum karya Ahyar Anwar yang mencakup dan telaah relefansinya sebagai bahan pembelajaran sastra di SMA. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini diarahkan untuk memperoleh deskripsi yang objektif dan akurat dari karakteristik gaya bahasa yang digunakan novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
B. Data dan Sumber Data 1. Data
Data dan sumber data penelitian merupakan dua hal pokok yang harus diklarifikasikan dalam penelitian. Sumber data merupakan sumber dari mana data dapat diperoleh. Yang dimaksud data ialah semua informasi atau bahan mentah yang disediakan alam (dalam arti luas) yang harus dicari dan dikumpulkan dengan sengaja oleh peneliti yang sesuai dengan masalah yang diteliti (Subroto, dkk, 1992: 34).
Sehingga, data sebagaimana pendapat di atas merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang diteliti.
Adapun data dalam penelitian ini data dalam penelitian ini adalah
karakteristik gaya bahasa figuratif yang memperlihatkan keunikan- keunikan dan kekhasan pemakaian bahasa dalam novel Infinitum karya Ahyar Anwar.
2. Sumber Data
Sumber data adalah objek dari mana data diperoleh yang menjadi dasar pengambilan atau tempat untuk memperoleh data yang diperlukan.
Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Infinitum karya Ahyar Anwar. Novel Infinitum diterbitkan oleh Penerbit Ombak Yogyakarta, cetakan ke satu, setebal viii + 364 halaman.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah teknik pustaka, teknik simak, dan catat. Teknik pustaka yaitu pencarian data dengan menggunakan sumber-sumber tertulis yang mencerminkan pemakaian bahasa sinkronis (Subroto, dkk, 1992: 42).
Teknik pustaka merupakan pengambilan data dari sumber tertulis oleh peneliti dalam rangka memperoleh data beserta konteks lingual yang mendukung untuk dianalisis.
Pengumpulan data melalui teknik pustaka ini dilakukan dengan membaca, mencatat, dan mengumpulkan data-data dari sumber data tertulis. Selanjutnya sumber tertulis itu dilakukan pembacaan dengan seksama lalu dipilih tuturan yang relevan sebagai data yang dianalisis.
Setelah itu, data dicatat dalam kartu data. Data-data yang telah